Kamis, 16 September 2010
ANTENATAL CARE
ANC adalah Pengawasan sebelum persalinan terutama ditujukan pada pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim.ASUHAN KEPERAWATAN ANTENATAL CARE
Pengertian
ANC adalah Pengawasan sebelum persalinan terutama ditujukan pada pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim.
Asuhan antenatal adalah suatu program yang terencana berupa observasi, edukasi dan penanganan medik pada ibu hamil, untuk memperoleh suatu proses kehamilan dan persalinan yang aman dan memuaskan. (pada beberapa kepustakaan disebut sebagai Prenatal Care).
Pelayanan antenatal adalah pelayanan kesehatan oleh tenaga profesional (dokter spesialis kebidanan, dokter umum, bidan, pembantu bidan dan perawat bidan) untuk ibu selama masa kehamilannya, sesuai dengan standard minimal pelayanan antenatal yang meliputi 5T yaitu timbang berat badan, ukur tinggi badan, ukur tekanan darah, pemberian imunisasi TT, ukur tinggi fundus uteri dan pemberian tablet besi minimal 90 tablet selama masa kehamilan.
Tujuan
Pengawasan kesehatan Ibu, Deteksi dini penyakit penyerta & komplikasi kehamilan, menetapkan dan merencanakan penatalaksanaan yang optimal terhadap resiko kehamilan (tinggi, meragukan dan rendah)
Menyiapkan persalinan well born baby dan well health mother
Mempersiapkan pemeliharaan bayi & laktasi
Mengantarkan pulihnya keshehatan ibu optimal
Menurunkan morbiditas dan mortalitas ibu dan perinatal.
Perencanaan
Jadwal pemeriksaan (usia kehamilan dari hari pertama haid terakhir) :
Sampai 28 pekan : 4 pekan sekali
28 - 36 pekan : 2 pekan sekali
Di atas 36 pekan : 1 pekan sekali
Kunjungan I (12-24 pekan)
Anamnesis lengkap, pemeriksaan fisik & obstetri, Pemeriksaan lab., Antopo metri, penilaian resiko kehamilan, KIE
Kunjungan II ( 28 – 32 pekan )
Anamnesis, USG, Penilaian resiko kehamilan, Nasehat perawatan payudara & Senam hamil), TT I
Kunjungan III ( 34 pekan)
Anamnesis, pemeriksaan ulang lab. TT II
Kunjungan IV, V, VII & VIII ( 36-42 pekan)
Anamnesis , perawatan payudara & persiapan persalinan
KECUALI jika ditemukan kelainan / faktor risiko yang memerlukan penatalaksanaan medik lain, pemeriksaan harus lebih sering dan intensif.
KUNJUNGAN / PEMERIKSAAN ANTENATAL CARE
1. Menentukan diagnosis ada/tidaknya kehamilan
2. Menentukan usia kehamilan dan perkiraan persalinan
3. Menentukan status kesehatan ibu dan janin
4. Menentukan kehamilan normal atau abnormal, serta ada/ tidaknya faktor risiko kehamilan
5. Menentukan rencana pemeriksaan/penatalaksanaan selanjutnya
Menentukan Diagnosis Ada/Tidaknya Kehamilan
Gejala Kehamilan Tidak Pasti
Ø Amenore (tidak mendapat haid)
Ø Nausea (enek) dengan atau tanpa vomitus (muntah).
Ø Konstipasi
Ø Sering kencing
Tanda Kehamilan Tidak Pasti
Pigmentasi kulit yang dikenal dengan kloasma gravidarum
Leukore. Secret serviks meningkat karena pengaruh peningkatan hormone progesterone.
Perubahan pada payudara. Payudara menjadi tegang dan membesar karena pengaruh estrogen dan progesterone yang merangsang duktuli dan alveoli payudara. Daerah areola menjadi lebih hitam karena deposit pigmen yang berlebihan. Terdapat kolostrum bila kehamilan lebih dari 12 pekan.
Perubahan abdomen.
ü Pembesaran abdomen
ü Striae Gravidarum
ü Pigmentasi pada linea nigra
Perubahan organ-organ dalam pelvic/pertumbuhan dan perubahan uterus
ü Tanda Hegar’s ( melunaknya segmen bawah uterus pada perabaan)
ü Ballotement (lentingan janin dl uterus saat palpasi)
ü Braxton hick’s (kontraksi selama kehamilan, uterus berkontraksi bila dirangsang)
ü Tanda Piscaseck (uterus membesar ke salah satu jurusan)
Tanda Pasti Kehamilan
Pada palpasi dirasakan bagian janin dan balotemen serta gerak janin
Pada auskultasi terdengar bunyi jantun (BJJ). Dengan stetoskop Laennec BJJ baru terdenngar pada kehamilan 18-20 pekan. Dengan alat Doppler BJJ terdengar pada kehamilan 12 pekan.
Dengan ultrasonografi (USG) atau scanning dapat dilihat gambaran janin.
Tes Kehamilan
Tes hCG (hormone Chorionic gonadotropin). Dilakukan dengan mendeteksi hormone hCG dalam urin. Reaksi kehamilan ini tergantung dari seberapa banyak hCG yang beredar. Kadar terendah yang memberi hasil positif yaitu 0,5 hCg per ml urin. Kadar tertingginya yaitu 500 SI hCG.
Menentukan Usia Kehamilan dan Perkiraan Persalinan
Rumus taksiran partus menurut Naegel bila siklus haid ± 28 hari adalah: tanggal + 7, bulan -3. Bila HPHT tidak diketahui, usia kehamilan tentukan dg cara :
TFU ( cm x 7/8 = usia dalam pekan)
Terabanya ballotement di simpisis 12 pekan
DJJ (+) dg dopller 10-12 pekan
DJJ (+) dg fetoscop 20 pekan
PEMERIKSAAN FISIK IBU HAMIL
Peralatan Pemeriksaan
Adapun alat – alat yang dibutuhkan untuk pemeriksaan ibu hamil diantaranya adalah: timbangan berat badan, pengukur tinggi badan, tensi meter, stetoskop monokuler atau linec, meteran atau midlen, hamer reflek, jangka panggul serta peralatan untuk pemeriksaan laboratorium kehamilan yaitu pemeriksaan kadar hemoglobin, protein urin, urin reduksi dll (bila diperlukan)
Komponen Pemeriksaan Fisik Pada Kunjungan Antenatal Pertama
Pemeriksaan fisik umum
Tinggi Badan
Berat badan
Tanda – tanda vital : tekanan darah, denyut nadi, suhu
2. Kepala dan leher
Edema diwajah
Ikterus pada mata
Mulut pucat
Leher meliputi pembengkakan saluran limfe atau pembengkakan kelenjar thyroid
3. Tangan dan kaki
Edema di jari tangan
Kuku jari pucat
Varices vena
Reflek – reflek
4. Payudara
Ukuran simetris
Putting menonjol / masuk
Keluarnya kolostrom atau cairan lain
Retraksi
Massa; Nodul axilla
5. Abdomen
Luka bekas operasi
Tinggi fundus uteri (jika>12 minggu)
Letak, presentasi, posisi dan penurunan kepala (jika>36 minggu)
Denyut jantung janin (jika>18 minggu)
6. Genetalia luar (externa)
varises
perdarahan
luka
cairan yang keluar
pengeluaran dari uretra dan skene
kelenjar bartholini : bengkak (massa), ciaran yang keluar
7. Genetalia dalam (interna)
servik meliputi cairan yang keluar, luka (lesi), kelunakan, posisi, mobilitas, tertutup atau terbuka
vagina meliputi cairan yang keluar, luka, darah
ukuran adneksa, bentuk, posisi, nyeri, kelunakan, massa (pada trimester pertama)
uterus meliputi : ukuran, bentuk, mobilitas, kelunakan, massa pada trimester petama.
Pelaksanaan Pemeriksaan Kehamilan.
Dalam pemeriksaan kehamilan meliputi beberapa langkah antara lain :
Perhatikan tanda – tanda tubuh yang sehat
Pemeriksaan pandang dimulai semenjak bertemu dengan pasien. Perhatikan bagaimana sikap tubuh, keadaan punggung dan cara berjalannya. Apakah cenderung membungkuk, terdapat lordosis, kifosis, scoliosis atau pincang dsb. Lihat dan nilai kekuatan ibu ketika berjalan, apakah ia tampak nyaman dan gembira, apakah ibu tampak lemah
Pengukuran tinggi badan dan berat badan
Timbanglah berat badan ibu pada setiap pemeriksaan kehamilan. Bila tidak tersedia timbangan, perhatikan apakah ibu bertambah berat badannya. Berat badan ibu hamil biasanya naik sekitar 9-12 kg selama kehamilan. Yang sebagian besar diperoleh terutama pada trimester kedua dan ketiga kehamilan. Kenaikan berat badan menunjukkan bahwa ibu mendapat cukup makanan. Jelaskan bahwa berat badan ibu naik secara normal yang menunjukkan janinnya tumbuh dengan baik bila kenaikan berat badan ibu kurang dari 5 kg pada kehamilan 28 minggu maka ia perlu dirujuk.
Tinggi berat badan hanya diukur pada kunjungan pertama. Bila tidak tersedia alat ukur tinggu badan maka bagian dari dinding dapat ditandai dengan ukuran centi meter. Pada ibu yang pendek perlu diperhatikan kemungkinan mempunyai panggul yang sempit sehingga menyulitkan dalam pemeriksaan. Bila tinggu badan ibu kurang dari 145 atau tampak pendek dibandingkan dengan rata-rata ibu, maka persalinan perlu diwaspadai.
Pemeriksaan tekanan darah
Tekanan darah pada ibu hamil bisanya tetap normal, kecuali bila ada kelainan. Bila tekanan darah mencapai 140/90 mmhg atau lebih mintalah ibu berbaring miring ke sebelah kiri dan mintalah ibu bersantai sampai terkantuk. Setelah 20 menit beristirahat, ukurlah tekanan darahnya. Bila tekanan darah tetap tinggi, maka hal ini menunjukkan ibu menderita pre eklamsia dan harus dirujuk ke dokter serta perlu diperiksa kehamilannya. Khususnya tekanan darahnya lebih sering (setiap minggu). Ibu dipantau secara ketat dan anjurkan ibu persalinannya direncanakan di rumah sakit.
Pemeriksaan dari ujung rambut sampai ke ujung kaki
Pemeriksaan fisik pada kehamilan dilakukan melalui pemeriksaan pandang (inspeksi), pemeriksaan raba (palpasi), periksa dengar (auskultasi),periksa ketuk (perkusi). Pemeriksaan dilakukan dari ujung rambut sampai ke ujung kaki, yang dalam pelaksanaannya dilakukan secara sistematis atau berurutan.
Pada saat melakukan pemeriksaan daerah dada dan perut, pemeriksaan inspeksi, palpasi, auskultasi dilakukan secara berurutan dan bersamaan sehingga tidak adanya kesan membuka tutup baju pasien yang mengakibatkan rasa malu pasien.
Dibawah ini akan diuraikan pemeriksaan obstetric yaitu dengan melakukan inspeksi, palpasi, auskultasi, perkusi terhadap ibu hamil dari kepala sampai kaki.
Lihatlah wajah atau muka pasien
Adakah cloasma gravidarum, pucat pada wajah adalah pembengkakan pada wajah. Bila terdapat pucat pada wajah periksalah konjungtiva dan kuku pucat menandakan bahwa ibu menderita anemia, sehingga memerlukan tindakan lebih lanjut. Jelaskan bahwa ibu sedang diperiksa apakah kurang darah atau tidak. Sebutkan bahwa bila ibu tidak kurang darah ia akan lebih kuat selama kehamilan dan persalinan. Jelaskan pula bahwa tablet tambah darah mencegah kurang darah.
Bila terdapat bengkak diwajah, periksalah adanya bengkak pada tangan dan kaki. Sedikit bengkak pada mata kaku dapat terjadi pada kehamilan normal, namun bengkak pada tangn dan atau wajah tanda preeklamsi. Perhatikan wajah ibu apakah bengkak dan tanyakan pada ibu apakah ia sulit melepaskan cincin atau gelang yang dipakainya. Mata kaki yang bengkak dan menimbulkan cekungan yang tak cepat hilang bila ditekan, maka ibu harus dirujuk ke dokter, dipantau ketat kehamilannya dan tekanan darahnya, serta direncanakan persalinannya dirumah sakit.
Selain memeriksa ada tidaknya pucat pada konjungtiva, lihatlah sclera mata adakah sclera kuning atau ikterik
Lihatlah mulut pasien. Adakah tampak bibir pucat, bibir kering pecah-pecah adakah stomatitis, gingivitis, adakah gigi yang tanggal, adakah gigi yang berlobang, caries gigi. Selain dilihat dicium adanya bau mulut yang menyengat.
Lihatlah kelenjar gondok, adakah pembesaran kelenjar thyroid, pembengkakan saluran limfe
Lihat dan raba payudara, pada kunjungan pertama pemeriksaan payudara terhadap kemungkinan adanya benjolan yang tidak normal. Lihatlah apakah payudara simetris atau tidak, putting susu menonjol atau datar atau bahkan masuk. Putting susu yang datar atau masuk akan mengganggu proses menyusui nantinya. Apakah asinya sudah keluar atau belum. Lihatlah kebersihan areola mammae adakah hiperpigmentasi areola mammae.
Lakukan pemeriksaan inspeksi, palpasi dan auskultasi pada perut ibu.
Tujuan pemeriksaan abdomen adalah untuk menentukan letak dan presentasi janin, turunnya bagian janin yang terbawah, tinggi fundus uteri dan denyut jantung janin.
Sebelum memulai pemeriksaan abdomen, penting untuk dilakukan hal– hal sebagai berikut :
Mintalah ibu untuk mengosongkan kandung kemihnya bila perlu
bantulah ia untuk santai. Letakkan sebuah bantal dibawah kepala dan bahunya. Fleksikan tangan dan lutut. Jika ia gelisah bantulah ia untuk santai dengan memintanya menarik nafas panjang.
cucilah tangan anda sebelum mulai memeriksa, keringkan dan usahakan agar tangan perawat cukup hangat.
Lihatlah bentuk pembesaran perut (melintang, memanjang, asimetris) adakah linea alba nigra, adakah striae gravidarum, adakah bekas luka operasi, adakah tampak gerakan janin, rasakan juga dengan pemeriksaan raba adanya pergerakan janin. Tentukan apakah pembesaran perut sesuai dengan umur kehamilannya. Pertumbuhan janin dinilai dari tingginya fundus uteri. Semakin tua umur kehamilan, maka semakin tinggi fundus uteri. Namun pada umur kehamilan 9 bulan fundus uteri akan turun kembali karena kepala telah turun atau masuk ke panggul. Pada kehamilan 12 minggu, tinggi fundus uteri biasanya sedikit diatas tulang panggul. Pada kehamilan 24 minggu fundus berada di pusat. Secara kasar dapat dipakai pegangan bahwa setiap bulannya fundus naik 2 jari tetapi perhitungan tersebut sering kurang tepat karena ukuran jari pemeriksa sangat bervariasi. Agar lebih tepat dianjurkan memakai ukuran tinggi fundus uteri dri simfisis pubis dalam sentimeter dengan pedoman sebagai berikut:
Umur kehamilan Tinggi fundus uteri
20 minggu 20 cm
24 minggu 24 cm
28 minggu 28 cm
32 minggu 32 cm
36 minggu 34- 46 cm
Jelaskan pada ibu bahwa perutnya akan semakin membesar karena pertumbuhan janin. Pada kunjungan pertama, tingginya fundus dicocokkan dengan perhitungan umur kehamilan hanya dapat diperkirakan dari hari pertama haid (HPHT). Bila HPHT tidak diketahui maka umur kehamilan hanya dapat diperkirakan dari tingginya fundus uteri. Pada setiap kunjungan, tingginya fundus uteri perlu diperiksa untuk melihat pertumbuhan janin normal, terlalu kecil atau terlalu besar.
Laporan Praktik Klinik Keperawatan (PKK)
Asuhan Keperawatan INTRANATAL CARE
Di
Pukesmas Pakuan Baru
Disusun Oleh :
Agus Hudayawan Arif
PRODI S 1 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BAITURRAHIM JAMBI
Jadwal Kunjungan ANC
Kunjungan Ibu Hamil
Kunjungan ibu hamil adalah kontak ibu hamil dengan tenaga profesional untuk mendapatkan pelayanan ANC sesuai standart yang ditetapkan. Istilah kunjungan disini tidak hanya mengandung arti bahwa ibu hamil yang berkunjung kefasilitas pelayanan, tetapi adalah setiap kontak tenaga kesehatan baik di posyandu, pondok bersalin di desa, kunjungan rumah dengan ibu hamil tidak memberikan pelayanan ANC sesuai dengan standart dapat dianggap sebagai kunjungan ibu hamil.
Kunjungan Baru Hamil / K1
Kunjungan baru hamil adalah kunjungan ibu hamil yang pertama kali pada masa kehamilan.
Kunjungan Ulang
Kunjungan ulang adalah kontak ibu hamil dengan tenaga kesehatan yang kedua dan seterusnya, untuk mendapatkan pelayanan antenatal sesuai dengan standart selama satu periode kehamilan.
K4
K4 adalah kontak ibu hamil dengan tenaga kesehatan yang ke empat atau lebih untuk mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standart yang ditetapkan (Depkes RI, 2001)
Menurut buku pelayanan kesehatan maternal dan neonatal, saifudin tahun 2002 hal 91 jadwal kunjungan Antenata Care adalah :
Satu kali kunjungan selama trimester pertama (sebelum 14 minggu)
Satu kali kunjungan selama trimester kedua (antara minggu 14 – 28).
dua kali kunjungan selama trimester ketiga (antara minggu 28 – 36 dan sesudah minggu ke 36).
Untuk mendapatkan semua informasi yang diperlukan, sehubungan dengan hal-hal diatas, petugas kesehatan akan memberikan asuhan antenatal yang baik dengan langkah-langkah seperti berikut :
Sapa Ibu (dan keluarganya) dan membuatnya merasa nyaman
mendapatkan riwayat kehamilan ibu dan mendengarkan dengan teliti apa yang diceritakan oleh ibu.
Melakukan pemeriksaan fisik.
Melakukan pemeriksaan laboratorium
Melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan laboratorium untuk menilai apakah kehamilannya normal :
Tekanan darah dibawah 140/90 mmhg
Edema hanya pada ekstrimitas
Tinggi fundus dalam cm atau menggunakan jari-jari tangan sesuai dengan usia kehamilan
Denyut jantung janin 120 sampai 160 denyut permenit
Gerakan janin terasa setelah 18-20 minggu hingga melahirkan.
Membantu ibu dan keluarganya, untuk mempersiapkan kelahiran dan kemungkinan keadaan.
Bekerja sama dengan ibu, keluarganya dan masyarakat untuk mempersiapkan rencana jika terjadi komplikasi termasuk :
mengidentifikasi kemana harus pergi dan transportasi untuk mencapai tempat tersebut.
mempersiapkan donor darah
mengadakan persiapan finansial
mengidentifikasi pembuat keputusan kedua jika pembuat keputusan pertama tidak ada ditempat.
Memberikan Konseling
Gizi : Penigkatan konsumsi makanan hingga 300 kalori perhari, mengkonsumsi makanan mengandung protein, zat besi, minum cukup cairan (menu seimbang).
Menasehati ibu untuk mencari pertolongan segera jika ia mendapati tanda-tanda bahaya berikutnya, seperti :
v Perdarahan pervaginam
v Sakit kepala lebih dari biasa
v Gangguan penglihatan
v Pembengkakan pada wajah atau tangan
v Nyeri abdomen (epigastrik)
v Janin tidak bergerak sebanyak biasanya.
Merencanakan dan mempersiapkan kelahiran yang bersih dan aman dirumah.
Menjaga kebersihan diri terutama lipatan kulit (ketiak, bawah buah dada, daerah genetalia) dengan cara dibersihkan dan dikeringkan.
Menjelaskan cara merawat payudara terutama pada ibu yang mempunyai putting susu rata atau masuk ke dalam. Dilakukan 2 kali sehari selama 5 menit.
Memberikan zat besi 90 hari mulai minggu ke-20
Memberikan imunisasi tetanus 0,5 cc, jika sebelumnya telah mendapatkan
Menjadwalkan kunjungan berikutnya.
Mendokumentasikan kunjungan tersebut (Saifuddin, 2002 : 15 )
Read More
Pengertian
ANC adalah Pengawasan sebelum persalinan terutama ditujukan pada pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim.
Asuhan antenatal adalah suatu program yang terencana berupa observasi, edukasi dan penanganan medik pada ibu hamil, untuk memperoleh suatu proses kehamilan dan persalinan yang aman dan memuaskan. (pada beberapa kepustakaan disebut sebagai Prenatal Care).
Pelayanan antenatal adalah pelayanan kesehatan oleh tenaga profesional (dokter spesialis kebidanan, dokter umum, bidan, pembantu bidan dan perawat bidan) untuk ibu selama masa kehamilannya, sesuai dengan standard minimal pelayanan antenatal yang meliputi 5T yaitu timbang berat badan, ukur tinggi badan, ukur tekanan darah, pemberian imunisasi TT, ukur tinggi fundus uteri dan pemberian tablet besi minimal 90 tablet selama masa kehamilan.
Tujuan
Pengawasan kesehatan Ibu, Deteksi dini penyakit penyerta & komplikasi kehamilan, menetapkan dan merencanakan penatalaksanaan yang optimal terhadap resiko kehamilan (tinggi, meragukan dan rendah)
Menyiapkan persalinan well born baby dan well health mother
Mempersiapkan pemeliharaan bayi & laktasi
Mengantarkan pulihnya keshehatan ibu optimal
Menurunkan morbiditas dan mortalitas ibu dan perinatal.
Perencanaan
Jadwal pemeriksaan (usia kehamilan dari hari pertama haid terakhir) :
Sampai 28 pekan : 4 pekan sekali
28 - 36 pekan : 2 pekan sekali
Di atas 36 pekan : 1 pekan sekali
Kunjungan I (12-24 pekan)
Anamnesis lengkap, pemeriksaan fisik & obstetri, Pemeriksaan lab., Antopo metri, penilaian resiko kehamilan, KIE
Kunjungan II ( 28 – 32 pekan )
Anamnesis, USG, Penilaian resiko kehamilan, Nasehat perawatan payudara & Senam hamil), TT I
Kunjungan III ( 34 pekan)
Anamnesis, pemeriksaan ulang lab. TT II
Kunjungan IV, V, VII & VIII ( 36-42 pekan)
Anamnesis , perawatan payudara & persiapan persalinan
KECUALI jika ditemukan kelainan / faktor risiko yang memerlukan penatalaksanaan medik lain, pemeriksaan harus lebih sering dan intensif.
KUNJUNGAN / PEMERIKSAAN ANTENATAL CARE
1. Menentukan diagnosis ada/tidaknya kehamilan
2. Menentukan usia kehamilan dan perkiraan persalinan
3. Menentukan status kesehatan ibu dan janin
4. Menentukan kehamilan normal atau abnormal, serta ada/ tidaknya faktor risiko kehamilan
5. Menentukan rencana pemeriksaan/penatalaksanaan selanjutnya
Menentukan Diagnosis Ada/Tidaknya Kehamilan
Gejala Kehamilan Tidak Pasti
Ø Amenore (tidak mendapat haid)
Ø Nausea (enek) dengan atau tanpa vomitus (muntah).
Ø Konstipasi
Ø Sering kencing
Tanda Kehamilan Tidak Pasti
Pigmentasi kulit yang dikenal dengan kloasma gravidarum
Leukore. Secret serviks meningkat karena pengaruh peningkatan hormone progesterone.
Perubahan pada payudara. Payudara menjadi tegang dan membesar karena pengaruh estrogen dan progesterone yang merangsang duktuli dan alveoli payudara. Daerah areola menjadi lebih hitam karena deposit pigmen yang berlebihan. Terdapat kolostrum bila kehamilan lebih dari 12 pekan.
Perubahan abdomen.
ü Pembesaran abdomen
ü Striae Gravidarum
ü Pigmentasi pada linea nigra
Perubahan organ-organ dalam pelvic/pertumbuhan dan perubahan uterus
ü Tanda Hegar’s ( melunaknya segmen bawah uterus pada perabaan)
ü Ballotement (lentingan janin dl uterus saat palpasi)
ü Braxton hick’s (kontraksi selama kehamilan, uterus berkontraksi bila dirangsang)
ü Tanda Piscaseck (uterus membesar ke salah satu jurusan)
Tanda Pasti Kehamilan
Pada palpasi dirasakan bagian janin dan balotemen serta gerak janin
Pada auskultasi terdengar bunyi jantun (BJJ). Dengan stetoskop Laennec BJJ baru terdenngar pada kehamilan 18-20 pekan. Dengan alat Doppler BJJ terdengar pada kehamilan 12 pekan.
Dengan ultrasonografi (USG) atau scanning dapat dilihat gambaran janin.
Tes Kehamilan
Tes hCG (hormone Chorionic gonadotropin). Dilakukan dengan mendeteksi hormone hCG dalam urin. Reaksi kehamilan ini tergantung dari seberapa banyak hCG yang beredar. Kadar terendah yang memberi hasil positif yaitu 0,5 hCg per ml urin. Kadar tertingginya yaitu 500 SI hCG.
Menentukan Usia Kehamilan dan Perkiraan Persalinan
Rumus taksiran partus menurut Naegel bila siklus haid ± 28 hari adalah: tanggal + 7, bulan -3. Bila HPHT tidak diketahui, usia kehamilan tentukan dg cara :
TFU ( cm x 7/8 = usia dalam pekan)
Terabanya ballotement di simpisis 12 pekan
DJJ (+) dg dopller 10-12 pekan
DJJ (+) dg fetoscop 20 pekan
PEMERIKSAAN FISIK IBU HAMIL
Peralatan Pemeriksaan
Adapun alat – alat yang dibutuhkan untuk pemeriksaan ibu hamil diantaranya adalah: timbangan berat badan, pengukur tinggi badan, tensi meter, stetoskop monokuler atau linec, meteran atau midlen, hamer reflek, jangka panggul serta peralatan untuk pemeriksaan laboratorium kehamilan yaitu pemeriksaan kadar hemoglobin, protein urin, urin reduksi dll (bila diperlukan)
Komponen Pemeriksaan Fisik Pada Kunjungan Antenatal Pertama
Pemeriksaan fisik umum
Tinggi Badan
Berat badan
Tanda – tanda vital : tekanan darah, denyut nadi, suhu
2. Kepala dan leher
Edema diwajah
Ikterus pada mata
Mulut pucat
Leher meliputi pembengkakan saluran limfe atau pembengkakan kelenjar thyroid
3. Tangan dan kaki
Edema di jari tangan
Kuku jari pucat
Varices vena
Reflek – reflek
4. Payudara
Ukuran simetris
Putting menonjol / masuk
Keluarnya kolostrom atau cairan lain
Retraksi
Massa; Nodul axilla
5. Abdomen
Luka bekas operasi
Tinggi fundus uteri (jika>12 minggu)
Letak, presentasi, posisi dan penurunan kepala (jika>36 minggu)
Denyut jantung janin (jika>18 minggu)
6. Genetalia luar (externa)
varises
perdarahan
luka
cairan yang keluar
pengeluaran dari uretra dan skene
kelenjar bartholini : bengkak (massa), ciaran yang keluar
7. Genetalia dalam (interna)
servik meliputi cairan yang keluar, luka (lesi), kelunakan, posisi, mobilitas, tertutup atau terbuka
vagina meliputi cairan yang keluar, luka, darah
ukuran adneksa, bentuk, posisi, nyeri, kelunakan, massa (pada trimester pertama)
uterus meliputi : ukuran, bentuk, mobilitas, kelunakan, massa pada trimester petama.
Pelaksanaan Pemeriksaan Kehamilan.
Dalam pemeriksaan kehamilan meliputi beberapa langkah antara lain :
Perhatikan tanda – tanda tubuh yang sehat
Pemeriksaan pandang dimulai semenjak bertemu dengan pasien. Perhatikan bagaimana sikap tubuh, keadaan punggung dan cara berjalannya. Apakah cenderung membungkuk, terdapat lordosis, kifosis, scoliosis atau pincang dsb. Lihat dan nilai kekuatan ibu ketika berjalan, apakah ia tampak nyaman dan gembira, apakah ibu tampak lemah
Pengukuran tinggi badan dan berat badan
Timbanglah berat badan ibu pada setiap pemeriksaan kehamilan. Bila tidak tersedia timbangan, perhatikan apakah ibu bertambah berat badannya. Berat badan ibu hamil biasanya naik sekitar 9-12 kg selama kehamilan. Yang sebagian besar diperoleh terutama pada trimester kedua dan ketiga kehamilan. Kenaikan berat badan menunjukkan bahwa ibu mendapat cukup makanan. Jelaskan bahwa berat badan ibu naik secara normal yang menunjukkan janinnya tumbuh dengan baik bila kenaikan berat badan ibu kurang dari 5 kg pada kehamilan 28 minggu maka ia perlu dirujuk.
Tinggi berat badan hanya diukur pada kunjungan pertama. Bila tidak tersedia alat ukur tinggu badan maka bagian dari dinding dapat ditandai dengan ukuran centi meter. Pada ibu yang pendek perlu diperhatikan kemungkinan mempunyai panggul yang sempit sehingga menyulitkan dalam pemeriksaan. Bila tinggu badan ibu kurang dari 145 atau tampak pendek dibandingkan dengan rata-rata ibu, maka persalinan perlu diwaspadai.
Pemeriksaan tekanan darah
Tekanan darah pada ibu hamil bisanya tetap normal, kecuali bila ada kelainan. Bila tekanan darah mencapai 140/90 mmhg atau lebih mintalah ibu berbaring miring ke sebelah kiri dan mintalah ibu bersantai sampai terkantuk. Setelah 20 menit beristirahat, ukurlah tekanan darahnya. Bila tekanan darah tetap tinggi, maka hal ini menunjukkan ibu menderita pre eklamsia dan harus dirujuk ke dokter serta perlu diperiksa kehamilannya. Khususnya tekanan darahnya lebih sering (setiap minggu). Ibu dipantau secara ketat dan anjurkan ibu persalinannya direncanakan di rumah sakit.
Pemeriksaan dari ujung rambut sampai ke ujung kaki
Pemeriksaan fisik pada kehamilan dilakukan melalui pemeriksaan pandang (inspeksi), pemeriksaan raba (palpasi), periksa dengar (auskultasi),periksa ketuk (perkusi). Pemeriksaan dilakukan dari ujung rambut sampai ke ujung kaki, yang dalam pelaksanaannya dilakukan secara sistematis atau berurutan.
Pada saat melakukan pemeriksaan daerah dada dan perut, pemeriksaan inspeksi, palpasi, auskultasi dilakukan secara berurutan dan bersamaan sehingga tidak adanya kesan membuka tutup baju pasien yang mengakibatkan rasa malu pasien.
Dibawah ini akan diuraikan pemeriksaan obstetric yaitu dengan melakukan inspeksi, palpasi, auskultasi, perkusi terhadap ibu hamil dari kepala sampai kaki.
Lihatlah wajah atau muka pasien
Adakah cloasma gravidarum, pucat pada wajah adalah pembengkakan pada wajah. Bila terdapat pucat pada wajah periksalah konjungtiva dan kuku pucat menandakan bahwa ibu menderita anemia, sehingga memerlukan tindakan lebih lanjut. Jelaskan bahwa ibu sedang diperiksa apakah kurang darah atau tidak. Sebutkan bahwa bila ibu tidak kurang darah ia akan lebih kuat selama kehamilan dan persalinan. Jelaskan pula bahwa tablet tambah darah mencegah kurang darah.
Bila terdapat bengkak diwajah, periksalah adanya bengkak pada tangan dan kaki. Sedikit bengkak pada mata kaku dapat terjadi pada kehamilan normal, namun bengkak pada tangn dan atau wajah tanda preeklamsi. Perhatikan wajah ibu apakah bengkak dan tanyakan pada ibu apakah ia sulit melepaskan cincin atau gelang yang dipakainya. Mata kaki yang bengkak dan menimbulkan cekungan yang tak cepat hilang bila ditekan, maka ibu harus dirujuk ke dokter, dipantau ketat kehamilannya dan tekanan darahnya, serta direncanakan persalinannya dirumah sakit.
Selain memeriksa ada tidaknya pucat pada konjungtiva, lihatlah sclera mata adakah sclera kuning atau ikterik
Lihatlah mulut pasien. Adakah tampak bibir pucat, bibir kering pecah-pecah adakah stomatitis, gingivitis, adakah gigi yang tanggal, adakah gigi yang berlobang, caries gigi. Selain dilihat dicium adanya bau mulut yang menyengat.
Lihatlah kelenjar gondok, adakah pembesaran kelenjar thyroid, pembengkakan saluran limfe
Lihat dan raba payudara, pada kunjungan pertama pemeriksaan payudara terhadap kemungkinan adanya benjolan yang tidak normal. Lihatlah apakah payudara simetris atau tidak, putting susu menonjol atau datar atau bahkan masuk. Putting susu yang datar atau masuk akan mengganggu proses menyusui nantinya. Apakah asinya sudah keluar atau belum. Lihatlah kebersihan areola mammae adakah hiperpigmentasi areola mammae.
Lakukan pemeriksaan inspeksi, palpasi dan auskultasi pada perut ibu.
Tujuan pemeriksaan abdomen adalah untuk menentukan letak dan presentasi janin, turunnya bagian janin yang terbawah, tinggi fundus uteri dan denyut jantung janin.
Sebelum memulai pemeriksaan abdomen, penting untuk dilakukan hal– hal sebagai berikut :
Mintalah ibu untuk mengosongkan kandung kemihnya bila perlu
bantulah ia untuk santai. Letakkan sebuah bantal dibawah kepala dan bahunya. Fleksikan tangan dan lutut. Jika ia gelisah bantulah ia untuk santai dengan memintanya menarik nafas panjang.
cucilah tangan anda sebelum mulai memeriksa, keringkan dan usahakan agar tangan perawat cukup hangat.
Lihatlah bentuk pembesaran perut (melintang, memanjang, asimetris) adakah linea alba nigra, adakah striae gravidarum, adakah bekas luka operasi, adakah tampak gerakan janin, rasakan juga dengan pemeriksaan raba adanya pergerakan janin. Tentukan apakah pembesaran perut sesuai dengan umur kehamilannya. Pertumbuhan janin dinilai dari tingginya fundus uteri. Semakin tua umur kehamilan, maka semakin tinggi fundus uteri. Namun pada umur kehamilan 9 bulan fundus uteri akan turun kembali karena kepala telah turun atau masuk ke panggul. Pada kehamilan 12 minggu, tinggi fundus uteri biasanya sedikit diatas tulang panggul. Pada kehamilan 24 minggu fundus berada di pusat. Secara kasar dapat dipakai pegangan bahwa setiap bulannya fundus naik 2 jari tetapi perhitungan tersebut sering kurang tepat karena ukuran jari pemeriksa sangat bervariasi. Agar lebih tepat dianjurkan memakai ukuran tinggi fundus uteri dri simfisis pubis dalam sentimeter dengan pedoman sebagai berikut:
Umur kehamilan Tinggi fundus uteri
20 minggu 20 cm
24 minggu 24 cm
28 minggu 28 cm
32 minggu 32 cm
36 minggu 34- 46 cm
Jelaskan pada ibu bahwa perutnya akan semakin membesar karena pertumbuhan janin. Pada kunjungan pertama, tingginya fundus dicocokkan dengan perhitungan umur kehamilan hanya dapat diperkirakan dari hari pertama haid (HPHT). Bila HPHT tidak diketahui maka umur kehamilan hanya dapat diperkirakan dari tingginya fundus uteri. Pada setiap kunjungan, tingginya fundus uteri perlu diperiksa untuk melihat pertumbuhan janin normal, terlalu kecil atau terlalu besar.
Laporan Praktik Klinik Keperawatan (PKK)
Asuhan Keperawatan INTRANATAL CARE
Di
Pukesmas Pakuan Baru
Disusun Oleh :
Agus Hudayawan Arif
PRODI S 1 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BAITURRAHIM JAMBI
Jadwal Kunjungan ANC
Kunjungan Ibu Hamil
Kunjungan ibu hamil adalah kontak ibu hamil dengan tenaga profesional untuk mendapatkan pelayanan ANC sesuai standart yang ditetapkan. Istilah kunjungan disini tidak hanya mengandung arti bahwa ibu hamil yang berkunjung kefasilitas pelayanan, tetapi adalah setiap kontak tenaga kesehatan baik di posyandu, pondok bersalin di desa, kunjungan rumah dengan ibu hamil tidak memberikan pelayanan ANC sesuai dengan standart dapat dianggap sebagai kunjungan ibu hamil.
Kunjungan Baru Hamil / K1
Kunjungan baru hamil adalah kunjungan ibu hamil yang pertama kali pada masa kehamilan.
Kunjungan Ulang
Kunjungan ulang adalah kontak ibu hamil dengan tenaga kesehatan yang kedua dan seterusnya, untuk mendapatkan pelayanan antenatal sesuai dengan standart selama satu periode kehamilan.
K4
K4 adalah kontak ibu hamil dengan tenaga kesehatan yang ke empat atau lebih untuk mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standart yang ditetapkan (Depkes RI, 2001)
Menurut buku pelayanan kesehatan maternal dan neonatal, saifudin tahun 2002 hal 91 jadwal kunjungan Antenata Care adalah :
Satu kali kunjungan selama trimester pertama (sebelum 14 minggu)
Satu kali kunjungan selama trimester kedua (antara minggu 14 – 28).
dua kali kunjungan selama trimester ketiga (antara minggu 28 – 36 dan sesudah minggu ke 36).
Untuk mendapatkan semua informasi yang diperlukan, sehubungan dengan hal-hal diatas, petugas kesehatan akan memberikan asuhan antenatal yang baik dengan langkah-langkah seperti berikut :
Sapa Ibu (dan keluarganya) dan membuatnya merasa nyaman
mendapatkan riwayat kehamilan ibu dan mendengarkan dengan teliti apa yang diceritakan oleh ibu.
Melakukan pemeriksaan fisik.
Melakukan pemeriksaan laboratorium
Melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan laboratorium untuk menilai apakah kehamilannya normal :
Tekanan darah dibawah 140/90 mmhg
Edema hanya pada ekstrimitas
Tinggi fundus dalam cm atau menggunakan jari-jari tangan sesuai dengan usia kehamilan
Denyut jantung janin 120 sampai 160 denyut permenit
Gerakan janin terasa setelah 18-20 minggu hingga melahirkan.
Membantu ibu dan keluarganya, untuk mempersiapkan kelahiran dan kemungkinan keadaan.
Bekerja sama dengan ibu, keluarganya dan masyarakat untuk mempersiapkan rencana jika terjadi komplikasi termasuk :
mengidentifikasi kemana harus pergi dan transportasi untuk mencapai tempat tersebut.
mempersiapkan donor darah
mengadakan persiapan finansial
mengidentifikasi pembuat keputusan kedua jika pembuat keputusan pertama tidak ada ditempat.
Memberikan Konseling
Gizi : Penigkatan konsumsi makanan hingga 300 kalori perhari, mengkonsumsi makanan mengandung protein, zat besi, minum cukup cairan (menu seimbang).
Menasehati ibu untuk mencari pertolongan segera jika ia mendapati tanda-tanda bahaya berikutnya, seperti :
v Perdarahan pervaginam
v Sakit kepala lebih dari biasa
v Gangguan penglihatan
v Pembengkakan pada wajah atau tangan
v Nyeri abdomen (epigastrik)
v Janin tidak bergerak sebanyak biasanya.
Merencanakan dan mempersiapkan kelahiran yang bersih dan aman dirumah.
Menjaga kebersihan diri terutama lipatan kulit (ketiak, bawah buah dada, daerah genetalia) dengan cara dibersihkan dan dikeringkan.
Menjelaskan cara merawat payudara terutama pada ibu yang mempunyai putting susu rata atau masuk ke dalam. Dilakukan 2 kali sehari selama 5 menit.
Memberikan zat besi 90 hari mulai minggu ke-20
Memberikan imunisasi tetanus 0,5 cc, jika sebelumnya telah mendapatkan
Menjadwalkan kunjungan berikutnya.
Mendokumentasikan kunjungan tersebut (Saifuddin, 2002 : 15 )
anoreksia
Merupakan penurunan napsu makan yang merupakan gejala umum pada banyak penyakit dan dapat disebabakan oleh makanan, obat, emosi, ketakutan, masalah psikologi dan infeksi.ANOREXIA
1. Definisi
Merupakan penurunan napsu makan yang merupakan gejala umum pada banyak penyakit dan dapat disebabakan oleh makanan, obat, emosi, ketakutan, masalah psikologi dan infeksi.
Anoreksia jangka panjang dapat menyebabkan ketidak seimbangan elektrolit yang dapat menyebabkan dysritmia jatung. Makan merupakan salah satu cara dalam menaikan berat badan akan tetapi pemberian makanan melalui selang atau infuse dapat menjadikan sebuah pilihan. Tanyakan kepada pasien apa oenyebab merekan kehilangan napsu makan dan apa yang dapat meningkatkan napsu makan tersebut.
Tindakan keperawatan pada pasien anoreksia adalah
1. dokumentasi intake output
2. monitoring tanda vital
3. elektrolit
4. elektrokardiogram
5. monitoring jumlah cairan yang masuk
2. Tanda dan gejala
Tanda awal dari anoresia nervosa terdiri dari:
1. kehilangan berat badan
2. rendah harga diri
3. konfulsif terhadap diet
4. perubahan body image
Tanda lanjut terdiri dari:
1. amenorehea pada wanita
2. ketidak seimbangan elektrolit
3. disritmia jantung
4. konstipasi
5. kulit kering
6. bradi kardi
7. hypothermia
8. hypotensi
9. kehilangan otot
3. Intervensi Therapeutik
Perawatan pasien dengan anoresia nervosa harus dilakukan oleh multidispilin keilmuan. Pasien kadang tidak memerlukan obat. Pasien biasanya encari pertolongan karena mereka tidak mendapatkan hasil yang baik pada perawatan sebelumnya.
Pertolongan lebih awal akan mendapatkan prognosis yang baik. Diatas 18% pasien meninggal karena kelaparan dan komplikasi dari itu. Pemebrian ciaran dan nutrisi intravena diperlukan jika pasien mengalami penurunan berat badan yang hebat, ancaman dari ketidak seimbangan cairan, dan disritmia atau gejala lain yang berhubungan.
Pengembalian berat badan ke normal membutuhkan waktu yang lama dan merupakan proses yang lambat.
4. Komplikasi
1. Kekurangan nutrisi yang kronis
2. kekurangan energi
3. penurunan tekanan darah dan nadi
4. gagal jantung dan ginjal
5. osteoporosis
6. penurunan otot
5. Proses keperawatan pada pasien dengan gangguan makan
Perawatan pasien dnegan gangguan makan merupakan tantangan tersendiri karena membutuhkan komunikasi yang baik dan realistis, kepercayaan merupakan modal utama dalam perawatan pasien dengan gangguan makan untuk mencegah terjadinya kekambuhan kembali.
6. Pengkajian dan Pengumpulan data
1. catat ketidak adequatan nutrisi
2. catat kehilangan berat badan 15% dibawah normal atau lebih
3. kaji turgor kulit
4. kaki kekuatan otot
5. amenorrhea
6. ketidak seimbangan elektrolit
7. erosi gigi
Pemeriksaan lanjut:
1. anemia
2. ketidak seimbangan elektrolit
3. elektrokardiogram
7. Diagnosa keperawatan, perencanaan, dan implementasi
a. Ketidakimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan berhubungan dnegan tidak adekuat pemasukan, menginduksi muntah, penggunaan pencahan kronis.
Hasil yang diinginkan : diit sesuai dengan berat badan individu.
1. monitoring berat badan pasien
2. monitoring tanda vital dan laboratorium
3. tingkatkan kepercayaan pasien
4. berikan makan sedikit tapi sering
b. Kelainan Body image, berhubungan dengan perubahan psikososial dan kognitif
Hasil yang diinginkan: pasien secar verbal menyatakan kepuasan terhadap tubuhnya.
1. kaji dan dokumentasikan repon verbal dan nonverbal
2. dengarkan pasien dan bawa terhadap realitas
3. monitoring pernyataan negative pasien sess and document patient’s verbal and nonverbal
4. kaji kebutuhan rujukan ke pelayanan konseling dan social
5. berikan penghargaan secra verbal
8. Evaluasi
1. Pasien mendapatkan berat badan yang sesuai
2. pasien puas dengan tubuhnya
3. pasien dapat menilai secara positif terhadap tubuhnya.
Read More
1. Definisi
Merupakan penurunan napsu makan yang merupakan gejala umum pada banyak penyakit dan dapat disebabakan oleh makanan, obat, emosi, ketakutan, masalah psikologi dan infeksi.
Anoreksia jangka panjang dapat menyebabkan ketidak seimbangan elektrolit yang dapat menyebabkan dysritmia jatung. Makan merupakan salah satu cara dalam menaikan berat badan akan tetapi pemberian makanan melalui selang atau infuse dapat menjadikan sebuah pilihan. Tanyakan kepada pasien apa oenyebab merekan kehilangan napsu makan dan apa yang dapat meningkatkan napsu makan tersebut.
Tindakan keperawatan pada pasien anoreksia adalah
1. dokumentasi intake output
2. monitoring tanda vital
3. elektrolit
4. elektrokardiogram
5. monitoring jumlah cairan yang masuk
2. Tanda dan gejala
Tanda awal dari anoresia nervosa terdiri dari:
1. kehilangan berat badan
2. rendah harga diri
3. konfulsif terhadap diet
4. perubahan body image
Tanda lanjut terdiri dari:
1. amenorehea pada wanita
2. ketidak seimbangan elektrolit
3. disritmia jantung
4. konstipasi
5. kulit kering
6. bradi kardi
7. hypothermia
8. hypotensi
9. kehilangan otot
3. Intervensi Therapeutik
Perawatan pasien dengan anoresia nervosa harus dilakukan oleh multidispilin keilmuan. Pasien kadang tidak memerlukan obat. Pasien biasanya encari pertolongan karena mereka tidak mendapatkan hasil yang baik pada perawatan sebelumnya.
Pertolongan lebih awal akan mendapatkan prognosis yang baik. Diatas 18% pasien meninggal karena kelaparan dan komplikasi dari itu. Pemebrian ciaran dan nutrisi intravena diperlukan jika pasien mengalami penurunan berat badan yang hebat, ancaman dari ketidak seimbangan cairan, dan disritmia atau gejala lain yang berhubungan.
Pengembalian berat badan ke normal membutuhkan waktu yang lama dan merupakan proses yang lambat.
4. Komplikasi
1. Kekurangan nutrisi yang kronis
2. kekurangan energi
3. penurunan tekanan darah dan nadi
4. gagal jantung dan ginjal
5. osteoporosis
6. penurunan otot
5. Proses keperawatan pada pasien dengan gangguan makan
Perawatan pasien dnegan gangguan makan merupakan tantangan tersendiri karena membutuhkan komunikasi yang baik dan realistis, kepercayaan merupakan modal utama dalam perawatan pasien dengan gangguan makan untuk mencegah terjadinya kekambuhan kembali.
6. Pengkajian dan Pengumpulan data
1. catat ketidak adequatan nutrisi
2. catat kehilangan berat badan 15% dibawah normal atau lebih
3. kaji turgor kulit
4. kaki kekuatan otot
5. amenorrhea
6. ketidak seimbangan elektrolit
7. erosi gigi
Pemeriksaan lanjut:
1. anemia
2. ketidak seimbangan elektrolit
3. elektrokardiogram
7. Diagnosa keperawatan, perencanaan, dan implementasi
a. Ketidakimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan berhubungan dnegan tidak adekuat pemasukan, menginduksi muntah, penggunaan pencahan kronis.
Hasil yang diinginkan : diit sesuai dengan berat badan individu.
1. monitoring berat badan pasien
2. monitoring tanda vital dan laboratorium
3. tingkatkan kepercayaan pasien
4. berikan makan sedikit tapi sering
b. Kelainan Body image, berhubungan dengan perubahan psikososial dan kognitif
Hasil yang diinginkan: pasien secar verbal menyatakan kepuasan terhadap tubuhnya.
1. kaji dan dokumentasikan repon verbal dan nonverbal
2. dengarkan pasien dan bawa terhadap realitas
3. monitoring pernyataan negative pasien sess and document patient’s verbal and nonverbal
4. kaji kebutuhan rujukan ke pelayanan konseling dan social
5. berikan penghargaan secra verbal
8. Evaluasi
1. Pasien mendapatkan berat badan yang sesuai
2. pasien puas dengan tubuhnya
3. pasien dapat menilai secara positif terhadap tubuhnya.
anoreksia
Merupakan penurunan napsu makan yang merupakan gejala umum pada banyak penyakit dan dapat disebabakan oleh makanan, obat, emosi, ketakutan, masalah psikologi dan infeksi.ANOREXIA
1. Definisi
Merupakan penurunan napsu makan yang merupakan gejala umum pada banyak penyakit dan dapat disebabakan oleh makanan, obat, emosi, ketakutan, masalah psikologi dan infeksi.
Anoreksia jangka panjang dapat menyebabkan ketidak seimbangan elektrolit yang dapat menyebabkan dysritmia jatung. Makan merupakan salah satu cara dalam menaikan berat badan akan tetapi pemberian makanan melalui selang atau infuse dapat menjadikan sebuah pilihan. Tanyakan kepada pasien apa oenyebab merekan kehilangan napsu makan dan apa yang dapat meningkatkan napsu makan tersebut.
Tindakan keperawatan pada pasien anoreksia adalah
1. dokumentasi intake output
2. monitoring tanda vital
3. elektrolit
4. elektrokardiogram
5. monitoring jumlah cairan yang masuk
2. Tanda dan gejala
Tanda awal dari anoresia nervosa terdiri dari:
1. kehilangan berat badan
2. rendah harga diri
3. konfulsif terhadap diet
4. perubahan body image
Tanda lanjut terdiri dari:
1. amenorehea pada wanita
2. ketidak seimbangan elektrolit
3. disritmia jantung
4. konstipasi
5. kulit kering
6. bradi kardi
7. hypothermia
8. hypotensi
9. kehilangan otot
3. Intervensi Therapeutik
Perawatan pasien dengan anoresia nervosa harus dilakukan oleh multidispilin keilmuan. Pasien kadang tidak memerlukan obat. Pasien biasanya encari pertolongan karena mereka tidak mendapatkan hasil yang baik pada perawatan sebelumnya.
Pertolongan lebih awal akan mendapatkan prognosis yang baik. Diatas 18% pasien meninggal karena kelaparan dan komplikasi dari itu. Pemebrian ciaran dan nutrisi intravena diperlukan jika pasien mengalami penurunan berat badan yang hebat, ancaman dari ketidak seimbangan cairan, dan disritmia atau gejala lain yang berhubungan.
Pengembalian berat badan ke normal membutuhkan waktu yang lama dan merupakan proses yang lambat.
4. Komplikasi
1. Kekurangan nutrisi yang kronis
2. kekurangan energi
3. penurunan tekanan darah dan nadi
4. gagal jantung dan ginjal
5. osteoporosis
6. penurunan otot
5. Proses keperawatan pada pasien dengan gangguan makan
Perawatan pasien dnegan gangguan makan merupakan tantangan tersendiri karena membutuhkan komunikasi yang baik dan realistis, kepercayaan merupakan modal utama dalam perawatan pasien dengan gangguan makan untuk mencegah terjadinya kekambuhan kembali.
6. Pengkajian dan Pengumpulan data
1. catat ketidak adequatan nutrisi
2. catat kehilangan berat badan 15% dibawah normal atau lebih
3. kaji turgor kulit
4. kaki kekuatan otot
5. amenorrhea
6. ketidak seimbangan elektrolit
7. erosi gigi
Pemeriksaan lanjut:
1. anemia
2. ketidak seimbangan elektrolit
3. elektrokardiogram
7. Diagnosa keperawatan, perencanaan, dan implementasi
a. Ketidakimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan berhubungan dnegan tidak adekuat pemasukan, menginduksi muntah, penggunaan pencahan kronis.
Hasil yang diinginkan : diit sesuai dengan berat badan individu.
1. monitoring berat badan pasien
2. monitoring tanda vital dan laboratorium
3. tingkatkan kepercayaan pasien
4. berikan makan sedikit tapi sering
b. Kelainan Body image, berhubungan dengan perubahan psikososial dan kognitif
Hasil yang diinginkan: pasien secar verbal menyatakan kepuasan terhadap tubuhnya.
1. kaji dan dokumentasikan repon verbal dan nonverbal
2. dengarkan pasien dan bawa terhadap realitas
3. monitoring pernyataan negative pasien sess and document patient’s verbal and nonverbal
4. kaji kebutuhan rujukan ke pelayanan konseling dan social
5. berikan penghargaan secra verbal
8. Evaluasi
1. Pasien mendapatkan berat badan yang sesuai
2. pasien puas dengan tubuhnya
3. pasien dapat menilai secara positif terhadap tubuhnya.
Read More
1. Definisi
Merupakan penurunan napsu makan yang merupakan gejala umum pada banyak penyakit dan dapat disebabakan oleh makanan, obat, emosi, ketakutan, masalah psikologi dan infeksi.
Anoreksia jangka panjang dapat menyebabkan ketidak seimbangan elektrolit yang dapat menyebabkan dysritmia jatung. Makan merupakan salah satu cara dalam menaikan berat badan akan tetapi pemberian makanan melalui selang atau infuse dapat menjadikan sebuah pilihan. Tanyakan kepada pasien apa oenyebab merekan kehilangan napsu makan dan apa yang dapat meningkatkan napsu makan tersebut.
Tindakan keperawatan pada pasien anoreksia adalah
1. dokumentasi intake output
2. monitoring tanda vital
3. elektrolit
4. elektrokardiogram
5. monitoring jumlah cairan yang masuk
2. Tanda dan gejala
Tanda awal dari anoresia nervosa terdiri dari:
1. kehilangan berat badan
2. rendah harga diri
3. konfulsif terhadap diet
4. perubahan body image
Tanda lanjut terdiri dari:
1. amenorehea pada wanita
2. ketidak seimbangan elektrolit
3. disritmia jantung
4. konstipasi
5. kulit kering
6. bradi kardi
7. hypothermia
8. hypotensi
9. kehilangan otot
3. Intervensi Therapeutik
Perawatan pasien dengan anoresia nervosa harus dilakukan oleh multidispilin keilmuan. Pasien kadang tidak memerlukan obat. Pasien biasanya encari pertolongan karena mereka tidak mendapatkan hasil yang baik pada perawatan sebelumnya.
Pertolongan lebih awal akan mendapatkan prognosis yang baik. Diatas 18% pasien meninggal karena kelaparan dan komplikasi dari itu. Pemebrian ciaran dan nutrisi intravena diperlukan jika pasien mengalami penurunan berat badan yang hebat, ancaman dari ketidak seimbangan cairan, dan disritmia atau gejala lain yang berhubungan.
Pengembalian berat badan ke normal membutuhkan waktu yang lama dan merupakan proses yang lambat.
4. Komplikasi
1. Kekurangan nutrisi yang kronis
2. kekurangan energi
3. penurunan tekanan darah dan nadi
4. gagal jantung dan ginjal
5. osteoporosis
6. penurunan otot
5. Proses keperawatan pada pasien dengan gangguan makan
Perawatan pasien dnegan gangguan makan merupakan tantangan tersendiri karena membutuhkan komunikasi yang baik dan realistis, kepercayaan merupakan modal utama dalam perawatan pasien dengan gangguan makan untuk mencegah terjadinya kekambuhan kembali.
6. Pengkajian dan Pengumpulan data
1. catat ketidak adequatan nutrisi
2. catat kehilangan berat badan 15% dibawah normal atau lebih
3. kaji turgor kulit
4. kaki kekuatan otot
5. amenorrhea
6. ketidak seimbangan elektrolit
7. erosi gigi
Pemeriksaan lanjut:
1. anemia
2. ketidak seimbangan elektrolit
3. elektrokardiogram
7. Diagnosa keperawatan, perencanaan, dan implementasi
a. Ketidakimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan berhubungan dnegan tidak adekuat pemasukan, menginduksi muntah, penggunaan pencahan kronis.
Hasil yang diinginkan : diit sesuai dengan berat badan individu.
1. monitoring berat badan pasien
2. monitoring tanda vital dan laboratorium
3. tingkatkan kepercayaan pasien
4. berikan makan sedikit tapi sering
b. Kelainan Body image, berhubungan dengan perubahan psikososial dan kognitif
Hasil yang diinginkan: pasien secar verbal menyatakan kepuasan terhadap tubuhnya.
1. kaji dan dokumentasikan repon verbal dan nonverbal
2. dengarkan pasien dan bawa terhadap realitas
3. monitoring pernyataan negative pasien sess and document patient’s verbal and nonverbal
4. kaji kebutuhan rujukan ke pelayanan konseling dan social
5. berikan penghargaan secra verbal
8. Evaluasi
1. Pasien mendapatkan berat badan yang sesuai
2. pasien puas dengan tubuhnya
3. pasien dapat menilai secara positif terhadap tubuhnya.
Angina Pektoris
Angina Pektoris ialah suatu sindrom klinis dimana pasien mendapat serangan sakit dada yang khas yaitu seperti ditekan atau terasa berat didada tersebut. Biasanya timbul pada waktu klien melakukan suatu aktivitas dan segera hilang bila pasien menghentikan aktivitasnyaAngina Pectoris yaitu nyeri dada sementara atau suatu perasaan tertekan yang terjadi jika otot jantung mengalami kekurangan oksigen akibat pembuluh darah yang menyempit. Lokasinya biasanya di dada sebelah kiri,dengan penjalaran ke leher,rahang,bahu kiri sampai lengan. Rasa nyeri dapat berlangsung 3-15 menit & nyeri akan kurang jika istirahat.
2. Pembagian Angina Pectoris
ANGINA PECTORIS ada 2 jenis :
a. Angina Pectoris Stabil
Timbul saat melakukan aktivitas fisik sampai kapasitas tertentu & nyeri dapat hilang bila istirahat.
PEMERIKSAAN FISIK
Pada pemeriksaan ini dilakukan pemeriksaan fisik seperti pasien-pasien sebelumnya,tidak ada yang spesifik, tapi pemeriksaan fisis dapat dilakukan waktu nyeri dada dapat menemukan adanya aritma,gallop bahkan murmur,
split S2 paradoksal, ronki basah pada bagian paru, yang menghilang pada waktu nyeri sudah berhenti.
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
- HB
- HT
- Trombosit
- Faktor Resiko Koroner seperti Gula darah
- Profil Lipid
PENEGAKAN DIAGNOSA
- EKG waktu istirahat
- Foto Toraks
- EKG waktu aktivitas/Latihan
- Ekokardiografi
- Stress imaging,dengan Ekokardiografi atau Radionuklir
- Angiografi Koroner
PENATALAKSANAAN / PENGOBATAN
Pengobatan dilakukan agar mencegah kematian dan terjadinya serangan jantung. Sedangkan yang lainnya adalah mengontrol serangan angina sehingga memperbaiki kualitas hidup.
Pengobatan ada 2 jenis yaitu farmakologis & non farmakologis :
Farmakologis :
· Aspirin
· Penyekat Beta
· Nitrogliserin
· Pemakaian obat-obatan utk penurunan LDL pd pasien LDL
· Antagonis Ca / Nitrat jangka panjang
· Klopidogrel utk pengganti aspirin
· Terapi pada faktor resiko
Non Farmakologis :
Selain pemberian oksigen dan istirahat,dapat melakukan perubahan life style ( berhenti merokok,dll ) , penurunan BB, penyesuaian diet, olahraga teratur.
b. Angina Pectoris Tak Stabil
Angina Pectoris tak stabil yaitu pada pasien dengan :
1) Angina yang masih baru dalam 2 bulan,di mana angina cukup berat dan frekuensi cukup sering.
2) Angina yang makin bertambah berat,sebelumnya stabil, lalu serangan angina timbul lebih sering dan lebih berat sakit dadanya.
3) Angina pada waktu istirahat.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
· Elektrokardiografi (ECG)
· Exercise test
· Ekokardiografi
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
· Pemeriksaan Troponin T atau I
· Pemeriksaan CK-MB
PENATALAKSANAAN / PENGOBATAN
Tindakan umum:
Pasien perlu dirawat di Rumah Sakit, sebaiknya di unit intensif koroner, pasien perlu diistirahatkan, diberi penenang dan oksigen, untuk pasien yang masih merasakan sakit dada walau sudah mendapat nitrogliserin dapat diberikan morfin.
Terapi Medikamentosa:
- OBAT ANTI ISKEMIA
- Nitrat
- Penyekat Beta
- Antagonis Kalsium
OBAT ANTIAGREGASI TROMBOSIT
- Aspirin
- Tiklopidin
- Klopidogrel
- Glikoprotein llb / llla inhibitor
OBAT ANTITROMBIN
- Unfractionated Heparin
- Low Molecular Weight Heparin (LMWH)
3. Etiologi
Pada sebagian besar kasus nyeri Angina Pektoris terjadi karena penyempitan pembuluh arteri koronia utama oleh anteroskierosis. Namun demikian setiap keadaan yang menyumbat aliran darah koroner atau meningkat kerja jantung dapat berakibat oksigenasi miokardium yang tidak memadai sehingga menimbulkan penumpukan zat-zat penghasil nyeri dalam otot yang iskemik. Dengan demikian Angina Pektoris dapat terjadi sebagai komplikasi dari aourtitis sifilitika penyakit katup aorta. Kardiomiopati hipertropik, hipertiroidisme dan anemi berat.
Faktor-faktor lain penyebab Angina Pectoris :
a. Latihan fisik meningkatkan kebutuhan oksigen jantung.
b. Udara dingin mengakibatkan kontriksi, peningkatan tekanan darah serta peningkatan kebutuhan oksigen jantung.
c. Makanan berat meningkatkan aliran darah ke daerah mesentrikus sehingga mengurangi ketersediaan darah untuk jantung.
d. Stres atau emosi menyebabkan pelepasan adrenalin sehingga kontraktilitas jantung meningkat
4. Patofisiologi
Sakit dada pada Angina Pektoris disebabkan karena timbulnya iskemia miokard karena suplai darah dan oksigen ke miokard berkurang. Aliran darah berkurang karena penyempitan pembuluh darah koroner. Penyempitan terjadi karena proses anteroskletoris atau spasme pembuluh koroner atau kombinasi proses anterosklerosis dan spasme.
Pada mulanya suplai darah tersebut walaupun berkurang masih cukup untuk memenuhi kebutuhan miokard pada waktu istirahat tetapi tidak cukup bila kebutuhan oksigen miokard meningkat seperti pada waktu pasien melakukan aktivitas fisik yang cukup berat. Oleh karena itu sakit pada Angina Pektoris tumbul pada waktu pasien melakukan aktivitas fisik misalnya sedang berjalan cepat atau berjalan mendaki.
5. Manifestasi Klinis
Penyakit Angina Pektoris terutama ditandai dengan nyeri dan respon fisiologis individu terhadap nyeri angina secara khas digambarkan sebagai nyeri subternal atau perasaan penuh/ tertekan, nyeri ini menjalar kelengan atau leher dan rahang, secara khas individu yang merasa nyeri ini akan diam, tampak pucat berkeringat dan sesak safas.
6. Penatalaksanaan
Pada waktu mendapat serangan Angina obat yang paling baik adalah preparat nitrogliserin atau derivatnya yang diberikan secara sublingual. Dosis nitrogliserin bervariasi daro 0,5 – 1. Tablet yang dapat diulang sampai beberapa kali pemberian. Untuk mencegah timbulnya serangan angina dapat dipakai beberapa preparat yaitu : 1 gr actiry nitrase, seperti issosorbiddinitrat atau nitrogliserin dalam bentuk salep atau refard/sustained
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN SECARA TEORITIS
1. Pengkajian
Data Obyektif :
- nyeri pada dada
- Kolesterol serum tinggi
- terlalu banyak merokok
Data Subyektif :
- sesak nafas
- kelelahan
- tidak nafsu makan
- mual
2. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan hipoxia ditandai dengan skala nyeri 5, klien tampak lemah, muka pucat, tidur 4 – 5 jam/hari.
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan dengan kelemahan fisik ditandai dengan klien tampak lemah, nadi 56 x/menit, RR 34 x/menit, aktivitas dibantu oleh perawat dan keluarga, klien terpasang oksigen.
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia ditandai dengan keadaan umum lemah, porsi yang disediakan tidak habis.
4. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang tinggi jantung dan dampak penyakit jantung.
3. Intervensi
1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan hipoxia.
Tujuan : Nyeri dada berkurang.
Intervensi :
- Analisa dan catat karakteristik nyeri dada, keluhan verbal, ekspresi wajah, TD
- Ciptakan suasana nyaman dan tenang
- Beri oksigen
- Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat : analgetik.
Rasionalisasi :
- Untuk mengetahui perkembangan
- Agar klien merasa tenang
- Untuk memenuhi kebutuhan oksigen
- Dalam pemberian obat analgetik untuk mengurangi rasa nyeri dan sesak klien.
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan dengan kelemahan fisik.
Tujuan : Mengembalikan/meningkatkan kemampuan beraktivitas secara bertahap.
Intervensi :
- Catat dan analisa perubahana tanda-tanda vital sebelum, selama, sesudah beraktivitas adanya nyeri dada dan seska nafas
- Anjurkan istirahat, hindari dan batasi kegiatan yang memelahkan.
Rasionalisasi :
- Untuk mengetahui batas kemampuan klien dalam beraktivitas
- Untuk melatih/merenggangkan otot-otot yang tegang secara bertahap
- Untuk mengurangi rasa nyeri dan sesak pada klien.
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.
Tujuan : Kebutuhan nutrisi bagi tubuh bisa terpenuhi.
Intervensi :
- Beri penjelasan tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh dalam proses penyembuhan
- Beri makanan yang bervariasi dalam porsi kecil tapi sering
- Timbang BB klien.
Rasionalisasi :
- Untuk memberi pengetahuan tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh dan motivasi agar klien mau makan
- Agar klien lebih ingin untuk makan dan merasa tidak bosan dengan menu yang diberikan
- Untuk mengetahui perkembangan BB klien.
4. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang tinggi jantung dan dampak penyakit jantung.
Tujuan : Memperoleh pengetahuan tentang penyakit
Intervensi :
- Beri penjelasan tentang tinggi jantung dan dampak penyakit
- Jawab semua pertanyaan dari klien
- Pantau pasien untuk mengidentifikasi sumber stress
- Diskusikan ASA sesuai indikasi
Rasionalisasi :
- Untuk memberikan pengetahuan kepada klien tentang tinggi jantung dan dampak penyakit
- Agar klien memperoleh informasi yang diinginkannya dan klien merasa puas dengan jawaban yang diterima
- Mencegah serangan angina
- Diberikan secara profilaksis untuk menurunkan agresasi trombosit dan memperbaiki sirkulasi koroner.
4. Implementasi
Dalam melaksanakan implementasi keperawatan pada klien dengan Angina Pektoris, sesuai dengan keperawatan yang telah disusun perencanaan yang ada pada masing-masing diagnosa keperawatan, telah dilaksanakan dan sebagai perawat kita harus berusaha melaksanakan keperawatan pada klien dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kemampuan sarana dan fasilitas yang ada.
Ada beberapa tindakan yang tidak dapat dilakukan penulis secara mandiri memerlukan bantuan dari tim kesehatan yaitu dokter dan perawat ruangan.
5. Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan, hasil yang diperoleh dari pelaksanaan asuhan keperawatan dengan Angina Pektoris adalah sebagai berikut :
a. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan hipoxia ditandai dengan skala nyeri 5, klien tampak lemah, muka pucat, tidur 4 – 5 jam/hari.
b. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan dengan kelemahan fisik ditandai dengan klien tampak lemah, nadi 56 x/menit, RR 34 x/menit, aktivitas dibantu oleh perawat dan keluarga, klien terpasang oksigen.
c. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia ditandai dengan keadaan umum lemah, porsi yang disediakan tidak habis.
d. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang tinggi jantung dan dampak penyakit jantung.
BAB III
P E N U T U P
A. Kesimpulan
1. Angina pektoris adalah suatu sindrom klinis dimana pasien mendapat serangan sakit dada yang khas yaitu seperti ditekankan atau terasa berat didala tersebut. Biasanya timbul pada waktu klien melakukan suatu aktivitas dan segera hilang bila pasien menghentikan aktivitasnya.
2. Pengkajian yang dilakukan pada klien Angina Pektoris berdasarkan pada keluhan utama, riwayat.
3. Diagnosa keperawatan yang ditegakkan berdasarkan data yang didapat dari pengkajian.
4. Perencanaan tindakan pada klien Angina Pektoris disesuaikan dengan kondisi atau keadaan klien.
5. Pelaksanaan tindakan harus dievaluasi setiap waktu.
B. Saran
1. Dalam memberikan askep pada klien dengan Angina Pektoris, rekan-rekan seprofesi hendaknya lebih mendalami ilmu tentang Angina Pektoris.
2. Dalam memberikan askep hendaknya meningkatkan mutu pelayanan keperawatan.
3. Hendaknya masyarakat, keluarga melakukan upaya-upaya pencegahan terhadap penyakit Angina Pektoris.
DAFTAR PUSTAKA
Doenges Marilynn E (1999). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3, EGC.
Mansjoer Arif. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi ketiga Jilid I Media Aesculapiun.
Read More
2. Pembagian Angina Pectoris
ANGINA PECTORIS ada 2 jenis :
a. Angina Pectoris Stabil
Timbul saat melakukan aktivitas fisik sampai kapasitas tertentu & nyeri dapat hilang bila istirahat.
PEMERIKSAAN FISIK
Pada pemeriksaan ini dilakukan pemeriksaan fisik seperti pasien-pasien sebelumnya,tidak ada yang spesifik, tapi pemeriksaan fisis dapat dilakukan waktu nyeri dada dapat menemukan adanya aritma,gallop bahkan murmur,
split S2 paradoksal, ronki basah pada bagian paru, yang menghilang pada waktu nyeri sudah berhenti.
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
- HB
- HT
- Trombosit
- Faktor Resiko Koroner seperti Gula darah
- Profil Lipid
PENEGAKAN DIAGNOSA
- EKG waktu istirahat
- Foto Toraks
- EKG waktu aktivitas/Latihan
- Ekokardiografi
- Stress imaging,dengan Ekokardiografi atau Radionuklir
- Angiografi Koroner
PENATALAKSANAAN / PENGOBATAN
Pengobatan dilakukan agar mencegah kematian dan terjadinya serangan jantung. Sedangkan yang lainnya adalah mengontrol serangan angina sehingga memperbaiki kualitas hidup.
Pengobatan ada 2 jenis yaitu farmakologis & non farmakologis :
Farmakologis :
· Aspirin
· Penyekat Beta
· Nitrogliserin
· Pemakaian obat-obatan utk penurunan LDL pd pasien LDL
· Antagonis Ca / Nitrat jangka panjang
· Klopidogrel utk pengganti aspirin
· Terapi pada faktor resiko
Non Farmakologis :
Selain pemberian oksigen dan istirahat,dapat melakukan perubahan life style ( berhenti merokok,dll ) , penurunan BB, penyesuaian diet, olahraga teratur.
b. Angina Pectoris Tak Stabil
Angina Pectoris tak stabil yaitu pada pasien dengan :
1) Angina yang masih baru dalam 2 bulan,di mana angina cukup berat dan frekuensi cukup sering.
2) Angina yang makin bertambah berat,sebelumnya stabil, lalu serangan angina timbul lebih sering dan lebih berat sakit dadanya.
3) Angina pada waktu istirahat.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
· Elektrokardiografi (ECG)
· Exercise test
· Ekokardiografi
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
· Pemeriksaan Troponin T atau I
· Pemeriksaan CK-MB
PENATALAKSANAAN / PENGOBATAN
Tindakan umum:
Pasien perlu dirawat di Rumah Sakit, sebaiknya di unit intensif koroner, pasien perlu diistirahatkan, diberi penenang dan oksigen, untuk pasien yang masih merasakan sakit dada walau sudah mendapat nitrogliserin dapat diberikan morfin.
Terapi Medikamentosa:
- OBAT ANTI ISKEMIA
- Nitrat
- Penyekat Beta
- Antagonis Kalsium
OBAT ANTIAGREGASI TROMBOSIT
- Aspirin
- Tiklopidin
- Klopidogrel
- Glikoprotein llb / llla inhibitor
OBAT ANTITROMBIN
- Unfractionated Heparin
- Low Molecular Weight Heparin (LMWH)
3. Etiologi
Pada sebagian besar kasus nyeri Angina Pektoris terjadi karena penyempitan pembuluh arteri koronia utama oleh anteroskierosis. Namun demikian setiap keadaan yang menyumbat aliran darah koroner atau meningkat kerja jantung dapat berakibat oksigenasi miokardium yang tidak memadai sehingga menimbulkan penumpukan zat-zat penghasil nyeri dalam otot yang iskemik. Dengan demikian Angina Pektoris dapat terjadi sebagai komplikasi dari aourtitis sifilitika penyakit katup aorta. Kardiomiopati hipertropik, hipertiroidisme dan anemi berat.
Faktor-faktor lain penyebab Angina Pectoris :
a. Latihan fisik meningkatkan kebutuhan oksigen jantung.
b. Udara dingin mengakibatkan kontriksi, peningkatan tekanan darah serta peningkatan kebutuhan oksigen jantung.
c. Makanan berat meningkatkan aliran darah ke daerah mesentrikus sehingga mengurangi ketersediaan darah untuk jantung.
d. Stres atau emosi menyebabkan pelepasan adrenalin sehingga kontraktilitas jantung meningkat
4. Patofisiologi
Sakit dada pada Angina Pektoris disebabkan karena timbulnya iskemia miokard karena suplai darah dan oksigen ke miokard berkurang. Aliran darah berkurang karena penyempitan pembuluh darah koroner. Penyempitan terjadi karena proses anteroskletoris atau spasme pembuluh koroner atau kombinasi proses anterosklerosis dan spasme.
Pada mulanya suplai darah tersebut walaupun berkurang masih cukup untuk memenuhi kebutuhan miokard pada waktu istirahat tetapi tidak cukup bila kebutuhan oksigen miokard meningkat seperti pada waktu pasien melakukan aktivitas fisik yang cukup berat. Oleh karena itu sakit pada Angina Pektoris tumbul pada waktu pasien melakukan aktivitas fisik misalnya sedang berjalan cepat atau berjalan mendaki.
5. Manifestasi Klinis
Penyakit Angina Pektoris terutama ditandai dengan nyeri dan respon fisiologis individu terhadap nyeri angina secara khas digambarkan sebagai nyeri subternal atau perasaan penuh/ tertekan, nyeri ini menjalar kelengan atau leher dan rahang, secara khas individu yang merasa nyeri ini akan diam, tampak pucat berkeringat dan sesak safas.
6. Penatalaksanaan
Pada waktu mendapat serangan Angina obat yang paling baik adalah preparat nitrogliserin atau derivatnya yang diberikan secara sublingual. Dosis nitrogliserin bervariasi daro 0,5 – 1. Tablet yang dapat diulang sampai beberapa kali pemberian. Untuk mencegah timbulnya serangan angina dapat dipakai beberapa preparat yaitu : 1 gr actiry nitrase, seperti issosorbiddinitrat atau nitrogliserin dalam bentuk salep atau refard/sustained
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN SECARA TEORITIS
1. Pengkajian
Data Obyektif :
- nyeri pada dada
- Kolesterol serum tinggi
- terlalu banyak merokok
Data Subyektif :
- sesak nafas
- kelelahan
- tidak nafsu makan
- mual
2. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan hipoxia ditandai dengan skala nyeri 5, klien tampak lemah, muka pucat, tidur 4 – 5 jam/hari.
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan dengan kelemahan fisik ditandai dengan klien tampak lemah, nadi 56 x/menit, RR 34 x/menit, aktivitas dibantu oleh perawat dan keluarga, klien terpasang oksigen.
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia ditandai dengan keadaan umum lemah, porsi yang disediakan tidak habis.
4. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang tinggi jantung dan dampak penyakit jantung.
3. Intervensi
1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan hipoxia.
Tujuan : Nyeri dada berkurang.
Intervensi :
- Analisa dan catat karakteristik nyeri dada, keluhan verbal, ekspresi wajah, TD
- Ciptakan suasana nyaman dan tenang
- Beri oksigen
- Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat : analgetik.
Rasionalisasi :
- Untuk mengetahui perkembangan
- Agar klien merasa tenang
- Untuk memenuhi kebutuhan oksigen
- Dalam pemberian obat analgetik untuk mengurangi rasa nyeri dan sesak klien.
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan dengan kelemahan fisik.
Tujuan : Mengembalikan/meningkatkan kemampuan beraktivitas secara bertahap.
Intervensi :
- Catat dan analisa perubahana tanda-tanda vital sebelum, selama, sesudah beraktivitas adanya nyeri dada dan seska nafas
- Anjurkan istirahat, hindari dan batasi kegiatan yang memelahkan.
Rasionalisasi :
- Untuk mengetahui batas kemampuan klien dalam beraktivitas
- Untuk melatih/merenggangkan otot-otot yang tegang secara bertahap
- Untuk mengurangi rasa nyeri dan sesak pada klien.
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.
Tujuan : Kebutuhan nutrisi bagi tubuh bisa terpenuhi.
Intervensi :
- Beri penjelasan tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh dalam proses penyembuhan
- Beri makanan yang bervariasi dalam porsi kecil tapi sering
- Timbang BB klien.
Rasionalisasi :
- Untuk memberi pengetahuan tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh dan motivasi agar klien mau makan
- Agar klien lebih ingin untuk makan dan merasa tidak bosan dengan menu yang diberikan
- Untuk mengetahui perkembangan BB klien.
4. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang tinggi jantung dan dampak penyakit jantung.
Tujuan : Memperoleh pengetahuan tentang penyakit
Intervensi :
- Beri penjelasan tentang tinggi jantung dan dampak penyakit
- Jawab semua pertanyaan dari klien
- Pantau pasien untuk mengidentifikasi sumber stress
- Diskusikan ASA sesuai indikasi
Rasionalisasi :
- Untuk memberikan pengetahuan kepada klien tentang tinggi jantung dan dampak penyakit
- Agar klien memperoleh informasi yang diinginkannya dan klien merasa puas dengan jawaban yang diterima
- Mencegah serangan angina
- Diberikan secara profilaksis untuk menurunkan agresasi trombosit dan memperbaiki sirkulasi koroner.
4. Implementasi
Dalam melaksanakan implementasi keperawatan pada klien dengan Angina Pektoris, sesuai dengan keperawatan yang telah disusun perencanaan yang ada pada masing-masing diagnosa keperawatan, telah dilaksanakan dan sebagai perawat kita harus berusaha melaksanakan keperawatan pada klien dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kemampuan sarana dan fasilitas yang ada.
Ada beberapa tindakan yang tidak dapat dilakukan penulis secara mandiri memerlukan bantuan dari tim kesehatan yaitu dokter dan perawat ruangan.
5. Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan, hasil yang diperoleh dari pelaksanaan asuhan keperawatan dengan Angina Pektoris adalah sebagai berikut :
a. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan hipoxia ditandai dengan skala nyeri 5, klien tampak lemah, muka pucat, tidur 4 – 5 jam/hari.
b. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan dengan kelemahan fisik ditandai dengan klien tampak lemah, nadi 56 x/menit, RR 34 x/menit, aktivitas dibantu oleh perawat dan keluarga, klien terpasang oksigen.
c. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia ditandai dengan keadaan umum lemah, porsi yang disediakan tidak habis.
d. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang tinggi jantung dan dampak penyakit jantung.
BAB III
P E N U T U P
A. Kesimpulan
1. Angina pektoris adalah suatu sindrom klinis dimana pasien mendapat serangan sakit dada yang khas yaitu seperti ditekankan atau terasa berat didala tersebut. Biasanya timbul pada waktu klien melakukan suatu aktivitas dan segera hilang bila pasien menghentikan aktivitasnya.
2. Pengkajian yang dilakukan pada klien Angina Pektoris berdasarkan pada keluhan utama, riwayat.
3. Diagnosa keperawatan yang ditegakkan berdasarkan data yang didapat dari pengkajian.
4. Perencanaan tindakan pada klien Angina Pektoris disesuaikan dengan kondisi atau keadaan klien.
5. Pelaksanaan tindakan harus dievaluasi setiap waktu.
B. Saran
1. Dalam memberikan askep pada klien dengan Angina Pektoris, rekan-rekan seprofesi hendaknya lebih mendalami ilmu tentang Angina Pektoris.
2. Dalam memberikan askep hendaknya meningkatkan mutu pelayanan keperawatan.
3. Hendaknya masyarakat, keluarga melakukan upaya-upaya pencegahan terhadap penyakit Angina Pektoris.
DAFTAR PUSTAKA
Doenges Marilynn E (1999). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3, EGC.
Mansjoer Arif. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi ketiga Jilid I Media Aesculapiun.
Aneurisme
Aneurisme adalah pelebaran abnormal yang permanen pada pembuluh arteri yang merupakan kelainan kongenital atau lebih lazim lagi terjadi akibat kelainan degeneratif arterial. Bentuk Aneurisme bisa fusiformis, sakulasi ( membentuk kantong) atau diseksi. I. Konsep Dasar Medis
1. Pengertian
Aneurisme adalah pelebaran abnormal yang permanen pada pembuluh arteri yang merupakan kelainan kongenital atau lebih lazim lagi terjadi akibat kelainan degeneratif arterial. Bentuk Aneurisme bisa fusiformis, sakulasi ( membentuk kantong) atau diseksi.
Dengan terbentuknya hubungan antara pembuluh arteri dan vena yang biasa nya terjadi akibat cedera. Kelainan kongenital pembuluh darah otak yang dapat mengalami ruptur sehingga terjadi pendarahan subaraknoid.
2. Etiologi
Aneurisme bawaan berkembang dari kelemahan tunika media arteri dan bentuk kantongan terjadi secara sekunder. Predileksi Aneurisme bawaan adalah arteri dasar otak, aorta asenden, aorta pulmonalis utama dan kadang-kadang juga terjadi pada aorta abdominalis dan jarang sekali pada aorta renalis.
Aneurisme arteriosklerotik hampir pasti mengenai penderita berusia diatas 50 tahun, tempat yang paling sering terserang adalah aorta abdominalis sekmen infrarenal, aorta pemoralis komunis dan aorta publitea. Obtruksi perifer sering di sebabkan oleh lepas nya emboli arteri dari kantong Aneurisma.
2
Aneurisma sifilis pada umumnya berkembang dari angiitis sifilitika di vasa vasorum pada sifilis stadium III. Kerusakan tunika media terjadi secara progresif bersamaan dengan pembentukan parut pada jaringan ikat.setelah di kenal nya salvarsan dan antibiotic sifilis stdium III hamoir tidak di temukan lagi sehingga kejadian Aneurisme sifilis dapat berkurang. Tempat yang paling sering terserang adalah arkus aorta. Ciri khusus Aneurisme sifilis adalah cenderung progresif di sertai erosi struktur di sekitar nya seperti tulang belakang atau sternum di dekat nya sehingga cenderung mengalami ruptur.
Aneurisme pascatrauma terbentuk akibat robekan dinding pembuluh darah sebagian atau total pada trauma tajam atau tumpul. Aneurisme pascatrauma banyak di temukan di daerah extremitas. Sebagian di sebabkan oleh luka tembak, sebagian oleh fungsi arteri atau luka tusuk.
Aneurisme mikotik terbentuk akibat proses radang di dinding arteri seperti pada endokarditis bacterial. Jadi sebenar nya nama mikotik adalah nama yang salah karena biasanya radang ini tidak ada hubungan dengan jamur.
Aneurisme pascastenosis terbentuk karena perubahan hemodinamik akibat penyempitan pembuluh darah. Aneurisme ini di sebut juga dilatasi pascatenosis baisanya kelainan ini terdapat di bagian arteri subklavia, aorta asenden, arteri pulmonalis utama, dan distenosis katub aorta atau pulmonal.
3. Patofisiologi
Pada Aneurisme asli, dinding Aneurisme berbentuk dari dinding pembuluh yang bersangkutan dan dapat berbentuk kosentrik atau eksentrik. Menurut bentuk Aneurisme ini dapat di bedakan atas 3 bentuk yaitu futus, sacculius, dan disscare.
Pada Aneurisme palsu berbentuk kantong yang berasal dari hematom akibat robek atau terbuka nya dinding terbentuk oleh bekas thrombus yang mungkin sebagian mengalami fibrosis.
3
Kuman mati Virulensi tinggi
Destruksi jaringan
Pola nafas tak Shunt darah arteriole alveoli
Devisit vol.
Perdarahan cerebral
Tekanan perfusi vaskukar distal
Iskemia
Anoksia Aktifitas elektrolit terhenti
Metabolisme anaerob Pompa NA-dari K+ gagal
Metabolit asam NA- dan H2O masuk sel
Acidosis lokal Edema intrasel
Pompa NA- gagal Edema ektrasel
Edema- mekrosis jaringan Perfusi jaringan cerebral
Sel otak mati secara progresif
(devisit fungsi otak )
4
4. Gejala klinis
Tanda dan gejala klinis suatu Aneurisme tergantung dari letak dan besar gelembung, tanda subjektif maupun objektif berupa tumor pembuluh darah yang berdenyut dan expansif kesegala jurusan. Pada auskultasi terdengar bising yang sering dapat di raba sebagai getaran.
Pada Aneurisme yang letak nya perifer, diagnosis klinik biasanya tidak sulit Aneurisme sentral yang letak di dalam rongga tubuh yang besar seperti rongga toraks atau rongga abdomen sangat sulit di diagnosis. Tidak jarang penderita datang dengan salah satu dari komplikasi Aneurisme, biasa nya berupa tuptur. Pemeriksaan penunjang ultrasonografi dan arteriografi dapat memberikan diagnosis pasti.
5. Komplikasi
Komplikasi Aneurisme arteri dapat berupa ruptur atau emboli. Ruptur Aneurisme aorta abdominalis tidak jarang terjadi emboli yang berasal dari thrombus didalam Aneurisme dapat menyebabkan obtruksi arteri di ektremitas maupun alat di dalam nya.
Komplikasi dini yang tejadi setelah operasi efektif meliputi iskemia jantung, aritmia, dan gagal jantumg kongestif (15%), insufisiensi pulmonal (8%), kerusakan ginjal (6%), perdarahan (4%), tromboemboli distal (3%), dan infeksi luka(2%).
5
6. Pengobatan
Biasanya aneurisme aorta perut perlu operasi dan mengganti bagian yang mengalami kerusakan degan alat Dacron. Apabila aneurisme masih kecil dan tidak menimbulkan gejala, oprasi dapat di tunda meski adakala nya aneurisma kecil dapat robek. Pemeriksaan fisik dan ultrasosonografi secara rutin sangat di perlukan untuk mengetahui pembesaran yang berlanjut robek. Aneurisma yang membesar dan memberikan gejala serta memiliki risiko perobekan perlu segera dioprasi.
Dubost adalah orang yang pertama yang sukses melakukan reseksi aneurisme aorta di Paris, 29 Maret 1951. Sejak iyulah teknik pembedahan mulai di kembangkan.
Bedah efektif. Keputusan untuk melakukan operasi pada pasien aneurisme asimtomatik bergantung pada risiko aneurisme tersebut mengalami ruptur. Masih sedikit data yang dapat menunjukan seberapa besar diameter aneurisme yang berisiko mengalai ruptur.
Bedah darurat. Pasien dengan dugaan ruptur aneurisme perlu di pertimbangkan di lakukan bedah darurat. Beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan kematian selama pembedahan adalah usia lebih dari 80 tahun, kesadaran menurun, konsentrasi Hb rendah, cardiac arrest, penyakit kardiorespiratori parah.
Bedah Konvensional. Bedah Konvensional adalah dengan menggunakan graft prosthetic. Pemasangan graft di nila efektif, dan kematian 30 hari nya hanya 5 %. Risiko kematian paska pemasangan graft bergantung dari status kesehatan pasien
RENCANA KEPERAWATAN
1. DX I
Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kelumpuhan saraf otak ditandai dengan klien mengeluh sakit kepala, keadaan umum lemah nyeri seperti tertusuk-tusuk, skala nyeri 7, klien tampak meringis.
Tujuan : Rasa nyaman terpenuhi
Kriteria hasil :
- Klien tampak rileks
- Nyeri tidak ada lagi
- Skala nyeri o
Intervensi :
- Kaji, frekuensi, kuantitas dan lokasi nyeri
- Kaji tanda-tanda vital
- Berikan kompres dingin pada kepala
- Anjurkan klien untuk istirahat / ajarkan teknik relaksasi
- Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat analgetik
Rasionalisasi :
- Untuk memilih intervensi yang cocok dan mengevaluasi terapi yang diberikan
- Untuk mengetahui perkembangan tanda-tanda dan keadaan klien
- Meningkatkan rasa nyaman dan menurunkan vasadilatasi
- Menurunkan stimulasi yang berlebihan yang dapat mengurangi sakit kepala
- Penanganan sakit kepala secara umum.
2. DX II
Hipertermia berhubungan dengan “Sus, badan saya panas”, keadaan umum lemah, badan terasa panas, klien tampak gelisah, suhu 39o C, klien berkeringat.
Kriteria hasil :
- Suhu kembali normal
- Badan tidak panas lagi
- Klien tampak rrileks
Intervensi :
- Kontrol tanda-tanda vital
- Beri kompres hangat didaerah yang banyak pembuluh darah (axila dan didahi).
- Beri minum banyak lebih kurang 2,5 liter
- Longgarkan pakaian
- Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat antipeuretik.
Rasionalisasi :
- Untuk mengetahui perkembangan tanda-tanda vital
- Dengan kompres dibagian yang banyak pembuluh darah dapat merangsang hypotalamus sebagai pusat pengatur panas
- Akan mengganti cairan yang hilang
- Membantu proses pertorasi
- Antipeuretik berfungsi untuk menurunkan panas.
3. DX III
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, ditandai dengan klien mengeluh kurang nafsu makan, keadaan umum lemah, berat badan menurun, porsi yang disediakan hanya 2 – 3 sendok yang dihabiskan, nafsu makan menurun.
Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria hasil :
- Berat badan kembali normal
- Keadaan umum baik
- Porsi yang disediakan habis
Intervensi :
- Jelaskan pada klien tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh
- Beri makan porsi kecil tapi sering
- Timbang berat badan sesuai indikasi
- Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pemberian diit.
Rasionalisasi :
- Diharapkan klien dapat mengetahui bahwa pentingnya gizi bagi kebutuhan tubuh
- Untuk memenuhi nutrisi klien dan dapat menaikkan selesa makan klien
- Mengevaluasi keefektifan atau kebutuhan mengubah pemberian nutrisi
- Untuk mengindentifikasi kebutuhan kalori / nutrisi tergantung pada usia berat badan, dll.
4. DX IV
Perubahan isitrahat dan tidur berhubungan dengan nyeri kepala ditandai dengan klien mengeluh tidak bisa tidur karena adanya nyeri kepala, keadaan umum lemah, konjungtiva anemis, sering terbangun pada malam hari, frekuensi tidur hanya 3 jam terpenuhi.
Tujuan : Istirahat dan tidur terpenuhi
Kriteria hasil :
- Klien tampak rileks
- Klien dapat tidur dengan tenang
Intervensi :
- Ciptakan suasana lingkiungan yang aman dan tenang
- Atur posisi klien senyaman mungkin
- Batasi pengunjung
- Jelaskan klien tentang pentingnya istirahat dan tidur
Rasionalisasi :
- Agar klien dapat beristirahat dan tidur dengan tenang
- Posisi yang nyaman dapat merambat motivasi klien untuk tidur dan istirahat
- Dapat menambah rasa nyaman dan tenang
- Agar klien dapat mengerti dan memahami bahwa tidur yang cukup baik untuk kesehatan.
5. DX V
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik ditandai dengan klien mengeluh tidak bisa memenuhi semua aktivitas sehari-hari, keadaan umum lemah, tonus otot menurun, kekuatan otot 4, sebagian aktivitas dilakukan perawat dan keluarga.
Tujuan : Klien dapat melakukan aktivitas seperti biasanya
Kriteria hasil :
- keadaan umum baik
- klien tidak dibantu oleh keluarga dan perawat
Intervensi :
- Motivasi klien untuk melakukan aktivitas secara bertahap
- Libatkan keluarga dalam tindakan keperawatan
- Kaji penyebab kelemahan
- Evaluasi peningkatan toleransi aktivitas
Rasionalisasi :
- Dapat memotivasi klien diharapkan dapat melakukan aktivitas secara mandiri
- Dapat melibatkan keluarga klien dapat dilatih secara rutin
- Nyeri juga memerlukan energi dan menyebabkan kelemahan
- Dapat menunjukkan peningkatan dekompersasi jantung daripada kelebihan aktivitas.
6. DX VI
Anxietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit dan pengobatannya ditandai “Sus, apakah penyakit saya masih bisa sembuh, klien tampak cemas dan gelisah, klien sering bertanya-tanya tentang penyakitnya.
Tujuan : Anxietas dapat teratasi
Kriteria hasil :
- Klien mengerti tentang penyakitnya
- Klien mengetahui bahwa penyakitnya bisa disembuhkan
Intervensi :
- Beri penjelasan kepada klien dan keluarga tentang keadaan penyakitnya
- Beritahu klien sebelum dilakukan tindakan
- Anjurkan pasien melakukan teknik relaksasi
- Ciptakan suasana yang tenang dan nyaman
Rasionalisasi :
- Diharapkan klien dapat mengerti tentang penyakitnya
- Diharapkan klien merasa yakin tentang tindakan yang akan dilakukan
- Memberikan arti penghilangan respons ansietas, menurunkan perhatian, meningkatkan relaksasi.
- Diharapkan dapat mengurangi rasa cemas.
PENUTUP
Kesimpulan
1. Anuerisma adalah : Pelebaran setempat pada arteri.
2. Gejala Anuerisma adalah : Pingsan, suhu tubuh menaik.
3. Keluhan utama pasien dengan anuerisma adalah sakit kepala yang sakitnya seperti tertusuk-tusuk, skala nyeri 7, nyeri dirasakan setiap saat.
4. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kelumpuhan saraf otak.
5. Intervensi dari gangguan rasa nyaman nyeri
- Kaji lokasinyeri
- Kaji tanda-tanda vital
- Kompres dingin pada kepala
- Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat anagetik.
DAFTAR PUSTAKA
- Smeltzer C. Suzanne, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.
- Brunner & Suddarth,edisi 8, Penerbit Buku Kedokteran, 2001.
- SPK. Dep. Kes. RI. Medan.
- Hichliff Sue, Kamus Keperawatan, edisi 17, Penerbit Buku Kedokteran, 1999.
Read More
1. Pengertian
Aneurisme adalah pelebaran abnormal yang permanen pada pembuluh arteri yang merupakan kelainan kongenital atau lebih lazim lagi terjadi akibat kelainan degeneratif arterial. Bentuk Aneurisme bisa fusiformis, sakulasi ( membentuk kantong) atau diseksi.
Dengan terbentuknya hubungan antara pembuluh arteri dan vena yang biasa nya terjadi akibat cedera. Kelainan kongenital pembuluh darah otak yang dapat mengalami ruptur sehingga terjadi pendarahan subaraknoid.
2. Etiologi
Aneurisme bawaan berkembang dari kelemahan tunika media arteri dan bentuk kantongan terjadi secara sekunder. Predileksi Aneurisme bawaan adalah arteri dasar otak, aorta asenden, aorta pulmonalis utama dan kadang-kadang juga terjadi pada aorta abdominalis dan jarang sekali pada aorta renalis.
Aneurisme arteriosklerotik hampir pasti mengenai penderita berusia diatas 50 tahun, tempat yang paling sering terserang adalah aorta abdominalis sekmen infrarenal, aorta pemoralis komunis dan aorta publitea. Obtruksi perifer sering di sebabkan oleh lepas nya emboli arteri dari kantong Aneurisma.
2
Aneurisma sifilis pada umumnya berkembang dari angiitis sifilitika di vasa vasorum pada sifilis stadium III. Kerusakan tunika media terjadi secara progresif bersamaan dengan pembentukan parut pada jaringan ikat.setelah di kenal nya salvarsan dan antibiotic sifilis stdium III hamoir tidak di temukan lagi sehingga kejadian Aneurisme sifilis dapat berkurang. Tempat yang paling sering terserang adalah arkus aorta. Ciri khusus Aneurisme sifilis adalah cenderung progresif di sertai erosi struktur di sekitar nya seperti tulang belakang atau sternum di dekat nya sehingga cenderung mengalami ruptur.
Aneurisme pascatrauma terbentuk akibat robekan dinding pembuluh darah sebagian atau total pada trauma tajam atau tumpul. Aneurisme pascatrauma banyak di temukan di daerah extremitas. Sebagian di sebabkan oleh luka tembak, sebagian oleh fungsi arteri atau luka tusuk.
Aneurisme mikotik terbentuk akibat proses radang di dinding arteri seperti pada endokarditis bacterial. Jadi sebenar nya nama mikotik adalah nama yang salah karena biasanya radang ini tidak ada hubungan dengan jamur.
Aneurisme pascastenosis terbentuk karena perubahan hemodinamik akibat penyempitan pembuluh darah. Aneurisme ini di sebut juga dilatasi pascatenosis baisanya kelainan ini terdapat di bagian arteri subklavia, aorta asenden, arteri pulmonalis utama, dan distenosis katub aorta atau pulmonal.
3. Patofisiologi
Pada Aneurisme asli, dinding Aneurisme berbentuk dari dinding pembuluh yang bersangkutan dan dapat berbentuk kosentrik atau eksentrik. Menurut bentuk Aneurisme ini dapat di bedakan atas 3 bentuk yaitu futus, sacculius, dan disscare.
Pada Aneurisme palsu berbentuk kantong yang berasal dari hematom akibat robek atau terbuka nya dinding terbentuk oleh bekas thrombus yang mungkin sebagian mengalami fibrosis.
3
Kuman mati Virulensi tinggi
Destruksi jaringan
Pola nafas tak Shunt darah arteriole alveoli
Devisit vol.
Perdarahan cerebral
Tekanan perfusi vaskukar distal
Iskemia
Anoksia Aktifitas elektrolit terhenti
Metabolisme anaerob Pompa NA-dari K+ gagal
Metabolit asam NA- dan H2O masuk sel
Acidosis lokal Edema intrasel
Pompa NA- gagal Edema ektrasel
Edema- mekrosis jaringan Perfusi jaringan cerebral
Sel otak mati secara progresif
(devisit fungsi otak )
4
4. Gejala klinis
Tanda dan gejala klinis suatu Aneurisme tergantung dari letak dan besar gelembung, tanda subjektif maupun objektif berupa tumor pembuluh darah yang berdenyut dan expansif kesegala jurusan. Pada auskultasi terdengar bising yang sering dapat di raba sebagai getaran.
Pada Aneurisme yang letak nya perifer, diagnosis klinik biasanya tidak sulit Aneurisme sentral yang letak di dalam rongga tubuh yang besar seperti rongga toraks atau rongga abdomen sangat sulit di diagnosis. Tidak jarang penderita datang dengan salah satu dari komplikasi Aneurisme, biasa nya berupa tuptur. Pemeriksaan penunjang ultrasonografi dan arteriografi dapat memberikan diagnosis pasti.
5. Komplikasi
Komplikasi Aneurisme arteri dapat berupa ruptur atau emboli. Ruptur Aneurisme aorta abdominalis tidak jarang terjadi emboli yang berasal dari thrombus didalam Aneurisme dapat menyebabkan obtruksi arteri di ektremitas maupun alat di dalam nya.
Komplikasi dini yang tejadi setelah operasi efektif meliputi iskemia jantung, aritmia, dan gagal jantumg kongestif (15%), insufisiensi pulmonal (8%), kerusakan ginjal (6%), perdarahan (4%), tromboemboli distal (3%), dan infeksi luka(2%).
5
6. Pengobatan
Biasanya aneurisme aorta perut perlu operasi dan mengganti bagian yang mengalami kerusakan degan alat Dacron. Apabila aneurisme masih kecil dan tidak menimbulkan gejala, oprasi dapat di tunda meski adakala nya aneurisma kecil dapat robek. Pemeriksaan fisik dan ultrasosonografi secara rutin sangat di perlukan untuk mengetahui pembesaran yang berlanjut robek. Aneurisma yang membesar dan memberikan gejala serta memiliki risiko perobekan perlu segera dioprasi.
Dubost adalah orang yang pertama yang sukses melakukan reseksi aneurisme aorta di Paris, 29 Maret 1951. Sejak iyulah teknik pembedahan mulai di kembangkan.
Bedah efektif. Keputusan untuk melakukan operasi pada pasien aneurisme asimtomatik bergantung pada risiko aneurisme tersebut mengalami ruptur. Masih sedikit data yang dapat menunjukan seberapa besar diameter aneurisme yang berisiko mengalai ruptur.
Bedah darurat. Pasien dengan dugaan ruptur aneurisme perlu di pertimbangkan di lakukan bedah darurat. Beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan kematian selama pembedahan adalah usia lebih dari 80 tahun, kesadaran menurun, konsentrasi Hb rendah, cardiac arrest, penyakit kardiorespiratori parah.
Bedah Konvensional. Bedah Konvensional adalah dengan menggunakan graft prosthetic. Pemasangan graft di nila efektif, dan kematian 30 hari nya hanya 5 %. Risiko kematian paska pemasangan graft bergantung dari status kesehatan pasien
RENCANA KEPERAWATAN
1. DX I
Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kelumpuhan saraf otak ditandai dengan klien mengeluh sakit kepala, keadaan umum lemah nyeri seperti tertusuk-tusuk, skala nyeri 7, klien tampak meringis.
Tujuan : Rasa nyaman terpenuhi
Kriteria hasil :
- Klien tampak rileks
- Nyeri tidak ada lagi
- Skala nyeri o
Intervensi :
- Kaji, frekuensi, kuantitas dan lokasi nyeri
- Kaji tanda-tanda vital
- Berikan kompres dingin pada kepala
- Anjurkan klien untuk istirahat / ajarkan teknik relaksasi
- Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat analgetik
Rasionalisasi :
- Untuk memilih intervensi yang cocok dan mengevaluasi terapi yang diberikan
- Untuk mengetahui perkembangan tanda-tanda dan keadaan klien
- Meningkatkan rasa nyaman dan menurunkan vasadilatasi
- Menurunkan stimulasi yang berlebihan yang dapat mengurangi sakit kepala
- Penanganan sakit kepala secara umum.
2. DX II
Hipertermia berhubungan dengan “Sus, badan saya panas”, keadaan umum lemah, badan terasa panas, klien tampak gelisah, suhu 39o C, klien berkeringat.
Kriteria hasil :
- Suhu kembali normal
- Badan tidak panas lagi
- Klien tampak rrileks
Intervensi :
- Kontrol tanda-tanda vital
- Beri kompres hangat didaerah yang banyak pembuluh darah (axila dan didahi).
- Beri minum banyak lebih kurang 2,5 liter
- Longgarkan pakaian
- Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat antipeuretik.
Rasionalisasi :
- Untuk mengetahui perkembangan tanda-tanda vital
- Dengan kompres dibagian yang banyak pembuluh darah dapat merangsang hypotalamus sebagai pusat pengatur panas
- Akan mengganti cairan yang hilang
- Membantu proses pertorasi
- Antipeuretik berfungsi untuk menurunkan panas.
3. DX III
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, ditandai dengan klien mengeluh kurang nafsu makan, keadaan umum lemah, berat badan menurun, porsi yang disediakan hanya 2 – 3 sendok yang dihabiskan, nafsu makan menurun.
Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria hasil :
- Berat badan kembali normal
- Keadaan umum baik
- Porsi yang disediakan habis
Intervensi :
- Jelaskan pada klien tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh
- Beri makan porsi kecil tapi sering
- Timbang berat badan sesuai indikasi
- Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pemberian diit.
Rasionalisasi :
- Diharapkan klien dapat mengetahui bahwa pentingnya gizi bagi kebutuhan tubuh
- Untuk memenuhi nutrisi klien dan dapat menaikkan selesa makan klien
- Mengevaluasi keefektifan atau kebutuhan mengubah pemberian nutrisi
- Untuk mengindentifikasi kebutuhan kalori / nutrisi tergantung pada usia berat badan, dll.
4. DX IV
Perubahan isitrahat dan tidur berhubungan dengan nyeri kepala ditandai dengan klien mengeluh tidak bisa tidur karena adanya nyeri kepala, keadaan umum lemah, konjungtiva anemis, sering terbangun pada malam hari, frekuensi tidur hanya 3 jam terpenuhi.
Tujuan : Istirahat dan tidur terpenuhi
Kriteria hasil :
- Klien tampak rileks
- Klien dapat tidur dengan tenang
Intervensi :
- Ciptakan suasana lingkiungan yang aman dan tenang
- Atur posisi klien senyaman mungkin
- Batasi pengunjung
- Jelaskan klien tentang pentingnya istirahat dan tidur
Rasionalisasi :
- Agar klien dapat beristirahat dan tidur dengan tenang
- Posisi yang nyaman dapat merambat motivasi klien untuk tidur dan istirahat
- Dapat menambah rasa nyaman dan tenang
- Agar klien dapat mengerti dan memahami bahwa tidur yang cukup baik untuk kesehatan.
5. DX V
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik ditandai dengan klien mengeluh tidak bisa memenuhi semua aktivitas sehari-hari, keadaan umum lemah, tonus otot menurun, kekuatan otot 4, sebagian aktivitas dilakukan perawat dan keluarga.
Tujuan : Klien dapat melakukan aktivitas seperti biasanya
Kriteria hasil :
- keadaan umum baik
- klien tidak dibantu oleh keluarga dan perawat
Intervensi :
- Motivasi klien untuk melakukan aktivitas secara bertahap
- Libatkan keluarga dalam tindakan keperawatan
- Kaji penyebab kelemahan
- Evaluasi peningkatan toleransi aktivitas
Rasionalisasi :
- Dapat memotivasi klien diharapkan dapat melakukan aktivitas secara mandiri
- Dapat melibatkan keluarga klien dapat dilatih secara rutin
- Nyeri juga memerlukan energi dan menyebabkan kelemahan
- Dapat menunjukkan peningkatan dekompersasi jantung daripada kelebihan aktivitas.
6. DX VI
Anxietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit dan pengobatannya ditandai “Sus, apakah penyakit saya masih bisa sembuh, klien tampak cemas dan gelisah, klien sering bertanya-tanya tentang penyakitnya.
Tujuan : Anxietas dapat teratasi
Kriteria hasil :
- Klien mengerti tentang penyakitnya
- Klien mengetahui bahwa penyakitnya bisa disembuhkan
Intervensi :
- Beri penjelasan kepada klien dan keluarga tentang keadaan penyakitnya
- Beritahu klien sebelum dilakukan tindakan
- Anjurkan pasien melakukan teknik relaksasi
- Ciptakan suasana yang tenang dan nyaman
Rasionalisasi :
- Diharapkan klien dapat mengerti tentang penyakitnya
- Diharapkan klien merasa yakin tentang tindakan yang akan dilakukan
- Memberikan arti penghilangan respons ansietas, menurunkan perhatian, meningkatkan relaksasi.
- Diharapkan dapat mengurangi rasa cemas.
PENUTUP
Kesimpulan
1. Anuerisma adalah : Pelebaran setempat pada arteri.
2. Gejala Anuerisma adalah : Pingsan, suhu tubuh menaik.
3. Keluhan utama pasien dengan anuerisma adalah sakit kepala yang sakitnya seperti tertusuk-tusuk, skala nyeri 7, nyeri dirasakan setiap saat.
4. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kelumpuhan saraf otak.
5. Intervensi dari gangguan rasa nyaman nyeri
- Kaji lokasinyeri
- Kaji tanda-tanda vital
- Kompres dingin pada kepala
- Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat anagetik.
DAFTAR PUSTAKA
- Smeltzer C. Suzanne, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.
- Brunner & Suddarth,edisi 8, Penerbit Buku Kedokteran, 2001.
- SPK. Dep. Kes. RI. Medan.
- Hichliff Sue, Kamus Keperawatan, edisi 17, Penerbit Buku Kedokteran, 1999.
Anestesi
Anestesi (pembiusan; berasal dari bahasa Yunani an-"tidak, tanpa" dan aesthētos, "persepsi, kemampuan untuk merasa"), secara umum berarti suatu tindakan menghilangkan rasa sakit ketika melakukan pembedahan dan berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh. Istilah anestesi digunakan pertama kali oleh Oliver Wendel Holmes Sr pada tahun 1846Dua kelompok anestesi
Obat untuk menghilangkan nyeri terbagi ke dalam 2 kelompok, yaitu analgetik dan anestesi. Analgetik adalah obat pereda nyeri tanpa disertai hilangnya perasaan secara total. seseorang yang mengkonsumsi analgetik tetap berada dalam keadaan sadar. Analgetik tidak selalu menghilangkan seluruh rasa nyeri, tetapi selalu meringankan rasa nyeri.
Beberapa jenis anestesi menyebabkan hilangnya kesadaran, sedangkan jenis yang lainnya hanya menghilangkan nyeri dari bagian tubuh tertentu dan pemakainya tetap sadar.
Tipe anestesi
Beberapa tipe anestesi adalah:
· Pembiusan total — hilangnya kesadaran total
· Pembiusan lokal — hilangnya rasa pada daerah tertentu yang diinginkan (pada sebagian kecil daerah tubuh).
· Pembiusan regional — hilangnya rasa pada bagian yang lebih luas dari tubuh oleh blokade selektif pada jaringan spinal atau saraf yang berhubungan dengannya
Pembiusan lokal atau anestesi lokal adalah salah satu jenis anestesi yang hanya melumpuhkan sebagian tubuh manusia dan tanpa menyebabkan manusia kehilangan kesadaran. Obat bius jenis ini bila digunakan dalam operasi pembedahan, maka setelah selesai operasi tidak membuat lama waktu penyembuhan operasi.
Anestesiologis dengan empat rangkaian kegiatan
Anestesi dilakukan oleh dokter spesialis anestesi atau anestesiologis. Dokter spesialis anestesiologi selama pembedahan berperan memantau tanda-tanda vital pasien karena sewaktu-waktu dapat terjadi perubahan yang memerlukan penanganan secepatnya.
Empat rangkaian kegiatan yang merupakan kegiatan sehari-hari dokter anestesi adalah:
· Mempertahankan jalan napas
· Memberi napas bantu
· Membantu kompresi jantung bila berhenti
· Membantu peredaran darah
· Mempertahankan kerja otak pasien.
Sejarah anestesi
Eter ([CH3CH2]2O) adalah salah satu zat yang banyak digunakan sebagai anestesi dalam dunia kedokteran hingga saat ini. Eter ditemukan seorang ahli kimia berkebangsaan Spanyol, Raymundus Lullius pada tahun 1275. Lullius menamai eter "sweet vitriol". Eter pertama kali disintesis Valerius Cordus, ilmuwan dari Jerman pada tahun 1640. Kemudian seorang ilmuwan bernama W.G. Frobenius mengubah nama "sweet vitriol" menjadi eter pada tahun 1730. Sebelum penemuan eter, Priestly menemukan gas nitrogen-oksida pada tahun 1777, dan berselang dua tahun dari temuannya itu, Davy menjelaskan kegunaan gas nitrogen-oksida dalam menghilangkan rasa sakit.
Sebelum tahun 1844, gas eter maupun nitrogen-oksida banyak digunakan untuk pesta mabuk-mabukan. Mereka menamai zat tersebut "gas tertawa", karena efek dari menghirup gas ini membuat orang tertawa dan lupa segalanya.
Penggunaan eter atau gas nitrogen-oksida sebagai penghilang sakit dalam dunia kedokteran sebenarnya sudah dimulai Horace Wells sejak tahun 1844. Sebagai dokter gigi, ia bereksperimen dengan nitrogen-oksida sebagai penghilang rasa sakit kepada pasiennya saat dicabut giginya. Sayangnya usahanya mempertontonkan di depan mahasiswa kedokteran John C. Warren di Rumah Sakit Umum Massachusetts, Boston gagal, bahkan mendapat cemoohan. Usahanya diteruskan William Thomas Green Morton.
Morton adalah sesama dokter gigi yang sempat buka praktik bersama Horace Wells pada tahun 1842. Ia lahir di Charlton, Massachusetts, Amerika Serikat pada tanggal 9 Agustus 1819. Pada usia 17 tahun, ia sudah merantau ke Boston untuk berwirausaha. Beberapa tahun kemudian mengambil kuliah kedokteran gigi di Baltimore College of Dental Surgery. Morton meneruskan kuliah di Harvard pada tahun 1844 untuk memperoleh gelar dokter. Namun karena kesulitan biaya, tidak ia teruskan. Pada tahun yang sama, ia menikah dengan Elizabeth Whitman dan kembali membuka praktik giginya. Ia berkonsentrasi dalam membuat dan memasang gigi palsu serta cabut gigi. Suatu pekerjaan yang membutuhkan cara menghilangkan rasa sakit.
Morton berpikir untuk menggunakan gas nitrogen-oksida dalam praktiknya sebagaimana yang dilakukan Wells. Kemudian ia meminta gas nitrogen-oksida kepada Charles Jackson, seorang ahli kimia ternama di sekolah kedokteran Harvard. Namun Jackson justru menyarankan eter sebagai pengganti gas nitrogen-oksida.
Morton menemukan efek bius eter lebih kuat dibanding gas nitrogen-oksida. Bahkan pada tahun 1846 Morton mendemonstrasikan penggunaan eter dalam pembedahan di rumah sakit umum Massachusetts. Saat pasien dokter Warren telah siap, Morton mengeluarkan gas eter (atau disebutnya gas letheon) yang telah dikemas dalam suatu kantong gas yang dipasang suatu alat seperti masker. Sesaat pasien yang mengidap tumor tersebut hilang kesadaran dan tertidur. Dokter Warren dengan sigap mengoperasi tumor dan mengeluarkannya dari leher pasien hingga operasi selesai tanpa hambatan berarti.
Tanggal 16 Oktober 1846 menjadi hari bersejarah bagi dunia kedokteran. Demonstrasi Morton berhasil dengan baik dan memicu penggunaan eter sebagai anestesi secara besar-besaran. Revolusi pembedahan dimulai dan eter sebagai anestesi dipakai hingga saat ini. Ia bukanlah yang pertama kali menggunakan anestesia, namun berkat usahanyalah anestesia diakui dunia kedokteran. Wajar jika Morton masuk dalam 100 orang paling berpengaruh dalam sejarah dunia dalam buku yang ditulis William H. Hart beberapa tahun yang lalu.
Di balik kesuksesan zat anestesi dalam membius pasien, para penemu dan penggagas zat anestesi telah terbius ketamakan mereka untuk memiliki dan mendapatkan penghasilan dari paten anestesi yang telah digunakan seluruh dokter di seluruh bagian dunia.
Terjadilah perseteruan di antara Morton, Wells, dan Jackson. Masing-masing mengklaim zat anestesi adalah hasil penemuannya. Di tempat berbeda, seorang dokter bernama Crawford W. Long telah menggunakan eter sebagai zat anestesi sejak tahun 1842, empat tahun sebelum Morton memublikasikan ke masyarakat luas. Ia telah menggunakan eter di setiap operasi bedahnya. Sayang, ia tidak memublikasikannya, hanya mempraktikkan untuk pasien-pasiennya. Sementara ketiga dokter dan ilmuwan yang awalnya adalah tiga sahabat itu mulai besar kepala, dokter Long tetap menjalankan profesinya sebagai dokter spesialis bedah.
Wells, Morton, dan Jackson menghabiskan hidupnya demi pengakuan dari dunia bahwa zat anestesi merupakan hasil temuannya. Morton selama dua puluh tahun menghabiskan waktu dan uangnya untuk mempromosikan hasil temuannya. Ia mengalami masalah meskipun ia telah mendaftarkan hak patennya di lembaga paten Amerika Serikat (U.S. Patent No. 4848, November 12, 1846). Ketika tahun 1847 dunia kedokteran mengetahui, zat yang digunakan adalah eter yang telah digunakan sejak abad 16, Morton tidak memiliki dasar hukum yang kuat untuk mendapat keuntungan dari patennya. Jackson juga mengklaim, dirinya juga berhak atas penemuan tersebut.
Ketika Akademi Kedokteran Prancis menganugerahkan penghargaan Monthyon yang bernilai 5.000 frank di tahun 1846, Morton menolak untuk membaginya dengan Jackson. Ia mengklaim, penemuan tersebut adalah miliknya pribadi. Sementara itu, Wells mencoba eksperimen dengan zat lain (kloroform) sebagai bahan anestesi.
Selama bertahun-tahun Morton menghabiskan waktu dan materi untuk mengklaim patennya. Ia mulai stres dan tidak memedulikan lagi klinik giginya. Morton meninggal tanggal 15 Juli 1868 di usia 49 tahun di Rumah Sakit St. Luke's, New York. Begitu juga dengan Jackson yang meninggal dalam keadaan gila dan Wells yang meninggal secara mengenaskan dengan cara bunuh diri.(Dewi Marthaningtyas:"Terbius Memburu Paten Gas Tertawa", Cakrawala, 2005).
Penggunaan obat-obatan dalam anestesi
Dalam membius pasien, dokter anestesi memberikan obat-obatan (suntik, hirup, ataupun lewat mulut) yang bertujuan menghilangkan rasa sakit (pain killer), menidurkan, dan membuat tenang (paraytic drug). Pemberian ketiga macam obat itu disebut triangulasi.
Bermacam obat bius yang digunakan dalam anestesi saat ini seperti:
· Thiopental (pertama kali digunakan pada tahun 1934)
· Benzodiazepine Intravena
· Propofol (2,6-di-isopropyl-phenol)
· Etomidate (suatu derifat imidazole)
· Ketamine (suatu derifat piperidine, dikenal juga sebagai 'Debu Malaikat'/'PCP' (phencyclidine)
· Halothane (d 1951 Charles W. Suckling, 1956 James Raventos)
· Enflurane (d 1963 u 1972), isoflurane (d 1965 u 1971), desflurane, sevoflurane
· Opioid-opioid sintetik baru - fentanyl (d 1960 Paul Janssen), alfentanil, sufentanil (1981), remifentanil, meperidine
· Neurosteroid
Gejala siuman (awareness)
Sering terjadi pasien ternyata dapat merasa dan sadar dari pengaruh bius akibat obat pembius yang tidak bekerja dengan efektif. Secara statistik, Dr. Peter Sebel, ahli anestesi dari Universitas Emory yang dikutip Time terbitan 3 November 1997 mengungkapkan bahwa dari 20 juta pasien yang dioperasi setiap tahunnya di Amerika Serikat, 40.000 orang mengalami gejala siuman tersebut. Untuk mengatasi masalah ini, dalam pertemuan tahunan sekitar bulan Oktober 1997, Persatuan Dokter Ahli Anestesi Amerika ditawari suatu alat yang disebut Bispectral Index Monitor yang akan memberi peringatan bahwa pasien yang sedang dioperasi mengalami gejala siuman atau menjelang "bangun dari tidurnya".Penemu alat tersebut adalah Dr. Nassib Chamoun, seorang dokter ahli saraf (neurologist) asal Yordania. Dengan menggunakan prinsip kerja dari alat yang sudah ada, yaitu piranti yang disebut EEG (Electroencephalography). Alat yang ditemukan Dr. Chamoun itu mampu memonitor potensi listrik yang ditimbulkan oleh aktivitas "jaringan otak manusia".
Alat ini dapat menunjukkan derajat kondisi siuman pasien yang sedang menjalani suatu pembedahan. Angka "100" menunjukkan pasien dalam keadaan "siuman sepenuhnya". Bila jarum menunjukkan angka "60" berarti pasien dalam kondisi "siap untuk dioperasi". Angka "0" menandakan pasien mengalami "koma yang dalam".
Dengan mengamati derajat siuman dari alat ini, dokter anestesi dapat menambahkan obat pembiusan apabila diperlukan, atau memberikan dosis perawatan kepada pasien yang telah mengalami kondisi ideal untuk dilakukan operasi. Di samping itu, dokter bedah dapat dengan tenang menyelesaikan operasinya sesuai rencana yang telah ditetapkan.
Pemilihan teknik anestesi
Pemilihan teknik anestesi adalah suatu hal yang kompleks, memerlukan kesepakatan dan pengetahuan yang dalam baik antara pasien dan faktor-faktor pembedahan. Dalam beberapa kelompok populasi pasien, pembiusan regional ternyata lebih baik daripada pembiusan total.Blokade neuraksial bisa mengurangi resiko thrombosis vena, emboli paru, transfusi, pneumonia, tekanan pernafasan, infark miokardial dan kegagalan ginjal.
Gambaran Umum Anastesi
Semua anestesi umumnya terbentuk dari kombinasi basa lemah dan asam kuat. Agen-agen ini dapat dengan mudah terhidrolisa pada jaringan yang bersifat alkali ( PH 7,4 ). Untuk mengeluarkan basa alkaloid yang akan diikat oleh lemak pada serabut saraf. Basa ini dapat mencegah bertambahnya permeabilitas membran saraf. Stabilitasi membran pembatas aksonal akan mencegah aliran ke dalam dan ion Na+ dan depolarisasi, oleh karena itu tidak akan ada konduksi impuls.
Anestesi lokal mencegah pembentukan & konduksi impuls saraf. Tempat kerjanya di membran sel. Potensial aksi saraf terjadi karena adanya peningkatan sesaat (sekilas) permeabilitas membran terhadap ion Na+ akibat depolarisasi ringan pada membran. Jadi terjadi interaksi antara anestesi lokal dengan kanal Na+
Dengan semakin bertambahnya efek anestesi lokal di dalam saraf, maka ambang rangsang membran akan meningkat secara bertahap, kecepatan peningkatan potensial aksi menurun, konduksi impuls melambat & faktor pengaman konduksi saraf juga berkurang. Faktor ini akan mengakibatkan penurunan kemungkinan menjalarnya potensial aksi, dan dengan demikian kegagalan konduksi saraf.
Penambahan epineprin pada anestesi lokal selain sebagai vasokonstriktor juga mengurangi kecepatan absorpsi anestesi lokal sehingga akan mengurangi juga toksisitas sistemiknya
Mekanisme kerja anestesi lokal
· AL mencegah timbulnya konduksi impuls saraf
· Meningkatkan ambang membran, eksitabilitas berkurang dan kelancaran hantaran terhambat
· AL juga mengurangi permeabilitas membran bagi ion Na & K dlm keadaan istirahat
· Meningkatkan tegangan permukaan selaput lipid molekuler
Kefektifan anestesi lokal tergantung pada :
· Potensi analgesik dari agen anestesi yang digunakan
· Konsentrasi agen anestesi lokal
· Kelarutan agen anestesi lokal dalam : air ( misalnya : cairan ekstraseluler ) dan lipoid ( misalnya : selubung mielin lipoid )
· Persistensi agen pada daerah suntikan tergantung baik pada konsentrasi agen anestesi lokal maupun keefektifan vasokonstriktor yang ditambahkan.
· Kecepatan metabolisme agen pada daerah suntikan.
· Ketetapan terdepositnya larutan dan dekat saraf yang akan dibuat baal
· Tergantung pula pada keterampilan operator dan variasi anatomi
Sifat anestesi lokal yang ideal :
· Tidak mengiritasi / merusak jaringan saraf secara permanen
· Batas keamanan harus lebar
· Mula kerja harus sesingkat mungkin
· Durasi kerja harus cukup lama
· Larut dalam air
· Stabil dalam larutan
· Dapat disterilkan tanpa mengalami perubahan
· Indikasi & Keuntungan anastesi lokal
· Penderita dalam keadaan sadar serta kooperatif.
· Tekniknya relatif sederhana dan prosentase kegagalan dalam penggunaanya relatif kecil.
· Pada daerah yang diinjeksi tidak terdapat pembengkakan.
· Peralatan yang digunakan, sedikit sekali dan sederhana serta obat yang digunakan relatif murah.
· Dapat digunakan sesuai dengan yang dikehendaki pada daerah anatomi tertentu.
· Dapat diberikan pada penderita yang keadaan umumnya kurang baik, sebab adanya pemberian obat anastesi terjadi penyimpangan fisiologis dari keadaan normal penderita sedikit sekali.
Kontra Indikasi
· Operator merasa kesulitan bekerja sama dengan penderita, misalnya penderita menolak di suntik karena takut
· Terdapat suatu infeksi/ peradangan
· Usia penderita terlalu tua atau dibawah umur
· Alergi terhadap semua anastetikum
· Anomali rahang
· Letak jaringan anastesi terlalu dalam
DAFTAR PUSTAKA
· Martaningtyas, Tsemol (2005): "Terbius memburu paten gas tertawa"
· Suryanto,dr (1998): "Trauma selama dan setelah operasi"
Read More
Obat untuk menghilangkan nyeri terbagi ke dalam 2 kelompok, yaitu analgetik dan anestesi. Analgetik adalah obat pereda nyeri tanpa disertai hilangnya perasaan secara total. seseorang yang mengkonsumsi analgetik tetap berada dalam keadaan sadar. Analgetik tidak selalu menghilangkan seluruh rasa nyeri, tetapi selalu meringankan rasa nyeri.
Beberapa jenis anestesi menyebabkan hilangnya kesadaran, sedangkan jenis yang lainnya hanya menghilangkan nyeri dari bagian tubuh tertentu dan pemakainya tetap sadar.
Tipe anestesi
Beberapa tipe anestesi adalah:
· Pembiusan total — hilangnya kesadaran total
· Pembiusan lokal — hilangnya rasa pada daerah tertentu yang diinginkan (pada sebagian kecil daerah tubuh).
· Pembiusan regional — hilangnya rasa pada bagian yang lebih luas dari tubuh oleh blokade selektif pada jaringan spinal atau saraf yang berhubungan dengannya
Pembiusan lokal atau anestesi lokal adalah salah satu jenis anestesi yang hanya melumpuhkan sebagian tubuh manusia dan tanpa menyebabkan manusia kehilangan kesadaran. Obat bius jenis ini bila digunakan dalam operasi pembedahan, maka setelah selesai operasi tidak membuat lama waktu penyembuhan operasi.
Anestesiologis dengan empat rangkaian kegiatan
Anestesi dilakukan oleh dokter spesialis anestesi atau anestesiologis. Dokter spesialis anestesiologi selama pembedahan berperan memantau tanda-tanda vital pasien karena sewaktu-waktu dapat terjadi perubahan yang memerlukan penanganan secepatnya.
Empat rangkaian kegiatan yang merupakan kegiatan sehari-hari dokter anestesi adalah:
· Mempertahankan jalan napas
· Memberi napas bantu
· Membantu kompresi jantung bila berhenti
· Membantu peredaran darah
· Mempertahankan kerja otak pasien.
Sejarah anestesi
Eter ([CH3CH2]2O) adalah salah satu zat yang banyak digunakan sebagai anestesi dalam dunia kedokteran hingga saat ini. Eter ditemukan seorang ahli kimia berkebangsaan Spanyol, Raymundus Lullius pada tahun 1275. Lullius menamai eter "sweet vitriol". Eter pertama kali disintesis Valerius Cordus, ilmuwan dari Jerman pada tahun 1640. Kemudian seorang ilmuwan bernama W.G. Frobenius mengubah nama "sweet vitriol" menjadi eter pada tahun 1730. Sebelum penemuan eter, Priestly menemukan gas nitrogen-oksida pada tahun 1777, dan berselang dua tahun dari temuannya itu, Davy menjelaskan kegunaan gas nitrogen-oksida dalam menghilangkan rasa sakit.
Sebelum tahun 1844, gas eter maupun nitrogen-oksida banyak digunakan untuk pesta mabuk-mabukan. Mereka menamai zat tersebut "gas tertawa", karena efek dari menghirup gas ini membuat orang tertawa dan lupa segalanya.
Penggunaan eter atau gas nitrogen-oksida sebagai penghilang sakit dalam dunia kedokteran sebenarnya sudah dimulai Horace Wells sejak tahun 1844. Sebagai dokter gigi, ia bereksperimen dengan nitrogen-oksida sebagai penghilang rasa sakit kepada pasiennya saat dicabut giginya. Sayangnya usahanya mempertontonkan di depan mahasiswa kedokteran John C. Warren di Rumah Sakit Umum Massachusetts, Boston gagal, bahkan mendapat cemoohan. Usahanya diteruskan William Thomas Green Morton.
Morton adalah sesama dokter gigi yang sempat buka praktik bersama Horace Wells pada tahun 1842. Ia lahir di Charlton, Massachusetts, Amerika Serikat pada tanggal 9 Agustus 1819. Pada usia 17 tahun, ia sudah merantau ke Boston untuk berwirausaha. Beberapa tahun kemudian mengambil kuliah kedokteran gigi di Baltimore College of Dental Surgery. Morton meneruskan kuliah di Harvard pada tahun 1844 untuk memperoleh gelar dokter. Namun karena kesulitan biaya, tidak ia teruskan. Pada tahun yang sama, ia menikah dengan Elizabeth Whitman dan kembali membuka praktik giginya. Ia berkonsentrasi dalam membuat dan memasang gigi palsu serta cabut gigi. Suatu pekerjaan yang membutuhkan cara menghilangkan rasa sakit.
Morton berpikir untuk menggunakan gas nitrogen-oksida dalam praktiknya sebagaimana yang dilakukan Wells. Kemudian ia meminta gas nitrogen-oksida kepada Charles Jackson, seorang ahli kimia ternama di sekolah kedokteran Harvard. Namun Jackson justru menyarankan eter sebagai pengganti gas nitrogen-oksida.
Morton menemukan efek bius eter lebih kuat dibanding gas nitrogen-oksida. Bahkan pada tahun 1846 Morton mendemonstrasikan penggunaan eter dalam pembedahan di rumah sakit umum Massachusetts. Saat pasien dokter Warren telah siap, Morton mengeluarkan gas eter (atau disebutnya gas letheon) yang telah dikemas dalam suatu kantong gas yang dipasang suatu alat seperti masker. Sesaat pasien yang mengidap tumor tersebut hilang kesadaran dan tertidur. Dokter Warren dengan sigap mengoperasi tumor dan mengeluarkannya dari leher pasien hingga operasi selesai tanpa hambatan berarti.
Tanggal 16 Oktober 1846 menjadi hari bersejarah bagi dunia kedokteran. Demonstrasi Morton berhasil dengan baik dan memicu penggunaan eter sebagai anestesi secara besar-besaran. Revolusi pembedahan dimulai dan eter sebagai anestesi dipakai hingga saat ini. Ia bukanlah yang pertama kali menggunakan anestesia, namun berkat usahanyalah anestesia diakui dunia kedokteran. Wajar jika Morton masuk dalam 100 orang paling berpengaruh dalam sejarah dunia dalam buku yang ditulis William H. Hart beberapa tahun yang lalu.
Di balik kesuksesan zat anestesi dalam membius pasien, para penemu dan penggagas zat anestesi telah terbius ketamakan mereka untuk memiliki dan mendapatkan penghasilan dari paten anestesi yang telah digunakan seluruh dokter di seluruh bagian dunia.
Terjadilah perseteruan di antara Morton, Wells, dan Jackson. Masing-masing mengklaim zat anestesi adalah hasil penemuannya. Di tempat berbeda, seorang dokter bernama Crawford W. Long telah menggunakan eter sebagai zat anestesi sejak tahun 1842, empat tahun sebelum Morton memublikasikan ke masyarakat luas. Ia telah menggunakan eter di setiap operasi bedahnya. Sayang, ia tidak memublikasikannya, hanya mempraktikkan untuk pasien-pasiennya. Sementara ketiga dokter dan ilmuwan yang awalnya adalah tiga sahabat itu mulai besar kepala, dokter Long tetap menjalankan profesinya sebagai dokter spesialis bedah.
Wells, Morton, dan Jackson menghabiskan hidupnya demi pengakuan dari dunia bahwa zat anestesi merupakan hasil temuannya. Morton selama dua puluh tahun menghabiskan waktu dan uangnya untuk mempromosikan hasil temuannya. Ia mengalami masalah meskipun ia telah mendaftarkan hak patennya di lembaga paten Amerika Serikat (U.S. Patent No. 4848, November 12, 1846). Ketika tahun 1847 dunia kedokteran mengetahui, zat yang digunakan adalah eter yang telah digunakan sejak abad 16, Morton tidak memiliki dasar hukum yang kuat untuk mendapat keuntungan dari patennya. Jackson juga mengklaim, dirinya juga berhak atas penemuan tersebut.
Ketika Akademi Kedokteran Prancis menganugerahkan penghargaan Monthyon yang bernilai 5.000 frank di tahun 1846, Morton menolak untuk membaginya dengan Jackson. Ia mengklaim, penemuan tersebut adalah miliknya pribadi. Sementara itu, Wells mencoba eksperimen dengan zat lain (kloroform) sebagai bahan anestesi.
Selama bertahun-tahun Morton menghabiskan waktu dan materi untuk mengklaim patennya. Ia mulai stres dan tidak memedulikan lagi klinik giginya. Morton meninggal tanggal 15 Juli 1868 di usia 49 tahun di Rumah Sakit St. Luke's, New York. Begitu juga dengan Jackson yang meninggal dalam keadaan gila dan Wells yang meninggal secara mengenaskan dengan cara bunuh diri.(Dewi Marthaningtyas:"Terbius Memburu Paten Gas Tertawa", Cakrawala, 2005).
Penggunaan obat-obatan dalam anestesi
Dalam membius pasien, dokter anestesi memberikan obat-obatan (suntik, hirup, ataupun lewat mulut) yang bertujuan menghilangkan rasa sakit (pain killer), menidurkan, dan membuat tenang (paraytic drug). Pemberian ketiga macam obat itu disebut triangulasi.
Bermacam obat bius yang digunakan dalam anestesi saat ini seperti:
· Thiopental (pertama kali digunakan pada tahun 1934)
· Benzodiazepine Intravena
· Propofol (2,6-di-isopropyl-phenol)
· Etomidate (suatu derifat imidazole)
· Ketamine (suatu derifat piperidine, dikenal juga sebagai 'Debu Malaikat'/'PCP' (phencyclidine)
· Halothane (d 1951 Charles W. Suckling, 1956 James Raventos)
· Enflurane (d 1963 u 1972), isoflurane (d 1965 u 1971), desflurane, sevoflurane
· Opioid-opioid sintetik baru - fentanyl (d 1960 Paul Janssen), alfentanil, sufentanil (1981), remifentanil, meperidine
· Neurosteroid
Gejala siuman (awareness)
Sering terjadi pasien ternyata dapat merasa dan sadar dari pengaruh bius akibat obat pembius yang tidak bekerja dengan efektif. Secara statistik, Dr. Peter Sebel, ahli anestesi dari Universitas Emory yang dikutip Time terbitan 3 November 1997 mengungkapkan bahwa dari 20 juta pasien yang dioperasi setiap tahunnya di Amerika Serikat, 40.000 orang mengalami gejala siuman tersebut. Untuk mengatasi masalah ini, dalam pertemuan tahunan sekitar bulan Oktober 1997, Persatuan Dokter Ahli Anestesi Amerika ditawari suatu alat yang disebut Bispectral Index Monitor yang akan memberi peringatan bahwa pasien yang sedang dioperasi mengalami gejala siuman atau menjelang "bangun dari tidurnya".Penemu alat tersebut adalah Dr. Nassib Chamoun, seorang dokter ahli saraf (neurologist) asal Yordania. Dengan menggunakan prinsip kerja dari alat yang sudah ada, yaitu piranti yang disebut EEG (Electroencephalography). Alat yang ditemukan Dr. Chamoun itu mampu memonitor potensi listrik yang ditimbulkan oleh aktivitas "jaringan otak manusia".
Alat ini dapat menunjukkan derajat kondisi siuman pasien yang sedang menjalani suatu pembedahan. Angka "100" menunjukkan pasien dalam keadaan "siuman sepenuhnya". Bila jarum menunjukkan angka "60" berarti pasien dalam kondisi "siap untuk dioperasi". Angka "0" menandakan pasien mengalami "koma yang dalam".
Dengan mengamati derajat siuman dari alat ini, dokter anestesi dapat menambahkan obat pembiusan apabila diperlukan, atau memberikan dosis perawatan kepada pasien yang telah mengalami kondisi ideal untuk dilakukan operasi. Di samping itu, dokter bedah dapat dengan tenang menyelesaikan operasinya sesuai rencana yang telah ditetapkan.
Pemilihan teknik anestesi
Pemilihan teknik anestesi adalah suatu hal yang kompleks, memerlukan kesepakatan dan pengetahuan yang dalam baik antara pasien dan faktor-faktor pembedahan. Dalam beberapa kelompok populasi pasien, pembiusan regional ternyata lebih baik daripada pembiusan total.Blokade neuraksial bisa mengurangi resiko thrombosis vena, emboli paru, transfusi, pneumonia, tekanan pernafasan, infark miokardial dan kegagalan ginjal.
Gambaran Umum Anastesi
Semua anestesi umumnya terbentuk dari kombinasi basa lemah dan asam kuat. Agen-agen ini dapat dengan mudah terhidrolisa pada jaringan yang bersifat alkali ( PH 7,4 ). Untuk mengeluarkan basa alkaloid yang akan diikat oleh lemak pada serabut saraf. Basa ini dapat mencegah bertambahnya permeabilitas membran saraf. Stabilitasi membran pembatas aksonal akan mencegah aliran ke dalam dan ion Na+ dan depolarisasi, oleh karena itu tidak akan ada konduksi impuls.
Anestesi lokal mencegah pembentukan & konduksi impuls saraf. Tempat kerjanya di membran sel. Potensial aksi saraf terjadi karena adanya peningkatan sesaat (sekilas) permeabilitas membran terhadap ion Na+ akibat depolarisasi ringan pada membran. Jadi terjadi interaksi antara anestesi lokal dengan kanal Na+
Dengan semakin bertambahnya efek anestesi lokal di dalam saraf, maka ambang rangsang membran akan meningkat secara bertahap, kecepatan peningkatan potensial aksi menurun, konduksi impuls melambat & faktor pengaman konduksi saraf juga berkurang. Faktor ini akan mengakibatkan penurunan kemungkinan menjalarnya potensial aksi, dan dengan demikian kegagalan konduksi saraf.
Penambahan epineprin pada anestesi lokal selain sebagai vasokonstriktor juga mengurangi kecepatan absorpsi anestesi lokal sehingga akan mengurangi juga toksisitas sistemiknya
Mekanisme kerja anestesi lokal
· AL mencegah timbulnya konduksi impuls saraf
· Meningkatkan ambang membran, eksitabilitas berkurang dan kelancaran hantaran terhambat
· AL juga mengurangi permeabilitas membran bagi ion Na & K dlm keadaan istirahat
· Meningkatkan tegangan permukaan selaput lipid molekuler
Kefektifan anestesi lokal tergantung pada :
· Potensi analgesik dari agen anestesi yang digunakan
· Konsentrasi agen anestesi lokal
· Kelarutan agen anestesi lokal dalam : air ( misalnya : cairan ekstraseluler ) dan lipoid ( misalnya : selubung mielin lipoid )
· Persistensi agen pada daerah suntikan tergantung baik pada konsentrasi agen anestesi lokal maupun keefektifan vasokonstriktor yang ditambahkan.
· Kecepatan metabolisme agen pada daerah suntikan.
· Ketetapan terdepositnya larutan dan dekat saraf yang akan dibuat baal
· Tergantung pula pada keterampilan operator dan variasi anatomi
Sifat anestesi lokal yang ideal :
· Tidak mengiritasi / merusak jaringan saraf secara permanen
· Batas keamanan harus lebar
· Mula kerja harus sesingkat mungkin
· Durasi kerja harus cukup lama
· Larut dalam air
· Stabil dalam larutan
· Dapat disterilkan tanpa mengalami perubahan
· Indikasi & Keuntungan anastesi lokal
· Penderita dalam keadaan sadar serta kooperatif.
· Tekniknya relatif sederhana dan prosentase kegagalan dalam penggunaanya relatif kecil.
· Pada daerah yang diinjeksi tidak terdapat pembengkakan.
· Peralatan yang digunakan, sedikit sekali dan sederhana serta obat yang digunakan relatif murah.
· Dapat digunakan sesuai dengan yang dikehendaki pada daerah anatomi tertentu.
· Dapat diberikan pada penderita yang keadaan umumnya kurang baik, sebab adanya pemberian obat anastesi terjadi penyimpangan fisiologis dari keadaan normal penderita sedikit sekali.
Kontra Indikasi
· Operator merasa kesulitan bekerja sama dengan penderita, misalnya penderita menolak di suntik karena takut
· Terdapat suatu infeksi/ peradangan
· Usia penderita terlalu tua atau dibawah umur
· Alergi terhadap semua anastetikum
· Anomali rahang
· Letak jaringan anastesi terlalu dalam
DAFTAR PUSTAKA
· Martaningtyas, Tsemol (2005): "Terbius memburu paten gas tertawa"
· Suryanto,dr (1998): "Trauma selama dan setelah operasi"
Ancephalus
Ancephalus adalah suatu keadaan dimana sebagian besar tulang tengkorak dan otak tidak terbentuk. Ancephalus adalah suatu kelainan tabung saraf (suatu kelainan yang terjadi pada awal perkembangan janin yang menyebabkan kerusakan pada jaringan pembentuk otak dan korda spinalis)BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Cacat janin ada yang bersifat ringan, seperti polidaktili (kebanyakan jari) dan ada yang berat, yang tidak memungkinkan kelanjutan hidup seperti anensefal.
Cacat bawaan merupakan penyebab penting dari kelahiran mati. Kejadian cacat bawaan dipengaruhi oleh umur ibu, banyak terdapat pada anak yang lahir dari ibu 35 tahun ke atas. Juga hidrosefal lebih banyak terdapat pada anak dari ibu yang sudah lanjut umurnya.
Ancephalus dan spina bifida lebih banyak terdapat pada anak yang pertama dan keenam atau lebih, juga lebih banyak terdapat pada bayi perempuan dan bayi laki-laki.
Apabila seorang ibu pernah melahirkan anak dengan cacat bawaan, kemungkinan bahwa ia akan melahirkan anak dengan cacat bawaan lagi lebih besar, dibandingkan dengan ibu yang belum. Kenyataan ini berlakuuntuk spina bifida, anensefal, dan bibir sumbing.
Perlu juga dikemukakan bahwa cacat bawaan sering bersifat multipel. Jadi, apabila kita menemukan suatu cacat, kita perlu mencurigai kemungkinanadanya cacat yang lain dan harus mencarinya.
Anenchepalus adalah keadaan di mana bayi lahir tanpa tulang tengkorak bagian atas, yang disertai tak sempurnanya pembentukan sebagian besar otak. Ini lantaran proses pembentukan tabung saraf yang tak sempurna. Karena kecacatannya cukup berat, bayi tersebut tak akan mampu bertahan hidup lebih lama, sehingga akan meninggal dunia segera setelah dilahirkan.
Angka kejadiannya cukup jarang, kurang lebih satu dari 1.000 kelahiran. Sampai saat ini, penyebabnya yang pasti belum dapat ditemukan. Tapi kemungkinan besar terkait erat dengan kelainan genetika atau kelainan kromosom. Dijumpai pula hubungan dengan kekurangan asupan asam folat pada ibu hamil, sehingga penambahan asupan asam folat sejak hamil sangat dianjurkan. Anenchepalus juga dapat timbul pada janin akibat ibu menderita diabetes mellitus. Keadaan ini disebut embrio diabetik.
Meski penyebabnya belum diketahui pasti, penting untuk mengamati kondisi janin pada kehamilan berikutnya. Sebab, ada 5% kemungkinan kasus anenchepalus berulang. Pengamatan dapat dilakukan dengan USG atau pemeriksaan kadar alfa-fetoprotein (AFP) pada darah ibu atau cairan ketuban.
Berdasaran uraian diatas, maka penulis ingin mengangkat diagnosa keperawatan dengan Ancephalus.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Adapun secara umum laporan ini bertujuan untuk memberikan gambaran serta mampu menerapkan askep pada bayi dengan kasus Ancephalus.
2. Tujuan Khusus
a. Mendapatkan pengkajian terhadap klien dengan Ancephalus.
b. Merumuskan diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada klien dengan Ancephalus.
c. Menyusun rencana tindakan pada klien dengan Ancephalus.
d. Melaksanakan tindakan keperawatan pada klien dengan Ancephalus.
e. Mengevaluasi hasil tindakan keperawatan dari intervensi pada klien dengan Ancephalus.
C. Manfaat
1. Bagi Pendidikan
Sebagai bahan pedoman dalam memberikan pendidikan bagi mahasiswa didik dalam menerapkan askep pada klien dengan Ancephalus.
2. Bagi Mahasiswa
Sebagai penambahan wawasan dalam melaksanakan askep pada klien dengan Ancephalus.
BAB II
KONSEP DASAR
1. Definisi
Ancephalus adalah suatu keadaan dimana sebagian besar tulang tengkorak dan otak tidak terbentuk. Ancephalus adalah suatu kelainan tabung saraf (suatu kelainan yang terjadi pada awal perkembangan janin yang menyebabkan kerusakan pada jaringan pembentuk otak dan korda spinalis).
Ancephalus terjadi jika tabung saraf sebelah atas gagal menutup, tetapi penyebabnya yang pasti tidak diketahui. penelitian menunjukkan kemungkinan Ancephalus berhubungan dengan racun di lingkungan juga kadar asam folat yang rendah dalam darah. Ancephalus ditemukan pada 3,6-4,6 dari 10.000 bayi baru lahir.
Anensefalus adalah suatu keadaan dimana sebagian besar tulang tengkorak dan otak tidak terbentuk. Anensefalus adalah suatu kelainan tabung saraf (suatu kelainan yang terjadi pada awal perkembangan janin yang menyebabkan kerusakan pada jaringan pembentuk otak dan korda spinalis).
2. Faktor Penyebab
Faktor resiko terjadinya Ancephalus adalah:
- Riwayat Ancephalus pada kehamilan sebelumnya
- Kadar asam folat yang rendah.
Resiko terjadinya Ancephalus bisa dikurangi dengan cara meningkatkan asupan asam folat minimal 3 bulan sebelum hamil dan selama kehamilan bulan pertama.
3. Tanda dan Gejala
- Ibu
Polihidramnion (cairan ketuban di dalam rahim terlalu banyak)
- Bayi
a. tidak memiliki tulang tengkorak
b. tidak memiliki otak (hemisfer serebri dan serebelum)
c. kelainan pada gambaran wajah
d. kelainan jantung.
4. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan yang biasa dilakukan adalah:
- kadar asam lemak dalam serum ibu hamil
- amniosentesis (untuk mengetahui adanya peningkatan kadar alfa-fetoprotein)
- kadar alfa-fetoprotein meningkat (menunjukkan adanya kelainan tabung saraf)
- kadar estriol pada air kemih ibu
- usg.
Bayi yang menderita Ancephalus tidak akan bertahan, mereka lahir dalam keadaan meninggal atau akan meninggal dalam waktu beberapa hari setelah lahir
5. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan anak dengan Ancephalus terkait – x akibat stenosis akueduktus. Riwayat prematuritas masa lalu dengan perdarahan intrakranial, meningitis/ensefalitis adalah penting untuk pemastian. Bintik cafe-au-lait multipel dan tanda klinis neutrofil bromatosis lain mengarah pada stenosis akueduktus sebagai penyebab Ancephalus. Pemeriksaan meliputi infeksi yang cermat, palpasi dan auskulatasi kepala dan spina. Terapi, terapi untuk Ancephalus tergantung pada penyebabnya.
DAFTAR PUSTAKA
Ilmu Kesehatan Anak, Edisi 5 Vol. 13 Nelson.
Patofisiologi Untuk Keperawatan dr. Jan Tambayang
Diagnosa Keperawatan, edisi 8 Lynda Juall Carpenito.
Read More
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Cacat janin ada yang bersifat ringan, seperti polidaktili (kebanyakan jari) dan ada yang berat, yang tidak memungkinkan kelanjutan hidup seperti anensefal.
Cacat bawaan merupakan penyebab penting dari kelahiran mati. Kejadian cacat bawaan dipengaruhi oleh umur ibu, banyak terdapat pada anak yang lahir dari ibu 35 tahun ke atas. Juga hidrosefal lebih banyak terdapat pada anak dari ibu yang sudah lanjut umurnya.
Ancephalus dan spina bifida lebih banyak terdapat pada anak yang pertama dan keenam atau lebih, juga lebih banyak terdapat pada bayi perempuan dan bayi laki-laki.
Apabila seorang ibu pernah melahirkan anak dengan cacat bawaan, kemungkinan bahwa ia akan melahirkan anak dengan cacat bawaan lagi lebih besar, dibandingkan dengan ibu yang belum. Kenyataan ini berlakuuntuk spina bifida, anensefal, dan bibir sumbing.
Perlu juga dikemukakan bahwa cacat bawaan sering bersifat multipel. Jadi, apabila kita menemukan suatu cacat, kita perlu mencurigai kemungkinanadanya cacat yang lain dan harus mencarinya.
Anenchepalus adalah keadaan di mana bayi lahir tanpa tulang tengkorak bagian atas, yang disertai tak sempurnanya pembentukan sebagian besar otak. Ini lantaran proses pembentukan tabung saraf yang tak sempurna. Karena kecacatannya cukup berat, bayi tersebut tak akan mampu bertahan hidup lebih lama, sehingga akan meninggal dunia segera setelah dilahirkan.
Angka kejadiannya cukup jarang, kurang lebih satu dari 1.000 kelahiran. Sampai saat ini, penyebabnya yang pasti belum dapat ditemukan. Tapi kemungkinan besar terkait erat dengan kelainan genetika atau kelainan kromosom. Dijumpai pula hubungan dengan kekurangan asupan asam folat pada ibu hamil, sehingga penambahan asupan asam folat sejak hamil sangat dianjurkan. Anenchepalus juga dapat timbul pada janin akibat ibu menderita diabetes mellitus. Keadaan ini disebut embrio diabetik.
Meski penyebabnya belum diketahui pasti, penting untuk mengamati kondisi janin pada kehamilan berikutnya. Sebab, ada 5% kemungkinan kasus anenchepalus berulang. Pengamatan dapat dilakukan dengan USG atau pemeriksaan kadar alfa-fetoprotein (AFP) pada darah ibu atau cairan ketuban.
Berdasaran uraian diatas, maka penulis ingin mengangkat diagnosa keperawatan dengan Ancephalus.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Adapun secara umum laporan ini bertujuan untuk memberikan gambaran serta mampu menerapkan askep pada bayi dengan kasus Ancephalus.
2. Tujuan Khusus
a. Mendapatkan pengkajian terhadap klien dengan Ancephalus.
b. Merumuskan diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada klien dengan Ancephalus.
c. Menyusun rencana tindakan pada klien dengan Ancephalus.
d. Melaksanakan tindakan keperawatan pada klien dengan Ancephalus.
e. Mengevaluasi hasil tindakan keperawatan dari intervensi pada klien dengan Ancephalus.
C. Manfaat
1. Bagi Pendidikan
Sebagai bahan pedoman dalam memberikan pendidikan bagi mahasiswa didik dalam menerapkan askep pada klien dengan Ancephalus.
2. Bagi Mahasiswa
Sebagai penambahan wawasan dalam melaksanakan askep pada klien dengan Ancephalus.
BAB II
KONSEP DASAR
1. Definisi
Ancephalus adalah suatu keadaan dimana sebagian besar tulang tengkorak dan otak tidak terbentuk. Ancephalus adalah suatu kelainan tabung saraf (suatu kelainan yang terjadi pada awal perkembangan janin yang menyebabkan kerusakan pada jaringan pembentuk otak dan korda spinalis).
Ancephalus terjadi jika tabung saraf sebelah atas gagal menutup, tetapi penyebabnya yang pasti tidak diketahui. penelitian menunjukkan kemungkinan Ancephalus berhubungan dengan racun di lingkungan juga kadar asam folat yang rendah dalam darah. Ancephalus ditemukan pada 3,6-4,6 dari 10.000 bayi baru lahir.
Anensefalus adalah suatu keadaan dimana sebagian besar tulang tengkorak dan otak tidak terbentuk. Anensefalus adalah suatu kelainan tabung saraf (suatu kelainan yang terjadi pada awal perkembangan janin yang menyebabkan kerusakan pada jaringan pembentuk otak dan korda spinalis).
2. Faktor Penyebab
Faktor resiko terjadinya Ancephalus adalah:
- Riwayat Ancephalus pada kehamilan sebelumnya
- Kadar asam folat yang rendah.
Resiko terjadinya Ancephalus bisa dikurangi dengan cara meningkatkan asupan asam folat minimal 3 bulan sebelum hamil dan selama kehamilan bulan pertama.
3. Tanda dan Gejala
- Ibu
Polihidramnion (cairan ketuban di dalam rahim terlalu banyak)
- Bayi
a. tidak memiliki tulang tengkorak
b. tidak memiliki otak (hemisfer serebri dan serebelum)
c. kelainan pada gambaran wajah
d. kelainan jantung.
4. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan yang biasa dilakukan adalah:
- kadar asam lemak dalam serum ibu hamil
- amniosentesis (untuk mengetahui adanya peningkatan kadar alfa-fetoprotein)
- kadar alfa-fetoprotein meningkat (menunjukkan adanya kelainan tabung saraf)
- kadar estriol pada air kemih ibu
- usg.
Bayi yang menderita Ancephalus tidak akan bertahan, mereka lahir dalam keadaan meninggal atau akan meninggal dalam waktu beberapa hari setelah lahir
5. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan anak dengan Ancephalus terkait – x akibat stenosis akueduktus. Riwayat prematuritas masa lalu dengan perdarahan intrakranial, meningitis/ensefalitis adalah penting untuk pemastian. Bintik cafe-au-lait multipel dan tanda klinis neutrofil bromatosis lain mengarah pada stenosis akueduktus sebagai penyebab Ancephalus. Pemeriksaan meliputi infeksi yang cermat, palpasi dan auskulatasi kepala dan spina. Terapi, terapi untuk Ancephalus tergantung pada penyebabnya.
DAFTAR PUSTAKA
Ilmu Kesehatan Anak, Edisi 5 Vol. 13 Nelson.
Patofisiologi Untuk Keperawatan dr. Jan Tambayang
Diagnosa Keperawatan, edisi 8 Lynda Juall Carpenito.
Langganan:
Postingan
(
Atom
)
Blog Archive
-
2015
(10)
- 10/11 - 10/18 (1)
- 09/13 - 09/20 (1)
- 09/06 - 09/13 (1)
- 07/05 - 07/12 (1)
- 05/17 - 05/24 (6)
-
2014
(1)
- 04/13 - 04/20 (1)
-
2012
(770)
- 02/19 - 02/26 (5)
- 02/12 - 02/19 (10)
- 02/05 - 02/12 (4)
- 01/29 - 02/05 (27)
- 01/22 - 01/29 (88)
- 01/15 - 01/22 (101)
- 01/08 - 01/15 (169)
- 01/01 - 01/08 (366)
-
2011
(4477)
- 12/25 - 01/01 (336)
- 12/18 - 12/25 (62)
- 12/11 - 12/18 (70)
- 12/04 - 12/11 (77)
- 11/27 - 12/04 (40)
- 11/20 - 11/27 (67)
- 11/13 - 11/20 (198)
- 11/06 - 11/13 (187)
- 10/30 - 11/06 (340)
- 10/23 - 10/30 (32)
- 10/16 - 10/23 (109)
- 10/09 - 10/16 (80)
- 08/14 - 08/21 (75)
- 08/07 - 08/14 (81)
- 07/31 - 08/07 (82)
- 07/24 - 07/31 (65)
- 07/17 - 07/24 (91)
- 07/10 - 07/17 (47)
- 07/03 - 07/10 (44)
- 06/26 - 07/03 (53)
- 06/19 - 06/26 (59)
- 06/12 - 06/19 (47)
- 06/05 - 06/12 (65)
- 05/29 - 06/05 (63)
- 05/22 - 05/29 (77)
- 05/15 - 05/22 (115)
- 05/08 - 05/15 (65)
- 05/01 - 05/08 (104)
- 04/24 - 05/01 (45)
- 04/17 - 04/24 (70)
- 04/10 - 04/17 (134)
- 04/03 - 04/10 (72)
- 03/27 - 04/03 (18)
- 03/20 - 03/27 (47)
- 03/13 - 03/20 (68)
- 03/06 - 03/13 (40)
- 02/27 - 03/06 (56)
- 02/20 - 02/27 (77)
- 02/13 - 02/20 (76)
- 02/06 - 02/13 (198)
- 01/30 - 02/06 (194)
- 01/23 - 01/30 (132)
- 01/16 - 01/23 (196)
- 01/09 - 01/16 (202)
- 01/02 - 01/09 (121)
-
2010
(2535)
- 12/26 - 01/02 (156)
- 12/19 - 12/26 (65)
- 12/12 - 12/19 (73)
- 12/05 - 12/12 (84)
- 11/28 - 12/05 (80)
- 11/21 - 11/28 (68)
- 11/14 - 11/21 (63)
- 11/07 - 11/14 (50)
- 10/31 - 11/07 (50)
- 10/24 - 10/31 (36)
- 10/17 - 10/24 (58)
- 10/10 - 10/17 (35)
- 10/03 - 10/10 (31)
- 09/26 - 10/03 (21)
- 09/19 - 09/26 (26)
- 09/12 - 09/19 (55)
- 09/05 - 09/12 (65)
- 08/29 - 09/05 (33)
- 08/22 - 08/29 (70)
- 08/15 - 08/22 (45)
- 08/08 - 08/15 (35)
- 08/01 - 08/08 (37)
- 07/25 - 08/01 (27)
- 07/18 - 07/25 (19)
- 07/11 - 07/18 (30)
- 07/04 - 07/11 (56)
- 06/27 - 07/04 (28)
- 06/20 - 06/27 (22)
- 06/13 - 06/20 (30)
- 06/06 - 06/13 (21)
- 05/30 - 06/06 (5)
- 05/16 - 05/23 (6)
- 05/09 - 05/16 (29)
- 05/02 - 05/09 (59)
- 04/25 - 05/02 (28)
- 04/18 - 04/25 (38)
- 04/11 - 04/18 (70)
- 04/04 - 04/11 (59)
- 03/28 - 04/04 (65)
- 03/21 - 03/28 (89)
- 03/14 - 03/21 (218)
- 03/07 - 03/14 (95)
- 02/28 - 03/07 (135)
- 02/21 - 02/28 (102)
- 01/03 - 01/10 (68)
-
2009
(1652)
- 12/27 - 01/03 (36)
- 12/20 - 12/27 (22)
- 12/13 - 12/20 (100)
- 12/06 - 12/13 (45)
- 11/29 - 12/06 (24)
- 11/22 - 11/29 (22)
- 11/15 - 11/22 (19)
- 11/08 - 11/15 (28)
- 11/01 - 11/08 (11)
- 10/25 - 11/01 (17)
- 10/18 - 10/25 (38)
- 10/11 - 10/18 (33)
- 10/04 - 10/11 (15)
- 09/27 - 10/04 (21)
- 09/20 - 09/27 (7)
- 09/13 - 09/20 (84)
- 09/06 - 09/13 (35)
- 08/30 - 09/06 (48)
- 08/23 - 08/30 (118)
- 08/16 - 08/23 (26)
- 08/09 - 08/16 (34)
- 08/02 - 08/09 (35)
- 07/26 - 08/02 (31)
- 07/19 - 07/26 (14)
- 07/12 - 07/19 (16)
- 07/05 - 07/12 (28)
- 06/28 - 07/05 (26)
- 06/21 - 06/28 (76)
- 06/14 - 06/21 (26)
- 06/07 - 06/14 (21)
- 05/31 - 06/07 (43)
- 05/24 - 05/31 (38)
- 05/17 - 05/24 (26)
- 05/10 - 05/17 (52)
- 05/03 - 05/10 (15)
- 04/26 - 05/03 (38)
- 04/19 - 04/26 (32)
- 04/12 - 04/19 (22)
- 04/05 - 04/12 (20)
- 03/29 - 04/05 (40)
- 03/22 - 03/29 (43)
- 03/15 - 03/22 (18)
- 03/08 - 03/15 (14)
- 03/01 - 03/08 (22)
- 02/22 - 03/01 (12)
- 02/15 - 02/22 (9)
- 02/08 - 02/15 (11)
- 02/01 - 02/08 (19)
- 01/25 - 02/01 (37)
- 01/18 - 01/25 (21)
- 01/11 - 01/18 (33)
- 01/04 - 01/11 (31)
-
2008
(700)
- 12/28 - 01/04 (13)
- 12/21 - 12/28 (9)
- 12/14 - 12/21 (57)
- 12/07 - 12/14 (5)
- 11/30 - 12/07 (18)
- 11/23 - 11/30 (33)
- 11/16 - 11/23 (31)
- 11/09 - 11/16 (23)
- 11/02 - 11/09 (18)
- 10/26 - 11/02 (11)
- 10/19 - 10/26 (15)
- 10/12 - 10/19 (13)
- 10/05 - 10/12 (25)
- 09/28 - 10/05 (2)
- 09/21 - 09/28 (14)
- 09/14 - 09/21 (19)
- 09/07 - 09/14 (43)
- 08/31 - 09/07 (3)
- 08/24 - 08/31 (33)
- 08/17 - 08/24 (65)
- 08/10 - 08/17 (4)
- 08/03 - 08/10 (26)
- 07/27 - 08/03 (6)
- 07/20 - 07/27 (19)
- 07/13 - 07/20 (18)
- 07/06 - 07/13 (60)
- 06/29 - 07/06 (53)
- 06/22 - 06/29 (49)
- 06/15 - 06/22 (11)
- 06/08 - 06/15 (4)
Popular Posts
-
Konsep Teori Transkultural dalam Keperawatan APLIKASI TEORI TRANSCULTURAL NURSING DALAM PROSES KEPERAWATAN Rahayu Iskandar, Ners, M.Kep PEND...
-
Setelah beberapa minggu ini cari materi buat postingan baru, mendadak dapat inspirasi setelah rekan Anton Wijaya menulis di buku tamu Keper...
-
KTI KEBIDANAN HUBUNGAN USIA TERHADAP PERDARAHAN POSTPARTUM DI RSUD BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan wanita merupakan hal yang s...
-
PATHWAY ASFIKSIA NEONATORUM Klik pada gambar untuk melihat pathway Download Pathway Asfiksia Neonatorum Via Ziddu Download Askep Asfiksia N...
-
PROSES KEPERAWATAN KOMUNITAS Pengertian - Proses keperawatan adalah serangkaian perbuatan atau tindakan untuk menetapkan, merencana...
-
Konsep Dasar Diagnosa Keperawatan Aktual BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sebagai suatu aspek yang terpenting dalam proses kepera...
-
Prelevansi penyakit kulit di Indonesia cukup tinggi baik oleh bakteri, virus atau jamur. Selain itu bergantung pada lingkungan dan kondisi...
-
Pathway Hematemesis Melena Klik pada gambar untuk melihat pathway Download Pathway Hematemesis Melena Via Ziddu
-
DEFINISI Ikterus ialah suatu gejala yang perlu mendapat perhatian sungguh-sungguh pada neonatus. Ikterus ialah suatu diskolorasi kuning pa...
-
Gangguan Masalah Eliminasi ALVI Konstipasi Konstipasi merupakan keadaan individu yang mengalami atau berisiko tinggi mengalami stasis usus b...
© ASUHAN KEPERAWATAN 2013 . Powered by Bootstrap , Blogger templates and RWD Testing Tool Published..Gooyaabi Templates
