Sabtu, 09 Oktober 2010
artikel keperawatan jiwa
Keperawatan Jiwa adalah Proses interpresonal yang berupaya untuk meningkatkan dan mempertahankan perilaku yang mengkontribusi pada fungsi yang terintegrasi. (Stuart, Sunden, 1995)Keperawatan Kesehatan Mental dan Psikiatrik adalah Suatu bidang spesialisasi praktek keperawatan yang menerapkan teori prilaku manusia sebagai ilmunya dan penggunaan diri sendiri secara terapeutik sebagai kiatnya. (Ana, 1995).
Kriteria Kesehatan Jiwa :
1. Sikap positif terhadap diri sendiri
2. Pertumbuhan, perkembangan dan aktualisasi diri
3. Integrasi dan ketanggapan emosional
4. Otonomi dan kemantapan diri
5. Persepsi realitas yang akurat
6. Penguasaan lingkungan dan kompetensi sosial
Intervensi Keperawatan Jiwa meliputi 3 area aktivitas :
1. Pencegahan Primer
Menurunkan insiden penyakit dalam komunitas dengan mengubah faktor penyebab sebelum hal tersebut membahayakan (meningkatkan kesehatan dan pencegahan penyakit).
2. Pencegahan Skunder
Deteksi dini dan penanganan masalah kesehatan (penyakit aktual).
3. Pencegahan Tertier
Penurunan gangguan / kecacatan yang diakibatkan oleh penyakit.
Tatanan Pelayanan Kesehatan Perawatan Jiwa :
Meliputi Pelayanan di rumah, program rawat inap parsial, pusat – pusat penitipan, panti asuhan / rumah kelompok, hospices, asosiasi perawat kunjungan, unit kedaruratan, klinik pelayanan utama, sekolah, penjara, industri, fasilitas pengelolaan perawatan, organisasi pemeliharaan kesehatan.
3 Macam Asuhan Praktik Keperawatan Jiwa :
1. Aktivitas asuhan langsung
2. Komunikasi
3. Penatalaksanaan
Tugas Aktivitas Perawatan Jiwa :
- Membuat pengkajian kesehatan biopsiko sosial
- Merancang dan mengimplementrasikan rencana tindakan untuk pasien dan keluarga dengan masyarakat kesehatan yang kompleks dan kondisi yang menimbulkan sakit.
- Berperan serta dalam aktivitas pengelolaan kasus
- Memberikan pedoman pelayanan kesehatan kepada individu, keluarga dan kelompok untuk menggunakan sumber yang tersedia.
- Meningkatkan dan memelihara kesehatan mental serta mengatasi pengaruh penyakit mental melalui penyuluhan dan konseling
- Memberikan asuhan kepada mereka yang mengalami penyakit fisik dengan masalah psikologik dan penyakit jiwa dengan masalah fisik
- Mengelola dan mengkoordinasi sistem pelayanan yang mengintegrasikan kebutuhan pasien, keluarga, staf dan pembuat kebijakan.
Fungsi dan Jenis Aktivitas Perawatan Jiwa :
1. Legislasi praktek perawat
2. Kualifikasi perawat, termasuk pendidikan, pengalaman kerja dan status sertifikasi
3. Tatanan praktek perawat
4. Tingkat kompetensi personal dan inisiatif perawat
Read More
Kriteria Kesehatan Jiwa :
1. Sikap positif terhadap diri sendiri
2. Pertumbuhan, perkembangan dan aktualisasi diri
3. Integrasi dan ketanggapan emosional
4. Otonomi dan kemantapan diri
5. Persepsi realitas yang akurat
6. Penguasaan lingkungan dan kompetensi sosial
Intervensi Keperawatan Jiwa meliputi 3 area aktivitas :
1. Pencegahan Primer
Menurunkan insiden penyakit dalam komunitas dengan mengubah faktor penyebab sebelum hal tersebut membahayakan (meningkatkan kesehatan dan pencegahan penyakit).
2. Pencegahan Skunder
Deteksi dini dan penanganan masalah kesehatan (penyakit aktual).
3. Pencegahan Tertier
Penurunan gangguan / kecacatan yang diakibatkan oleh penyakit.
Tatanan Pelayanan Kesehatan Perawatan Jiwa :
Meliputi Pelayanan di rumah, program rawat inap parsial, pusat – pusat penitipan, panti asuhan / rumah kelompok, hospices, asosiasi perawat kunjungan, unit kedaruratan, klinik pelayanan utama, sekolah, penjara, industri, fasilitas pengelolaan perawatan, organisasi pemeliharaan kesehatan.
3 Macam Asuhan Praktik Keperawatan Jiwa :
1. Aktivitas asuhan langsung
2. Komunikasi
3. Penatalaksanaan
Tugas Aktivitas Perawatan Jiwa :
- Membuat pengkajian kesehatan biopsiko sosial
- Merancang dan mengimplementrasikan rencana tindakan untuk pasien dan keluarga dengan masyarakat kesehatan yang kompleks dan kondisi yang menimbulkan sakit.
- Berperan serta dalam aktivitas pengelolaan kasus
- Memberikan pedoman pelayanan kesehatan kepada individu, keluarga dan kelompok untuk menggunakan sumber yang tersedia.
- Meningkatkan dan memelihara kesehatan mental serta mengatasi pengaruh penyakit mental melalui penyuluhan dan konseling
- Memberikan asuhan kepada mereka yang mengalami penyakit fisik dengan masalah psikologik dan penyakit jiwa dengan masalah fisik
- Mengelola dan mengkoordinasi sistem pelayanan yang mengintegrasikan kebutuhan pasien, keluarga, staf dan pembuat kebijakan.
Fungsi dan Jenis Aktivitas Perawatan Jiwa :
1. Legislasi praktek perawat
2. Kualifikasi perawat, termasuk pendidikan, pengalaman kerja dan status sertifikasi
3. Tatanan praktek perawat
4. Tingkat kompetensi personal dan inisiatif perawat
artikel keperawatan anak dengan demam berdarah
A. PENGERTIAN
DHF adalah suatu infeksi arbovirus akut yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk spesies aides. Penyakit ini sering menyerang anak, remaja, dan dewasa yang ditandai dengan demam, nyeri otot dan sendi. Demam Berdarah Dengue sering disebut pula Dengue Haemoragic Fever ( DHF )
B. PATOFISIOLOGI
Setelah virus dengue masuk ke dalam tubuh, pasien akan mengalami keluhan dan gejala karena viremia, seperti demam, sakit kepala, mual, nyeri otot, pegal seluruh badan, hiperemi ditenggorokan, timbulnya ruam dan kelainan yang mungkin muncul pada system retikuloendotelial seperti pembesaran kelenjar-kelenjar getah bening, hati dan limpa. Ruam pada DHF disebabkan karena kongesti pembuluh darah dibawah kulit.
Fenomena patofisiologi utama yang menentukan berat penyakit dan membedakan DF dan DHF ialah meningginya permeabilitas dinding kapiler karena pelepasan zat anafilaktosin, histamin dan serotonin serta aktivasi system kalikreain yang berakibat ekstravasasi cairan intravaskuler. Hal ini berakibat berkurangnya volume plama, terjadinya hipotensi, hemokonsentrasi, hipoproteinemia, efusi dan renjatan.
Adanya kebocoran plasma ke daerah ekstravaskuler ibuktikan dengan ditemukannya cairan dalam rongga serosa, yaitu dalam rongga peritoneum, pleura dan perikard. Renjatan hipovolemik yang terjadi sebagai akibat kehilangan plasma, bila tidak segera teratasi akan terjadi anoxia jaringan, asidosis metabolic dan kematian. Sebab lain kematian pada DHF adalah perdarahan hebat. Perdarahan umumnya dihubungkan dengan trombositopenia, gangguan fungsi trombosit dan kelainan fungsi trombosit.
Fungsi agregasi trombosit menurun mungkin disebabkan proses imunologis terbukti dengan terdapatnya kompleks imun dalam peredaran darah. Kelainan system koagulasi disebabkan diantaranya oleh kerusakan hati yang fungsinya memang tebukti terganggu oleh aktifasi system koagulasi. Masalah terjadi tidaknya DIC pada DHF/ DSS, terutama pada pasien dengan perdarahan hebat.
C. KLASIFIKASI DHF
WHO, 1986 mengklasifikasikan DHF menurut derajat penyakitnya menjadi 4 golongan, yaitu :
Derajat I
Demam disertai gejala klinis lain, tanpa perdarahan spontan. Panas 2-7 hari, Uji tourniquet positif, trombositipenia, dan hemokonsentrasi.
Derajat II
Sama dengan derajat I, ditambah dengan gejala-gejala perdarahan spontan seperti petekie, ekimosis, hematemesis, melena, perdarahan gusi.
Derajat III
Ditandai oleh gejala kegagalan peredaran darah seperti nadi lemah dan cepat ( >120x/mnt ) tekanan nadi sempit ( ? 120 mmHg ), tekanan darah menurun, ( 120/80 ? 120/100 ? 120/110 ? 90/70 ? 80/70 ? 80/0 ? 0/0 )
Derajat IV
Nadi tidak teaba, tekanan darah tidak teatur ( denyut jantung ? 140x/mnt ) anggota gerak teraba dingin, berkeringat dan kulit tampak biru.
D. TANDA DAN GEJALA
Selain tanda dan gejala yang ditampilkan berdasarkan derajat penyakitnya, tanda dangejala lain adalah :
- Hati membesar, nyeri spontan yang diperkuat dengan reaksi perabaan.
- Asites
- Cairan dalam rongga pleura ( kanan )
- Ensephalopati : kejang, gelisah, sopor koma.
E. PEMERIKSAAN DAN DIGNOSIS
- Trombositopeni ( ? 100.000/mm3)
- Hb dan PCV meningkat ( ? 20% )
- Leukopeni ( mungkin normal atau lekositosis )
- Isolasi virus
- Serologi ( Uji H ): respon antibody sekunder
- Pada renjatan yang berat, periksa : Hb, PCV berulang kali ( setiap jam atau 4-6 jam apabila sudah menunjukkan tanda perbaikan ), Faal hemostasis, FDP, EKG, Foto dada, BUN, creatinin serum.
F. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
1.1 Identitas
DHF merupakan penyakit daerah tropis yang sering menyebabkan kematian anak, remaja dan dewasa ( Effendy, 1995 )
1.2 Keluhan Utama
Pasien mengeluh panas, sakit kepala, lemah, nyeri ulu hati, mual dan nafsu makan menurun.
1.3 Riwayat penyakit sekarang
Riwayat kesehatan menunjukkan adanya sakit kepala, nyeri otot, pegal seluruh tubuh, sakit pada waktu menelan, lemah, panas, mual, dan nafsu makan menurun.
1.4 Riwayat penyakit terdahulu
Tidak ada penyakit yang diderita secara specific.
1.5 Riwayat penyakit keluarga
Riwayat adanya penyakit DHF pada anggota keluarga yang lain sangat menentukan, karena penyakit DHF adalah penyakit yang bisa ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegipty.
1.6 Riwayat Kesehatan Lingkungan
Biasanya lingkungan kurang bersih, banyak genangan air bersih seperti kaleng bekas, ban bekas, tempat air minum burung yang jarang diganti airnya, bak mandi jarang dibersihkan.
1.7 Riwayat Tumbuh Kembang
1.8 Pengkajian Per Sistem
1.8.1 Sistem Pernapasan
Sesak, perdarahan melalui hidung, pernapasan dangkal, epistaksis, pergerakan dada simetris, perkusi sonor, pada auskultasi terdengar ronchi, krakles.
1.8.2 Sistem Persyarafan
Pada grade III pasien gelisah dan terjadi penurunan kesadaran serta pada grade IV dapat trjadi DSS
1.8.3 Sistem Cardiovaskuler
Pada grde I dapat terjadi hemokonsentrasi, uji tourniquet positif, trombositipeni, pada grade III dapat terjadi kegagalan sirkulasi, nadi cepat, lemah, hipotensi, cyanosis sekitar mulut, hidung dan jari-jari, pada grade IV nadi tidak teraba dan tekanan darah tak dapat diukur.
1.8.4 Sistem Pencernaan
Selaput mukosa kering, kesulitan menelan, nyeri tekan pada epigastrik, pembesarn limpa, pembesaran hati, abdomen teregang, penurunan nafsu makan, mual, muntah, nyeri saat menelan, dapat hematemesis, melena.
1.8.5 Sistem perkemihan
Produksi urine menurun, kadang kurang dari 30 cc/jam, akan mengungkapkan nyeri sat kencing, kencing berwarna merah.
1.8.6 Sistem Integumen.
Terjadi peningkatan suhu tubuh, kulit kering, pada grade I terdapat positif pada uji tourniquet, terjadi pethike, pada grade III dapat terjadi perdarahan spontan pada kulit.
2. Diagnosa Keperawatan
2.1 Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus dengue
2.2 Resiko defisit cairan berhubungan dengan pindahnya ciran intravaskuler ke ekstravaskuler
2.3 Resiko syok hypovolemik berhubungan dengan perdarahan yang berlebihan, pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler
2.4 Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekwat akibat mual dan nafsu makan yang menurun.
2.5 Resiko terjadi perdarahn berhubungan dnegan penurunan factor-fakto pembekuan darah ( trombositopeni )
2.6 Kecemasan berhubungan dengan kondisi klien yang memburuk dan perdaahan
2.7 Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangya informasi.
3. Rencana Asuhan Keperawatan.
DP : Hipertermie berhubungan dengan proses infeksi virus dengue
Tujuan : Suhu tubuh normal
Kriteria hasil : Suhu tubuh antara 36 – 37
Nyeri otot hilang
Intervensi :
a. Beri komres air kran
Rasional : Kompres dingin akan terjadi pemindahan panas secara konduksi
b. Berika / anjurkan pasien untuk banyak minum 1500-2000 cc/hari ( sesuai toleransi )
Rasional : Untuk mengganti cairan tubuh yang hilang akibat evaporasi.
c. Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang tipis dan mudah menyerap keringat
Rasional : Memberikan rasa nyaman dan pakaian yang tipis mudah menyerap keringat dan tidak merangsang peningkatan suhu tubuh.
d. Observasi intake dan output, tanda vital ( suhu, nadi, tekanan darah ) tiap 3 jam sekali atau lebih sering.
Rasional : Mendeteksi dini kekurangan cairan serta mengetahui keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh. Tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien.
e. Kolaborasi : pemberian cairan intravena dan pemberian obat sesuai program.
Rasional : Pemberian cairan sangat penting bagi pasien dengan suhu tubuh yang tinggi. Obat khususnyauntuk menurunkan suhu tubuh pasien.
DP 2. Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler.
Tujuan : Tidak terjadi devisit voume cairan
Kriteria : Input dan output seimbang
Vital sign dalam batas normal
Tidak ada tanda presyok
Akral hangat
Capilarry refill < 3 detik
Intervensi :
a. Awasi vital sign tiap 3 jam/lebih sering
Rasional : Vital sign membantu mengidentifikasi fluktuasi cairan intravaskuler
b. Observasi capillary Refill
Rasional : Indikasi keadekuatan sirkulasi perifer
c. Observasi intake dan output. Catat warna urine / konsentrasi, BJ
Rasional : Penurunan haluaran urine pekat dengan peningkatan BJ diduga dehidrasi.
d. Anjurkan untuk minum 1500-2000 ml /hari ( sesuai toleransi )
Rasional : Untuk memenuhi kabutuhan cairan tubuh peroral
e. Kolaborasi : Pemberian cairan intravena
Rasional : Dapat meningkatkan jumlah cairan tubuh, untuk mencegah terjadinya hipovolemic syok.
DP. 3 Resiko Syok hypovolemik berhubungan dengan perdarahan yang berlebihan, pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler.
Tujuan : Tidak terjadi syok hipovolemik
Kriteria : Tanda Vital dalam batas normal
Intervensi :
a. Monitor keadaan umum pasien
Raional ; Untuk memonitor kondisi pasien selama perawatan terutama saat terdi perdarahan. Perawat segera mengetahui tanda-tanda presyok / syok
b. Observasi vital sign setiap 3 jam atau lebih
Rasional : Perawat perlu terus mengobaservasi vital sign untuk memastikan tidak terjadi presyok / syok
c. Jelaskan pada pasien dan keluarga tanda perdarahan, dan segera laporkan jika terjadi perdarahan
Rasional : Dengan melibatkan psien dan keluarga maka tanda-tanda perdarahan dapat segera diketahui dan tindakan yang cepat dan tepat dapat segera diberikan.
d. Kolaborasi : Pemberian cairan intravena
Rasional : Cairan intravena diperlukan untuk mengatasi kehilangan cairan tubuh secara hebat.
e. Kolaborasi : pemeriksaan : HB, PCV, trombo
Rasional : Untuk mengetahui tingkat kebocoran pembuluh darah yang dialami pasien dan untuk acuan melakukan tindakan lebih lanjut.
DP. 4 Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat akibat mual dan nafsu makan yang menurun.
Tujuan : Tidak terjadi gangguan kebutuhan nutrisi
Kriteria : Tidak ada tanda-tanda malnutrisi
Menunjukkan berat badan yang seimbang.
Intervensi :
a. Kaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang disukai
Rasional : Mengidentifikasi defisiensi, menduga kemungkinan intervensi
b. Observasi dan catat masukan makanan pasien
Rasional : Mengawasi masukan kalori/kualitas kekurangan konsumsi makanan
c. Timbang BB tiap hari (bila memungkinkan )
Rasional : Mengawasi penurunan BB / mengawasi efektifitas intervensi.
d. Berikan makanan sedikit namun sering dan atau makan diantara waktu makan
Rasional : Makanan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan meningkatkan masukan juga mencegah distensi gaster.
e. Berikan dan Bantu oral hygiene.
Rasional : Meningkatkan nafsu makan dan masukan peroral
f. Hindari makanan yang merangsang dan mengandung gas.
Rasional : Menurunkan distensi dan iritasi gaster.
DP. 5. Resiko terjadi perdarahan berhubungan dengan penurunan factor-faktor pembekuan darah ( trombositopeni )
Tujuan : Tidak terjadi perdarahan
Kriteria : TD 100/60 mmHg, N: 80-100x/menit reguler, pulsasi kuat
Tidak ada tanda perdarahan lebih lanjut, trombosit meningkat
Intervensi :
a. Monitor tanda-tanda penurunan trombosit yang disertai tanda klinis.
Rasional : Penurunan trombosit merupakan tanda adanya kebocoran pembuluh darah yang pada tahap tertentu dapat menimbulkan tanda-tanda klinis seperti epistaksis, ptike.
b. Monitor trombosit setiap hari
Rasional : Dengan trombosit yang dipantau setiap hari, dapat diketahui tingkat kebocoran pembuluh darah dan kemungkinan perdarahan yang dialami pasien.
c. Anjurkan pasien untuk banyak istirahat ( bedrest )
Rasional : Aktifitas pasien yang tidak terkontrol dapat menyebabkan terjadinya perdarahan.
d. Berikan penjelasan kepada klien dan keluarga untuk melaporkan jika ada tanda perdarahan spt : hematemesis, melena, epistaksis.
Rasional : Keterlibatan pasien dan keluarga dapat membantu untuk penaganan dini bila terjadi perdarahan.
e. Antisipasi adanya perdarahan : gunakan sikat gigi yang lunak, pelihara kebersihan mulut, berikan tekanan 5-10 menit setiap selesai ambil darah.
Rasional : Mencegah terjadinya perdarahan lebih lanjut.
Read More
DHF adalah suatu infeksi arbovirus akut yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk spesies aides. Penyakit ini sering menyerang anak, remaja, dan dewasa yang ditandai dengan demam, nyeri otot dan sendi. Demam Berdarah Dengue sering disebut pula Dengue Haemoragic Fever ( DHF )
B. PATOFISIOLOGI
Setelah virus dengue masuk ke dalam tubuh, pasien akan mengalami keluhan dan gejala karena viremia, seperti demam, sakit kepala, mual, nyeri otot, pegal seluruh badan, hiperemi ditenggorokan, timbulnya ruam dan kelainan yang mungkin muncul pada system retikuloendotelial seperti pembesaran kelenjar-kelenjar getah bening, hati dan limpa. Ruam pada DHF disebabkan karena kongesti pembuluh darah dibawah kulit.
Fenomena patofisiologi utama yang menentukan berat penyakit dan membedakan DF dan DHF ialah meningginya permeabilitas dinding kapiler karena pelepasan zat anafilaktosin, histamin dan serotonin serta aktivasi system kalikreain yang berakibat ekstravasasi cairan intravaskuler. Hal ini berakibat berkurangnya volume plama, terjadinya hipotensi, hemokonsentrasi, hipoproteinemia, efusi dan renjatan.
Adanya kebocoran plasma ke daerah ekstravaskuler ibuktikan dengan ditemukannya cairan dalam rongga serosa, yaitu dalam rongga peritoneum, pleura dan perikard. Renjatan hipovolemik yang terjadi sebagai akibat kehilangan plasma, bila tidak segera teratasi akan terjadi anoxia jaringan, asidosis metabolic dan kematian. Sebab lain kematian pada DHF adalah perdarahan hebat. Perdarahan umumnya dihubungkan dengan trombositopenia, gangguan fungsi trombosit dan kelainan fungsi trombosit.
Fungsi agregasi trombosit menurun mungkin disebabkan proses imunologis terbukti dengan terdapatnya kompleks imun dalam peredaran darah. Kelainan system koagulasi disebabkan diantaranya oleh kerusakan hati yang fungsinya memang tebukti terganggu oleh aktifasi system koagulasi. Masalah terjadi tidaknya DIC pada DHF/ DSS, terutama pada pasien dengan perdarahan hebat.
C. KLASIFIKASI DHF
WHO, 1986 mengklasifikasikan DHF menurut derajat penyakitnya menjadi 4 golongan, yaitu :
Derajat I
Demam disertai gejala klinis lain, tanpa perdarahan spontan. Panas 2-7 hari, Uji tourniquet positif, trombositipenia, dan hemokonsentrasi.
Derajat II
Sama dengan derajat I, ditambah dengan gejala-gejala perdarahan spontan seperti petekie, ekimosis, hematemesis, melena, perdarahan gusi.
Derajat III
Ditandai oleh gejala kegagalan peredaran darah seperti nadi lemah dan cepat ( >120x/mnt ) tekanan nadi sempit ( ? 120 mmHg ), tekanan darah menurun, ( 120/80 ? 120/100 ? 120/110 ? 90/70 ? 80/70 ? 80/0 ? 0/0 )
Derajat IV
Nadi tidak teaba, tekanan darah tidak teatur ( denyut jantung ? 140x/mnt ) anggota gerak teraba dingin, berkeringat dan kulit tampak biru.
D. TANDA DAN GEJALA
Selain tanda dan gejala yang ditampilkan berdasarkan derajat penyakitnya, tanda dangejala lain adalah :
- Hati membesar, nyeri spontan yang diperkuat dengan reaksi perabaan.
- Asites
- Cairan dalam rongga pleura ( kanan )
- Ensephalopati : kejang, gelisah, sopor koma.
E. PEMERIKSAAN DAN DIGNOSIS
- Trombositopeni ( ? 100.000/mm3)
- Hb dan PCV meningkat ( ? 20% )
- Leukopeni ( mungkin normal atau lekositosis )
- Isolasi virus
- Serologi ( Uji H ): respon antibody sekunder
- Pada renjatan yang berat, periksa : Hb, PCV berulang kali ( setiap jam atau 4-6 jam apabila sudah menunjukkan tanda perbaikan ), Faal hemostasis, FDP, EKG, Foto dada, BUN, creatinin serum.
F. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
1.1 Identitas
DHF merupakan penyakit daerah tropis yang sering menyebabkan kematian anak, remaja dan dewasa ( Effendy, 1995 )
1.2 Keluhan Utama
Pasien mengeluh panas, sakit kepala, lemah, nyeri ulu hati, mual dan nafsu makan menurun.
1.3 Riwayat penyakit sekarang
Riwayat kesehatan menunjukkan adanya sakit kepala, nyeri otot, pegal seluruh tubuh, sakit pada waktu menelan, lemah, panas, mual, dan nafsu makan menurun.
1.4 Riwayat penyakit terdahulu
Tidak ada penyakit yang diderita secara specific.
1.5 Riwayat penyakit keluarga
Riwayat adanya penyakit DHF pada anggota keluarga yang lain sangat menentukan, karena penyakit DHF adalah penyakit yang bisa ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegipty.
1.6 Riwayat Kesehatan Lingkungan
Biasanya lingkungan kurang bersih, banyak genangan air bersih seperti kaleng bekas, ban bekas, tempat air minum burung yang jarang diganti airnya, bak mandi jarang dibersihkan.
1.7 Riwayat Tumbuh Kembang
1.8 Pengkajian Per Sistem
1.8.1 Sistem Pernapasan
Sesak, perdarahan melalui hidung, pernapasan dangkal, epistaksis, pergerakan dada simetris, perkusi sonor, pada auskultasi terdengar ronchi, krakles.
1.8.2 Sistem Persyarafan
Pada grade III pasien gelisah dan terjadi penurunan kesadaran serta pada grade IV dapat trjadi DSS
1.8.3 Sistem Cardiovaskuler
Pada grde I dapat terjadi hemokonsentrasi, uji tourniquet positif, trombositipeni, pada grade III dapat terjadi kegagalan sirkulasi, nadi cepat, lemah, hipotensi, cyanosis sekitar mulut, hidung dan jari-jari, pada grade IV nadi tidak teraba dan tekanan darah tak dapat diukur.
1.8.4 Sistem Pencernaan
Selaput mukosa kering, kesulitan menelan, nyeri tekan pada epigastrik, pembesarn limpa, pembesaran hati, abdomen teregang, penurunan nafsu makan, mual, muntah, nyeri saat menelan, dapat hematemesis, melena.
1.8.5 Sistem perkemihan
Produksi urine menurun, kadang kurang dari 30 cc/jam, akan mengungkapkan nyeri sat kencing, kencing berwarna merah.
1.8.6 Sistem Integumen.
Terjadi peningkatan suhu tubuh, kulit kering, pada grade I terdapat positif pada uji tourniquet, terjadi pethike, pada grade III dapat terjadi perdarahan spontan pada kulit.
2. Diagnosa Keperawatan
2.1 Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus dengue
2.2 Resiko defisit cairan berhubungan dengan pindahnya ciran intravaskuler ke ekstravaskuler
2.3 Resiko syok hypovolemik berhubungan dengan perdarahan yang berlebihan, pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler
2.4 Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekwat akibat mual dan nafsu makan yang menurun.
2.5 Resiko terjadi perdarahn berhubungan dnegan penurunan factor-fakto pembekuan darah ( trombositopeni )
2.6 Kecemasan berhubungan dengan kondisi klien yang memburuk dan perdaahan
2.7 Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangya informasi.
3. Rencana Asuhan Keperawatan.
DP : Hipertermie berhubungan dengan proses infeksi virus dengue
Tujuan : Suhu tubuh normal
Kriteria hasil : Suhu tubuh antara 36 – 37
Nyeri otot hilang
Intervensi :
a. Beri komres air kran
Rasional : Kompres dingin akan terjadi pemindahan panas secara konduksi
b. Berika / anjurkan pasien untuk banyak minum 1500-2000 cc/hari ( sesuai toleransi )
Rasional : Untuk mengganti cairan tubuh yang hilang akibat evaporasi.
c. Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang tipis dan mudah menyerap keringat
Rasional : Memberikan rasa nyaman dan pakaian yang tipis mudah menyerap keringat dan tidak merangsang peningkatan suhu tubuh.
d. Observasi intake dan output, tanda vital ( suhu, nadi, tekanan darah ) tiap 3 jam sekali atau lebih sering.
Rasional : Mendeteksi dini kekurangan cairan serta mengetahui keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh. Tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien.
e. Kolaborasi : pemberian cairan intravena dan pemberian obat sesuai program.
Rasional : Pemberian cairan sangat penting bagi pasien dengan suhu tubuh yang tinggi. Obat khususnyauntuk menurunkan suhu tubuh pasien.
DP 2. Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler.
Tujuan : Tidak terjadi devisit voume cairan
Kriteria : Input dan output seimbang
Vital sign dalam batas normal
Tidak ada tanda presyok
Akral hangat
Capilarry refill < 3 detik
Intervensi :
a. Awasi vital sign tiap 3 jam/lebih sering
Rasional : Vital sign membantu mengidentifikasi fluktuasi cairan intravaskuler
b. Observasi capillary Refill
Rasional : Indikasi keadekuatan sirkulasi perifer
c. Observasi intake dan output. Catat warna urine / konsentrasi, BJ
Rasional : Penurunan haluaran urine pekat dengan peningkatan BJ diduga dehidrasi.
d. Anjurkan untuk minum 1500-2000 ml /hari ( sesuai toleransi )
Rasional : Untuk memenuhi kabutuhan cairan tubuh peroral
e. Kolaborasi : Pemberian cairan intravena
Rasional : Dapat meningkatkan jumlah cairan tubuh, untuk mencegah terjadinya hipovolemic syok.
DP. 3 Resiko Syok hypovolemik berhubungan dengan perdarahan yang berlebihan, pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler.
Tujuan : Tidak terjadi syok hipovolemik
Kriteria : Tanda Vital dalam batas normal
Intervensi :
a. Monitor keadaan umum pasien
Raional ; Untuk memonitor kondisi pasien selama perawatan terutama saat terdi perdarahan. Perawat segera mengetahui tanda-tanda presyok / syok
b. Observasi vital sign setiap 3 jam atau lebih
Rasional : Perawat perlu terus mengobaservasi vital sign untuk memastikan tidak terjadi presyok / syok
c. Jelaskan pada pasien dan keluarga tanda perdarahan, dan segera laporkan jika terjadi perdarahan
Rasional : Dengan melibatkan psien dan keluarga maka tanda-tanda perdarahan dapat segera diketahui dan tindakan yang cepat dan tepat dapat segera diberikan.
d. Kolaborasi : Pemberian cairan intravena
Rasional : Cairan intravena diperlukan untuk mengatasi kehilangan cairan tubuh secara hebat.
e. Kolaborasi : pemeriksaan : HB, PCV, trombo
Rasional : Untuk mengetahui tingkat kebocoran pembuluh darah yang dialami pasien dan untuk acuan melakukan tindakan lebih lanjut.
DP. 4 Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat akibat mual dan nafsu makan yang menurun.
Tujuan : Tidak terjadi gangguan kebutuhan nutrisi
Kriteria : Tidak ada tanda-tanda malnutrisi
Menunjukkan berat badan yang seimbang.
Intervensi :
a. Kaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang disukai
Rasional : Mengidentifikasi defisiensi, menduga kemungkinan intervensi
b. Observasi dan catat masukan makanan pasien
Rasional : Mengawasi masukan kalori/kualitas kekurangan konsumsi makanan
c. Timbang BB tiap hari (bila memungkinkan )
Rasional : Mengawasi penurunan BB / mengawasi efektifitas intervensi.
d. Berikan makanan sedikit namun sering dan atau makan diantara waktu makan
Rasional : Makanan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan meningkatkan masukan juga mencegah distensi gaster.
e. Berikan dan Bantu oral hygiene.
Rasional : Meningkatkan nafsu makan dan masukan peroral
f. Hindari makanan yang merangsang dan mengandung gas.
Rasional : Menurunkan distensi dan iritasi gaster.
DP. 5. Resiko terjadi perdarahan berhubungan dengan penurunan factor-faktor pembekuan darah ( trombositopeni )
Tujuan : Tidak terjadi perdarahan
Kriteria : TD 100/60 mmHg, N: 80-100x/menit reguler, pulsasi kuat
Tidak ada tanda perdarahan lebih lanjut, trombosit meningkat
Intervensi :
a. Monitor tanda-tanda penurunan trombosit yang disertai tanda klinis.
Rasional : Penurunan trombosit merupakan tanda adanya kebocoran pembuluh darah yang pada tahap tertentu dapat menimbulkan tanda-tanda klinis seperti epistaksis, ptike.
b. Monitor trombosit setiap hari
Rasional : Dengan trombosit yang dipantau setiap hari, dapat diketahui tingkat kebocoran pembuluh darah dan kemungkinan perdarahan yang dialami pasien.
c. Anjurkan pasien untuk banyak istirahat ( bedrest )
Rasional : Aktifitas pasien yang tidak terkontrol dapat menyebabkan terjadinya perdarahan.
d. Berikan penjelasan kepada klien dan keluarga untuk melaporkan jika ada tanda perdarahan spt : hematemesis, melena, epistaksis.
Rasional : Keterlibatan pasien dan keluarga dapat membantu untuk penaganan dini bila terjadi perdarahan.
e. Antisipasi adanya perdarahan : gunakan sikat gigi yang lunak, pelihara kebersihan mulut, berikan tekanan 5-10 menit setiap selesai ambil darah.
Rasional : Mencegah terjadinya perdarahan lebih lanjut.
artikel keperawatan anak dengan demam rematik
BAB I
PENDAHULUAN
A. Defenisi
Demam reumatik adalah suatu penyakit peradangan autoimun yang mengenai jaringan konektif jantung, tulang, jaringan subkutan dan pembuluh darah pada pusat sistem persarafan, sebagai akibat dari infeksi beta-Streptococcus hemolyticus grup A
B. Etiologi
- Secara pasti belum diketahui
- Penderita dengan infeksi saluran nafas yang tak terobati (kuman; A beta Hemolytic streptococcus).
C. Manifestasi klinis
- Polyarthritis
- Karditis
- Chorea (Pergerakan yang tanpa disadari pada tungkai, lengan dan muka)
- Eritema marginal (merah pada kulit yang lesi kemudian muncul makula pada truncus dan perifer)
- Adanya nodul pada subkutan.
D. Patofisiologi
- Demam reumatik adalah suatu hasil respon imunologi abnormal yang disebabkan oleh kelompok kuman A beta-hemolitic treptococcus yang menyerang pada pharynx
- Streptococcus diketahui dapat menghasilkan tidak kurang dari 20 prodak ekstrasel; yang terpenting diantaranya ialah streptolisin O, streptolisin S, hialuronidase, streptokinase, difosforidin nukleotidase, deoksiribonuklease serta streptococca erythrogenic toxin. Produk-produk tersebut merangsang timbulnya antibodi. Demam reumatik yang terjadi diduga akibat kepekaan tubuh yang berlebihan terhadap beberapa produk tersebut.
- Sensitivitas sel B antibodi memproduksi antistreptococcus yang membentuk imun kompleks. Reaksi silang imun komleks tersebut dengan sarcolema kardiak menimbulkan respon peradangan myocardial dan valvular. Peradangan biasanya terjadi pada katup mitral, yang mana akan menjadi skar dan kerusakan permanen.
- Demam rematik terjadi 2-6 minggu setelah tidak ada pengobatan atau pengobatan yang tidak tuntas karena infeksi saluran nafas atas oleh kelompok kuman A betahemolytic.
- Mungkin ada predisposisi genetik, dan ruangan yang sesak khususnya di ruang kelas atau tempat tinggal yang dapat meningkatkan risiko.
- Penyebab utama morbiditas dan mortalitas adalah fase akut dan kronik dengan karditis.
E. Pemeriksaan diagnostik
- Riwayat adanya infeksi saluran nafas atas dan gejala
- Positif antistretolysin titer O
- Positif stretozyme positif anti uji DNAase B
- Meningkatnya C-reaktif protein
- Meningkatnya anti hyaluronidase, meningkatnya sedimen sel darah merah (eritrosit)
- Foto rontgen menunjukkan pembesaran jantung
- Elektrokardiogram menunjukkan arrhtythmia E
- Ehocardiogram menunjukkan pembesaran jantung dan lesi
F. Penatalaksanaan teraupetik
- Pemberian antibiotik
- Mengobati gejala peradangan, gagal jantung, dan chorea
- Pilihan pengobatan adalah antibiotik pencillin dan anti peradangan misalnya; aspirin atau penggantinya untuk 2-6 minggu.
G. Penatalaksanaan perawatan
a. Pengkajian
• Riwayat penyakit
• Monitor komplikasi jantung (CHF dan arrhythmia)
• Auskultasi jantung; bunyi jantung melemah dengan irama derap diastole
• Tanda-tanda vital
• Kaji adanya nyeri
• Kaji adanya peradangan sendi
• Kaji adanya lesi pada kulit
b. Diagnosa keperawatan
1. Kurangnya pengetahuan orang tua/ anak berhubungan dengan pengobatan, pembatasan aktivitas, risiko komplikasi jantung
2. Tidak efektif koping individu berhubungan dengan kondisi penyakit
3. Nyeri berhubungan dengan polyartritis.
4. Risiko ijury berhubungan dengan infeksi streptococcus
c. Perencanaan
1. Orang tua dan anak akan memahami tentang regimen pengobatan dan pembatasan aktivitas.
2. Anak tidak akan menunjukakan stress emosional dan dapat menggunakan strategi koping yang efektif
3. Anak dapat menunjukkan dalam pengontrolan nyeri sesuai tingkat kesanggupan.
4. Anak akan memperlihatkan tidak adanya gejala-gejala sakit menelan untuk pertama kali atau tidak ada injury
d. Imlementasi
1. Mencegah atau mendeteksi komplikasi
• Auskultasi bunyi jantung untuk mengetahi adanya perubahan irama
• Pemberian antibiotik sesuai program
• Pembatasan aktivitas sampai manifestasi klinis demam reumatik tidak ada dan berikan periode istirahat.
• Berikan terapi bermain yang sesuai dan tidak membuat lelah.
2. Support anak dalam pembatasan aktivitas
• Kaji keinginan untuk bermain sesuai dengan usia dan kondisi
• Buat jadual aktivitas dan istirahat
• Ajarkan untuk partisipasi dalam aktivitas kebutuhan sehari-hari
• Ajarkan pada anak/ orang tua bahwa pergerakan yang tidak disadari adalah dihubungkan dengan Chorea dan temporer.
3. Memberikan kontrol nyeri yang adekuat
• Kaji nyeri dengan skala
• Pemberian analgeik, anti peradangan dan antipiretik sesuai program
• Reposisi untuk mengurangi stress sendi
• Berikan terapi hangat dan dingin pada sendi yang sakit
• Lakukan distraksi misalnya; teknik relaksasi dan hayalan.
4. Mencegah infeksi dan injury
• Monitor temperatur setiap 4 jam selama dirawat.
• Pemberian antibiotik sesuai program
• Lihat juga dalam perencanaan pemulangan
• Anak diistirahatkan
e. Perencanaan pemulangan
• Berikan informasi tentang kebutuhan aktivitas bermain yang sesuai dengan pembatasan, aktivitas
• Istirahat 2-6 minggu, bantu segala pemenuhan aktivitas kebutuhan sehari-hari
• Jelaskan pentingnya istirahat dan membuat jadual istirahat dan aktivitas sampai tanda-tanda klinis tidak ada.
• Jelaskan terapi yang diberikan; dosis, efek samping, risiko komplikasi jantung
• Berikan support lingkungan yang aman, jangan biarkan anak tidur di lantai
• Instruksikan untuk menginformasikan jika ada tanda sakit menelan
• Tekankan pentingnya kontrol ulang.
Read More
PENDAHULUAN
A. Defenisi
Demam reumatik adalah suatu penyakit peradangan autoimun yang mengenai jaringan konektif jantung, tulang, jaringan subkutan dan pembuluh darah pada pusat sistem persarafan, sebagai akibat dari infeksi beta-Streptococcus hemolyticus grup A
B. Etiologi
- Secara pasti belum diketahui
- Penderita dengan infeksi saluran nafas yang tak terobati (kuman; A beta Hemolytic streptococcus).
C. Manifestasi klinis
- Polyarthritis
- Karditis
- Chorea (Pergerakan yang tanpa disadari pada tungkai, lengan dan muka)
- Eritema marginal (merah pada kulit yang lesi kemudian muncul makula pada truncus dan perifer)
- Adanya nodul pada subkutan.
D. Patofisiologi
- Demam reumatik adalah suatu hasil respon imunologi abnormal yang disebabkan oleh kelompok kuman A beta-hemolitic treptococcus yang menyerang pada pharynx
- Streptococcus diketahui dapat menghasilkan tidak kurang dari 20 prodak ekstrasel; yang terpenting diantaranya ialah streptolisin O, streptolisin S, hialuronidase, streptokinase, difosforidin nukleotidase, deoksiribonuklease serta streptococca erythrogenic toxin. Produk-produk tersebut merangsang timbulnya antibodi. Demam reumatik yang terjadi diduga akibat kepekaan tubuh yang berlebihan terhadap beberapa produk tersebut.
- Sensitivitas sel B antibodi memproduksi antistreptococcus yang membentuk imun kompleks. Reaksi silang imun komleks tersebut dengan sarcolema kardiak menimbulkan respon peradangan myocardial dan valvular. Peradangan biasanya terjadi pada katup mitral, yang mana akan menjadi skar dan kerusakan permanen.
- Demam rematik terjadi 2-6 minggu setelah tidak ada pengobatan atau pengobatan yang tidak tuntas karena infeksi saluran nafas atas oleh kelompok kuman A betahemolytic.
- Mungkin ada predisposisi genetik, dan ruangan yang sesak khususnya di ruang kelas atau tempat tinggal yang dapat meningkatkan risiko.
- Penyebab utama morbiditas dan mortalitas adalah fase akut dan kronik dengan karditis.
E. Pemeriksaan diagnostik
- Riwayat adanya infeksi saluran nafas atas dan gejala
- Positif antistretolysin titer O
- Positif stretozyme positif anti uji DNAase B
- Meningkatnya C-reaktif protein
- Meningkatnya anti hyaluronidase, meningkatnya sedimen sel darah merah (eritrosit)
- Foto rontgen menunjukkan pembesaran jantung
- Elektrokardiogram menunjukkan arrhtythmia E
- Ehocardiogram menunjukkan pembesaran jantung dan lesi
F. Penatalaksanaan teraupetik
- Pemberian antibiotik
- Mengobati gejala peradangan, gagal jantung, dan chorea
- Pilihan pengobatan adalah antibiotik pencillin dan anti peradangan misalnya; aspirin atau penggantinya untuk 2-6 minggu.
G. Penatalaksanaan perawatan
a. Pengkajian
• Riwayat penyakit
• Monitor komplikasi jantung (CHF dan arrhythmia)
• Auskultasi jantung; bunyi jantung melemah dengan irama derap diastole
• Tanda-tanda vital
• Kaji adanya nyeri
• Kaji adanya peradangan sendi
• Kaji adanya lesi pada kulit
b. Diagnosa keperawatan
1. Kurangnya pengetahuan orang tua/ anak berhubungan dengan pengobatan, pembatasan aktivitas, risiko komplikasi jantung
2. Tidak efektif koping individu berhubungan dengan kondisi penyakit
3. Nyeri berhubungan dengan polyartritis.
4. Risiko ijury berhubungan dengan infeksi streptococcus
c. Perencanaan
1. Orang tua dan anak akan memahami tentang regimen pengobatan dan pembatasan aktivitas.
2. Anak tidak akan menunjukakan stress emosional dan dapat menggunakan strategi koping yang efektif
3. Anak dapat menunjukkan dalam pengontrolan nyeri sesuai tingkat kesanggupan.
4. Anak akan memperlihatkan tidak adanya gejala-gejala sakit menelan untuk pertama kali atau tidak ada injury
d. Imlementasi
1. Mencegah atau mendeteksi komplikasi
• Auskultasi bunyi jantung untuk mengetahi adanya perubahan irama
• Pemberian antibiotik sesuai program
• Pembatasan aktivitas sampai manifestasi klinis demam reumatik tidak ada dan berikan periode istirahat.
• Berikan terapi bermain yang sesuai dan tidak membuat lelah.
2. Support anak dalam pembatasan aktivitas
• Kaji keinginan untuk bermain sesuai dengan usia dan kondisi
• Buat jadual aktivitas dan istirahat
• Ajarkan untuk partisipasi dalam aktivitas kebutuhan sehari-hari
• Ajarkan pada anak/ orang tua bahwa pergerakan yang tidak disadari adalah dihubungkan dengan Chorea dan temporer.
3. Memberikan kontrol nyeri yang adekuat
• Kaji nyeri dengan skala
• Pemberian analgeik, anti peradangan dan antipiretik sesuai program
• Reposisi untuk mengurangi stress sendi
• Berikan terapi hangat dan dingin pada sendi yang sakit
• Lakukan distraksi misalnya; teknik relaksasi dan hayalan.
4. Mencegah infeksi dan injury
• Monitor temperatur setiap 4 jam selama dirawat.
• Pemberian antibiotik sesuai program
• Lihat juga dalam perencanaan pemulangan
• Anak diistirahatkan
e. Perencanaan pemulangan
• Berikan informasi tentang kebutuhan aktivitas bermain yang sesuai dengan pembatasan, aktivitas
• Istirahat 2-6 minggu, bantu segala pemenuhan aktivitas kebutuhan sehari-hari
• Jelaskan pentingnya istirahat dan membuat jadual istirahat dan aktivitas sampai tanda-tanda klinis tidak ada.
• Jelaskan terapi yang diberikan; dosis, efek samping, risiko komplikasi jantung
• Berikan support lingkungan yang aman, jangan biarkan anak tidur di lantai
• Instruksikan untuk menginformasikan jika ada tanda sakit menelan
• Tekankan pentingnya kontrol ulang.
Mengembangkan Pasar Pelayanan Keperawatan
Oleh: Wastu Adi Mulyono, M.Kep.
Berapakan jumlah rumah sakit di Indonesia. Sejumlah rumah sakit tersebut mampu menampung berapa perawat. Perawat setingkat Ners menempati berapa persen dari kebutuhan tersebut? Apakah lulusan Ners cukup tertampung dalam formasi tersebut?
Berkutat dengan pertanyaan berputar-putar tersebut sungguh memusingkan. Tentu saja bagi para perawat dosen yang memiliki keprihatinan tinggi. Pusing memperhitungkan penyerapan anak didiknya di lapangan kerja. Para pemilik sekolah pusing lebih berlipat kali. Selain ancaman tidak terserapnya lulusan sumber pusing juga berasal dari minimnya input yang berkualitas, biaya proses pembelajaran (terutama klinik) yang mahal, dan tuntutan kesejahteraan staf dan karyawannya.
Beberapa sekolah beralasan dengan mengajukan fakta adanya kebutuhan tinggi keperawatan di luar negeri seperti Jepang dan Amerika. Sayang sekali program-program pendidikan tidak mengarahkan mencapai pasar tersebut. Kalaupun ada, program tersebut juga tidak sukses. Seorang pejabat dari departemen kesehatan dalam sebuah seminar mengatakan, bahwa dari seratus peserta pelatihan hanya tinggal 40 yang yang dapat meneruskan program. Keempatpuluh orang tersebut ketika dites user hanya dapat lolos 3 orang. Kemampuan berbahasa sering dijadikan alasan.
Dulu kami pernah berinvestasi besar dalam mengembangkan kemampuan berbahasa ini. Lembaga bahasa kita libatkan dalam pengembangan kemampuan ini. Hasilnya tetaplah nihil. Mahasiswa tidak termotivasi untuk belajar. Ketika ditanyakan keinginannya bekerja di luar negeri, mahasiswa tersebut yang kebanyakan adalah perempuan menyatakan tidak berminat. Mereka beralasan terlalu jauh, ingin menikah segera, tidak diijinkan orang tua (bisa juga pacar), dan biaya yang tidak mampu dijangkau.
Akar masalah sebenarnya bukan di bahasa atau yang saya sebutkan tadi. Akar masalahnya adalah mental dan karakter. Lingkungan dan kebiasaan telah membentuk mental submisif dan penuh ketakutan terhadap hal baru. Hal tersebut membentuk karakter yang lemah dan enggan menghadapi tantangan. Maka menjadi PNS pun bagaikan tujuan akhir yang patut ditunggu-tunggu dan diperjuangkan meski harus kehilangan banyak waktu dan uang untuk memperoleh jalan lulus. Setelah lulus...wush!! tiba-tiba kedisiplinan, semangat, dan idealisme hilang entah kemana.
Saya memiliki sudut pandang yang lain dalam menghadapi ini. Kita tidak bisa memaksa adik-adik itu pergi merantau, lha kita sendiri tidak pernah merantau jauh apalagi ke luar negeri. Kita bisa memulainya dengan menumbuhkan kesadaran untuk praktik mandiri. Praktik mandiri penuh tantangan, tapi tidak seberat untuk mengirim mereka ke luar negeri. Support mereka masih banyak dan mudah diperoleh. Migrasi ke luar negeri memang berat begitu cerita di Surinamem, maupun cerita tentang TKI kita di luar negeri sana.
Sebagian besar dari kita tentu paling banyak adalah early and late majority. Kelompok ini membutuhkan contoh dulu. Jangan berharap ada inovator. Kitalah para senior, dosen, pembimbing yang jadi inovator. Kita susun model, kita tumbuhkan iklim mentoring. Ini saya contoh dari Wocare Bogor lho.
Proses penciptaan sistem dan pemeliharaan iklim mentoring ini perlu biaya. Sudah layaklah hal itu dihargai dengan materi atau uang. Kita yang sudah terbiasa berwirausaha sangat memperhatikan ini. Tanpa perputaran modal, usaha mandeg dan rugi. Tantangan ini yang sering dianggap enteng oleh teman-teman non wirausahawan. Kebanyakan mereka berpikir cost oriented dengan dasar nilai keperawatan yang altruisme. Sebagai pembelajar entrepreneurship saya mengalami permasalahan shift nilai dari altruis ke komersialis ini. Sungguh amat berat.
Shift mental dari karyawanis menjadi wirausahis ini yang harus dibentuk. Contoh wirausaha untuk keperawatan ini sangatlah banyak. Kita tinggal malakukan saja. Sebagian besar dari perawat juga sudah melakukannya, sayang belum dikemas secara profesional. Seorang teman senior yang berpengalaman dalam hal ini pun memiliki kesan bahwa ketrampilan dan kemahirannya tidak dapat diajarkan. Hal ini karena metode mentoringnya yang kurang tepat sehingga ia merasakan kegagalan dalam suksesinya.
Melalui aktivitas senior yang membangun praktik mandiri dan membentuk sistem yang kuat, secara tidak langsung telah menjadi promotor pelayanan keperawatan. Pasar dapat mengenal bentuk pelayanan keperawatan itu apa (ontologis), bagaimana pelaksanaannya(epistemiologis), dan merasakan manfaatnya (axiologis). Secara tidak langsung pasar terbentuk. Langkah selanjutnya tinggal menciptakan pace maker (multiply factor) sehingga terjadi booming. Sebelum booming terjadi mentee kita sudah siap menangkap. Kalau tidak siap...maka tetap saja...kita kalah cepat...peluang ditangkap oleh yang lain. Jangan salahkan mereka.
Para junior yang sudah siap praktik juga jangan ditakut-takuti dengan UU dan mal praktik. Sudah selayaknya kita lindungi. Kalau perlu sediakan system frenchise (ritel) agar mereka terlindungi. Selain melindungi junior, kita juga akan punya tanggung jawab mengembangkan bisnis mereka karena menyangkut saham dan nana baik klinik milik kita.
Pasar perlu dikembangkan dan dipengaruhi. Pemasaran membutuhkan iklan. Iklam membutuhkan icon atau simbol-simbol. Kita butuh pelayanan mandiri keperawatan yang jadi icon, jadi mercusuar perkembangan keperawatan. Saya bermain-main dengan meramalkan ini terjadi 5 tahun lagi terutama di bidang wound dan holistic care. Wocare, Rumat, Holistic Care di Undip, sudah menjadi inovator. Mereka terus hidup dan inovatif. Saya kira pasar akan semakin merasakan kebutuhan ini. Dalam pameran kecil saya di Unsoed kemarin, banyak yang menanyakan tentang perawatan luka ini. Bahkan mahasiswa pun mulai tertarik. Semakin banyak simbol-simbol beredar di masyarakat semakin jelan bentuk pelayanan keperawatan.
Pasar perlu melihat pelayanan keperawatan. Perlu tahu wujud perlayanan keperawatan yang mandiri, baru mempertimbangkan kebutuhannya untuk membelinya. Pencitraan sangatlah penting. Jadi jangan sampai citra yang sudah dibangun teman-teman terus dihantam dengam isue lainnya, mari kita juga blow up. Semakin mandiri perawat, semakin merdeka organisasi profesi dalam memperjuangkan UU. Kebutuhan UU akan semakin dirasakan oleh masyarakat dan tentu saja oleh para wakilnya di DPR.
Pasar indonesia sangat potensial. Jika kita dapat kembangkan dan ambil pasar ini, perawat semakin sejahtera. Tidak perlu lah kita memperjuangkan ke luar negeri, lha para junior kita juga tidak menginginkan. Kita bangun dulu pasar dalam negeri. Kita kuasai agar tidak jatuh ke bentuk penjajahan baru. Kita ke luar negeri bukan untuk jadi majikan bukan? Kita dapat menjadi majikan di negeri sendiri, kalau sudah kuat,kita juga bisa jadi majikan di negeri orang. MERDEKA.
Read More
Berapakan jumlah rumah sakit di Indonesia. Sejumlah rumah sakit tersebut mampu menampung berapa perawat. Perawat setingkat Ners menempati berapa persen dari kebutuhan tersebut? Apakah lulusan Ners cukup tertampung dalam formasi tersebut?
Berkutat dengan pertanyaan berputar-putar tersebut sungguh memusingkan. Tentu saja bagi para perawat dosen yang memiliki keprihatinan tinggi. Pusing memperhitungkan penyerapan anak didiknya di lapangan kerja. Para pemilik sekolah pusing lebih berlipat kali. Selain ancaman tidak terserapnya lulusan sumber pusing juga berasal dari minimnya input yang berkualitas, biaya proses pembelajaran (terutama klinik) yang mahal, dan tuntutan kesejahteraan staf dan karyawannya.
Beberapa sekolah beralasan dengan mengajukan fakta adanya kebutuhan tinggi keperawatan di luar negeri seperti Jepang dan Amerika. Sayang sekali program-program pendidikan tidak mengarahkan mencapai pasar tersebut. Kalaupun ada, program tersebut juga tidak sukses. Seorang pejabat dari departemen kesehatan dalam sebuah seminar mengatakan, bahwa dari seratus peserta pelatihan hanya tinggal 40 yang yang dapat meneruskan program. Keempatpuluh orang tersebut ketika dites user hanya dapat lolos 3 orang. Kemampuan berbahasa sering dijadikan alasan.
Dulu kami pernah berinvestasi besar dalam mengembangkan kemampuan berbahasa ini. Lembaga bahasa kita libatkan dalam pengembangan kemampuan ini. Hasilnya tetaplah nihil. Mahasiswa tidak termotivasi untuk belajar. Ketika ditanyakan keinginannya bekerja di luar negeri, mahasiswa tersebut yang kebanyakan adalah perempuan menyatakan tidak berminat. Mereka beralasan terlalu jauh, ingin menikah segera, tidak diijinkan orang tua (bisa juga pacar), dan biaya yang tidak mampu dijangkau.
Akar masalah sebenarnya bukan di bahasa atau yang saya sebutkan tadi. Akar masalahnya adalah mental dan karakter. Lingkungan dan kebiasaan telah membentuk mental submisif dan penuh ketakutan terhadap hal baru. Hal tersebut membentuk karakter yang lemah dan enggan menghadapi tantangan. Maka menjadi PNS pun bagaikan tujuan akhir yang patut ditunggu-tunggu dan diperjuangkan meski harus kehilangan banyak waktu dan uang untuk memperoleh jalan lulus. Setelah lulus...wush!! tiba-tiba kedisiplinan, semangat, dan idealisme hilang entah kemana.
Saya memiliki sudut pandang yang lain dalam menghadapi ini. Kita tidak bisa memaksa adik-adik itu pergi merantau, lha kita sendiri tidak pernah merantau jauh apalagi ke luar negeri. Kita bisa memulainya dengan menumbuhkan kesadaran untuk praktik mandiri. Praktik mandiri penuh tantangan, tapi tidak seberat untuk mengirim mereka ke luar negeri. Support mereka masih banyak dan mudah diperoleh. Migrasi ke luar negeri memang berat begitu cerita di Surinamem, maupun cerita tentang TKI kita di luar negeri sana.
Sebagian besar dari kita tentu paling banyak adalah early and late majority. Kelompok ini membutuhkan contoh dulu. Jangan berharap ada inovator. Kitalah para senior, dosen, pembimbing yang jadi inovator. Kita susun model, kita tumbuhkan iklim mentoring. Ini saya contoh dari Wocare Bogor lho.
Proses penciptaan sistem dan pemeliharaan iklim mentoring ini perlu biaya. Sudah layaklah hal itu dihargai dengan materi atau uang. Kita yang sudah terbiasa berwirausaha sangat memperhatikan ini. Tanpa perputaran modal, usaha mandeg dan rugi. Tantangan ini yang sering dianggap enteng oleh teman-teman non wirausahawan. Kebanyakan mereka berpikir cost oriented dengan dasar nilai keperawatan yang altruisme. Sebagai pembelajar entrepreneurship saya mengalami permasalahan shift nilai dari altruis ke komersialis ini. Sungguh amat berat.
Shift mental dari karyawanis menjadi wirausahis ini yang harus dibentuk. Contoh wirausaha untuk keperawatan ini sangatlah banyak. Kita tinggal malakukan saja. Sebagian besar dari perawat juga sudah melakukannya, sayang belum dikemas secara profesional. Seorang teman senior yang berpengalaman dalam hal ini pun memiliki kesan bahwa ketrampilan dan kemahirannya tidak dapat diajarkan. Hal ini karena metode mentoringnya yang kurang tepat sehingga ia merasakan kegagalan dalam suksesinya.
Melalui aktivitas senior yang membangun praktik mandiri dan membentuk sistem yang kuat, secara tidak langsung telah menjadi promotor pelayanan keperawatan. Pasar dapat mengenal bentuk pelayanan keperawatan itu apa (ontologis), bagaimana pelaksanaannya(epistemiologis), dan merasakan manfaatnya (axiologis). Secara tidak langsung pasar terbentuk. Langkah selanjutnya tinggal menciptakan pace maker (multiply factor) sehingga terjadi booming. Sebelum booming terjadi mentee kita sudah siap menangkap. Kalau tidak siap...maka tetap saja...kita kalah cepat...peluang ditangkap oleh yang lain. Jangan salahkan mereka.
Para junior yang sudah siap praktik juga jangan ditakut-takuti dengan UU dan mal praktik. Sudah selayaknya kita lindungi. Kalau perlu sediakan system frenchise (ritel) agar mereka terlindungi. Selain melindungi junior, kita juga akan punya tanggung jawab mengembangkan bisnis mereka karena menyangkut saham dan nana baik klinik milik kita.
Pasar perlu dikembangkan dan dipengaruhi. Pemasaran membutuhkan iklan. Iklam membutuhkan icon atau simbol-simbol. Kita butuh pelayanan mandiri keperawatan yang jadi icon, jadi mercusuar perkembangan keperawatan. Saya bermain-main dengan meramalkan ini terjadi 5 tahun lagi terutama di bidang wound dan holistic care. Wocare, Rumat, Holistic Care di Undip, sudah menjadi inovator. Mereka terus hidup dan inovatif. Saya kira pasar akan semakin merasakan kebutuhan ini. Dalam pameran kecil saya di Unsoed kemarin, banyak yang menanyakan tentang perawatan luka ini. Bahkan mahasiswa pun mulai tertarik. Semakin banyak simbol-simbol beredar di masyarakat semakin jelan bentuk pelayanan keperawatan.
Pasar perlu melihat pelayanan keperawatan. Perlu tahu wujud perlayanan keperawatan yang mandiri, baru mempertimbangkan kebutuhannya untuk membelinya. Pencitraan sangatlah penting. Jadi jangan sampai citra yang sudah dibangun teman-teman terus dihantam dengam isue lainnya, mari kita juga blow up. Semakin mandiri perawat, semakin merdeka organisasi profesi dalam memperjuangkan UU. Kebutuhan UU akan semakin dirasakan oleh masyarakat dan tentu saja oleh para wakilnya di DPR.
Pasar indonesia sangat potensial. Jika kita dapat kembangkan dan ambil pasar ini, perawat semakin sejahtera. Tidak perlu lah kita memperjuangkan ke luar negeri, lha para junior kita juga tidak menginginkan. Kita bangun dulu pasar dalam negeri. Kita kuasai agar tidak jatuh ke bentuk penjajahan baru. Kita ke luar negeri bukan untuk jadi majikan bukan? Kita dapat menjadi majikan di negeri sendiri, kalau sudah kuat,kita juga bisa jadi majikan di negeri orang. MERDEKA.
Jumat, 08 Oktober 2010
Depression
DEFINISI
Depresi adalah gangguan medis yang menyerang tubuh dan pikiran. Juga disebut major depression, major depressive, dan clinical depression dan berdampak pada apa yang anda rasakan, pikirkan, dan kelakuan anda. Depresi dapat menyebabkan variasi emosional dan masalah fisik. Anda mungkin memiliki masalah dalam melakukan aktivitas sehari-hari dan depresi dapat membuat anda merasa jika hidup tidak bernilai.
Lebih dari sekedar perasaan bersedih, depresi bukan sesuatu yang dapat dengan mudah dihilangkan. Depresi adalah penyakit kronis yang biasanya membutuhkan pengobatan jangka panjang seperti halnya diabetes atau tekanan darah tinggi. Banyak orang dengan depresi merasa lebih baik dengan pengobatan medis, konseling atau pengobatan lainnya.
GEJALA
Gejala-gejala depresi antara lain:
• Merasa sedih
• Lekas marah atau frustasi walaupun pada hal yang kecil
• Hilang ketertarikan atau kesenangan pada aktifitas normal
• Mengurangi aktifitas hubungan intim
• Insomnia ataupun terlalu banyak tidur
• Berubahnya selera makan – seringkali kasus depresi mengurangi selera makan dan menyebabkan hilangnya berat badan, tapi pada beberapa orang depresi menyebabkan meningkatnya selera makan dan bertambahnya berat badan.
• Rasa bergejolak atau gelisah
• Lambat dalam berpikir, berbicara, atau bergerak
• Ketidaktegasan, mudah teralihkan, dan berkurangnya konsentrasi
• Lelah dan hilang energi – bahkan tugas kecil membutuhkan usaha yang lebih
• Perasaan tidak berharga atau bersalah dan terpaku pada kesalahan masa lalu atau menyalahkan diri sendiri ketika sesuatu berjalan tidak benar
• Bermasalah dalam berpikir, berkonsentrasi, membuat keputusan dan mengingat sesuatu
• Sering berpikir kematian, penderitaan atau kejatuhan
• Menangis untuk alasan yang tidak jelas
• Memiliki masalah fisik yang tidak terjelaskan seperti sakit punggung atau sakit kepala
• Pada beberapa orang gejala depresi sering merasa sedih atau tidak bahagia tanpa benar-benar tahu mengapa.
Akibat depresi pada setiap orang bervariasi satu sama lain. Garis keturunan, usia, gender dan latar belakang kultur semuanya memiliki peran bagaimana depresi menimpa anda.
Gejala depresi pada anak dan remaja
Biasanya gejala depresi pada anak dan remaja berbeda dengan gejala depresi pada orang dewasa.
• Pada anak yang lebih muda, gejala depresi berupa kesedihan, lekas marah, keputusasaan dan rasa khawatir.
• Gejala pada remaja dan usia belasan adalah gelisah, perasaan marah dan menghindari interaksi sosial.
• Perubahan pikiran adalah tanda depresi yang biasa terjadi pada remaja dan orang dewasa, tapi tidak biasa pada anak yang lebih muda.
• Pada anak dan usia belasan depresi sering terjadi seiring masalah perilaku dan kondisi kesehatan mental lain seperti kegelisahan atau ADHD.
Gejala depresi pada orang dewasa
• Ada orang dewasa yang lebih tua depresi dapat tidak terdiagnosis karena gejalanya – contohnya kelelahan, hilangnya nafsu makan, kesulitan tidur atau hilang ketertarikan pada hubungan intim – dapat berarti disebabkan oleh penyakit lain.
• Orang tua dengan depresi mengatakan mereka tidak puas dengan hidup yang biasa, membosankan, tidak berdaya atau tidak berguna. Mereka selalu ingin berdiam dirumah, daripada pergi bersosialisasi atau mencoba sesuatu yang baru.
• Pikiran atau perasaan ingin bunuh diri pada orang dewasa menjadi tanda serius dari depresi yang tidak dapat diambil tindakan ringan khususnya pada laki-laki. Pada semua orang dengan depresi, tetapi laki-laki dewasa memiliki risiko tinggi untuk bunuh diri.
Penyebab & Faktor Risiko
Penyebab
Tidak diketahui apa yang menyebabkan depresi. Seperti halnya banyak penyakit mental, ini muncul karena banyak faktor antara lain:
• Perbedaan biologis. Orang dengan depresi akan muncul perubahan aktifitas pada otak.
• Neurotransmitter. Secara alami muncul hubungan secara kimiawi pada suasana hati yang memiliki peran pada depresi.
• Harmon. Berubahnya keseimbangan hormon tubuh menjadi pemicu depresi. Perubahan hormon dapat dihasilkan pada tiroid yang bermasalah, menopause dan beberapa kondisi lain.
• Garis keturunan. Depresi muncul pada orang yang memiliki anggota keluarga yang juga mengalami kondisi tersebut. Ilmuan sedang mencoba untuk menemukan gen apa yang mungkin terlibat dalam menyebabkan depresi.
• Kejadian hidup. Kejadian seperti kematian atau kehilangan orang yang dicintai, masalah keuangan dan stress tinggi dapat memicu depresi pada beberapa orang.
• Trauma masa kecil. Kejadian traumatis pada saat anak-anak, bisa dapat menyebabkan perubahan permanent pada otak yang membuat anda lebih rentan depresi.
Faktor risiko
Depresi secara khusus terjadi pada akhir usia 20an akan tetapi sebenarnya dapat terjadi pada semua usia. Meskipun penyebab tepat depresi tidak diketahui, ilmuan telah mengidentifikasi faktor tertentu yang meningkatkan risiko berkembangnya atau memicu munculnya depresi, yaitu:
• Memiliki hubungan biologis dengan orang yang memiliki depresi
• Wanita
• Memiliki kejadian traumatis saat anak-anak
• Memiliki hubungan biologis dengan catatan pecandu alkohol
• Memiliki anggota keluarga yang mengalami kejatuhan
• Memiliki pengalaman kejadian hidup yang memberikan tekanan, seperti kematian orang yang dicintai
• Memiliki banyak teman atau hubungan personal
• Memiliki suasana hati depresi ketika kecil
• Memiliki penyakit serius, seperti kanker, serangan jantung, Alzheimer’s atau HIV/AIDS
• Memiliki sifat tertentu, seperti rendahnya kepercayaan diri dan ketergantungan yang berlebih, mengkritik diri sendiri atau pesimistis
• Penyalahguanan alkohol, nikotin atau obat-obatan terlarang
• Mengambil pengobatan medis atas tekanan darah tinggi yang dimiliki, meminum obat tidur atau pengobatan medis tertentu lainnya (bicara pada dokter anda sebelum berhenti menjalani pengobatan medis tertentu yang anda pikir mengakibatkan berubahnya suasana hati anda)
Pencegahan
Tidak ada cara yang pasti untuk mencegah depresi. Bagaimanapun juga anda sebaiknya mengambil langkah untuk mengontrol stress, untuk meningkatkan ketahanan tubuh anda dan untuk memacu rendahnya kepercayaan diri. Persahabatan dan dukungan sosial khususnya pada waktu krisis akan dapat membantu anda.
Sebagai tambahan, pengobatan yang dilakukan pada gejala awal dapat membantu mencegah depresi menjadi lebih buruk. Perawatan jangka panjang juga membantu mencegah kembuhnya gejala depresi.
Read More
Depresi adalah gangguan medis yang menyerang tubuh dan pikiran. Juga disebut major depression, major depressive, dan clinical depression dan berdampak pada apa yang anda rasakan, pikirkan, dan kelakuan anda. Depresi dapat menyebabkan variasi emosional dan masalah fisik. Anda mungkin memiliki masalah dalam melakukan aktivitas sehari-hari dan depresi dapat membuat anda merasa jika hidup tidak bernilai.
Lebih dari sekedar perasaan bersedih, depresi bukan sesuatu yang dapat dengan mudah dihilangkan. Depresi adalah penyakit kronis yang biasanya membutuhkan pengobatan jangka panjang seperti halnya diabetes atau tekanan darah tinggi. Banyak orang dengan depresi merasa lebih baik dengan pengobatan medis, konseling atau pengobatan lainnya.
GEJALA
Gejala-gejala depresi antara lain:
• Merasa sedih
• Lekas marah atau frustasi walaupun pada hal yang kecil
• Hilang ketertarikan atau kesenangan pada aktifitas normal
• Mengurangi aktifitas hubungan intim
• Insomnia ataupun terlalu banyak tidur
• Berubahnya selera makan – seringkali kasus depresi mengurangi selera makan dan menyebabkan hilangnya berat badan, tapi pada beberapa orang depresi menyebabkan meningkatnya selera makan dan bertambahnya berat badan.
• Rasa bergejolak atau gelisah
• Lambat dalam berpikir, berbicara, atau bergerak
• Ketidaktegasan, mudah teralihkan, dan berkurangnya konsentrasi
• Lelah dan hilang energi – bahkan tugas kecil membutuhkan usaha yang lebih
• Perasaan tidak berharga atau bersalah dan terpaku pada kesalahan masa lalu atau menyalahkan diri sendiri ketika sesuatu berjalan tidak benar
• Bermasalah dalam berpikir, berkonsentrasi, membuat keputusan dan mengingat sesuatu
• Sering berpikir kematian, penderitaan atau kejatuhan
• Menangis untuk alasan yang tidak jelas
• Memiliki masalah fisik yang tidak terjelaskan seperti sakit punggung atau sakit kepala
• Pada beberapa orang gejala depresi sering merasa sedih atau tidak bahagia tanpa benar-benar tahu mengapa.
Akibat depresi pada setiap orang bervariasi satu sama lain. Garis keturunan, usia, gender dan latar belakang kultur semuanya memiliki peran bagaimana depresi menimpa anda.
Gejala depresi pada anak dan remaja
Biasanya gejala depresi pada anak dan remaja berbeda dengan gejala depresi pada orang dewasa.
• Pada anak yang lebih muda, gejala depresi berupa kesedihan, lekas marah, keputusasaan dan rasa khawatir.
• Gejala pada remaja dan usia belasan adalah gelisah, perasaan marah dan menghindari interaksi sosial.
• Perubahan pikiran adalah tanda depresi yang biasa terjadi pada remaja dan orang dewasa, tapi tidak biasa pada anak yang lebih muda.
• Pada anak dan usia belasan depresi sering terjadi seiring masalah perilaku dan kondisi kesehatan mental lain seperti kegelisahan atau ADHD.
Gejala depresi pada orang dewasa
• Ada orang dewasa yang lebih tua depresi dapat tidak terdiagnosis karena gejalanya – contohnya kelelahan, hilangnya nafsu makan, kesulitan tidur atau hilang ketertarikan pada hubungan intim – dapat berarti disebabkan oleh penyakit lain.
• Orang tua dengan depresi mengatakan mereka tidak puas dengan hidup yang biasa, membosankan, tidak berdaya atau tidak berguna. Mereka selalu ingin berdiam dirumah, daripada pergi bersosialisasi atau mencoba sesuatu yang baru.
• Pikiran atau perasaan ingin bunuh diri pada orang dewasa menjadi tanda serius dari depresi yang tidak dapat diambil tindakan ringan khususnya pada laki-laki. Pada semua orang dengan depresi, tetapi laki-laki dewasa memiliki risiko tinggi untuk bunuh diri.
Penyebab & Faktor Risiko
Penyebab
Tidak diketahui apa yang menyebabkan depresi. Seperti halnya banyak penyakit mental, ini muncul karena banyak faktor antara lain:
• Perbedaan biologis. Orang dengan depresi akan muncul perubahan aktifitas pada otak.
• Neurotransmitter. Secara alami muncul hubungan secara kimiawi pada suasana hati yang memiliki peran pada depresi.
• Harmon. Berubahnya keseimbangan hormon tubuh menjadi pemicu depresi. Perubahan hormon dapat dihasilkan pada tiroid yang bermasalah, menopause dan beberapa kondisi lain.
• Garis keturunan. Depresi muncul pada orang yang memiliki anggota keluarga yang juga mengalami kondisi tersebut. Ilmuan sedang mencoba untuk menemukan gen apa yang mungkin terlibat dalam menyebabkan depresi.
• Kejadian hidup. Kejadian seperti kematian atau kehilangan orang yang dicintai, masalah keuangan dan stress tinggi dapat memicu depresi pada beberapa orang.
• Trauma masa kecil. Kejadian traumatis pada saat anak-anak, bisa dapat menyebabkan perubahan permanent pada otak yang membuat anda lebih rentan depresi.
Faktor risiko
Depresi secara khusus terjadi pada akhir usia 20an akan tetapi sebenarnya dapat terjadi pada semua usia. Meskipun penyebab tepat depresi tidak diketahui, ilmuan telah mengidentifikasi faktor tertentu yang meningkatkan risiko berkembangnya atau memicu munculnya depresi, yaitu:
• Memiliki hubungan biologis dengan orang yang memiliki depresi
• Wanita
• Memiliki kejadian traumatis saat anak-anak
• Memiliki hubungan biologis dengan catatan pecandu alkohol
• Memiliki anggota keluarga yang mengalami kejatuhan
• Memiliki pengalaman kejadian hidup yang memberikan tekanan, seperti kematian orang yang dicintai
• Memiliki banyak teman atau hubungan personal
• Memiliki suasana hati depresi ketika kecil
• Memiliki penyakit serius, seperti kanker, serangan jantung, Alzheimer’s atau HIV/AIDS
• Memiliki sifat tertentu, seperti rendahnya kepercayaan diri dan ketergantungan yang berlebih, mengkritik diri sendiri atau pesimistis
• Penyalahguanan alkohol, nikotin atau obat-obatan terlarang
• Mengambil pengobatan medis atas tekanan darah tinggi yang dimiliki, meminum obat tidur atau pengobatan medis tertentu lainnya (bicara pada dokter anda sebelum berhenti menjalani pengobatan medis tertentu yang anda pikir mengakibatkan berubahnya suasana hati anda)
Pencegahan
Tidak ada cara yang pasti untuk mencegah depresi. Bagaimanapun juga anda sebaiknya mengambil langkah untuk mengontrol stress, untuk meningkatkan ketahanan tubuh anda dan untuk memacu rendahnya kepercayaan diri. Persahabatan dan dukungan sosial khususnya pada waktu krisis akan dapat membantu anda.
Sebagai tambahan, pengobatan yang dilakukan pada gejala awal dapat membantu mencegah depresi menjadi lebih buruk. Perawatan jangka panjang juga membantu mencegah kembuhnya gejala depresi.
Penerimaan Perawat/ Nurse ( Kagoshi) ke Jepang September 2010
Bagi rakyat indonesia yang berminat bekerja ke Jepang, khusus tenaga Perawat/ Nurse (Kangoshi) maka terbuka lebar kesempatan untuk mendaftar pada Program Government to Government (G to G), yang dilakukan Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Jepang.
Pendaftaran Nurse (Kangoshi) dilaksanakan di Puspronakes LN, Kementerian Kesehatan, dari tanggal 22 Nopember sampai 17 Desember 2010, dengan Alamat
Read More
Pendaftaran Nurse (Kangoshi) dilaksanakan di Puspronakes LN, Kementerian Kesehatan, dari tanggal 22 Nopember sampai 17 Desember 2010, dengan Alamat
Kamis, 07 Oktober 2010
Tips Cegah Kaki Beraroma Tidak Sedap
Khaidirmuhaj.blogspot.com - Aroma tak sedap pada kaki, meski tak tergolong penyakit akut, tentunya akan membuat Anda kerap merasa malu dan tak percaya diri, terlebih saat bertandang ke suatu tempat yang mengharuskan Anda melepas alas kaki.
Apa sih sebenarnya yang menyebabkan timbulnya bau kaki? Aroma tak sedap pada kaki diketahui berasal dari bakteri yang mengendap pada kaki karena
Read More
Apa sih sebenarnya yang menyebabkan timbulnya bau kaki? Aroma tak sedap pada kaki diketahui berasal dari bakteri yang mengendap pada kaki karena
Langganan:
Postingan
(
Atom
)
Blog Archive
-
2015
(10)
- 10/11 - 10/18 (1)
- 09/13 - 09/20 (1)
- 09/06 - 09/13 (1)
- 07/05 - 07/12 (1)
- 05/17 - 05/24 (6)
-
2014
(1)
- 04/13 - 04/20 (1)
-
2012
(770)
- 02/19 - 02/26 (5)
- 02/12 - 02/19 (10)
- 02/05 - 02/12 (4)
- 01/29 - 02/05 (27)
- 01/22 - 01/29 (88)
- 01/15 - 01/22 (101)
- 01/08 - 01/15 (169)
- 01/01 - 01/08 (366)
-
2011
(4477)
- 12/25 - 01/01 (336)
- 12/18 - 12/25 (62)
- 12/11 - 12/18 (70)
- 12/04 - 12/11 (77)
- 11/27 - 12/04 (40)
- 11/20 - 11/27 (67)
- 11/13 - 11/20 (198)
- 11/06 - 11/13 (187)
- 10/30 - 11/06 (340)
- 10/23 - 10/30 (32)
- 10/16 - 10/23 (109)
- 10/09 - 10/16 (80)
- 08/14 - 08/21 (75)
- 08/07 - 08/14 (81)
- 07/31 - 08/07 (82)
- 07/24 - 07/31 (65)
- 07/17 - 07/24 (91)
- 07/10 - 07/17 (47)
- 07/03 - 07/10 (44)
- 06/26 - 07/03 (53)
- 06/19 - 06/26 (59)
- 06/12 - 06/19 (47)
- 06/05 - 06/12 (65)
- 05/29 - 06/05 (63)
- 05/22 - 05/29 (77)
- 05/15 - 05/22 (115)
- 05/08 - 05/15 (65)
- 05/01 - 05/08 (104)
- 04/24 - 05/01 (45)
- 04/17 - 04/24 (70)
- 04/10 - 04/17 (134)
- 04/03 - 04/10 (72)
- 03/27 - 04/03 (18)
- 03/20 - 03/27 (47)
- 03/13 - 03/20 (68)
- 03/06 - 03/13 (40)
- 02/27 - 03/06 (56)
- 02/20 - 02/27 (77)
- 02/13 - 02/20 (76)
- 02/06 - 02/13 (198)
- 01/30 - 02/06 (194)
- 01/23 - 01/30 (132)
- 01/16 - 01/23 (196)
- 01/09 - 01/16 (202)
- 01/02 - 01/09 (121)
-
2010
(2535)
- 12/26 - 01/02 (156)
- 12/19 - 12/26 (65)
- 12/12 - 12/19 (73)
- 12/05 - 12/12 (84)
- 11/28 - 12/05 (80)
- 11/21 - 11/28 (68)
- 11/14 - 11/21 (63)
- 11/07 - 11/14 (50)
- 10/31 - 11/07 (50)
- 10/24 - 10/31 (36)
- 10/17 - 10/24 (58)
- 10/10 - 10/17 (35)
- 10/03 - 10/10 (31)
- 09/26 - 10/03 (21)
- 09/19 - 09/26 (26)
- 09/12 - 09/19 (55)
- 09/05 - 09/12 (65)
- 08/29 - 09/05 (33)
- 08/22 - 08/29 (70)
- 08/15 - 08/22 (45)
- 08/08 - 08/15 (35)
- 08/01 - 08/08 (37)
- 07/25 - 08/01 (27)
- 07/18 - 07/25 (19)
- 07/11 - 07/18 (30)
- 07/04 - 07/11 (56)
- 06/27 - 07/04 (28)
- 06/20 - 06/27 (22)
- 06/13 - 06/20 (30)
- 06/06 - 06/13 (21)
- 05/30 - 06/06 (5)
- 05/16 - 05/23 (6)
- 05/09 - 05/16 (29)
- 05/02 - 05/09 (59)
- 04/25 - 05/02 (28)
- 04/18 - 04/25 (38)
- 04/11 - 04/18 (70)
- 04/04 - 04/11 (59)
- 03/28 - 04/04 (65)
- 03/21 - 03/28 (89)
- 03/14 - 03/21 (218)
- 03/07 - 03/14 (95)
- 02/28 - 03/07 (135)
- 02/21 - 02/28 (102)
- 01/03 - 01/10 (68)
-
2009
(1652)
- 12/27 - 01/03 (36)
- 12/20 - 12/27 (22)
- 12/13 - 12/20 (100)
- 12/06 - 12/13 (45)
- 11/29 - 12/06 (24)
- 11/22 - 11/29 (22)
- 11/15 - 11/22 (19)
- 11/08 - 11/15 (28)
- 11/01 - 11/08 (11)
- 10/25 - 11/01 (17)
- 10/18 - 10/25 (38)
- 10/11 - 10/18 (33)
- 10/04 - 10/11 (15)
- 09/27 - 10/04 (21)
- 09/20 - 09/27 (7)
- 09/13 - 09/20 (84)
- 09/06 - 09/13 (35)
- 08/30 - 09/06 (48)
- 08/23 - 08/30 (118)
- 08/16 - 08/23 (26)
- 08/09 - 08/16 (34)
- 08/02 - 08/09 (35)
- 07/26 - 08/02 (31)
- 07/19 - 07/26 (14)
- 07/12 - 07/19 (16)
- 07/05 - 07/12 (28)
- 06/28 - 07/05 (26)
- 06/21 - 06/28 (76)
- 06/14 - 06/21 (26)
- 06/07 - 06/14 (21)
- 05/31 - 06/07 (43)
- 05/24 - 05/31 (38)
- 05/17 - 05/24 (26)
- 05/10 - 05/17 (52)
- 05/03 - 05/10 (15)
- 04/26 - 05/03 (38)
- 04/19 - 04/26 (32)
- 04/12 - 04/19 (22)
- 04/05 - 04/12 (20)
- 03/29 - 04/05 (40)
- 03/22 - 03/29 (43)
- 03/15 - 03/22 (18)
- 03/08 - 03/15 (14)
- 03/01 - 03/08 (22)
- 02/22 - 03/01 (12)
- 02/15 - 02/22 (9)
- 02/08 - 02/15 (11)
- 02/01 - 02/08 (19)
- 01/25 - 02/01 (37)
- 01/18 - 01/25 (21)
- 01/11 - 01/18 (33)
- 01/04 - 01/11 (31)
-
2008
(700)
- 12/28 - 01/04 (13)
- 12/21 - 12/28 (9)
- 12/14 - 12/21 (57)
- 12/07 - 12/14 (5)
- 11/30 - 12/07 (18)
- 11/23 - 11/30 (33)
- 11/16 - 11/23 (31)
- 11/09 - 11/16 (23)
- 11/02 - 11/09 (18)
- 10/26 - 11/02 (11)
- 10/19 - 10/26 (15)
- 10/12 - 10/19 (13)
- 10/05 - 10/12 (25)
- 09/28 - 10/05 (2)
- 09/21 - 09/28 (14)
- 09/14 - 09/21 (19)
- 09/07 - 09/14 (43)
- 08/31 - 09/07 (3)
- 08/24 - 08/31 (33)
- 08/17 - 08/24 (65)
- 08/10 - 08/17 (4)
- 08/03 - 08/10 (26)
- 07/27 - 08/03 (6)
- 07/20 - 07/27 (19)
- 07/13 - 07/20 (18)
- 07/06 - 07/13 (60)
- 06/29 - 07/06 (53)
- 06/22 - 06/29 (49)
- 06/15 - 06/22 (11)
- 06/08 - 06/15 (4)
Popular Posts
-
Konsep Teori Transkultural dalam Keperawatan APLIKASI TEORI TRANSCULTURAL NURSING DALAM PROSES KEPERAWATAN Rahayu Iskandar, Ners, M.Kep PEND...
-
Setelah beberapa minggu ini cari materi buat postingan baru, mendadak dapat inspirasi setelah rekan Anton Wijaya menulis di buku tamu Keper...
-
KTI KEBIDANAN HUBUNGAN USIA TERHADAP PERDARAHAN POSTPARTUM DI RSUD BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan wanita merupakan hal yang s...
-
PATHWAY ASFIKSIA NEONATORUM Klik pada gambar untuk melihat pathway Download Pathway Asfiksia Neonatorum Via Ziddu Download Askep Asfiksia N...
-
PROSES KEPERAWATAN KOMUNITAS Pengertian - Proses keperawatan adalah serangkaian perbuatan atau tindakan untuk menetapkan, merencana...
-
Konsep Dasar Diagnosa Keperawatan Aktual BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sebagai suatu aspek yang terpenting dalam proses kepera...
-
Prelevansi penyakit kulit di Indonesia cukup tinggi baik oleh bakteri, virus atau jamur. Selain itu bergantung pada lingkungan dan kondisi...
-
Pathway Hematemesis Melena Klik pada gambar untuk melihat pathway Download Pathway Hematemesis Melena Via Ziddu
-
DEFINISI Ikterus ialah suatu gejala yang perlu mendapat perhatian sungguh-sungguh pada neonatus. Ikterus ialah suatu diskolorasi kuning pa...
-
Gangguan Masalah Eliminasi ALVI Konstipasi Konstipasi merupakan keadaan individu yang mengalami atau berisiko tinggi mengalami stasis usus b...
© ASUHAN KEPERAWATAN 2013 . Powered by Bootstrap , Blogger templates and RWD Testing Tool Published..Gooyaabi Templates
