Rabu, 28 Desember 2011

Susahnya Menghadapi Jiwa Miskin

Menyaksikan tayangan televisi tentang peristiwa penembakan warga sipil oleh Marinir di Pasuruan karena masalah tanah yang dimiliki di manfaatkan orang lain (baca warga), membuat saya harus merenungi kata miskin lagi. Alangkah ganasnya kuman "Jiwa Miskin" menginfeksi kita semua. Sampai sampai menyebabkan nyawa melayang sia-sia.

Saya teringat ucapan seorang teman ketika pertama kali membeli mobil dan terlibat cek-cok dengan seorang ibu.Waktu itu teman saya melewati jalan yang agak sempit, ada seorang ibu-ibu sedang membeli sayuran di tepi jalan. Karena posisi ibu tadi agak masuk ke jalan teman saya berhenti sejenak dan memberi tanda klakson agar ibu tadi minggir sebentar. Tetapi ibu tadi tidak mengindahkan tanda yang diberikan. Teman saya jengkel, mobil dimajukan dan menyenggol (maaf) pantat ibu tadi sedikit. Si ibu marah-marah dan menggedor kap mobil teman saya sambil berkata, ".. mentang-mentang orang kaya mengendarai mobil seenaknya!" dst.)

Teman saya marah dan langsung turun dari mobil mendekati ibu tadi sambil berkata, "Bu, saya sudah klakson ibu berkali kali tidak minggir, bukan salah saya kalau menyenggol "bokong", lha wong bokongnya ditaruh di jalan. Saya beli mobil ini juga hasil kerja keras, kok ibu enak saja mukul-mukul mobil saya kalau rusak bagaimana? apa ibu mau ganti?" Percekcokan pun semakin seru dan tidak perlu saya lanjutkan lagi di sini.

Peristiwa penembakan dan cerita teman saya tadi memang tidak ada hubungannya. Tetapi saya mengamati berbagai peristiwa di negeri ini yang melibatkan masalah antara orang yang disebut sebagai "orang kaya" dan "orang miskin". Semua tidak berarti jika memang sebutan tadi adalah benar. Masalahnya adalah, jika yang dikira orang kaya tadi adalah kita dan tidak termasuk kaya. Hanya memiliki simbol-simbol kekayaraan yang mungkin pinjaman, warisan, atau hasil kredit bertahun-tahun dan belum lunas.

Kebanyakan kita senang menyebut diri orang miskin karena berbagai alasan. Kita melaporkan kekayaan pribadi atau instansi yang kita pimpin dengan minimal value agar dapat bantuan atau fasilitas tertentu. Orang miskin sering memang menimbulkan rasa belas kasihan, dan kita telah mengekploitasinya dengan baik.
Kemiskinan kadang dijadikan alasan untuk melanggar aturan apa saja. Coba kita lihat tayangan televisi yang berkaitan dengan penggusuran, razia PKL, PSK dan sebagainya, semua pasti menyebutkan kata "orang miskin". Tukul Arwana sering menyindir hal ini dalam setiap shownya dengan mengatakan, "Kamu ini memang berjiwa miskin, makanya miskin terus."

Jika secara tidak sengaja telah diposisikan sebagai "orang kaya" seperti teman saya tadi, apa yang akan anda lakukan? menolak? tentu tidak bisa, karena kita memiliki simbol-simbol yang mewakili orang kaya tersebut. Jadi bersyukurlah dianggap orang kaya. Itu artinya kita telah membunuh kuman "Jiwa Miskin" tadi dengan tidak sengaja. Posisikan diri Anda sebagai "orang kaya" selamanya. Dengan begitu Anda akan menjadi lebih dermawan. Ingat kata ustadz tentang "Power of Giving".
Menjadi manajer juga bagian dari simbol yang mewakili orang kaya tersebut. Manajer harus siap memberi.

Sisi lain dari peristiwa tersebut adalah, pemahaman manajer terhadap aset-aset yang dimiliki. Setelah memahami aset, selanjutnya mengelola aset tersebut dengan baik sehingga tidak dimanfaatkan orang lain yang merugikan kita sebagai pemilik aset tersebut. Setiap orang dapat berubah. Jika kita tidak membuat semua pemanfaatan aset tersebut secara tertulis dan berkekuatan hukum, boleh jadi suatu saat kita yang melakukan pembunuhan meskipun tidak dengan senapan, mungkin dengan jarum injeksi atau yang lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jangan Lupa Tulis Komentarnya Gan: