• home

ASUHAN KEPERAWATAN

  • HOME
  • DOWNLOAD ASUHAN KEPERAWATAN
  • Cara Mendapatkan Password

Rabu, 09 Desember 2009

FRAKTUR OS.MANDIBULARIS

Tidak ada komentar : di 11.44 Label: ASUHAN KEPERAWATAN
KEPERAWATAN PERIOPERATIF FRAKTUR OS.MANDIBULARIS

Pembedahan merupakan salah satu bentuk terapi medis yang merupakan ancaman potensial atau aktual kepada integritas seseorang karena membangkitkan reaksi stress baik fisiologis maupun psikologis. Reaksi fisiologis berkaitan langsung dengan tindakan bedah itu sendiri, sedangkan reaksi psikologis meskipun tidak berkaitan langsung dengan tindakan bedah namun sangat mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan pembedahan karena da-pat memicu respon yang lebih besar.
Pada dasarnya pembedahan merupakan stressor kepada tubuh dan memicu respon neuroendokrin. Respon terdiri dari sistem saraf simpathi dan respon hormon yang ber-fungsi melindungi tubuh dari ancaman didera. Respon sistem saraf simpathi dengan vaso-konstriksi berguna untuk mempertahankan tekanan darah agar cukup aliran darah ke jantung dan otak. Kenaikan kardiak output dan pengurangan aktifitas gastrointestinal berguna untuk mempertahankan tekanan darah, namun memiliki efek negatif anoreksia, nyeri akibat gas dan konstipasi. Pada respon hormonal, peningkatan sekresi glucocorticoid (cortex adrenal) menyebabkan retensi sodium untuk peningkatan volume darah: katabolisme protein dan lemak untuk penyembuhan menyebabkan peningkatan energi, tersedianya asam smino sehingga efek negatifnya menyebabkan kehilangan potassium dan penurunan berat badan. Kenaikan produksi trombosit berguna untuk mencegah perdarahan melalui pembekuan, namun efek negatifnya menyebabkan penurunan berat badan, kemungkinan pemben-tukan thrombus, kenaikan sekresi ADH menyebabkan peningkatan volume darah, namun bisa memungkinkan kelebihan cairan.
Pada klien lanjut usia, kemampuan mentolerir bedah tergantung pada luasnya perubahan fisiologi yang terjadi akibat proses usia, lamanya prosedur bedah dan terdapatnya satu atau lebih penyakit menahun. Perubahan-perubahan fisiologis pada lansia yang mempengaruhi proses bedah adalah cardiovasculer, renal, pulmonari dan muskuloskeletal. Kecepatan jantung yang lebih lamban bisa menyebabkan shock, infeksi luka dan thrombo-phlebitis. Fungsi ginjal yang menurun menyebabkan respon terlambat terhadap anestesi serta ketidakseimbangan cairan dan elektrolit. Fungsi respiratori yang menurun menye-babkan atelektasis dan pneumonia. Mobilitas yang berkurang juga bisa menimbulkan atelektasis, pneumonia, thrombophlebitis serta konstipasi.
Respon psikologi seseorang terhadap pembedahan berbeda-beda. Pandangan bahwa pembedahan akan menimbulkan kerusakan pada bagian tubuh tertentu serta nyeri yang hebat menyebabkan klien pada umumnya merasa takut atau cemas terhadap sesuatu yang belum pasti. Disinilah fungsi perawat untuk lebih sensitif terhadap kebutuhan psikologis pasien yang akan menjalani operasi.
Perawatan perioperatif adalah periode sebelum, selama dan sesudah operasi berlangsung. Pada periode pre operatif yang lebih diutamakan adalah persiapan psikologis dan fisik sebelum operasi. Aspek yang paling penting pada periode ini adalah pendidikan kesehatan tentang hal-hal yang patut ia ketahui sebagai persiapan seperti persetujuan operasi sebagai syarat administratif maupun persiapan-persiapan menjelang operasi seperti puasa, bercukur, mandi, keramas, dll. Selain itu kesiapan yang tak kalah pentingnya adalah penyuluhan tentang peristiwa yang akan datang, latihan-latihan yang diperlukan pada periode pasca bedah guna mencegah komplikasi serta pengkajian sebelum penyuluhan tentang apa yang diketahui klien tentang tujuan bedah serta semua prosedur rutin, baik pra maupun
pasca bedah.
Pada periode intra operatif, tugas utama perawat adalah membantu/ bekerjasama dengan tim dalam pelaksanaan operasi. Sedang pada periode post ope-ratif, tugas perawat adalah membantu klien dalam pemulihan setelah pembiusan, mempertahankan sistem tubuh berjalan baik, mencegah komplikasi pasca operasi dan mencegah ketidaknyamanan.

1. PRE OPERATIF FRAKTUR OS.MANDIBULARIS
a. Merupakan ijin tertulis yang ditandatangani oleh klien untuk melindungi klien dari pelimpahan wewenang pembedahan dan melindungi ahli bedah dan rumah sakit terhadap pengaduan yang tidak disertai wewenang atau klien tidak menyadari resiko yang menyertai.
b. Pengkajian FRAKTUR OS.MANDIBULARIS
Yang perlu dikaji adalah pengetahuan klien tentang:
- Tujuan pembedahan, prosedur pra dan post operasi.
- Latihan-latihan yang diperlukan pada post operasi guna mencegah kom-plikasi.
- Peristiwa yang akan datang.

2. KESIAPAN PSIKOLOGIS TERHADAP PEMBEDAHAN FRAKTUR OS.MANDIBULARIS
Kecemasan yang berat akan mempengaruhi hipotalamus dan menimbulkan dua me-kanisme yang berbeda. Impuls pertama disponsori oleh sistem saraf simpatis yang akan mempengaruhi medula adrenal dalam memproduksi epinephrin dan nor epinephrin. Dalam keadaan normal, kedua substansi ini akan memberikan sirkulasi darah yang adekuat sehingga keseimbangan cairan dan elektrolit terjaga, suhu tubuh stabil sehingga energi terpenuhi. Tetapi jika produksinya patologis akan meningkatkan rate dan kontraksi jantung, dilatasi pupil, penurunan motilitas GI tract hingga terjadi glikogenolisis dan gluko-neogenesis di hepar. Sedangkan mekanisme kedua akan mempengaruhi kelenjar hipofise anterior sehingga merangsang produksi hormon adrenokortikosteroid yaitu aldosteron dan glukokortikoid. Aldosteron berperan dalam mem-pertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit, reabsorbsi air dan natrium. Glukokortikoid menyediakan energi pada kondisi emergensi dan penyembuhan jaringan.
Kecemasan dapat timbul karena kesiapan psikologis terhadap pembedahan belum terjadi. Tanda-tanda fisiologis yang penting dalam indikasi cemas adalah:
- Kulit : pucat, lembab.
- Pupil : dilatasi.
- Respirasi : lebih dalam.
- Nadi : ritme dan kekuatan meningkat.
- Temperatur: sedikit meningkat.
- GI : anorexia, nausea.
- Motorik : gelisah, gerakan stereotypi, immobilitas (stress berat).
- Perilaku : rentang perhatian berkurang, kemampuan mengikuti pe-rintah menurun.
- Interaksi: bertanya terus, pengungkapan negatif.

3. KEMAMPUAN BERKOMUNIKASI
Data mengenai penginderaan dan bahasa menunjukkan kemampuan klien untuk mengerti petunjuk-petunjuk dan kemampuan menerima pengalamam perioperatif.

4. OKSIGENASI
Adanya riwayat gangguan respirasi sangat berpengaruh terhadap kemampuan mengembangkan paru-paru serta potensial atelektasis atau pneumonia pasca bedah. Riwayat gangguan vaskuler berpengaruh terhadap gangguan suplay O2 pasca bedah.

5. NUTRISI
Kelebihan atau kekurangan berat badan dapat dihitung dari rasio tinggi badan dan berat badan. Defisiensi nutrisi harus dicegah. Intake diit yang tidak adekuat, mual, anoreksia dan kondisi oral jelek akan mempengaruhi intake nutrisi sebelum operasi dan merupakan faktor yang harus dipertim-bangkan pada periode pasca bedah.

6. ELIMINASI
Mobilitas dan ambulatori merupakan kegiatan penting pasca bedah untuk men-cegah komplikasi. Kurang kegiatan menyebabkan konstipasi pasca bedah, terutama bila memiliki riwayat konstipasi kronis.

7. AKTIFITAS
Kemampuan bergerak dan berjalan pada pasca bedah akan menentukan kegiatan yang harus dilaksanakan untuk memberi kesempatan kepada gerakan yang mak-simum.

8. KENYAMANAN
Kegiatan rutin ataupun prosedur tertentu perlu dijelaskan kepada klien demi mencegah salah pengertian, serta untuk meningkatkan pengetahuan dan me-ngurangi kecemasan.

Pada periode intra operatif, pengkajian difokuskan pada perubahan hemodinamik, ke-amanan dan keselamatan, pengaturan posisi serta koordinasi kesiapan proses pembe-dahan. Tindakan keperawatan yang harus dilakukan:
1. Pengelolaan keamanan dan keselamatan fisik.
- Jaminan perhitungan kassa, jarum, instrumen harus cocok untuk pemakaian.
- Mengatur posisi klien:
a. Posisi fungsional.
b. Membuka daerah operasi.
c. Mempertahankan posisi selama prosedur.
- Memasang alat ground.
- Menyiapkan bahan fisik.
2. Pemantauan fisiologis
- Mengkalkulasi kebutuhan cairan dan pengaruh akibat kekurangan cairan.
- Membandingkan data abnormal dari cardio pulmonal.
- Melaporkan perubahan.
3. Manajemen keperawatan
- Menyiapkan keselamatan fisik.
- Mempertahankan aseptis lingkungan.
- Mengelola SDM yang efektif.

Pada fase post operatif, pengkajian difokuskan pada kelancaran saluran nafas, karena bila terjadi obstruksi kemungkinan terjadi gangguan ventilasi yang mungkin disebab-kan karena pengaruh obat-obatan, anestetik, narkotik dan karena tekanan diafragma. Selain itu juga penting untuk mempertahankan sirkulasi dengan mewaspadai terjadinya hipotensi dan aritmia kardiak. Oleh karena itu perlu memantau TTV setiap 10-15 me-nit dan kesadaran selama 2 jam dan 4 jam sekali.
Keseimbangan cairan dan elektrolit, kenyamanan fisik berupa nyeri dan kenya-manan psikologis juga perlu dikaji sehingga perlu adanya orientasi dan bimbingan kegi-atan post op seperti ambulasi dan nafas dalam untuk mempercepat hilangnya pengaruh anestesi.

FRAKTUR OS.MANDIBULARIS



DEFiNISI FRAKTUR OS.MANDIBULARIS
Rusaknya kontinuitas tulang mandibular yang dapat disebabkan oleh trauma baik secara langsung atau tidak langsung.

PATOFISIOLOGI FRAKTUR OS.MANDIBULARIS
A. Penyebab fraktur adalah trauma
Fraktur patologis; fraktur yang diakibatkan oleh trauma minimal atau tanpa trauma berupa yang disebabkan oleh suatu proses, yaitu :
• Osteoporosis Imperfekta
• Osteoporosis
• Penyakit metabolik
1.
2. TRAUMA
Trauma, yaitu benturan pada tulang. Biasanya penderita terjatuh dengan posisi dagu langsung terbentur dengan benda keras (jalanan).

(a) TANDA DAN GEJALA FRAKTUR OS.MANDIBULARIS
• Nyeri hebat di tempat fraktur
• Tak mampu menggerakkan dagu bawah
• Diikuti tanda gejala fraktur secara umum, seperti : fungsi berubah, bengkak, krepitasi, sepsis pada fraktur terbuka, deformitas.

(b) PEMERIKSAAN PENUNJANG FRAKTUR OS.MANDIBULARIS
• X-Ray
• Bone scans, Tomogram, atau MRI Scans
• Arteriogram : dilakukan bila ada kerusakan vaskuler.
• CCT kalau banyak kerusakan otot.

(c) PENATALAKSANAAN MEDIK FRAKTUR OS.MANDIBULARIS
• Konservatif : Immobilisasi, mengistirahatkan daerah fraktur.
• Operatif : dengan pemasangan Traksi, Pen, Screw, Plate, Wire ( tindakan Asbarg)

(d) RENCANA KEPERAWATAN FRAKTUR OS.MANDIBULARIS
Prioritas Masalah
• Mengatasi perdarahan
• Mengatasi nyeri
• Mencegah komplikasi
• Memberi informasi tentang kondisi, prognosis, dan pengobatan

NO DX. KEPERAWATAN INTERVENSI RASIONAL FRAKTUR OS.MANDIBULARIS
1.

2. Ansietas berhubungan dengan krisis situasio-nal, ketidakakraban de-ngan lingkungan, anca-man kematian, peruba-han pada status kese-hatan, prosedur pra o-perasi & prosedur pas-ca operasi.

Resiko terjadinya syok berhubungan dengan perdarahan yang ba-nyak • Sediakan waktu kunjungan oleh personel kamar opera-si sebelum pembedahan ji-ka memungkinkan, untuk mendiskusikan hal-hal yang perlu diketahui klien sebe-lum pembedahan.
• Informasikan pada klien/ keluarga tentang peran ad-vokat perawat intraoperasi

• Identifikasi tingkat rasa takut yang mengharuskan dilakukannya penundaan prosedur pembedahan.

• Beritahu klien kemungkinan dilakukannya anestesi lokal atau spinal dimana rasa pu-sing atau mengantuk mung-kin saja terjadi.
• Perkenalkan staf pada wak-tu pergantian ke ruang o-perasi.
• Kontrol stimuli eksternal.


KOLABORASI:
• Rujuk pada rohaniawan, spesialis klinis perawat psi-kiatri, konseling psikiatri jika diperlukan.
• Diskusikan penundaan pem-bedahan dengan dokter, a-nestesiologis, klien dan ke-luarga sesuai kebutuhan.
• Berikan obat sesuai petun-juk, seperti zat-zat seda-tif, hipnotis; tranquilizer IV.

------- FRAKTUR OS.MANDIBULARIS -------


INDENPENDEN:
• Observasi tanda-tanda vi-tal.

• Mengkaji sumber, lokasi, dan banyaknya perdarahan
• Memberikan posisi supinasi
• Memberikan banyak cairan (minum)

KOLABORASI:
• Pemberian cairan per infus

• Pemberian obat koagulan- sia (vit.K, Adona) dan penghentian perdarahan dengan fiksasi.
• Pemeriksaan laboratorium (Hb, Ht)
• Dapat meredakan keresahan klien dan menyediakan infor-masi untuk perawat-an intraoperasi for-mulatif.

• Dapat mengembang-kan rasa percaya/ hubungan, menurun-kan rasa takut akan kehilangan kontrol pada lingkungan yang asing.
• Rasa takut yang ber-lebihan/terus-mene-rus akan mengaki-batkan reaksi stress yang berlebihan.
• Dapat mengurangi ansietas /rasa takut.
• Menciptakan hu-bungan dan kenya-manan psikologis.
• Suara gaduh & keri-butan akan mening-katkan ansietas.
• Konseling profesio-nal mungkin dibutuh-kan klien untuk me-ngatasi rasa takut.
• Mungkin diperlukan jika rasa takut yang berlebihan tidak berkurang.
• Untuk meningkatkan tidur malam hari se-belum pembedahan; meningkatkan ke-mampuan koping.
• Untuk mengetahui tanda-tanda syok sedini mungkin.
• Untuk menentukan tindakan.
• Untuk mengurangi perdarahan dan mencegah kekurang-an darah ke otak.
• Untuk mencegah ke-kurangan cairan (mengganti cairan yang hilang)
• Pemberian cairan per infus.
• Membantu proses pembekuan darah dan untuk menghen-tikan perdarahan.
• Untuk mengetahui kadar Hb, Ht apakah perlu transfusi atau tidak.
3. Gangguan rasa nyaman:
Nyeri sehubungan de-ngan perubahan frag-men tulang, luka pada jaringan lunak, pema-sangan back slab, stress, dan cemas. INDEPENDEN:
• Mengkaji karakteristik nyeri : lokasi, durasi, in-tensitas nyeri dengan menggunakan skala nyeri (0-10).
• Mempertahankan immobi-lisasi (back slab).
• Berikan sokongan (sup-port) pada area yang luka.
• Menjelaskan seluruh pro-sedur di atas.

------- FRAKTUR OS.MANDIBULARIS -------

KOLABORASI:
• Pemberian obat-obatan a-nalgesik.
• Untuk mengetahui tingkat rasa nyeri sehingga dapat menentukan jenis tindak annya.
• Mencegah pergeser-an tulang dan pene-kanan pada jaringan yang luka.
• Peningkatan vena return, menurunkan edem, dan mengura-ngi nyeri.
• Untuk mempersiap-kan mental serta a-gar pasien berparti-sipasi pada setiap tindakan yang akan dilakukan.
• Mengurangi rasa nyeri.

4. Resiko tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan luka terbuka. INDEPENDEN:
• Kaji keadaan luka (konti-nuitas dari kulit) terhadap adanya: edema, rubor, ka-lor, dolor, fungsi laesa.
• Anjurkan pasien untuk ti-dak memegang bagian yang luka.
• Merawat luka dengan meng-gunakan tehnik aseptik.
• Mewaspadai adanya keluhan nyeri mendadak, keterbatasan gerak, edema lokal, eritema pada daerah luka.

KOLABORASI:
• Pemeriksaan darah : leu-kosit.


Pemberian obat-obatan :
• antibiotika dan TT (Tokso-id Tetanus).


• Persiapan untuk operasi sesuai indikasi.

• Untuk mengetahui tanda-tanda infeksi.


• Meminimalkan terja-dinya kontaminasi.

• Mencegah kontami-nasi dan kemungkin-an infeksi silang.
• Merupakan indikasi adanya osteomilitis.



------- FRAKTUR OS.MANDIBULARIS -------


• Leukosit yang me-ningkat artinya su-dah terjadi proses infeksi .

• Untuk mencegah kelanjutan terjadi-nya infeksi dan pen-cegahan tetanus.
• Mempercepat pro-ses penyembuhan luka dan dan pence-gahan peningkatan infeksi.
5. Gangguan aktivitas berhubungan dengan kerusakan neuromusku-ler skeletal, nyeri, im-mobilisasi. INDEPENDEN:
• Kaji tingkat immobilisasi yang disebabkan oleh e-dema dan persepsi pasien tentang immobilisasi tersebut.
• Mendorong partisipasi dalam aktivitas rekreasi (menonton TV, membaca koran dll ).



------- FRAKTUR OS.MANDIBULARIS -------

• Menganjurkan pasien untuk melakukan latihan pasif dan aktif pada yang cedera maupun yang tidak.
• Membantu pasien dalam perawatan diri
• Auskultasi bising usus, monitor kebiasaan elimi-nasi dan menganjurkan a-gar b.a.b. teratur.
• Memberikan diit tinggi protein, vitamin, dan mi-neral.


KOLABORASI :
Konsul dengan bagian fisio-terapi.
• Pasien akan memba-tasi gerak karena salah persepsi (per-sepsi tidak propor-sional).
• Memberikan kesem-patan untuk menge-luarkan energi, me-musatkan perhatian, meningkatkan pera-saan, mengontrol di-ri pasien dan mem-bantu dalam mengu-rangi isolasi sosial.
• Meningkatkan aliran darah ke otot dan tulang untuk mening-katkan tonus otot, mempertahankan mobilitas sendi, mencegah kontrak-tur/atropi dan reap-sorbsi Ca yang tidak digunakan.
• Meningkatkan keku-atan dan sirkulasi otot, meningkatkan pasien dalam me-ngontrol situasi, me-ningkatkan kemauan pasien untuk sembuh
• Bedrest, penggunaan analgetika dan peru-bahan diit dapat me-nyebabkan penurun-an peristaltik usus dan konstipasi.
• Mempercepat proses penyembuh-an, mencegah penu-runan BB, karena pada immobilisasi biasanya terjadi pe-nurunan BB.
• Untuk menentukan program latihan.

6. Kurangnya pengetahuan ttg kondisi, prognosa, dan pengobatan berhu-bungan dengan kesa-lahan dalam penafsir-an, tidak familier de-ngan sumber in formasi INDEPENDEN:
• Menjelaskan tentang kelainan yg muncul prognosa, dan harapan yang akan datang.
• Memberikan dukungan ca-ra-cara mobilisasi dan am-bulasi sebagaimana yang di anjurkan oleh bagian fisio-terapi.

------- FRAKTUR OS.MANDIBULARIS -------

• Memilah-milah aktifitas yg bisa mandiri dan yang ha-rus dibantu.
• Mengidentifikasi pelayanan umum yang tersedia seper-ti tim rehabilitasi, perawat keluarga (home care).
• Mendiskusikan tentang perawatan lanjutan.
• Pasien mengetahui kondisi saat ini dan hari depan sehingga pasien dapat menen-tukan pilihan..
• Sebagian besar fraktur memerlukan penopang dan fiksasi selama proses pe- nyembuhan sehingga keterlambatan pe-nyembuhan disebab-kan oleh penggunaan alat bantu yang ku-rang tepat.
• Mengorganisasikan kegiatan yang diper-lukan dan siapa yang perlu menolongnya (apakah fisiotera-pist, perawat atau ke luarga).
• Membantu memfasi-litasi perawatan mandiri, memberi support untuk man-diri.
• Penyembuhan frak-tur tulang kemung-kinan lama (kurang lebih 1 tahun) se-hingga perlu disiap-kan untuk perenca-naan perawatan lan-jutan dan pasien ko-operatif.

sekian sharing FRAKTUR OS.MANDIBULARIS mohon maaf bila masih banyak kekurangan...
Read More

ASUHAN KEPERAWATAN VENA VARIKOSA

Tidak ada komentar : di 11.43 Label: ASUHAN KEPERAWATAN
VENA VARIKOSA
VENA VARIKOSA
1. Pengertian
Varises adalah pemanjangan, berkelok-kelok dan pembesaran suatu vena. Vena varikosa ekstremitas bawah adalah kelainan yang sangat lazim, yang mengenai 15-20 % populasi dewasa (Sabiston 1994). Varises vena adalah distensi, dan bentuk berlekuk-lekuk dari vena-vena superficial (safena) dari kaki (Engram B., 1999). Varises tungkai bawah adalah pemanjangan, berkelok-kelok, pembesaran suatu vena superficial, profunda dan kommmunikan pada titik Dodd (pertengahan paha), Byod (sebelah medial lutut) dan gastronemicus (tempat keluarnya vana saphena parva)
VENA VARIKOSA
2. Insiden
a. Riwayat keluarga bisa didapatkan dalam sekitar 15% klien.
b. Kelainan ini lebih sering ditemukan pada wanita (rasio wanita terhadap pria 5:1), dengan banyak wanita menentukan bahwa saat mulainya varices terlihat dan simtomatik pada waktu kehamilan.
c. Umur > 37 tahun pada wanita
d. Obesitas > 115% dari BBR (Berat Badan Relatif)
e. Orthostatik (berdiri lama)
VENA VARIKOSA
3. Klasifikasi
Vena varikosa diklasifikasikan (Sabiston 1994):
a. Vena varikosa primer, merupakan kelainan tersendiri vena superficial ekstremitas bawah
b. Vena varikosa sekunder, merupakan manifestasi insufisiensi vena profunda dan disertai dengan beberapa stigmata insufisiensi vena kronis, mencakp edema, perubahan kulit, dermatitis stasis dan ulserasi.
Manifestasi klilnis (Puruhito, 1995) :
a. varises truncal (stem varicosis)
b. Varises retikularis
c. Varises kapilaris
Gradasi keluhan klinis (Puruhito, 1995) :
a. stadium I : tak menentu
b. stadium II : phleboectasia
c. Stadium III : varises sesungguhnya, reversal blood-flow
d. Stadium IV : ulcus varicosum, kelainan tropic, Kronik vanous Insufisiensi (CVI)
VENA VARIKOSA
4. Patofisiologi

vena ekstremitas bawah
kehilangan kompetensi katup.

Distensi terus-menerus dan lama

pembesaran dimensi tranversa dan longitudinal
(bertambah volumenya, venoli-venolimakin besar sampai ke vena cava)

berkelok-keloknya vena subkutis yang khas
pembendungan (vena superfisialis, vena profunda, system komunikan)
gambaran kosmetik dan simtomatik
Vena varikosa gramde I/II

Terapi konservatif :
1. Obat venoruton
2. Skleroterapi
3. Lokal : antiphlogistikum/Zinc Zalf) Vena varioksa grade III/Ulkus (IV)

VENA VARIKOSA
Operasi Stripping/ekstraksi babcock


Preoperasi : (kecemasan, ketakutan)
Inoperasi : Perubahan perfusi jaringan, risiko infeksi, hemorargi,
tromboplebitis
Postoperasi : risiko aspirasi, nyeri, risiko cedera, risiko hipotermia

Keterangan :
Distensi vena ekstremitas bawah yang berdinding relative tipis secara berlebihan , terus-menerus dan lama, menimbulkan pembesaran dimensi tranversa dan longitudinal. Pembesaran longitudinal mengakibatkan berkelok-keloknya vena subkutis yang khas, distensi transversa mengakibatkan pembendungan yang terlihat dan dapat dipalpasi yang bertanggung jawab untuk gambaran kosmetik dan simtomatik. Patofisiologi vena varikosa adalah kehilangan kompetensi katup.

5. Pemeriksaan klinis (diagnostic)
Pemeriksaan klinis dapat dilakukan dengan :
a. Test trendelenberg
b. Test myer
c. Test perthes
d. Test Doppler
e. Radiologi (Phlebografi, morfometri, phlethysmografi)

6. Terapi Dan Tindakan
6.1 Konservatif, simtomatik dan nonoperatif :
1. Menghindari berdiri dalam waktu yang lama
2. penurunan berat badan dan aktivitas otot seperti berjalan
3. Penggunaan kaos penyokong ringan yang nyaman, Pemasangan stocking elastis yang pas karena obliterasi vena superficial (vena safena mmana)
4. KOnservatif :
a. Obat Venoruton (Gol hydroxyl Rutoside) 600 mg/hari minimal 2 minggu
b. Skleroterapi (tak dipakai lagi)
c. Lokal antiphlogistikum (Zinc Zalf (Pasta LAssar)

VENA VARIKOSA
6.2 Operatif :
Terapi bedah :
a. Stripping vena saphena (V. shapena magna, v. saphena psotrior, dan v, saphena parva) dengan menggunakan alat stripper (vena dikeluarkan)
b. Ligasi VV kommunikans yaitu tempat-tempat di mana diperiksa ada kebocoran, diikat dan dipotong.
c. Ekstraksi (Babcock) dengan sayatan kecil-kecil vena-vena yang berkelok dicabut keluar.Ligasi, Stripping dan Ekstraski Babcock.

6.3 KOmbinasi

7. Komplikasi
Komplikasi mencakup :
7.1 Trauma pada nervus safenus dan suralis dengan diserta hiperestesia kulit
7.2 Pembentukan hematoma subkutis dan kadang-kadang stripiing arteri tak sengaja

8. Perawatan paska bedah
8.1 Ekstremitas harus ditinggikan selama 4-6 jam
8.2 Balutan penekan dipasang di kamar operasi seharisnya tetap dipakai selama 4-6 hari, dengan menggunakan balutan elastis (Balutan ACE)
8.3 24-48 jam paska bedah program ambulasi progresif seharusnya dimulai
8.4 KLien diijinkan berjalan beberpa menitper jam, meningkat bertahap tiap hari dan tetap terlentang dengan ekstremitas ditinggikan, bila sedang berjalan. Berdiri (tanpa jalan) dan duduk harus dihindari serta
8.5 stocking (stocking antiembolism) yang sesuai dengan kebiasaan harus dipakai delama beberapa bulan

ASUHAN KEPERAWATAN
PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN SISTEM VASKULER (VENA VARIKOSA)


II. Pengkajian Preoperasi
Pengkajian focus preoperative meliputi :
a. Identitas
Kelainan ini lebih sering ditemukan pada wanita (rasio wanita terhadap pria 5:1), dengan banyak wanita menentukan bahwa saat mulainya varices terlihat dan simtomatik pada waktu kehamilan.
VENA VARIKOSA
b. Alasan masuk rumah sakit
Kosmetik, gejala simtomatik lainnya seperti : kelelahan dan sensasi berat, kram, nyeri , odema, Perdarahan spontan/akibat trauma dan Hiperpigmentasi

c. Riwayat penyakit
Profokatif, pemanjangan, berkelok-kelok dan pembesaran suatu vena
KUlaitatif, kuantitatif, semakin berat
Regio ekstremitas bawah (kedua kaki)
Severity, sakitnya mengganggu kosmetik dan aktivitas sehari-hari (kelelahan dan sensasi berat, kram, nyeri , odema)
Time, semakin hari semakin berat dan bertambah besar

d. Riwayat atau factor-faktor resiko :
1. kelemahan congenital/tidak adanya katup
2. Pekerjaan yang nmengharuskan berdiri/duduk dalam waktu lama tanpa kontrasi otot intermettentrauma langsung ke katup vena perforantes
3. kehamilan atau kelainan hormonal
4. riwayat keluarga dengan varises vena

e. pemenuhan pola kebutuhan sehari-hari :
1. Persepsi
Perawat bertanggung jawab untuk menentukan pemahaman klien tentang infomrasi (sifat operasi, semua pilihan alternative, hasil yang diperkirakan dan kemungkinan komplikasi), yang kemudian diberitahukan kepada ahli bedah apaakah diperlukan informasi lebih banyak (Informed consent). Pengalaman pembedahan masa lalu dapat meningkatkan kenyamanan fisik dan psikis serta mencegah komplikasi.

2. Status nutrisi
Secara langsung mempengaruhi respon pada trauma pembedahan dan anestesi. Sebelumnya perlu masukan karbohidrat dan protein untuk keseimbangan nitrogen negative. Puasa perlu dipersiapkan 8 jam sebelum operasi.

3. Status cairan dan elektrolit
Klien dengan ketidakseimbangan cairan dan elektrolit cendrung mengalami komplikasi syok, hipotensi, hipoksia dan distritmia baik intraoperasi dan paska operasi.

4. Status emosi
Respon klien, keluarga dan orang terdekat pada tindakan pembedahan tergantung pengalaman masa lalu, strategi koping, system pendukung dan tingkat pembedahan. Kebanyakan klien yang mengantisipasi mengalami pembedahan dengan anssietas dan ketakutan.Ketidakpastian prosedur pembedahan menimbulkan ansietas, nyeri, insisi dan imobilisasi.

f. Pemeriksaan fisik
Status lokalis :
1. Dilatasi, lekuk-lekuk vena superfisialis pada kaki
2. Keluhan sakit dangkal, kelelahan, kram, dan kaki berat, khsusnya setelah berdiri lama
3. pigmentasi kecoklatan pada kulit
4. bengkak, yang secara umum berkurang dengan peninggian tungkai

g. Pemeriksaan diagnostik
1. Venogram menunjukkan lokasi pasti dari varises kedua vena superficial dan dalam.
2. Test perfthes (klien berdiri sampai vena varikosa tampak dan digambar)

h. Diagnosa keperawatan
1. Praoperasi :
- Kecemasan berhubungan dengan kurangnya informasi dan pengalam tentang operasi infomrasi (sifat operasi, semua pilihan alternative, hasil yang diperkirakan dan kemungkinan komplikasi),
2. Inoperasi :
- Risiko perubahan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan efek sekunder dari ligasi dan pemotongan vena
- Risiko tinggi infeksi, hemorargi dan tromboplebitis berhubungan dengan efeks sekunder ligasi dan pemotongan vena
3. Paskaoperasi :
- Risiko terhadap aspirasi berhubungan dengan somnolen dan peningkatan skeresi sekunder intubasi
- NYeri berhubungan dengan sekunder terhadap erauma pada jaringan dan saraf

VENA VARIKOSA

II. perencanaan
1. Praoperasi :
- Kecemasan berhubungan dengan kurangnya informasi dan pengalaman tentang operasi infomrasi (sifat operasi, semua pilihan alternative, hasil yang diperkirakan dan kemungkinan komplikasi),
Tujuan : Cemas berkurang
Kriteria :
- KLien dapat menyatakan rasa cemas dan masalahnya
- Klien tenang dan tidak gelisah

INTERVENSI RASIONAL
1. Ciptakan saling percaya
2. Dorong pengungkapan masalah atau rasa cemas

VENA VARIKOSA
3. jawab pertanyaan yang berhubungan dengan penatalaksanaan keperawatan dan perawatan medis
4. Selesaikan persiapan pasien sebelum masuk ke kamar operasi
5. meminimalkan keributan di lingkungan
6. Orientasikan pada ruang operasi (ulangi informasi untuk memungkinkan penyerapan)
7. Pemantauan psikologis klien

8. Tunjukkan perhatian dan sikap mendukung

9. Beri penjelasan singkat tentang prosedur operasi


10. Beri reinforcement terhadap pernyataan yang positif dan mendukung
1. Dasar untuk menemukan dan pemcehan masalah.
2. Perasaan cemas yang diungkapakan pada orang yang dipercaya akan memberikan dampak lega dan merasa aman.
3. Pertanyaan yang dijawab dan dimengerti akan mengurangi rasa cemasnya.
4. Persiapan yang matang dapat menengkan suasana lingkungan sebelum operasi.
5. Lingkungan rebut memuat stress.
6. Lingkungan yang dimengerti akan mendorong kenyamanan dan keamanan klien.
7. Tingkat kecemasan intoleran akan mengganggu pelaksanaan operasi dan anestesi.
8. Support system meningkatkan mekanisme koping klien dalam menghadapi masalah.
9. Penjelasan tentang informaasi seputar bedah memberikan informasi yang positif dan pengalaman persiapan diri dalam pembedahan.
10. Reinforcement meberikan dorongan system social untuk meningkatan koping mekanisme.
11.

4. Intraoperasi :
- Risiko perubahan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan efek sekunder dari ligasi dan pemotongan vena
Tujuan : Perfusi jaringan normal/baik
Kriteria :
- Penurunan edema
- Ekstremitas hangat
- Nadi pedalis dapat diraba


VENA VARIKOSA
INTERVENSI RASIONAL
1. Pantau status neurovaskuler setiap 15 menit


2. Observasi tanda-tanda vital


3. Balance cairan


4. pantau saturasi oksigen pada jaringan perifer
1. Pencatatan perdarahan selama operasi < 250 cc, pulsasi nadi pedalis merupakan data pendukung tentang perfusi jaringan masih baik.2. Salah satu tanda penurunan pefusi jairngan menurun adalah tensi menurun, suhu akral dingin dan nadi meningkat.3. CAiran masuk dan perdarahan serta output lainnya perlu diperhiutngkan untuk memenuhi kebutuhan balance cairan4. Saturasi oksiegen > 95% menunjukkan perfusi jaringan perifer masih baik.
VENA VARIKOSA

- Risiko tinggi infeksi, hemorargi dan tromboplebitis berhubungan dengan efeks sekunder ligasi dan pemotongan vena
Tujuan : infeksi tidak terjadi
- perdarahan dirawat
- lapangan operasi bersih
INTERVENSI RASIONAL
1. Persiapan operasi secara seaseptik dan antiseptic


2. DAsar doek operasi dilandasi dengan perlak, plastic atau bahan lain yang kedap air

3. Perwatan darah (kasa steril/penyedot cairan atau darah)

4. Tambahkan doek diatas doek yang penuh dengan perdarahan 1. Aseptik merupakan cara untuk membuat ruang antikontminasi. Dan alat-alat bersih dan tak terkontaminasi, sehingga pajangan infeksi minimal.
2. Darah dan rembsean darah merupakan media yang paling baik dalam perkembangan kuman atau bakteri
3. Darah bekas insisi, lligasi dibersihkan untuk mencegah perdarahan yang tercecer, tromboplebitis.
4. Penambahan doek untuk mencegah infeksi atau kontaminasi.

5. Paskaoperasi :
- Risiko terhadap aspirasi berhubungan dengan somnolen dan peningkatan skeresi sekunder intubasi
Tujuan : tidak terjadi aspirasi
Kriteria :
- Jalan nafas lancar
- Tidak ada tanda-tanda syok
- Sekresi tidak ada
- Tanda-tanda vital normal (tensi 130/80, nadi 88 kali/menit, RR 16-20 kali/menit)

INTERVENSI RASIONAL
1. Atur posisi klien tanpa bantal, ekstensi dan miring kanan/kiri
VENA VARIKOSA

2. Kaji ekstubasi jalan nafas dan aspirasi (muntahan atau lidakh tertekuk)
3. Observasi Tanda-tanda vital

4. Bersihkan jalan nafas dengan slem suction


5. Oritentasi klien dengan menggunakan observasi aldert.
1. Poisis ini untuk meluruskan jalan nafas sehingga pemenuhan akan oksigen terpenuhi dan jalan nafas bersih dan lancer
2. Lidah tertekuk dan muntahan dapat menghambat/membuntui jalan nafas.
3. Hipotensi, dyspneu dan apneu merupakan tanda terjadinya syok.
4. Jalan nafas yang penuh dengan secret peru dihilangkan untuk jalan nafas spontan paska ekstubasi.
5. Tingkat perkembangan paska anestesi dapat dilihat dari aktivitas, kesadaran, warna,


- Nyeri berhubungan dengan sekunder terhadap trauma pada jaringan dan saraf bekas operasi stripping
Tujuan : nyeri berkurang
Kriteria :
- Klien tenang dan tidak menyeringai
- Klien mengerti factor penyebabnya seperti yang telah dijelaskan pada preoperasi

INTERVENSI RASIONAL
1. Kaji jtingkat nyeri

2. Atur posisi yang baik dan mengenakkan

VENA VARIKOSA

3. Anjurkan klien nafas panjang dan dalam


4. Observasi luka paskaoperasi


5. Terapi analgetik 1. NYeri dapat diantisipasi klien secara individualisme dan penanganan yan berbeda
2. Posisi kaki lebih tinggi dari badan 30o dapat mengurangi peningkatan penekanan pada jaringan yang rusak sehingga mengurangi nyeri.
3. Nafas panjang dan dalam merelaksasi otot yang dioperasi dan terimobilisasi sehingga nyeri berkurang
4. Perhatikan stuwing yang meningkat menghambat suplai oksigen sehingga nyeri bertambah.
5. Analgetik merupakan obat anti nyeri yang bekerja secara sentral atau perifer/local.
VENA VARIKOSA

III. Implementasi
Tindakan yang diberikan pada klien preoperasi, intraoperasi dan paska operasi berbeda-beda sesuai tingkat pengalaman pembedahan masa lalu, umur, jenis operasi serta koping mekanismenya, sehingga dalam penanganannya dari segi perawatan perlu dimodifikasi sesuai dengan masalah dan sumber pendukung dan pemecahan masalah.
VENA VARIKOSA
IV. Evaluasi
Evaluasi ini dalam jangka waktu pendek yang dalam penanganannya dapat berupa masalah :
a. dapat diatasi
b. Dapat diatasi sebagian
c. Tidak dapat diatasi/tidak berhasil

sekian sharing ASUHAN KEPERAWATAN
PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN SISTEM VASKULER (VENA VARIKOSA)

harap maklum bila masih banyak kekurangan
VENA VARIKOSA
Read More

INTERVENSI KLIEN INTRA OPERATIF

Tidak ada komentar : di 11.41 Label: KESEHATAN
INTERVENSI KLIEN
INTRA OPERATIF

A. ANGGOTA TIM PEMBEDAHAN
Tim pembedahan terdiri dari:
- Ahli bedah
Team pembedahan dipimpin oeh ahli bedah senior atau ahli bedah yang melakukan operasi.
- Asisten pembedahan (1 orang atau lebih)
Asisten bisa dokter,presden, atau seorang perawat. Dibawah petunjuk ahli bedah asisten memegang retractor dan suction untuk melihat letak operasi.
- Anesthesiologist atau perawat anesteshi.
Perawat anesteshi memberikan obat – obat anesteshi dan obat- obat lain untuk mempertahankan status fisik klien selama pembedahan.
- Circulating nurse.
Peran vital sebelum, selama dan setelah pembedahan.
Tugas :
- Set up ruangan operasi.
- Menjaga kebutuhan alat
- Check up keamanan dan fungsi semua peralatan sebelum pembedahan.
- Posisi klien dan kebersihan daerah operasi sebelum drapping.
- Memenuhi kebutuhan klien memberi dukungan mental, orientasi klien.
SELAMA PEMBEDAHAN
- Mengkoordinasikan aktifitas
- Mengimplementasikan NCP
- Membantu anesthetic
- Mendokumentasikan secara lengkap droin, kateter, dan lain – lain.
- Surgical teknologis atau nurse serub
Bertanggung jawab menyiapkan dan mengendalikan peralatan steril dan instrumen kepada ahli bedah / asisten. Pengetahuan anatomi fisiologi dan prosedur pembedahan memudahkan antisipasi instrumen apa yang dibutuhkan.

B. PENYIAPAN KAMAR DAN TEAM PEMBEDAHAN
Keamanan klien diatur dengan adanya ikat klien dan pengunci meja operasi.
Dua faktor penting yang berhubungan keamanan kamar pembedahan : layout kamar operasi dan pencegahan infeksi.
1). Layout pembedahan
Ruangan harus terletak diluar gedung RS dan bersebelahan dengan RR dan pelayanan pendukung (bank darah, bag patologi, dan bagian logistik).
Alur lalu lintas yang menyebabkan kontaminasi dan ada pemisahan antara hal yang bersih dan terkontaminasi design (protektik,bersih, steril dan kotor). Besar ruang tergantung pada ukuran dan kemampuan rumah sakit.
Umumnya :
- Kamar terima
- Ruang untk peralatan bersih dan kotor
- Ruang linen bersih
- Ruang ganti
- Ruang umum untuk pembersihan dan sterilisasi alat
- Scrub area.
Ruang operasi terdiri dari :
- Stretcher atau meja operasi
- Lampu operasi
- Anesthesia station
- Meja dan standar instrumen .
- Peralatan suction
- System komunikasi

2). Kebersihan dan kesehatan tean pembedahan
Sumber utama kontaminasi bakteri : team pembedahan yang hygiene menurun dan kesehatan menurun (kulit, rambut, saluran pernapasan).
Pencegahan kontaminasi :
- Cuci tangan
- Hand schoen
- Mandi
- Perhiasan

3). Pakaian bedah
Terdiri dari : Kap, masker, gaun,tutup sepatu, baju OK
Tujuan : Menurunkan kontaminasi

4). Surgical Scrub
Cuci tangan pembedahan dilakukan oleh :
- Ahli bedah
- Semua asisten
- Scrub nurse
Alat – alat :
- Sikat cuci tangan reusable / disposibel
- Antimikrobial : Betadine
- Pembersih kuku.
Waktu : 5 – 10 menit dikering kan dengan handuk steril.


C. ANESTHESIA
Anestehsia (Bahasa Yunani) Negatif sensation.
Anestehsi menyebabkan keadaan kehilangan rasa secara pastial atau total, dengan atau tanpa disertai kehilangan kesadaran .

Tujuan : Memblok transmisi implus syaraf menekan reflek, meningkatkan relaksasi otot.

Pemilihan anesthesi oleh anesthesiologist berdasarkan konsultasi dengan ahli bedah dan faktor klien.

1). Type Anesthesi
Perawat perlu mengenal ciri farmacologic terhadap obat anesthesi yang digunakan dan efek terhadap klien selama dan sesudah pembedahan.

(a). Anasthesi Umum
Adalah keadaan kehilangan kesadaran yang revesible karena inhibisi impulse saraf otak.
Misal : Bedah kepala, leher, kllien yang tidak kooperatif

a.1. Stadium Anesthesis
- Stadium I : Relaxasi
Mulai klien sadar dan kehilangan kesadaran secara bertahap.
- Stadium II : Excitement
Mulai kehilangan kesadaran secara total sampai dengan pernapasan yang ireguler sampai dengan pergerakan anggota badan tak teratur.
- Stadium III : Anesthesi pembedahan .
Di tandai relaxasi rahang, respirasi teratur, penurunan pendengaran dan sensasi nyeri.
- Stadfium IV : Bahaya
Apnea, cardiopulmonary arest dan kematian

a.2. Metode pemberian
Inhalasi, IV injeksi, instilasi rectal.
- INHALASI
Metode yang paling dapat di kontrol karena intake dan eliminasi secara primer oleh paru – paru.

Obat anesthesi inhalasi dibedakan :
 Gas : Nitrous oxida ( N2O)
Paling sering digunakan gas yang tak berwarna, tak berbau, non iritasi dengan masa induksi atau pemulihan yang cepat.
 Volatile : Cairan yang dapat menguap
- Halothane : Non iritasi terhadap saluran pernapasan dan menghasilkan mual dan muntah yang minimal pada post op.Halothane dapat menekan system Cardiovasculer (hippotensi dan bradicardi) dan berpengaruh terhadap hipothalamus.
 Etharane
Anasthesi inhalasi yang menghasilkan relaksasi otot yang adekuat .
Ethrane mengurangi fentilasi klien dan menurunkan tekanan darah.
 Penthrane
Pelemas otot yang efektif dan memberikan efek analgesik pada kosentrasi rendah, toxis pada ginjal dan hanya digunakan untuk pembedahan waktu pendek.
 Forane
Muscle relaksa, Cardiofascler tetap stabil.
- ANESTHESI INJEKSI IV
Meberikan perasaan senang, cepat, dan pelepasan obat secara pelan.
 Barbitturat
Sering digunakan,bekerja langsung pada CNS dari sedasi sedang, sampai kehilangan kesadaran, sedikit mengurangi nyeri.
Thiopental sodium :
- Skart akting
- Supplemment N2O pada operasi singkat
- Hipnotic pada anesthesi regional
- Deppresant patent terhadap sistem jantung dan paru.
 Narcotic
- Suplement anasthesi inhalasi
- Narcotic yang sering digunakan morphin, sulfat, meperidine, dan fentanil citrate.
- Analgesia post operasi yang adekuat
- Menurunkan ventilasi alveolar dan deppresant pernapasan.
 Innovar
- kombinasi fentanil citrat dan tranguiliser dropreridol.
- Digunakan dosis kecil untuk supplement N2O dan anesthesis regional.
- Durasi panjang, depresi pernapasan, hippofentilasi, opnea, hipotensi selama post op.
 Ketanime
- Obat anesthesis yang tersendiri .
- Bekerja pada bagian saraf tertentu
- Diberikan iv atau im
- Menyebabka penurunan kesadaran secara cepat, analgesik tanpa depresi pernapasan atau kehilangan tonus otot.
- Merangsang system cardiovasculer.
- Digunakan diagnostik, pembedahan singkat supplement N2O
- Selama pemberian : mimpi buruk halusinasi, tindakan irotional.
 Neuromusculer Brochler
- Muscie relaxant selama pembedahan
- Mempermudah pemasangan ET tube
- Bekerja pada garis otot tubuh dengan mempengaruhi implus pada moter end plate

KOMPLIKASI ANASTHESI UMUM:
Komplikasi jarang tetapi dapat mengancam jiwa.
- Komplikasi sebagian besar minor sebagai akibat teknik intubasi seperti gigi patah atau trauma vocal cord.
dapat terjadi akibat hiperekstensi leher, rongga mulut kecil,
sendi mandibular yang kaku
- Anasthesi over dosis pada orng tua atau kelainan klien
Hipertermia maligna.
- Kerusakan pada membran sel otot sirkulasi kalsium meningkat rata-rata metabolisme meningkat dan suhu tubuh 460 C. Terjadi pada klien yang sensitif pada Halothane, Penthran, Succinyl clorida
Gejala : tachicardi, peningkatan suhu tubuh yang kontinous, cyanosis,hipotensi, kaku otot, arithmia.
Tindakan:
- Operasi dihentikan, pendinginan dengan cairan es IV.
- Lavas es nasogastrik.
- Secara simultan diberikan diuretik, oksigen 100%.
( b) Anasthesi lokal atau regional
Anasthesi lokal atau regional secara sementara memutus transmisi impuls saraf menuju dan dari lokasi khusus.
Luas anasthesi tergantung:
- Letak aplikasi
- Volume total anasthesi
- Konsentrasi dan kemampuan penetrasi obat
Penggunaan regional anasthesi:
 Kontraindikasi general anasthesi
 Klien mengalami reaksi yang merugikan dengan GA
 Pilihan klien
Komplikasi:
 Over dose
 Teknik pemberian yang salah
 Sensitisasi klien terhadap anasthesi
Tanda:
Stimulasi CNS diikuti depresi CNS dan cardio.
Gelisah, pembicaraan inkoheren, sakit kepala, mata kabur, rasa
metalik,mual,muntah, tremor, konvulsion dan peningkatan nadi, respirasi, tekanan darah.
Komplikasi lokal: Edema, keradangan, abses, nekrosis, ganggrene.

TEKNIK PEMBERIAN:

 ANASTHESI TOPIKAL
Pemberian secara langsung pada permukaan area yang dianasthesi.
Bentuk : salep atau spray.
Sering digunakan: prosedur diagnostik atau intubasi, laringoskopi, bronchoskopi, cystoskopi.
Masa kerja 1 menit, lama kerja 20 – 30 menit.

 LOKAL INFILTRASI
Injeksi obat anasthesi secara IC dan SC ke jaringan sekitar insisi, luka atau lesi.

 FIELD BLOCK
Injeksi secra bertahap sekeliling daerah yang dioperasi (hernioraphy, dental prosedur, bedah plastik).

 NERVE BLOCK
Injeksi obat anasthesi lokal ke dalam atau sekitar saraf atau saraf yang mempesarafi daerah yang dioperasi.
Block saraf memutus transmisi sensasi motor dan simpatis.
Tujuan: mencegah nyeri selama prosedur diagnostik, mengurangi nyeri dan meningkatkan sirkulasi pada penyakit vbaskuler.
Contoh: Lidocain ( Xylocain ), Bupivacion ( Marcain ), Epinephrine (Potensiasi).

SPINAL ANASTHESI ATAU INTRATECHAL
Dicapai dengan injeksi obat anasthesi ke dalam ruang sub arachnoid pada L2 –L3 atau L3 –L4.
Absorbsi ke serat saraf terjadi secara cepat dan menghasilkan analgesik dengan relaksasi.
Efektif untuk operasi abdomen dan panggul.

PENGKAJIAN

Di ruang penerimaan perawat sirkulasi:
 Memvalidasi identitas klien
 Memvalidasi inform concent
Chart Review
> Memberi informasi yang dibutuhkan untuk mengidentifikasi kebutuhan aktual
Read More

FRONTO ORBITA SINISTRA

Tidak ada komentar : di 11.40 Label: ASUHAN KEPERAWATAN
KONSEP DASAR
FRONTO ORBITA SINISTRA
1. Pengertian
Tumor Orbita merupakan benjolan atau pembengkakan abnormal yang ditemukan didaerah orbita.
FRONTO ORBITA SINISTRA
2. Epidemologi
Tumor secara umum dibedakan menjadi neoplasma dan non-neoplasma. Neoplasma dapat bersifat ganas atau jinak. Tumor ganas terjadi akibat berkembang biaknya sel jaringan sekitar infiltrat, sambil merusakkan. Neoplasma jinak tumbuh dengan batas tegas dan tidak menyusup, tidak merusak tetapi menekan jaringan disekitarnya dan biasanya tidak mengalami metastasis. Tumor orbita relatif jarang dijumpai. Pada proses pengambilan ruangan di orbitapenderita biasanya datang dengan keluhan seperti ada benjolan yang menyebabkan perubahan bentuk wajah, protopsis, nyeri peri okular, inflamasi, keluarnya air mata, massa tumor yang jelas nampak. Insiden tumor orbita bervariasi, tergantung pada metode pemeriksaan yang dipakai. Frekwensi relatif benigna dan maligna menurut handerson (1984); disebutkan sebagai berikut : karsinoma (primer metastasis dan pertumbuhan terus 21 %, kista 12 %, tumor vaskular 10 %, meningioma 9 %, malformasi vaskuler 5% dan tumor saraf tengkorak 4%, serta glioma optikus dan neurisistik 5%.
FRONTO ORBITA SINISTRA
3. Patofisiologi

4. Asuhan Keperawatan
a. Pengkajian
Pre Operasi Peri Operasi Pasca Operasi
S: Benjolan pada daerah sekitar mata/dahi, ada perasaan yang tidak nyaman akibat adanya benjolan, nyeri, takut. Riwayat trauma, riwayat tumor pada keluarga, riwayat penyakit yang pernah diderita, riwayat pembedahan, perasaan klien berhubungan dengan pembedahan. Haus. Riwayat alergi. lemas akibat puasa. Pada anak riwayat tumbuh kembang, imunisasi. Puasa, mandi. S : - S : Nyeri, susah bernafas, tubuh dingin
0 : Tampak benjolan pada daerah orbita, ukuran benjolan, jenis benjolan (keras, lunak, mobile/tidak ). Keadaan umum, kesadaran, keadaan kulit (pucat, cyanisis, icterus ), tekanan darah, Nadi dan suhu biasanya normal. Ukur BB dan TB. Status gizi. Kebersihan daerah operasi.
Data penunjang : Foto Thorax, CT scan, Lab DL. UL, FL, FH dan hasil tes antibiotika, informed concent.
0 : Terpasang alat perawatan,(infus, monitor, respirator ).Posisi tertelentang. Induksi dengan anastesi. Dilakukan eksisi. Suhu lingkungan 22 oC. Perdarahan. O : Lemah, terpasang infus, catatan tentang anestesi yang didapat, kesadaran menurun, luka bekas operasi, catatan perdarahan, peristaltik usus menurun, flatus (-).Hasil PA. Mual dan muntah, menangis pada anak-anak. Tubuh dingin, akral dingin, mukosa kering.
FRONTO ORBITA SINISTRA
b. Diagnose dan Perencanaan
PRE OPERASI
DX TUJUAN TINDAKAN Rasional
Kecemasan pada anak atau orang tua b.d kurangnya pengetahuan tentang kemungkinan penyakit dan prosedur tindakan operasi Tujuan :
Setelah 15 menit klien/keluarga dapat mengetahui penyakit serta prosedur tindakan yang akan dilakukan pada klin/anaknya. 1. Jelaskan tentang penyakit yang diderita klie/anaknya serta prosedur tindakan operasi yang akan dilakukan.

2. Berikan kesempatan menemani klien/anaknya sampai di ruang premedikasi.
FRONTO ORBITA SINISTRA


3. Yakinkan tentang jaminan mengenai tindakan yang akan dilakukan.
4. Berikan kesempatan kepada keluarga untuk bertanya.
5. Pastikan kelengkapan operasi klien (Status, hasil lab, Foto Radiologi, Ct Scan, Obat-obatan, alat-alat, informed concent
- Agar keluarga mengerti sehingga lebih paham tentang kondisi dan resiko tindakan operasi yang skan dilakukan
- Untuk meningkatkan orientasi dan meyakinkan bahwa operasi bukan sesuatu yang menakutkan.
- Agar kecemasan dapat tereduksi.
- Jawaban yang benar yang mampu menjawab keingintahuan klien merupakan sustu metode katarsis yang dapat mengurangi kecemasan klien
- Untuk menjamin keamanan fisik maupun psikologis petugas dan keluarga, yang memastikan segalaya telah siap.

Resiko defisit volume cairan b.d puasa sekunder persiapan operasi Setelah 30 menit tidak terjadi defisit cairan dengan kriteria :
- Turgor baik
- Cowong -
- Mukosa lembab. 1. Kolaborasi pemasangan infus

2. K/P pasang kateter
3. Observasi kelembaban mukosa - Untuk memenuhi kebutuhan cairan klien.
- Untuk mengetahui keseimbangan intake/output cairan
- Untuk mengetahui kecukupan cairan.
FRONTO ORBITA SINISTRA
INTRA OPERASI
DX TUJUAN TINDAKAN Rasional
Resiko terjadi ketidakefektifan pola nafas b.d peningakatan sekret dan penurunan reflek menelan sekunder pemakaian Anestesi Selama operasi tidak terjadi gangguan bersihan jalan nafas. 1. Bantu memberikan posisi stabil
2. Bantu menyiapkan alat intubasi.
3. Bantu memonitor status respirasi
4. Lakukan monitoring SaO2
5. Pantu tanda distress pernafasn setelah penyapihan ETT/respirator.
- Untuk melancarkan airway
- Intubasi dapat mencegah resiko sumbatan jalan nafas
- Untuk mengetahui tanda gg pola nafas
- Memantau keadekuatan DO2 dan VO2 sebagai indikator perfusi dan pemenuhan O2.
- Untuk mengetahui efek anastesi pada SSP.
Resiko terjadi cedera (hipotermi, bradikardi, b.d suhu lingkungan yang rendah sekunder rendahnya kadar lemak subcutan pada bayi, serta penekanan pada nervus X pada segmen posterior orbital. Selama operasi :
- Tidak terjadi hipotermi
- Tidak terjadi okuloreflek 1. Pasang diatermi sebagai alas meja operasi.
2. Perhatikan pemasangan ground diatermi.
3. Berikan selimut operasi yang lebih tebal terutama untuk bayi dan lansia.
4. Pantau nadi dan EKG selama operasi
- Untuk mencegah hipotermi dg memberikan hangat secara elektrik
- Untuk mencegah kombus atau elektrik injury
- Untuk mencegah kehilangan panas melalui evavorasi
- Penekanan pada bola mata dapat menimbulkan timbulnya okulo reflek yang merangsang nervus X sehingga dapat terjadi bradikardi .

FRONTO ORBITA SINISTRA
PASCA OPERASI
DX TUJUAN TINDAKAN Rasional
Kecemasan pada anak atau orang tua b.d kurangnya pengetahuan tentang hasil operasi. Tujuan :
Setelah 15 menit klien/keluarga dapat mengetahui hasil operasi. 1. Jelaskan tentang hasil operasi yang dilakukan, serta keadaan klien penyakit yang diderita klie/anaknya serta prosedur tindakan operasi yang akan dilakukan.
FRONTO ORBITA SINISTRA
2. Berikan kesempatan menemani klien/anaknya di ruang RR.
3. Jelaskan tentang tindak lanjut hasil Px jaringan
4. Berikan kesempatan kepada keluarga untuk bertanya. - Agar keluarga mengerti sehingga lebih paham tentang kondisi dan resiko dari hasil operasi yang telah dilakukan

- Untuk meningkatkan orientasi dan meyakinkan bahwa operasi bukan sesuatu yang menakutkan.
- Agar kecemasan dapat tereduksi.
- Jawaban yang benar yang mampu menjawab keingintahuan klien merupakan sustu metode katarsis yang dapat mengurangi kecemasan klien
Resiko defisit volume cairan b.d puasa sekunder persiapan operasi Setelah 30 menit tidak terjadi defisit cairan dengan kriteria :
- Turgor baik
- Cowong -
- Mukosa lembab. 1. Observasi cairan infus

FRONTO ORBITA SINISTRA
2. K/P pasang kateter
3.Observasi kelembaban mukosa
- Untuk memenuhi kebutuhan cairan klien.

- Untuk mengetahui keseimbangan intake/output cairan
- Untuk mengetahui kecukupan cairan.
Resiko terjadi hipotermi, b.d suhu lingkungan yang rendah sekunder rendahnya kadar lemak subcutan pada bayi Selama di RR
- Tidak terjadi hipotermi
1. Berikan selimut operasi yang lebih tebal terutama untuk bayi dan lansia.

- Untuk mencegah kehilangan panas melalui evavorasi
Resiko terjadi ketidakefektifan pola nafas b.d peningakatan sekret dan penurunan reflek menelan sekunder pemakaian Anestesi Selama operasi tidak terjadi gangguan bersihan jalan nafas. 1. Bantu memberikan posisi stabil

2.Bantu menyiapkan alat intubasi.
3.Bantu memonitor status respirasi
6. Lakukan monitoring SaO2

- Untuk melancarkan airway
- Intubasi dapat mencegah resiko sumbatan jalan nafas
- Untuk mengetahui tanda gg pola nafas
- Memantau keadekuatan DO2 dan VO2 sebagai indikator perfusi dan pemenuhan O2.

FRONTO ORBITA SINISTRA

DAFTAR PUSTAKA


Tabrani, (1998), Agenda Gawat Darurat Jilid 3 Penerbit Alumni Bandung

Guyton, (1991), Fisiologi Manusia, EGC, Jakarta

Barbara Engram, (1995), Perawatan Medikal Bedah, EGC, Jakarta

Dongoes M.E, Marry F, Alice G (1997) Nursing Care Plans, F.A davis Company, Philadelphia.

Carpennito L.J (1997), Nursing Diagnosis, JB. Lippincot, New York

Naught Callender (1990), Illustrated Physiology, Churchill Livingstone, New York.

Syamsuhidayat, Wim de Young, (1998 ), Buku Ajar Ilmu Bedah, Jakarta


sekian sharing FRONTO ORBITA SINISTRA
harap maklum bila masih banyak kekurangan

FRONTO ORBITA SINISTRA
Read More

FISTEL UMBILIKALIS

Tidak ada komentar : di 11.38 Label: ASUHAN KEPERAWATAN
FISTEL UMBILIKALIS

PENGERTIAN
Umbilikalis fistel atau fistel umbilikalis atau fistula vitellina adalah suatu keadaan kongenital dimana duktus vitellinus tetap dipertahankan seluruhnya sehingga membentuk hubungan langsung antara pusat dengan seluruh pencernaan. Dalam hal ini dapat dikeluarkan tinja melalui pusat.
FISTEL UMBILIKALIS
Gambar anatominya:

Keterangan gambar :
Sisa-sisa duktus vitellinus; (A). Divertikulum Meckeli bergabung dengan tali fibrosa (ligamentum vitellina). (B). Kista vitellina berhubungan dengan pusat dan dinding ileum melalui ligamentum vitellina. (C). Fistula Vitellina yang menghubungkan rongga ileum dengan pusat.
FISTEL UMBILIKALIS
PENATALAKSANAAN
1. Tindakan Medis : Pembedahan
2. Tindakan Keperawatan :
Preoperasi;
Diagnosa keperawatan
a) Cemas sehubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang proses berpikir, pembedahan, ancaman gangguan fungsi tubuh, nyeri dan rasa tidak nyaman; dan kemungkinan tumor ganas.
FISTEL UMBILIKALIS
b) Gangguan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh sehubungan dengan intake yang tidak adekuat dan gangguan pencernaan dan absorsi makanan dan cairan yang harus diberikan untuk proses penyakit.

c) Potensial infeksi sehubungan dengan pembedahan di dalam usus dan berkurangnya resistensi karena malnutrisi dan atau proses penyakit.
FISTEL UMBILIKALIS
Intervensi keperawatan
• Eksplorasi pasien untuk mengungkapkan rasa takut (kuatir).
• Libatkan keluarga pasien dengan memperhatikan keadaan sosial ekonomi atau masalah di dalam keluarga.
• Jelaskan kepada keluarga dan pasien prosedur-prosedur yang akan digunakan saat postoperasi; napas dalam, batuk teratur, ambulasi awal.
• Kaji tanda-tanda kemungkinan dehidrasi pada pasien.
• Beri cairan ekstra untuk hidrasi yang optimal, makanan tinggi kalori, rendah sisa termasuk tinggi protein dan vitamin.
• Transfusi darah diberikan untuk mencegah anemia dan menunjang kondisi umum pasien.
• Persiapan operasi dengan puasakan pasien 26 - 36 jam sebelum operasi.

Selama masa preoperasi, pasien diberikan obat oral antimikroba untuk merusak organisme diusus (sterilisasi eliminasi / b.a.b.)
Bila dengan pemberian antibiotika oral, pasien mengalmi diare, pertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit.

Postoperasi;
Diagnosa keperawatan
1. Potensial infeksi sehubungan dengan tindakan pembedahan dan proses penyembuhan.
2. Gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan sehubungan dengan bedah intestinal, berkurangnya kerja usus, dan kehilangan cairan dan elektrolit karena pengeringan intestinal.
3. Pola napas yang tidak efektif sehubungan dengan nyeri insisi, distensi abdomen dan kurangnya mobilisasi.
4. Gangguan pola eliminasi (sistem perkemihan ) sehubungan dengan bedah perineal (mengikuti abdominoperineal)
5. Gangguan pola eliminasi (sistem pencernaan /b.a.b.) sehubungan dengan peristaltik berkurang, mobilisasi yang kurang, dan ileostomi.
6. Kurangnya pengetahuan tentang nutrisi, membagi / mengatur aktifitas dan pola eliminasi sendiri.
FISTEL UMBILIKALIS
Intervensi Keperawatan
1. Kontrol balutan dan area luka apakah terjadi tanda-tanda awal perdarahan. Inspeksi insisi dan ganti balutan bila terlihat kemerahan, edema dan pengeringan
2. Monitor suhu pasien secara teratur untuk bebrapa hari. Evaluasi suhu yang tiba-tiba dapat diindikasikan terjadinya infeksi.
3. Hindari kontaminasi area peritoneum dari sekret intestinal.
4. Makanan peoral selama beberapa hari pertama tidak diberikan; cairan intravena digunakan untuk membantu pasien. Bila cairan dapat ditolerir pasien (NGT dapat dilepas) dan nutrisi dapat diberikan berupa makanan lunak. Hindari makanan yang mengandung gas dan cairan yang mengandung karbonat.
5. Catat intake dan output termasuk drainage intestinal. Ispeksi kerja peristaltik usus dengan stetoskop.
6. Lakukan 5 -10 kali napas setiap jam sebagai ventilasi penuh alveoli pasien dan batuk teratur beberapa kali untuk memancing mukus keluar.
7. Ganti posisi pasien setiap jam untuk mencegah tekanan pada diafragma.
8. Lakukan ambulasi malam dan pagi hari. Kolaborasi dengan fisioterapi.
9. Hindari kontaminasi pada daerah perineal, terutama bila ada pemasangan kateter.
10. Catat bila terjadi flatus, sebagai indikasi peristaltik.
11. Lakukan ambulasi awal untuk mengaktifkan peristaltik.
12. Ajarkan klien dan keluarga pentingnya nutrisi; menghindari makanan mengandung gas dan makanan kasar; cairan yang adekuat.
13. Ajarkan pasien berdiri dan berjalan. Hindari aktifitas fisik yang berat.
14. Ajarkan perawatan mandiri ileostmi pasien.
FISTEL UMBILIKALIS
DAFTAR KEPUSTAKAAN

Salder, TW.1988. Embriologi Kedokteran, Edisi ke V. Alih bahasa : Dr. Irwan Susanto. EGC Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta.

Watson, JE. dan Joan R. Royle, 1987. Medical Surgical Nursing and Related Physiology. Clays Ltd. St. Ives plc, England.

sekian sharing FISTEL UMBILIKALIS
kalo masih banyak kekurangan harap dimaklumi
FISTEL UMBILIKALIS
Read More

PYELONEPROLITHOTOMI DEXTRA

Tidak ada komentar : di 11.36 Label: ASUHAN KEPERAWATAN
LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PERIOPERATIF PADA KLIEN DENGAN PYELONEPROLITHOTOMI DEXTRA

1. Pengertian
Adanya batu (kalkuli) pada saluran perkemihan dalam ginjal, ureter, atau kandung kemih yang terdiri dari; yang membentuk kristal; kalsium, oksalat, fosfat, kalsium urat, asam urat dan magnesium.
Batu dapat menyebabkan obstruksi, infeksi atau oedema pada saluran perkemihan, kira-kira 75% dari semua batu yang terbentuk terdiri atas; kalsium
Faktor resiko batu ginjal meliputi; stasis perkemihan, infeksi saluran perkemihan, hiperparatiroidismem penyakit infeksi usus, gout, intake kalsium dan vit D berlebih, immobilitas lama dan dehidrasi.
PYELONEPROLITHOTOMI DEXTRA
2. Faktor –faktor yang mempengaruhi pembentukan batu;
a. Faktor Endogen
Faktor genetik, familial pada hypersistinuria, hiperkalsiuria dan hiperoksalouria
b. Faktor Eksogen
Faktor lingkungan, pekerjaan, makanan, infeksi dan kejenuhan mineral dalam air minum.
PYELONEPROLITHOTOMI DEXTRA
3. Faktor lain;
a. Infeksi
Infeksi saluran kencing dapat menyebabkan nekrosis jaringan ginjal dan akan menjadi inti pembentukan batu saluran kencing . Infeksi bakteri akan memecah ureum dan membentuk amonium yang akan mengubah pH urine menjadi alkali.
b. Stasis dan Obstruksi urine
Adanya obstruksi dan stasis urine akan mempermudah infeksi saluran kencing.
c. Jenis kelamin
Pria lebih banyak dar ipada wanita
d. Ras
Batu saluran kencing lebih banyak ditemukan di Afrika dan Asia.
e. Keturunan
Annggota keluarga batu saluran kencing lebih banyak mempunyai kesempatan.
f. Air minum
Memperbanyak diuresis dengan cara banyak minum air akan mengurangi kemungkinan terbentuknya batu, sedangkan kurang minum menyebabkan kadar semua substansi dalam urine meningkat
g. Pekerjaan
Pekerja keras yang banyak bergerak mengurangi kemungkinan terbentuknya batu daripada pekerja yang lebih banyak duduk.
h. Suhu
Tempat yang bersuhu panas menyebabkan banyak mengeluarkan keringat
i. Makanan
Masyarakat yang banyak mengkonsumsi protein hewani angka morbiditas BSk berkurang .Penduduk yang vegetarian yang kurang makan putih telur lebih sering menderita Batu Saluran Kencing (buli-buli dan Urethra)

PYELONEPROLITHOTOMI DEXTRA
4. Patogenesis
Sebagian besar batu saluran kencing adalah idiopatik, bersifat simptomatik ataupun asimptomatik.

5. Teori terbentuknya batu
a. Teori Intimatriks
Terbentuknya Batu Saluran Kencing memerlukan adanya substansi organik sebagai inti. Substansi ini terdiri dari mukopolisakarida dan mukoproptein A yang mempermudah kristalisasi dan agregasi substansi pembentukan batu.
b. Teori Supersaturasi
Terjadi kejenuhan substansi pembentuk batu dalam urine seperti; sistin, santin, asam urat, kalsium oksalat akan mempermudah terbentuknya batu.
c. Teori Presipitasi-Kristaliasi
Perubahan pH urine akan mempengaruhi solubilitas substasi dalam urine. Urine yang bersifat asam akan mengendap sistin, santin, asam dan garam urat, urine alkali akan mengendap garam-garam fosfat..
d. Teori Berkurangnya faktor penghambat
Berkurangnya faktor penghambat seperti peptid fosfat, pirofosfat polifosfat, sitrat magnesium, asam mukopolisakarida akan mempermudah terbentuknya Batu Saluran Kencing.
PYELONEPROLITHOTOMI DEXTRA
6. Pemeriksaan Diagnostik.
a. Urinalisa; warna mungkin kuning ,coklat gelap,berdarah,secara umum menunjukan Sel Darah Merah, Sel Darah Putih, kristal (sistin, asam urat, kalsium oksalat), ph asam (meningkatkan sistin dan batu asam urat) alkali (meningkatkan magnesium, fosfat amonium, atau batu kalsium fosfat), urine 24 jam :kreatinin, asam urat kalsium, fosfat, oksalat, atau sistin mungkin meningkat), kultur urine menunjukan Infeksi Saluran Kencing, BUN/kreatinin serum dan urine; abnormal (tinggi pada serum/rendah pada urine) sekunder terhadap tingginya batu obstruktif pada ginjal menyebabkan iskemia/nekrosis.
b. Darah lengkap: Hb, Ht, abnormal bila pasien dehidrasi berat atau polisitemia.
c. Hormon Paratyroid mungkin meningkat bila ada gagal ginjal (PTH. Merangsang reabsobsi kalsiumm dari tulang, meningkatkan sirkulasi serum dan kalsium urine.
d. Foto Rontgen; menunjukan adanya kalkuli atau perubahan anatomik pada area ginjal dan sepanjang ureter.
e. IVP.: memberukan konfirmasi cepat urolithiasis seperti penyebab nyeri, abdominal atau panggul.Menunjukan abnormalitas pada struktur anatomik (distensi ureter).
f. Sistoureterokopi;visualiasi kandung kemih dan ureter dapat menunjukan batu atau efek obstruksi.
g. USG ginjal: untuk menentukan perubahan obstruksi dan lokasi batu.
PYELONEPROLITHOTOMI DEXTRA
7. Penatalaksanaan;
a. Menghilangkan obstruksi
b. Mengobati infeksi
c. Menghilangkan rasa nyeri.
d. Mencegah terjadinya gagal ginjal dan mengurangi kemungkinan terjadinya rekurensi.
8. Komplikasi:
a. Infeksi
b. Obstruksi
c. Hidronephrosis.
PYELONEPROLITHOTOMI DEXTRA
1. Pendahuluan
Trauma bedah yang direncanakan, menimbulkan rentang respon fisiologis dan psikologis pada klien, tergantung pada individu dan pengalaman masa lalu yang unik, pola koping, kekuatan dan keterbatasan. Kebanyakan klien dan keluarganya memandang setiap tindakan bedah merupakan peristiwa besar dan mereka bereaksi dengan takut dan ansietas pada tingkat tertentu.
PYELONEPROLITHOTOMI DEXTRA
2. Pengertian Pyeloneprolithotomi
Pyeloneprolithotomi adalah tindakan pembedahan untuk mengeluarkan batu dari ginjal dan pyelum.

3. Pengertian Keperawatan Perioperatif
Keperawatan Perioperatif adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan tanggung jawab keperawatan yang berhubungan dengan fase-fase preoperatif, intraoperatif, pemulihan pascaanestesi dan pascabedah.
Sepanjang periode perioperatif, perawat menerapkan proses keperawatan untuk mengidentifikasi fungsi positip, perubahan fungsi, dan potensial perubahan fungsi pada klien. Adapun tanggung jawab keperawatan untuk masing-masing fase berfokus pada masalah kesehatan spesifik aktual atau resiko.
PYELONEPROLITHOTOMI DEXTRA
4. Fokus Asuhan Keperawatan Pada periode Perioperatif
1. Fase Preoperatif
a. Pengkajian Preoperatif
b. Penyuluhan Preoperatif
c. Persiapan untuk pindah ke ruang operasi
d. Dukungan orang terdekat
2. Fase Intraoperatif
a. Keamanan lingkungan
b. Kontrol Asepsis
c. Pemantauan fisiologis
d. Dukungan psikologis (prainduksi)
e. Pemindahan ke ruang pemulihan pascaanestesi
3. Fase Pemulihan Pascaanestesi
a. Pemantauan fisiologis (jantung, pernafasan, sirkulasi, ginjal dan neurologis )
b. Dukungan psikologis
c. Keamanan lingkungan
d. Tindakan kenyamanan
e. Stabilitas untuk pindah ke unit atau bangsal
4. Fase Pascaoperatif
a. Pemantauan fisiologis
b. Dukungan psikologis Tindakan kenyamanan
c. Dukungan orang terdekat
d. Keseimbangan fisiologis (nutrisi, cairan dan eliminasi)
e. Mobilisasi
f. Penyembuhan luka
g. Penyuluhan pulang.
PYELONEPROLITHOTOMI DEXTRA
Pengkajian Preoperatif Pyelonephrolithotomi
Meliputi : data umum, data dasar dan data fokus, yaitu ;
Pemahaman klien tentang kejadian
- Ahli bedah bertanggung jawab, untuk menjelaskan sifat operasi, semua pilihan alternatif, hasil yang diperkirakan dan kemungkinan komplikasi yang dapat terjadi. Ahli bedah mendapatkan dua consent (ijin) satu untuk prosedur bedah dan satu untuk anestesi. Perawat bertanggung jawab untuk menentukan pemahaman klien tentang informasi, lalu memberitahu ahli bedah apakah diperlukan informasi lebih banyak (informed consent).
PYELONEPROLITHOTOMI DEXTRA
Kondisi akut dan kronis :
- Untuk mengkompensasi pengaruh trauma bedah dan anestesi, tubuh manusia membutuhkan fungsi pernafasan, sirkulasi, jantung, ginjal, hepar dan hematopoetik yang optimal. Setiap kondisi yang mengganggu fungsi sistem ini (misalnya: DM, gagal jantung kongestif, PPOM. Anemia, sirosuis, gagal ginjal) dapat mempengaruhi pemulihan. Disamping itu faktor lain, misalnya usia lanjut, kegemukan dan penyalahgunaan obat / alkohol membuat klien lebih rentan terhadap komplikasi.

Pengalaman bedah sebelumnya
- Perawat mengajukan pertanyaan spesifik pada klien tentang pengalaman pembedahan masa lalu. Informasi yang didapatkandigunakan untuk meningkatkan kenyamanan (fisik dan psikologis) untuk mencegah komplikasi serius.

Status Nutrisi
- Status nutrisi klien praoperatif secara langsung mempengaruhi responnya pada trauma pembedahan dan anestesi. Setelah terjadi luka besar, baik karena trauma atau bedah, tubuh harus membentuk dan memperbaiki jaringan serta melindungi diri dari infeksi. Untuk membantu proses ini, klien harus meningkatkan masukan protein dan karbohidrat dengan cukup untuk mencegah keseimbangan nitrogen negatif, hipoalbuminemia, dan penurunan berat badan. Status nutrisi merupakan akibat masukan tidak adekuat, mempengaruhi metabolik atau meningkatkan kebutuhan metabolik.

Status cairan dan elektrolit
- Klien dengan gangguan keseimbangan cairan dan elektolit cenderung mengalami shock, hipotensi, hipoksia, dan disritmia, baik pada intraoperatif dan pascaoperatif. Fluktuasi valume cairan merupakan akibat dari penurunan masukan cairan atau kehilangan cairan abnormal.

Status emosi.
- Respon klien, keluarga dan orang terdekat pada tindakan pembedahan yang direncanakan tergantung pada pengalaman masa lalu, strategi koping, signifikan pembedahan dan sistem pendukung.
- Kebanyakan klien dengan pembedahan mengalami ancietas dan ketakutan yang disebabkan penatalaksanaan tindakan operasi, nyeri, dan immobilitas.
PYELONEPROLITHOTOMI DEXTRA

Diagnosa Keperawatan Preoperatif (persiapan untuk pindah ke ruang operasi)
Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang regimen penatalaksanaan tindakan operasi.
PYELONEPROLITHOTOMI DEXTRA
Rencana Keperawatan
Diagnosa Ansietas/takut berhubungan dengan situasi/lingkungan ruang premedikasi dan operasi
Tanda- tanda :
Subyektif :-Klien mengatakan semalam tidak bisa tidur/sering terbangun membayangkan operasi.
Klien menanyakan berapa lama saya dioperasi.
Klien bertanya dimana ruang operasinya.
Obyektif :-Ekspresi wajah tegang, nadi meningkat, tekanan darah meningkat/turun, keluar keringat dingin, jantung berdebar-debar.
Kreteria hasil :
Ekspresi Wajah rileks.
Berpartisipasi pada prosedur keperawatan.
Mampu mengungkapkan perasaannya.
Menyatakan penurunan ansietas/takut.
PYELONEPROLITHOTOMI DEXTRA
INTERVENSI RASIONAL
Mandiri :
1. Kaji tingkat kecemasan klien

2. Berikan penentraman hati dan tindakan kenyamanan:
a. Temani klien selama di ruang premedikasi
b. Berikan kesempatan pada klien mengungkapkan perasaannya
c. Kenalkan kembali pada kenyataan yang ada
d. Kurangi stimulus sensori
e. Ajak klien untuk mengadakan pendekatan spritual sesuai dengan kemampuan dan situasi
f. Perjelas informasi dokter tentang rencana tindakan operasi dan kemungkinan-kemungkinannya.
g. Orientasikan klien pada ruang operasi dan peralatannya.
h. Minimalkan keributan/lalu lalang
i. Tinggal dengan pasien selama induksi
j. Tunjukan perhatian /sikap mendukung
k. Tetap matikan lampu sampai pasien tertidur
l. Lanjutkan pemantauan psikologis
m. Catat respon yang tak terduga
n. Lepaskan gigi palsu/kaca mata/alat bantu dengar di ruang operasi.
o. Kolaborasi, pemberian anti ansietas
Tingkat kecemasan sebagai dasar perencanaan perawatan
Mengurangi rasa takut

Mengurangi kecemasan

Eksplorasi perasaan dapat mengurangi ketegangan
Suport untuk koping yang positip

Mengurangi ketegangan
Menenangkan jiwa


Meyakinkan klien sekaligus menerima secara realistis

Mengurangi ketakutan/kecemasan.

Mengurangi kecemasan
Mengurangi kecemasan.

Menjaga keamanan

Memberi kepercayaan kepada klien.

Memberi ketenangan
Antisipasi terhadap perubahan psikologis
Menjaga keamanan

Mengurangi kecemasan
PYELONEPROLITHOTOMI DEXTRA
Fase Intra Operatif
Pengelolaan Keamanan:
a. Jaminan penghitungan kasa, jarum, instrumen dan alat lain, cocok untuk pemakaian.
b. Mengatur posisi pasien
- Posisi fungsional
- Membuka daerah untuk operasi
- Mempertahankan posisi selama prosedur.

c. Memasang alat grounding
d. Menyiapkan bantuan fisik

Pemantauan fisiologis
a. Mengkalkulasi pengaruh terhadap pasien akibat kekurangan cairan
b. Membandingkan data normal dan abnormal dari cardiopulmonal.
c. Melaporkan perubahan-perubahan tanda-tanda vital (suhu, nadi, tekanan darah dan RR.)
PYELONEPROLITHOTOMI DEXTRA
Pemantauan psikologi sebelum induksi dan bila pasien sadar
a. Menyiapkan bantuan emosional
b. Melanjutkan observasi status emosional
c. Mengkomunikasikan status emosional pasien kepada anggota tim.
PYELONEPROLITHOTOMI DEXTRA
Manajemen Keperawatan
a. Menyelamatkan keselamatan fisik pasien.
b. Mempertahankan aseptis pada lingkungan yang terkendali
c. Mengelola dengan efektif sumber daya manusia.
PYELONEPROLITHOTOMI DEXTRA
Anggota Tim Fase intraoperatif
a. Tim bedah utama steril
- Ahli bedah utama
- Asisten ahli bedah
- Perawat instrumentator.

b. Tim anestesi:
- Ahli anestesi atau pelaksana anestesi
- Circulating nurse
- Lain-lain (tehnisi, ahli aptologi dll.)
PYELONEPROLITHOTOMI DEXTRA
Tugas perawat instrumentator
a. Persiapan pengadaan bahan-bahan dan alat steril yang diperlukan untuk operasi.
b. Membantu ahli bedah dan asisten bedah waktu melakukan prosedur
c. Pendidikan bagi staf baru yang berkualifikasi bedah
d. Membantu jumlah kebutuhan jarum, pisau bedah, kasa atau instrumen yang diperlukan untuk prosedur, menurut jumlah yang biasa digunakan. Untuk pelaksanaan kegiatan yang efektif perawat instrumen harus memiliki pengetahuan tehnik aseptik yang baik, ketrampilan tangan dan ketangkasan, stamina fisik, tahan terhadap berbagai desakan, sangat menghayati kecermatan dan memperhitungkan prilaku yang menuntaskan asuhan pasien yang optimal.

Tugas Perawat Circulating
Perawat keliling memegang peranan dalam keseluruhan pengelolaan ruang operasi, perawat ini dipercaya untuk koordinasi semua aktivitas di dalam ruangan dan harus mengelola asuhan keperawatan yang diperluikan pasien.
PYELONEPROLITHOTOMI DEXTRA
Periode Pemulihan Pasca Anestesi
Trauma bedah dan anestesi mengganggu semua fungsi utama sistem tubuh, tetapi kebanyakan klien mempunyai kemampuan kompensasi untuk memulihkan homeostasis. Namun klien tertentu berisiko lebih tinggi untuk mengalami kompensasi tak efektif terhadap efek merugikan dari pembedahan dan anestesi pada jantung, sirkulasi, pernafasan dan fungsi lain.

Secara Umum Diagnosa Keperawatan yang muncul pada fase /periode pemulihan pasca anrestesi adalah :
a. Resiko terhadap aspirasi yang berhubungan dengan samnolen dan peningkatan sekresi sekunder terhadap intubasi.
b. Ansietas yang berhubungan dengan nyeri sekunder terhadap trauma pada jaringan dan syaraf.
c. Resiko terhadap cedera yang berhubungan dengan samnolen sekunder terhadap anestesia
d. Resiko terhadap hipotermia yang berhubungan dengan pemaparan pada suhu ruang operasi yang dingin.

Kriteria umum syarat pasien dipindahkan dari ruang pemulihan pasca anestesi ke unit perawatan adalah sbb. :
a. Kemampuan memutar kepala
b. Ekstubasi dengan jalan nafas bersih.
c. Sadar, mudah terbangun.
d. Tanda-tanda vital stabil
e. Balutan kering dan utuh
f. Haluaran urine sedikitnya 30 ml/jam.
g. Drain, selang , jalur intravena paten dan berfungsi.
h. Persetujuan ahli anestesi untuk pindah ke ruangan.

sekian sharing ASUHAN KEPERAWATAN PERIOPERATIF PADA KLIEN DENGAN PYELONEPROLITHOTOMI DEXTRA
harap maklum bila banyak kekurangan
PYELONEPROLITHOTOMI DEXTRA
Read More

LAPORAN PENDAHULUAN LAPARATOMI

Tidak ada komentar : di 11.35 Label: ASUHAN KEPERAWATAN
LAPORAN PENDAHULUAN
LAPARATOMI


Pengertian
Pembedahan perut sampai dengan membuka selaput perut .
Ada 4 cara, yaitu;
1. Midline incision
2. Paramedian, yaitu ; sedikit ke tepi dari garis tengah ( 2,5 cm), panjang (12,5 cm).
3. Transverse upper abdomen incision, yaitu ; insisi di bagian atas, misalnya pembedahan colesistotomy dan splenektomy.
4. Transverse lower abdomen incision, yaitu; insisi melintang di bagian bawah 4 cm di atas anterior spinal iliaka, misalnya; pada operasi appendictomy.
LAPORAN PENDAHULUAN LAPARATOMI

Indikasi
1. Trauma abdomen (tumpul atau tajam)
2. Peritonitis
3. Perdarahan saluran pencernaan.
4. Sumbatan pada usus halus dan usus besar.
5. Masa pada abdomen ( Tumor, cyste dll).
LAPORAN PENDAHULUAN LAPARATOMI
PERAWATAN PRE OPERATIF
PENGKAJIAN
Point penting dalam riwayat keperawatan preoperative :
• Umur
• Alergi terhadap obat, makanan
• Pengalaman pembedahan
• Pengalaman anestesi
• Tembakau, alcohol, obat-obatan
• Lingkungan
• Kemampuan self care
• Support system
LAPORAN PENDAHULUAN LAPARATOMI
PEMERIKSAAN FISIK

• Pengkajian dasar preop dilakukan untuk :
• Menentukan data dasar
• Masalah pengobatan yang tersembunyi
• Potensial komplikasi berhubungan dengan anestesi
• Potensial komplikasi post op.

Fokus : Riwayat dan sistem tubuh yang mempengaruhi prosedur pembedahan.

System kardiovaskuler
Untuk menentukan kekuatan jantung dan kemampuan untuk mentoleransi pembedahan dan anestesi.
Perubahan jantung 39 % kematian perioperatif.

Sistem pernapasan
Lansia, smoker, PPOM resiko atelektasis, kolap jaringan paru.
Mencegah pertukaran oksigen/CO2
Intoleransi karena perubahan dalam dada dan paru.
Regiditas cavum thoraks dan menurunnya ekspansi paru efisiensi ekskresi paru terhadap anestesi menurun.

Renal system
Abnormal renal fungsi menurunkan rata ekskresi obat dan anestesi
Skopolamin, morphin konfusi disorientasi

Neuorologi system :
Kemampuan ambulasi, dan reflek, serta aktivitas lainya.

Muskulussceletal
Deformitas mempengaruhi posisi intra dan post-operasi
Artritis menerima posisi nyeri post-operasi oleh karena immobilisasi
Kekuatan, tonus otot.

Status Nutrisi
Malnutrisi, obesitas resiko tinggi pembedahan
Vit. C , vit.B diperlukan untuk penyembuhan luka dan pembentukan fibrin.
Obesitas wondhiling menurun oleh karena jaringan lemak tinggi

Psikososial asesment
Tujuan : menentukan kemampuan coping
Informasi
Support
LAPORAN PENDAHULUAN LAPARATOMI
Laboratorium
Analisis:
1. Pengetahuan kurang sehubungan dengan pengalaman pre-op
2. Kecemasan sehubungan dengan pengalaman pre-op

LAPORAN PENDAHULUAN LAPARATOMI
Pengetahuan kurang ( knowledge defisite )
Tujuan : Klien mengatakan dan mematuhi prosedur pre-op
Mendemostrasikan teknik untuk mencegah komplikasi post-op

Intervensi
Fokus : Edukasi pre-operasi
Informasi : Informed consent, pembatasan diit, pre-operatip preparation, post-op exersice.

Informed Consent :
- alasan pembedahan
- pilhan dan resikonya
- resiko pembedahan
- resiko anestesi

Pembatasan diit NPO (nothing per oral ) 6 – 8 jam sebelum pembedahan GI (gastro intestinal ) preparasi :
- mencegah perlukaan colon
- melihat jelas area
- mengurangi bacteri intestinal

Skin preparasi
Tube, drain, Intra Venous line
Post – op exercise :
- diaphragmatic breating
- incestive spirometri
- cougling and spinting the surgical wound
- turning and leg exercise
LAPORAN PENDAHULUAN LAPARATOMI
Kecemasan :
Tujuan : kecemasan klien menurun , menunjukkan relaksasi saat istirahat
Intervensi :
- preoperatip teaching
- comunikatip
- rest.

INTERVENSI KLIEN INTRA OPERATIF
LAPORAN PENDAHULUAN LAPARATOMI
Anggota tim pembedahan
Tim pembedahan terdiri dari :
• Ahli bedah
• Tim pembedahan dipimpin oleh ahli bedah senior atau ahli bedah yang sudah melakukan operasi.
• Asisten pembedahan (1orang atau lebih) asisten bius dokter, risiden, atau perawat, di bawah petunjuk ahli bedah. Asisten memegang retractor dan suction untuk melihat letak operasi.
• Anaesthesologist atau perawat anaesthesi.
• Perawat anesthei memberikan obat-obat anesthesia dan obat-obat lain untuk mempertahankan status fisik klien selama pembedahan.
• Circulating Nurse
• Peran vital sebelum, selama dan sesudah pembedahan.
Tugas :
Set up ruangan operasi
Menjaga kebutuhan alat
Check up keamanan dan fungsi semua peralatan sebelum pembedahan
Posisi klien dan kebersihan daerah operasi sebelum drapping.
Memenuhi kebutuhan klien, memberi dukungan mental, orientasi klien.

Selama pembedahan :
- Mengkoordinasikan aktivitas
- Mengimplementasikan NCP
- Membenatu anesthetic
- Mendokumentasikan secara lengkap drain, kateter, dll.

• Surgical technologist atau Nurse scrub; bertanggung jawab menyiapkan dan mengendalikan peralatan steril dan instrumen, kepada ahli bedah/asisten. Pengetahuan anatomi fisiologi dan prosedur pembedahan memudahkan antisipasi instrumen apa yang dibutuhkan.

Penyiapan kamar dan team pembedahan.
Keamanan klien diatur dengan adanya ikat klien dan pengunci meja operasi. Dua factor penting yang berhubungan dengan keamanan kamar pembedahan : lay out kamar operasi dan pencegahan infeksi.
1). Lay Out pembedahan.
Ruang harus terletak diluar gedung RS dan bersebelahan dengan RR dan pelayanan pendukung (bank darah, bagian pathologi dan radiology, dan bagian logistik).
Alur lalu lintas yang menyebabkan kontaminasi dan ada pemisahan antara hal yang bersih dan terkontaminasi design (protektif, bersih, steril dan kotor).
Besar ruangan tergantung pada ukuran dan kemampuan rumah sakit.
Umumnya :
• Kamar terima
• Ruang untuk peralatan bersih dan kotor.
• Ruang linen bersih.
• Ruang ganti
• Ruang umum untuk pembersihan dan sterilisasi alat.
• Scrub area.
Ruang operasi terdiri dari :
• Stretcher atau meja operasi.
• Lampu operasi.
• Anesthesia station.
• Meja dan standar instrumen.
• Peralatan suction.
• System komunikasi.
LAPORAN PENDAHULUAN LAPARATOMI
2). Kebersihan dan Kesehatan Team Pembedahan.
Sumber utama kontaminasi bakteri team pembedahan yang hygiene dan kesehatan ( kulit, rambut, saluran pernafasan).
LAPORAN PENDAHULUAN LAPARATOMI
Pencegahan kontaminasi :
• Cuci tangan.
• Handscoen.
• Mandi.
• Perhiasan (-) cincin, jam tangan, gelang.

3). Pakaian bedah.
Terdiri : Kap, Masker, gaun, Tutup sepatu, baju OK.
Tujuan: Menurunkan kontaminasi.

4). Surgical Scrub.
Cuci tangan pembedahan dilakukan oleh :
• Ahli Bedah
• Semua asisten
• Scrub nurse.
sebelum menggunakan sarung tangan dan gaun steril.

Alat-alat:
• Sikat cucin tangan reuable / disposible.
• Anti microbial : betadine.
• Pembersih / pemotong kuku.
Waktu : 5 – 10 menit dikeringkan dengan handuk steril.
LAPORAN PENDAHULUAN LAPARATOMI
Anasthesia.

Anasthesia (Bahasa Yunani) Negatif Sensation.
Anasthesia menyebabkan keadaan kehilangan rasa secara partial atau total, dengan atau tanpa disertai kehilangan kesadaran.
Tujuan: Memblok transmisi impuls syaraf, menekan refleks, meningkatkan relaksasi otot.
Pemilihan anesthesia oleh anesthesiologist berdasarkan konsultasi dengan ahli bedah dan factor klien.

Type anasthesia:
Perawat perlu mengenal ciri farmakologic terhadap obat anesthesia yang digunakan dan efek terhadap klien selama dan sesudah pembedahan.
LAPORAN PENDAHULUAN LAPARATOMI
1. Anasthesia Umum.
Adalah keadaan kehilangan kesadaran yang reversible karena inhibisi impulse saraf otak.
Misal : bedah kepala, leher. Klien yang tidak kooperatif.
LAPORAN PENDAHULUAN LAPARATOMI
Stadium Anesthesia.
- Stadium I : Relaksasi
Mulai klien sadar dan kehilangan kesadaran secara bertahab.
- Stadium II : Excitement.
Mulai kehilangan kesadaran secara total sampai dengan pernafasan yang iregulair dan pergerakan anggota badan tidak teratur.
- Stadium III : Ansethesi pembedahan..
Ditandai dengan relaksasi rahang, respirasi teratur, penurunan pendengaran dan sensasi nyeri.
- Stadium IV : Bahaya.
Apnoe, Cardiapolmunarry arrest, dan kematian.

Metode Pemberian
Inhalasi , IV injection. Instilasi rectal

Inhalasi
Metode yang paling dapat dikontrol karena intak dan eliminasi secara primer oleh paru.
Obat anesthesia inhalasi yang diberikan :
Gas: Nitrous Axida ( N20).
Paling sering digunakan gas yang tidak berwarna, tidak berbau. Non iritasi dengan masa induksi dan pemulihan yang cepat.
Jenis yang biasa dipakai;
a. Folatile:
b. Halotan :
c. Ethrane.
d. Penthrane.
e. Forane.

Anesthesi Injeksi IV.
Memberikan perasaan senang., cepat dan pelepasan obat secara pelan. Jenis opbat yamng biasa dipakai;
Barbiturat.
Narcotik:
Inovar
Ketamine
Neuromusculer Brochler.

Anestesi Local Atau Regional
Anestesi local atau regional secara sementara memutus transmisi impuls saraf menuju dan dari lokasi khusus.

Teknik pemberian.
Anestesi Topikal
Pemberian secara langsung pada permukaan area yang dianestesi
Bentuk: Salep atau spray.

Lokal Anestesi
Injeksi obat anestesi secara I C dan S C ke jaringan sekitar insisi, luka atau lesi.

Field Block
Injeksi secara bertahab pada sekeliling daerah yang dioperasi
( hernioraphy , dental prosedur ,bedah plstik )
LAPORAN PENDAHULUAN LAPARATOMI
Nerve Block
Injeksi obat anestesi local ke dalam atau sekitar saraf atau saraf yang mempesarafi daerah yang dioperasi. Block saraf memutus transmisi sensasi, motor, sympatis.

Spinal Anestesi / Intra Techal
Dicapai dengan injecsi obat anestesi ke dalam ruang sub orachonoid.
Pada L 2 – 3 atau L 3 – 4.
LAPORAN PENDAHULUAN LAPARATOMI
PENGKAJIAN :
Di ruang penerimaan perawat sirkulasi:
- Memvalidasi identitas klien.
- Memvalidasi inform concent.

Chart Review.
- Memberikan informasi yang dibutuhkan untuk mengidentifikasi kebutuhan actual dan potensial selama pembedahan.
- Mengkaji dan merencanakan kebutuhan klien selama dan sesudah operasi.

Perawat menanyakan.:
- Riwayat allergi, reaksi sebelumnya terhadap anesthesia atau tranfusi darah.
- Check riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik.
- Check pengobatan sebelumnya : therapy, anticoagulasi.
- Check adanya gigi palsu, kontaks lens, perhiasan, wigs dan dilepas.
- Kateterisasi.
LAPORAN PENDAHULUAN LAPARATOMI
DIAGNOSIS KEPERAWATAN.
1. Resiko for injury berhubungan dengan anesthesia, posisi intra operatif dan bahaya lain dari lingkungan intra operatif.
2. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan luka operasi.
3. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan anesthesia
4. Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan darah dan cairan tubuh selama pembedahan.
LAPORAN PENDAHULUAN LAPARATOMI
PERENCANAAN
Resiko for injury berhubungan dengan anesthesia, posisi intra operatif dan bahaya lain dari lingkungan intra operatif.
Tujuan : Klien akan dipertahankan dalam keadaan anesthesia yang aman selama pembedahan dan bebas dari perlukaan peralatan operasi.
LAPORAN PENDAHULUAN LAPARATOMI
INTERVENSI:
- Persiapan dan penggunaan obat anesthesia yang tepat.
- Positioning posisi yang tepat.
Untuk menjamin posisi yang tepat dikaji : kesesuaian fisiologiss, perubahan sirkulasi yang minimal, proteksi struktur tulang dan neuromusculair, penggunaan dan lokasi IV line, cara anesthesia, keamanan dan keselamatan klien.
- Penggunaan peralatan elektrik. Lempeng grounding yang ditutupi jeli tidak menekan tubuh.
- Chek hati-hati alat / electrosurgical mencegah luka bakar.

Gangguan integritas kulit berhubungan dengan luka operasi.
Tujuan: Klien akan mengalami gangguan integritas kulit yang dan kontaminasi yang minimal.
LAPORAN PENDAHULUAN LAPARATOMI
Intervensi:
- Plastic adhesive drape setelah daerah pembedahan dibersihkan dan kering.
- Penutupan kulit:
- Tujuan:
- Menutup lumen pembuluh darah.
- Mencegah perdarahan dan kehilangan cairan tubuh.
- Mencegah kontaminasi luka.

Dua factor yang menentukan kekuatan penutupan luka :
- Materi jahitan.
Ahli bedah akan memilih metode dan type penutupan kulit berdasarkan letak incisi, ukuran dan kedalaman luka, usia dan riwayat medik klien.
- Staples dan plester digunakan untuk menutup luka superfisialis atau epidermis.
Benang jahit : Absorbable dan non absorbable.
Ukuran benang : 0.-5, 2 – 0 –11- 0.

INTERVENSI KLIEN POST OPERASI.
PENGKAJIAN;
Setelah menerima laporan dari perawat sirkulasi, dan pengkajian klien, perawat mereview catatan klien yang berhubungan dengan riwayat klien, status fisik dan emosi, sebelum pembedahan dan alergi.

Pemeriksaan Fisik Dan Manifestasi Klinik

System Pernafasan.
Ketika klien dimasukan ke PACU, Perawat segera mengkaji klien:
- Potency jalan nafas, meletakan tangan di atas mulut atau hidung.
- Perubahan pernafasan (rata-rata, pola, dan kedalaman). RR < 10 X / menit depresi narcotic, respirasi cepat, dangkal gangguan cardiovasculair atau rata-rata metabolisme yang meningkat.- Auscultasi paru keadekwatan expansi paru, kesimetrisan.- Inspeksi: Pergerakan didnding dada, penggunaan otot bantu pernafasan diafragma, retraksi sternal efek anathesi yang berlebihan, obstruksi.Thorax Drain.Sistem Cardiovasculer. Sirkulasi darah, nadi dan suara jantung dikaji tiap 15 menit ( 4 x ), 30 menit (4x). 2 jam (4x) dan setiap 4 jam selama 2 hari jika kondisi stabil.Penurunan tekanan darah, nadi dan suara jantung depresi miocard, shock, perdarahan atau overdistensi.Nadi meningkat shock, nyeri, hypothermia.Kaji sirkulasi perifer (kualitas denyut, warna, temperatur dan ukuran ektremitas).Homan’s saign trombhoplebitis pada ekstrimitas bawah (edema, kemerahan, nyeri).Keseimbangan Cairan Dan Elektrolit- Inspeksi membran mukosa : warna dan kelembaban, turgor kulit, balutan.- Ukur cairan NG tube, out put urine, drainage luka.- Kaji intake / out put.- Monitor cairan intravena dan tekanan darah.Sistem Persyarafan.- Kaji fungsi serebral dan tingkat kesadaran semua klien dengan anesthesia umum.- Klien dengan bedah kepala leher : respon pupil, kekuatan otot, koordinasi. Anesthesia umum depresi fungsi motor.Sistem Perkemihan.- Kontrol volunter fungsi perkemihan kembali setelah 6 – 8 jam post anesthesia inhalasi, IV, spinal.Anesthesia, infus IV, manipulasi operasi retensio urine.Pencegahan : Inspeksi, Palpasi, Perkusi abdomen bawah (distensi buli-buli).- Dower catheter kaji warna, jumlah urine, out put urine < 30 ml / jam komplikasi ginjal.Sistem Gastrointestinal.- Mual muntah 40 % klien dengan GA selama 24 jam pertama dapat menyebabkan stress dan iritasi luka GI dan dapat meningkatkan TIK pada bedah kepala dan leher serta TIO meningkat.- Kaji fungsi gastro intestinal dengan auskultasi suara usus.- Kaji paralitic ileus suara usus (-), distensi abdomen, tidak flatus.- jumlah, warna, konsistensi isi lambung tiap 6 – 8 jam.- Insersi NG tube intra operatif mencegah komplikasi post operatif dengan decompresi dan drainase lambung.• Meningkatkan istirahat.• Memberi kesempatan penyembuhan pada GI trac bawah.• Memonitor perdarahan.• Mencegah obstruksi usus.• Irigasi atau pemberian obat. LAPORAN PENDAHULUAN LAPARATOMI
Sistem Integumen.
- Luka bedah sembuh sekitar 2 minggu. Jika tidak ada infeksi, trauma, malnutrisi, obat-obat steroid.
- Penyembuhan sempurna sekitar 6 bulan – satu tahun.
- Ketidak efektifan penyembuhan luka dapat disebabkan :
• Infeksi luka.
• Diostensi dari udema / palitik ileus.
• Tekanan pada daerah luka.
• Dehiscence.
• Eviscerasi.

Drain dan Balutan
Semua balutan dan drain dikaji setiap 15 menit pada saat di ruang PAR, (Jumlah, warna, konsistensi dan bau cairan drain dan tanggal observasi), dan minimal tiap 8 jam saat di ruangan.

Pengkajian Nyeri
Nyeri post operatif berhubungan dengan luka bedah , drain dan posisi intra operative.
Kaji tanda fisik dan emosi; peningkatan nadi dan tekanan darah, hypertensi, diaphorosis, gelisah, menangis. Kualitas nyeri sebelum dan setelah pemberian analgetika.

Pemeriksaan Laboratorium.
Dilakukan untuk memonitor komplikasi .
Pemeriksaan didasarkan pada prosedur pembedahan, riwayat kesehatan dan manifestasi post operative. Test yang lazim adalah elektrolit, Glukosa, dan darah lengkap.

DIAGNOSIS KEPERAWATAN.
1. Gangguan pertukaran gas, berhubungan dengan efek sisa anesthesia, imobilisasi, nyeri.
2. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan luka pemebedahan, drain dan drainage.
3. Nyeri berhubungan dengan incisi pembedahan dan posisi selama pembedahan.
4. Potensial terjadi perlukaan berhubungan dengan effect anesthesia, sedasi, analgesi.
5. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan intra dan post operasi.
6. Ketidak efektifan kebersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan skresi.
7. Perubahan eliminasi urine ( penurunan) berhubungan dengan obat anesthesia dan immobilisasi.

PERENCANAAN
1. Gangguan pertukaran gas
Tujuan :
Klien akan mempertahankan ekspansi paru dan fungsi pernapasan yang adekuat.
Intervensi :
- Posistioning klien untuk mencegah aspirasi
- Insersi mayo mencegah obstruksi, melakukan suction.
- Pemberian aksigen
- Endotracheal tube/mayo dilepas refleks gag kembali
- Dorong batuk dan bernapas dalam 5 – 10 x setiap 2 jam. Khususnya 72 jam pertama (potensial komplikasi :atelektasis, pneumonia).
- Klien dengan penyakit paru, orang tua, perokok, panas spirometer.
- Suction.

2. Gangguan integritas kulit
Tujuan :
- luka klien akan sembuh tanpa komlikasi luka post operatif.
LAPORAN PENDAHULUAN LAPARATOMI
Penyebab luka infeksi :
- kontaminasi selama pembedahan
- infeksi preoperative
- teknik aseptic yang terputus
- status klien yang jelek.
Intervensi :
- Terapi obat :
antibiotik profilaksis spectrum luas (24 – 72 jam post op)
perawatan luka dengan gaas antibiotik.
- Balutan luka : ganti sesuai order dokter. Luka yang ditutup dengan balutan dibuka 3-6 hari.
- Drain :
evakuasi cairan dan udara
mencegah luka infeksi yang dalam dan pembentukan abses pada luka bedah.

3. Nyeri
Tujuan : klien akan mengalami pengurangan nyeri akibat luka bedah dan posisi selama operasi.
Intervensi :
- Terapi obat :
• Pemberian anlgetik narkotik dan non narkotik nyeri akut (meperidin hydroclorida, morphine sulphate, codein sulphate, dan lain-lain.)
• Mengkaji tipe, lokasi ditensitas nyeri sebelum pemberian obat.
• Pada pembedahan yang luas kontrol nyeri iv pump.
• Observasi tekanan darah, pernapasan, kesadaran, (depresi napas, hyotensi, mual, muntah komplikasi narkotik).

Metode pangendalian nyeri yang lain :
1. positioning
2. perubahan posisi tiap 2 jam
3. masase

EVALUASI :
Kriteria hasil yang diharapkan pada klien post op adalah :
1. Mempertahankan ekspansi paru dan fungsi yang adekuat yang ditandai suara napas jernih.
2. Mengikuti diet TKTP
3. menjelaskan dan mendemonstrasikan perawatan balutan dan drain.
4. Penyembuhan komplit tanpa komplikasi
5. Mengungkapkan nyeri hilang.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Dr. Sutisna Himawan (editor). Kumpulan Kuliah Patologi. FKUI

Brunner / Sudart. Texbook of Medical Surgical Nursing Fifth edition IB. Lippincott Company. Philadelphia. 1984.

Soeparman, dkk. Ilmu Penyakit Dalam : Balai Penerbit FKUI, Jakarta, 1987, Edisi II.

sekian sharing
LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN LAPARATOMI
harap maklum bila masih banyak kekurangan

LAPORAN PENDAHULUAN LAPARATOMI
Read More
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Lihat versi seluler
Langganan: Postingan ( Atom )
 photo banner300x250-biru.gif

Blog Archive

  • 2016 (1)
    • 09/18 - 09/25 (1)
      • PENGETAHUAN IBU TENTANG BIANG KERINGAT PADA BAYI 0...
  • 2015 (10)
    • 10/11 - 10/18 (1)
    • 09/13 - 09/20 (1)
    • 09/06 - 09/13 (1)
    • 07/05 - 07/12 (1)
    • 05/17 - 05/24 (6)
  • 2014 (1)
    • 04/13 - 04/20 (1)
  • 2012 (770)
    • 02/19 - 02/26 (5)
    • 02/12 - 02/19 (10)
    • 02/05 - 02/12 (4)
    • 01/29 - 02/05 (27)
    • 01/22 - 01/29 (88)
    • 01/15 - 01/22 (101)
    • 01/08 - 01/15 (169)
    • 01/01 - 01/08 (366)
  • 2011 (4477)
    • 12/25 - 01/01 (336)
    • 12/18 - 12/25 (62)
    • 12/11 - 12/18 (70)
    • 12/04 - 12/11 (77)
    • 11/27 - 12/04 (40)
    • 11/20 - 11/27 (67)
    • 11/13 - 11/20 (198)
    • 11/06 - 11/13 (187)
    • 10/30 - 11/06 (340)
    • 10/23 - 10/30 (32)
    • 10/16 - 10/23 (109)
    • 10/09 - 10/16 (80)
    • 08/14 - 08/21 (75)
    • 08/07 - 08/14 (81)
    • 07/31 - 08/07 (82)
    • 07/24 - 07/31 (65)
    • 07/17 - 07/24 (91)
    • 07/10 - 07/17 (47)
    • 07/03 - 07/10 (44)
    • 06/26 - 07/03 (53)
    • 06/19 - 06/26 (59)
    • 06/12 - 06/19 (47)
    • 06/05 - 06/12 (65)
    • 05/29 - 06/05 (63)
    • 05/22 - 05/29 (77)
    • 05/15 - 05/22 (115)
    • 05/08 - 05/15 (65)
    • 05/01 - 05/08 (104)
    • 04/24 - 05/01 (45)
    • 04/17 - 04/24 (70)
    • 04/10 - 04/17 (134)
    • 04/03 - 04/10 (72)
    • 03/27 - 04/03 (18)
    • 03/20 - 03/27 (47)
    • 03/13 - 03/20 (68)
    • 03/06 - 03/13 (40)
    • 02/27 - 03/06 (56)
    • 02/20 - 02/27 (77)
    • 02/13 - 02/20 (76)
    • 02/06 - 02/13 (198)
    • 01/30 - 02/06 (194)
    • 01/23 - 01/30 (132)
    • 01/16 - 01/23 (196)
    • 01/09 - 01/16 (202)
    • 01/02 - 01/09 (121)
  • 2010 (2535)
    • 12/26 - 01/02 (156)
    • 12/19 - 12/26 (65)
    • 12/12 - 12/19 (73)
    • 12/05 - 12/12 (84)
    • 11/28 - 12/05 (80)
    • 11/21 - 11/28 (68)
    • 11/14 - 11/21 (63)
    • 11/07 - 11/14 (50)
    • 10/31 - 11/07 (50)
    • 10/24 - 10/31 (36)
    • 10/17 - 10/24 (58)
    • 10/10 - 10/17 (35)
    • 10/03 - 10/10 (31)
    • 09/26 - 10/03 (21)
    • 09/19 - 09/26 (26)
    • 09/12 - 09/19 (55)
    • 09/05 - 09/12 (65)
    • 08/29 - 09/05 (33)
    • 08/22 - 08/29 (70)
    • 08/15 - 08/22 (45)
    • 08/08 - 08/15 (35)
    • 08/01 - 08/08 (37)
    • 07/25 - 08/01 (27)
    • 07/18 - 07/25 (19)
    • 07/11 - 07/18 (30)
    • 07/04 - 07/11 (56)
    • 06/27 - 07/04 (28)
    • 06/20 - 06/27 (22)
    • 06/13 - 06/20 (30)
    • 06/06 - 06/13 (21)
    • 05/30 - 06/06 (5)
    • 05/16 - 05/23 (6)
    • 05/09 - 05/16 (29)
    • 05/02 - 05/09 (59)
    • 04/25 - 05/02 (28)
    • 04/18 - 04/25 (38)
    • 04/11 - 04/18 (70)
    • 04/04 - 04/11 (59)
    • 03/28 - 04/04 (65)
    • 03/21 - 03/28 (89)
    • 03/14 - 03/21 (218)
    • 03/07 - 03/14 (95)
    • 02/28 - 03/07 (135)
    • 02/21 - 02/28 (102)
    • 01/03 - 01/10 (68)
  • 2009 (1652)
    • 12/27 - 01/03 (36)
    • 12/20 - 12/27 (22)
    • 12/13 - 12/20 (100)
    • 12/06 - 12/13 (45)
    • 11/29 - 12/06 (24)
    • 11/22 - 11/29 (22)
    • 11/15 - 11/22 (19)
    • 11/08 - 11/15 (28)
    • 11/01 - 11/08 (11)
    • 10/25 - 11/01 (17)
    • 10/18 - 10/25 (38)
    • 10/11 - 10/18 (33)
    • 10/04 - 10/11 (15)
    • 09/27 - 10/04 (21)
    • 09/20 - 09/27 (7)
    • 09/13 - 09/20 (84)
    • 09/06 - 09/13 (35)
    • 08/30 - 09/06 (48)
    • 08/23 - 08/30 (118)
    • 08/16 - 08/23 (26)
    • 08/09 - 08/16 (34)
    • 08/02 - 08/09 (35)
    • 07/26 - 08/02 (31)
    • 07/19 - 07/26 (14)
    • 07/12 - 07/19 (16)
    • 07/05 - 07/12 (28)
    • 06/28 - 07/05 (26)
    • 06/21 - 06/28 (76)
    • 06/14 - 06/21 (26)
    • 06/07 - 06/14 (21)
    • 05/31 - 06/07 (43)
    • 05/24 - 05/31 (38)
    • 05/17 - 05/24 (26)
    • 05/10 - 05/17 (52)
    • 05/03 - 05/10 (15)
    • 04/26 - 05/03 (38)
    • 04/19 - 04/26 (32)
    • 04/12 - 04/19 (22)
    • 04/05 - 04/12 (20)
    • 03/29 - 04/05 (40)
    • 03/22 - 03/29 (43)
    • 03/15 - 03/22 (18)
    • 03/08 - 03/15 (14)
    • 03/01 - 03/08 (22)
    • 02/22 - 03/01 (12)
    • 02/15 - 02/22 (9)
    • 02/08 - 02/15 (11)
    • 02/01 - 02/08 (19)
    • 01/25 - 02/01 (37)
    • 01/18 - 01/25 (21)
    • 01/11 - 01/18 (33)
    • 01/04 - 01/11 (31)
  • 2008 (700)
    • 12/28 - 01/04 (13)
    • 12/21 - 12/28 (9)
    • 12/14 - 12/21 (57)
    • 12/07 - 12/14 (5)
    • 11/30 - 12/07 (18)
    • 11/23 - 11/30 (33)
    • 11/16 - 11/23 (31)
    • 11/09 - 11/16 (23)
    • 11/02 - 11/09 (18)
    • 10/26 - 11/02 (11)
    • 10/19 - 10/26 (15)
    • 10/12 - 10/19 (13)
    • 10/05 - 10/12 (25)
    • 09/28 - 10/05 (2)
    • 09/21 - 09/28 (14)
    • 09/14 - 09/21 (19)
    • 09/07 - 09/14 (43)
    • 08/31 - 09/07 (3)
    • 08/24 - 08/31 (33)
    • 08/17 - 08/24 (65)
    • 08/10 - 08/17 (4)
    • 08/03 - 08/10 (26)
    • 07/27 - 08/03 (6)
    • 07/20 - 07/27 (19)
    • 07/13 - 07/20 (18)
    • 07/06 - 07/13 (60)
    • 06/29 - 07/06 (53)
    • 06/22 - 06/29 (49)
    • 06/15 - 06/22 (11)
    • 06/08 - 06/15 (4)

Popular Posts

  • Olahraga dan Resiko Kanker Payu Dara: Belum Terlambat.
    Olahraga teratur sangat penting untuk kesehatan tubuh, mencegah dan mempertahankan tubuh dari berbagai penyakit mulai dari osteoporosis hin...
  • Transkultural dalam Keperawatan
    Konsep Teori Transkultural dalam Keperawatan APLIKASI TEORI TRANSCULTURAL NURSING DALAM PROSES KEPERAWATAN Rahayu Iskandar, Ners, M.Kep PEND...
  • Review Blog Keperawatan
    Setelah beberapa minggu ini cari materi buat postingan baru, mendadak dapat inspirasi setelah rekan Anton Wijaya menulis di buku tamu Keper...
  • PENGETAHUAN IBU TENTANG BIANG KERINGAT PADA BAYI 0-1 TAHUN DI BPS XXXX
    Prelevansi penyakit kulit di Indonesia cukup tinggi baik oleh bakteri, virus atau jamur. Selain itu bergantung pada lingkungan dan kondisi...
  • Hubungan Usia Terhadap Perdarahan Post Partum Di RSUD
    KTI KEBIDANAN HUBUNGAN USIA TERHADAP PERDARAHAN POSTPARTUM DI RSUD BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan wanita merupakan hal yang s...
  • Contoh KTI Pengetahuan ibu primigravida Mengenai kehamilan di RB XXXX
    Mortalitas dan morbiditas pada wanita hamil dan bersalin adalah masalah besar dinegara berkembang dan dinegara miskin. Sekitar 25 – 50% ke...
  • Askep Hematemesis Melena
    Hematemesis, melena, and hematochezia are symptoms of acute gastrointestinal bleeding. Bleeding that brings the patient to the physician is...
  • Bau Mulut
    Malu banget kan kalo nafas kita bau alias bau mulut apa lagi kalo kita ngomong dengan orang lain lalu tiba-tiba orang tersebut menjauh wah...
  • ANALISA SENAM HAMIL PADA IBU HAMIL DI KELAS IBU DI POSYANDU XXXXX
    Mengajarkan senam membantu fisik mendorong istirahat dan relaksasi rutinitis fisik kemudian di buat pada masa antenatal untuk meningkatkan...
  • 6 Kebiasaan Sehat yang Bikin Sakit
    Jangan kira semua aktivitas menyehatkan benar-benar membuat Anda sehat. Untuk beberapa kebiasaan, hal itu justru bisa membuat Anda s...

Statistik

© ASUHAN KEPERAWATAN 2013 . Powered by Bootstrap , Blogger templates and RWD Testing Tool Published..Gooyaabi Templates