• home

ASUHAN KEPERAWATAN

  • HOME
  • DOWNLOAD ASUHAN KEPERAWATAN
  • Cara Mendapatkan Password

Jumat, 02 April 2010

CA CERVIK

di 10.04 Label: ASKEP KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH
A. Latar Belakang

Kesehatan ibu merupakan salah satu sasaran dari upaya pembangunan kesehatan di Indonesia. Salah satu bentuk upaya pelayanan kesehatan pada ibu dan wanita pada umumnya adalah kesehatan reproduksi wanita. Perkembangan disegala bidang sebagai dampak dari keberhasilan pembangunan, memberikan berbagai nilai positif bagi perkembangan kesehatan diIndonesia. Namun, dilain pihak dampak pembangunan juga sangat mempengaruhi prilaku masyarakat. Pergeseran norma dan pola hidup mengakibatkan pergeseran prilaku lapisan masyarakat termasuk didalamnya wanita. Perubahan terhadap prilaku sex, kebiasaan konsumsi, pemeliharaan kebersihan diri dan kebersihan lingkungan memiliki kontribusi terhadap munculnya berbagai penyakit degeneratif maupun infeksi. Salah satu bentuk penyakit ganas yang mengenai wanita adalah kanker serviks (E. Sutarto, 1989 hal 1).

Berdasarkan data yang diperoleh di Poiklinik Kandungan RSUD Dr. Soetomo, angka kejadian kanker serviks menempati urutan tetinggi dibandingkan kasus keganasan lain pada wanita. Kasus Ca. Serviks merupakan salah satu dari 10 kasus terbanyak yang ditemukan di Poliklinik Kandungan RSUD Dr. Soetomo sepanjang bulan Januari-Juni 2000, dengan jumlah kasus sebanyak 73 (Grafik kasus di Poliklinik Kandungan Dr. Soetomo, 2000). Data ini didukung oleh data epidemiologi dari beberapa Rumah Sakit di Indonesia. Data dari RSCM Jakarta selama 3 tahun terdapat 2606 kasus kanker, dengan kanker serviks menempati urutan terbanyak ( 24,3 %), (E. Sutarto, 1989). Data dari Rumah-sakit di seluruh Jakarta pada tahun 1977 ditemukan 1.183 kasus dengan kanker cerviks menempati urutan pertama : 21 % ( E. Sutarto, 1989). Dari 13 pusat Patologi Anatomi di Indonesia tahun 1983 menempatkan kanker serviks sebagai kanker terbanyak. Data ini dikuatkan dengan adanya prediksi bahwa wanita usia 50 tahun keatas 3 % mengalami kanker eher rahim (FKKP SPK se Jawa Barat, 1997). Dengan prediksi ini dapat diasumsikan bahwa angka kejadian ca. Serviks akan semakin meningkat dimasa yang akan datang seiring dengan makin meningkatnya umur harapan hidup wanita Indonesia.

Berdasarkan data-data diatas, jelas terlihat bahwa angka kejadian kanker serviks masih merupakan momok bagi semua wanita dan merupakan masalah besar dalam upaya pengembangan kesehatan di Indonesia sehingga penatalaksanaanya memerlukan partisipasi dan kerjasama dari semua pihak termasuk profesi keperawatan.


B. Tujuan
I. TUJUAN PENULISAN
1. Tujuan Instruksional Umum
Untuk memberikan Asuhan Keperawatan kepada ibu dengan Suspek Ca. Serviks di Poliklinik Kandungan RSUD Dr. Soetomo Surabaya.

2. Tujuan Instruksional Khusus
Dapat melakukan pengkajian pada ibu dengan suspek Ca. Serviks
Dapat menentukan masalah keperawatan pada ibu dengan suspeks Ca. Serviks.
Dapat menetapkan rencana keperawatan pada ibu dengan suspek Ca. Serviks.
Dapat menerapkan rencana perawatan pada ibu dengan Ca. Serviks.
Dapat melakukan evaluasi keperawatan pada ibu dengan Ca. Serviks.
II.
III. C. METODE PENULISAN
Metode penulisan makalah ini menggunakan metode stadi kasus dengan pengumpulan data secara observasi langsung dan wawancara .

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

IV. A. PENGERTIAN
Kanker serviks adalah penyakit akibat tumor ganas pada daerah mulut rahim sebagai akibat dari adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan merusak jaringan normal di sekitarnya (FKUI, 1990; FKKP, 1997).

V. B. ETIOLOGI
Penyebab kanker serviks belum jelas diketahui namun ada beberapa faktor resiko dan predisposisi yang menonjol, antara lain :

1. Umur pertama kali melakukan hubungan seksual
Penelitian menunjukkan bahwa semakin muda wanita melakukan hubungan seksual semakin besar mendapat kanker serviks. Kawin pada usia 20 tahun dianggap masih terlalu muda

2. Jumlah kehamilan dan partus
Kanker serviks terbanyak dijumpai pada wanita yang sering partus. Semakin sering partus semakin besar kemungkinan resiko mendapat karsinoma serviks.

3. Jumlah perkawinan
Wanita yang sering melakukan hubungan seksual dan berganti-ganti pasangan mempunyai faktor resiko yang besar terhadap kankers serviks ini.

4. Infeksi virus
Infeksi virus herpes simpleks (HSV-2) dan virus papiloma atau virus kondiloma akuminata diduga sebagai factor penyebab kanker serviks

5. Sosial Ekonomi
Karsinoma serviks banyak dijumpai pada golongan sosial ekonomi rendah mungkin faktor sosial ekonomi erat kaitannya dengan gizi, imunitas dan kebersihan perseorangan. Pada golongan sosial ekonomi rendah umumnya kuantitas dan kualitas makanan kurang hal ini mempengaruhi imunitas tubuh.
6. Hygiene dan sirkumsisi
Diduga adanya pengaruh mudah terjadinya kankers serviks pada wanita yang pasangannya belum disirkumsisi. Hal ini karena pada pria non sirkum hygiene penis tidak terawat sehingga banyak kumpulan-kumpulan smegma.

7. Merokok dan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim)
Merokok akan merangsang terbentuknya sel kanker, sedangkan pemakaian AKDR akan berpengaruh terhadap serviks yaitu bermula dari adanya erosi diserviks yang kemudian menjadi infeksi yang berupa radang yang terus menerus, hal ini dapat sebagai pencetus terbentuknya kanker serviks.

C. Klasifikasi pertumbuhan sel akan kankers serviks

Mikroskopis
1. Displasia
Displasia ringan terjadi pada sepertiga bagaian basal epidermis. Displasia berat terjadi pada dua pertiga epidermihampir tidak dapat dibedakan dengan karsinoma insitu.

2. Stadium karsinoma insitu
Pada karsinoma insitu perubahan sel epitel terjadi pada seluruh lapisan epidermis menjadi karsinoma sel skuamosa. Karsinoma insitu yang tumbuh didaerah ektoserviks, peralihan sel skuamosa kolumnar dan sel cadangan endoserviks.

3. Stadium karsinoma mikroinvasif.
Pada karksinoma mikroinvasif, disamping perubahan derajat pertumbuhan sel meningkat juga sel tumor menembus membrana basalis dan invasi pada stoma sejauh tidak lebih 5 mm dari membrana basalis, biasanya tumor ini asimtomatik dan hanya ditemukan pada skrining kanker.

4. Stadium karsinoma invasif
Pada karsinoma invasif perubahan derajat pertumbuhan sel menonjol besar dan bentuk sel bervariasi. Petumbuhan invasif muncul diarea bibir posterior atau anterior serviks dan meluas ketiga jurusan yaitu jurusan forniks posterior atau anterior, jurusan parametrium dan korpus uteri.

5. Bentuk kelainan dalam pertumbuhan karsinoma serviks
Pertumbuhan eksofilik, berbentuk bunga kool, tumbuh kearah vagina dan dapat mengisi setengah dari vagina tanpa infiltrasi kedalam vagina, bentuk pertumbuhan ini mudah nekrosis dan perdarahan.

Pertumbuhan endofilik, biasanya lesi berbentuk ulkus dan tumbuh progesif meluas ke forniks, posterior dan anterior ke korpus uteri dan parametrium.

Pertumbuhan nodul, biasanya dijumpai pada endoserviks yang lambatlaun lesi berubah bentuk menjadi ulkus.

Markroskopis
1. Stadium preklinis
Tidak dapat dibedakan dengan servisitis kronik biasa
2. Stadium permulaan
Sering tampak sebagian lesi sekitar osteum externum
3. Stadium setengah lanjut
Telah mengenai sebagian besar atau seluruh bibir porsio
4. Stadium lanjut
Terjadi pengrusakan dari jaringan serviks, sehingga tampaknya seperti ulkus dengan jaringan yang rapuh dan mudah berdarah.

VI. D. GEJALA KLINIS
1. Perdarahan
Sifatnya bisa intermenstruit atau perdarahan kontak, kadang-kadang perdarahan baru terjadi pada stadium selanjutnya. Pada jenis intraservikal perdarahan terjadi lambat.
2. Biasanya menyerupai air, kadang-kadang timbulnya sebeluma ada perdarahan. Pada stadium lebih lanjut perdarahan dan keputihan lebih banyak disertai infeksi sehingga cairan yang keluar berbau.

E. Pemeriksaan diagnostik
1. Sitologi/Pap Smear
Keuntungan, murah dapat memeriksa bagian-bagian yang tidak terlihat.
Kelemahan, tidak dapat menentukan dengan tepat lokalisasi.
2. Schillentest
Epitel karsinoma serviks tidak mengandung glycogen karena tidak mengikat yodium. Kalau porsio diberi yodium maka epitel karsinoma yang normal akan berwarna coklat tua, sedang yang terkena karsinoma tidak berwarna.

3. Koloskopi
Memeriksa dengan menggunakan alat untuk melihat serviks dengan lampu dan dibesarkan 10-40 kali.
Keuntungan ; dapat melihat jelas daerah yang bersangkutan sehingga mudah untuk melakukan biopsy.
Kelemahan ; hanya dapat memeiksa daerah yang terlihat saja yaitu porsio, sedang kelianan pada skuamosa columnar junction dan intra servikal tidak terlihat.

4. Kolpomikroskopi
Melihat hapusan vagina (Pap Smear) dengan pembesaran sampai 200 kali

5. Biopsi
Dengan biopsi dapat ditemukan atau ditentukan jenis karsinomanya.

6. Konisasi
Dengan cara mengangkat jaringan yang berisi selaput lendir serviks dan epitel gepeng dan kelenjarnya. Konisasi dilakukan bila hasil sitologi meragukan dan pada serviks tidak tampak kelainan-kelainan yang jelas.

VII. F. KLASIFIKASI KLINIS
• Stage 0:Ca.Pre invasif
• Stage I: Ca. Terbatas pada serviks
• Stage Ia ; Disertai invasi dari stroma yang hanya diketahui secara histopatologis
• Stage Ib : Semua kasus lainnya dari stage I
• Stage II : Sudah menjalar keluar serviks tapi belum sampai kepanggul telah mengenai dinding vagina. Tapi tidak melebihi dua pertiga bagian proksimal
• Stage III : Sudah sampai dinding panggul dan sepertiga bagian bawah vagina
• Stage IIIB : Sudah mengenai organ-organ lain.

G. Terapi

1. Irradiasi
• Dapat dipakai untuk semua stadium
• Dapat dipakai untuk wanita gemuk tua dan pada medical risk
• Tidak menyebabkan kematian seperti operasi.

2. Dosis
Penyinaran ditujukan pada jaringan karsinoma yang terletak diserviks

3. Komplikasi irradiasi
• Kerentanan kandungan kencing
• Diarrhea
• Perdarahan rectal
• Fistula vesico atau rectovaginalis

4. Operasi
• Operasi Wentheim dan limfatektomi untuk stadium I dan II
• Operasi Schauta, histerektomi vagina yang radikal

5. Kombinasi
• Irradiasi dan pembedahan
Tidak dilakukan sebagai hal yang rutin, sebab radiasi menyebabkan bertambahnya vaskularisasi, odema. Sehingga tindakan operasi berikutnya dapat mengalami kesukaran dan sering menyebabkan fistula, disamping itu juga menambah penyebaran kesistem limfe dan peredaran darah.

6. Cytostatika : Bleomycin, terapi terhadap karsinoma serviks yang radio resisten. 5 % dari karsinoma serviks adalah resisten terhadap radioterapi, diangap resisten bila 8-10 minggu post terapi keadaan masih tetap sama.



VIII. H. HUBUNGAN KANKER SERVIKS DENGAN MASALAH KEPERAWATAN

Jika diperhatikan secara keseluruhan maka proses terjadinya Ca. Serviks dan masalah keperawatan yang muncul dapat diperhatikan pada bagan berikut :

Faktor :

Prilaku Lingkungan
( Sex aktif, paritas, personal higiene) ( Polusi, onkonenik agent, virus,
radiasi)

Kanker Serviks

Pelayanan Kesehatan Genetika
( Deteksi dini penyakit, laboraorium, (Keluarga yang menderita Ca,
Penanganan kasus P. Kelamin keluarga dengan ambang stress rendah)
penyuluhan pencegahan Ca. Serviks)

Kelemahan jaringan/ dinding menjadi rapuh  perdarahan masif  anemia
- Peningkatan kadar leukosit / kerusakan nosiseptor / penekanan pada dinding serviks  Nyeri
Gangguan peran sebagai istri dan gangguan gambaran diri  Ggn konsep diri.
- Gejala tidak nyata  adanya berbagai macam tindakan untuk menegakkan diagnose terdiagnose Ca  kecemasan

I. Konsep Keperawatan
1. Pengkajian
Data dasar
Pengumpulan data pada pasien dan keluarga dilakukan dengan cara anamnesa, pemeriksaan fisik dan melalui pemeriksaan penunjang

Data pasien :
Identitas pasien, usia, status perkawinan, pekerjaan jumlah anak, agama, alamat jenis kelamin dan pendidikan terakhir.
Keluhan utama : pasien biasanya datang dengan keluhan intra servikal dan disertai keputihan menyerupai air.

Riwayat penyakit sekarang :
Biasanya klien pada stsdium awal tidak merasakan keluhan yang mengganggu, baru pada stadium akhir yaitu stadium 3 dan 4 timbul keluhan seperti : perdarahan, keputihan dan rasa nyeri intra servikal.

Riwayat penyakit sebelumnya :
Data yang perlu dikaji adalah :
Riwayat abortus, infeksi pasca abortus, infeksi masa nifas, riwayat ooperasi kandungan, serta adanya tumor. Riwayat keluarga yang menderita kanker.
Keadaan Psiko-sosial-ekonomi dan budaya:
Ca. Serviks sering dijumpai pada kelompok sosial ekonomi yang rendah, berkaitan erat dengan kualitas dan kuantitas makanan atau gizi yang dapat mempengaruhi imunitas tubuh, serta tingkat personal hygiene terutama kebersihan dari saluran urogenital.

Data khusus:
1. Riwayat kebidanan ; paritas, kelainan menstruasi, lama,jumlah dan warna darah, adakah hubungan perdarahan dengan aktifitas, apakah darah keluar setelah koitus, pekerjaan yang dilakukan sekarang
2. Pemeriksaan penunjang
Sitologi dengan cara pemeriksaan Pap Smear, kolposkopi, servikografi, pemeriksaan visual langsung, gineskopi.

2. Diagnosa Keperawatan
a. Gangguan perfusi jaringan (anemia) b/d perdarahn intraservikal
b. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d penurunan nafsu makan
c. Gangguan rasa nyama (nyeri) b.d proses desakan pada jaringan intra servikal
d. Cemas b.d terdiagnose c.a serviks sekunder akibat kurangnya pengetahuan tentang Ca. Serviks dan pengobatannya.
e. Resiko tinggi terhadap gangguan konsep diri b.d perubahan dalam penampilan terhadap pemberian sitostatika.

3. Perencanaan
Gangguan perfusi jaringan (anemia) b.d perdarahan masif intra cervikal
Tujuan :
Setelah diberikan perawatan selama 1 X 24 jam diharapkan perfusi jaringan membaik :

Kriteria hasil :
a. Perdarahan intra servikal sudah berkurang
b. Konjunctiva tidak pucat
c. Mukosa bibir basah dan kemerahan
d. Ektremitas hangat
e. Hb 11-15 gr %
d. Tanda vital 120-140 / 70 - 80 mm Hg, Nadi : 70 - 80 X/mnt, S : 36-37 Derajat C, RR : 18 - 24 X/mnt.

Intervensi :
- Observasi tanda-tanda vital
- Observasi perdarahan ( jumlah, warna, lama )
- Cek Hb
- Cek golongan darah
- Beri O2 jika diperlukan
- Pemasangan vaginal tampon.
- Tranfusi darah

Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d penurunan nafsu makan.
Tujuan :
- Setelah dilakukan perawatan kebutuhan nutrisi klien akan terpenuhi

Kriteria hasil :
- Tidak terjadi penurunan berat badan
- Porsi makan yang disediakan habis.
- Keluhan mual dan muntah kurang

Intervensi :
- Jelaskan tentang pentingnya nutrisi untuk penyembuhan
- Berikan makan TKTP
- Anjurkan makan sedikit tapi sering
- Jaga lingkungan pada saat makan
- Pasang NGT jika perlu
- Beri Nutrisi parenteral jika perlu.

Gangguan rasa nyaman (nyeri) b.d proses desakan pada jaringan intra servikal

Tujuan
- Setelah dilakukan tindakan 1 X 24 jam diharapka klien tahu cara-cara mengatasi nyeri yang timbul akibat kanker yang dialami

Kriteria hasil :
- Klien dapat menyebutkan cara-cara mengurangi nyeri yang dirasakan
- Intensitas nyeri berkurangnya
- Ekpresi muka dan tubuh rileks

Intervensi :
- Tanyakan lokasi nyeri yang dirasakan klien
- Tanyakan derajat nyeri yang dirasakan klien dan nilai dengan skala nyeri.
- Ajarkan teknik relasasi dan distraksi
- Anjurkan keluarga untuk mendampingi klien
- Kolaborasi dengan tim paliatif nyeri
- Kolaborasi pemberian analgetik dan narkotik

Cemas yang berhubungan dengan terdiagnose kanker serviks sekunder kurangnya pengetahuan tentang kaker serviks, penanganan dan prognosenya.

Tujuan :
Setelah diberikan tindakan selama 1 X 30 menit klien mendapat informasi tentang penyakit kanker yang diderita, penanganan dan prognosenya.

Kriteria hasil :
- Klien mengetahui diagnose kanker yang diderita
- Klien mengetahui tindakan - tindakan yang harus dilalui klien.
- Klien tahu tindakan yang harus dilakukan di rumah untuk mencegah komplikasi.
- Sumber-sumber koping teridentifikasi
- Ansietas berkurang
- Klien mengutarakan cara mengantisipasi ansietas.

Tindakan :
- Berikan kesempatan pada klien dan klien mengungkapkan persaannya.
- Dorong diskusi terbuka tentang kanker, pengalaman orang lain, serta tata cara mengontrol dirinya.
- Identifikasi mereka yang beresiko terhadap ketidak berhasilan penyesuaian. ( Ego yang buruk, kemampuan pemecahan masalah tidak efektif, kurang motivasi, kurangnya sistem pendukung yang positif).
- Tunjukkan adanya harapan melalui kelompok pendukung
- Tingkatkan aktivitas dan latihan fisik

Resiko tinggi terhadap gangguan konsep diri b.d perubahan dalam penampilan sebagai efek dari pemberian kemotherapi.

Tujuan :
Setelah diberikan tindakan perawatan, konsep diri dan persepsi klien menjadi stabil

Kriteria hasil :
- Klien mampu untuk mengeskpresikan perasaan tentang kondisinya
- Klien mampu membagi perasaan dengan perawat, keluarga dan orang dekat.
- Klien mengkomunikasikan perasaan tentang perubahan dirinya secara konstruktif.
- Klien mampu berpartisipasi dalam perawatan diri.

Intervensi :
- Kontak dengan klien sering dan perlakukan klien dengan hangat dan sikap positif.
- Berikan dorongan pada klien untuk mengekpresikanbperasaan dan pikian tentang kondisi, kemajuan, prognose, sisem pendukung dan pengobatan.
- Berikan informasi yang dapat dipercaya dan klarifikasi setiap mispersepsi tentang penyakitnya.
- Bantu klien mengidentifikasi potensial kesempatan untuk hidup mandiri melewati hidup dengan kanker, meliputi hubungan interpersonal, peningkatan pengetahuan, kekuatan pribadi dan pengertian serta perkembangan spiritual dan moral.
- Kaji respon negatif terhadap perubahan penampilan (menyangkal perubahan, penurunan kemampuan merawat diri, isolasi sosial, penolakan untuk mendiskusikan masa depan.
- Bantu dalam penatalaksanaan alopesia sesuai dengan kebutuhan.
- Kolaborasi dengan tim kesehatan lain yang terkait untuk tindakan konseling secara profesional.

BAB III
LAPORAN KASUS

Pengkajian dilakukan hari Selasa, 22 Mei 2001 Pk. 09.00
A. Pengkajian
1. Identitas
Klien Penanggung
Nama : - S. Sd -M.A
Umur : - 35 tahun -36 th
Suku/bangsa : - Jawa - Jawa
Agama : - Islam - Islam
Pendidikan : - D-III - S1
Pekerjaan : - PNS - PNS
Alamat : - Sawur Kembang RT 01/02 Mojokerto
Status perkawinan : - Suami pertama /5 tahun
2. Riwayat Keperawatan
Keluhan utama : Ibu mengeluh perut bagian bawah kanan – kiri terasa sakit dan keputihan sejak 2 tahun yang lalu, tetapi tidak bau, serta membawa rujukan dari Yayasan Kaker Wisnu Wardana Surabaya.
3. Riwayat Obstetri
Klien mengatakan menarche umur 12 tahun, dengan jumlah sedang, bentuk encer dan sedikit menggumpal, warna merah kehitaman. Siklus haid teratur setiap 30 hari, dengan lama setiap haid 6-7 hari. Hubungan seksual pertama kali dilakukan umur 30 tahun dan tidak pernah berganti pasangan seks. Klien menikah pada umur 30 tahun dan hingga saat ini belum pernah hamil. Haid terakhir tanggal 16 Mei 2001.
4. Riwayat Keluarga Berencana
Klien belum pernah menggunakan alat kontrasepsi oleh karena sangat menhendaki keturunan.
5. Riwayat Kesehatan
Klien sudah sering melakukan konsultasi infertilitas, akan tetapi semua dokter mengatakan bahwa kedua pasangan sampai saat ini masih subur, dan tidak mengalami gangguan anatomis sistem reproduksi. Klien tidak pernah mengeluh ada hambatan dalam melakukan hubungan suami istri. Klien tidak pernah merasa nyeri ataupun mengeluarkan darah setelah koitus. Klien rajin memeriksakan kesehatan reproduksinya ke Yayasan Kanker Wisnu Wardana Surabaya. Riwayat menderita penyakit kelamin tidak ada.
Suami klien mengaku tidak pernah melakukan hubungan kelamin dengan pasangan lain. Suami klien tidak pernah menderita penyakit kelamin.
Riwayat menderita penyakit lain :
- DM disangkal
- Hipertensi disangkal
- Hepatitis disangkal
- Jantung disangkal

6. Kebutuhan Dasar Khusus
a. Pola Nutrisi
Klien biasa makan 3 kali sehari dengan nasi, sayur dan lauk lengkap. Nafsu makan klien baik. Tetapi setelah mendapat informasi tentang Pap smear dari Yayasan Wisnu Wardana, nafsu makan klien berkurang. Klien hanya makan 2 kali sehari dan merasa tidak enak.

b. Pola eliminasi
Bab 1 kali sehari lembek dan warna kuning. Bak 4 kali sehari dan muncul keputihan sehabis kencing dengan warna putih, tetapi tidak bau.

c. Personal Hygiene
Klien senantiasa menjaga kebersihan tubuhnya, terutama vaginanya dengan menggunakan pembersih vagina (Wim). Meskipun demikian keputihan pada vagina klien masih tetap keluar.

d. Istirahat dan tidur
Klien biasa tidur Pk. 22.00 dan bangun Pk. 05.30 pagi. Sejak tahu hasil pemeriksaan Pap smear tanggal 21 Mei 2001 klien malamnya sulit memejamkan mata karena sangat takut jika dia benar menderita Ca. Serviks. Klien baru tidur Pk. 01.00 dan bangun 05.00 WIB.

e. Pola aktivitas dan istirahat
Klien PNS yang bekerja di Bagian keuangan LLAJR Mojokerto. Klien takut jika kondisinya dapat mempengaruhi pekerjaannnya, sebab dikantor tidak ada orang lain yang bis mengambil pekerjannya.

f. Pola hubungan seksual
Sebelum tahu hasil Pap Smear klien biasa melakukan hubungan seksual 3 kai seminggu, akan tetapi setelah tahu informasi hasil Pap. Smear klien dan suami takut melakukan hubungan.

g. Kebiasaan yang mempengaruhi kesehatan
Riwayat merokok : disangkal
Minum-minuman keras : disangkal
Ketergantungan obat : disangkal

10. Pengetahuan tentang kesehatan
Klien mengungkapkan ketakutannya jika dia benar-benar menderita kanker, klien menanyakan apa lagi pemeriksaan yang harus dilakukan. Saya takut jika pemeriksaan yang akan dilakukan akan menyebabkan kesakitan dan perdarahan.

7. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum : Kesadaran kompos mentis, GCS : 15, klien tampak lesu dan ekspresi wajah klien datar.
b. Penginderaan
Mata normal, konjunctiva agak pucat.
Telinga : bentuk dan fungsi normal
Lidah : bentuk dan fungsi normal
Hidung : bentuk dan fungsi normal
c. Pernafasan
RR : 18 X/mnt, gerakan dada simetris, retraksi (-), Wh -/-, Rh -/-, Rales -/-, Sesak (-).
d. Kardiovaskuler
T : 110/70 mm Hg, N : 88 X/mnt, S : 36,8 oC, Kapillary Refill 2 dt, Cyanosis (-), S1 S2 normal.
e. Pencernaan
Periastaltik (N), Bab (normal), Kelainan pada bentuk dan fungsi rektum (-).
f. Urogenital
Vulva : Fulsus (-), Fluor albus (+)
Vagina : Normal
Portio : Massa + ½ X ½ cm berdungkul
Corpus Uteri : Antefleksi, massa (-),
Adneksa Parametrium kanan dan kiri : Supel, Nyeri (-), Massa (-),
Cavum Douglas : Tidak menonjol, infiltrasi (-)
Insipikul : Porsio terlihat massa + ½ X ½ , infiltrat (-), fluksus (-)

g. Integumen
Kulit warna hitam. Turgor baik, strie (-),
h. Muskuloskeletal
Otot dan tulang intak.
i. Endokrin
Kelenjar tyroid : normal, payudara normal,

8. Data Penunjang
Pap smear : Tampak sel mencurigakan keganasan.

9. Therapi :
- Cek Hb, - Persiapan Biopsi.

B. Analisa Data
DATA ETIOLOGI MASALAH
S : Klien menagatakan sulit tidur (tidur pk. 01.00) dan makan tidak enak ( makan hanya 2 kali sehari), kien takut melakukan hubungan seksual setelah tahu hasil pemeriksaan Pap. Smear. Klien mengungkapkan ketakutannya jika dia benar-benar menderita kanker, klien menanyakan apa lagi pemeriksaan yang harus dilakukan. Saya takut jika pemeriksaan yang akan dilakukan akan menyebabkan kesakitan dan perdarahan.

O : RR : 18 X/mnt, N : 88 X/mnt, T : 110/70 mm Hg. S : 36.8 o C.
Ekpresi wajah klien datar. Terdapat massa berdungkul pada portio + ½ X ½ cm, fuor albus (+), warna putih bau (-). Terdapat sel yang mencurigakan keganasan pada porsio. Persiapan Biopsi dan Cek hab.
Kurangnya pengetahuan tentang Kanker Serviks dan Prosedur Pemeriksaan untuk menegakkan diagnose Ca. Serviks.

Stress

Rangsangan terhadap HPA Aksis

Ketakutan
Medula adrenal


Peningkatan kerja saraf otonom


Peningkatan katakolamin, noradrenalin


Muka pucat nadi meningkat

Kecemasan


C. Diagnose Keperawatan
Cemas sehubungan dengan terdiagnose suspek kanker serviks sekunder kurangnya pengetahuan tentang Ca. Serviks, pemeriksaan yang dilakukan serta prognosenya

D. Rencana Keperawatan
Hari
Tgl
Jam

Diagnose
Tujuan
Tindakan
Rasinalisasi
Selasa
22 Mei 2001 Cemas sehubungan dengan terdiagnose suspek kanker serviks sekunder kurangnya pengetahuan tentang Ca. Serviks, pemeriksaan yang dilakukan serta prognosenya Setelah diberikan tindakan perawatan selama 30 menit perasaan cemas klien berkurang.

Kriteria :
- Pasien berbagi beban masalah yang dihadapi sehubungan didiagnose suspek Ca. Serviks.

- Koping dan sumber pendukung terudentifikasi

- Klien komu-nikatif, ekpresi wajah jelas.

- Postur tubuh rileks
- Klien tahu tentang kanker, tindakan serta prognosenya.
- Bersedia dilakukan pemeriksaan penunjang berupa Hb dan biopsi.
- Mengutarakan dan mengerti cara mengantisipasi stress.

- Berikan kesempatan kepada klien dan keluarga mengungkapkan perasaannya dan dengarkan secara empati.

- Dorong diskusi terbuka tentang kanker, dan pemeriksaan penunjang yang harus dilakukan.

- Jelaskan tindakan, tujuan serta akibat dari pemeiksaan penunjang harus dijalani klien.



- Identifikasi terhadap faktor yang beresiko terhadap ketidakberhasilan penyesuaian diri klien












- Tunjukkan adanya harapan.






- Anjurkan untuk tetap beraktivitas - Untuk menim-bulkan rasa percaya.






- Untuk menyiapkan mental klien sehubungan dgn pemeriksaan yang akan dilakukan.


- Klien akan bersedia mengi-kuti prosedur pemeriksaan penunjang yang harus dilakukan pada klien.

- Kekuatan ego yang buruk, kemampuan pemecahan masalah yang tidak efektif, kurang motivasi dan kurangnya sistem pendukung akan meningkatkan kecemasan, meningkatkan kadar kortisol, menurunkan sistem imun klien dan selanjutnya berakibat pada kondisi klien.


- Harapan untuk mengurangi tingkat stress merangsang peningkatan sistem imun sehingga memperbaiki kualitas hidup klien.

- Aktivitas akan mengurangi inpuls psikologis yang negatif yang bepengaruh pada daya tahan tubuh klien

E. Tindakan Keperawatan
Dx Hari/Tgl/jam Tindakan Evaluasi
Cemas sehubungan dengan terdiagnose suspek kanker serviks sekunder kurangnya pengetahuan tentang Ca. Serviks, pemeriksaan yang dilakukan serta prognosenya





















































































Nyeri sebagai efek tindakan biopsi ditandai dengan klien mengeluh nyeri dan perih pada vagina.

Potensial terjadi perdarahan s.e adanya perlukaan pada serviks.



Potensial terjadi infeksi s.e perlukaan pada serviks. Selasa, 22 Mei 2001


09.30 WIB – 10.15

















































10.15




















11.00




11.15


11.30










11.30





11.30





11.30


- Berdiskusi secara terbuka tentang kanker, dan pemeriksaan penunjang yang harus dilakukan.


- Menjelaskan tindakan, tujuan serta akibat dari pemeiksaan penunjang harus dijalani klien.





- Memberikan kesem-patan kepada klien dan keluarga mengung-kapkan perasaannya dan dengarkan secara empati tentang tanggapan klien terhadap penyakit yang dialami serta pemeriksaan yang akan dilakukan.

Jelaskan tindakan yang akan dilakukan jika klien benar terdiagnose kanker, serta kemungkinan kesembuhannya.

- Identifikasi terhadap faktor yang beresiko terhadap ketidakberhasilan penyesuaian diri klien







- Tunjukkan adanya harapan.



- Anjurkan untuk tetap beraktivitas






















KIE prosedur pemeriksaan Hb.



Menyiapkan tindakan biopsi.

Observasi klien setelah tindakan biopsi.









Anjurkan klien sementara istirahat di TT.
Kolaborasi :
Mef Acid 3 X 500 mg


Anjurkan mengo-bservasi perdarahan pada vagina setelah dirumah. He tanda-tanda perdarahan.


Anjurkan klien membuka tampon 2 hari lagi di IRD
KIE tanda-tanda infeksi.
KIE tentang kebersihan vagina

He Cara membersihkan vagina yang dapat mencegah infeksi.

Kolaborasi :
Amoksisilin 3 X 500 mg




- Klien mengerti. Akan tetapi takut jika hasil pemeriksaan nantinya benar-benar menunjukkan kanker.

- Klien memahami dan bersedia untuk dilakukan pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan Hb dan biopsi agar semuanya menjadi jelas dan klien tidak cemas dalam ketidakpastian.

- Klien menanyakan apakah jika hasil pemeriksaan benar kanker, natinya bisa disembuhkan.






Klien mengerti





- Klien belum punya anak dan sangat ingin punya anak. Klien takut tidak bisa membahagiakan suami. Suami tamapk atabah dan perhatian terhadap klien. Klien punya dukungan material yang cukup untuk perawatan penyakitnya.

- Klien dapat memahami dan berjanji mengha-dapi apapun yang akan terjadi.


- Klien bersedia.


S : Klien dan suami berusaha menghadapi apapun yang akan terjadi. Klien siap dilakukan pemeriksaan penunjang.

O : Klien expresinya tenang.
A : Kecemasan berkurang danbersedia dilakukan pemeriksaan tambahan.
P : Siapkan pemeriksaan HB dan Persiapan biopsi.





- Klien melakukan pemerisaan Hb di kamar 14 dengan hasil 10 gr %


Klien dan alat siap


- Tampon (+), perdarahan (sedikit), perdarahan abnormal (-), Nyeri (+). Klien bertanya bagiaman dengan tampon yang ada di vaginanya , Kapan harus dibuka dan bagaimana jika cebok dirumah.


Klien istirahat.


Resep sudah diterima.


Perdarahan (-)
Klien mengerti cara mengobservasi tanda perdarahan pada tampon.

Klien mengerti dan bersedia




- Klien mengerti
- Klien paham


Resep diterima

F. Evaluasi
A. DX Hari/Tgl/Jam Perkembangan
Nyeri sebagai efek tindakan biopsi ditandai dengan klien mengeluh nyeri dan perih pada vagina.


Potensial terjadi perdarahan s.e adanya perlukaan pada serviks.





Potensial terjadi infeksi s.e perlukaan pada serviks Selasa, 22 Mei 2001
Pk. 11.30





Selasa, 22 Mei 2001
Pk. 1]1.30






Pk. 11.30 S : Klien tahu cara mengurangi nyeri. Kien mengerti cara minum obat anti nyeri.
O : Resep Mef Acid 3 X 500 mg
A : Nyeri masih dirasakan
P : Anjurkan klien kotrol pd tgl 24/5/2001 di IRD


S : Klien tahu tanda-tanda perdarahan dan cara mengpbservasi perdarahan. Klien akan membuka tamponnya di IRD
O : Tanda perdarahan tidak ada
A : Masalah teratasi sebagian
P : ingatkan tanda-tanda perdarahan dan buka tampon di IRD.

S : Klien tahu tanda-tanda infeksi dan cara perawatan kebersihan vagina di rumah. Klien tahu cara minum Amoxicilin
O : Tanda infeksi (-). Resep Amoxicilin 3 X 500 mg.
A : Masalah teratasi sebagian
P : He agar klien kontrol ke IRD tanggal 24/52001.

BAB IV
PEMBAHASAN
A. Konsep Dasar
Secara umum kanker serviks diartikan sebagai suatu kondisi patologis, dimana terjadi pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol pada leher rahim yang dapat menyebabkan gangguan terhadap bentuk maupun fungsi dari jaringan leher rahim yang normal. Pada kasus keganasn secara obyektif masih belum bisa diketahui secara pasti akibat belum akuratnya data-data penunjang untuk dapat ditegakkanya suatu diagnose kanker serviks. Adanya tanda-tanda keganasan yang diketahui dari hasil Pap smear bukan merupakan tanda pasti dari kanker serviks sehingga penegakan diagnose harus ditunjang dengan hasil biopsi. Kondisi ini dipersulit oleh karena derajat kanker klien masih tahap dini sehingga secara makroskopis penegakkan diagnosenya masih belum akurat.
Jika dilihat dari etiologi terjadinya kanker leher rahim, pada kasus ini tidak ditemukan kecurigaan keterlibatan salah satu faktor secara dominan, seperti prilaku seksual klien amupun pasangan, faktor karsinogenik dari lingkungan maupun penyakit yang bisa menjadi predisposisi timbulnya kanker serviks. Penelusuran terhadap keturunan sebagai upaya penemuan faktor genetika, juga tidak mampu dijadikan pedoman faktor yang terlibat dalam terjadinya kanker pada klien.
Kebiasaan penggunaan pembersih vagina (Lab. Ilmu Penyakit Kandungan RSUD Dr. Soetomo, 1994), dapat menjadi predisposisi timbulnya vaginitis maupun infeksi jamur lainnya. Dengan demikian dapat diasumsikan bahwa bisa saja kontak dengan pembersih vagina ini menjadi faktor pencetus gangguan keseimbangan asam-basa dalam vagina yang dapat mempermudah timbulnya infeksi intravgina baik oleh bakteri maupun virus yang pada akhirnya dapat menyebabkan iritasi dan tanda-tanda keganasan.

B. Pengkajian
Dari pengkajian yang dilakukan tidak ditemukan faktor dominan yang memicu timbulnya Ca pada klien. Disamping itu tanda-tanda positif Ca sampai saat ini juga belum pasti, mengingat data penunjang yang mendukung belum lengkap yakni berupa pengambilan hasil biopsi.Penegakan diagnose Ca. Serviks berdasarkan atas hasil pemeriksaan Pap smear, hasil pemeriksaan dalam dan Biopsi merupakan standar yang ditetapkan oleh RSUD Dr. Soetomo, sehingga pemeriksaan lain berdarakan teori yang ada tidak perlu dilakukan. Data yang berhasil ditemukan pada pengkajian klien ini secara umum masih berupa data-data psikologis. Hal ini disebabkan oleh karena diagnose yang sesungguhnya belum bisa ditegakkan sampai hasil biopsi selesai dikerjakan. Kondisi ini mengakibatkan ketegangan dan kecemasan untuk menunggu kepastian. Selain itu banyaknya tindakan yang harus dijalani untuk menegakkan diagnose menyebabkan klien makin cemas dan takut. Hal itu menyebabkan dampak psikologis jauh lebih dominan tampak pada klien.
C. Diagnose
Berdasarkan teori yang ada diagnose keperawatan yang biasanya muncul sebanyak 5 buah. Namun pada kasus ini diagnose yang muncul hanya satu yakni cemas. Hal ini diakibatkan belum adanya tanda-tanda pasti dari Ca Serviks. Dari data yang dikumpulkan baru dicurigai adanya Ca Serviks. Keadaan ini mengakibatkan masih perlunya berbagai tindakan untuk mendapatkan data penunjang dalam menegakkan diagnose, yang mana ketidakpastian diagnose dan berbagai rencana tindakan yang harus dijalani klien berdampak pada psikologis klien sehingga klien menjadi cemas.

Ketika kecemasan telah diatasi dan muncul suatu kesiapan untuk mengikuti serangkaian tindakan untuk menegakkan diagnose seperti pemeriksaan Hb dan pengambilan biopsi pada serviks, akan menimbulkan persoalan baru sebagai akibat dari tindakan tersebut. Masalah tersebut memunculkan sejumlah diagnose keperawatan seperti Nyeri, Potensial perdarahan, potensial infeksi sebagai dampak dari tindakan biopsi yang perlu penanganan secara komprehensif, baik ketika habis tindakan di poliklinik maupun setelah pulang kerumah. Sejumlah tindakan yang dilakukan bertujuan untuk mencegah dampak dari tindakan biopsi yang dilakukan selama di poliklinik maupun di rumah. Sehingga disasmping mengatasi kecemasan, penatalaksanaan klien yang yang terdiagnose suspek Ca. Serviks juga mencakup upaya pencegahan akibat skunder dari tindakan yang telah dilakukan di poliklinik.

D. Perencanaan
Perencanaan yang dilakukan pada tahap awal sebelum dilakukan biopsi berupa tindakan untuk mengatasi cemas akibat dicurigai ca. Serviks dan rangkaian tindakan pemeriksaan penunjang dibuat sesuai dengan teori yang telah ada pada konsep dasar. Sedangkan perencanaan yang dibuat untuk mengatasi masalah keperawatan pasca biopsi meliputi tindakan untuk mengurangi nyeri, mencegah perdarahan dan mencegah infeksi setelah tindakan biopsi dilakukan.



E. Pelaksanaan
Mengingat waktu yang tersedia dipoliklinik sangat terbatas, pelaksanaan berbagai macam tindakan dilakukan secara komprehensif dalam waktu terbatas secara simultan sehingga alokasi waktunya terlihat sangat global. Sedangkan tindakan untuk mengatasi nyeri, mencegah perdarahan serta infeksi pasca biopsi dilakukan setelah tindakan biopsi dilakukan serta mengikutsertakan klien beserta keluarga secara aktif agar jika pulang klien dan keluarga mampu melakukan asuhan secara mandiri.

F. Evaluasi
Secara umum masalah teratasi sebagian. Hal ini disebabkan karena kontak sangat terbatas dan kesempatan untuk melakukan komunikasi secara interpersonal sangat kurang sehingga kualitas asuhan yang diberikan juga menjadi terbatas. Namun demikian hal itu sudah cukup membantu mengatasi masalah kklien.

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kanker serviks merupakan kanker terbanyak pada wanita. Kanker serviks enyebabnya tidak jelas namun diduga dipengruhi oleh : prilaku sek, personal higiene, lingkungan maupun pelayanan kesehatan.
Asuhan keperawatan pada klien yang menderita Suspek kanker serviks merupakan suatu bentuk asuhan keperawatan yang komprehensif dan unik tergantung dari fase dan derajat kanker yang ditemukan serta kondisi bio-psiko-sosial dari klien.
Diagnose dan tindakan yang muncul tidak sama pada setiap klien tergantung dari situasi dan keadaan individu saat kasus tersebut ditemukan.
Asuhan keperawatan yang dilakukan di poliklinik kandungan sangat waktu dan kualitasnya terbatas, sehingga diperlukan suatu teknik pendekatan skala prioritas agar masalah pokok bisa diatasi tanpa melupakan masalah yang lain

B. Saran
-Pemberian asuhan keperawatan keperawatan harus memperhatikan sumberdaya dan kesiapan mental yang dimiliki oleh klien untuk mencegah timbulnya masalah yang yang tidak diinginkan.
Perlu adanya pola pendekatan dengan model asuhan leperawatan yang benar dalam perawatan klien di poliklinik Kandungan RSUD Dr. Soetomo Surabaya.

DAFTAR PUSTAKA:


Brunner & Suddart,s (1996), Textbook of Medical Surgical Nursing –2, JB. Lippincot Company, Pholadelpia.

Klein. S (1997), A Book Midwives; The Hesperien Foundation, Berkeley, CA.

Lowdermilk. Perry. Bobak (1995), Maternity Nuring , Fifth Edition, Mosby Year Book, Philadelpia.

Prawirohardjo Sarwono ; EdiWiknjosastro H (1997), Ilmu Kandungan, Gramedia, Jakarta.

RSUD Dr. Soetomo (2001), Perawatan Kegawat daruratan Pada Ibu Hamil, FK. UNAIR, Surabaya

Subowo (1993), Imunologi Klinik, Angkasa, Bandung.

Tabrani Rab 9 1998), Agenda Gawat Darurat, Alumni, Bandung.
Read More

ASKEP TUBERKULOSIS PARU

di 10.03 Label: ASKEP KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH
Pengertian
Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis dengan gejala yang sangat bervariasi, kebanyakan menyerang striktur alveolar paru.


Penyebab
Mycobacterium yang bersifat tahan asam dan lebih tahan terhadap gangguan kimia dan fisik sifat kuman ini adalah aerob, bentuk batang dengan ukuran panjang 1 – 4 mili micron dan tebal 0, 3 – 0,6 mili micron. da dua jenis yaitu :
1. Mycobacterium tuberkulosis hominis, merupakan sebagian besar kasus TB.
2. Mycobacterium tuberkulosis bovis, TB orofaring dan intestinum.


Tanda dan Gejala
Tanda yang sering muncul adalah :
1. Batuk lebih dari 4 minggu.
2. Batuk berdahak, kadang-kadang bercampur darah.
3. Sakit kepala.
4. Nafsu makan menurun.
5. Berkeringat malam hari walaupun tanpa kegiatan.
6. Demam.
7. Berat badan menurun.
8. Gejala flu seperti demam, malaise kadang sesak napas.
9. Nyeri dada.

Patofisiologi
A. Tubercolosis Primer
Kuman TBC yang masuk melalui saluran pernafasan akan menetap di jaringan kemudian tumbuh dan berkembang dalam sitoplasma, makrofag kuman yang bersarang, primer. Efek primer ini selanjutnya akan menjadi :
1. sembuh sama sekali tanpa meninggalkan cacat pada jaringan


2. sembuh dengan sedikit bekas berupa garis-garis fibriotik dan pengapuran pada daerah hilus dan sarang shon.komplikasi menyebar secara
- perkuntionitas yaitu menyebar ke sekitarnya.
- Menyebar secara bronhogen pada paru yang bersangkutan dan menularkan paru sebelahnya.
- Secara limfogen dan hematogen ke organ tubuh lain.

B. Tuberculosis Post Primer
Dari TBC primer akan muncul bertahun-tahun lamanya menjadi TBC post Primer. Post Primer ini dimulai dengan sarang dini yang berlokasi di sebagian apical posterior atau inferior pada paru.

Klasifikasi Diagnostik
1. TB Paru
a. BTA mikroskopik langsung (+) atau biakan (+), kelainan foto toraks menyokong TB dan gejala klinis sesuai TB.
b. BTA (-) tapi kelainan foto thoraks dan klinis sesuai TB dan memberikan perbaikan pada pengobatan awal anti TB. Pasien ini memerlukan pengobatan adekuat.



2. TB Paru Tersangka
BTA (-), kelainan klinis dan rontgen sesuai TB paru,pengobatan dengan anti TB sudah bisa dimulai.
3. Bekas TB (tidak sakit)
Ada riwayat TB paru pada masa lalu dengan atau tanpa pengobatan. Foto thoraks normal atau abnormal, BTA (-).

Pemeriksaan Fisik
1. Inspeksi
 Bentuk dada normal / tidak, postur tubuh (klavikula terangkat).
 Pergerakan dinding dada simetris / tidak.
 Penggunaan otot bantu pernafasan.
 Ritme, sifat, frekuensi dan pola pernafasan.


2. Palpasi
☻ Keadaan kulit dada, nyeri tekan (+ / -).
☻ Tactil fremitus (+ / -).
3. Perkusi
 Tanda infiltrat (redup).
4. Auskultasi
Bunyi bronchial dan ronchi basah.

Penatalaksanaan
1. Obat Anti TB (OAT)
Pengobatan melalui 2 fase, yaitu ;
 Fase awal untuk memusnahkan populasi kuman yang membelah dengan cepat.
 Fase lanjutan, melalui kegiatan sterilisasi kuman pada jangka pengobatan pendek atau kegiatan bakteriostatik pada pengobatan konvensial.
OAT yang biasa digunakan : Isoniazid (INH), Ripamfisin (R), Pyrazinamide (Z), Streptomicin (S), Ethanbutol (E).

Panduan Obat Anti Tuberkulosis (WHO 1993)
Panduan OAT Klasifikasi dan Tipe Pasien Fase Awal Fase lanjutan
Kategori 1  BTA (+) baru.
 Sakit berat BTA (-) luar paru.  Tiap hari selama 2 bulan (HRZSE).
 Tiap hari selama 2 bulan (HRZSE).  Tiap hari selama 4 bulan (RH).
 3 x 1 minggu selama 4 bulan (RH).
Kategori 2  pengobatan ulang.
 Kambuh BTA (+).
 Gagal.  Tiap hari selama 2 / 1 bulan (RHZES).
 Tiap hari selama2 / 1 bulan (RHZES).  Tiap hari selama 5 bulan (RHE).
 3 x 1 minggu selama 5 bulan (RHE).
Kategori 3  TB paru BTA (-).
 TB luar paru.  Tiap hari selama 2 bulan (RHZ).
 Tiap hari selama 2 / 3 x 1 minggu (RHZ).
 Tiap hari selama 4 bulan (RH).
 3 x 1 minggu selama 4 bulan (RH).


2. Diet TKTP
3. Perhatikan lingkungan (Ventilasi, k/p isolasi).

Data Penunjang
1. Pemeriksan Laboratorium
 Darah rutin (LED normal atau meningkat, limfositosis).
 Sputum BTA (+ / -).

2. Pemeriksaan Diagnostik
Radiologi
Foto thoraks PA dan lateral. Gambaran foto thoraks yang menunjang :
 Bayangan lesi di lapangan atas paru atau segmen apikal lobus bawah.
 Bayangan berawan (patchy) atau bebercak (noduler).
 Adanya kavitas, tunggal atau ganda.
 Kalainan bilateral terutama dilapisan atas paru.
 Adanya kalsifikasi.
 Bayanganmenetap.
 Bayangan milier.

3. Tes mantoux / tuberculin




Sumber
Mansjoer Arif. 2003. Kapita Selecta Kedokteran. Jakarta : Media Aescuapius( adv)








ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA
Tn. R DENGAN MASALAH
TB PARU DI DESA BATU TANGGA KEC.BATANG ALAI TIMUR
KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH

A. PENGKAJIAN
I. Pengumpulan Data
Struktur dan sifat keluarga.
1. Kepala Keluarga
Nama : Tn. R
Umur : 45 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Suku Bangsa : Banjar/Indonesia
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Tani
Alamat : Desa Batu Tangga Kec.BAT.

2. Susunan Anggota Keluarga
No Nama Sex Umur Hubungan Pendidikan Pekerjaan
1
2
3 Ny. M
Tn. N
Ny. S P
L
P 40 th
29 th
25 th Istri
Anak
Menantu SD
SD
SD Tani
Tani
Tani










3. Genogram













Keterangan :
: Laki-laki

: Laki-laki meninggal

: Perempuan

: Perempuan meninggal

: Klien / anggota keluarga yang bermasalah.

: Serumah

: Hubungan keluarga



4. Tipe Keluarga
Merupakan type keluarga besar ( extended family ) yang terdiri atas ayah, ibu, satu orang anak dan menantu perempuan.

5. Pengambilan Keputusan
Pola pengambilan keputusan dalam keluarga dilakukan secara musyawarah, anggota keluarga yang paling menonjol dalam pengambilan keputusan adalah anak laki-laki Tn. R yang tinggal serumah.

6. Hubungan Dalam Keluarga
Hubungan antar keluarga harmonis, komunikasi yang terjalin dalam keluarga baik, anggota keluarga yang paling dipercaya adalah anak Tn. R yang tinggal serumah.

7. Kebiasaan Hidup Sehari-hari
a. Kebiasaan Istirahat dan Tidur
Nama Tidur siang Tidur malam
Tn. R
Tn. N
Ny. S Jarang
Jarang
 1 jam  6 – 7 jam
 7 - 8 jam
 7 - 8 jam



b. Kebiasaan Makan
Makanan pokok keluarga adalah nasi, lauk-pauk dgm frekwensi 3 x sehari. Pengadaan makanan sehari-hari adalah memasak sendiri dengan komposisi jenis makanan bervariasi, kebiasaan makan keluarga bersama-sama, tanpa ada alat makan yang dikhususkan untuk Tn. R



c. Personal Hygiene
Kebiasaan mandi keluarga Tn. R 2 x sehari dengan menggunakan sabun, gosok gigi 3 x /hari menggunakan pasta gigi. Ganti pakaian 2 x sehari atau bila kotor. Rambut dikeramas 2 - 3 x seminggu, memotong kuku bila panjang, mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, memakai alas kaki bila keluar rumah.

d. Penggunaan Waktu Senggang
Waktu senggang digunakan anggota keluarga untuk beristirahat dan rekreasi, sementara Tn. R sejak ia sakit  3 bulan yang lalu lebih banyak di rumah daripada bekerja.

e. Kebiasaan Tidak Sehat
Semua anggota keluarga Tn. R tidak ada yang merokok dan mengkonsumsi alkohol, sementara Tn. R sendiri berhenti merokok sejak ia sakit ( 3 bulan yang lalu). Kadang meludah disembarang tempat, dan tempat penampungan ludah yang terbuka.

8. Faktor Sosial, Ekonomi dan Budaya
a. Pendapatan dan pengeluaran
Pendapatan keluarga perbulan  Rp 350.00,-. Tidak ada penghasilan tambahan. Pengeluaran perbulan  Rp 300.000,- dengan keperluan perhari  Rp 10.000.





b. Sosial dan Budaya.
Semua anggota keluarga adalah suku Jawa (WNI) dengan menggunakan bahasa Jawa untuk komunikasi, semua anggoata keluarga beragama Islam, hubungan dengan masyarakat sekitar baik, sebelum sakit Tn. R aktif dalam kegiatan keagamaan, saat sakit Tn. R lebih banyak di rumah daripada mengikuti kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan.

9. Faktor Lingkungan
a. Perumahan
Status pemilikan rumah adalah rumah sendiri dengan type non permanen dengan 1 ruang tamu, ruang tengah, 2 kamar tidur dan 1 dapur tanpa WC dan kamar mandi, atap terdiri atas sirap, lantai dari papan, ventilasi terdiri atas 6 buah jendela namun 2 buah jendela jarang di buka yaitu pada kamar tamu dengan alasan orang tua jarang ada dirumah, penerangan listrik dan pencahayaan kurang baik, keadaan di dalam rumah cukup bersih, pemakaian air dari sumur gali cukup bersih, tidak berbau, tidak berasa serta jernih, sampah dikumpulkan disamping rumah kemudian dibakar, luas halaman  3 m2 x 5 m2.








Denah Rumah
Keterangan :
A : Dapur
B : Kamar tidur
C : Jendela
D : Pintu
E : Ruang tamu
F : Ruang tengah





b. Macam Lingkungan Tempat Tinggal
Letak tempat tinggal keluarga termasuk daerah pedesaan dekat perkebunan, lingkungan cukup tenang, disekitar tempat tinggal keluarga tidak ada pabrik atau industri kecil.

c. Fasilitas Sosial dan Fasilitas Kesehatan
Keluarga cukup aktif dalam kegiatan kemasyarakatan diwilayahnya seperti Yasinan, diwilayah tempat tinggal keluarga terdapat fasilitas kesehatan yaitu Puskesmas Batu Tangga yang berjarak  0,5 km.
Sarana tranportasi biasanya menggunakan sepeda motor atau sepeda atau angkutan pedesaan, keadaan jalan disekitar tempat tinggal beraspal dan dapat dilalui oleh kendaraan roda dua atau empat. Bila ada anggota keluarga yang sakit biasanya membeli obat sendiri atau ke petugas kesehatan (mantri) bila tidak berhasil baru dibawa ke puskesmas atau langsung ke RS.

9. Riwayat Kesehatan Anggota Keluarga
a. Tn. R
 setengah bulan yang lalu Tn. R datang ke Puskesmas dengan keluhan dada terasa sakit, keluhan nyeri dada dan batuk bercampur darah, Di Puskesmas Di berikan pengobatan symtom serta dimintai dahak sewaktu dan pulangnya Tn. R di berikan Pot Sputum untuk dibawa kembali ke Puskesmas ke esukan paginya ,
Th. R. mulai sakit-sakitan dengan keluhan batuk, dan dada terasa sakit, berkeringat dingin pada malam hari. -+
1 Bulan yang lalu , Sebelumnya Tn. R tidak pernah sakit, kecuali hanya pusing atau flu biasa. Berat badan menurun 10 kg dalam 3 bulan terakhir, Tn. R di diagnosa TB paru dengan data hasil rontgen dan laboratorium. Keadaan composmentis, berat badan sekarang 48 kg.

b. Ny. M
Tidak pernah sakit berat, tidak pernah dirawat di RS

c. Tn. N
Tidak pernah sakit berat, tidak pernah dirawat di RS

d. Ny. S
Tidak pernah sakit berat, tidak pernah dirawat di RS

B. ANALISA DATA
1. Tipologi Masalah Kesehatan
a. Ancaman kesehatan
1). Resiko penularan penyakit TB paru.
2). Sanitasi lingkungan rumah yang kurang memenuhi syarat kesehatan.

b. Tidak / Kurang Sehat.
1). Tn. R menderita penyakit TB paru

c. Krisis.

2. Mengidentifikasi Masalah
No Data Masalah Kesehatan Masalah keperawatan
1 - Keluarga mengetahui tentang cara penularan dan pencegahan penyakit TB paru
- Tn. R yang kadang-kadang meludah disembarang tempat dan tempat penampungan ludah yang terbuka,
- Tidak ada pengkhususan alat tenun dan alat makan. Resiko penularan penyakit TB paru.






1. KMK mengenal masalah resiko terjadinya penularan TB paru berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga tentang cara penularan dan pencegahannya.





2 - Batuk berdahak dan bercampur dahak.
- Berkeringat dingin malam hari.
- BB Tn. M turun 10 kg dalam 3 bulan terakhir.
- Hasil rontgen (+).
- Hasil laboratorium (+).
- Keluarga mengatakan tidak tahu akibat yang ditimbulkan oleh penyakit TB paru bila tidak di obati secara teratur.

- Keluarga mengatakan kurang mengetahui cara perawatan yang benar pada Tn. M
Tn.R menderita TB paru. 1. KMK mengenal masalah TB paru berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga tentang tanda dan gejala yang ditimbulkan.
2. KMK mengambil keputusan untuk berobat hubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga tentang akibat yang ditimbulkan oleh penyakit TB paru bila tidak diobati secara teratur
3. KMK merawat anggota keluarga yang sakit berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga tentang cara perawatan yang benar pada penderita TB paru

3 - Ventilasi rumah kurang.
- Keluarga menganggap lingkungannya sudah bersih.
- Keluarga kurang mengetahui syarat-syarat lingkungan yang sehat.
- Sanitasi lingkungan yang kurang memenuhi syarat kesehatan. 1. KMK mengenal masalah sanitasi lingkungan berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga tentang syarat-syarat sanitasi lingkungan yang sehat.

- Keluarga kurang mengerti tentang pentingnya lingkungan yang sehat.
1. KMK memodifikasi lingkungan berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga tentang cara memodifikasi lingkungan yang sehat.


3. Menentukan Prioritas Masalah

a. Resiko penularan penyakit TB paru.
No. Kriteria Perhit Score Pembenaran
1.



2.



3.



4. Sifat masalah :
Ancaman kesehatan


Kemungkinan masalah dapat diatasi dengan mudah

Potensial masalah dapat dicegah.


Menonjolnya masalah yang ada dan perlu segera ditangani 2/3 x 1



2/2 x 1



2/3 x 1



1 x 1
2/3



2



2/3



1 Penularan belum terjadi tapi resiko terjadinya penularan cukup besar.

Tn. R mau berobat dan mau mengikuti program P2 TB paru


Penularan dapat dicegah bila memenuhi syarat kesehatan dan pengetahuan yang cukup.

Keluarga kurang mengetahui kalau penyakit TB paru sangat menular.
Total score 4 1/3







b. Tn. R menderita penyakit TB paru.

No. Kriteria Perhit Score Pembenaran
1.



2.


3.


4. Sifat masalah :
Tidak / kurang sehat


Kemungkinan masalah dapat diubah sebagian.

Potensial masalah dapat dicegah..

Menonjolnya masalah berat dan harus di tangani. 3/3 x 1



1/2 x 2


1/3 x 1


2/2 x 1
3/3



1


1/3


2/2 Masalah sudah terjadi, harus segera ditanggulangi agar tidak bertambah parah.

Keluarga mau mengikuti saran untuk berobat teratur

Masalah telah terjadi


Keluarga mengatakan bahwa Tn.R harus segera diobati

Total score 3 1/3

c. Sanitasi lingkungan yang kurang memenuhi syarat kesehatan.
No. Kriteria Perhit Score Pembenaran
1.


2.




3.




Sifat masalah :
Ancaman kesehatan

Kemungkinan masalah dapat diubah sebagian.


Potensial masalah dapat dicegah cukup.


2/3 x 1


1/2 x 2




2/3 x 1

2/3


1




2/3


0 Keluarga tinggal dalam sanitasi lingkungan yang kurang sehat.

Keluarga beranggapan bahwa lingkungannya sudah bersih tapi ada kemauan untuk mengetahui lingkungan yang sehat

Keluarga mau / ingin tahu tentang lingkungan yang sehat.





4




Masalah tidak dirasakan keluarga.




0/2 x 1





Keluarga beranggapan bahwa lingkungannya sudah bersih
Total score 2 1/3


4. Urutan masalah

a. Resiko penularan penyakit TB paru
b. Tn. R menderita penyakit TB paru.
c. Sanitasi lingkungan yang kurang memenuhi syarat kesehatan.








RENCANA KEPERAWATAN
Nama KK : Tn. R
Alamat : Desa Batu Tangga Kec.Batang Alai Timur
No.
Masalah
Kesehatan Masalah Keperawatan Tujuan Evaluasi Intervensi
Jangka panjang Jangka pendek Kriteria Standar
1. Resiko terjadinya penularan penyakit TB paru. KMK mengenal masalah resiko terjadinya penularan penyakit TB paru berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga tentang cara penularan dari penyakit TB paru dan cara pencegahannya.













Keluarga mampu mengenal masalah resiko terjadinya penularan.



















Setelah kunjungan 1 x 45 menit keluarga mampu menjelaskan cara penularan penyakit TB paru dan cara pencegahannya.










Respon verbal keluarga




























Cara penularan ada dua yaitu :
- Langsung
Percikan ludah/cairan hidung berpindah sewaktu berbicara berhadapan/bersin.
- Tidak langsung
Bila klien meludah disembarang tempat kemudian kering dan kuman diterbangkan oleh angin bersama debu yang dihirup oleh orang sehat.

Cara pencegahan :
- Imunisasi BCG pada bayi.
- Meningkatkan daya tahan tubuh dengan makanan yang bergizi.
- Mengobati anggota keluarga yang sakit sampai tuntas.
- Menghindari kontak dengan kuman TB, misalnya menghindari percikan ludah.
1. Kaji pengetahuan keluarga tentang cara penularan dan pencegahan TB paru.
2. Berikan leaflet tentang TB paru
3. Diskusikan dengan keluarga dengan menggunakan leaflet tentang proses penularan TB paru.
4. Diskusikan dengan keluarga tentang cara pencegahan penyakit TB paru.
5. Motivasi keluarga untuk menjelaskan kembali tentang proses penularan dan pencegahannya.
6. Berikan pujian kepada keluarga atas kemampuannya menjelaskan kembali.



2. Tn. R menderita penyakit TB paru. KMK mengenal masalah TB paru berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga tentang tanda dan gejala yang ditimbulkan Keluarga mampu mengenal tanda dan gejala penyakit TB paru.
Setelah kunjungan 1 x 45 menit keluarga mampu menjelaskan tanda dan gejala penyakit TB paru. Respon verbal keluarga Tanda dan gejala penyakit TB paru :
- Batuk tidak sembuh selama 4 minggu.
- Batuk berdahak dan campur darah.
- Demam.
- Berkeringat pada malam hari.
- Sesak nafas.
- Nafsu makan menurun.
- Sakit kepala.
- Berat badan berkurang.



1. Kaji pengetahuan keluarga tentang tanda dan gejala penyakit TB paru.
2. Diskusikan bersama keluarga tanda dan gejala penyakit TB paru sesuai standar.
3. Motivasi keluarga untuk menjelaskan kembali.
4. Berikan pujian atas kemampuannya menjelaskan kembali.


KMK mengambil keputusan untuk berobat secara teratur berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga tentang akibat yang ditimbulkan oleh penyakit TB paru bila tidak diobati secara teratur. Keluarga yang bermasalah mau berobat secara teratur. Keluarga mengetahui akibat yang ditimbulkan bila pengobatan tidak teratur. Respon verbal keluarga. Akibat yang ditimbulkan bila pengobatan tidak teratur :
- Kuman jadi resisten.
- Lebih sulit untuk mengobatinya.
- Lebih lama pengobatannya.
- Gejala mungkin hilang sementara waktu.
1. Kaji pengetahuan keluarga tentang akibat yang ditimbulkan bila pengobatan tidak teratur.
2. Diskusikan akibat yang ditimbulkan bersama keluarga sesuai standar.
3. Motivasi keluarga untuk menjelaskan kembali.
4. Berikan pujian atas kemampuannya menjelaskan kembali.

KMK merawat anggota keluarga yang sakit berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga tentang cara perawatan yang benar pada penderita TB paru. Keluarga mampu merawat anggota yang sakit secara benar. Setelah kunjungan 1 x 45 menit keluarga mampu menjelaskan cara perawatan yang benar pada Tn. M Respon Vebal keluarga. Cara perawatan yang benar :
- Makanan yang bergizi.
- Lingkungan rumah yang bersih.
- Sinar matahari masuk ke dalam rumah.
- Menjemur kasur minimal sekali seminggu.
- Alat-alat makan di pisahkan.
- Bila sesak posisi semi fowler. 1. Kaji pengetahuan keluarga tentang cara perawatan yang benar.
2. Diskusikan bersama keluarga cara perawatan yang benar sesuai standar.
3. Motivasi keluarga untuk menjelaskan kembali.
4. berikan pujian atas kemampuannya menjelaskan kembali.
3 Sanitasi lingkungan yang kurang memenuhi syarat kesehatan KMK mengenal masalah sanitasi lingkungan rumah yang baik berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga tentang syarat-syarat sanitasi lingkungan yang baik / sehat.
Keluarga mampu mengenal masalah sanitasi lingkungan yang baik/sehat Setelah kujungan 1 x 45 menit keluarga mampu menjelaskan ciri-ciri lingkungan yang baik/sehat. Respon verbal keluarga. Sanitasi lingkungan yang sehat :
- Pencahayaan 15-20% dari luas lantai.
- Ventilasi 10-15% dari luas lantai.
- Jarak jamban dan sumur tidak kurang dari 10 meter.
- Mempunyai tempat pembuangan sampah. 1. Kaji pengetahuan keluarga tentang lingkungan yang sehat.
2. Diskusikan bersama keluarga tentang lingkungan yang bersih/sehat sesuai standar.
3. Motivasi keluarga untuk menjelaskan kembali.
4. Berikan pujian atas kemampuannya menjelaskan kembali.
KMK memodifikasi lingkungan yang dapat mempengaruhi kesehatan berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga tentang cara menciptakan lingkungan yang sehat. Keluarga mampu memodifikasi lingkungan yang dapat mempengaruhi kesehatan. Setelah kunjungan 1 x 45 menit keluarga mampu menjelaskan cara menciptakan lingkungan yang sehat. Respon verbal keluarga. Lingkungan rumah yang sehat :
- Cukup uadara yang masuk dan keluar.
- Cukup sinar matahari yang masuk.
- Bersih dan teratur.
- Kasur dijemur minimal 1 x/minggu.
- Mempunyai tempat pembuangan sampah
- Mempunyai jamban keluarga. 1. Kaji pengetahuan keluarga tentang cara memodifikasi lingkungan yang sehat.
2. Diskusikan bersama keluarga cara memodifikasi lingkungan yang dapat mempengaruhi kesehatan.
3. Motivasi keluarga untuk menjelaskan kembali.
4. Berikan pujian atas kemapuannya menjelaskan kembali






CATATAN KEPERAWATAN
Nama KK : Tn. R
Alamat : Desa Batu Tangga Kec.Batang Alai Timur
No Tanggal Diagnosa keperawatan Implementasi Evaluasi
1










15 Sep 2004.










I










1. Mengkaji pengetahuan keluarga tentang cara penularan dan pencegahan TB paru.
2. Memberikan leaflet tentang TB paru
3. Mendiskusikan dengan keluarga dengan menggunakan leaflet tentang proses penularan TB paru.
4. Mendiskusikan dengan keluarga tentang cara pencegahan penyakit TB paru.
5. Memotivasi keluarga untuk menjelaskan kembali tentang proses penularan dan pencegahannya.
6. Memberikan pujian kepada keluarga atas kemampuannya menjelaskan kembali.









Keluarga paham dan mampu menjelaskan kembali tentang cara penularan dan pencegahan penyakit TB paru.







2 15 Sep 2004 II 1. Mengkaji pengetahuan keluarga tentang tanda dan gejala penyakit TB paru.
2. Mendiskusikan bersama keluarga tanda dan gejala penyakit TB paru sesuai standar.
3. Memotivasi keluarga untuk menjelaskan kembali.
4. Memberikan pujian atas kemampuannya menjelaskan kembali.
Keluarga paham dan mampu menjelaskan kembali tentang tanda dan gejala penyakit TB paru.



3 15 Sep 2004 III 1. Kaji pengetahuan keluarga tentang akibat yang ditimbulkan bila pengobatan tidak teratur.
2. Diskusikan akibat yang ditimbulkan bersama keluarga sesuai standar.
3. Motivasi keluarga untuk menjelaskan kembali.
4. Berikan pujian atas kemampuannya menjelaskan kembali.

















Keluarga paham dan mampu menjelaskan kembali tentang akibat yang ditimbulkan bila pengobatan tidak teratur atau tidak tuntas.
4 15 Sep 2004 IV 1. Mengkaji pengetahuan keluarga tentang cara perawatan yang benar.
2. Mendiskusikan bersama keluarga cara perawatan yang benar sesuai standar.
3. Memotivasi keluarga untuk menjelaskan kembali.
4. Memberikan pujian atas kemampuannya menjelaskan kembali











Keluarga paham dan mampu menjelaskan kembali tentang cara perawatan yang baik/benar
5 15 Sep 2004 V 1. Mengkaji pengetahuan keluarga tentang lingkungan yang sehat.
2. Mendiskusikan bersama keluarga tentang lingkungan yang bersih/sehat sesuai standar.
3. Memotivasi keluarga untuk menjelaskan kembali.
4. Memberikan pujian atas kemampuannya menjelaskan kembali.






Keluarga paham dan mampu menjelaskan kembali tentang ciri lingkungan yang sehat.
6 15 Sep 2004 VI 1. Mengkaji pengetahuan keluarga tentang cara memodifikasi lingkungan yang sehat.
2. Mendiskusikan bersama keluarga cara memodifikasi lingkungan yang dapat mempengaruhi kesehatan.
3. Memotivasi keluarga untuk menjelaskan kembali.
4. Memberikan pujian atas kemampuannya menjelaskan kembali.











Keluarga paham dan mampu menjelaskan kembali tentang cara memodifikasi lingkungan yang dapat mempengaruhi kesehatan.
Read More

ASKEP ASMA BRONKHIALE

di 10.02 Label: ASKEP KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH
A. PENGERTIAN

Asthma berasal dari bahasa Yunani yang berarti terengah-engah dan berarti serangan nafas pendek. Asthma adalah penyakit jalan nafas yang terjadi karena spasme bronchus, disebabkan oleh berbagai penyebab. (Sylvia.A.Price,1995).

Beberapa pengertian lain dari asthma adalah penyakit paru dengan ciri khas yakni saluran nafas sangat mudah bereaksi terhadap berbagai rangsangan atau pencetus dengan manifestasi berupa sesak nafas.

Asthma dapat dibagi dalam tiga kategori, yaitu :

1. Asthma Alergika atau asthma ekstrinsik
Ditemukan pada sebagian kecil pasien dewasa dan disebabkan oleh alergan yang diketahui. Astma jenis ini biasanya dimulai pada masa kanak-kanak dengan riwayat keluarga yang mempunyai penyakit atopik, contoh : demam jerami, eksema , dermatitis, dan asma sendiri.

2. Astmha Idiopatik atau asthma intrinsic
Asthma jenis ini lebih sering ditemukan pada usia 40 tahun keatas , dengan serangan yang timbul sesudah infeksi sinus hidung atau percabangan trakheo bronkhial . Makin lama serangan makin sering dan makin hebat, sehingga keadaan ini akhirnya berkelanjutan menjadi bronchitis kronikdan kadang-kadang emfisema.

3. Asthma Campuran.
Merupakan bentuk yang paling sering menyerang pasien . Asthma jenis ini terdiri dari komponen-komponen kedua macam asthma diatas. Kebanyakan pasien dengan asthma intrinsic akan berlanjut menjadi bentuk campuran.


B. ETIOLOGI

1. Asthma Alergika .
Disebabkan karena hypersensitivitas individu terhadap alergen, biasanya protein, dalam bentuk serbuk sari yang dihirup, bulu halus binatang, kain pembalut atau yang lebih jarang terhadap makanan seperti susu atau cokelat.

2. Asthma Idiopatik
Sering tidak ditemukan penyebab yang jelas baik penyebab utama maupun faktor pencetus. Faktor-faktor non spesifik seperti flu biasa, latihan fisik,atau emosi dapat memicu serangan asthma.

3. Asthma Campuran .
Penyebab sering terdiri dari komponen asthma intrinsik dan ekstrinsik.
C. PATOFISIOLOGI.


ASTHMA INTRINSIK




Respon saraf


Parasimpatik simpatik



Mengeluarkan asetil kolin Sel Mast



Menstimulus alfa adrenergik di
Bronchus.



Bronkhokontriksi




Bronkhospasme




ASTHMA







1. Asthma Idiopatik ( Intrinsik ).
Faktor-faktor idiopatik ( Nonspesifik ) direspon oleh saraf parasimpatik dan simpatik. Parasimpatik kemudian merangsang reseptor didaerah trakheo bronkhiale sehingga mengeluarkan asetil kolin secara berlebihan dan mengakibatkan bronkhokontriksi yang pada akhirnya akan terjadi bronkho spasme. Saraf simpatik akan merangsang sel mast kdan seterusnya menstimulus alfa adrenergik di bronchus yang mengakibatkan bronkhokontriksi dan pada akhirnya akan terjadi bronkho spasme.


















































2. Asthma Alergik (Ekstrensik )
Ketika suatu alergen ( debu,rokok,spora,dll ) masuk kedalam reseptor di daerah trakheo bronkhiale maka akan terjadi reaksi hypersensitivitas terhadap alergen yang kemudian merangsang limfosit B dan Sel Plasma memproduksi anti bodi Ig E yang meenyerang sel Mast dan basofil di dinding bronchiale . Yang kemuadian melepas histamin, prostaglandin dan bradikinin yang berakibat kontraksi otot polos bronkhiale dan peningkatan permeabilitas vaskuler sehingga menimbulkan edema mukosa dan terjadilah bronkhospasme .


3. Asthma Campuran
Patofisiologinya bisa seperti asmha alergik atau asmha ekstrinsik. Tergantuk dari factor pencetus yang lebih dominan. ( Sylvia.A . Price, 1995).

Mekanisme Asthma hingga terjadinya hypoksemia :

Serangan faKtor pemcetus/penyebab menyebabkan pohon bronkhiale hiper aktif sehingga terjadi bronkhospasme atau penyempitan jalan nafas. Mekanisme pertahanan tubuh kemudian berupaya meningkatkan kerja pernafasan, terjadi peningkatan kebutuhan akan O2 dengan manifestsi takikardi,takhipnea dan gelisah. Akibat lain dari peningkatan kerja alat pernafawsan adalah peningkatan pengeluaran air ( sebagai penguapan inhalasi ) dan penurunan pemasukan oral sehingga menimbulkan plak pada mukosa dan alveoli dan akibatnya akan terjadi atelektasi yang pada akhirnya akan terjadi hypoksemia.

Serangan asthma dapat berlangsung beberapa menit sampai beberapa jam di ikuti dengan batuk produktif yang banyak mengandung sputum berwarna keputih-putihan.

Dengan adanya sumbatan/ penyempitan lumen bbronkhus, klien berusaha memaksakan udara keluar ( ekspirasi ), sehingga akan timbul wheezing/ mengi dan ekspirasi memanjang yang merupakan cirri khas asthma.



D. TANDA DAN GEJALA.

1. Dyspnea
2. Bunyi nafas wheezing / mengi.
3. Ekspirasi yang memanjang.
4. Batuk – batuk disertai sputum kental
5. Tachicardi
6. Gelisah
7. Berkeringat
8. Cyanosis bibir dan kuku
9. Penggunaan otot bantu pernafasan

E. INTERVENSI MEDIS.

1. Faktor pencetus sedapat mungkin dihilangkan.
2. Serangan ringan berikan adrenalin injeksi 1:1000/0,2-0,3 ml subkutan, dapat diulang beberapa kali dengan interval 10-15 mnt. Dosis pada anak 0,01 mg/kg BB yang dapat di ulang.
3. Bronkhodilator terpilih adalah teofilin 3 x 100-150 mg pada orang dewasa dan 10 – 15 /kg BB/ hari untuk anak.
4. Pilihan lain : salbutamol 3 x 2-4 untuk dewasa.
5. Efedrin 3 x 10 – 15 mg dapat di pakai untuk menambah khasiat teofilin.
6. Prednison hanya dibutuhkan bila obat-obat di atas tidak menolong dan diberikan beberapa hari saja.
7. Pada serangan asthma berat pemberian oksigen sangat penting dan disesuaikan dengan kebutuhan .





F. DAFTAR PUSTAKA.


1. Anonim, , Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas, 1992. Depkes RI. Jakarta.
2. Doenges, E. Marylin. Nursing Care Plan ( Terjemahan ), 1999. EGC. Jakarta.
3. Ngastiyah ,, Perawatan Anak Sakit, 1997. EGC. Jakarta.
4. Price, A. Sylvia. Patofisiologi (Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit),Edisi 4, Buku II,1995. EGC. Jakarta.

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
PASIEN DENGAN ASTHMA BRONKHIALE


PENGKAJIAN.

1. Aktivitas dan Istirahat
Gejala : • Keletihan , kelelahan , malaise.
• Ketidak mampuan untuk melakunan aktivitas sehari-hari karena sulit bernafas
• Ketidakmampuan untuk tidur , perlu tidur dalam posisi tinggi.
• Dyspnea pada saat istirahat atau respon terhadap aktifitas atau latihan.
Tanda : • Keletihan , gelisah, insomnia, kelemahan umum, atau kehilangan massa otot.

2. Sirkulasi
Gejala : • Pembengkakan pada ekstremitas bawah.
Tanda : • Peningkatan TD , peningkatan frekwensi jantung/ takhikardia berat,disritmia.
• Distensi Vena leher ( penyakit berat).
• Edema dependen, tidak berhubungan dengan penyakit jantung.
• Bunyi jantung redup ( yang berhubungan dengan peningkatan diameter AP dada.)
• Warna kulit / membran mukosa normal atau abu-abu/ sianosis, kuku tabuh sdan sianosis perifer.
• Pucat dapat menunjukkan anemia.


3. Integritas Ego
Gejala : • Peningkatan faktor resiko.
• Perubahan Pola hidup
Tanda : • Ansietas , ketakutan, peka rangsang.

4. Makanan / Cairan
Gejala : • Mual / Muntah.
• Nafsu makan buruk / anoreksia .
• Ketidakmampuan untuk makan karena distress pernafasan.
• Penurunan berat badan menetap.
• Peningkatan berat badan menunjukan edema.

Tanda : • Turgor kulit buruk.
• Edema dependen.
• Berkeringat.
• Penurunan berat badan, penurunan massa otot/lemak sub kutan.
• Palpitasi abdominal dapat menyatakan hepatomegali.


5. H y g i e n e
Gejala : • Penurunan kemampuan / peningkatan kebutuhan bantuan melakukan aktivitas sehari-hari.
Tanda : • Kebersihan buruk dan bau badan meningkat.

6. Pernafasan.
Gejala : • Nafas pendek khususnya pada saat kerja/ cuaca.
• Episode berulangnya sulit nafas; ketidakmampuan untuk bernafas.
• Batuk denganm produksi sputum banyak dan kental.
• Faktor keluarga dan keturunan.
• Penggunaan oksigen pada malam hari atau terus menerus.

Tanda : • Pernafasan biasanya cepat, fase ekspirasi memanjang.
• Penggunaan otot Bantu pernafasan; misal : maninggikan bahu , retraksi fosa supra klavikula.
• Dada dapat terlihat hyper inflasi dengan peningkatan diameter AP ( bentuk Barrel ) ; gerakan diafragma minimal.
• Bunyi nafas: ronkhi, menggi sepanjang area paru pada ekspirasi.
• Kesulitan mengucapkan sebuah kalimat atau lebih dari 4-5 kata sekaligus.

7. Keamanan
Gejala : • Riwayat reaksi alergi atau sensitive terhadap zat / factor lingkungan; kemerahan / berkeringat.
8. Seksualitas
Gejala : • Penurunan Libido.

9. Interaksi sosial
Gejala : • Hubungan ketergantungan.
• Kurang sistem pendukung.
• Kegagalan dukungan dari / terhadap pasangan / orang terdekat.
• Penyakit lama atau ketidakmampuan membaik.

Tanda : • ketidakmampuan untuk membuat atau mempertahankan suara karena distress pernafasan.
• keterbaatasan moilitas fisik.
• Kelalaian hubungan dengan orang lain.

10. Penyuluhan / pembelajaran :
Gejala : • Penggunaan / penyalahgunaan obat pernafasan.
• kesulitan menghentikan merokok.
• kegagalan untuk membaik.


PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK.

a. Sinar X thorak : • Hasil normal selama periode remisi.
b. Tes Fungsi Paru : • Untuk menentukan penyebab dyspnea.
• Untuk meenentukan apakah fungsi abnormal adalah obstruksi atau retriksi, untuk memperkirakan derajat disfungsi dan untuk mengevaluasi efek terapi, misalnya bronkhodilator.
c. Volume Residu : • Meningkat pada asthma.
d. G D A : • Memperkirtakan progresi proses penyakit kronis, misalnya paling sering Pa O2 dan Pa CO2 menurun pada asthma.
e. Bronkhogram : • Dapat menunjukan dilatasi silindris bronchus pada inspirasi.
f. JDL dan Diff. : • Peningkatan eosinofil.
g. Sputum : • Kultur untuk menentukan adanya infeksi kearah patogen, pemeriksaan sitolitik untuk menggetahui kegganasan atau alergi.
h. EKG : • Deviasi aksis kanan, peninggian gelombang P.
i. EKG latihan : • Membantu dalam mengkaji derajat disfungsi paru, mengevaluasi keefektifan terapi bronkhodilator.
• Perencanaan dan evaluasi program latihan.


DIAGNOSA KEPERAWATAN.

1. Bersihan jalan nafas tidak efektif.
Dapat dihubungkan dengan :
• Bronkhospasme .
• Peningkatan produksi secret, sekresi tertahan,tebal,sekresi kental.

Kemungkinan dibuktikan oleh :
• Pernyataan sulit bernafas .
• Perubahan kedalaman,kecepatan pernafasan, penggunaan otot aksesori.
• Bunyi nafas tidak normal , mis : mengi, ronkhi, krekels.
• Batuk ( menetap ) dengan/ tanpa produksi sputum.

 Tujuan jangka panjang : Jalan nafas efektif.
Tujuan jangka pendek : • Suara nafas terdengar bersih.
• Pasien dengan batuk epektif dapat mengeluarkan sputum
• Respirasi rate 16-24 x/ mnt.

 Rencana Tindakan.
1. Auskultasi bunyi nafas, catat adanya bunyi nafas, mis : mengi, ronchi, krekels.
2. Kaji / Pantau frekwensi pernafasan catat rasio inspirasi/ ekspirasi.
3. Kaji pasien untukposisi yang nyaman, mis : peniggian kepala tempat tidur, duduk pada sandaran tempat tidur.
4. Pertahankan Polusi lingkungan seminimal mungkin, mis : debu, asap, dan bulu bantal yang berhubungan dengan kondisi individu.
5. Tingkatkan masukan cairan saampai 3000 ml / hari sesuai toleransi jantung, terutama air hangat, anjurkan masukan cairan antara, sebagai pengganti makan.
6. Berikan obat sesuai indikasi ( bronkhodilator, steroid, analgesik, anti tusif, humidifikasi tambahan ).

 Rasionalisasi :
1. Beberapa derajat spasme bronchus terjadi dengan obstruksi jalan nafas dan dapat/ tak dimanifestasikan adanya bunyi nafas adventisius. Mis : tak adanya bunyi nafas ( pada asma berat ).
2. Takipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat ditemukan pada penerimaan atau selama stress. Pernafasan dapat melambat dan frekwensi ekspirasi memanjang di banding inspirasi.
3. Peningian kepala tempat tidur mempermudah fungsi pernafasan dengan mengggunakan gravitasi, serta membantu menurunkan kelemahan otot dan dapat sebagai alat ekspansi dada.
4. Pencetus tipe reaksi allergi pernafasan yang dapat mentriger episode akut.
5. Hidrasi mmembantu menurunkan kekkentalan secret dan mempermudah pengeluarannya. Penggunaan air hangat dapat menurunkan spasme bronchus. Cairan Selama maakan dapat meningkatkan distensi gaster dan tekanan pada diafragma.
6. Bronkhodilator merileksasi otot halus dan menutunkan kongesti local, menurunkan spasme jalan nafas, mengi dan produksi mukosa ; steroid/ kortikosteroid digunakan untuk mencegah reaksi alergi / menghambat pengeluaran histamin, menurunkan berat dan frekwensi spasme jalan nafas, inflamasi pernafasan dan dyspnea . Analgesik ,antiitusif : batuk menetap yang melelahkan perlu ditekan untuk menghemat enrgi dan memungkinkan pasien istirahat. Humidifikasi tambahan : kelembaban menurunkan kekentalan secret memppermudahh pengeluaran dan dapat membantu menurunkan / mencegah pembentukan mukosa tebal pada bronkhus.

 Kriteria Evaluasi :
a). Mempertahaankan jalan nafas paten dengan bunyi nafas bersih dan jelas.
b) Menunjukan prilaku untuk memperbaiki bersihan jalan nafas, misalnya : batuk efektif dan mengeluarkan sekret.

2. Nutrisi , perubahan , intake nutrisi kurang dari kebutuhan
Dapat dihubungkan dengan :
• Dispepsia
• Kelemahan
• Efek samping obat
• Produksi sputum
• Anoreksia, mual / muntah

Kemungkinan dibuktikan oleh :
• Penurunan berat badan
• Kehilangan massa otot, tonus otot buruk
• Kelemahan
• Mengeluh gangguan sensasi pengecap
• Keengganan untuk makan, kurang tertarik pada makanan

 Tujuan jangka panjang : Kebutuhan nutrisi terpenuhi.
Tujuan jangka pendek : • Klien menujunkan peningkatan berat badan 0,5 kg perminggu
• Klien menunjukan perubahan pola makan untuk meningkatkan dan mempertahankan berat badan.
• Klien dapat menghabiskan porsi makanan yang disajikan.

 Rencana Tindakan.
1. Kaji kebiasaan diet, masukan makanan saat ini catat derajat kesulitan makan, evaluasi BB dan ukuran tubuh.
2. Hindari makanan penghasil gas dan minuman karbonat.
3. Hindari makanan yang sangat panas atau sangat dingin.
4. Dorong periode istirahat 1 jam sebelum dan sesudah makan.
5. Berikan makan dengan porsi kecil tapi sering.

 Rasionalisasi.
1. Klien distress pernafasan akut sering anoreksia karena dyspnea, produksi sputum dan obat. Selain itu klien dengan asthma mempunyai kebiasaan makan yang buruk.
2. Dapat menyebabkan distensi abdomen yang mengganggu nafas abdomen dan gerakan diafragma serta dapat meningkatkan diafragma.
3. Suhu ekstrem dapat mencetuskan/meningkatkan spasme batuk.
4. Membantu menurunkan kelemahan selama waktu makan dan memberikan kesempatan untuk meningkatkan masukan kalori total.

3. Kurangnya pengetahuan tentang penyakit dan pengobatan.
• Dapat dihubungkan dengan :
• Kurangnya informasi.
• Mis interpretasi informasi.
• Kurangnya pengulangan informasi.
• Kemungkinan dibuktikan oleh :
• Permintaan pemberian informasi.
• Pernyataan ke khawatiran.
• Ketidak akuratan dalam mengikuti instruksi.
• Terjadinya komplikasi yang dapat dicegah.


 Tujuan jangka panjang : Pengetahuan Pasien tentang hal-hal yang berkaitan dengan penyakitnya meningkat.
Tujuan Jangka Pendek : • Pasien menyatakan pemahaman akan kondisi / proses penyakit dan pengobatannya.
• Pasien menyatakan pemahaman akan kondisi/proses penyakit dan pengobatannya .
• Pasien menggidentifikasi hubungan tanda-tanda/gejala dengan proses penyakit dan hubungannya dengan factor penyebab.
• Pasien memulai perubahan gaya hidup dan ikut serta dalam tindakan pengobatan.

 Rencana Tindakan.
1. Terangkan / ulangi penjelasan tentang proses penyakit. Dorong pasien dan keluarga untuk bertanya tentang hal-hal yang belum jelas
2. Jelaskan rasionalisasi dari latihan pernafasan sebagai latihan yang baik untuk diteruskan.
3. Diskusikan obnat-obatan pernafasan yang digunakan, efek samping serta reaksi yang mungkin timbul.
4. Diskusikan factor-faktor yang dapat memperbaiki kondisi pasien seperti udara lembab, angin ,temperatur lingkungan yang ekstrim, asap rokok, aerosol, polusi udara.
5. Berikan informasi tentang bahanya merokok pada paru-paru dan anjurkan pasien untuk tidak merokok.
6. Dorong pasien / keluarga untuk mengeksplorasi cara-cara mengontrol factor penyebab yang dapat memperburuk kondisi pasien didalam dan disekitar rumah.

 Rasionalisasi.
1. Menurunkan ansietas dan dapat menimbulkan perbaikan partisipasi pada rencana pengobatan.
2. Nafas bibir dan nafas abdominal / diafragmatik menguatkan otot pernafasan, membantu meminimalkan kolaps jalan nafas kecil, dan memberikan individu arti untuk mengontrol dyspnea. Latihan kondisi umum meningkatkan toleransi umum meningkatkan toleransi aktivitas, kekuatan otot dan rasa sehat.
3. Pasien sering mendapat obat pernafasan banyak sekaligus yang mempunyai efek samping hampir sama dan potensial terjadi interaksi obat yang patologis. Penting bagi pasien untuk memahami perbedaan antara efek samping mengganggu ( obat dilanjutkan ) dan efek samping merugikan (obat mungkin diganti / dihentikan ).
4. Faktor lingkungan ini dapat memperburuk / menimbulkan /meninggalkan iritasi bronchial menimbulkan peningkatan produksi secret dan hambatan jalan nafas.
5. Penghentian merokok dapat menghambat / mengurangi keparahan asthma.
6. Agar dapat meminimalisasi / menggurangi invasi dari factor penyebab yang dapat memperburuk kondisi pasien.


 Kriteria Evaluasi.
a.) Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman kondisi / proses penyakit dan tindakan.
b) Mengidentifikasi hubungan tanda / gejala yang ada dari proses penyakit dan menghubungkan dengan factor penyebab.
c) Melakukan perubahan pola hidup dan berpartisipasi dalam program pengobatan.



















ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN DENGAN ASTMA BRONCHIALE



3. PENGKAJIAN
I. BIODATA.
A. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn, Jimmy.
Umur : 15 th.
Jenis kelamin : Laki-laki
Pendidikan : Pelajar Pesantren Al – Falah Putera.
Agama : Islam.
Suku / Bangsa : Banjar / Indonesia.
Status perkawinan : Belum kawin.
Alamat : Jl, A. Yani. Landasan Ulin.
Tgl masuk RS / Pusk : 15 – 10 – 2001.
Tgl pengkajian : 16 – 10 – 2001.
Nomor register : 16 18 60
Dignosa medis : Astma Bronchiale


B. IDENTITAS PENANGGUNG JAWAB.
Nama : Tn, As’ari Saleh.
Umur : 37 th.
Jenis kelamin : Laki-laki.
Pendidikan : SLTP
Pekerjaan : Swasta.
Agama : Islam
Alamat : Ds. Palingkau Baru. Kapuas. Kal – Teng.


II. RIWAYAT PENYAKIT.
A. Keluhan utama.
Sesak nafas, disertai batuk yang berdahak.

B. Riwayat penyakit sekarang.
Sesak nafas dirasakan pasien mulai tanggal 15-10-2001 pagi hari sehabis hujan yang lebat. Oleh teman 1 kamar pasien ia diberi obat Asmasoho 1 tab dan sesak mulai berkurang. Kemudian psien mandi, tiba-tiba sesaknya makin parah. Oleh teman-temannya pasien dibawa ke RSU Banjarbaru untuk berobat. Sedangkan batuk sudah dirasakan hari kamis tanggal 11-10-2001, namun tidak mengganggu aktivitas pasien sehari- hari.

C. Riwayat penyakit terdahulu.
Sebelumnya pasien sudah pernah mengidap penyakit astma sejak usia 8 tahun. Sering kambuh bila cuaca dingin dan akan sembuh setelah minum obat Aminophilin tab ½ tab s/d 1 tab. Belum pernah dirawat di RS dengan keluhan Astma atau keluhan penyakit lain.

III. PEMERIKSAAN FISIK.
A. Keadaan umum.
Kesadaran : komposmentis.
Vital sign • TD : 100 / 70 mmhg • Temp : 36º C
• Nadi : 100 x / mt • Resp : 32 x / mt.
B. Kulit.
• Elastisitas kulit baik, turgor cepat kembali. Kebersihan kulit terawat baik.
• Kelembaban kulit cukup, tampak adanya cyanosis perifer.
• Hemangioma (-). Lesi (-). Kelainan kulit (-).

C. Kepala.
• Bentuk kepala simetris, distribusi rambut merata.
• Kulit kepala bersih, tidak tampak adanya kotoran / ketombe.
• Warna rambut hitam pekat.

D. Penglihatan.
• Bentuk mata simetris. Sekresi air mata (+).
• Gerakan bola mata simetris, refleks terhadap cahaya (+).
• Konjungtiva pucat, sklera tampak kemerahan.

E. Penciuman & Hidung.
• Bentuk hidung simetris.
• Pernafasan cuping hidung (+), terpasang selang O2 2 liter/mt.
• Epistaksis (-), kotoran hidung (+).
• Penciuman berfungsi baik, dapat membedakan aroma dan bau-bauan.

F. Pendengaran & Telinga.
• Bentuk telinga simetris, cuping tellinga teraba dingin.
• Tidak terdapat adanya sekret.
• Pendengaran berfungsi baik, bereaksi bila dipanggil.

G. Mulut.
• Mukosa bibir kering, lidah tampak kotor.
• Gusi berwarna merah muda, tidak terdapat gejala anemis.
• Tampak gejala cyanosis pada daerah bibir.

H. Leher.
• Pulsasi vena jugularis (+) teraba kuat.
• Tekanan vena jugularis (-).
• Tidak ada pembatasan gerak leher.

I. Dada / Pernafasan / Sirkulasi.
• Bentuk simetris, retraksi dinding dada (+).
• Fremitus vokal (+) dextra dan sinistra
• Bj 1 dan Bj 2 tunggal, terdengar adanya whezing dan ronchi basah.
• Tampak penggunaan otot bantu pernafasan ( otot sternokleidomastoideus ).


J. Abdomen.
• Bentuk simetris, kembung (-).
• Tiadk teraba pembesaran hati & limfe.
• Terdengar bunyi timpani (+), kembung (-).
• Terdengar suara bising usus.

K. Sistem reproduksi.
• Alat genetalia berfungsi baik.
• Tidak ada keluhan dalam proses eliminasi.

L. Ekstremitas atas & bawah.
• Akral dingin. Bentuk tangan simetris D & S, jumlah jari lengkap. Ada pembatasan gerak tangan kanan karena terpasang infus D 5 % 20 tts/mt.
• Bentuk kaki simetris, tidak terdapat gejala oedema, tidak terdapat adanya pembatasan gerak ekstremitas bawah.



IV. KEBUTUHAN FISIK, PSIKOLOGIS, SOSIAL & SPIRITUAL.
A. Aktivitas & Istirahat.
• Dirumah ; aktifitas sehari-hari sebagai siswa pesantren Al-Falah Putera kelas 2 Tsanawiyah, belajar dari pagi s/d sore hari
• Istirahat / tidur siang jarang dilakukan. Tidur malam antara 5 – 7 jam permalam.
• Di RS ; sejak masuk RS hingga pagi hari pasien tidak dapat tidur pada siang – sore hari & malam hari pasien hanya tidur sebentar ± 4 jam saja.

B. Personal hygiene.
• Di rumah : Mandi 2 x sehari pagi & sore, gosok gigi 2 x sehari. Ganti baju 2 x sehari. Sanitasi asir bersih dari PDAM.
• Di RS : Sejak masuk s/d sekarang pasien belum ada mandi, cuma gosok gigi 1 x & ganti baju setelah diseka pada pagi hari.

C. Nutrisi.
• Di Rumah : Pola makan 3 x sehari dengan lauk dan pauk yang bervariasi. Suka minum air putih 5 – 7 gelas perhari. Pasien tidak suka minum kopi dan the.
• Di RS : Pola makan 3 x sehari dengan diet bubur biasa, namun hanya mampu menghabiskan ½ - ⅔ porsi saja.Nutrisi perenteral inf. D 5% - 20 tts/mt.

D. Eliminasi.
• Sebelum sakit ; Pola BAB 1 x sehari, biasnya pada pagi hari. Pola BAK 4 – 6 x sehari.
• Di RS : Elliminasi alvi ( BAB ) belum ada. Eliminasi BAK sering ³ 5 x.

E. Sexualitas.
• Pasien belum menikah.


F. Psikososial.
• Selama di RS pasien ditemani oleh teman-temannya di asrama.
• Pasien tampak cemas dan gelisah terhadap penyakitnya.


G. Spiritual.
• Meskipun pasien tampak cemas & gelisah, pasien selalu berzikir dan menyebut nama Allah SWT.


V. PROSEDUR DIAGNOSTIK DAN PENGOBATAN.
A. Laboratorium.


NO HARI & TANGGAL JENIS PEMERIKSAAN KATEGORI NORMAL HASIL PEMERIKSAAN
1 16-10-01 • Darah rutin :
 HB
 Leokosit.
 LED.
 Diff Count
14 – 16 gr %
4000 – 10,000 /mm3
0 – 20 mm / jam.
Bas 0-1 %
Eos 1-4 %
Staf 2-6 %
Seg 50-70 %
Lym 25-40 %
Mon 2-8 %
11 gr %
7,600 / mm3
22 mm / jam
0 %
6 %
0 %
59 %
33 %
2 %


10. Rontgen
Hasil :…-…………………..


B. EKG.
Hasil :…-………………….


C. Pemeriksaan lain ( EEG, USG, CT Scan, dll ).


E. Pengobatan :

 Infus D 5 % 20 tts / mt.
 Lapimox tab 3 x 500 mg.
 Tismalin tab 3 x 1 tab.
 Comtusy syr 3 x 1 cth.






 ANALISA DATA


DATA SUBYEKTIF & OBYEKTIF

ETIOLOGI
MASALAH
 Data subyektif
Pasien mengatakan sesak saat bernafas.

 Data obyektif.
 Cianosis perifer & pada daerah bibir.
 Whezing (+)
 Ronchi basah (+).
 Pasien tidak mampu membuang sekret (akumulasi sekret)
 Terpasang selang O2 2 tl/mt.



 Data subyektif.
Pasien mengatakan rasa kekhawatirannya terhadap penyakitnya.

 Data obyektif.
 Raut muka tegang.
 Pasien tampak gelisah



 Data subyektif.
Pasien mengatakan rasa mual dan tidak ada nafsu makan.

 Data obyektif.
 Pasien tidak mampu menghabiskan 1 porsi dari diet yang disediakan, hanya ½ - ¾ porsi saja.
 Adanya sputum kental. Peningkatan produksi sputum.
















Ketidaktahuan pasien tentang penyakitnya









Adanya akumulasi sekret. Gangguan ventilasi.

















Cemas.










Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

INTERVENSI KEPERAWATAN


NO HARI & TANGGAL DIAGNOSA KEPERAWATAN
PERENCANAAN IMPLEMENTASI
TUJUAN TINDAKAN RASIONALISASI
1.




















2



























3.
Selasa
16-10-01

























Selasa
16-10-01
































Selasa
16-10-01



Bersihan jalan nafas tak epektif berhubungan dengan peningkatan produksi sekret, ditandai dengan :
 Adanya cianosis perifer.
 Whezing (+).
 Ronchi (+).


















Cemas berhubungan dengan ketiadktahuan pasien tentang penyakitnya. Ditandai dengan :
 Raut muka tampak tegang dan gelisah.



























Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan akumulasi sekret, ditandai dengan :
 Px hanya mampu menghabiskan ½ - ¾ porsi dari diet yang disediakan.
 Pasien mengeluh mual dan tidak ada nafsu makan.


Jangka pendek
Pasien mampu menunjukan perilaku untuk memperbaiki jalan nafas dengan batuk yang epektif & mampu mengeluarkan sekret.

Jangka panjang
Mempertahankan jalan nafas dengan bunyi nafas yang bersih.











Jangka panjang ;
Menunjukan perbaiakn ventilasi dan oksigenisasi jaringan yang adekuat & gejala distres pernafasan sehingga pasien dapat tenang kembali.

Jangka pendek:
Pasien dapat mengerti tentang penyakitnya dan berpartisipasi dalam pengobatan.

















Pasien mampu menunjukan perubahan untuk mempertahankan BB


1. Auskultasi bunyi nafas, catat adanya whezing dan ronchi.



2. Pantau frekuensi pernafasan, catat rasio inspirasi / ekspirasi.

3. Berikan posisi setengah duduk umtuk memberikan rasa nyaman pasien.

4. Tingkatkan masukan cairan / air hangat sampai 3000 ml.




5. Ajarkan tehnik batuk yang efektif


1. Observasi frekuensi, kedalaman pernafasan apakah menggunakan otot aksesori & pernafasan mulut.


2. Observasi secara rutin kulit dan warna membran mukosa.


3. Observasi tingkat kesadaran / status mental dan gejala perubahan kesadaran.






4. Berikan penjelasan mengenai prosedur pengobatan.

5. Pertahankan ventilasi mekanik yang baik ( O2 tambahan sesuai dengan indikasi & toleransi pasien )
1. Observasi kebiasaan makan pasien dan asupan makan saat ini.




2. Berikan perawatan oral sesering mungkin.






3. Hindari makanan penghasil gas, minuman berkarbonat, makanan yang sangat panas dan sangat dingin.


1. Derajat spasme ronchus dapat terjadi dengan obstruksi jalan nafas & dapat dimanifestasikan adanya bunyi nafas tambahan
2. Pernafasan dapat melambat dan frekuensi ekspirasi memanjang dibandingkan ispirasi.


3. Peninggian kepala tempat tidur mempermudah fungsi pernafasan.

4. Hidrasi membantu menurunkan kekentalan sekret, cairan hangat dapat menurunkan spasme bronchus.

5. Dapat mengeluarkan sputum yang kental.


1. Sebagai evaluasi derajat distres pernafasan dan atau kronisnya proses penyakit.



2. Sianosis sentral memngindikasikan beratnya hipoksemia


3. Gelisah & ancietas adalah manifestasi umum pada hipoksemia, GDA memburuk disertai samnolen menunjukan disfungsi serebral yang berhubungan dengan hipoksemia.

4. Pasien dapat memahami prosedur therapi yang diberikan.

5. Dapat mencegah memburuknya hipoksia.


1. Kegagalan pernafasan membuat status hipermetabolik dengan peningkatan kebutuhan kalori.



2. Rasa tidak enak, bau, dan penampilan berpengaruh terhadap nafsu makan dan dapat membuat rasa mual, muntah dan kesulitan bernafas.


3. Dapat meningkatkan distensi abdomen yang mengganggu pernafasan & diafragma dan meningkatkan dispnea, suhu ekstrim dapat mencetuskan / meningkatkan spasme bronchus.



1. Mengobservasi bunyi nafas, mencatat adanya whezing dan ronchi setiap 4 jam sekali.

2. Mengobservasi frekuensi nafas, saat inspirasi dan ekspirasi

3. Meninggikan bagian kepala dari tempat tidur pasien menjadi setengah duduk.

4. Anjurkan pasien untuk sering minum air hangat kalau bisa sampai 3000 ml / hr.




5. Menganjurkan pasien untuk batuk yang efektif,
1. Mengobservasi penggunaan otot sterno kleido mastoideus yang digunakan sebagai otot pernafasan tambahan Px.

2. Mengobservasi kelainan warna kulit, cianosis perifer (+).

3. Menjelaskan kepada px tentang patofis penyakitnya, memberikan kesempatan pada Px untuk bertanya tentang penyakitnya.


4. Menjelaskan kepada pasien tentang prosedur pengobatan yang diberikan.
5. Menciptakan lingkungan yang tenang, membatasi jumlah pengunjung & mengobservasi pemasangan O2
1. Menanyakan kepada Px makanan yang ia sukai dan mengobservasi jumlah pemasukan makanan setiap habis makan.

2. Menganjurkan kepada keluarga untuk memberikan perawatan mulut (gosokj gigi) sebelum & sehabis makan.


3. Menganjurkan kepada pasien untuk tidak mengkonsumsi makanan dan minuman dalam kemasan dan makanan yang bersifat pedas dan asam.



 CATATAN PERKEMBANGAN.


NO HARI / TANGGAL NO DXN PERKEMBANGAN PARAF
1.










2.










3.










Rabu.
17-10-01
jam 12.30








Rabu.
17-10-01
jam 12.30








Kamis.
18-10-01 No 1












No 2












No 3



S : Pasien mengatakan rasa sesak berkurang, batuk (+), sekresi sputum berkurang.
O : Cyanosis perifer (-).
Wheezing (-). Ronchi (+).
A : Sebagian masalah dapat teratasi.
P : Masih relevan.
I : Teruskan semua rencana point 1-5.


S : Pasien mengatakan rasa sesak berkurang.
O : Px tidak menggunakan O2 tambahan lagi.
Cyanosis (-).
Whezing (-)
Ronchi (+).
A : Masalah teratasi.
P : Pertahankan kondisi umum pasien.


S : Pasien mengatakan rasa mual (-).
O : Pasien mampu menghabiskan 1 porsi penuh diet yang disediakan.
Pasien mampu mengeluarkan sekret yang ada di bronkus.
A : Masalah dapat teratasi.
P ; jam 12.00.
Pasien diperbolehkan pulang.
Read More
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Lihat versi seluler
Langganan: Postingan ( Atom )
 photo banner300x250-biru.gif

Blog Archive

  • 2016 (1)
    • 09/18 - 09/25 (1)
      • PENGETAHUAN IBU TENTANG BIANG KERINGAT PADA BAYI 0...
  • 2015 (10)
    • 10/11 - 10/18 (1)
    • 09/13 - 09/20 (1)
    • 09/06 - 09/13 (1)
    • 07/05 - 07/12 (1)
    • 05/17 - 05/24 (6)
  • 2014 (1)
    • 04/13 - 04/20 (1)
  • 2012 (770)
    • 02/19 - 02/26 (5)
    • 02/12 - 02/19 (10)
    • 02/05 - 02/12 (4)
    • 01/29 - 02/05 (27)
    • 01/22 - 01/29 (88)
    • 01/15 - 01/22 (101)
    • 01/08 - 01/15 (169)
    • 01/01 - 01/08 (366)
  • 2011 (4477)
    • 12/25 - 01/01 (336)
    • 12/18 - 12/25 (62)
    • 12/11 - 12/18 (70)
    • 12/04 - 12/11 (77)
    • 11/27 - 12/04 (40)
    • 11/20 - 11/27 (67)
    • 11/13 - 11/20 (198)
    • 11/06 - 11/13 (187)
    • 10/30 - 11/06 (340)
    • 10/23 - 10/30 (32)
    • 10/16 - 10/23 (109)
    • 10/09 - 10/16 (80)
    • 08/14 - 08/21 (75)
    • 08/07 - 08/14 (81)
    • 07/31 - 08/07 (82)
    • 07/24 - 07/31 (65)
    • 07/17 - 07/24 (91)
    • 07/10 - 07/17 (47)
    • 07/03 - 07/10 (44)
    • 06/26 - 07/03 (53)
    • 06/19 - 06/26 (59)
    • 06/12 - 06/19 (47)
    • 06/05 - 06/12 (65)
    • 05/29 - 06/05 (63)
    • 05/22 - 05/29 (77)
    • 05/15 - 05/22 (115)
    • 05/08 - 05/15 (65)
    • 05/01 - 05/08 (104)
    • 04/24 - 05/01 (45)
    • 04/17 - 04/24 (70)
    • 04/10 - 04/17 (134)
    • 04/03 - 04/10 (72)
    • 03/27 - 04/03 (18)
    • 03/20 - 03/27 (47)
    • 03/13 - 03/20 (68)
    • 03/06 - 03/13 (40)
    • 02/27 - 03/06 (56)
    • 02/20 - 02/27 (77)
    • 02/13 - 02/20 (76)
    • 02/06 - 02/13 (198)
    • 01/30 - 02/06 (194)
    • 01/23 - 01/30 (132)
    • 01/16 - 01/23 (196)
    • 01/09 - 01/16 (202)
    • 01/02 - 01/09 (121)
  • 2010 (2535)
    • 12/26 - 01/02 (156)
    • 12/19 - 12/26 (65)
    • 12/12 - 12/19 (73)
    • 12/05 - 12/12 (84)
    • 11/28 - 12/05 (80)
    • 11/21 - 11/28 (68)
    • 11/14 - 11/21 (63)
    • 11/07 - 11/14 (50)
    • 10/31 - 11/07 (50)
    • 10/24 - 10/31 (36)
    • 10/17 - 10/24 (58)
    • 10/10 - 10/17 (35)
    • 10/03 - 10/10 (31)
    • 09/26 - 10/03 (21)
    • 09/19 - 09/26 (26)
    • 09/12 - 09/19 (55)
    • 09/05 - 09/12 (65)
    • 08/29 - 09/05 (33)
    • 08/22 - 08/29 (70)
    • 08/15 - 08/22 (45)
    • 08/08 - 08/15 (35)
    • 08/01 - 08/08 (37)
    • 07/25 - 08/01 (27)
    • 07/18 - 07/25 (19)
    • 07/11 - 07/18 (30)
    • 07/04 - 07/11 (56)
    • 06/27 - 07/04 (28)
    • 06/20 - 06/27 (22)
    • 06/13 - 06/20 (30)
    • 06/06 - 06/13 (21)
    • 05/30 - 06/06 (5)
    • 05/16 - 05/23 (6)
    • 05/09 - 05/16 (29)
    • 05/02 - 05/09 (59)
    • 04/25 - 05/02 (28)
    • 04/18 - 04/25 (38)
    • 04/11 - 04/18 (70)
    • 04/04 - 04/11 (59)
    • 03/28 - 04/04 (65)
    • 03/21 - 03/28 (89)
    • 03/14 - 03/21 (218)
    • 03/07 - 03/14 (95)
    • 02/28 - 03/07 (135)
    • 02/21 - 02/28 (102)
    • 01/03 - 01/10 (68)
  • 2009 (1652)
    • 12/27 - 01/03 (36)
    • 12/20 - 12/27 (22)
    • 12/13 - 12/20 (100)
    • 12/06 - 12/13 (45)
    • 11/29 - 12/06 (24)
    • 11/22 - 11/29 (22)
    • 11/15 - 11/22 (19)
    • 11/08 - 11/15 (28)
    • 11/01 - 11/08 (11)
    • 10/25 - 11/01 (17)
    • 10/18 - 10/25 (38)
    • 10/11 - 10/18 (33)
    • 10/04 - 10/11 (15)
    • 09/27 - 10/04 (21)
    • 09/20 - 09/27 (7)
    • 09/13 - 09/20 (84)
    • 09/06 - 09/13 (35)
    • 08/30 - 09/06 (48)
    • 08/23 - 08/30 (118)
    • 08/16 - 08/23 (26)
    • 08/09 - 08/16 (34)
    • 08/02 - 08/09 (35)
    • 07/26 - 08/02 (31)
    • 07/19 - 07/26 (14)
    • 07/12 - 07/19 (16)
    • 07/05 - 07/12 (28)
    • 06/28 - 07/05 (26)
    • 06/21 - 06/28 (76)
    • 06/14 - 06/21 (26)
    • 06/07 - 06/14 (21)
    • 05/31 - 06/07 (43)
    • 05/24 - 05/31 (38)
    • 05/17 - 05/24 (26)
    • 05/10 - 05/17 (52)
    • 05/03 - 05/10 (15)
    • 04/26 - 05/03 (38)
    • 04/19 - 04/26 (32)
    • 04/12 - 04/19 (22)
    • 04/05 - 04/12 (20)
    • 03/29 - 04/05 (40)
    • 03/22 - 03/29 (43)
    • 03/15 - 03/22 (18)
    • 03/08 - 03/15 (14)
    • 03/01 - 03/08 (22)
    • 02/22 - 03/01 (12)
    • 02/15 - 02/22 (9)
    • 02/08 - 02/15 (11)
    • 02/01 - 02/08 (19)
    • 01/25 - 02/01 (37)
    • 01/18 - 01/25 (21)
    • 01/11 - 01/18 (33)
    • 01/04 - 01/11 (31)
  • 2008 (700)
    • 12/28 - 01/04 (13)
    • 12/21 - 12/28 (9)
    • 12/14 - 12/21 (57)
    • 12/07 - 12/14 (5)
    • 11/30 - 12/07 (18)
    • 11/23 - 11/30 (33)
    • 11/16 - 11/23 (31)
    • 11/09 - 11/16 (23)
    • 11/02 - 11/09 (18)
    • 10/26 - 11/02 (11)
    • 10/19 - 10/26 (15)
    • 10/12 - 10/19 (13)
    • 10/05 - 10/12 (25)
    • 09/28 - 10/05 (2)
    • 09/21 - 09/28 (14)
    • 09/14 - 09/21 (19)
    • 09/07 - 09/14 (43)
    • 08/31 - 09/07 (3)
    • 08/24 - 08/31 (33)
    • 08/17 - 08/24 (65)
    • 08/10 - 08/17 (4)
    • 08/03 - 08/10 (26)
    • 07/27 - 08/03 (6)
    • 07/20 - 07/27 (19)
    • 07/13 - 07/20 (18)
    • 07/06 - 07/13 (60)
    • 06/29 - 07/06 (53)
    • 06/22 - 06/29 (49)
    • 06/15 - 06/22 (11)
    • 06/08 - 06/15 (4)

Popular Posts

  • Transkultural dalam Keperawatan
    Konsep Teori Transkultural dalam Keperawatan APLIKASI TEORI TRANSCULTURAL NURSING DALAM PROSES KEPERAWATAN Rahayu Iskandar, Ners, M.Kep PEND...
  • Review Blog Keperawatan
    Setelah beberapa minggu ini cari materi buat postingan baru, mendadak dapat inspirasi setelah rekan Anton Wijaya menulis di buku tamu Keper...
  • Hubungan Usia Terhadap Perdarahan Post Partum Di RSUD
    KTI KEBIDANAN HUBUNGAN USIA TERHADAP PERDARAHAN POSTPARTUM DI RSUD BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan wanita merupakan hal yang s...
  • PATHWAY ASFIKSIA NEONATORUM
    PATHWAY ASFIKSIA NEONATORUM Klik pada gambar untuk melihat pathway Download Pathway Asfiksia Neonatorum Via Ziddu Download Askep Asfiksia N...
  • PROSES KEPERAWATAN KOMUNITAS
    PROSES KEPERAWATAN KOMUNITAS Pengertian - Proses keperawatan adalah serangkaian perbuatan atau tindakan untuk menetapkan, merencana...
  • Diagnosa Keperawatan Aktual
    Konsep Dasar Diagnosa Keperawatan Aktual BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sebagai suatu aspek yang terpenting dalam proses kepera...
  • PENGETAHUAN IBU TENTANG BIANG KERINGAT PADA BAYI 0-1 TAHUN DI BPS XXXX
    Prelevansi penyakit kulit di Indonesia cukup tinggi baik oleh bakteri, virus atau jamur. Selain itu bergantung pada lingkungan dan kondisi...
  • PATHWAY HEMATEMESIS MELENA
    Pathway Hematemesis Melena Klik pada gambar untuk melihat pathway Download Pathway Hematemesis Melena Via Ziddu
  • Ikterus
    DEFINISI Ikterus ialah suatu gejala yang perlu mendapat perhatian sungguh-sungguh pada neonatus. Ikterus ialah suatu diskolorasi kuning pa...
  • Gangguan Masalah Eliminasi ALVI
    Gangguan Masalah Eliminasi ALVI Konstipasi Konstipasi merupakan keadaan individu yang mengalami atau berisiko tinggi mengalami stasis usus b...

Statistik

© ASUHAN KEPERAWATAN 2013 . Powered by Bootstrap , Blogger templates and RWD Testing Tool Published..Gooyaabi Templates