• home

ASUHAN KEPERAWATAN

  • HOME
  • DOWNLOAD ASUHAN KEPERAWATAN
  • Cara Mendapatkan Password

Minggu, 04 Oktober 2009

TETANUS

Tidak ada komentar : di 10.00 Label: ASUHAN KEPERAWATAN
TETANUS

A. Pengertian
Tetanus adalah gangguan neurologis yang ditandai dengan meningkatnya tonus otot dan spasme, yang disebabkan oleh tetanuspasmin, suatu toksin protein yang kuat yang dihasilkan oleh Clostridium tetani. Terdapat beberapa bentuk klinis tetanus termasuk di dalamnya tetanus neonatorum, tetanus generalisata dan gangguan neurologis loka. (Aru W. Sudoyo, 2006 : 1799)
Penyakit tetanus adalah penyakit infeksi yang diakibatkan toksin kuman Clostridium tetani bermanifestasi sebagai kejang otot paroksismal, diikuti kekakuan otot seluruh badan. Kekakuan tonus otot ini selalu tampak pada otot massater dan otot-otot rangka. (Sjaifoellah Noer, 1996 : 474)
Derajat Keparahan
Terdapat beberapa sistem pembagian derajat keparahan (Phillips, Dakar, Udwadia) yang dilaporkan. Sistem yang dilaporkan oleh Ablett merupakan sistem yang paling sering dipakai.
Klasifikasi beratnya tetanus
oleh Ablett :
1. Derajat I (ringan) : Trismus ringan sampai sedang, spastisitas generalisata, tanpa gangguan pernafasan, tanpa spasme, sedikit atau tanpa disfagia.
2. Derajat II (sedang) : Trismus sedang, rigiditas yang nampak jelas, spasme singkat ringan sampai sedang, gangguan pernafasan sedang dengan frekuensi pernafasan lebihd dari 30 disfagia ringan.
3. Derajat III (berat) : Trismus berat, spastisitas generalsata, spasme refleks berkepanjangan, frekuensi pernafasan lebih dari 40, serangan apnea, disfalgia berat dan takikardia lebih dari 120.
4. Derajat IV (sangat berat) : Derajat tiga dengan gangguan otonomik berat melibatkan sistem kardiovaskuler. Hipertensi berat dan takikardia terjadi berselingan dengan hipotensi dan bradikardia, salah satunya dapat menetap. (Aru W. Sudoyo, 2006 : 1801)
TETANUS
B. Etiologi
Clostridium tetani adalah kuman berbentuk batang, ramping, berukuran 2-5 x 0,4 – 0,5 milimikron. Kuman ini berspora termasuk golongan Gram positif dan hidupnya anaerob. Spora dewasa mempunyai bagian yang berbentuk bulat yang letaknya di ujung, penabuh genderang (drum stick). Kuman mengeluarkan toksi yang bersifat neurotoksik. Toksin ini (tetanuspasmin) mula-mula akan menyebabkan kejang otot dan saraf penfer setempat. Toksin ini labil pada pemanasan pada suhu 65 0C akan hancur dalam 5 menit. Di samping itu dikenal pula tetanolisin yang bersifat hemolisis, yang perannya kurang dalam proses penyakit. (Sjaifoellah Noer, 1996 : 474)
TETANUS
C. Manifestasi Klinis
Tetanus biasanya terjadi setelah suatu trauma. Kontaminasi luka dengan tanah, kotoran binatang, atau logam berkarat dapat menyebabkan tetanus. Tetanus dapat terjadi sebagai komplikasi dari luka bakar, ulkus gangren, luka gigitan ular yang mengalami nekrosis, infeksi telinga tengah, aborsi septik, persalinan, injeksi intramuskular dan pembedahan. Trauma yang menyebabkan tetanus dapat hanyalah trauma ringan. Trauma yang menyebabkan tetanus dapat hanyalah trauma ringan, dan sampai 50 % kasus trauma terjadi di dalam gedung yang tidak dianggap terlalu serius untuk mencari pertolongan medis. Pada 15-25% pasien, tidak terdapat bukti adanya perlukaan baru.
1. Tetanus generalisata
Tetanus generalisata merupakan bentuk yang paling umum dari tetanus yang ditandai dengan meningkatnya tonus otot dan spasme generalisata. Maka inkubasi bervariasi, tergantung pada lokasi luka dan lebih singkat pada tetanus berat, median onset setelah trauma adalah 7 hari, 15% kasus terjadi dalam 3 hari dan 10% kasus terjadi setelah 14 hari.
Terdapat trias klinis berupa rigiditas, spasme otot, dan apabila berat disfungsi otonomik. Kaku kuduk, nyeri tenggorokan, dan kesulitan untuk membuka mulut, sering merupakan gejala awal tetanus. Spasme otot massester menyebabkan trismus atau “rahang terkunci”. Spasme secara progresif meluas ke otot-otot wajah yang menyebabkan ekspresi wajah yang khas, “risus sardonicus” dan meluas ke otot-otot untuk menelan yang menyebabkan disfalgia. Spasme ini dipicu oleh stimulus internal dan eksternal dapat berlangsung selama beberapa menit dan dirasakan nyeri. Rigiditas otot leher menyebabkan retraksi kepala. Rigiditas tubuh menyebabkan opistotonus dan gangguan respirasi dengan menurunnya kelenturan dinding dada. Refleks tendon dalam meningkat. Pasien dapat demam, walaupun banyak yang tidak, sedangkan kesadaran tidak terpengaruh.
2. Tetanus neonatorum
Tetanus neonatorum biasanya terjadi dalam bentuk generalisata dan biasanya fatal apabila tidak diterapi. Tetanus neonatorum terjadi pada anak-anak yang dilahirkan dari ibu yang tidak diimunisasi secara adekuat terutama setelah perawatan bekas potongan tali pusat yang tidak steril. Resiko infeksi tergantung pada panjang tali pusat, kebersihan lingkungan dan kebersihan saat mengikat dan memotong umbilikus. Onset biasanya dalam 2 minggu pertama kehidupan. Rigiditas, sulit menelan ASI, iritabilitas dan spasme merupakan gambaran khas tetanus neonatorum. Diantara neonatonus yang terinfeksi, 90% meninggal dan retardasi mental terjadi pada yang bertahan hidup.
3. Tetanus lokal
Tetanus lokal merupakan bentuk yang jarang dimana manifestasi klinisnya terbatas hanya pada otot-otot disekitar luka. Kelemahan otot dapat terjadi akibat peran toksin pada tempat hubungan neuromuskuler. Gejala-gejalanya bersifat ringan dan dapat bertahan sampai berbulan-bulan. Progresif ke tetanus generalisata dapat terjadi. Namun demikian secara umum prognosisnya baik.
4. Tetanus sefalik
Tetanus sefalik merupakan bentuk yang jarang dari tetanus lokal, yang terjadi setelah trauma kepala atau infeksi telinga. Masa inkubasinya 1-2 hari. Dijumpai trismus dan disfungsi satu atau lebih saraf kranial, yang tersering adalah saraf ke-7. Disfagia dan paralisis otot ekstraokular dapat terjadi. Mortalitasnya tinggi.
(Aru W. Sudoyo, 2006 : 1799)
Masa tunas tetanus berkisar antara 2-21 hari. Timbulnya gejala klinis biasanya mendadak, didahului oleh ketegangan otot terutama pada rahang dan leher. Kemudian timbul kesungkaran membuka mulut (trismus) karena spasme otot masseter. Kejang otot ini akan berlanjut ke kuduk (opistotonus), dinding perut dan sepanjang tulang belakang. Bila serangan kejang tonik sedang berlangsung, sering tampak risus sardonicus karena spasme otot muka dengan gambaran alis tertarik ke atas, sudut mulut tertarik ke luar dan ke bawah, bibir tertekan kuat pada gigi. Gambaran umum yang kahs pada tetanus adalah berupa badan kaku dengan opistotonus, tungkai dalam ekstensi, lengan kaku dengan tangan mengepal, biasanya kesadaran tetap baik. Serangan timbul paroksismai, dapat dicetuskan oleh rangsang suara, cahaya maupun sentuhan, akan tetapi dapat pula timbul spontan. Karena kontraksi otot yang sangat kuat, dapat terjadi asfiksia dan sianosis, retensi urin bahkan dapat terjadi fraktur collumna vertebralis (pada anak). Kadang dijumpai demam yang ringan dan biasanya pada stadium akhir. (Sjaifoellah Noer, 1996 : 475)
TETANUS
D. Patofisiologi
Berbagai keadaan di bawah ini dapat menyebabkan keadaan anaerob yang disukai untuk tumbuhnya kuman tetanus :
1. Luka dalam misalnya luka tusuk karena paku, kuku pecahan kaca atau kaleng, pisau dan benda tajam lainnya.
2. Luka karena tabrakan, kecelakaan kerja ataupun karena perang.
3. Luka-luka ringan seperti luka gores, lesi pada mata, telingan atau tonsil, gigitan serangga juga merupakan tempat masuk kuman penyebab tetanus.
Ada dua hipotesis tentang cara bekerjanya toksin, yaitu :
1. Toksin diabsorbsi ujung saraf motorik dan melalui sumbu silidrik dibawa ke kornu anteriior susunan saraf pusat.
2. Toksin diabsorbsi oleh susunan limfatik, masuk ke dalam sirkulasi darah arteri kemudian masuk susunan saraf pusat.
Toksin bersifat seperti antigen, sangat mudah diikat jaringan saraf dan bila dalam keadaan terikat tidak dapat lagi dinetralkan oleh anatoksin spesifik. Toksin yang bebas dalam darah, sangat mudah dinetralkan oleh antitoksin spesifik.
Perubahan morfologi amat minimal dan tidak spesifik. Jaringan luka biasanya hanya menampakkan reaksi radang non spesifik dengan nekrosis jaringan. Jaringan saraf juga menampakkan reaksi non spesifik dan terdiri atas pembengkakan sel-sel ganglion motorik yang berhubungan dengan pembengkakan dan lisis inti sel. (Sjaifoellah Noer, 1996 : 474)
Periode inkubasi (rentang waktu antara trauma dengan gejala pertama) rata-rata 7-10 hari dengan rentang 1-60 hari. Onset (rentang waktu antara gejala pertama dengan spasme pertama) bervariasi antara 1-7 hari. Inkubasi dan onset yang lebih pendek berkaitan dengan tingkat keparahan penyakit yang lebih berat. Minggu pertama ditandai rigiditas dan spasme otot yang semakin parah. Gangguan otonomik biasanya dimulai beberapa hari setelah spasme dan bertahan 1-2 minggu. Spasme berkurang setelah 2-3 minggu tetapi kekakuan tetap bertahan lebih lama. Pemulihan terjadi karena tumbuhnya lagi akson terminal dan karena penghancuran toksin. Pemulihan bisa memerlukan waktu sampai 4 minggu. (Aru W. Sudoyo, 2006 : 1801)

TETANUS
E. Komplikasi
Komplikasi-komplikasi tetanus
Sistem Komplikasi
Jalan nafas Aspirasi
Laringuspasme/obstruksi
Obstruksi berkaitan dengan sedatif
Respirasi Apnea
Hipoksia
Gagal nafas tipe 1 (atelektasis, aspirasi, pneumonia)
Gagal nafas tipe 2 ( spasme laringeal, spasme trunkal berkepanjangan, sedasi berlebihan)
ARDS
Komplikasi bantuan ventilasi berkepanjangan (seperti pneumonia)
Komplikasi traneotomi (seperti stenosis trachea)
Kardiovaskuler Takikardia, hipertensi, iskemia
Hipotensi, bradikardia
Takiaritma, bradiaritma
Asistol
Gagal jantung
Ginjal Gagal ginjal curah tinggi (high output renal foilure)
Gagal ginjal oligouria
Stasis uria dan infeksi
Gastrointestinal Stasis gaster
Ileus
Diare
Perdarahan
Lain-lain Penurunan berat badan
Tromboembolus
Sepsis dengan gagal organ multipel
Fraktur vertebra selama spasem
Ruptur tendon akibat spasme
TETANUS
Komplikasi tetanus dapat terjadi akibat penyakitnya, seperti laringospasme, atau sebagai konsekuensi dari terapi sederhana, seperti sedasi yang mengarah pada koma, aspirasi atau apnea, atau konsekuensi dari perawatan intensif, seperti pneumonia berkaitan dengan ventilator. (Aru W. Sudono, 2006 : 1802)
TETANUS
F. Pemeriksaan Diagnostik
1. Laboratorium
Biasanya terdapat leukositosis ringan dan kadang-kadang didapatkan peninggian tekanan cairan otak.
2. Diagnosis
Anamnesis terdapatnya riwayat luka-luka seperti telah disebutkan dalam hal patogenesis, disertai keadaan klinis berupa kekakuan otot terutama di daerah rahang, sangat membantu diagnosis. Pembuktian kumah seringkali tidak perlu, karena amat suakr mengisolasi kuman dari luka pasien.
3. Diagnosis banding
Trismus dapat pula terjadi pada abses retrofaring, abses gigi yang berat, pembesaran kelenjar limfe leher. Kaku kuduk juga dijumpai pada meningitis, tetapi pada hal yang terakhir ini biasanya tampak jelas demam, kesadaran yang menurun dan kelainan cairan serebrospinalis. Rabies dapat menimbulkan spasme laring dan faring, tetapi tidak disertai trismus. Tetani dibedakan dengan tetanus dengan pemeriksaan kadar Ca dan P dalam darah.
(Sjaifoellah Noer, 1996 : 475)
TETANUS
G. Penatalaksanaan Medis
1. Umum
a. Merawat dan membersihkan luka sebaik-baiknya.
b. Diet cukup kalori dan protein, bentuk makanan tergantung kemampuan membuka mulut dan menelan. Bila ada trismus, makanan dapat diberikan personde atau parenteral.
c. Isolasi untuk menghindari rangsang luar seperti suara dan tindakan terhadap pasien.
d. Oksigen, pernafasan buatan dan trakeotomi bila perlu.
e. Mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit.

2. Obat-obatan
a. Anti toksin
Tetanus imun globulin (TIG) lebih dianjurkan pemakaiannya dibandingkan dengan anti tetanus serum (ATS) dari hewan.
Dosis inisial TIB yang dianjurkan adalah 5000 U intramuskular yang dilanjutkan dengan dosis harian 500-6000 U. Bila pemberian TIG tidak memungkinkan, ATS dapat diberikan dengan dosis 5000 U intramuskular dan 5000 U intravena.
Pemberian baru dilaksanakan setelah dipastikan tidak ada reaksi hipersensitivitas.
b. Anti kejang
Jenis obat anti kejang, dosis dan efek sampingnya. Yang lazim digunakan pada tetanus.
Jenis obat Dosis Efeks Samping
Diazepam

Memprobamat

Klorpromasin

Fenobarbital intramuskular 0,5-1,0 mg/kg berat badan/4 jam intramuskular
300-400 mg/4 jam intramuskular
25-75 mg/4 jam intramuskular
50-100 mg/4 jam Sopor, koma

Tidak ada

Hipotensi

Depresi pernafasan


TETANUS
c. Antibiotik
Pemberian penisilin prokain 1,2 juta unit/hari atau tetrasiklin 1 g/hari, secara intravena, dapat memusnahkan C tetani tetapi tidak mempengaruhi proses neurologisnya.
TETANUS
H. Pencegahan
Pencegahan penyakit tetanus meliputi :
1. Mencegah terjadinya luka.
2. Merawat luka secara adekuat
3. Pemberian anti tetanus serum (ATS) dalam beberapa jam setelah luka akan memberikan kekebalan pasif, sehingga mencegah terjadinya tetanus akan memperpanjang masa inkubasi.
Umumnya diberikan dalam dosis 15000 U intramuskular setelah dilakukan tes kulit.
4. Di negara barat, pencegahan tetanus dilakukan dengan pemberian toksoid dan TIG.
(Sjaifoellah Noer, 1996 : 476)

sekian sharingnya.. maaf bila masih banyak kekurangan
TETANUS
Read More

Urolithiasis

Tidak ada komentar : di 09.59 Label: ASUHAN KEPERAWATAN
BAB I
KONSEP DASAR Urolithiasis

A. PENGERTIAN
Urolithiasis adalah adanya batu atau kulkulus dalam sistem urinarius atau saluran perkemihan,(Barbara M. Nettina, 2002). Ureterolithiasis adalah batu yang terdapat di ureter
Urolithiasis
B. ETIOLOGI
Penyebab secara pati belum diketahui (idiopatik), namun ada beberapa faktor precipitasi terbentuknya batu, yaitu : (R. Sjamsuhidajat, 2004)
1. Makanan yang banyak mengandung purin
2. Dehidrasi
3. Hiperparatiroidisme
4. Immobilisasi
5. Obstruksi kronik oleh benda asing didalam traktus urinarius
Menurut Soeparman, 2000 penyebab urolithiasis dibagi menjadi dua, yaitu :
1. Faktor intrinsik
a. herediter
b. usia : 30 – 50 tahun
c. pria tiga kali lebih banyak dibandingkan wanita
2. Faktor ekstrinsik
a. faktor geografis : daerah berkapur
b. pemasukan cairan kurang dan peningkatan kalsium, terutama berasal dari fastfood
c. diet purin, oksalat, dan kalsium
Teori pembentukan batu menurut Mansjoer Arif, (2000) meliputi :
1. Teori inti (nukleus) : kristal dan benda asing merupakan tempat pengendapan kristal pada urin yang sudah mengalami supersaturasi.
2. Teori matriks : matrik organik yang berasal dari serum atau protein- protein urin memberikan kemungkinan pengendapan kristal.
3. Teori inhibitor kristalisasi : beberapa substansi dalam urin menghambat terjadinya kristalisasi, konsentrasi yang rendah atau absennya substansi ini memungkinkan terjadinya kristalisasi.
Pembentukan batu membutuhkan supersaturasi dimana supersaturasi itu tergantung pada PH urin, kekuatan ion, konsentrasi cairan, dan pembentukan kompleks :
1. Batu kalsium disebabkan oleh :
a. Hiperkalsiuria absorptif : gangguan metabolisme yang menyebabkan absorsi usus yang berlebihan juga pengaruh vitamin D dan hiperparatiroid.
b. Hiperkalsiuria renalis : kebocoran pada ginjal.
2. Batu oksalat disebabkan oleh :
a. Primer auto somal resesif.
b. Ingesti, inhalasi : vitamin C, ethilen glycol, methoxyflurane, anestesi
c. Hiperoksalouria entenik : inflamasi saluran pencernaan, reseksi usus halus, bypass jejunoileal, sindrom malabsorpsi.
Urolithiasis
3. Batu asam urat disebabkan oleh :
a. Makanan yang banyak mengandung purin.
b. Pemberian sitostatik pada pengobatan neoplasma.
c. Dehidrasi kronis.
Urolithiasis
C. MANIFESTASI KLINIS
Menurut R. Syamsul Hidayat dan Wim Dejong, (1997). Gejala dan tandanya tergantung pada lokasi batu, besarnya dan morfologinya. Walaupun demikian penyakit ini mempunyai tanda umum yaitu :
1. Hematuria (kencing darah).
2. Disuria
Pada pasien dengan batu ureter terdapat rasa nyeri, sakit mendadak yang disebabkan batu yang lewat, rasa sakit berupa rasa pegal di CVA (Costovertebra Angle) atau kolik yang menjalar ke perut bawah sesuai lokasi batu dalam ureter.
3. Pancaran urine terganggu.
Menurut R. Sjamsuhidajat, (2004) manifestasi klinis dari urolithiasis yaitu :
1. Nyeri pinggang : lokasi batu di ginjal, diureter bagian atas.
2. Nyeri pinggang menjalar ke abdomen atau ke skrotum dan testis atau ke vulva : batu di ureter atau bledder.
3. Nyeri hebat (kolik) biasanya intermiten tetapi sangat berat : bila ureter spasme dan batu tidak dapat melaluinya.
4. Mual, muntah : timbul sebagai respon sympatis dan parasympatis karena peristaltik dan spasme ureter.
5. Pucat, diaphoresis

D. PATHOFISIOLOGI Urolithiasis
Mekanisme pembentukan batu ginjal atau urologi belum diketahui secara pasti. Berbagai faktor mempengaruhi proses pembentukan batu. Faktor utama yaitu supersaturasi filtrat. Faktor lain yaitu PH urine, stasis urine dan deficiensi faktor penghambat pembentuk batu.
Batu terbentuk dari calsium, phospat, oxalat, asam urat, struvit dan kristal cystine. Dan yang paling banyak adalah batu calsium yaitu calsium phopat dan calsium oxalat. Batu asam urat dibentuk dari pengaruh metabolisme purine, batu struvit terbentuk karena akibat dari ure splitting bacteri dan mengandung magnesium, phospat dan amonium. Batu cystine terbentuk dari crystal cystine sebagai akibat dari defek tubulur renal.
Ketika filtrat yang harus diekskresikan semakin meningkat konsentrasinya, keadaanini sangat mendorong terjadinya keadaan supersaturasi. Contohnya sebagai efek immobilisasi yang lama dapat menyebabkan mobilisasi calsium dari tulang sehingga kadar serum kalsium meningkat yang berdampak terhadap beban yang harus diekskresikan. Jika intake cairan tidak adekuat akan terjadi supersaturasi dan akan terbentuk batu, lebih banyak batu kalsium.
PH urine dapat meningkatkan atau melarutkan batu saluran kemih. Batu asam urat cenderung terbentuk pada keadaan urine yang asam. Batu struvit dan kalsium phosfat cenderung terbentuk pada keadaan urine yang alkali. Batu kalsium oxalat tidak dipengaruhi oleh PH urine.
Batu dibentuk di ginjal dan menuju ureter dan turun kedalam vesika urinaria. Sering kali batu tersangkut di sudut uretepelvie ataupun dilekukkan uretero visikal. Bila batu menyumbat dan menghambat aliran urine menyebabkan dilatasi ureter sehingga terjadi keadaan hidroureter. Rasa nyeri karena spasme ureter terasa sangat berat dan seperti diremes atau ditusuk dan dapat menyebabkan shock. Dapat juga klien mengalami hematuria karena kerusakan lapisan urethelial. Jika obstruksi tidak segera diatasi atau dihilangkan, urin stasis dapat menyebabkan infeksi dan secara bertahap mengganggu fungsi ginjal pada bagian yang dipengaruhi. Obstruksi terus menerus dapat menyebabkan hidroneprosis atau pembesaran ginjal.


E. PATHWAY Urolithiasis

Diet Purin ISK Hiper Immobilitas Dehidrasi
Paratioroid


Asam urat Bakteri Osteoclast Reabsobsi
memingkat Pemecah urea Hiperkalsemia air meningkat


Kristalisasi Sedimen dan Reabsobsi Pemekatan urin
asam urat kristalisasi calsium di ginjal menungkat


BATU Kalsifikasi Sedimen



Gesekan Obstruksi Terapi
Kandung kemih pembedahan

Insisi Pendarahan
Inflamasi Retensi urin

Kerusakan Risiko defisit
Sensitivitas Refluk Ujung syaraf Volume cairan
syaraf Terputusnya
meningkat kontinuitas
jaringan Nyeri
Hidroneprosis
Nyeri
Gangguan aktivitas
Gagal ginjal
Port deentri
kuman

Gangguan
Eliminasi BAK
Resti Infeksi



(Price, Silvia Anderson,1995 Fisiologi
Proses-Proses Penyakit, E4, EGC Jakarta)




F. PEMERIKSAAN PENUNJANG Urolithiasis
Menurut Harwono Sapto dan Susanto Fitri (2002) pemeriksaan diagnostik utuk pasien ureterolithiasis meliputi :
1. Pemeriksaan laboratorium dilakukan dengan analisis urine yang dilakukan meliputi :
a. Berat jenis urine atau analisa urine : sering ada sel darah merah, putih, crystal, perubahan PH, kultur sering ada bakteri.
Urine 24 jam study : sering terjadi peningkatan kadar kalsium, phospat, asam urat, oxalat atau cystine.
b. Darah : kadar kalsium, protein, elektrolit, asam urat, phospat, BUN, creatinin dan sel darah putih terjadi peningkatan.
2. Foto Rontgen
a. BNO (Buiknier Overziecht / Plan Foto Abdomen)
Pemeriksaan ini digunakan dalam saluran kemih juga menentukan besar, macam dan lokasi batu.
b. IVP (Intro Vena Pyelographic)
Dari pemeriksaan ini dapat diketahui struktur dan fungsi dari sistim ginjal, ureter dan buli-buli, kandung kemih.
c. CT Scan
Pemeriksaan ini dilakukan apabila kedua pemeriksaan yang lainnya belum diketahui batu, macam maupun lokasi batu, CT Scan tampak adanya batu atau massa.

G. PENATALAKSANAAN Urolithiasis
Menurut Masjoer, Arif (2000), penatalaksanaan pada pasien ureterolithiasis dapat dilakukan dengan cara :
1. Tujuan pengelolaan batu saluran kemih adalah :
a. Menentukan dengan tepat adanya batu, lokasi dan besarnya batu.
b. Menentukan adanya akibat-akibat batu saluran kemih : rasa nyeri, gangguan ginjal, infeksi..
c. Menghilangkan obstruksi,rasa nyeri dan infeksi.
d. Menganalisa batu dan mencari latar belakang terjadinya batu.
2. Tindakan :
a. Pemberian analgesik, pemberian antibiotik.
b. Pengatur diit, sesuai dengan hasil analisa batu
c. Mengangkat batu dengan cara :
Operasi : Nephrostomy, Pyelolithotomy, Neprhrolithotomy, Cystotomi, Extracorporeal Shock Wave Lithotomy.

H. KOMPLIKASI Urolithiasis
Menurut Barbara Engram, (1999) komplikasi dari batu ginjal adalah :
1. Obstruksi ginjal, yang dapat menimbulkan kerusakan permanen bila tidak teratasi
2. Perdarahan
3. Infeksi

I. FOKUS PENGKAJIAN Urolithiasis
Menurut Doenges, Marilym E, (1999) data dasar pengkajian pasien dengan post operasai ureterolithiasis dengan perpaduan diagnosa keperawatan Nanda (2005 - 2006) meliputi :
1. Data Subyektif :
a. Apakah pasien mengeluh nyeri
b. Apakah ada tanda – tanda infeksi
c. Adakah gangguan atau kerusakan mobilitas fisik
2. Data Obyektif :
Data obyektif pasien post ureterolithiasis meliputi :
a. Pengkajian tentang nyeri.
i. Kaji nyeri (PQRST)
- P : provokatif : faktor yang memperberat atau memperingan nyeri
- Q : quality : nyeri tajam, tumpul, atau merobek
- R : region : daerah perjalanan
- S : saverity : skala nyeri, intensitas nyeri
- T : time : lamanya nyeri
ii. Kaji tingkah laku pasien
- perilaku berhati-hati
- fokus pada diri sendiri
- penyempitan fokus
- menarik diri dari kontak sosial
- perilaku distraksi : merintih, menangis
- koping nyeri : mata sayup, gerak kacau
b. Pengkajian tentang risiko infeksi.
i. kaji keadaan luka pada pembedahan
ii. kaji tanda-tanda infeksi : rubor, kalor, dolor, tumor, fungsiolesia
iii. kaji jahitan , lokasi
c. Pengkajian tentang gangguan atau kerusakan mobilitas fisik
i. kaji tingkat kemandirian pasien atau aktivitas toleransi : makan, mandi, toileting, memakai alat pakaian
ii. Kaji sistim musculoskeletal : kekuatan otot, ketegangan otot
iii. Kaji sistim kardiovaskuler : tekanan darah, nadi
iv. Kaji postur tubuh : saat tidur atau berbaring, duduk, berdiri
J. FOKUS INTERVENSI
Diagnosa keperawatan pada pasien ureterolithiasis, meliputi :
1. Nyeri berhubungan dengan agen cedera fisik : post operasi (pembedahan)
a. Observasi tingkat nyeri (intensitas, frekuensi, lokasi)
Rasionalisasi menentukan tingkat nyeri pasien
b. Observasi vital sign setiap 4 – 6 jam
Rasionalisasi mengetahui perkembangan vital sign yang berhubungan dengan keluhan nyeri
c. Memberikan posisi pasien dengan nyaman
Rasionalisasi mengurangi rasa nyeri
c. Latih relaksasi nafas dalam
Rasionalisasi memberikan teknik relaksasi untuk mengurangi rasa nyeri
e. Memberikan lingkungan yang nyaman dan tenang
Rasionalisasi agar klien merasa tenang dan nyaman
f. Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian analgesik
Rasionalisasi mengurangi dan menghilangkan nyeri
2. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur infasiv (pembedahan).
a. Monitor vital sign setiap 5 – 6 jam
Rasionalisasi mengetahui perkembangan vital sign
b. Monitor tanda dan gejala infeksi
Rasionalisasi mengetahui adanya tanda-tanda infeksi
c. Memberikan perawatan kulit pada daerah yang berisiko infeksi
Rasionalisasi mengurangi terjadinya infeksi
d. Dorong asupan nutrisi dan cairan yang cukup
Rasionalisasi membantu daya tahan tubuh, untuk mengurangi terjadi infeksi
e. Menjelaskan tanda-tanda infeksi dan pencegahannya
Rasionalisasi memberikan pengetahuan pasien tentang infeksi
f. Kolaborasi dengan medis untuk pemeriksaan darah, kultur
Rasionalisasi untuk mengetahui hasil pemeriksaan laboratorium
g. Laksanakan pemberian obat antibiotika sesuai program
Rasionalisasi membantu mengurangi terjadinya infeksi
3. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan pengobatan post operasi.
a. Observasi keadaan umum pasien
Rasionalisasi mengetahui perkembangan keadaan pasien
b. Mengobservasi tingkat kekuatan otot
Rasionalisasi mengetahui tingkat kekuatan otot
c. Mengajarkan rentang gerak
Rasionalisasi untuk mendapatkan kembali tingkat aktivitas fisik
d. Mengajarkan tehnik relaksasi dengan melakukan message, perawatan kulit dan pertahankan alat tenun bersih dan kering
Rasionalisasi mengurangi ketegangan atau kelemahan oto, juga untuk mengurangi sakit
e. Atur posisi tidur pasiendan rubah posisi secara teratur
Rasionalisasi tidak terjadi komplikasi decubitus
f. Kolaborasi dengan fisioterapi dalam terapi fisik
Rasionalisasi membantu klien kearah penyembuhan

Urolithiasis
sekian sharingnya.. mohon maaf bila masih banyak kekurangan
Read More

Sabtu, 03 Oktober 2009

Apakah Anda Terkena Stress?

di 15.40 Label: Kesehatan Mental
Stress dalam hidup adalah hampir sama pastinya dengan kematian dan tagihan pajak. Yang datangnya dari berbagai sumber termasuk diantaranya career/pekerjaan, financial/keuangan dan relationship/hubungan interpersonal/kelompok. Apakah anda saat ini dan hari ini sedang menghadapi stressor (penyebab stress) atau anda mengalami stress yang berlangsung lama (kronik) dan yang berkelanjutan, anda sepertinya mulai menunjukkan beberapa gejala dan tanda stress. Maka, bagaimana anda mengetahui ketika anda sedang menghadapi begitu banyak stress yang mana sampai pada satu titik yang sudah tidak sehat lagi? Berikut ini beberapa gejala dan tanda terlalu banyak stress.

Sakit kepala
Ada beberapa tipe khusus nyeri kepala yang berhubungan dengan stress, khususnya ketegangan kepala (tension headache) merupakan jenis nyeri kepala yang paling sering. Apabila anda mengalami nyeri kepala terus menerus, stress paling mungkin berkaitan dengan sakit kepala tersebut. Ketegangan sakit kepala yang mengenai dua sisi kepala dan biasanya terasa seperti rasa sesak tepat pada dahi dan pada leher punggung.

Sering mengalami flu dan pilek
Jika anda benat-benar dalam tekanan stress, sistem kekebalan anda tidak bisa berfungsi dengan semestinya. Stress akan berdampak pada melemahnya kemampuan tubuh anda dalam melawan virus dan bakteri, yang artinya anda menjadi lebih rentan dan mudah sakit ketika anda stress.

Ganngguan tidur
Terlalu banyak stress bisa melelahkan anda, tapi kondisi ini tidak membuat anda bisa tertidur. “Tidak ada kata tidur untuk lelah” adalah hal yang pasti terjadi pada orang-orang dengan tekanan stress yang sangat besar dan hal ini merampas tidur anda yang mana tidur ini berguna untuk restorasi kondisi tubuh anda.

Kecemasan
Kecemasan merupakan komponen penting ketika anda dalam situasi “hidup” atau “mati”, tapi jika anda merasa cemas sepanjang hari hal ini biasanya berkaitan dengan kenyataan bahwa anda mempunyai terlalu banyak hal-hal yang membuat anda stress. Kecemasan mungkin juga merupakan indikator bahwa anda mempunyai gangguan atau masalah kesehatan seperti gangguan kecemasan umum.

Berpikir yang tidak jelas
Apabila anda tidak dapat berpikir dengan benar, maka kemungkinannya adalah tubuh anda mengalami kehilangan hormon-hormon tubuh sampai pada suatu titik yang mana anda tidak dapat berpikir dengan selayaknya.

Perasaan frustasi
Jika saat ini anda sedang menghadapi banyak kebutuhan dalam satu moment, secara alami menyebabkan banyak orang (penderita) mudah tersinggung dan frustasi. Trik untuk mengatasinya adalah dengan menemukan cara-cara mencegah frustasi dan dengan segera menenangkan diri.

Penurunan libido (nafsu seksual)
Stress mempunyai banyak pengaruh pada diri anda melebihi dari apa yang mungkin anda tahu. Stress juga berpengaruh pada libido atau nafsu atau dorongan seksual seseorang. Jika anda saat ini terlalu lelah diakibatkan karena stress untuk melakukan sek, kemudian anda tidak ingin melakukan hubungan sex. Apabila anda terlihat tidak bisa meluangkan waktu untuk pasangan anda, maka hal ini juga mungkin sekali berkaitan dengan stress.

Hal-hal diatas hanya beberapa gejala-gejala bahwa stress dapat dimanifestasikan dalam tubuh dan pikiran anda. Apabila anda mengalami salah satu dari gejala-gejala diatas dalam hidup anda dan anda yakin gejala-gejala tersebut mungkin terkait dengan stress, maka anda mungkin memerlukan pemeriksaan/test stress untuk menentukan tingkat/keparahan stress yang anda derita.
Read More

Tentang hidup

Tidak ada komentar : di 11.04 Label: curhat
roda kehidupan selalu berputar. satu titik kadang berada diatas, suatu saat ia akan berada dibawah. kesenangan datang, kesenangan pun hilang. kesedihan menggantikannya. dimana pernah ada tangis, disitu pula suatu saat nanti akan ada tawa. ada kesulitan ada pula kemudahan. ini adalah sunnatullah. demikian adanya dunia
Read More

berduka cita

Tidak ada komentar : di 11.03 Label: curhat
menangis endonesaku.. gempa mengguncang sumatra barat bnyak saudara-saudara kita menjadi korban. ayo buka hati qt untuk membantu dan mendoakan sodara qt yg kena musibah
Read More

Jumat, 02 Oktober 2009

MENGUKUR SUHU BADAN PADA BAYI/ANAK

di 10.42 Label: Askep Anak
PENGERTIAN
Mengukur suhu badan bayi/anak dgn thermometer

TUJUAN
Mengetahui suhu badan bayi/anak untuk menentukan tindakan perawatan & membantu diagnosa.

DILAKUKAN KEPADA
Setiap bayi/ anak yg baru dirawat
Setiap pasien secara rutin
Pasien tertentu sesuai kebutuhan
Untuk Selengkapnya Silahkan :
download Format Pdf
download Format Ppt
Read More

PERAWATAN BAYI DALAM INKUBATOR

di 10.18 Label: Askep Anak
PENDAHULUAN
Inkubator mrpkn salah satu (cara ke 4) dr lima cara menghangatkan & mempertahankan suhu tubuh (kontak skin dg skin; kangaroo mother care/KMC;pemancar panas; ruangan yg hangat)

Dimana sebelumnya & sesudahnya dilakukan monitoring & evaluasi pengukuran suhu tubuh

TUJUAN :
Penghangatan berkelanjutan bayi 
 Dengan berat badan < 1500 gr yang tidak dapat dilakukan kangaroo mother care/
Read More
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Lihat versi seluler
Langganan: Postingan ( Atom )
 photo banner300x250-biru.gif

Blog Archive

  • 2016 (1)
    • 09/18 - 09/25 (1)
      • PENGETAHUAN IBU TENTANG BIANG KERINGAT PADA BAYI 0...
  • 2015 (10)
    • 10/11 - 10/18 (1)
    • 09/13 - 09/20 (1)
    • 09/06 - 09/13 (1)
    • 07/05 - 07/12 (1)
    • 05/17 - 05/24 (6)
  • 2014 (1)
    • 04/13 - 04/20 (1)
  • 2012 (770)
    • 02/19 - 02/26 (5)
    • 02/12 - 02/19 (10)
    • 02/05 - 02/12 (4)
    • 01/29 - 02/05 (27)
    • 01/22 - 01/29 (88)
    • 01/15 - 01/22 (101)
    • 01/08 - 01/15 (169)
    • 01/01 - 01/08 (366)
  • 2011 (4477)
    • 12/25 - 01/01 (336)
    • 12/18 - 12/25 (62)
    • 12/11 - 12/18 (70)
    • 12/04 - 12/11 (77)
    • 11/27 - 12/04 (40)
    • 11/20 - 11/27 (67)
    • 11/13 - 11/20 (198)
    • 11/06 - 11/13 (187)
    • 10/30 - 11/06 (340)
    • 10/23 - 10/30 (32)
    • 10/16 - 10/23 (109)
    • 10/09 - 10/16 (80)
    • 08/14 - 08/21 (75)
    • 08/07 - 08/14 (81)
    • 07/31 - 08/07 (82)
    • 07/24 - 07/31 (65)
    • 07/17 - 07/24 (91)
    • 07/10 - 07/17 (47)
    • 07/03 - 07/10 (44)
    • 06/26 - 07/03 (53)
    • 06/19 - 06/26 (59)
    • 06/12 - 06/19 (47)
    • 06/05 - 06/12 (65)
    • 05/29 - 06/05 (63)
    • 05/22 - 05/29 (77)
    • 05/15 - 05/22 (115)
    • 05/08 - 05/15 (65)
    • 05/01 - 05/08 (104)
    • 04/24 - 05/01 (45)
    • 04/17 - 04/24 (70)
    • 04/10 - 04/17 (134)
    • 04/03 - 04/10 (72)
    • 03/27 - 04/03 (18)
    • 03/20 - 03/27 (47)
    • 03/13 - 03/20 (68)
    • 03/06 - 03/13 (40)
    • 02/27 - 03/06 (56)
    • 02/20 - 02/27 (77)
    • 02/13 - 02/20 (76)
    • 02/06 - 02/13 (198)
    • 01/30 - 02/06 (194)
    • 01/23 - 01/30 (132)
    • 01/16 - 01/23 (196)
    • 01/09 - 01/16 (202)
    • 01/02 - 01/09 (121)
  • 2010 (2535)
    • 12/26 - 01/02 (156)
    • 12/19 - 12/26 (65)
    • 12/12 - 12/19 (73)
    • 12/05 - 12/12 (84)
    • 11/28 - 12/05 (80)
    • 11/21 - 11/28 (68)
    • 11/14 - 11/21 (63)
    • 11/07 - 11/14 (50)
    • 10/31 - 11/07 (50)
    • 10/24 - 10/31 (36)
    • 10/17 - 10/24 (58)
    • 10/10 - 10/17 (35)
    • 10/03 - 10/10 (31)
    • 09/26 - 10/03 (21)
    • 09/19 - 09/26 (26)
    • 09/12 - 09/19 (55)
    • 09/05 - 09/12 (65)
    • 08/29 - 09/05 (33)
    • 08/22 - 08/29 (70)
    • 08/15 - 08/22 (45)
    • 08/08 - 08/15 (35)
    • 08/01 - 08/08 (37)
    • 07/25 - 08/01 (27)
    • 07/18 - 07/25 (19)
    • 07/11 - 07/18 (30)
    • 07/04 - 07/11 (56)
    • 06/27 - 07/04 (28)
    • 06/20 - 06/27 (22)
    • 06/13 - 06/20 (30)
    • 06/06 - 06/13 (21)
    • 05/30 - 06/06 (5)
    • 05/16 - 05/23 (6)
    • 05/09 - 05/16 (29)
    • 05/02 - 05/09 (59)
    • 04/25 - 05/02 (28)
    • 04/18 - 04/25 (38)
    • 04/11 - 04/18 (70)
    • 04/04 - 04/11 (59)
    • 03/28 - 04/04 (65)
    • 03/21 - 03/28 (89)
    • 03/14 - 03/21 (218)
    • 03/07 - 03/14 (95)
    • 02/28 - 03/07 (135)
    • 02/21 - 02/28 (102)
    • 01/03 - 01/10 (68)
  • 2009 (1652)
    • 12/27 - 01/03 (36)
    • 12/20 - 12/27 (22)
    • 12/13 - 12/20 (100)
    • 12/06 - 12/13 (45)
    • 11/29 - 12/06 (24)
    • 11/22 - 11/29 (22)
    • 11/15 - 11/22 (19)
    • 11/08 - 11/15 (28)
    • 11/01 - 11/08 (11)
    • 10/25 - 11/01 (17)
    • 10/18 - 10/25 (38)
    • 10/11 - 10/18 (33)
    • 10/04 - 10/11 (15)
    • 09/27 - 10/04 (21)
    • 09/20 - 09/27 (7)
    • 09/13 - 09/20 (84)
    • 09/06 - 09/13 (35)
    • 08/30 - 09/06 (48)
    • 08/23 - 08/30 (118)
    • 08/16 - 08/23 (26)
    • 08/09 - 08/16 (34)
    • 08/02 - 08/09 (35)
    • 07/26 - 08/02 (31)
    • 07/19 - 07/26 (14)
    • 07/12 - 07/19 (16)
    • 07/05 - 07/12 (28)
    • 06/28 - 07/05 (26)
    • 06/21 - 06/28 (76)
    • 06/14 - 06/21 (26)
    • 06/07 - 06/14 (21)
    • 05/31 - 06/07 (43)
    • 05/24 - 05/31 (38)
    • 05/17 - 05/24 (26)
    • 05/10 - 05/17 (52)
    • 05/03 - 05/10 (15)
    • 04/26 - 05/03 (38)
    • 04/19 - 04/26 (32)
    • 04/12 - 04/19 (22)
    • 04/05 - 04/12 (20)
    • 03/29 - 04/05 (40)
    • 03/22 - 03/29 (43)
    • 03/15 - 03/22 (18)
    • 03/08 - 03/15 (14)
    • 03/01 - 03/08 (22)
    • 02/22 - 03/01 (12)
    • 02/15 - 02/22 (9)
    • 02/08 - 02/15 (11)
    • 02/01 - 02/08 (19)
    • 01/25 - 02/01 (37)
    • 01/18 - 01/25 (21)
    • 01/11 - 01/18 (33)
    • 01/04 - 01/11 (31)
  • 2008 (700)
    • 12/28 - 01/04 (13)
    • 12/21 - 12/28 (9)
    • 12/14 - 12/21 (57)
    • 12/07 - 12/14 (5)
    • 11/30 - 12/07 (18)
    • 11/23 - 11/30 (33)
    • 11/16 - 11/23 (31)
    • 11/09 - 11/16 (23)
    • 11/02 - 11/09 (18)
    • 10/26 - 11/02 (11)
    • 10/19 - 10/26 (15)
    • 10/12 - 10/19 (13)
    • 10/05 - 10/12 (25)
    • 09/28 - 10/05 (2)
    • 09/21 - 09/28 (14)
    • 09/14 - 09/21 (19)
    • 09/07 - 09/14 (43)
    • 08/31 - 09/07 (3)
    • 08/24 - 08/31 (33)
    • 08/17 - 08/24 (65)
    • 08/10 - 08/17 (4)
    • 08/03 - 08/10 (26)
    • 07/27 - 08/03 (6)
    • 07/20 - 07/27 (19)
    • 07/13 - 07/20 (18)
    • 07/06 - 07/13 (60)
    • 06/29 - 07/06 (53)
    • 06/22 - 06/29 (49)
    • 06/15 - 06/22 (11)
    • 06/08 - 06/15 (4)

Popular Posts

  • Transkultural dalam Keperawatan
    Konsep Teori Transkultural dalam Keperawatan APLIKASI TEORI TRANSCULTURAL NURSING DALAM PROSES KEPERAWATAN Rahayu Iskandar, Ners, M.Kep PEND...
  • Review Blog Keperawatan
    Setelah beberapa minggu ini cari materi buat postingan baru, mendadak dapat inspirasi setelah rekan Anton Wijaya menulis di buku tamu Keper...
  • Hubungan Usia Terhadap Perdarahan Post Partum Di RSUD
    KTI KEBIDANAN HUBUNGAN USIA TERHADAP PERDARAHAN POSTPARTUM DI RSUD BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan wanita merupakan hal yang s...
  • PATHWAY ASFIKSIA NEONATORUM
    PATHWAY ASFIKSIA NEONATORUM Klik pada gambar untuk melihat pathway Download Pathway Asfiksia Neonatorum Via Ziddu Download Askep Asfiksia N...
  • PROSES KEPERAWATAN KOMUNITAS
    PROSES KEPERAWATAN KOMUNITAS Pengertian - Proses keperawatan adalah serangkaian perbuatan atau tindakan untuk menetapkan, merencana...
  • Diagnosa Keperawatan Aktual
    Konsep Dasar Diagnosa Keperawatan Aktual BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sebagai suatu aspek yang terpenting dalam proses kepera...
  • PENGETAHUAN IBU TENTANG BIANG KERINGAT PADA BAYI 0-1 TAHUN DI BPS XXXX
    Prelevansi penyakit kulit di Indonesia cukup tinggi baik oleh bakteri, virus atau jamur. Selain itu bergantung pada lingkungan dan kondisi...
  • PATHWAY HEMATEMESIS MELENA
    Pathway Hematemesis Melena Klik pada gambar untuk melihat pathway Download Pathway Hematemesis Melena Via Ziddu
  • Ikterus
    DEFINISI Ikterus ialah suatu gejala yang perlu mendapat perhatian sungguh-sungguh pada neonatus. Ikterus ialah suatu diskolorasi kuning pa...
  • Gangguan Masalah Eliminasi ALVI
    Gangguan Masalah Eliminasi ALVI Konstipasi Konstipasi merupakan keadaan individu yang mengalami atau berisiko tinggi mengalami stasis usus b...

Statistik

© ASUHAN KEPERAWATAN 2013 . Powered by Bootstrap , Blogger templates and RWD Testing Tool Published..Gooyaabi Templates