• home

ASUHAN KEPERAWATAN

  • HOME
  • DOWNLOAD ASUHAN KEPERAWATAN
  • Cara Mendapatkan Password

Sabtu, 19 Februari 2011

Penyakit Muntaber atau Vibrio Parahaemolyticus Enteritis

Tidak ada komentar : di 10.23 Label: Muntaber , Penyakit muntaber

Penyakit Muntaber

Penyakit Muntaber atau Vibrio Parahaemolyticus Enteritis adalah keadaan di mana seseorang menderita muntah-muntah disertai buang air besar berkali-kali. Kejadian itu dapat berulang tiga sampai lebih sepuluh kali dalam sehari. Terjadi perubahan bentuk dan konsistensi dari tinja, melembek sampai mencair, yang kadang juga mengandung darah atau lendir. Lazimnya, penyakit muntaber memang menyerang anak-anak, terutama pada usia dua hingga delapan tahun. Mereka mudah tertular karena daya tahan tubuhnya belum sekuat orang dewasa.

Penyebab utama penyakit muntaber adalah peradangan usus oleh bakteri, virus, parasit lain (jamur, cacing, protozoa), keracunan makanan atau minuman yang disebabkan oleh bakteri maupun bahan kimia serta kurang gizi, misalnya kelaparan atau kekurangan protein. Penyakit yang dapat disebabkan oleh bakteri Escherichia coli ini dapat mewabah akibat lingkungan sekitar tempat tinggal yang kurang bersih serta makanan yang dikonsumsi terkontaminasi bakteri. Sistem sanitasi yang tidak terjaga dengan baik juga memudahkan kuman untuk berkembang biak. Hujan yang terus menerus sehingga menimbulkan banjir dan lingkungan yang kotor, sangat potensial menimbulkan wabah muntaber.

Selain itu, penyakit muntaber juga dapat disebabkan oleh virus Vibrio parahaemolyticus yang termasuk jenis vibrio halofilik dan telah diidentifikasi ada 12 grup antigen “O” dan sekitar 60 tipe antigen “K” yang berbeda. Strain patogen pada umumnya (tetapi tidak selalu) dapat menimbulkan reaksi hemolitik yang khas (fenomena Kanagawa). Masa inkubasi Vibrio parahaemolyticus biasanya antara 12 – 24 jam, tetapi dapat berkisar antara 4 – 30 jam.

Banyak diantara penderita muntaber yang melakukan terapi-terapi dalam mengatasi penyakit yang dialaminya. Baik sendiri maupun dengan ditangani dokter. Beberapa metode dalam penatalaksanaan muntaber pada penderita ialah dengan terapi pencegahan dan terapi pengobatan. Terapi pencegahan dilakukan dengan perbaikan kebiasaan-kebiasaan hidup masyarakat terhadap lingkungan tempat tinggalnya sebelum terjadinya penyakit muntaber tersebut. Sedangkan terapi pengobatan berupa terapi yang diberikan pada penderita muntaber yang sudah terjangkit penyakit muntaber agar penyakit tersebut dapat diatasi dan tidak terjadi sakit yang lebih parah.

Sumber: http://obatpropolis.com/penyakit-muntaber-atau-vibrio-parahaemolyticus-enteritis
Read More

Jumat, 18 Februari 2011

Pengetahuan dan sikap remaja tentang bahaya seks bebas di SMA

di 22.28 Label: Contoh KTI Kebidanan
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Remaja merupakan salah satu tahap dalam kehidupan dari masa kanak-kanak kemasa dewasa, suatu tahap perkembangan sudah dimulai namun yang pasti setiap laki-laki maupun perempuan akan mengalami suatu perubahan-perubahan yang terjadi pada remaja adalah munculnya dorongan-dorongan seks, perasaan yang terjadi pada remaja menimbulkan berbagai bentuk ekspresi hubungan seks (Pangkahila, 1998). Sudut pandang kesehatan masalah yang sangat mengkhawatirkan pada masa kelompok usia remaja adalah masalah yang berkaitan dengan seks bebas (unprotected sexuality), penyebaran Penyakit Menular Seksual (PMS), kehamilan diluar nikah atau kehamilan yang tidak diinginan dari kalangan remaja (adolocent unwanted Pregnancey) dan aborsi yang tidak aman (Laksmiwati, 1999).
Dikalangan remaja telah terjadi revolusi dalam hubungan seksual menuju kearah liberalisasi tanpa batas. Kebanggaan terhadap kemampuan untuk mempertahankan kegadisan sampai pada pelaminan telah sirna, oleh karena kedua belah pihak saling menerima kedudukan baru dalam seni pergaulan hidupnya. Informasi yang cepat dalam berbagai bentuk telah menyebabkan dunia semakin menjadi milik remaja. Informasi tentang kebudayaan hubungan seksual telah mempengaruhi kaum remaja Indonesia, sehingga telah tejradi suatu revolusi yang menjurus makin bebasnya hubungan seksual pranikah (Manuaba, 1998).
Data demografi menunjukkan bahwa remaja merupakan populasi yang besar dari penduduk dunia menurut Worl Health Organization (WHO) pada tahun 1995 sekitar seperlima dari penduduk dunia adalah remaja berumur 10-19 tahun. Sektiar 900 juta berada dinegara sedang berkembang. Data demografi di Amerika Serikat (1990) menunjukkan jumlah remaja berumur 10-19 tahun sekitar 15% populasi. Jumlah penduduk di Asia Pasifik merupakan 60% dari penduduk dunia, seperlimanya adalah remaja umur 10-19 tahun. Menurut Biro Pusat Statistik (1999) di Indonesia kelompok umur 10-19 tahun adalah sekitar 22%, yang terdiri dari 50,9% remaja laki-laki dan 49,1% remaja perempuan (Seotjiiningsih, 2004).
Praktik seks bebas (free sex) yang menjalar dikalangan remaja zaman sekarang telah menjadi problem serius. Berubahnya orientasi seks dari sesuatu yang sangat pribadi dan tertutup lalu kini dibuka lebar-lebar, seolah menjadi fenomena umum remaja modern. Mereka menjadi begitu permisif untuk saling menyentuh, bergandengan, berpelukan, Petting (bercumbu tanpa melakukan coitus) dan bahkan bersenggama dengan lawan jenis. Memang tidak semua remaja melakukan hal itu (www.pikiran-rakyat.com)
Kasus Infeksi Menular Seksual (IMS) di Amerika Serikat yang dilaporkan setahunnya terjadi 20 juta kasus IMS, 30% adalah remaja, dan lebih dari 50% merupakan kelompok remaja dan dewasa muda yaitu umur dibawah 25 tahun. Hampir diseluruh Inggris terjadi peningkatan insidensi IMS dan terjadi terutama pada kelompok remaja. Pada tahun 2000, dari seluruh infeksi klamidia tercatat 34% dan 40% dari Ghonorhoe pada perempuan dewasa, terdapat pada remaja perempuan. Berbagai laporan di Indonesia menunjukkan bahwa kelompok umur paling banyak menderita IMS adalah kelompok umur muda. Selama 2 tahun (1993-1994) di Rumah Sakit Pringadi Medan untuk penyakit kondiloma akuminata tercatat 35,4% adalah penderita kelompok umur 20-24 tahun, 33,3% dari kelompok umur 25-29 tahun. Selama 4 tahun (1990-1994) di Rumah Sakit Dr.Kariadi Semarang tercatat 3803 kasus IMS pada unit rawat jalan,1325 kasus(38,8%) adalah penderita umur 15-24 tahun,dan tercatat 1768 orang (46,5%) adalah umur 25-34 tahun. Demikian juga halnya di Rumah Sakit Umum Pemerintah Sanglah Denpasar, tercatat 59,1% dari penderita IMS yang tercatat antara tahun 1995-1997 adalah kelompok remaja. (Soetjiningsih, 2004)
Berdasarkan penelitian di berbagai kota besar di Indonesia, sekitar 20%-30% remaja mengaku pernah melakukan hubungan seks. Ancaman pola hidup seks bebas remaja secara umum baik dipondokan atau kos-kosan tampaknya berkembang semakin serius. Pakar seks di Jakarta mengungkapkan, dari tahun ke tahun data remaja yang melakukan hubungan seks bebas semakin meningkat. Dari sekitar 5% pada tahun 1980-an, menjadi 20% pada tahun 2000. Kisaran angka tersebut, menurut Dr.Boyke, dikumpulkan dari berbagai penelitian dibeberapa kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Palu, dan Banjarmasin. Bahkan di Pulau Palu, Sulawesi Tenggara, pada tahun 2000 lalu tercatat remaja yang pernah melakukan hubungan seks pra nikah mencapai 29,9%. (Majalah Gemari, 2001)
Dilihat dari sisi kesehatan, bahaya perilaku seks bebas bisa menimbulkan berbagai gangguan. Diantaranya, terjadi kehamilan yang tidak diinginkan. Selain tentunya kecenderungan untuk aborsi, juga menjadi salah satu penyebab munculnya anak-anak yang tidak diinginkan. Seks bebas juga bisa meningkatkan resiko kanker mulut rahim. Jika hubungan seks tersebut dilakukan sebelum usia 17 tahun, resiko terkena penyakit tersebut bisa mencapai empat hingga lima kali lipat. Selain itu, bahaya seks bebas akan meningkatkan kasus penyakit menular seksual, seperti sipilis, Ghonorhoe (GO), hingga Humman Immunodeficiency Virus (HIV) atau Acquired Immune Deficiency Syndrom (AIDS). (Majalah Gemari, 2001).
Hasil survey yang dilakukan peneliti pada tanggal 13 April di SMA Teladan menunjukkan bahwa pengetahuan siswa tentang bahaya seks bebas dalam kategori cukup atau 57 %.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah maka penulis mengambil Rumusan Masalah yaitu “Bagaimanakah pengetahuan dan sikap remaja tentang bahaya seks bebas di SMA Teladan Metro?”

C. Ruang Lingkup
1. Sifat Penelitian : Deskriptif
2. Subjek Penelitian : Remaja di SMA Teladan Metro
3. Objek Penelitian : Pengetahuan dan sikap remaja tentang bahaya seks bebas di SMA Teladan Metro
4. Lokasi Penelitian : Di SMA Teladan Metro
5. Waktu Penelitian : 24 April – 20 Mei 2006

D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Adapun tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengetahuan dan sikap remaja tentang bahaya seks bebas di SMA Teladan Metro
2. Tujuan Khusus
Dengan memperhatikan masalah dan permasalahan dikemukakan diatas maka tujuan khusus dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Diketahuinya pengetahuan remaja tentang bahaya seks bebas di SMA Teladan Metro
b. Diketahuinya sikap remaja tentang bahaya seks bebas di SMA Teladan Metro

E. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi:
1. Bagi Remaja
Untuk menambah pengetahuan dan pemahaman bagi remaja tentang bahaya seks bebas.
2. Bagi SMA Teladan Metro
Dengan adanya penelitian ini maka penulis berharap bahwa penelitian ini akan bermanfaat dan berguna untuk dijadikan bahan masukan bagi penelitian selanjutnya.
3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Sebagai sumber referensi dan bacaan untuk peneliti selanjutnya dalam kaitannya dengan pengetahuan dan sikap remaja tentang bahaya seks bebas.

Read More

Pengetahuan dan sikap remaja putri tentang menstruasi pada siswi kelas II SMP

di 22.25 Label: Contoh KTI Kebidanan
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Tujuan jangka panjang pembangunan di bidang kesehatan adalah menciptakan Indonesia Sehat 2010, bukan hanya sehat fisik tetapi juga sehat psikologis. Salah satu sasaran yang ditetapkan untuk tahun 2010 adalah meningkatkan kesehatan reproduksi. Upaya menuju tersedianya Standar Pelayanan Medik dalam bidang kesehatan reproduksi telah dilaksanakan melalui berbagai kegiatan strategik dalam tahun-tahun terakhir, yang dimulai dengan dibentuknya Jaringan Nasional Pelatihan Klinik Kesehatan Reproduksi (JNPK-KR) serta diperkenalkannya pelatihan berdasarkan kompetensi pada tahun 1993 (Sarwono, 2003:5).
Berapa tahun terakhir masalah kesehatan reproduksi remaja menjadi kepudilian Nasional karena disadari bahwa remaja dalam hidupnya menghadapi berbagai masalah khusus yang membutuhkan perhatian yang khusus pula. Kebutuhan terhadap kesehatan reproduksi remaja sebenarnya merupakan permasalahan dunia, akan tetapi di negara kita hal ini tidak mendapatkan perhatian yang memadai (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI),2000:3).
Program kesehatan reproduksi remaja merupakan upaya untuk membantu remaja agar memiliki pengetahuan, kesadaran, sikap dan perilaku kehidupan reproduksi sehat dan bertanggungjawab. Kesehatan reproduksi ini tidak saja bebas dari penyakit dan kecacatan, namun juga sehat mental dan sosial dari alat, sistem, fungsi serta proses reproduksi (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN),2001:1).
Masalah kesehatan reproduksi yang sering dialami oleh remaja salah satunya tentang menstruasi. Masalah menstruasi sering membuat remaja cemas, was-was dan kurang percaya diri.
Remaja putri pada umumnya belajar tentang menstruasi dari ibunya, tapi sayang tidak semua ibu memberikan informasi yang memadai kepada putrinya bahkan sebagian enggan membicarakan secara terbuka. Menghadapi hal ini menimbulkan kecemasan pada anak, bahkan sering tumbuh keyakinan bahwa menstruasi itu sesuatu yang tidak menyenangkan atau serius. Mereka juga mengembangkan sikap negatif tentang menstruasi. Ia mungkin merasa malu dan melihatnya sebagai penyakit. Khususnya jika ketika mengalaminya ia merasa letih atau terganggu. Pandangan negatif tentang menstruasi berlanjut sampai menjelang dewasa (Liewellyn & Jones, 1997:33).
Panjang siklus menstruasi yang normal atau dianggap sebagai siklus menstruasi yang khas ialah 28 hari, tetapi variasinya cukup luas, bukan saja antara beberapa wanita tetapi juga pada wanita yang sama. Juga pada kakak beradik bahkan saudara kembar, siklusnya tidak terlalu sama. Rata-rata panjang siklus menstruasi pada gadis usia 12 tahun ialah 25,1 hari. Lama menstruasi biasanya antara 3-8 hari, pada setiap wanita biasanya lama menstruasi itu tetap (Sarwono, 2002 :103).
Dua hari sebelum menstruasi dimulai, banyak wanita merasa tidak enak badan, mereka mengalami pusing-pusing, perut kembung, letih atau mudah tersinggung dan mungkin merasakan tekanan di daerah pinggul, umumnya gejala hilang ketika menstruasi dimulai (Llewellyn & Jones, 1997 : 34).
Remaja putri yang secara emosional tidak stabil, apalagi jika mereka tidak mendapat penerangan yang baik tentang proses menstruasi, mudah sekali timbul dismenorea (Sarwono, 2002:230).
Menghadapi menstruasi tersebut para remaja diharapkan mengetahaui tentang menstruasi yang normal. Tidak sedikit para remaja yang belum mengetahui tentang menstruasi, sehingga akan berpengaruh terhadap remaja dalam menjalankan masa kedewasaannya. Apalagi pokok bahasan tentang mentruasi tidak di bahas, meskipun tentang kesehatan reproduksi sudah di bahas namun belum mengupas secara mendalam.
Berdasarkan hasil study pendahuluan yang dilakukan terhadap remaja putri siswi kelas II SMP Negeri 3 Metro, penulis temukan berjumlah 13 siswi mengalami siklus menstruasi panjang, 14 siswi mengalami sakit atau nyeri perut saat menstruasi. Menghadapi menstruasi tersebut mereka merasa resah, cemas, was-was, lebih dan terganggu. Sindroma pra-menstruasi yang sering dialami siswi ialah mudah marah 13 orang, pusing dan mual 10 orang serta payudara sakit 4 orang, dalam menghadapi menstruasi tersebut mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan, bahkan untuk berbicara kepada orang tua mereka malu, serta mereka mengatakan belum pernah mendapatkan penyuluhan tentang menstruasi.
Berdasarkan uraian di atas pentingnya pengetahuan remaja putri tentang menstruasi sejak dini, sudah dapat diberikan khusuanya para remaja putri siswi kelas II SMP Negeri 3 Metro. Mengingat masih banyak remaja putri yang belum mengerti tentang menstruasi, maka penulis tertarik melakukan penelitian untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan dan sikap remaja putri tentang menstruasi pada siswi kelas II SMP Negeri 3 Metro.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian dari latar belakang masalah, maka yang menjadi permasalah penulis yang nantinya akan diteliti pada Karya Tulis Ilmiah ini adalah “Bagaimanakah Pengetahuan dan Sikap Remaja Putri tentang Menstruasi pada siswi kelas II SMP Negeri 3 Metro?”.

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Memperolehnya gambaran pengetahuan dan sikap remaja putri tentang menstruasi pada siswi kelas II SMP Negeri 3 Metro.
2. Tujuan Khusus
a. Memperolehnya gambaran pengetahuan remaja putri tentang menstruasi pada siswi kelas II SMP Negeri 3 Metro.
b. Memperolehnya gambaran sikap remaja putri tentang menstruasi pada pada siswi kelas II SMP Negeri 3 Metro.
D. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini penulis membatasi ruang lingkup penelitian sebagai berikut :
1. Jenis Penelitian : Deskriptif
2. Subjek Penelitian : Siswi kelas II SMP Negeri 3 Metro
3. Objek Penelitian : Pengetahuan dan Sikap Remaja Putri tentang Menstruasi
4. Lokasi Penelitian : SMP Negeri 3 Metro
5. Waktu Penelitian : Penelitian dilakukan tanggal 13 Maret 2006 s.d
21 Juni 2006

E. Manfaat Penelitian
1. Bagi Remaja Putri Siswi Kelas II SMP Negeri 3 Metro
Diharapkan hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan pemahaman remaja putri siswi kelas II SMP Negeri 3 Metro tentang menstruasi sehingga mampu mengatasi rasa kekhawatiran yang mereka alami.
2. Bagi Institusi Pendidikan SMP Negeri 3 Metro
Sebagai bahan bacaan untuk menambah pengetahuan guru mengenai menstruasi
3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Sebagai bahan bacaan dan informasi untuk peneliti selanjutnya

Read More

Pengetahuan ibu mengenai kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) di puskesmas

di 20.06 Label: Contoh KTI Kebidanan
BAB I

PENDAHULUAN



A. Latar Belakang

Sejak dirumuskannya tujuan “kesehatan bagi semua pada tahun 2000”, semua negara di dunia berusaha untuk memperkuat dan memperluas sistem pemeliharaan kesehatan dasar (PKD) negaranya. Deklarasi Alma Ata. pada tahun 1978 memperkenalkan delapan unsur utama pemeliharaan kesehatan dasar, yaitu pendidikan tentang cara mengenali dan mengatasi masalah kesehatan beserta upaya pencegahan dan pengendaliaannya; peningkatan penyediaan makanan dan gizi yang cukup; penyediaan air bersih dan sanitasi dasar;pemeliharaan kesehatan ibu dan anak termasuk keluarga berencana;imunisasi terhadap penyakit infeksi;pencegahan dan pengendalian penyakit endemik setempat; pengobatan yang benar terhadap penyakit dan cedera yang umum;dan pengadaan obat yang penting. (Tarimo, 1994)

Program imunisasi yang saat ini telah jauh berkembang dengan tantangan yang semakin banyak. Pada awal pelaksanaan program imunisasi, para petugas berjuang keras agar setiap wilayah mampu menyediakan pelayanan imunisasi sesuai standar pelayanan baik melalui pelatihan, pemantauan wilayah setempat, supervisi checklist maupun perencanaan wilayah setempat.

Pada tahun 2000, selain upaya pemerataan UCI (Universal Child Imunization) di setiap desa, program imunisasi telah mentargetkan sasaran-sasaran spesifik yaitu eliminasi tetanus neonatorum, eradikasi polio, reduksi campak serta perluasan imunisasi hepatitis B. Disamping itu,yang tak kalah penting adalah bahwa program imunisasi harus dapat meningkatkan kualitas pelayanan untuk menjamin potensi vaksin serta penyuntikan yang aman. program imunisasi adalah bagian dari upaya pelayanan kesehatan dasar. Program ini juga merupakan bagian upaya mempercepat upaya pemutusan mata rantai penularan PD3I (Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi) untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, antara lain melalui kegiatan PIN (Pekan Imunisasi Nasional), imunisasi TT 5 dosis pada wanita usia subur, serta penanggulangan KLB (Kejadian Luar Biasa) dari penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi khususnya KLB campak. (Depkes dan Kesos RI,2000).

Salah satu indikator yang penting untuk mengetahui derajat kesehatan di suatu negara adalah banyaknya bayi (umur 0-1 tahun) yang meninggal per 1000 kelahiran hidup yang disebut AKB. Walaupun angka kelahiran hidup telah menurun 10,3% pada akhir pelita II menjadi 90,3% pada akhir pelita III 76%. Angka kelahiran bayi di Indonesia yang tertinggi di negara ASEAN. (Suraatmadja, 1991)

Angka kematian bayi di Propinsi Lampung pada tahun 2002 berjumlah 42 bayi per 1000 kelahiran hidup, sedangkan angka kematian bayi tahun 2003 berjumlah 55 bayi per 1000 kelahiran hidup. Hal ini belum mencapai target Lampung Sehat 2010 dan Indonesia sehat 2010 dengan angka kematian bayi 40 bayi per 1000 kelahiran hidup (Profil Kesehatan Propinsi Lampung, 2004).

Angka kelahiran bayi yang tinggi ini perlu dilakukan upaya-upaya kesehatan yang lebih terarah supaya AKB di Indonesia dapat menurun. Pada penelitian penyebab kematian bayi di Indonesia ternyata 70% disebabkan karena diare, Radang akut pada saluran pernafasan, dan penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Jika program imunisasi dilaksanakan dengan baik dan menyeluruh 80% maka keefektifan imunisasi mencapai 85% sampai 90%. Lebih dari 115.000 kematian pada balita dapat dicegah. Hal ini tentu juga akan berpengaruh terhadap Angka Kematian Bayi (AKB). (Suraatmadja, 1991)

Imunisasi bertujuan untuk melindungi individu dan masyarakat terhadap serangan penyakit infeksi yang dapat dicegah dengan imunisasi. Vaksin mutakhir aman namun tidak ada vaksin yang tanpa resiko. Maka, walaupun jarang sebagian orang dapat mengalami reaksi setelah imunisasi yang bersifat ringan sampai mengancam jiwa. Pada beberapa kasus reaksi disebabkan oleh vaksin. Pada kasus lain penyebabnya adalah kesalahan pemberian vaksin tetapi sebagian besar umumnya tidak berhubungan dengan vaksin. Apapun penyebabnya apabila timbul Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) masyarakat selalu bersikap menolak untuk pemberian imunisasi berikutnya, sehingga anak tersebut akan rentan terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, sehingga dapat timbul kecacatan atau kematian. Untuk itu pelaporan KIPI yang tepat dan cepat diikuti dengan tindak lanjut yang benar dapat membantu pelaksanaan program mengatasi masalah di lapangan sehingga di masyarakat tidak resah dan tetap mendukung program imunisasi. (I.G.N Ranuh, dkk, 2001)

Reaksi KIPI imunisasi campak yang banyak dijumpai dengan gejala demam yang lebih dari 39,50C yang terjadi pada 5 –15% kasus, demam mulai dijumpai pada hari ke-5 – 6 sesudah imunisasi dan berlangsung selama 2 hari. Ruam dapat dijumpai pada 5% resepien, timbul pada hari ke-7 – 10 sesudah imunisasi dan berlangsung selama 2-4 hari. Pada penelitian yang mencakup 6.000 anak berusia 1-2 tahun dilaporkan setelah vaksin MMR dapat terjadi malaise, demam, atau ruam yang sering terjadi 1 minggu setelah imunisasi dan berlangsung selama 2-3 hari. Dalam masa 6 sampai 11 hari setelah imunisasi dapat terjadi kejang demam pada 0,1% anak, ensefalitis pasca imunisasi <>

Read More

Pengetahuan ibu hamil tentang kunjungan pemeriksaan kehamilan di BPS

di 19.38 Label: Contoh KTI Kebidanan
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menurut Prawirohardjo (2002), untuk menurunkan angka kematian ibu dan angka kematian bayi dengan menetapkan salah satu sasaran untuk tahun 2010 adalah menurunkan angka kematian ibu menjadi 125 orang per 100.000 kelahiran hidup dan angka kematian bayi menjadi 16 orang per 1.000 kelahiran hidup. Menurut Prawiroharjo (2001), untuk mencapai sasaran tersebut ditetapkan 4 strategi utama yang dinyatakan sebagai empat pilar safe motherhood yang salah satunya adalah pelayanan antenatal. Kemampuan pelayanan kesehatan suatu negara antara lain dinilai dengan perbandingan tinggi rendahnya angka kematian ibu dan angka kematian bayi setiap tahun sekitar 500.000 orang wanita di negara berkembang meninggal akibat kehamilannya, berjuta-juta ibu hamil mengalami komplikasi yang berat, dan terjadi 7 juta kematian sebagai akibat gangguan kesehatan ibu pada masa kehamilan atau proses persalinan (DEPKES RI, 1998).
WHO memperkirakan bahwa sekitar 15% dari seluruh wanita yang hamil akan mengalami komplikasi yang berkaitan dengan kehamilannya serta dapat mengancam jiwanya. Sebagian besar dari 5.600.000 orang wanita hamil di Indonesia, akan mengalami suatu komplikasi atau masalah yang berakibat fatal. Data tersebut menunjukkan, untuk bisa efektif dalam meningkatkan keselamatan ibu dan bayi yang baru lahir, maka asuhan antenatal harus lebih di fokuskan karena telah terbukti bermanfaat untuk mengurangi angka kesakitan dan kematian ibu serta bayi baru lahir (Pusdiknakes – WHO – JHPIEGO, 2001). Saat ini, angka kematian ibu dan angka kematian bayi di Indonesia masih sangat tinggi. Menurut Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI,2002/2003), angka kematian ibu adalah 307 orang per 100.000 kelahiran hidup dan angka kematian bayi adalah 20 orang per 1.000 kelahiran hidup (http:///www.Google.co.id. 2005)
Penurunan angka kematian ibu merupakan indikator keberhasilan pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan ibu hamil dalam hal ini adalah pengawasan pemeriksaan kehamilan yang masih belum memadai, sehingga masalah-masalah atau penyulit dalam kehamilan dengan hamil resiko tinggi terlambat diketahui bahkan tidak diketahui (Manuaba, 1998). Hal ini sesuai dengan visi Indonesia sehat 2010, dimana telah merumuskan visi pembangunan kesehatan yang menuju masyarakat, bangsa dan negara yang ditandai dengan penduduknya hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku hidup sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya (Pedoman Manajemen Terpadu Kesehatan Puskesmas, 2003).
Pada zaman dulu, pada umumnya masyarakat menyangka bahwa hal yang paling utama dan yang paling penting adalah berupa pertolongan sewaktu persalinan. Pada saat ini sangkaan itu dianggap salah, karena selain perkembangan pengetahuan pada masyarakat juga di dukung oleh kesadaran yang tinggi. Pengawasan yang baik, bermutu dan keteraturan dalam pemeriksaan, banyaknya penyulit-penyulit sewaktu hamil dapat diobati dan dicegah sehingga persalinan berjalan mudah dan normal. Apabila dalam peroses persalinan akan diambil suatu tindakan, hal ini seharusnya dilakukan sedini mungkin tanpa harus menunggu terjadinya komplikasi dan persalinan tidak terlantar (Moechtar, 1998).
Berdasarkan Kep. Menteri Kesehatan RI No. 1457/MenKes/SK/X/2003 cakupan K1 dan K4 pada tahun 2010 diharapkan mencapai target 95%. Di Propinsi Lampung terdapat 177.762 orang ibu hamil dimana perbandingan dari jumlah ibu hamil tersebut adalah dari 20 orang ibu hamil terdapat 13 orang ibu hamil yang memeriksakan dengan bidan atau di fasilitas kesehatan, contohnya Puskesmas atau Rumah Sakit (Profil Kesehatan Propinsi Lampung, 2004). Target yang harus dicapai Dinas Kesehatan Lampung Timur untuk K1 dan K4 sebesar 90% sedangkan data yang didapat dari pra survei di Dinas Kesehatan Lampung Timur, sasaran ibu hamil untuk cakupan K1 dan K4 di Kabupaten Lampung Timur pada tahun 2005 sebanyak 24.301 orang ibu hamil tetapi yang melaksanakan kunjungan awal kehamilan (K1) hanya 20.452 orang ibu hamil (84,2%) dan yang melaksanakan kunjungan ulang secara teratur minimal 4x (K4) hanya 19.151 orang ibu hamil (78,8%). Data pra survei di Puskesmas Sukaraja Nuban didapat sasaran ibu hamil untuk cakupan K1 dan K4 pada tahun 2005 sebanyak 1.129 orang ibu hamil tetapi yang melaksanakan kunjungan awal (K1) sebanyak 1.023 orang ibu hamil (90,6%) dan yang melakukan kunjungan ulang minimal 4x hanya 1.004 orang ibu hamil (88,9%). Berdasarkan data pada bulan Maret tahun 2006 dari BPS Suwarni, didapatkan 59 ibu hamil tetapi yang melakukan pemeriksaan ulang kehamilan hanya 43 orang ibu hamil dan yang tidak melakukan pemeriksaan ulang kehamilan ada 16 orang ibu hamil.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul
“Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Kunjungan Pemeriksaan Kehamilan”

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah maka peneliti dapat membuat suatu rumusan masalah “Bagaimana Gambaran Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Kunjungan Pemeriksaan Kehamilan di BPS Suwarni di Kelurahan Sukaraja Nuban Kecamatan Batanghari Nuban Kabupaten Lampung Timur tahun 2006 ?”

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu hamil tentang kunjungan pemeriksaan selama kehamilan di BPS Suwarni di Sukaraja Nuban.
2. Tujuan Khusus
a. Diketahuinya gambaran pengetahuan ibu hamil tentang tujuan kunjungan pemeriksaan kehamilan.
b. Diketahuinya gambaran pengetahuan ibu hamil tentang manfaat kunjungan pemeriksaan kehamilan.
c. Diketahuinya gambaran pengetahuan ibu hamil tentang jumlah kunjungan pemeriksaan kehamilan.

D. Ruang Lingkup Penelitian
Dalam penelitian ini penulis membatasi ruang lingkup objek dan materi penelitian sebagai berikut :
a. Jenis Penelitian : Deskriptif
b. Subjek penelitian : Ibu hamil dengan usia kehamilan 28 mgg atau lebih yang tidak melakukan pemeriksaan kehamilan secara teratur di BPS Suwarni Sukaraja Nuban
c. Objek Penelitian : Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Kunjungan Pemeriksaan Kehamilan
d. Lokasi Penelitian : BPS Suwarni di Sukaraja Nuban Kelurahan Sukaraja Nuban Kecamatan Batanghari Nuban Kabupaten Lampung Timur
e. Waktu Penelitian : Penelitian dilakukan setelah seminar proposal disetujui

E. Manfaat Penelitian
1. Puskesmas Sukaraja Nuban Lampung Timur
Menambah wawasan serta dapat dijadikan tolak ukur para tenaga kesehatan terutama bidan di Puskesmas Sukaraja Nuban dalam melaksanakan tugas agar lebih aktif memberikan penyuluhan dan motivasi kepada masyarakat khususnya ibu hamil tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan.
2. Lahan praktek BPS Suwarni di Sukaraja Nuban
Menambah wawasan, tolak ukur dan tindak lanjut para tenaga kesehatan khususnya bidan untuk melakukan atau menjalani tugas khususnya mengenai gambaran pengetahuan ibu hamil mengenai tingkat keteraturan dalam pemeriksaan kehamilan.
3. Bagi ibu hamil
Sebagai masukan bagi ibu hamil agar lebih meningkatkan kesadaran perlunya pemeriksaan kehamilan secara teratur serta menambah wawasan pengetahuan dan pandangan positif pada ibu hamil akan fungsi dan kepentingan mengenai pemeriksaan selama kehamilan sehingga di harapkan dapat menyakinkan ibu hamil untuk melakukan rutinitas dalam melakukan pemeriksaan selama kehamilan.
4. Bagi peneliti selanjutnya
Untuk memberikan masukan bagi kegiatan penelitian berikutnya terutama mengenai keteraturan pemeriksaan kehamilan serta memberikan gambaran untuk penelitian selanjutnya yang terkait dengan kunjungan pemeriksaan kehamilan dalam aspek tingkat ekonomi, sosial budaya, pendidikan dan pekerjaan.

Read More

Pengetahuan dan sikap remaja tentang seks pranikah di SMU

di 19.24 Label: Contoh KTI Kebidanan
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masyarakat menghadapi kenyataan bahwa kehamilan remaja makin meningkat dan menjadi masalah, makin derasnya arus informasi yang dapat menimbulkan rangsangan seksual remaja, dan pada akhirnya mendorong remaja untuk melakukan hubungan seks pranikah dan memberikan dampak pada terjadinya penyakit hubungan seks dan kehamilan di luar perkawinan (Manuaba, 1998).
Suatu survei yang dilakukan pada beberapa negara maju menunjukkan bahwa Amerika Serikat mempunyai angka kehamilan remaja (usia 15 – 19 tahun) sebesar 95/1000, Perancis 44/1000 dengan aborsi 27/1000, Swedia 35/1000 dengan aborsi 15/1000, dan negeri Belanda 15/1000 dengan aborsi 10/1000. angka yang relatif tinggi di Amerika Serikat tersebut menurut Alice Radosh, koordinator pelayanan kehamilan dan pengasuhan anak di kantor Balai Kota New York, disebabkan karena tingkah laku seksual dilakukan dalam masyarakat dengan bebas (Time Cit Sarwono, 1997).
Di Negara yang masih berkembang, aktifitas seksual di kalangan remaja jauh lebih tinggi dari di pedesaan, sebab pengetahuan tentang seks tidak ada sama sekali. Penelitian lain yang menghubungkan perilaku seksual dengan kadar informasi remaja tentang seks dilakukan di Hongkong. Penelitian ini dilakukan terhadap 3917 pelajar dan mengungkapkan bahwa sebagian besar dari mereka memperoleh pengetahuan tentang seks dari surat kabar, majalah atau ceramah-ceramah tentang seks. Hanya 11% yang menyatakan bahwa mereka bertanya kepada orang tuanya, dan inipun hampir tidak ada informasi yang diperoleh (FPA Of Hongkong Cit Sarwono, 1997).
Dalam Kongres Nasional IV perkumpulan ahli Dermatovenerologi (Penyakit kulit dan kelamin) Indonesia, Juni 1983 di Semarang menyebutkan bahwa sebagian besar penyakit kelamin kelas berbahaya asal impor telah melanda remaja umur 16 – 25 tahun baik di kota maupun di pedesaan. (Sinar Harapan Cit Sarwono, 1997). Di kalangan remaja telah terjadi revolusi dalam hubungan seksual menuju ke arah liberalisasi tanpa batas. Kebanggaan terhadap kemampuan untuk mempertahankan kegadisan sampai pada pelaminan telah sirna, oleh karena kedua belah pihak saling menerima kedudukan baru dalam seni pergaulan hidupnya. Informasi yang cepat dalam berbagai bentuk telah menyebabkan dunia samakin menjadi milik remaja. Informasi tentang kebudayaan hubungan seksual telah mempengaruhi kaum remaja Indonesia, sehingga telah terjadi suatu revolusi yang menjurus makin bebasnya hubungan seksual pranikah. (Manuaba, 1998).
Penelitian di negara berkembang melaporkan bahwa 20% sampai 60% kehamilan dan persalinan di bawah usia 20 tahun adalah kehamilan dini dan tidak diinginkan. Pernyataan menteri negara pemberdayaan perempuan bahwa 6 dari 10 wanita yang belum menikah sudah tidak virgin kenyataan ini diperburuk lagi dengan temuan BKKBN bahwa diperkirakan sebesar 750.000 sampai 1.000.000 aborsi ilegal di Indonesia pertahun. Di propinsi Lampung remaja berjumlah 22,6% dari seluruh penduduk dan 9,31% masih mengikuti pendidikan di SMU dan SMK. 17 dari dari 1.375 remaja yang diperiksa secara acak mengalami penyakit menular seksual (PMS). Koran Radar Lampung tanggal 19 Oktober 2001 menampilkan hasil survey terhadap 100 remaja SLTP dan SLTA sebagai berikut : 15 % remaja pernah melakukan hubungan seksual dan 34% pernah melakukan ciuman sampai dengan petting. (Supriatiningsih, 2003). Hasil prasurvey tanggal 30 April 2 Mei 2004 di SMU Negeri 1 Labuhan Maringgai belum pernah ada materi tentang pendidikan seksual sedangkan lebih dari separuh (58%) remaja SMU Negeri 1 Labuhan Maringgai sudah berpacaran.
Kelompok usia remaja (10-15 tahun) merupakan kelompok berpotensi untuk menggagalkan program KB yang sudah tercapai dengan relatif baik. Hal ini disebabkan karena adanya perubahan-perubahan mendasar dalam sikap dan perilaku seksual dan reproduksi di kalangan remaja. Perubahan-perubahan ini diakibatkan oleh meningkatnya jumlah remaja dan dorongan seks remaja yang reproduksi, tetapi justru lebih banyak dipengaruhi oleh nilai budaya permissive menyebarkan nilai casual sex atau easy sex melalui berbagai media cetak dan audiovisual. Perubahan-perubahan sikap dan perilaku seksual remaja ini pada gilirannya mengakibatkan meningkatnya masalah seksual seperti perilaku seks bebas atau kehamilan yang tidak dikehendaki. (PKBI Pusat, 1998).

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah, maka penulis membuat rumusan masalah sebagai berikut : Bagaimanakah pengetahuan dan sikap remaja SMU Negeri I Labuhan Maringgai tentang seks pranikah ?

C. Ruang Lingkup Penelitian
Mengingat luasnya masalah dilihat dari berbagai aspek maka penulis ingin membatasi ruang lingkup penelitian sebagai berikut :
1. Obyek penelitian : Pengetahuan dan sikap remaja tentang seks pra nikah
2. Subyek penelitian : Murid SMUN I Labuhan Maringgai
3. Lokasi Penelitian : SMUN I Labuhan Maringgai
4. Waktu Penelitian : Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei 2004.

D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran tentang pengetahuan dan sikap remaja SMUN I Labuhan Maringgai tentang seks pranikah.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk memperoleh gambaran tentang pengetahuan remaja SMU Negeri 1 Labuhan Maringgai tentang seks pra nikah.
b. Untuk memperoleh gambaran tentang sikap remaja SMU Negeri 1 Labuhan Maringgai tentang seks pranikah.

E. Manfaat Penelitian
1. Untuk penulis
Dapat menambah wawasan keilmuan dan pengalaman dalam bidang seks pranikah.
2. Untuk institusi Pendidikan Program Study Kebidanan Metro
Dapat menambah wawasan bagi mahasiswa dan sebagai bahan bacaan di perpustakaan.
3. Untuk institusi pendidikan SMU Negeri 1 Labuhan Maringgai
Diharapkan akan memberi manfaat sebagai bahan masukan untuk dapat merencanakan kegiatan pendidikan Sekolah Menengah Umum (SMU) dengan memasukkan materi pendidikan Seksual dalam konteks intra kurikuler atau ekstra kurikuler.
4. Untuk para remaja
Khususnya remaja SMUN I Labuhan Maringgai diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan wawasan remaja tentang dampak seks pranikah.

Read More

Pemeriksaan Fisik

di 09.51

Pemeriksaan fisik adalah melakukan pemeriksaan fisik klien untuk menentukan masalah kesehatan klien. Pemeriksaan fisik dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya adalah

1. Inspeksi

Adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan cara melihat bagian tubuh yang diperiksa melalui pengamatan. Hasilnya seperti : Mata kuning (icteric), terdapat struma di leher, kulit kebiruan (sianosis), dll

2. Palpasi

Adlaah pemeriksaan fisik yang dilakukan melalui perabaan terhadap bagian-bagian tubuh yang mengalami kelainan. Misalnya adanya tumor, oedema, krepitasi (patah/retak tulang), dll.

3. Auskultasi

Adalah pemeriksaan fisik yang dilakukan melalui pendengaran. Biasanya menggunakan alat yang disebut dengan stetoskop. Hal-hal yang didengarkan adalah : bunyi jantung, suara nafas, dan bising usus.

4. Perkusi

Adalah pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan mengetuk bagian tubuh menggunakan tangan atau alat bantu seperti reflek hammer untuk mengetahui reflek seseorang (dibicarakan khusus). Juga dilakukan pemeriksaan lain yang berkaitan dengan kesehatan fisik klien. Misalnya : kembung, batas-batas jantung, batas hepar-paru (mengetahui pengembangan paru), dll.

Read More
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Lihat versi seluler
Langganan: Postingan ( Atom )
 photo banner300x250-biru.gif

Blog Archive

  • 2016 (1)
    • 09/18 - 09/25 (1)
      • PENGETAHUAN IBU TENTANG BIANG KERINGAT PADA BAYI 0...
  • 2015 (10)
    • 10/11 - 10/18 (1)
    • 09/13 - 09/20 (1)
    • 09/06 - 09/13 (1)
    • 07/05 - 07/12 (1)
    • 05/17 - 05/24 (6)
  • 2014 (1)
    • 04/13 - 04/20 (1)
  • 2012 (770)
    • 02/19 - 02/26 (5)
    • 02/12 - 02/19 (10)
    • 02/05 - 02/12 (4)
    • 01/29 - 02/05 (27)
    • 01/22 - 01/29 (88)
    • 01/15 - 01/22 (101)
    • 01/08 - 01/15 (169)
    • 01/01 - 01/08 (366)
  • 2011 (4477)
    • 12/25 - 01/01 (336)
    • 12/18 - 12/25 (62)
    • 12/11 - 12/18 (70)
    • 12/04 - 12/11 (77)
    • 11/27 - 12/04 (40)
    • 11/20 - 11/27 (67)
    • 11/13 - 11/20 (198)
    • 11/06 - 11/13 (187)
    • 10/30 - 11/06 (340)
    • 10/23 - 10/30 (32)
    • 10/16 - 10/23 (109)
    • 10/09 - 10/16 (80)
    • 08/14 - 08/21 (75)
    • 08/07 - 08/14 (81)
    • 07/31 - 08/07 (82)
    • 07/24 - 07/31 (65)
    • 07/17 - 07/24 (91)
    • 07/10 - 07/17 (47)
    • 07/03 - 07/10 (44)
    • 06/26 - 07/03 (53)
    • 06/19 - 06/26 (59)
    • 06/12 - 06/19 (47)
    • 06/05 - 06/12 (65)
    • 05/29 - 06/05 (63)
    • 05/22 - 05/29 (77)
    • 05/15 - 05/22 (115)
    • 05/08 - 05/15 (65)
    • 05/01 - 05/08 (104)
    • 04/24 - 05/01 (45)
    • 04/17 - 04/24 (70)
    • 04/10 - 04/17 (134)
    • 04/03 - 04/10 (72)
    • 03/27 - 04/03 (18)
    • 03/20 - 03/27 (47)
    • 03/13 - 03/20 (68)
    • 03/06 - 03/13 (40)
    • 02/27 - 03/06 (56)
    • 02/20 - 02/27 (77)
    • 02/13 - 02/20 (76)
    • 02/06 - 02/13 (198)
    • 01/30 - 02/06 (194)
    • 01/23 - 01/30 (132)
    • 01/16 - 01/23 (196)
    • 01/09 - 01/16 (202)
    • 01/02 - 01/09 (121)
  • 2010 (2535)
    • 12/26 - 01/02 (156)
    • 12/19 - 12/26 (65)
    • 12/12 - 12/19 (73)
    • 12/05 - 12/12 (84)
    • 11/28 - 12/05 (80)
    • 11/21 - 11/28 (68)
    • 11/14 - 11/21 (63)
    • 11/07 - 11/14 (50)
    • 10/31 - 11/07 (50)
    • 10/24 - 10/31 (36)
    • 10/17 - 10/24 (58)
    • 10/10 - 10/17 (35)
    • 10/03 - 10/10 (31)
    • 09/26 - 10/03 (21)
    • 09/19 - 09/26 (26)
    • 09/12 - 09/19 (55)
    • 09/05 - 09/12 (65)
    • 08/29 - 09/05 (33)
    • 08/22 - 08/29 (70)
    • 08/15 - 08/22 (45)
    • 08/08 - 08/15 (35)
    • 08/01 - 08/08 (37)
    • 07/25 - 08/01 (27)
    • 07/18 - 07/25 (19)
    • 07/11 - 07/18 (30)
    • 07/04 - 07/11 (56)
    • 06/27 - 07/04 (28)
    • 06/20 - 06/27 (22)
    • 06/13 - 06/20 (30)
    • 06/06 - 06/13 (21)
    • 05/30 - 06/06 (5)
    • 05/16 - 05/23 (6)
    • 05/09 - 05/16 (29)
    • 05/02 - 05/09 (59)
    • 04/25 - 05/02 (28)
    • 04/18 - 04/25 (38)
    • 04/11 - 04/18 (70)
    • 04/04 - 04/11 (59)
    • 03/28 - 04/04 (65)
    • 03/21 - 03/28 (89)
    • 03/14 - 03/21 (218)
    • 03/07 - 03/14 (95)
    • 02/28 - 03/07 (135)
    • 02/21 - 02/28 (102)
    • 01/03 - 01/10 (68)
  • 2009 (1652)
    • 12/27 - 01/03 (36)
    • 12/20 - 12/27 (22)
    • 12/13 - 12/20 (100)
    • 12/06 - 12/13 (45)
    • 11/29 - 12/06 (24)
    • 11/22 - 11/29 (22)
    • 11/15 - 11/22 (19)
    • 11/08 - 11/15 (28)
    • 11/01 - 11/08 (11)
    • 10/25 - 11/01 (17)
    • 10/18 - 10/25 (38)
    • 10/11 - 10/18 (33)
    • 10/04 - 10/11 (15)
    • 09/27 - 10/04 (21)
    • 09/20 - 09/27 (7)
    • 09/13 - 09/20 (84)
    • 09/06 - 09/13 (35)
    • 08/30 - 09/06 (48)
    • 08/23 - 08/30 (118)
    • 08/16 - 08/23 (26)
    • 08/09 - 08/16 (34)
    • 08/02 - 08/09 (35)
    • 07/26 - 08/02 (31)
    • 07/19 - 07/26 (14)
    • 07/12 - 07/19 (16)
    • 07/05 - 07/12 (28)
    • 06/28 - 07/05 (26)
    • 06/21 - 06/28 (76)
    • 06/14 - 06/21 (26)
    • 06/07 - 06/14 (21)
    • 05/31 - 06/07 (43)
    • 05/24 - 05/31 (38)
    • 05/17 - 05/24 (26)
    • 05/10 - 05/17 (52)
    • 05/03 - 05/10 (15)
    • 04/26 - 05/03 (38)
    • 04/19 - 04/26 (32)
    • 04/12 - 04/19 (22)
    • 04/05 - 04/12 (20)
    • 03/29 - 04/05 (40)
    • 03/22 - 03/29 (43)
    • 03/15 - 03/22 (18)
    • 03/08 - 03/15 (14)
    • 03/01 - 03/08 (22)
    • 02/22 - 03/01 (12)
    • 02/15 - 02/22 (9)
    • 02/08 - 02/15 (11)
    • 02/01 - 02/08 (19)
    • 01/25 - 02/01 (37)
    • 01/18 - 01/25 (21)
    • 01/11 - 01/18 (33)
    • 01/04 - 01/11 (31)
  • 2008 (700)
    • 12/28 - 01/04 (13)
    • 12/21 - 12/28 (9)
    • 12/14 - 12/21 (57)
    • 12/07 - 12/14 (5)
    • 11/30 - 12/07 (18)
    • 11/23 - 11/30 (33)
    • 11/16 - 11/23 (31)
    • 11/09 - 11/16 (23)
    • 11/02 - 11/09 (18)
    • 10/26 - 11/02 (11)
    • 10/19 - 10/26 (15)
    • 10/12 - 10/19 (13)
    • 10/05 - 10/12 (25)
    • 09/28 - 10/05 (2)
    • 09/21 - 09/28 (14)
    • 09/14 - 09/21 (19)
    • 09/07 - 09/14 (43)
    • 08/31 - 09/07 (3)
    • 08/24 - 08/31 (33)
    • 08/17 - 08/24 (65)
    • 08/10 - 08/17 (4)
    • 08/03 - 08/10 (26)
    • 07/27 - 08/03 (6)
    • 07/20 - 07/27 (19)
    • 07/13 - 07/20 (18)
    • 07/06 - 07/13 (60)
    • 06/29 - 07/06 (53)
    • 06/22 - 06/29 (49)
    • 06/15 - 06/22 (11)
    • 06/08 - 06/15 (4)

Popular Posts

  • Olahraga dan Resiko Kanker Payu Dara: Belum Terlambat.
    Olahraga teratur sangat penting untuk kesehatan tubuh, mencegah dan mempertahankan tubuh dari berbagai penyakit mulai dari osteoporosis hin...
  • Transkultural dalam Keperawatan
    Konsep Teori Transkultural dalam Keperawatan APLIKASI TEORI TRANSCULTURAL NURSING DALAM PROSES KEPERAWATAN Rahayu Iskandar, Ners, M.Kep PEND...
  • Review Blog Keperawatan
    Setelah beberapa minggu ini cari materi buat postingan baru, mendadak dapat inspirasi setelah rekan Anton Wijaya menulis di buku tamu Keper...
  • PENGETAHUAN IBU TENTANG BIANG KERINGAT PADA BAYI 0-1 TAHUN DI BPS XXXX
    Prelevansi penyakit kulit di Indonesia cukup tinggi baik oleh bakteri, virus atau jamur. Selain itu bergantung pada lingkungan dan kondisi...
  • Hubungan Usia Terhadap Perdarahan Post Partum Di RSUD
    KTI KEBIDANAN HUBUNGAN USIA TERHADAP PERDARAHAN POSTPARTUM DI RSUD BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan wanita merupakan hal yang s...
  • Contoh KTI Pengetahuan ibu primigravida Mengenai kehamilan di RB XXXX
    Mortalitas dan morbiditas pada wanita hamil dan bersalin adalah masalah besar dinegara berkembang dan dinegara miskin. Sekitar 25 – 50% ke...
  • Askep Hematemesis Melena
    Hematemesis, melena, and hematochezia are symptoms of acute gastrointestinal bleeding. Bleeding that brings the patient to the physician is...
  • Bau Mulut
    Malu banget kan kalo nafas kita bau alias bau mulut apa lagi kalo kita ngomong dengan orang lain lalu tiba-tiba orang tersebut menjauh wah...
  • ANALISA SENAM HAMIL PADA IBU HAMIL DI KELAS IBU DI POSYANDU XXXXX
    Mengajarkan senam membantu fisik mendorong istirahat dan relaksasi rutinitis fisik kemudian di buat pada masa antenatal untuk meningkatkan...
  • 6 Kebiasaan Sehat yang Bikin Sakit
    Jangan kira semua aktivitas menyehatkan benar-benar membuat Anda sehat. Untuk beberapa kebiasaan, hal itu justru bisa membuat Anda s...

Statistik

© ASUHAN KEPERAWATAN 2013 . Powered by Bootstrap , Blogger templates and RWD Testing Tool Published..Gooyaabi Templates