Tampilkan postingan dengan label Asuhan Keperawatan Bedah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asuhan Keperawatan Bedah. Tampilkan semua postingan
Jumat, 30 April 2010
Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Tetanus
1. Pengertian
Tetanus adalah penyakit infeksi yang diakibatkan toksin kuman Clostridium tetani, bermanifestasi sebagai kejang otot paroksismal, diikuti kekakuan otot seluruh badan. Kekakuan tonus otot ini selalu tampak pada otot masseter dan otot-otot rangka.
2. Etlologi
Clostridium tetani adalah kuman berbentuk batang, ramping, berukuran 2-5 x 0,4 - 0,5 milimikron. Kuman ini berspora termasuk golongan Gram positif dan hidupnya anaerob. Spora dewasa mempunyai bagian yang ber bentuk bulat yang letaknya di ujung, penabuh genderang (drum stick). Kuman mengeluarkan toksin yang bersifat neurotoksik. Toksin ini (tetanospasmin) mula-mula akan menyebabkan kejang otot dan saraf perifer setempat. Toksin mi labil pada pemaanasan, pada suhu 650C akan hancur dalam 5 menit. Di samping itu dikenai pula tetanolisin yang bersifat hemolisis, yang perannya kurang berarti dalam proses penyakit.
Epidemiologi
Kuman ini tersebar di :
* Tanah terutama tanah garapan
* Dijumpai pada tinja manusia dan hewan
Faktor pencetus :
Perawatan luka yang tidak baik merupakan faktor pencetus tersering
Patogenesis
Beberapa keadaan yang dapat menyebabkan keadaan anaerob yang disukai untuk tumbuhnya kuman tetanus antara lain ;
* Luka tusuk yang dalam misalnya kena paku atau duri
* Luka karena kecelakaan baik lalu lintas maupun kacelakaan kerja
* Luka ringan seperti luka gores dan excoriasi
Hipotesa bekerjanya toksin :
1. Toksin diabsorbsi pada ujung syaraf motorik dan melalui sumbu silindris menuju cornu anterior CNS
2. Toksin diabsorbsi oleh sistem limfe masuk ke dalam sirkulasi darah arteri kemudian masuk ke dalam CNS
Gejala klinis :
* Masa inkubasi tetanus 2 – 21 hari
* Timbulnya gejala klinis biasanya mendadak yang bisa berupa :
* Spastisitas otot terutama pada leher dan rahang
* Kesukaran membuka mulut
* Kaku kuduk
* Kejang sepanjang ruas tulang belakang
* Bila kejang tonik sedang berlangsung maka pada daerah muka nampak berwajah seperti kera ( Rhesus sardonicus )
* Serangan timbul paroximal dapat dicetuskan oleh rangsangan suara, cahaya, maupun sentuhan tetapi dapat timbul spontan
* Karena kontraksi otot yang kuat dapat terjadi aspirasi dan cyanosis, retensio urine dan bahkan fractura columna vertebrae
* Pada anak terkadang djumpai demam ringan
Pemeriksaan
* Pada anamnesa biasanya didapatkan riwayat luka
* Pada pemeriksaan fisik didapatkan kekakuan otot menyeluruh dan kejang
* Laboratorium biasanya dijumpai leukositosis
Prosedur penatalaksanaan tetanus
SARANA
* Oksigen
* Suction aparatus
PENATALAKSANAAN
1. Penderita diterima di penerimaan awal
2. Penderita dibaringkan di triage untuk diseleksi dan pemeriksaan awal
3. Penderita dibawa ke ruang kartu merah untuk pemeriksaan lebih lanjut
4. Penderita dilakukan pemeriksaan laboratorium
5. Berikan oksigen
6. Dilakukam penghisapan lendir dengan suction
7. Pasang infus RL
8. Penderita di MRS kan
Pada dasarnya, penatalaksaannya tetanus bertujuan untuk :
1. Eliminasi Kuman
* Debridement
Untuk meghilangkan suasana anaerob, dengan cara membuang jaringan yang rusak, membuang benda asing, merawat luka / infeksi umbilicus, membersihkan liang telinga / mengobati otitis media
* Antibiotika
Penicilline procaine 50.000 – 100.000 IU / kg / hari IM, 1 – 2 kali sehari minimal selama 10 hari.
Antibiotika lain ditambahkan sesuai dengan penyulit yang timbul.
2. Netralisasi Toksin :
* Toksin yang dapat dinetralisir adalah toksin yang belum melekat di jaringan.
* Dapat diberi TIGH 500 KI (neonatus) – 6000 KI i.m atau ATS 5000 KI – 100.000 KI.
3. Perawatan Suportif :
Perawatan penderita tetanus harus intensif dan rasional.
a. Nutrisi dan Cairan :
* Pemberian cairan IV disesuaikan jumlah dan jenisnya dengan keadaan penderita, seperti sering kejang, hiperpireksia dan sebagainya.
* Beri nutrisi tinggi kalori, bila perlu dengan nutrisi parenteral.
* Bila sonde nasogastric telah dapat dipasang (tanpa memperberat kejang), pemberian makanan per oral hendaknya segera dilaksanakan.
b. Menjaga agar pernapasan tetap efisien :
* Pembersihan saluran napas dari lendir.
* Pemberian zat asam tambahan.
* Bila perlu, lakukan tracheostomi (tetanus berat).
c. kekakuan dan mengatasi kejang :
* Antikonvulsan diberikan secara titrasi, disesuaikan dengan kebutuhan dan respons klinis.
* Pada penderita yang cepat memburuk (serangan kejang makin sering dan makin lama), pemberian antikonvulsan dirubah seperti pada awal terapi, yaitu dimulai lagi dengan pemberian bolus, dilanjutkan dengan dosis rumatan yang lebih tinggi.
* Bila dosis maksimal telah tercapai namun kejang belum teratasi, harus dilakukan pelumpuhan otot secara total dan dibantu dengan pernapasan makanik (ventilator).
Bila Artikel ini berkenan bagi AndaSilahkan DownLoadDisini
Tetanus adalah penyakit infeksi yang diakibatkan toksin kuman Clostridium tetani, bermanifestasi sebagai kejang otot paroksismal, diikuti kekakuan otot seluruh badan. Kekakuan tonus otot ini selalu tampak pada otot masseter dan otot-otot rangka.
2. Etlologi
Clostridium tetani adalah kuman berbentuk batang, ramping, berukuran 2-5 x 0,4 - 0,5 milimikron. Kuman ini berspora termasuk golongan Gram positif dan hidupnya anaerob. Spora dewasa mempunyai bagian yang ber bentuk bulat yang letaknya di ujung, penabuh genderang (drum stick). Kuman mengeluarkan toksin yang bersifat neurotoksik. Toksin ini (tetanospasmin) mula-mula akan menyebabkan kejang otot dan saraf perifer setempat. Toksin mi labil pada pemaanasan, pada suhu 650C akan hancur dalam 5 menit. Di samping itu dikenai pula tetanolisin yang bersifat hemolisis, yang perannya kurang berarti dalam proses penyakit.
Epidemiologi
Kuman ini tersebar di :
* Tanah terutama tanah garapan
* Dijumpai pada tinja manusia dan hewan
Faktor pencetus :
Perawatan luka yang tidak baik merupakan faktor pencetus tersering
Patogenesis
Beberapa keadaan yang dapat menyebabkan keadaan anaerob yang disukai untuk tumbuhnya kuman tetanus antara lain ;
* Luka tusuk yang dalam misalnya kena paku atau duri
* Luka karena kecelakaan baik lalu lintas maupun kacelakaan kerja
* Luka ringan seperti luka gores dan excoriasi
Hipotesa bekerjanya toksin :
1. Toksin diabsorbsi pada ujung syaraf motorik dan melalui sumbu silindris menuju cornu anterior CNS
2. Toksin diabsorbsi oleh sistem limfe masuk ke dalam sirkulasi darah arteri kemudian masuk ke dalam CNS
Gejala klinis :
* Masa inkubasi tetanus 2 – 21 hari
* Timbulnya gejala klinis biasanya mendadak yang bisa berupa :
* Spastisitas otot terutama pada leher dan rahang
* Kesukaran membuka mulut
* Kaku kuduk
* Kejang sepanjang ruas tulang belakang
* Bila kejang tonik sedang berlangsung maka pada daerah muka nampak berwajah seperti kera ( Rhesus sardonicus )
* Serangan timbul paroximal dapat dicetuskan oleh rangsangan suara, cahaya, maupun sentuhan tetapi dapat timbul spontan
* Karena kontraksi otot yang kuat dapat terjadi aspirasi dan cyanosis, retensio urine dan bahkan fractura columna vertebrae
* Pada anak terkadang djumpai demam ringan
Pemeriksaan
* Pada anamnesa biasanya didapatkan riwayat luka
* Pada pemeriksaan fisik didapatkan kekakuan otot menyeluruh dan kejang
* Laboratorium biasanya dijumpai leukositosis
Prosedur penatalaksanaan tetanus
SARANA
* Oksigen
* Suction aparatus
PENATALAKSANAAN
1. Penderita diterima di penerimaan awal
2. Penderita dibaringkan di triage untuk diseleksi dan pemeriksaan awal
3. Penderita dibawa ke ruang kartu merah untuk pemeriksaan lebih lanjut
4. Penderita dilakukan pemeriksaan laboratorium
5. Berikan oksigen
6. Dilakukam penghisapan lendir dengan suction
7. Pasang infus RL
8. Penderita di MRS kan
Pada dasarnya, penatalaksaannya tetanus bertujuan untuk :
1. Eliminasi Kuman
* Debridement
Untuk meghilangkan suasana anaerob, dengan cara membuang jaringan yang rusak, membuang benda asing, merawat luka / infeksi umbilicus, membersihkan liang telinga / mengobati otitis media
* Antibiotika
Penicilline procaine 50.000 – 100.000 IU / kg / hari IM, 1 – 2 kali sehari minimal selama 10 hari.
Antibiotika lain ditambahkan sesuai dengan penyulit yang timbul.
2. Netralisasi Toksin :
* Toksin yang dapat dinetralisir adalah toksin yang belum melekat di jaringan.
* Dapat diberi TIGH 500 KI (neonatus) – 6000 KI i.m atau ATS 5000 KI – 100.000 KI.
3. Perawatan Suportif :
Perawatan penderita tetanus harus intensif dan rasional.
a. Nutrisi dan Cairan :
* Pemberian cairan IV disesuaikan jumlah dan jenisnya dengan keadaan penderita, seperti sering kejang, hiperpireksia dan sebagainya.
* Beri nutrisi tinggi kalori, bila perlu dengan nutrisi parenteral.
* Bila sonde nasogastric telah dapat dipasang (tanpa memperberat kejang), pemberian makanan per oral hendaknya segera dilaksanakan.
b. Menjaga agar pernapasan tetap efisien :
* Pembersihan saluran napas dari lendir.
* Pemberian zat asam tambahan.
* Bila perlu, lakukan tracheostomi (tetanus berat).
c. kekakuan dan mengatasi kejang :
* Antikonvulsan diberikan secara titrasi, disesuaikan dengan kebutuhan dan respons klinis.
* Pada penderita yang cepat memburuk (serangan kejang makin sering dan makin lama), pemberian antikonvulsan dirubah seperti pada awal terapi, yaitu dimulai lagi dengan pemberian bolus, dilanjutkan dengan dosis rumatan yang lebih tinggi.
* Bila dosis maksimal telah tercapai namun kejang belum teratasi, harus dilakukan pelumpuhan otot secara total dan dibantu dengan pernapasan makanik (ventilator).
Minggu, 15 November 2009
CUCI TANGAN YANG EFEKTIF
Pentingnya Mencuci Tangan
Kulit adalah benteng pertahanan pertama dari tangan anda dari organisme pathogen. Selama kulit itu utuh, kulit juga tidak tertembus oleh virus seperti HIV, Hepatitis dan sebagainya, sehingga perawatan dan hygiene kulit sangat penting. Memelihara supaya tangan anda tetap bersih adalah sangan penting untuk mencegah infeksi silang.
Cuci tangan secara benar masih merupakan cara yang paling penting untuk mencegah infeksi silang. Cara berikut ini adalah suatu cara yang direkomendasikan sebagai tehnik yang efektif dengan menggunakan sabun dan air yang mengalir, dan setiap langkah butuh waktu kira-kira 10 detik ( 5 x gerakan ). Langkah 2, 4, 5 dan 6 harus dilakukan untuk kedua tangan ( kiri dan kanan )
1. Telapak dan telapak kanan dan kiri. ( Palm to Palm ).
2. Telapak dan punggung tangan bergantian ( Palm over dorsum ).
3. Telapak tangan kanan dan kiri, khusus sela jari (Palm to Palm fingers inter laced).
4. Punggung jari dari tangan berlawanan (Back of fingers to opposing palms).
5. Putar ibu jari dalam telapak tangan yang berlawanan (Rotate thumbs in palm).
6. Gososk ujung jari di telapak tangan yang berlawanan, kiri dan kanan (Rotate fingers in palm).
Pakai sabun biasa (kalau ada yang PH netral), tanpa zat tambahan seperti pewangi keras, alcohol yang cenderung mengeringkan kulit, terutama yang frekuensi cuci tangannya sering. Kalau perlu pakai krem pelembab yang baik akan mengembalikan kulit yang menjadi kering karena terlalu sering dicuci.
Alat Bantu Lain
Kulit anda tidak tertembus apabila tetap utuh. Terpotong / teriris, lecet, tergores, ada lesi dan dermatitis harus ditutup dengan penutup yang kedap air untuk perlindungan tambahan. Jika anda menyentuh cairan tubuh atau bahan yang mencurigakan / potensi menularkan penyakit atau ada lesi/luka yang tidak dapat ditutup, maka anda harus selalu pakai sarung tangan.
Kapan perlu mencuci tangan ?
1. Waktu tiba di Unit.
2. Waktu tangan kotor.
3. Sebelum makan.
4. Sebelum dan sesudah menolong pasien.
5. Sesudah membersihkan / menyeka hidung.
6. Sesudah tindakan / membersihkan sesuatu.
7. Sebelum dan sesudah pakai sarung tangan.
8. Sesudah pergi kekamar kecil / toilet / WC.
9. Sebelum meninggalkan Unit.
Apabila artikel ini berkenan bagi Anda
Silahkan DownLoad
Disini
Kamis, 12 November 2009
Menangani Luka dengan tindakan yang tepat
Bagaimanakah sebaiknya membersihkan luka?.Untuk masyarakat awam mereka kadang masih menggunakan cara tradisional dengan berbagai macam cara, ada dengan memakai cairan yang berasal dari keong atau cara tadisional lainnya, dan bila sudah terjadi infeksi atau luka tidak sembuh barulah mereka mencari Layanan Kesehatan untuk penanganan lebih lanjut
Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk membersihkan luka.
Cara terbaik untuk membersihkan luka irisan, goresan, atau luka tusukan (seperti tertusuk paku) adalah dengan cairan NaCl. Peganglah daerah luka kemudian basuh luka dengan Cairan NaCl yang mengalir dari atas sampai ke bagian bawah dari luka. Gunakan sabun dan kain lap halus untuk membersihkan kulit daerah sekitar luka. Ingat, cobalah untuk menjaga agar sabun tidak mengenai luka itu sendiri karena sabun dapat menyebabkan iritasi yang dapat memperburuk kondisi luka. Gunakan penjepit yang telah dibersihkan dengan isopropyl alcohol untuk mengeluarkan kotoran-kotoran yang masih ada didalam luka setelah dilakukan pemcucian atau pembersihan luka.
Bahkan jika memang diperlukan gunakan cairan pembersih yang lebih kuat seperti hydrogen peroxide atau antiseptic, tetapi cairan-cairan tersebut mungkin berbahaya dan dapat menyebabkan iritasi. Jadi sebaiknya tanyakan kepada dokter jika memang anda harus menggunakan sesuatu cairan pembersih selain dari air.
Bagaimana dengan perdarahan yang terjadi?. Perdarahan yang terjadi dapat membantu membersihkan luka luar yang terjadi. Kebanyakan pada luka dengan irisan kecil atau goresan perdarahan akan berhenti dengan sendirinya dalam waktu pendek. Luka pada daerah wajah, kepala atau mulut terkadang timbul perdarahan yagn banyak karena daerah-daerah tersebut banyak terdapat pembuluh darah.
Untuk menghentikan perdarahan yang terjadi,bisa dilakukan penekanan secara langsung dengan tekanan yang lembut pada luka dengan menggunakan kain bersih, tissue atau dengan kain kasa yang halus. Jika darah meresap menembus kain, tissue atau kasa, lakukanlah penekanan pada luka dan jangan melepaskannya. Yang anda lakukan hanyalah menambahkan lebih banyak kain, kasa atau tissue diatasnya dan lakuakan penekanan lebih pada daerah tersebut.
Jika luka terdapat pada daerah lengan atau kaki, maka angkatlah kaki atau tangan dan posisikan agar luka berada diatas posisi jantung, hal ini dapat membantu mengurangi, melambatkan bahkan menghentikan perdarahan.
Dan bila dilakukan tindakan Cross Incisi, ada persiapan-persiapan yang harus dilakukan, antara lain :
PERSIAPAN ALAT STERIL :
1. Pinset anatomi
2. Pinset chirurge
3. Gunting
4. Scalpel
5. Bisturi
6. Arteri klem
7. Bengkok
8. Kom kecil
9. Kassa
10. Kapas
11. Hand scoen
12. Spuit
13. NaCl
14. Cairan H2O2
15. Duk Bolong
BAKI/POLEY BERISI ALAT NON STERIL :
1. Gunting balutan
2. Plester
3. Verban
4. Obat desinfektan dalam tempatnya (bethadine)
5 Tempat sampah
6. Lidokain injeksi sebagai anasthesi
7. Antibiotik Salep
Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk membersihkan luka.
Cara terbaik untuk membersihkan luka irisan, goresan, atau luka tusukan (seperti tertusuk paku) adalah dengan cairan NaCl. Peganglah daerah luka kemudian basuh luka dengan Cairan NaCl yang mengalir dari atas sampai ke bagian bawah dari luka. Gunakan sabun dan kain lap halus untuk membersihkan kulit daerah sekitar luka. Ingat, cobalah untuk menjaga agar sabun tidak mengenai luka itu sendiri karena sabun dapat menyebabkan iritasi yang dapat memperburuk kondisi luka. Gunakan penjepit yang telah dibersihkan dengan isopropyl alcohol untuk mengeluarkan kotoran-kotoran yang masih ada didalam luka setelah dilakukan pemcucian atau pembersihan luka.
Bahkan jika memang diperlukan gunakan cairan pembersih yang lebih kuat seperti hydrogen peroxide atau antiseptic, tetapi cairan-cairan tersebut mungkin berbahaya dan dapat menyebabkan iritasi. Jadi sebaiknya tanyakan kepada dokter jika memang anda harus menggunakan sesuatu cairan pembersih selain dari air.
Bagaimana dengan perdarahan yang terjadi?. Perdarahan yang terjadi dapat membantu membersihkan luka luar yang terjadi. Kebanyakan pada luka dengan irisan kecil atau goresan perdarahan akan berhenti dengan sendirinya dalam waktu pendek. Luka pada daerah wajah, kepala atau mulut terkadang timbul perdarahan yagn banyak karena daerah-daerah tersebut banyak terdapat pembuluh darah.
Untuk menghentikan perdarahan yang terjadi,bisa dilakukan penekanan secara langsung dengan tekanan yang lembut pada luka dengan menggunakan kain bersih, tissue atau dengan kain kasa yang halus. Jika darah meresap menembus kain, tissue atau kasa, lakukanlah penekanan pada luka dan jangan melepaskannya. Yang anda lakukan hanyalah menambahkan lebih banyak kain, kasa atau tissue diatasnya dan lakuakan penekanan lebih pada daerah tersebut.
Jika luka terdapat pada daerah lengan atau kaki, maka angkatlah kaki atau tangan dan posisikan agar luka berada diatas posisi jantung, hal ini dapat membantu mengurangi, melambatkan bahkan menghentikan perdarahan.
Dan bila dilakukan tindakan Cross Incisi, ada persiapan-persiapan yang harus dilakukan, antara lain :
PERSIAPAN ALAT STERIL :
1. Pinset anatomi
2. Pinset chirurge
3. Gunting
4. Scalpel
5. Bisturi
6. Arteri klem
7. Bengkok
8. Kom kecil
9. Kassa
10. Kapas
11. Hand scoen
12. Spuit
13. NaCl
14. Cairan H2O2
15. Duk Bolong
BAKI/POLEY BERISI ALAT NON STERIL :
1. Gunting balutan
2. Plester
3. Verban
4. Obat desinfektan dalam tempatnya (bethadine)
5 Tempat sampah
6. Lidokain injeksi sebagai anasthesi
7. Antibiotik Salep
Selasa, 06 Oktober 2009
Perawatan Pre dan Post Stoma
Pengertian: Stoma adalah lubang yang berbentuk mulut (lubang usus yang di pindahkan ke dinding perut)
Usus besar terdiri dari Secum yang berukuran 2,3 inchi atau 6,3 cm. Walaupun terdiri dari satu kesatuan, usus dibagi dalam 3 bagian : Ascenden, Transversum, Descenden dan bagian-bagian sigmoid.
Dari rectum ke colon panjangnya 105,6 – 158,4 cm.
Rectum adalah bagian terbawah dari usus besar yang panjangnya kira-kira 19,8 cm.
Indikasi Colostomy :
1. Penyakit : Cancer, diverticulosis.
2. Kongenital : Atresia Ani, Hirsprung’s
3. Trauma : Luka rembes, kecelakaan.
Tipe stoma usus besar
1. Colostomy sigmoid, Decenden :
- Stoma bersifat permanent.
- Faeces biasanya berbentuk padat.
- Biasanya stoma ujung, atau loop.
2. Colostomy Transversum
- Paling sering bersifat sementara.
- Bentuk faeces biasanya seperti pasta / lembek.
- Faeces dapat menyebabkan iritasi kulit disekitarnya.
3. Colostomy Ascenden
- Biasanya sementara
- Bentuk faeces cair.
- Faeces dapat menyebabkan iritasi kulit di sekitarnya.
Usus Halus
Usus halus mulai dari ujung bawah lambung dan berakhir pada secum yang menyambung dengan usus besar.
Usus halus terdiri dari :
1. Duodenum : panjang kira-kira 17,6 – 22 cm.
2. Jejunum : panjang kira-kira 211,2 cm.
3. Ileum : panjang 317 cm.
Sebagian zat makanan di absorbsi di jejunum.
Indikasi Stoma Usus Halus :
1. Penyakit : Cancer, inflamasi penyakit-penyakit usus.
2. Kongenital : Ileus Meconium.
3. Trauma : Luka rembes, kecelakaan, tabrakan.
Type Stoma Usus Halus
1. Ileostomy : sekresi berbentuk pasta, biasanya permanent.
Sekresi menyebabkan iritasi pada kulit sekitarnya.
2. Jejunostomi : Ujung / loop, out put tinggi : 300-400 cc/24 jam
Sekresi menyebabkan iritasi pada kulit sekitarnya
Sementara, permanent.
4. Duodenostomi : hidup tidak nyaman.
Perawatan :
1. Persiapan pre Op.
a. Persiapan Mental.
Setiap pasien yang akan menjalani operasi pada umumnya mengalami gangguan psikologi misalnya, rasa takut, bingung, gelisah,cemas dll, untuk mengatasi hal tersebut, perawat dan tean dokter harus menjelaskan kepada pasien tentang tindakan apa yang dilakukan, perawatan atau tindakan apa yang akan dilakukan setelah operasi, serta cara hidup setelah menjalani operasi.
b. Persiapan Fisik.
Persiapan fisik pasien tergantung dari SOP masing-masing Rumah Sakit dan kebiasaan dokter bedah.
2. Post Operasi
Perawatan post operasi tergantung dari jenis stoma. Pada operasi usus besar biasanya dilakukan irigasi / enema. Hasil irigasi baik pada stoma descenden / sigmoid.
Plug / tampon dipasang pada stoma descenden / sigmoid setelah irigasi.
Kantong (colostomy bag) dapat dialirkan dengan system drainage, bisa 1 – 2 buah.
Menjaga kebersihan disekitar stoma.
Operasi Usus Halus dapat digunakan system kantong (bag).
Bisa single atau double (2 piece), keuntunganya : secret bisa ditampung, bisa memakai system 1 – 2 buah, pemakaian dapat di atur.
Dasar-dasar Perawatan dari semua jenis Stoma antara lain :
-Lokasi
-Warna mukosa.
-Ukuran bentuk mukosa
-Keadaan sekitar kulit
-Dapat dialirkan
-Bekas luka teratur / tidak.
Observasi 1 hari sesudah operasi
- Ganti balutan tergantung dokter bedah
- Observasi, termasuk diameter dari stoma
- Tingginya proporsi dari stoma
- Warna stoma, yang baik adalah pink dan lembab.
- Perhatikan penonjolan stoma
- Perhatikan di sekitar stoma, apakah lengket atau hematoma.
- Dokumentasikan jarak antara stoma dan kulit.
- Stoma berfungsi atau tidak.
Prinsip pemasangan kantong (kolostomi bag)
Pada dasarnya pemasangan bag kepada pasien lebih berfokus kepada melatih pasien agar dapat merawat diri sendiri di rumah terutama pada pasien yang mendapat permanent colostomy.
Ada 2 macam colostomy bag
1. Sistem Single : terdiri dari 1 buah yang menyambung jadi satu.
2. 2 piece : stomahesive dan wafer.
Ukuran bag bermacam-macam. Jadi besar kecilnya bag disesuikan dengan sekresi dan keadaan stoma itu sendiri serta kemampuan ekonomi dan kenyamanan pasien.
Tehnik pemasangan colostomy bag.
1. Pilih colostomy bag yang sesuai dengan besarnya stoma.
2. Buka seal yang melekat pada ring.
3. Pasang ring secara perlahan pada stoma.
Bila memilih system 1 piece :
- Sebelum memasang ring, pastikan bahwa kulit disekitar stoma kering agar ring dapat melekat dengan sempurna.
- Pada hari ke 3 post. Op. pasien biasanya masih berbaring di tempat tidur. Arahkan kantong kearah yang terendah
- Bila pasien sudah mulai mobilisasi, kantong diarahkan sesuai kenyamananpasien.
Dengan system 2 piece :
- Buat jarak stomahesive wafer sesuai stoma.
- Jarak antara pinggir stoma dengan pinggir ring maximal 2 mm.
- Buka seal yang melekat pada stomahesive wafer.
- Pasang wafer pada stoma. Pastikan bahwa wafer sudah melekat dengan sempurna
- Oleskan pasta / zing oil antara pinggir ring dengan pinggir stoma.
- Pasang bag dan arahkan sesuai kebutuhan.
Hal-hal yan perlu diperhatikan :
1. Perhatikan lingkungan, jaga pripacy pasien.
2. Jaga perasaan pasien jangan sampai menimbulkan rasa malu atau minder.
3. Hindarkan infeksi nosokomial.
4. Lakukan pendidikan kesehatan kepada pasien.
5. Bekerja dengan tenang
Irigasi.
Salah ssatu perawatan stoma yang juga penting adalah irigasi, akan tetapi tidak semua jenis stoma boleh dilakukan irigasi
Kriteria untuk irigasi
- Descenden atau sigmoid colostomy.
- Fungsi usus sudah normal.
- Pasien dapat belajar dan melihat prosedur.
- Atas permintaan pasien.
- Keadaan kesehatan pasien.
- Permintaan dokter.
Kontra indikasi dilakukan irigasi.
- Prognosa yang jelek.
- Prolaps stoma.
- Hernia peristoma.
- Colostomi bersifat sementara.
Tehnik Irigasi.
Cairan yang digunakan untuk orang dewasa.
Pembersih :
- Air 600 – 1000 ml
- Na Cl 600 – 1000 ml
Pelumas :
- Minyak (mineral/olive) 150 – 500 ml untuk pasien yang konstipasi.
Untuk Anak-anak :
Pembersih :
- Na Cl 25 ml/kg BB.
Pelumas :
- minyak/mineral/olive 10 – 25 ml/kg BB
Prosedur :
Alat-alat yang dibutuhkan
1. Irigator lengkap.
2. Alas bokong
3. Toilet tissue
4. Pispot
5. Trolly dan set ganti balutan
6. Sarung tangan.
7. Pelumas
Cara kerja :
1. Olesi ujung canula dengan minyak pelumas
2. Masukkan canula perlahan-lahan kedalam stoma.
3. Alirkan cairan dalam glas irrigator pelan-pelan sampai cairan habis.
4. Gunakan pispot untuk menampung kotoran yang keluar.
5. Bila sudah selesai, rawat stoma.
6. Bereskan alat-alat.
7. Jangan lupa mencuci tangan sebelum dan sesudah bekerja
Hal-hal penting yang harus diperhatikan :
- Terjadi tumpahan cairan dari stoma.
- Perut kram : stop irigasi, anjurkan pasien napas panjang, relaksasi.
- Retensi cairan.
- Susah tidaknya cairan masuk.
- Konstipasi : observ. Jumlah cairan yang masuk selama 24 jam, pergunakan pelumas faeces, enema.
- Bau yan tidak sedap.
Usus besar terdiri dari Secum yang berukuran 2,3 inchi atau 6,3 cm. Walaupun terdiri dari satu kesatuan, usus dibagi dalam 3 bagian : Ascenden, Transversum, Descenden dan bagian-bagian sigmoid.
Dari rectum ke colon panjangnya 105,6 – 158,4 cm.
Rectum adalah bagian terbawah dari usus besar yang panjangnya kira-kira 19,8 cm.
Indikasi Colostomy :
1. Penyakit : Cancer, diverticulosis.
2. Kongenital : Atresia Ani, Hirsprung’s
3. Trauma : Luka rembes, kecelakaan.
Tipe stoma usus besar
1. Colostomy sigmoid, Decenden :
- Stoma bersifat permanent.
- Faeces biasanya berbentuk padat.
- Biasanya stoma ujung, atau loop.
2. Colostomy Transversum
- Paling sering bersifat sementara.
- Bentuk faeces biasanya seperti pasta / lembek.
- Faeces dapat menyebabkan iritasi kulit disekitarnya.
3. Colostomy Ascenden
- Biasanya sementara
- Bentuk faeces cair.
- Faeces dapat menyebabkan iritasi kulit di sekitarnya.
Usus Halus
Usus halus mulai dari ujung bawah lambung dan berakhir pada secum yang menyambung dengan usus besar.
Usus halus terdiri dari :
1. Duodenum : panjang kira-kira 17,6 – 22 cm.
2. Jejunum : panjang kira-kira 211,2 cm.
3. Ileum : panjang 317 cm.
Sebagian zat makanan di absorbsi di jejunum.
Indikasi Stoma Usus Halus :
1. Penyakit : Cancer, inflamasi penyakit-penyakit usus.
2. Kongenital : Ileus Meconium.
3. Trauma : Luka rembes, kecelakaan, tabrakan.
Type Stoma Usus Halus
1. Ileostomy : sekresi berbentuk pasta, biasanya permanent.
Sekresi menyebabkan iritasi pada kulit sekitarnya.
2. Jejunostomi : Ujung / loop, out put tinggi : 300-400 cc/24 jam
Sekresi menyebabkan iritasi pada kulit sekitarnya
Sementara, permanent.
4. Duodenostomi : hidup tidak nyaman.
Perawatan :
1. Persiapan pre Op.
a. Persiapan Mental.
Setiap pasien yang akan menjalani operasi pada umumnya mengalami gangguan psikologi misalnya, rasa takut, bingung, gelisah,cemas dll, untuk mengatasi hal tersebut, perawat dan tean dokter harus menjelaskan kepada pasien tentang tindakan apa yang dilakukan, perawatan atau tindakan apa yang akan dilakukan setelah operasi, serta cara hidup setelah menjalani operasi.
b. Persiapan Fisik.
Persiapan fisik pasien tergantung dari SOP masing-masing Rumah Sakit dan kebiasaan dokter bedah.
2. Post Operasi
Perawatan post operasi tergantung dari jenis stoma. Pada operasi usus besar biasanya dilakukan irigasi / enema. Hasil irigasi baik pada stoma descenden / sigmoid.
Plug / tampon dipasang pada stoma descenden / sigmoid setelah irigasi.
Kantong (colostomy bag) dapat dialirkan dengan system drainage, bisa 1 – 2 buah.
Menjaga kebersihan disekitar stoma.
Operasi Usus Halus dapat digunakan system kantong (bag).
Bisa single atau double (2 piece), keuntunganya : secret bisa ditampung, bisa memakai system 1 – 2 buah, pemakaian dapat di atur.
Dasar-dasar Perawatan dari semua jenis Stoma antara lain :
-Lokasi
-Warna mukosa.
-Ukuran bentuk mukosa
-Keadaan sekitar kulit
-Dapat dialirkan
-Bekas luka teratur / tidak.
Observasi 1 hari sesudah operasi
- Ganti balutan tergantung dokter bedah
- Observasi, termasuk diameter dari stoma
- Tingginya proporsi dari stoma
- Warna stoma, yang baik adalah pink dan lembab.
- Perhatikan penonjolan stoma
- Perhatikan di sekitar stoma, apakah lengket atau hematoma.
- Dokumentasikan jarak antara stoma dan kulit.
- Stoma berfungsi atau tidak.
Prinsip pemasangan kantong (kolostomi bag)
Pada dasarnya pemasangan bag kepada pasien lebih berfokus kepada melatih pasien agar dapat merawat diri sendiri di rumah terutama pada pasien yang mendapat permanent colostomy.
Ada 2 macam colostomy bag
1. Sistem Single : terdiri dari 1 buah yang menyambung jadi satu.
2. 2 piece : stomahesive dan wafer.
Ukuran bag bermacam-macam. Jadi besar kecilnya bag disesuikan dengan sekresi dan keadaan stoma itu sendiri serta kemampuan ekonomi dan kenyamanan pasien.
Tehnik pemasangan colostomy bag.
1. Pilih colostomy bag yang sesuai dengan besarnya stoma.
2. Buka seal yang melekat pada ring.
3. Pasang ring secara perlahan pada stoma.
Bila memilih system 1 piece :
- Sebelum memasang ring, pastikan bahwa kulit disekitar stoma kering agar ring dapat melekat dengan sempurna.
- Pada hari ke 3 post. Op. pasien biasanya masih berbaring di tempat tidur. Arahkan kantong kearah yang terendah
- Bila pasien sudah mulai mobilisasi, kantong diarahkan sesuai kenyamananpasien.
Dengan system 2 piece :
- Buat jarak stomahesive wafer sesuai stoma.
- Jarak antara pinggir stoma dengan pinggir ring maximal 2 mm.
- Buka seal yang melekat pada stomahesive wafer.
- Pasang wafer pada stoma. Pastikan bahwa wafer sudah melekat dengan sempurna
- Oleskan pasta / zing oil antara pinggir ring dengan pinggir stoma.
- Pasang bag dan arahkan sesuai kebutuhan.
Hal-hal yan perlu diperhatikan :
1. Perhatikan lingkungan, jaga pripacy pasien.
2. Jaga perasaan pasien jangan sampai menimbulkan rasa malu atau minder.
3. Hindarkan infeksi nosokomial.
4. Lakukan pendidikan kesehatan kepada pasien.
5. Bekerja dengan tenang
Irigasi.
Salah ssatu perawatan stoma yang juga penting adalah irigasi, akan tetapi tidak semua jenis stoma boleh dilakukan irigasi
Kriteria untuk irigasi
- Descenden atau sigmoid colostomy.
- Fungsi usus sudah normal.
- Pasien dapat belajar dan melihat prosedur.
- Atas permintaan pasien.
- Keadaan kesehatan pasien.
- Permintaan dokter.
Kontra indikasi dilakukan irigasi.
- Prognosa yang jelek.
- Prolaps stoma.
- Hernia peristoma.
- Colostomi bersifat sementara.
Tehnik Irigasi.
Cairan yang digunakan untuk orang dewasa.
Pembersih :
- Air 600 – 1000 ml
- Na Cl 600 – 1000 ml
Pelumas :
- Minyak (mineral/olive) 150 – 500 ml untuk pasien yang konstipasi.
Untuk Anak-anak :
Pembersih :
- Na Cl 25 ml/kg BB.
Pelumas :
- minyak/mineral/olive 10 – 25 ml/kg BB
Prosedur :
Alat-alat yang dibutuhkan
1. Irigator lengkap.
2. Alas bokong
3. Toilet tissue
4. Pispot
5. Trolly dan set ganti balutan
6. Sarung tangan.
7. Pelumas
Cara kerja :
1. Olesi ujung canula dengan minyak pelumas
2. Masukkan canula perlahan-lahan kedalam stoma.
3. Alirkan cairan dalam glas irrigator pelan-pelan sampai cairan habis.
4. Gunakan pispot untuk menampung kotoran yang keluar.
5. Bila sudah selesai, rawat stoma.
6. Bereskan alat-alat.
7. Jangan lupa mencuci tangan sebelum dan sesudah bekerja
Hal-hal penting yang harus diperhatikan :
- Terjadi tumpahan cairan dari stoma.
- Perut kram : stop irigasi, anjurkan pasien napas panjang, relaksasi.
- Retensi cairan.
- Susah tidaknya cairan masuk.
- Konstipasi : observ. Jumlah cairan yang masuk selama 24 jam, pergunakan pelumas faeces, enema.
- Bau yan tidak sedap.
Sabtu, 22 Agustus 2009
MANAGEMEN RASA NYERI
Pain (Nyeri).
Adalah suatu gejala penting, merupakan suatu sensani yang sangat objektif, dan sulit dikualifikasi secara tepat oleh pemeriksa. Oleh karena itu daya tahan atau persepsi orang terhadap sakit berbeda-beda. Menurut Mersley (1986) nyeri didefinisikan sebagai suatu pengalaman perasaan sensorik dan emosional yang tidak nyaman yang dihubungkan dengan adanya kerusakan jaringan atau jaringan yang berpotensial untuk rusak atau yang dapat dikatagorikan sebagai jaringan. Klasifikasi nyeri :
1. Nyeri perifer (supervisial,dalam, referred).
2. Nyeri sentral (central pain).
3. Nyeri psycologik (psychogenic pain).
Keterangan:
1. Nyeri perifer dibagi tiga yaitu :
a. Superfisialis adalah nyeri yang disebabkan oleh rangsangan fisik,
mekanik dan kimiawi pada kulit atau mukosa, biasanya terasa nyeri tajam
didaerah rangsang.
b. Dalam (Dee) adalah nyeri yang terjadi bila daerah viscera, sendi, pleura,
peritonium terangsang. Umumnya nyeri dalam banyak hal berhubungan dengan
referred pain, dapat mengakibatkan penderita berkeringat, kejang otot didaerah
kulit yang berjauhan dari asal nyerinya. c. Referred pain adalah nyeri
didaerah jauh dari tempat yang dirangsang, biasanya terlihat pada nyeri dalam,
yang menyebarkan nyeri kearah superfisial.
Kadang-kadang disamping rasa nyeri, terjadi kejang pada otot-otot atau
kelainan susun saraf otonom (seperti gangguan vascular) dan berkeringat yang
luar biasa. Mekanisme referred pain adalah penyebab perangsang centripetal
yang terus-menerus, internuncial nervous di sumsum tulang belakang
(spain cord) sehingga menimbulkan pusat yang terangsang, akhirnya terjadi
nyeri yang mempengaruhi sejauh segmental, sehingga otot-otot yang bersangkutan
kejang dan pembuluh darah menyempit.
2. Nyeri sentral (central pain) adalah: nyeri yang disebabkan oleh rangsangan
penyakit seperti syringomelia, tumor otak, atau perdarahan yang merangsang
medullae spinalis, brain stem (batang otak), talamus (kortex).
Ada yang menyebabkan referred pain di perifer, ada yang tidak.
3. Nyeri psikologik. Adalah nyeri tidak dapat diketemukan atau tidak diketemukan
kelainan organik, tetapi sipenderita mengeluh nyeri hebat, umumnya keluhan berupa
sakit kepala, sakit perut dan lain-lain. Anatomi neurologik tidak dapat
menjelaskan nyeri hebat dan tiap pemeriksaan sangat terpengaruh oleh kondisi
psycologik, tempat selalu berpindah-pindah dan keras nyeri selalu berubah,
sehingga seakan-akan keluhannya dibuat-buat.
TRANMISI RASA NYERI.
Rasa nyeri adalah rangsangan mekanik, physikal, atau kimiawi, pada ujung saraf, tetapi mekanismenya tidak sedemikian mudah. Karena rangsangan yang sama kerasnya pada satu orang, kelainannya mempunyai perasaan yang berbeda-beda, ada yang merasa nyeri sekali, ada yang merasa ringan saja. Rangsangan yang terus-menerus, lama kelamaan akan terbiasa sehingga rasa nyeri berkurang atau tidak dirasakan lagi. Menurut Prof Satyanegara M.D dalam bukunya teori dan terapi nyeri, berpendapat mekanisme transmisi nyeri itu cukup ruwet, ditengah perjalanan terjadi pengontrolan, maka dibawah ini akan diuraikan tentang mekanisme rasa nyeri. Sistem Oligosynaptik. Perjalanan rasa nyeri dalam anatomi neurologik, dasarnya terdiri dari tiga neuron. Yaitu : a. Neuron pertama (receptor neuron). Sel saraf ini terletak diganglia saraf perifer, neuron ini dikuasai oleh gizi. Pengontrolan sel saraf akan menghilang atau degenerasi bila sel saraf bersangkutan mati. Sel saraf diganglia spinalis yang bernama "sel bipolar" berbentuk dua buah tanduk, salah satu menuju perifer, sedang yang lainnya melalui tanduk belakang menuju kesuptansia gelatinosa (Rolando) dan sebagian berakhir pada tanduk belakang. Disini terjadi sambungan dengan neuron kedua (internuncial), perjalanan yang menuju ke perifer dan sentral dinamakan traktus dorsolateralis (lissauer). Traktus dorsolateralis pada segmen spinalis, saling mensarafi persarafan bagian atas dan bawahnya, maka meskipun gangguan sebagian di tractus spinothalamicus,disekitarnya tetap masih terasa nyeri.
Read More
Adalah suatu gejala penting, merupakan suatu sensani yang sangat objektif, dan sulit dikualifikasi secara tepat oleh pemeriksa. Oleh karena itu daya tahan atau persepsi orang terhadap sakit berbeda-beda. Menurut Mersley (1986) nyeri didefinisikan sebagai suatu pengalaman perasaan sensorik dan emosional yang tidak nyaman yang dihubungkan dengan adanya kerusakan jaringan atau jaringan yang berpotensial untuk rusak atau yang dapat dikatagorikan sebagai jaringan. Klasifikasi nyeri :
1. Nyeri perifer (supervisial,dalam, referred).
2. Nyeri sentral (central pain).
3. Nyeri psycologik (psychogenic pain).
Keterangan:
1. Nyeri perifer dibagi tiga yaitu :
a. Superfisialis adalah nyeri yang disebabkan oleh rangsangan fisik,
mekanik dan kimiawi pada kulit atau mukosa, biasanya terasa nyeri tajam
didaerah rangsang.
b. Dalam (Dee) adalah nyeri yang terjadi bila daerah viscera, sendi, pleura,
peritonium terangsang. Umumnya nyeri dalam banyak hal berhubungan dengan
referred pain, dapat mengakibatkan penderita berkeringat, kejang otot didaerah
kulit yang berjauhan dari asal nyerinya. c. Referred pain adalah nyeri
didaerah jauh dari tempat yang dirangsang, biasanya terlihat pada nyeri dalam,
yang menyebarkan nyeri kearah superfisial.
Kadang-kadang disamping rasa nyeri, terjadi kejang pada otot-otot atau
kelainan susun saraf otonom (seperti gangguan vascular) dan berkeringat yang
luar biasa. Mekanisme referred pain adalah penyebab perangsang centripetal
yang terus-menerus, internuncial nervous di sumsum tulang belakang
(spain cord) sehingga menimbulkan pusat yang terangsang, akhirnya terjadi
nyeri yang mempengaruhi sejauh segmental, sehingga otot-otot yang bersangkutan
kejang dan pembuluh darah menyempit.
2. Nyeri sentral (central pain) adalah: nyeri yang disebabkan oleh rangsangan
penyakit seperti syringomelia, tumor otak, atau perdarahan yang merangsang
medullae spinalis, brain stem (batang otak), talamus (kortex).
Ada yang menyebabkan referred pain di perifer, ada yang tidak.
3. Nyeri psikologik. Adalah nyeri tidak dapat diketemukan atau tidak diketemukan
kelainan organik, tetapi sipenderita mengeluh nyeri hebat, umumnya keluhan berupa
sakit kepala, sakit perut dan lain-lain. Anatomi neurologik tidak dapat
menjelaskan nyeri hebat dan tiap pemeriksaan sangat terpengaruh oleh kondisi
psycologik, tempat selalu berpindah-pindah dan keras nyeri selalu berubah,
sehingga seakan-akan keluhannya dibuat-buat.
TRANMISI RASA NYERI.
Rasa nyeri adalah rangsangan mekanik, physikal, atau kimiawi, pada ujung saraf, tetapi mekanismenya tidak sedemikian mudah. Karena rangsangan yang sama kerasnya pada satu orang, kelainannya mempunyai perasaan yang berbeda-beda, ada yang merasa nyeri sekali, ada yang merasa ringan saja. Rangsangan yang terus-menerus, lama kelamaan akan terbiasa sehingga rasa nyeri berkurang atau tidak dirasakan lagi. Menurut Prof Satyanegara M.D dalam bukunya teori dan terapi nyeri, berpendapat mekanisme transmisi nyeri itu cukup ruwet, ditengah perjalanan terjadi pengontrolan, maka dibawah ini akan diuraikan tentang mekanisme rasa nyeri. Sistem Oligosynaptik. Perjalanan rasa nyeri dalam anatomi neurologik, dasarnya terdiri dari tiga neuron. Yaitu : a. Neuron pertama (receptor neuron). Sel saraf ini terletak diganglia saraf perifer, neuron ini dikuasai oleh gizi. Pengontrolan sel saraf akan menghilang atau degenerasi bila sel saraf bersangkutan mati. Sel saraf diganglia spinalis yang bernama "sel bipolar" berbentuk dua buah tanduk, salah satu menuju perifer, sedang yang lainnya melalui tanduk belakang menuju kesuptansia gelatinosa (Rolando) dan sebagian berakhir pada tanduk belakang. Disini terjadi sambungan dengan neuron kedua (internuncial), perjalanan yang menuju ke perifer dan sentral dinamakan traktus dorsolateralis (lissauer). Traktus dorsolateralis pada segmen spinalis, saling mensarafi persarafan bagian atas dan bawahnya, maka meskipun gangguan sebagian di tractus spinothalamicus,disekitarnya tetap masih terasa nyeri.
Kamis, 30 Juli 2009
UPAYA PENCEGAHAN INFEKSI DI POLIKLINIK
Infeksi nosokomial yaitu infeksi yang ditimbulkan dari tindakan medis,kemudian menjadi ancaman bagi petugas kesehatan dan pasien. Puskesmas dan Klinik umum merupakan ujung tombak pelayanan preventif dan kuratif bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Semua petugas kesehatan di tempat tersebut mulai dokter hingga petugas kebersihan beresiko menularkan penyakit. Pelaksanaan Universal Precaution ( Pencegahan Infeksi) merupakan langkah penting untuk menghindarkan Puskesmas / Klinik dari tempat penyembuhan menjadi sumber infeksi. Pedoman tentang pencegahan penularan penyakit melalui fasilitas kesehatan sangat dibutuhkan untuk melindungi pasien dan petugas kesehatan. Kebutuhan ini makin mendesak karena selain virus Hepatitis, HIV / AIDS juga dapat ditularkan melaui tindakan pada pelayanan kesehatan. Petugas kesehatan mempunyai resiko tertular karena tertusuk jarum atau terpapar darah /cairan tubuh yang terinfeksi. Sementara pasien dapat tertular melalui peralatan yang terkontaminasi atau menerima darah atau produk darah yang mengandung virus. Penelitian tentang upaya pencegahan infeksi di Puskesmas menunjukkan beberapa tindakan petugas yang meningkatkan resiko penularan penyakit kepada diri mereka, pasien yang dilayani dan masyarakat luas, yaitu :
1. Cuci tangan yang kurang benar.
2. Penggunaan sarung tangan yang kurang tepat.
3. Menutup kembali jarum suntik secara tidak aman.
4. Membuang peralatan tajam secara tidak benar.
5. Tehnik dekontaminasi dan sterilisasi peralatan kurang tepat.
6. Praktek kebersihan ruangan yang belum memadai.
7. Sarana yang tersedia untuk melaksanakan pencegahan infeksi kurang mendukung.
KEGIATAN POKOK UNIVERSAL PRECAUTION.
Prinsip utama mencegah infeksi pada pelayanan kesehatan adalah menjaga hygiene sanitasi individu, hygiene sanitasi ruangan dan sterilisasi peralatan. Ketiga prinsip tersebut dijabarkan menjadi 5 kegiatan ;
1. mencuci tangan guna mencegah infeksi silang.
2. Pemakian sarung tangan dan alat pelindung lain guna mencegah kontak dengan darah serta cairan infeksius yang lain.
3. pengelolaan jarum dan alat tajam untuk mencegah perlukaan.
4. Penatalaksanaan peralatan.
5. pengelolaan limbah dan sanitasi ruangan.
MENCUCI TANGAN GUNA MENCEGAH INFEKSI SILANG.
Mencuci tangan dengan benar adalah mencegah tindakan amat penting untuk menghilangkan / mengurangi mikroorganisma yang ada di tangan sehingga penyebaran penyakit dapat dikurangi dan lingkungan terjaga dari infeksi. Ada tiga cara cuci tangan yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan, yaitu :
1. Cuci tangan rutin.
2. Cuci tangan aseptic.
3. Cuci tangan bedah (surgical handscrub)
INDIKASI CUCI TANGAN
1. Sebelum tindakan
• Saat akan melakukan pekerjaan (baru tiba di kantor)
• Saat akan memeriksa (kontak langsung dengan pasien).
• Saat akan memakai sarung tangan steril atau sarung tangan yang telah didesinfeksi tingkat tinggi (DTT) untuk melaksanakan suatu tindakan.
2. Sesudah tindakan.
• Saat hendak pulang ke rumah.
• Setelah memeriksa pasien.
• Setelah memegang alat-alat bekas pakai dan bahan-bahan lain yang terkontaminasi.
• Setelah menyentuh membrane mukosa, darah atau cairan tubuh lainnya.
• Setelah membuka sarung tangan (cuci tangan sesudah membuka sarung tangan perlu dilakukan karena ada kemungkinan bocor.)
PEMAKAIAN SARUNG TANGAN DAN ALAT PELINDUNG LAIN.
Secara garis besar, sarung tangan dan pelindung tubuh digunakan untuk mencegah pemaparan darah dan cairan tubuh dari pasien pada petugas kesehatan. Pelindung tubuh untuk pencegahan infeksi adalah sarung tangan, apron, masker, kacamata pelindung, penutup kepala dan sepatu (Study foot wear. Tidakn semua alat pelindung tubuh harus dipakai. Jenis pelindung tubuh yang dipakai tergantung pada jenis tindakan atau kegiatan yang akan dikerjakan.
PENGELOLAAN JARUM DAN ALAT TAJAM.
Langkah untuk menegah terjadi perlukaan karena peralatan tajam adalah sebagai berikut :
1. Setiap petugas kesehatan harus memperhatikan dengan cermat pengunaan jarum suntik dan benda tajam dan bertanggung jawab atas alat yang digunakannya.
2. Meletakan jarum yang telah digunakan pada kotak limbah tidak tembus.
3. Pastikan bahwa kotak limbah tempat pembuangan alat tajam ada di setiap ruangan.
4. Gunakan sarung tangan tebal saat mencuci peralatan dan alat tajam serta saat menangani kotak limbah yang berisi alat tajam.
5. Jangan menyerahkan alat tajam secara langsung dari satu petugas ke petugas lain. Gunakan tehnik tanpa sentuh (hands free) untuk memindahkan benda tajam.
6. resiko perlukaan harus ditekan dengan mengupayakan situasi kerja di mana petugas kesehatan mendapatkan pandangan bebas tanpa halangan dengan meletakan pasien pada posisi yang mudah dilihat, mengatur umber pencahayaan yang benar dan mengontrol perdarahan.
7. Gunakan pinset atau forcep saat mengerjakan penjahitan (suturing).
8. Jarum disposable bekas pakai jangan dibengkokkan, dipatahkan atau ditup kembali. Jika jarum terpaksa ditutp kembali (recapping), gunakan cara penutupan jarum satu tangan (single handed recapping method untuk mencegah jari tertusuk jarum.
Read More
1. Cuci tangan yang kurang benar.
2. Penggunaan sarung tangan yang kurang tepat.
3. Menutup kembali jarum suntik secara tidak aman.
4. Membuang peralatan tajam secara tidak benar.
5. Tehnik dekontaminasi dan sterilisasi peralatan kurang tepat.
6. Praktek kebersihan ruangan yang belum memadai.
7. Sarana yang tersedia untuk melaksanakan pencegahan infeksi kurang mendukung.
KEGIATAN POKOK UNIVERSAL PRECAUTION.
Prinsip utama mencegah infeksi pada pelayanan kesehatan adalah menjaga hygiene sanitasi individu, hygiene sanitasi ruangan dan sterilisasi peralatan. Ketiga prinsip tersebut dijabarkan menjadi 5 kegiatan ;
1. mencuci tangan guna mencegah infeksi silang.
2. Pemakian sarung tangan dan alat pelindung lain guna mencegah kontak dengan darah serta cairan infeksius yang lain.
3. pengelolaan jarum dan alat tajam untuk mencegah perlukaan.
4. Penatalaksanaan peralatan.
5. pengelolaan limbah dan sanitasi ruangan.
MENCUCI TANGAN GUNA MENCEGAH INFEKSI SILANG.
Mencuci tangan dengan benar adalah mencegah tindakan amat penting untuk menghilangkan / mengurangi mikroorganisma yang ada di tangan sehingga penyebaran penyakit dapat dikurangi dan lingkungan terjaga dari infeksi. Ada tiga cara cuci tangan yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan, yaitu :
1. Cuci tangan rutin.
2. Cuci tangan aseptic.
3. Cuci tangan bedah (surgical handscrub)
INDIKASI CUCI TANGAN
1. Sebelum tindakan
• Saat akan melakukan pekerjaan (baru tiba di kantor)
• Saat akan memeriksa (kontak langsung dengan pasien).
• Saat akan memakai sarung tangan steril atau sarung tangan yang telah didesinfeksi tingkat tinggi (DTT) untuk melaksanakan suatu tindakan.
2. Sesudah tindakan.
• Saat hendak pulang ke rumah.
• Setelah memeriksa pasien.
• Setelah memegang alat-alat bekas pakai dan bahan-bahan lain yang terkontaminasi.
• Setelah menyentuh membrane mukosa, darah atau cairan tubuh lainnya.
• Setelah membuka sarung tangan (cuci tangan sesudah membuka sarung tangan perlu dilakukan karena ada kemungkinan bocor.)
PEMAKAIAN SARUNG TANGAN DAN ALAT PELINDUNG LAIN.
Secara garis besar, sarung tangan dan pelindung tubuh digunakan untuk mencegah pemaparan darah dan cairan tubuh dari pasien pada petugas kesehatan. Pelindung tubuh untuk pencegahan infeksi adalah sarung tangan, apron, masker, kacamata pelindung, penutup kepala dan sepatu (Study foot wear. Tidakn semua alat pelindung tubuh harus dipakai. Jenis pelindung tubuh yang dipakai tergantung pada jenis tindakan atau kegiatan yang akan dikerjakan.
PENGELOLAAN JARUM DAN ALAT TAJAM.
Langkah untuk menegah terjadi perlukaan karena peralatan tajam adalah sebagai berikut :
1. Setiap petugas kesehatan harus memperhatikan dengan cermat pengunaan jarum suntik dan benda tajam dan bertanggung jawab atas alat yang digunakannya.
2. Meletakan jarum yang telah digunakan pada kotak limbah tidak tembus.
3. Pastikan bahwa kotak limbah tempat pembuangan alat tajam ada di setiap ruangan.
4. Gunakan sarung tangan tebal saat mencuci peralatan dan alat tajam serta saat menangani kotak limbah yang berisi alat tajam.
5. Jangan menyerahkan alat tajam secara langsung dari satu petugas ke petugas lain. Gunakan tehnik tanpa sentuh (hands free) untuk memindahkan benda tajam.
6. resiko perlukaan harus ditekan dengan mengupayakan situasi kerja di mana petugas kesehatan mendapatkan pandangan bebas tanpa halangan dengan meletakan pasien pada posisi yang mudah dilihat, mengatur umber pencahayaan yang benar dan mengontrol perdarahan.
7. Gunakan pinset atau forcep saat mengerjakan penjahitan (suturing).
8. Jarum disposable bekas pakai jangan dibengkokkan, dipatahkan atau ditup kembali. Jika jarum terpaksa ditutp kembali (recapping), gunakan cara penutupan jarum satu tangan (single handed recapping method untuk mencegah jari tertusuk jarum.
Minggu, 19 Juli 2009
Luka Dan Fraktur
Pendahuluan
Pengertian dari luka adalah rusak atau hilangnya sebagian jaringan kulit, dan Fraktur adalah terputusnya kesinambungan sebagian atau seluruh tulang atau tulang rawan.
Trauma pada Ekstrimitas.
Kita tidak mengesampingkan luka ekstrimitas pada saat mencurahkan perhatian kepada hal-hal yang mengancam jiwa pasien.walaupun kita tetap memperhatikan :
1. Survei Primer (ABC)
Bila ada cedera ekstrimitas yang mengganggu ABC (misalnya Syok karena perdarahan aktif), harus dilakukan penanganan dalam bentuk mengontrol perdarahan.
2. Survei sekunder. Saat ini diperhatikan kerusakan pada ekstrimitas.
Hal yang harus kita pikirkan antara lain;
1. Memprioritaskan trauma ekstrimitas dan luka apabila mengancam ABC.
2. Dapat mengenali komplikasi yang berat dan pengobatan dari luka ekstrimitas :
- Fraktur.
- Dislokasi.
- Amputasi.
- Luka terbuka.
- Luka Neurovaskular.
- Keseleo.
- Impaled Objects.
- Sindrom Kompartemen..
3. Mengetahui jumlah darah yang hilangdari pelvis dan fraktur ekstrimitas.
Syok hemoragik adalah bahaya potensial dari cedera otot dan tulang. Hanya pada laserasi yang langsung dari arteri atau fraktur dari pelvis atau femur yang sering disertai dengan perdarahan yang cukup untuk menimbulkan syok. Luka pada syaraf atau pembuluh-pembuluh darah yang menyediakan darah bagi tangan dan kaki adalah merupakan komplikasi yang sering terjadi. Kerapkali luka menyebabkan kehilangan fungsi yangditemukan pada kerusakan neurovaskuler. Oleh karena itu mengenai sirkulasi dan neurologist distal adalah sangat penting.
Perlu diingat : Saat survey Primer, fraktur tulang panjang dan pelvis dapat menyebabkan syok.
Saat Survei Sekunder, selalu periksa neuro-vaskuler distal.
Fraktur
Fraktur bisa terjadi dengan patahnya tulang dimana tulang bisa tetap berada di dalam (fraktur tertutup) atau diluar dari kulit (fraktur terbuka).
Fraktur ujung tulang yang sangat tajam dapat menyebabkan bahaya untuk jaringan lunak (biasanyaotot sedikit banyak akan ikut rusak) yang mengelilingi tulang tersebut. Syaraf dan pembuluh darah yang berjalan dekat tulang dapat ikut terluka.
Tanda-tanda Fraktur :
1. Nyeri ,bengkak.
2. Perubahan bentuk.
3. Memar, kemerahan.
Fraktur tertutup sama bahayanya dengan fraktur terbuka karena luka dari jaringan lunak menyebabkan perdarahan yang banyak. Sangat penting untuk mengenal adanya luka di dekat patahan tulang, karena bisa menjadi pintu masuk dari kontaminasi dengan kuman.
Fraktur tertutup femur dapat menyebabkandarah lebih dari satu liter, apalagi bila kena kedua femur, ini dapat menyebabkan perdarahan yang mengancam jiwa.
Fraktur pelvis dapat menyebabkan perdarahan yang dapat masuk ke abdomen dan daerah retroperitoneal. Pada pelvis dapat terjadi beberapa fragmen fraktur pada beberapa tempat dan setiap fraktur dapat menyebabkan kehilangan darah sebanyak 500 cc. Fraktur pelvis dapat pula menyebabkan robekan pada kandung kemih atau pembuluh darah pelvis yang besar. Keduanya dapat menyebabkan perdarahan yang fatalke dalam abdomen. Perlu di ingatfraktur yang multiple dapat mengancam jiwa walaupun tidak terlihat darah yang keluar.

A. Fraktur tertutup.
B. Fraktur terbuka
Pengelolaan Fraktur.
Dengan Bidai, antara lain :
1. Bidai Rigid (kaku).
2. Bidai Soft (lunak).
3. Bidai udara (Airsplint).
4. Vacuum.
5. Tractiont Splint.
Selalu diingat untuk memeriksa vulsasi sebelum dan sesudah pemasangan Bidai.
Bila dicurigai ada fraktur di Servikal / leher, pasang Neck Collar.dan bila curiga fraktur Torakal / lumbal , pasang Long Spin Board (LSB)
Langganan:
Postingan
(
Atom
)
Blog Archive
-
2015
(10)
- 10/11 - 10/18 (1)
- 09/13 - 09/20 (1)
- 09/06 - 09/13 (1)
- 07/05 - 07/12 (1)
- 05/17 - 05/24 (6)
-
2014
(1)
- 04/13 - 04/20 (1)
-
2012
(770)
- 02/19 - 02/26 (5)
- 02/12 - 02/19 (10)
- 02/05 - 02/12 (4)
- 01/29 - 02/05 (27)
- 01/22 - 01/29 (88)
- 01/15 - 01/22 (101)
- 01/08 - 01/15 (169)
- 01/01 - 01/08 (366)
-
2011
(4477)
- 12/25 - 01/01 (336)
- 12/18 - 12/25 (62)
- 12/11 - 12/18 (70)
- 12/04 - 12/11 (77)
- 11/27 - 12/04 (40)
- 11/20 - 11/27 (67)
- 11/13 - 11/20 (198)
- 11/06 - 11/13 (187)
- 10/30 - 11/06 (340)
- 10/23 - 10/30 (32)
- 10/16 - 10/23 (109)
- 10/09 - 10/16 (80)
- 08/14 - 08/21 (75)
- 08/07 - 08/14 (81)
- 07/31 - 08/07 (82)
- 07/24 - 07/31 (65)
- 07/17 - 07/24 (91)
- 07/10 - 07/17 (47)
- 07/03 - 07/10 (44)
- 06/26 - 07/03 (53)
- 06/19 - 06/26 (59)
- 06/12 - 06/19 (47)
- 06/05 - 06/12 (65)
- 05/29 - 06/05 (63)
- 05/22 - 05/29 (77)
- 05/15 - 05/22 (115)
- 05/08 - 05/15 (65)
- 05/01 - 05/08 (104)
- 04/24 - 05/01 (45)
- 04/17 - 04/24 (70)
- 04/10 - 04/17 (134)
- 04/03 - 04/10 (72)
- 03/27 - 04/03 (18)
- 03/20 - 03/27 (47)
- 03/13 - 03/20 (68)
- 03/06 - 03/13 (40)
- 02/27 - 03/06 (56)
- 02/20 - 02/27 (77)
- 02/13 - 02/20 (76)
- 02/06 - 02/13 (198)
- 01/30 - 02/06 (194)
- 01/23 - 01/30 (132)
- 01/16 - 01/23 (196)
- 01/09 - 01/16 (202)
- 01/02 - 01/09 (121)
-
2010
(2535)
- 12/26 - 01/02 (156)
- 12/19 - 12/26 (65)
- 12/12 - 12/19 (73)
- 12/05 - 12/12 (84)
- 11/28 - 12/05 (80)
- 11/21 - 11/28 (68)
- 11/14 - 11/21 (63)
- 11/07 - 11/14 (50)
- 10/31 - 11/07 (50)
- 10/24 - 10/31 (36)
- 10/17 - 10/24 (58)
- 10/10 - 10/17 (35)
- 10/03 - 10/10 (31)
- 09/26 - 10/03 (21)
- 09/19 - 09/26 (26)
- 09/12 - 09/19 (55)
- 09/05 - 09/12 (65)
- 08/29 - 09/05 (33)
- 08/22 - 08/29 (70)
- 08/15 - 08/22 (45)
- 08/08 - 08/15 (35)
- 08/01 - 08/08 (37)
- 07/25 - 08/01 (27)
- 07/18 - 07/25 (19)
- 07/11 - 07/18 (30)
- 07/04 - 07/11 (56)
- 06/27 - 07/04 (28)
- 06/20 - 06/27 (22)
- 06/13 - 06/20 (30)
- 06/06 - 06/13 (21)
- 05/30 - 06/06 (5)
- 05/16 - 05/23 (6)
- 05/09 - 05/16 (29)
- 05/02 - 05/09 (59)
- 04/25 - 05/02 (28)
- 04/18 - 04/25 (38)
- 04/11 - 04/18 (70)
- 04/04 - 04/11 (59)
- 03/28 - 04/04 (65)
- 03/21 - 03/28 (89)
- 03/14 - 03/21 (218)
- 03/07 - 03/14 (95)
- 02/28 - 03/07 (135)
- 02/21 - 02/28 (102)
- 01/03 - 01/10 (68)
-
2009
(1652)
- 12/27 - 01/03 (36)
- 12/20 - 12/27 (22)
- 12/13 - 12/20 (100)
- 12/06 - 12/13 (45)
- 11/29 - 12/06 (24)
- 11/22 - 11/29 (22)
- 11/15 - 11/22 (19)
- 11/08 - 11/15 (28)
- 11/01 - 11/08 (11)
- 10/25 - 11/01 (17)
- 10/18 - 10/25 (38)
- 10/11 - 10/18 (33)
- 10/04 - 10/11 (15)
- 09/27 - 10/04 (21)
- 09/20 - 09/27 (7)
- 09/13 - 09/20 (84)
- 09/06 - 09/13 (35)
- 08/30 - 09/06 (48)
- 08/23 - 08/30 (118)
- 08/16 - 08/23 (26)
- 08/09 - 08/16 (34)
- 08/02 - 08/09 (35)
- 07/26 - 08/02 (31)
- 07/19 - 07/26 (14)
- 07/12 - 07/19 (16)
- 07/05 - 07/12 (28)
- 06/28 - 07/05 (26)
- 06/21 - 06/28 (76)
- 06/14 - 06/21 (26)
- 06/07 - 06/14 (21)
- 05/31 - 06/07 (43)
- 05/24 - 05/31 (38)
- 05/17 - 05/24 (26)
- 05/10 - 05/17 (52)
- 05/03 - 05/10 (15)
- 04/26 - 05/03 (38)
- 04/19 - 04/26 (32)
- 04/12 - 04/19 (22)
- 04/05 - 04/12 (20)
- 03/29 - 04/05 (40)
- 03/22 - 03/29 (43)
- 03/15 - 03/22 (18)
- 03/08 - 03/15 (14)
- 03/01 - 03/08 (22)
- 02/22 - 03/01 (12)
- 02/15 - 02/22 (9)
- 02/08 - 02/15 (11)
- 02/01 - 02/08 (19)
- 01/25 - 02/01 (37)
- 01/18 - 01/25 (21)
- 01/11 - 01/18 (33)
- 01/04 - 01/11 (31)
-
2008
(700)
- 12/28 - 01/04 (13)
- 12/21 - 12/28 (9)
- 12/14 - 12/21 (57)
- 12/07 - 12/14 (5)
- 11/30 - 12/07 (18)
- 11/23 - 11/30 (33)
- 11/16 - 11/23 (31)
- 11/09 - 11/16 (23)
- 11/02 - 11/09 (18)
- 10/26 - 11/02 (11)
- 10/19 - 10/26 (15)
- 10/12 - 10/19 (13)
- 10/05 - 10/12 (25)
- 09/28 - 10/05 (2)
- 09/21 - 09/28 (14)
- 09/14 - 09/21 (19)
- 09/07 - 09/14 (43)
- 08/31 - 09/07 (3)
- 08/24 - 08/31 (33)
- 08/17 - 08/24 (65)
- 08/10 - 08/17 (4)
- 08/03 - 08/10 (26)
- 07/27 - 08/03 (6)
- 07/20 - 07/27 (19)
- 07/13 - 07/20 (18)
- 07/06 - 07/13 (60)
- 06/29 - 07/06 (53)
- 06/22 - 06/29 (49)
- 06/15 - 06/22 (11)
- 06/08 - 06/15 (4)
Popular Posts
-
Konsep Teori Transkultural dalam Keperawatan APLIKASI TEORI TRANSCULTURAL NURSING DALAM PROSES KEPERAWATAN Rahayu Iskandar, Ners, M.Kep PEND...
-
Setelah beberapa minggu ini cari materi buat postingan baru, mendadak dapat inspirasi setelah rekan Anton Wijaya menulis di buku tamu Keper...
-
KTI KEBIDANAN HUBUNGAN USIA TERHADAP PERDARAHAN POSTPARTUM DI RSUD BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan wanita merupakan hal yang s...
-
PATHWAY ASFIKSIA NEONATORUM Klik pada gambar untuk melihat pathway Download Pathway Asfiksia Neonatorum Via Ziddu Download Askep Asfiksia N...
-
PROSES KEPERAWATAN KOMUNITAS Pengertian - Proses keperawatan adalah serangkaian perbuatan atau tindakan untuk menetapkan, merencana...
-
Konsep Dasar Diagnosa Keperawatan Aktual BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sebagai suatu aspek yang terpenting dalam proses kepera...
-
Prelevansi penyakit kulit di Indonesia cukup tinggi baik oleh bakteri, virus atau jamur. Selain itu bergantung pada lingkungan dan kondisi...
-
Pathway Hematemesis Melena Klik pada gambar untuk melihat pathway Download Pathway Hematemesis Melena Via Ziddu
-
DEFINISI Ikterus ialah suatu gejala yang perlu mendapat perhatian sungguh-sungguh pada neonatus. Ikterus ialah suatu diskolorasi kuning pa...
-
Gangguan Masalah Eliminasi ALVI Konstipasi Konstipasi merupakan keadaan individu yang mengalami atau berisiko tinggi mengalami stasis usus b...
© ASUHAN KEPERAWATAN 2013 . Powered by Bootstrap , Blogger templates and RWD Testing Tool Published..Gooyaabi Templates





