Selasa, 11 Mei 2010
Tinjauan penatalaksanaan gizi buruk pada balita oleh tenaga kesehatan di puskesmas
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Status gizi balita perlu mendapat perhatian yang serius, mengingat jumlah balita di Indonesia sangat besar yaitu sekitar 10% dari seluruh populasi, perhatian yang serius itu berupa pemberian gizi yang baik. Pada lima tahun pertama kehidupannya, ditujukan untuk mempertahankan kehidupan sekaligus meningkatkan kualitas agar mencapai pertumbuhan optimal baik secara fisik, sosial maupun inteligensi. Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan intraseluler, yang berarti bertambahnya ukuran tubuh sebagian atau keseluruhan sehingga dapat diukur dengan satuan panjang dan berat (Depkes RI, 2005).
Status gizi yang buruk pada balita dapat menimbulkan pengaruh yang sangat menghambat pertumbuhan fisik, mental maupun kemampuan berfikir yang pada akhirnya akan menurunkan produktuvitas kerja.Keadaan ini memberikan petunjuk bahwa pada hakikatnya gizi yang buruk atau kurang akan berdampak pada menurunnya kualitas sumber daya manusia. Kondisi seperti ini lambat laun akan menyebabkan angka kematian bayi dan balita cukup tinggi (www.google.com,2003 ).
Angka kematian bayi dan anak (balita) di negara-negara berkembang khususnya Indonesia masih cukup tinggi. Salah satu penyebab yang menonjol diantaranya adalah karena keadaan gizi yang kurang baik atau bahkan buruk. Kondisi gizi anak-anak Indonesia rata-rata lebih buruk dibanding gizi anak-anak dunia dan bahkan juga dari anak-anak Afrika. Sebelum krisis menerpa 8,5 juta anak (37% dari 23 juta anak) Indonesia diketahui kurang berat badannya dan menderita kekurangan mikronutrien seperti zat besi (Fe), seng (Zn) dan Vitamin A. Jumlah kematian anak pertahun akibat kekurangan gizi itu mencapai 147 ribu jiwa dan separuh lebih di antaranya adalah balita. Balita hidup mengalami penurunan kecerdasan (IQ) hingga 10% (www.Google.com, 2003 ).
Selama krisis bertambah lagi jumlah anak yang mengalami Kurang Energi dan protein (KEP) tingkat berat atau menderita marasmus kwasiorkhor dan pada saat yang sama jumlah orang miskin membengkak dari 17 juta menjadi 80 juta jiwa (www.google.com, 2000).
Tahun 2000 diperkirakan ada 25% anak Indonesia yang mengalami gizi kurang, 7 % gizi buruk. Keadaan gizi masyarakat Lampung Timur pada tahun 2005 masih perlu mendapatkan perhatian serius, dari hasil pemantauan status gizi antara lain ditemukan kasus gizi buruk sejumlah 0,16 % ( 2005 ) dari jumlah balita sebanyak 1456 jiwa (DINKES Lampung Timur, 2005 ).
Berdasarkan laporan tahunan Puskesmas Sukaraja Nuban, pada tahun 2005 ditemukan 16 kasus masalah gizi di wilayah kerja puskesmas. Balita yang menderita gizi kurang berjumlah 13 orang, sedangkan 3 orang merupakan balita dengan status gizi buruk. Jumlah balita dengan status gizi buruk ini sebenarnya melampaui target yang ditetapkan oleh Dinas Kesehatan Lampung Timur yaitu 2 orang balita yang ditargetkan menderita gizi buruk. Disamping itu, alasan lain yang menyebabkan peneliti mengambil lokasi penelitian di Puskesmas Sukaraja Nuban adalah tidak ada data yang lengkap mengenai balita dengan masalah gizi buruk di Puskesmas lain. Meskipun upaya penanggulangan gizi buruk telah dilakukan oleh pemerintah yang melibatkan petugas kesehatan terutama bidan, masalah gizi buruk masih belum bisa dituntaskan. Atas dasar itulah penulis ingin meninjau penatalaksanaan gizi buruk oleh tenaga Kesehatan di Puskesmas Sukaraja Nuban Lampung Timur.
B. Rumusan Masalah
Dari uraian di atas, maka peneliti membuat rumusan masalah sebagai berikut : “Bagaimana Penatalaksanaan Gizi Buruk oleh Tenaga Kesehatan di Puskesmas Sukaraja Nuban Lampung Timur?”
C. Ruang Lingkup Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti akan membatasi ruang lingkup yang diteliti, yaitu :
1. Sifat penelitian : Deskriptif
2. Subjek penelitian : Tenaga Kesehatan yang bertugas di Puskesmas Sukaraja Nuban.
3. Objek penelitian : Penatalaksanaan gizi buruk di Puskesmas Sukaraja Nuban Lampung Timur.
4. Waktu Penelitian : 13 Maret – 21 Juni 2006
D. Tujuan Penelitian
Penelitian ini terbagi menjadi 2 bagian, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Adapun uraian dari kedua tujuan ini adalah :
1. Tujuan Umum
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk meninjau penatalaksanaan gizi buruk oleh tenaga kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Sukaraja Nuban Lampung Timur tahun 2006.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui penatalaksanaan gizi buruk di wilayah kerja Puskesmas Sukaraja Nuban Lampung Timur, meliputi :
1) Penanganan awal pada fase stabilisasi di Puskesmas Sukaraja Nuban Lampung Timur tahun 2006.
2) Penanganan lanjutan pada fase stabilisasi di Puskesmas Sukaraja Nuban Lampung Timur tahun 2006.
3) Penanganan lanjutan pada fase transisi di Puskesmas Sukaraja Nuban Lampung Timur tahun 2006.
4) Penanganan lanjutan pada fase rehabilitasi di Puskesmas Sukaraja Nuban Lampung Timur tahun 2006.
5) Penanganan pada fase tindak lanjut di Puskesmas Sukaraja Nuban Lampung Timur tahun 2006.
b. Kendala yang dihadapi oleh tenaga kesehatan selama menangani kasus gizi buruk.
c. Hasil yang telah dicapai dalam penanganan gizi buruk di Puskesmas Sukaraja Nuban Lampung Timur.
E. Manfaat Penelitian
1. Bagi Dinas Kesehatan Lampung Timur
Peneliti berharap penelitian ini dapat memberikan masukan dalam pengembangan kebijakan di bidang kesehatan, terutama kesehatan balita.
2. Bagi Puskesmas Sukaraja Nuban
Diharapkan bermanfaat sebagai sumbangan pemikiran dan bahan masukan bagi tenaga kesehatan dalam upaya perbaikan gizi balita.
3. Bagi Institusi Pendidikan Program Studi Kebidanan Metro
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, khususnya sebagai dokumen di Perpustakaan Program Studi Kebidanan Metro.
4. Bagi Penelitian Selanjutnya
Penulis berharap penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan referensi untuk penelitian selanjutnya.

Tinjauan pemberian air susu ibu (ASI) kolostrum pada ibu post sectio caesarea di ruang kebidanan RSU
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Garis – Garis Besar Haluan Negara (GBHN) 1999 – 2004 dan Program Pembangunan Nasional (PROPENAS) mengamanatkan bahwa pembangunan diarahkan pada meningkatnya mutu Sumber Daya Manusia (SDM). Modal dasar pembentukan manusia berkualitas dimulai sejak bayi dalam kandungan disertai dengan pemberian Air Susu Ibu (ASI) sejak usia dini, terutama pemberian ASI ekslusif yaitu pemberian hanya ASI kepada bayi sejak lahir sampai berusia 4 bulan (Depkes RI, 2001).
Bagi bayi ASI merupakan makanan yang paling sempurna, dimana kandungan gizi sesuai kebutuhan untuk pertumbuhan dan perkembangan. ASI juga mengandung zat untuk perkembangan kecerdasan, zat kekebalan (mencegah dari berbagai penyakit). Konvensi hak – hak anak tahun 1990 antara lain menegaskan bahwa tumbuh kembang secara optimal merupakan salah satu hak anak. Berarti ASI selain merupakan kebutuhan, juga merupakan hak azasi bayi yang harus dipenuhi oleh orang tuanya. Hal ini telah dipopulerkan pada pekan ASI sedunia tahun 2000 dengan tema : “Memberi ASI adalah hak azasi ibu, Mendapat ASI adalah hak azasi bayi”. (Depkes RI, 2001).
Pernyataan dan rekomendasi tentang makanan bayi dan anak oleh World Health Organization (WHO)/United Nations International Children Emergency Fund (UNICEF) tahun 1994 antara lain berisi :
a. Menyusui merupakan bagian terpadu dari proses reproduksi yang memberikan makanan bayi secara ideal dan alamiah merupakan dasar fisiologis dan psikologis yang dibutuhkan untuk pertumbuhan.
b. Memberi susu botol sebagai tambahan dengan dalih apapun juga pada bayi baru lahir harus dihindarkan (Suharyono, 1992).
Melihat begitu unggulnya ASI maka sangat disayangkan bahwa pada kenyataannya penggunaan ASI belum seperti yang diharapkan. Meskipun berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah, tetapi pencapaian ASI ekslusif Indonesia masih rendah. Berdasarkan data 52% Ibu memberikan ASI ekslusif itupun ASI ekslusif 4 bulan, dan 47% pemberian ASI ekslusif 6 bulan. Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 1997 menunjukkan bahwa hampir semua bayi (96,3%) di Indonesia pernah mendapatkan ASI. Hasil berikutnya dari hasil SDKI 1997 adalah sebanyak 8% bayi baru lahir mendapatkan kolostrum dalam 1 jam setelah lahir dan 53% bayi mendapat kolostrum pada hari pertama. Padahal kolostrum yang diproduksi hari pertama sangat baik untuk bayi dan memberikan daya tahan terhadap penyakit infeksi dan kepada ibu memberi rangsangan untuk produksi ASI (Setyowati dan Budiarso, 1998). Untuk propinsi Lampung, cakupan ASI ekslusif pada bayi 0 – 4 bulan adalah 41,41% atau 66.730 bayi dari jumlah bayi sebanyak 161.154 bayi. (Dinas Kesehatan Propinsi Lampung, 2001).
Program pemerintah untuk meningkatkan partisipasi Ibu dalam pemberian ASI sedini mungkin adalah juga merupakan program dari Rumah Sakit Umum (RSU) Pringsewu Tanggamus yang merupakan Rumah Sakit rujukan di Kabupaten Tanggamus, karena berbagai faktor program laktasi di RSU Pringsewu belum berjalan sebagaimana mestinya, terutama pada bayi dengan tindakan Sectio Caesarea (SC).
Hasil prasurvey di RSU Pringsewu pada bulan Januari – April 2004 terdapat 78 persalinan dengan SC, dan 80% ibu yang melahirkan SC dengan narkose umum sadar dalam waktu tidak lebih dari 4 jam. Sedangkan pemberian ASI kolostrum pada ibu dengan SC hanya 35%. Ternyata bayi yang dilahirkan dengan SC dan ibu sadar dalam waktu 6 – 8 jam namun tidak semua bayi langsung diberi ASI kolostrum segera setelah ibu sadar tetapi diberi susu formula.
Berdasarkan data latar belakang inilah sebagai dasar penulis untuk mengadakan penelitian tentang tinjauan pemberian ASI kolostrum pada ibu post SC di ruang kebidanan RSU Pringsewu Kabupaten Tanggamus tahun 2004.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : Bagaimanakah pemberian ASI kolostrum pada ibu post Sectio Caesarea di ruang kebidanan RSU Pringsewu Tanggamus ?
C. Ruang Lingkup
Dalam penelitian ini penulis membatasi ruang lingkup penelitian yaitu :
1. Jenis Penelitian : Deskriptif
2. Subjek Penelitian : Ibu Post Sectio Caesarea
3. Objek Penelitian : Pemberian ASI kolostrum pada bayi baru lahir dengan tindakan Sectio Caesarea
4. Lokasi Penelitian : Ruang kebidanan RSU Pringsewu
5. Waktu Penelitian : 25 Mei 2004 sampai dengan 26 Juni 2004
D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana gambaran pemberian ASI kolostrum pada Ibu Post Sectio Caesarea di ruang kebidanan RSU Pringsewu Kabupaten Tanggamus.
2. Tujuan Khusus
a. Diperoleh gambaran tentang waktu pemberian ASI kolostrum pada ibu post Sectio Caesarea di ruang kebidanan RSU Pringsewu Kabupaten Tanggamus.
b. Diperoleh gambaran tentang cara pemberian ASI kolostrum pada ibu post Sectio Caesarea di ruang kebidanan RSU Pringsewu.
c. Diperoleh gambaran tentang posisi pemberian ASI kolostrum pada ibu post Sectio Caesarea di ruang kebidanan RSU Pringsewu.
d. Diperoleh gambaran tentang lamanya pemberian ASI kolostrum pada ibu post Sectio Caesarea di ruang kebidanan RSU Pringsewu.
e. Diperoleh gambaran tentang frekuensi pemberian ASI kolostrum pada ibu post Sectio Caesarea di ruang kebidanan RSU Pringsewu.
E. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi :
1. Rumah Sakit Umum Pringsewu
Sebagai sumbangan pemikiran dan sebagai bahan masukan bidan atau tenaga kesehatan di Rumah Sakit Umum Pringsewu. Sehingga dapat memberikan penatalaksanaan yang terbaik bagi pasien dengan tindakan SC.
2. Instansi Pendidikan Program Studi Kebidanan Metro
Sebagai bahan evaluasi terhadap teori dan sebagai sumber bahan tambahan pengajaran terutama yang berkaitan dengan penatalaksaan pemberian ASI Kolostrum pada bayi dengan ibu Post SC.
3. Peneliti
Dapat memberikan gambaran informasi tentang pemberian ASI kolostrum pada ibu SC dan dapat menambah wawasan keilmuan.
4. Peneliti lain
Dapat dijadikan bahan perbandingan untuk melakukan penelitian – penelitian lain atau yang serupa berkaitan dengan ASI kolostrum, dan dapat disempurnakan lagi.
5. Bagi responden atau pasien rumah sakit
Dengan adanya protap, khususnya tentang pemberian ASI kolostrum pada klien dengan SC yang dirawat di Rumah Sakit Umum, akan memperoleh pelayanan yang baik dan benar sehingga dapat meningkatkan kesehatan dan pengetahuan secara maksimal.

Tinjauan pemberian air susu ibu (ASI) kolostrum pada ibu post sectio caesarea di ruang kebidanan RSU
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Garis – Garis Besar Haluan Negara (GBHN) 1999 – 2004 dan Program Pembangunan Nasional (PROPENAS) mengamanatkan bahwa pembangunan diarahkan pada meningkatnya mutu Sumber Daya Manusia (SDM). Modal dasar pembentukan manusia berkualitas dimulai sejak bayi dalam kandungan disertai dengan pemberian Air Susu Ibu (ASI) sejak usia dini, terutama pemberian ASI ekslusif yaitu pemberian hanya ASI kepada bayi sejak lahir sampai berusia 4 bulan (Depkes RI, 2001).
Bagi bayi ASI merupakan makanan yang paling sempurna, dimana kandungan gizi sesuai kebutuhan untuk pertumbuhan dan perkembangan. ASI juga mengandung zat untuk perkembangan kecerdasan, zat kekebalan (mencegah dari berbagai penyakit). Konvensi hak – hak anak tahun 1990 antara lain menegaskan bahwa tumbuh kembang secara optimal merupakan salah satu hak anak. Berarti ASI selain merupakan kebutuhan, juga merupakan hak azasi bayi yang harus dipenuhi oleh orang tuanya. Hal ini telah dipopulerkan pada pekan ASI sedunia tahun 2000 dengan tema : “Memberi ASI adalah hak azasi ibu, Mendapat ASI adalah hak azasi bayi”. (Depkes RI, 2001).
Pernyataan dan rekomendasi tentang makanan bayi dan anak oleh World Health Organization (WHO)/United Nations International Children Emergency Fund (UNICEF) tahun 1994 antara lain berisi :
a. Menyusui merupakan bagian terpadu dari proses reproduksi yang memberikan makanan bayi secara ideal dan alamiah merupakan dasar fisiologis dan psikologis yang dibutuhkan untuk pertumbuhan.
b. Memberi susu botol sebagai tambahan dengan dalih apapun juga pada bayi baru lahir harus dihindarkan (Suharyono, 1992).
Melihat begitu unggulnya ASI maka sangat disayangkan bahwa pada kenyataannya penggunaan ASI belum seperti yang diharapkan. Meskipun berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah, tetapi pencapaian ASI ekslusif Indonesia masih rendah. Berdasarkan data 52% Ibu memberikan ASI ekslusif itupun ASI ekslusif 4 bulan, dan 47% pemberian ASI ekslusif 6 bulan. Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 1997 menunjukkan bahwa hampir semua bayi (96,3%) di Indonesia pernah mendapatkan ASI. Hasil berikutnya dari hasil SDKI 1997 adalah sebanyak 8% bayi baru lahir mendapatkan kolostrum dalam 1 jam setelah lahir dan 53% bayi mendapat kolostrum pada hari pertama. Padahal kolostrum yang diproduksi hari pertama sangat baik untuk bayi dan memberikan daya tahan terhadap penyakit infeksi dan kepada ibu memberi rangsangan untuk produksi ASI (Setyowati dan Budiarso, 1998). Untuk propinsi Lampung, cakupan ASI ekslusif pada bayi 0 – 4 bulan adalah 41,41% atau 66.730 bayi dari jumlah bayi sebanyak 161.154 bayi. (Dinas Kesehatan Propinsi Lampung, 2001).
Program pemerintah untuk meningkatkan partisipasi Ibu dalam pemberian ASI sedini mungkin adalah juga merupakan program dari Rumah Sakit Umum (RSU) Pringsewu Tanggamus yang merupakan Rumah Sakit rujukan di Kabupaten Tanggamus, karena berbagai faktor program laktasi di RSU Pringsewu belum berjalan sebagaimana mestinya, terutama pada bayi dengan tindakan Sectio Caesarea (SC).
Hasil prasurvey di RSU Pringsewu pada bulan Januari – April 2004 terdapat 78 persalinan dengan SC, dan 80% ibu yang melahirkan SC dengan narkose umum sadar dalam waktu tidak lebih dari 4 jam. Sedangkan pemberian ASI kolostrum pada ibu dengan SC hanya 35%. Ternyata bayi yang dilahirkan dengan SC dan ibu sadar dalam waktu 6 – 8 jam namun tidak semua bayi langsung diberi ASI kolostrum segera setelah ibu sadar tetapi diberi susu formula.
Berdasarkan data latar belakang inilah sebagai dasar penulis untuk mengadakan penelitian tentang tinjauan pemberian ASI kolostrum pada ibu post SC di ruang kebidanan RSU Pringsewu Kabupaten Tanggamus tahun 2004.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : Bagaimanakah pemberian ASI kolostrum pada ibu post Sectio Caesarea di ruang kebidanan RSU Pringsewu Tanggamus ?
C. Ruang Lingkup
Dalam penelitian ini penulis membatasi ruang lingkup penelitian yaitu :
1. Jenis Penelitian : Deskriptif
2. Subjek Penelitian : Ibu Post Sectio Caesarea
3. Objek Penelitian : Pemberian ASI kolostrum pada bayi baru lahir dengan tindakan Sectio Caesarea
4. Lokasi Penelitian : Ruang kebidanan RSU Pringsewu
5. Waktu Penelitian : 25 Mei 2004 sampai dengan 26 Juni 2004
D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana gambaran pemberian ASI kolostrum pada Ibu Post Sectio Caesarea di ruang kebidanan RSU Pringsewu Kabupaten Tanggamus.
2. Tujuan Khusus
a. Diperoleh gambaran tentang waktu pemberian ASI kolostrum pada ibu post Sectio Caesarea di ruang kebidanan RSU Pringsewu Kabupaten Tanggamus.
b. Diperoleh gambaran tentang cara pemberian ASI kolostrum pada ibu post Sectio Caesarea di ruang kebidanan RSU Pringsewu.
c. Diperoleh gambaran tentang posisi pemberian ASI kolostrum pada ibu post Sectio Caesarea di ruang kebidanan RSU Pringsewu.
d. Diperoleh gambaran tentang lamanya pemberian ASI kolostrum pada ibu post Sectio Caesarea di ruang kebidanan RSU Pringsewu.
e. Diperoleh gambaran tentang frekuensi pemberian ASI kolostrum pada ibu post Sectio Caesarea di ruang kebidanan RSU Pringsewu.
E. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi :
1. Rumah Sakit Umum Pringsewu
Sebagai sumbangan pemikiran dan sebagai bahan masukan bidan atau tenaga kesehatan di Rumah Sakit Umum Pringsewu. Sehingga dapat memberikan penatalaksanaan yang terbaik bagi pasien dengan tindakan SC.
2. Instansi Pendidikan Program Studi Kebidanan Metro
Sebagai bahan evaluasi terhadap teori dan sebagai sumber bahan tambahan pengajaran terutama yang berkaitan dengan penatalaksaan pemberian ASI Kolostrum pada bayi dengan ibu Post SC.
3. Peneliti
Dapat memberikan gambaran informasi tentang pemberian ASI kolostrum pada ibu SC dan dapat menambah wawasan keilmuan.
4. Peneliti lain
Dapat dijadikan bahan perbandingan untuk melakukan penelitian – penelitian lain atau yang serupa berkaitan dengan ASI kolostrum, dan dapat disempurnakan lagi.
5. Bagi responden atau pasien rumah sakit
Dengan adanya protap, khususnya tentang pemberian ASI kolostrum pada klien dengan SC yang dirawat di Rumah Sakit Umum, akan memperoleh pelayanan yang baik dan benar sehingga dapat meningkatkan kesehatan dan pengetahuan secara maksimal.

Tinjauan pelaksanaan pencegahan infeksi pada asuhan persalinan normal oleh bidan di ruang kebidanan RSUD
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam rangka meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan bayi menuju Indonesia sehat tahun 2010 di tuntut pelayanan kebidanan yang berkualitas guna memperoleh sumber daya manusia, generasi penerus bangsa yang tangguh dan siap mengantisipasi perubahan yang semakin cepat. Bidan sebagai pemberi jasa pelayanan dituntut pula memberikan pelayanan kebidanan yang profesional sesuai standar etik dan standar pelayanan.
Asuhan persalinan normal adalah asuhan persalinan yang bersih dan aman serta mencegah terjadinya komplikasi selama dan pasca persalinan (Depkes, 2007). Tujuan asuhan persalinan normal adalah menjaga kelangsungan hidup dan memberi derajat kesehatan yang tinggi bagi ibu dan bayinya melalui upaya yang terintegrasi dan lengkap tetapi dengan intervensi yang seminimal mungkin agar prinsip keamanan dan kualitas pelayanan dapat terjaga di tingkat yang diinginkan, sehingga angka kematian ibu dan angka kematian bayi dapat diturunkan (Depkes, 2007).
Kematian ibu adalah kematian yang terjadi pada ibu karena peristiwa kehamilan, persalinan dan masa nifas. Tingkat kematian ibu (maternal mortality rate) didefinisikan sebagai jumlah kematian ibu selama satu tahun selama 100.000 kelahiran hidup. Angka kematian ibu di Indonesia tertinggi di ASEAN sebesar 307/100.000 kelahiran hidup (survei SDKI 2002-2003) artinya lebih dari 18.000 tiap tahun atau 2 ibu tiap jam meninggal sebab yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan dan nifas (Depkes, 2007).
Angka kematian ibu di Lampung yaitu sebesar > 307 per 100.000 lahir hidup, jumlah kematian ibu maternal tahun 2003 yaitu 98 dari 186.248 ibu hamil dan meningkat menjadi 145 kasus pada tahun 2004 dan tetap sama pada tahun 2005 sebanyak 145 kasus dari 165.347 kelahiran hidup pada tahun 2006 sebanyak 134 kasus (Dinkes Lampung, 2006). Untuk Kota Metro jumlah kelahiran hidup masih belum mencapai 100.000 sehingga belum bisa diperkirakan Angka Kematian Ibu (AKI) untuk jumlah kasus kematian ibu melahirkan pada tahun 2005 jumlah kematian ibu sebanyak 2 orang per 2801 kelahiran hidup, tahun 2006 jumlah kematian ibu sebanyak 8 orang per 2768 kelahiran hidup (Dinkes 2006).
Penyebab kematian ibu cukup komplek dapat digolongkan atas faktor-faktor reproduksi, komplikasi obstetrik, pelayanan kesehatan dan sosial ekonomi. Menurut SKRT (Survei Kesehatan Rumah Tangga), penyebab obstetri langsung sebesar 90% yaitu sebagian besar perdarahan (28%), eklapsi (24%), infeksi nifas (11%), penyebab tidak langsung kematian ibu seperti Kurang Energi Kronik (KEK) 37%, anemia (Hb <>

TInjauan pelaksanaan imunisasi campak di posyandu kelurahan
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Imunisasi merupakan hal yang terpenting dalam usaha melindungi kesehatan anak. Imunisasi merupakan suatu cara yang efektif untuk memberikan kekebalan khusus terhadap seseorang yang sehat, dengan tujuan utama untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian karena berbagai penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Salah satunya adalah penyakit campak yang sering sekali menyerang anak di bawah usia lima tahun (http://www.Khalidatunnur dan Masriati Maeta Bagian Epidemiologi FKM Unhas, 2007).
Di Negara berkembang, terutama di daerah pedesaan yang sulit dijangkau oleh pelayanan kesehatan, khususnya dalam program imunisasi, sering terjadi wabah campak dengan angka kematian tinggi. Program imunisasi campak di Indonesia sendiri dimulai pada 1982 dan masuk dalam pengembangan program imunisasi. Keberhasilan Indonesia itu memberikan dampak positif terhadap kecenderungan penurunan kejadian campak, khususnya pada balita dari 20,08/10000 – 3,4/10000 selama 1992-1997. Karena, masih banyak anak Indonesia yang belum menerima imunisasi campak. Kelalaian untuk memberikan imunisasi campak pada balita telah mengakibatkan lebih dari 15000 anak Indonesia terserang campak. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan penderita campak tertinggi di dunia (http://www.Khalidatunnur dan Masriati Maeta Bagian Epidemiologi FKM Unhas, 2007).
Imunisasi campak efektif untuk memberi kekebalan terhadap penyakit campak sampai seumur hidup. Penyakit campak yang disebabkan oleh virus yang ganas ini dapat dicegah jika seseorang mendapatkan imunisai campak, minimal dua kali yakni semasa usia 6-59 bulan dan masa SD (6-12 tahun). Upaya imunsiasi campak tambahan yang dilakukan bersama imunisasi rutin terbukti dapat menurunkan kematian karena campak sampai 48 %. Menurut Menkes, total 6.390.180 anak menjadi target program yang mencakup crash program campak dengan sasaran 3.675.817. Anak umur 6-59 bulan dan catch up campaign campak dengan sasaran 2.715.363 anak SD / sederajat kelas 1-6 (6-12 tahun). Diperkirakan lebih dari 30000 anak / tahun meninggal karena komplikasi campak. Selain itu, campak berpotensi menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) atau wabah. Immunisasi adalah jalan utama untuk mencegah dan menurunkan angka kematian anak-anak akibat campak. (http://www.imunisasi, 2007)
Angka kesakitan untuk penyakit campak dari 12 kasus yang ditemukan pada tahun 2001 (angka kesakitan 81,65 per 100.000 penduduk) meningkat menjadi 14 kasus pada tahun 2002 (angka kesakitan 98,82 per 100.000 penduduk). Angka ini meningkat menjadi 129,85 pada tahun 2003 karena terjadi 15 kasus, pada tahun 2004 angka temuannya meningkat dari 11.200 jiwa penduduk sasaran terdapat 135 penderita sehingga angka kesakitan menjadi 1205,35. peningkatan ini lebih disebabkan oleh karena bertambahnya jumlah sasaran penduduk di Kota Metro dan penemuan kasus yang meningkat. Pada semester I tahun 2005 angka kematian kasus meningkat menjadi 15,2 kasus dari 125.085 jiwa penduduk (angka kesakitan 1356,90) sampai dengan semester II angka kesakitan campak menjadi 1713,98 per 100.000 penduduk. Pada semester I tahun 2006 angka temuan kasus ditemukan 67 kasus dari 126.375 jiwa penduduk (angka kesakitan : 241, 03 per 100.000 penduduk). Jumlah penderita campak yang tersebar di wilayah layanan Puskesmas di kota Metro untuk semester I tahun 2007, angka temuan kasus ditemukan 34 kasus dari 15.449 jiwa penduduk (angka kesakitan: 220,08 per 100.000 penduduk). Angka kesakitan paling banyak terdapat di wilayah Puskesmas Iringmulyo sebanyak 13 kasus dari 45 balita (Profil DinKes Kota Metro, 2007).
Hasil data yang didapat peneliti di Puskesmas Iringmulyo pada semester I tahun 2007 data angka kesakitan campak dipuskesmas Iringmulyo pada bulan Januari ditemukan sebanyak 5 kasus, Februari 2 kasus, Maret 1 kasus, April 1 Kasus, Mei 2 kasus, Juni 2 kasus (Laporan Bulanan Puskesmas Iringmulyo, 2007). Hasil pra survei yang didapat peneliti di Puskesmas Iringmulyo dari bulan Januari sampai Maret, angka kesakitan campak sebanyak 8 kasus dari 45 balita yang telah mendapatkan imunisasi campak. Dari uraian di atas penulis ingin melihat pelaksanaan imunisasi campak di Posyandu Kelurahan Iringmulyo Wilayah Kerja Puskesmas Iringmulyo Tahun 2008.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah, maka penulis membuat rumusan masalah sebagai berikut : ”Bagaimanakah Pelaksanaan Imunisasi Campak di Posyandu Kelurahan Iringmulyo Wilayah Kerja Puskesmas Iringmulyo Tahun 2008?”.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui tentang pelaksanaan imunisasi campak di Posyandu Kelurahan Iringmulyo Wilayah Kerja Puskesmas Iringmulyo.
2. Tujuan Khusus
Untuk mengetahui persiapan pelaksanaan imunisasi campak
a. Ditinjau dari persiapan alat imunisasi campak
b. Ditainjau dari teknik penyuntikan imunisasi campak
c. Ditinjau dari evaluasi setelah immunisasi campak
D. Ruang Lingkup
Pada penelitian ini penulis membatasi ruang lingkup yang diteliti sebagai berikut :
1. Sifat Penelitian : Diskriptif
2. Subyek Penelitian : Petugas pelaksana imunisasi campak
3. Objek Penelitian : Pelaksanaan imunisasi campak
4. Lokasi Penelitian : Di Posyandu Kelurahan Iringmulyo Wilayah Kerja Puskesmas Iringmulyo Tahun 2008.
5. Waktu Penelitian : Pada tanggal 4-16 Juni 2008
E. Manfaat Penelitian
Dengan diperolehnya gambaran pelaksanaan imunisasi campak secara umum, maka penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan :
1. Bagi Dinas Kesehatan Kota Metro, sebagai masukan dalam rangka meningkatkan pelayanan pelaksanaan imunisasi campak
2. Bagi Puskesmas Iringmulyo, sebagai masukan dalam rangka pelaksanaan imunisasi campak yang akan datang sesuai dengan pedoman .
3. Bagi Penulis, bermanfaat untuk menambah pengetahuan dan pengalaman dalam melakukan penelitian tentang imunisasi campak.

Tinjauan pelaksanaan kegiatan pondok sayang ibu (PSI) di desa
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan ukuran penting dalam menilai keberhasilan pelayanan kesehatan dan Keluarga Berencana (KB) suatu negara. Mortalitas dan morbilitas pada wanita hamil dan bersalin adalah masalah besar di negara berkembang, menurut laporan UNICEF di negara miskin sekitar 25% - 50% kematian wanita usia subur disebabkan karena komplikasi kehamilan, kematian saat melahirkan biasanya menjadi faktor utama kematian ibu karena tidak semua kehamilan berakhir dengan persalinan yang berlangsung normal, hal ini berdasarkan kenyataan bahwa lebih dari 90 % kematian ibu disebabkan komplikasi obstetri. Diperkirakan 15% kehamilan akan mengalami keadaan resiko tinggi dan komplikasi obstetri yang dapat membahayakan kehidupan ibu maupun janinnya bila tidak ditangani dengan memadai. AKI di Indonesia masih tinggi yaitu 334 per 100.000 kelahiran hidup (KH) dan AKB sebesar 21,8 per 1.000 KH (Saifuddin, 2002). Sedangkan AKI di Lampung juga masih tinggi selama tahun 2001 yaitu jumlah kematian maternal 111 dari 134.596 KH (83/100.000 KH), dan jumlah kematian bayi yaitu 4/1000 KH, (Dinas Kesehatan Propinsi Lampung, 2001).
Indonesia menempatkan penurunan AKI sebagai program prioritas mengingat kira-kira 90% kematian ibu terjadi di saat sekitar persalinan dan kira-kira 95% penyebab kematian ibu adalah komplikasi obstetri, maka kebijaksanaan Departemen Kesehatan untuk mempercepat penurunan AKI adalah mengupayakan agar : 1) setiap persalinan ditolong atau minimal didampingi oleh bidan dan pelayanan obstetri sedekat mungkin pada ibu hamil. Memperhatikan AKI dan AKB dapat dikemukakan bahwa : 1) sebagian besar kematian ibu dan perinatal terjadi saat pertolongan pertama, 2) pengawasan antenatal masih belum memadai sehingga menyulitkan kehamilan dengan resti tidak atau terlambat diketahui, 3) masih banyak di jumpai ibu dengan jarak kehamilan pendek, terlalu banyak anak, terlalu muda, dan terlalu tua untuk hamil, 4) jumlah anemia pada ibu hamil cukup tinggi, dan 5) pendidikan masyarakat yang rendah cenderung memilih pemeliharaan kesehatan secara tradisional (Manuaba, 1998).
Untuk menjawab permasalahan tersebut perlu diupayakan program yang memiliki daya ungkit besar dan dilaksanakan dengan memanfaatkan potensi sumber daya yang ada di masyarakat itu sendiri. Untuk itu digalakkan Gerakan Sayang Ibu (GSI) yang dirintis oleh Kantor Menteri Pemberdayaan Wanita pada tahun 1996. Ruang lingkup GSI meliputi advokasi dan mobilisasi sosial. Dalam pelaksanaannya GSI mempromosikan kegiatan yang berkaitan dengan Rumah Sakit Sayang Ibu dan Kecamatan Sayang Ibu, untuk mencegah 3 keterlambatan yaitu: 1) keterlambatan di tingkat keluarga dalam mengenali tanda bahaya dan membuat keputusan untuk segera mencari pertolongan, 2) keterlambatan dalam mencapai fasilitas pelayanan kesehatan, dan 3) keterlambatan di fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapat pertolongan yang dibutuhkan. Kegiatan yang terkait dengan Kecamatan Sayang Ibu berusaha mencegah keterlambatan pertama dan kedua, sedang kegiatan yang terkait dengan Rumah Sakit Sayang Ibu adalah mencegah keterlambatan ketiga. Menanggapi masalah tersebut tim penggerak PKK Propinsi Lampung mengambil langkah dengan membentuk Pondok Sayang Ibu yang merupakan tempat penampungan sementara bagi ibu hamil yang beresiko tinggi atau ibu hamil lainnya yang membutuhkan pertolongan dalam menghadapi persalinannya (TP.PKK Propinsi Lampung, 1997)
Di Kecamatan Cukuh Balak, Kabupaten Tanggamus merupakan daerah terpencil dengan tingkat ekonomi menengah kebawah. Di wilayah kerja Puskesmas Putih Doh terdapat 3 desa yang memiliki PSI dan salah satunya adalah Desa Badak. Dibanding dengan 2 desa lainnya yaitu : Desa Way Rilau dan Desa Tanjung Jati, Desa Badak merupakan desa yang sasaran ibu hamilnya lebih besar dengan perbandingan Desa Badak 43 orang, Desa Way Rilau 27 orang dan Desa Tanjung Jati 8 orang. Sedangkan perbandingan cakupan K1 (Kunjungan pertama ibu hamil) dari bulan Januari sampai bulan Agustus 2003 yaitu : Desa Badak 22 orang, Desa Way Rilau 15 orang dan Desa Tanjung Jati 5 orang. Adapun cakupan pelayanan KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) di Desa Badak lainnya yaitu : K IV ada 15 orang, deteksi ibu hamil dengan resiko tinggi ada 3 orang, neonatus 20 orang dan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan ada 20 orang. (Data Puskesmas Putih Doh tahun, 2003)
Menurut data pra survey yang dilakukan peneliti pada tanggal 3 November 2003, bahwa di Desa Badak selama tahun 2003 ini ada kematian ibu berjumlah 1 orang yang disebabkan karena perdarahan pada saat persalinan. Dan dari 8 standar kegiatan Pondok Sayang Ibu (PSI) yaitu: 1) membuat daftar seluruh ibu hamil yang ada di desa wilayah PSI, 2) menentukan status ibu hamil apakah kehamilannya beresiko tinggi, 3) membuat hari perkiraan ibu hamil, 4) menampung ibu hamil sementara sebelum dirujuk ke Rumah Sakit (RS), 5) melaksanakan piket kader PSI, 6) membuat daftar piket ambulan desa, 7) membuat daftar pendonor darah, dan 8) pembinaan / pertemuan ibu hamil. Yang dilakukan PSI di Desa Badak hanya 3 kegiatan atau 37,5 % yaitu : 1) menentukan status ibu hamil apakah kehamilannya beresiko tinggi, 2) membuat hari perkiraan ibu hamil, dan 3) membuat daftar piket ambulan desa.
Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis tertarik memilih judul penelitian yaitu Tinjauan Pengelolaan Pondok Sayang Ibu (PSI) di Desa Badak Wilayah kerja Puskesmas Putih Doh Kecamatan Cukuh Balak Kabupaten Tanggamus.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian masalah pada latar belakang, maka penulis membuat rumusan masalah sebagai berikut “Bagaimana Pelaksanaan kegiatan Pondok Sayang Ibu (PSI) di Desa Badak Wilayah Kerja Puskesmas Putih Doh Kecamatan Cukuh Balak Kabupaten Tanggamus ?”
C. Ruang Lingkup Penelitian
Di dalam penulisan ini yang menjadi ruang lingkup dari penelitian tinjauan pengelolaan Pondok Sayang Ibu (PSI) adalah sebagai berikut :
1. Subjek penelitian : Pondok Sayang Ibu
2. Objek penelitian : Pelaksanaan kegiatan Pondok Sayang Ibu
3. Variabel penelitian : Pondok Sayang Ibu
4. Populasi : PSI di Desa Badak Wilayah kerja Puskesmas Putih Doh Kecamatan Cukuh Balak Kabupaten Tanggamus
5. Lokasi Penelitian : Pondok Sayang Ibu (PSI) di Desa Badak Wilayah kerja Puskesmas Putih Doh Kecamatan Cukuh Balak Kabupaten Tanggamus
6. Waktu penelitian : Dilakukan pada bulan Desember 2003 – Maret 2004
D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui pelaksanaan kegiatan Pondok Sayang Ibu (PSI) di Desa Badak Wilayah kerja Puskesmas Putih Doh Kecamatan Cukuh Balak Kabupaten Tanggamus.
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui :
a. Kegiatan yang dilakukan PSI di Desa Badak
b. Tenaga pelaksana PSI di Desa Badak
c. Peralatan yang ada di PSI di Desa Badak
d. Pendanaan PSI di Desa Badak
e. Pencatatan dan pelaporan yang dilakukan di PSI di Desa Badak
E. Manfaat Penelitian
1. Manfaat bagi pengelola PSI
Sebagai upaya untuk meningkatkan pelayanan di PSI bagi masyarakat di Desa Badak
2. Manfaat bagi Puskesmas
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan sebagai upaya dalam pembinaan dan pengelolaan PSI.
3. Manfaat bagi Penulis
Menambah pengetahuan penulis tentang penelitian PSI
Senin, 10 Mei 2010
Gugling.com solusi efektif untuk di akses
Mengakses Internet saat ini bukanlah barang yang langka di indonesia, dengan mudah dan tanpa mengeluarkan biaya yang banyak kita bisa browsing melalui handphone, warnet, dll. Browsing internet membantu kita mencari informasi apa saja yang di inginkan, cukup memasukan kata kunci kemudian cari dengan google.Kemudahan yang ditawarkan tersebut, kita harus jeli dan efisien memamfaatkanya. Sebab saat
Read More
Langganan:
Postingan
(
Atom
)
Blog Archive
-
2015
(10)
- 10/11 - 10/18 (1)
- 09/13 - 09/20 (1)
- 09/06 - 09/13 (1)
- 07/05 - 07/12 (1)
- 05/17 - 05/24 (6)
-
2014
(1)
- 04/13 - 04/20 (1)
-
2012
(770)
- 02/19 - 02/26 (5)
- 02/12 - 02/19 (10)
- 02/05 - 02/12 (4)
- 01/29 - 02/05 (27)
- 01/22 - 01/29 (88)
- 01/15 - 01/22 (101)
- 01/08 - 01/15 (169)
- 01/01 - 01/08 (366)
-
2011
(4477)
- 12/25 - 01/01 (336)
- 12/18 - 12/25 (62)
- 12/11 - 12/18 (70)
- 12/04 - 12/11 (77)
- 11/27 - 12/04 (40)
- 11/20 - 11/27 (67)
- 11/13 - 11/20 (198)
- 11/06 - 11/13 (187)
- 10/30 - 11/06 (340)
- 10/23 - 10/30 (32)
- 10/16 - 10/23 (109)
- 10/09 - 10/16 (80)
- 08/14 - 08/21 (75)
- 08/07 - 08/14 (81)
- 07/31 - 08/07 (82)
- 07/24 - 07/31 (65)
- 07/17 - 07/24 (91)
- 07/10 - 07/17 (47)
- 07/03 - 07/10 (44)
- 06/26 - 07/03 (53)
- 06/19 - 06/26 (59)
- 06/12 - 06/19 (47)
- 06/05 - 06/12 (65)
- 05/29 - 06/05 (63)
- 05/22 - 05/29 (77)
- 05/15 - 05/22 (115)
- 05/08 - 05/15 (65)
- 05/01 - 05/08 (104)
- 04/24 - 05/01 (45)
- 04/17 - 04/24 (70)
- 04/10 - 04/17 (134)
- 04/03 - 04/10 (72)
- 03/27 - 04/03 (18)
- 03/20 - 03/27 (47)
- 03/13 - 03/20 (68)
- 03/06 - 03/13 (40)
- 02/27 - 03/06 (56)
- 02/20 - 02/27 (77)
- 02/13 - 02/20 (76)
- 02/06 - 02/13 (198)
- 01/30 - 02/06 (194)
- 01/23 - 01/30 (132)
- 01/16 - 01/23 (196)
- 01/09 - 01/16 (202)
- 01/02 - 01/09 (121)
-
2010
(2535)
- 12/26 - 01/02 (156)
- 12/19 - 12/26 (65)
- 12/12 - 12/19 (73)
- 12/05 - 12/12 (84)
- 11/28 - 12/05 (80)
- 11/21 - 11/28 (68)
- 11/14 - 11/21 (63)
- 11/07 - 11/14 (50)
- 10/31 - 11/07 (50)
- 10/24 - 10/31 (36)
- 10/17 - 10/24 (58)
- 10/10 - 10/17 (35)
- 10/03 - 10/10 (31)
- 09/26 - 10/03 (21)
- 09/19 - 09/26 (26)
- 09/12 - 09/19 (55)
- 09/05 - 09/12 (65)
- 08/29 - 09/05 (33)
- 08/22 - 08/29 (70)
- 08/15 - 08/22 (45)
- 08/08 - 08/15 (35)
- 08/01 - 08/08 (37)
- 07/25 - 08/01 (27)
- 07/18 - 07/25 (19)
- 07/11 - 07/18 (30)
- 07/04 - 07/11 (56)
- 06/27 - 07/04 (28)
- 06/20 - 06/27 (22)
- 06/13 - 06/20 (30)
- 06/06 - 06/13 (21)
- 05/30 - 06/06 (5)
- 05/16 - 05/23 (6)
- 05/09 - 05/16 (29)
- 05/02 - 05/09 (59)
- 04/25 - 05/02 (28)
- 04/18 - 04/25 (38)
- 04/11 - 04/18 (70)
- 04/04 - 04/11 (59)
- 03/28 - 04/04 (65)
- 03/21 - 03/28 (89)
- 03/14 - 03/21 (218)
- 03/07 - 03/14 (95)
- 02/28 - 03/07 (135)
- 02/21 - 02/28 (102)
- 01/03 - 01/10 (68)
-
2009
(1652)
- 12/27 - 01/03 (36)
- 12/20 - 12/27 (22)
- 12/13 - 12/20 (100)
- 12/06 - 12/13 (45)
- 11/29 - 12/06 (24)
- 11/22 - 11/29 (22)
- 11/15 - 11/22 (19)
- 11/08 - 11/15 (28)
- 11/01 - 11/08 (11)
- 10/25 - 11/01 (17)
- 10/18 - 10/25 (38)
- 10/11 - 10/18 (33)
- 10/04 - 10/11 (15)
- 09/27 - 10/04 (21)
- 09/20 - 09/27 (7)
- 09/13 - 09/20 (84)
- 09/06 - 09/13 (35)
- 08/30 - 09/06 (48)
- 08/23 - 08/30 (118)
- 08/16 - 08/23 (26)
- 08/09 - 08/16 (34)
- 08/02 - 08/09 (35)
- 07/26 - 08/02 (31)
- 07/19 - 07/26 (14)
- 07/12 - 07/19 (16)
- 07/05 - 07/12 (28)
- 06/28 - 07/05 (26)
- 06/21 - 06/28 (76)
- 06/14 - 06/21 (26)
- 06/07 - 06/14 (21)
- 05/31 - 06/07 (43)
- 05/24 - 05/31 (38)
- 05/17 - 05/24 (26)
- 05/10 - 05/17 (52)
- 05/03 - 05/10 (15)
- 04/26 - 05/03 (38)
- 04/19 - 04/26 (32)
- 04/12 - 04/19 (22)
- 04/05 - 04/12 (20)
- 03/29 - 04/05 (40)
- 03/22 - 03/29 (43)
- 03/15 - 03/22 (18)
- 03/08 - 03/15 (14)
- 03/01 - 03/08 (22)
- 02/22 - 03/01 (12)
- 02/15 - 02/22 (9)
- 02/08 - 02/15 (11)
- 02/01 - 02/08 (19)
- 01/25 - 02/01 (37)
- 01/18 - 01/25 (21)
- 01/11 - 01/18 (33)
- 01/04 - 01/11 (31)
-
2008
(700)
- 12/28 - 01/04 (13)
- 12/21 - 12/28 (9)
- 12/14 - 12/21 (57)
- 12/07 - 12/14 (5)
- 11/30 - 12/07 (18)
- 11/23 - 11/30 (33)
- 11/16 - 11/23 (31)
- 11/09 - 11/16 (23)
- 11/02 - 11/09 (18)
- 10/26 - 11/02 (11)
- 10/19 - 10/26 (15)
- 10/12 - 10/19 (13)
- 10/05 - 10/12 (25)
- 09/28 - 10/05 (2)
- 09/21 - 09/28 (14)
- 09/14 - 09/21 (19)
- 09/07 - 09/14 (43)
- 08/31 - 09/07 (3)
- 08/24 - 08/31 (33)
- 08/17 - 08/24 (65)
- 08/10 - 08/17 (4)
- 08/03 - 08/10 (26)
- 07/27 - 08/03 (6)
- 07/20 - 07/27 (19)
- 07/13 - 07/20 (18)
- 07/06 - 07/13 (60)
- 06/29 - 07/06 (53)
- 06/22 - 06/29 (49)
- 06/15 - 06/22 (11)
- 06/08 - 06/15 (4)
Popular Posts
-
Konsep Teori Transkultural dalam Keperawatan APLIKASI TEORI TRANSCULTURAL NURSING DALAM PROSES KEPERAWATAN Rahayu Iskandar, Ners, M.Kep PEND...
-
Setelah beberapa minggu ini cari materi buat postingan baru, mendadak dapat inspirasi setelah rekan Anton Wijaya menulis di buku tamu Keper...
-
KTI KEBIDANAN HUBUNGAN USIA TERHADAP PERDARAHAN POSTPARTUM DI RSUD BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan wanita merupakan hal yang s...
-
PATHWAY ASFIKSIA NEONATORUM Klik pada gambar untuk melihat pathway Download Pathway Asfiksia Neonatorum Via Ziddu Download Askep Asfiksia N...
-
PROSES KEPERAWATAN KOMUNITAS Pengertian - Proses keperawatan adalah serangkaian perbuatan atau tindakan untuk menetapkan, merencana...
-
Konsep Dasar Diagnosa Keperawatan Aktual BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sebagai suatu aspek yang terpenting dalam proses kepera...
-
Prelevansi penyakit kulit di Indonesia cukup tinggi baik oleh bakteri, virus atau jamur. Selain itu bergantung pada lingkungan dan kondisi...
-
Pathway Hematemesis Melena Klik pada gambar untuk melihat pathway Download Pathway Hematemesis Melena Via Ziddu
-
DEFINISI Ikterus ialah suatu gejala yang perlu mendapat perhatian sungguh-sungguh pada neonatus. Ikterus ialah suatu diskolorasi kuning pa...
-
Gangguan Masalah Eliminasi ALVI Konstipasi Konstipasi merupakan keadaan individu yang mengalami atau berisiko tinggi mengalami stasis usus b...
© ASUHAN KEPERAWATAN 2013 . Powered by Bootstrap , Blogger templates and RWD Testing Tool Published..Gooyaabi Templates
