• home

ASUHAN KEPERAWATAN

  • HOME
  • DOWNLOAD ASUHAN KEPERAWATAN
  • Cara Mendapatkan Password
Tampilkan postingan dengan label Professionalism. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Professionalism. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Februari 2011

Praktik Mandiri

di 09.48 Label: kemandirian perawat , praktik keperawatan profesional , Professionalism
Perawatan luka dapat dijadikan sebagai template (cetakan) praktik keperawatan yang lain. Perawatan luka sangat spesifik, dan mempunyai komunitas baik global, nasional maupun lokal. Kompetensi perawatan luka juga mengandung kompetensi yang berada pada area bersama antara medis dan keperawatan.

Praktik keperawatan yang diinginkan, berdasarkan percakapan pada pertemuan-pertemuan sebenarnya mirip dengan konsep Nurse Practitioner, yang ada di Amerika maupun Australia. Nurse practitioner merupakan pilihan karena keterbatasan keterjangkaun tenaga medis. Skill mix merupakan bentuk kompetensi medikal yang dapat dikerjakan secara khusus oleh perawat dengan batas-batas tertentu. Perawat bersertifikasi khusus dibutuhkan untuk menangani area ini. Sertifikasi ini merupakan bentuk pengakuan bahwa perawat pemegang sertifikasi telah memiliki kompetensi yang diperlukan.

Pola-pola pengendalian melalui standar kompetensi dan kredensial dapat digunakan untuk mengembangkan skill-skill perawatan lainnya.Pelayanan keperawatan tidak dapat dilakukan secara cepat seperti praktik diagnosis dalam praktik dokter. Pelayanan keperawatan berkaitan dengan waktu. Faktor waktu pelayanan yang sangat penting dalam praktik keperawatan ini menyebabkan praktik keperawatan spesifik/spesialistis lebih tepat. Praktik khusus ini akan memudahkan dalam penyediaan peralatan maupun perangkat untuk praktik, sekaligus standarisasi pelayanannya.

Area perawatan yang lain dapat dikaji dengan pola-pola seperti pada perawatan luka. Memisahkan skil-skill independen, kolaborasi, dan medikal. Mendirikan asosiasi (peer group) untuk mengkaji bersama dan membuat kompetensi yang diinginkan. Melakukan sounding dengan profesi lain yang berpotensi tumpang-tindih dengan profesi lain. Selanjutnya tingkatan keahlian dibuat secara sistematis. Kompetensi dan keahlian tersebut dibutuhkan sebagai dasar pertimbangan membuat continuing education maupun program sertifikasi.

Jadi praktik keperawatan luka hanya sebuah cetakan (template) untuk mengembangkan area keperawatan yang lain seperti perawatan anak, perawatan maternitas, perawatan medikal bedah, perawatan jiwa, perawatan komunitas, perawatan dasar, bahkan perawatan menjelang ajal.

Praktik mandiri keperawatan ini akan menjadi basis perkembangan perawatan dan regulasi keperawatan di Indonesia. Setelah praktik ini ada (ontologi), maka kita dapat menjelaskan (epistemiologi) dengan baik kalau ada yang bertanya. Peran dalam pembangunan (aksiologi) kesehatan juga semakin jelas. Metode (metodologi) pelayanannya juga semakin terukur. Demikian juga pengendaliannya (etik) dapat terkontrol melalui etik.

Bentuk inilah yang kemudian dilihat masyarakat. Pelayanannya diakui memberikan manfaat. Metodenya efektif dan dapat dipertanggungjawabkan. Selanjutnya, UU Keperawatan bisa diajukan. Amandemen terhadap undang-undang kesehatan maupun kedokteran juga memungkinkan.
Read More

Selasa, 03 Agustus 2010

Gelar Baru, Peran Baru, dan Perilaku Baru

di 05.56 Label: praktik keperawatan profesional , Professionalism
Oleh: Wastu Adi Mulyono, M.Kep.

Memperoleh gelar akademik bukan berarti kita profesional. Seorang profesional harus mengabdikan ilmunya pada masyarakat dan selalu memperbaharui kemampuannya melalui ujian-ujian yang akan terus mengasahnya sesuai dengan perkembangan jaman.

Lulus dalam suatu pendidikan atau suatu bentuk pelatihan/kursus yang berkaitan dengan profesionalitas tidak berarti seseorang selesai dari kewajiban untuk menjalankan ujian. Ujian seringkali menjadi "momok" karena posisi kita berada pada zona tidak nyaman. Seorang teruji selalu diposisikan inferior baik oleh teruji sendiri maupun kadang-kadang oleh penguji. Posisi inferior ini sebenarnya yang telah mengancam ego sehingga seringkali menolak jika akan diuji atau ada kebijakan ujian. Ujian mutlak diperlukan oleh seorang profesional untuk dapat mengukur kemampuannya.

Saya sering mendengar keluhan terhadap berbagai bentuk ujian yang berkaitan dengan kemampuan keperawatan. Berbagai alasan (meskipun belum pernah diteliti) antara lain:
1. Teruji merasa tingkat pendidikannya lebih tinggi dari yang diuji. Aneh memang jika penguji memiliki tingkat pendidikan lebih rendah. Tapi inilah yang sering terjadi pada dunia praktis. Orang yang praktik lebih terampil daripada orang sekolahan.
2. Hasil ujian tidak memberikan pengaruh pada posisi dan peran dalam lingkungan kerja. Alasan ini saya ketika seorang teman mengeluh terhadap ujian kompetensi perawat yang dilakukan di satu propinsi untuk memperoleh SIP. Kondisi ini terjadi ketika praktik tidak memberikan keuntungan ekonomi atau status sosial pada teruji setelah mengikuti ujian. Ujian atau tidak ujian posisi di ruang rawat sama saja. Jenjang karir fungsional yang belum terbentuk membuat campur-aduk peran ini. Seorang teman dari sebuah rumah sakit yang menerapkan jenjang karir fungsional dapat merasakan dampak jenjang karir terhadap ujian.
3. Persepsi teruji terhadap ujian itu sendiri. Beberapa waktu terakhir saya mengikuti suatu ujian profisiensi, untuk menguji kelayakan saya terhadap standar RN yang setara di 23 negara (begitu kata penyelenggara)yang diprakarsai BNSP dan LPRN. Teman-teman yang mengikuti ujian berasal Sulawesi, Kalimantan, Jawa, Sumatera Utara dan Aceh. Persepsi dan ekpektasi positif mereka telah mendorong untuk mengeluarkan dana ekstra hanya untuk mengikuti ujian ini. Saat mengikuti ujian, semua serius menjalankan, tidak ada contek mencontek, tengok kiri atau kanan seperti yang sering kita jumpai di kelas-kelas. Keseriusan untuk mengukur kelayakan diri sendiri ini lah yang memotivasi mengikuti ujian.

Alasan-alasan tanggapan terhadap ujian baik positif maupun negatif tersebut telah mendorong kita menjalankan atau tidak melakukan ujian. Apapun hasilnya, output yang ada adalah sebuah bentuk gelar, nilai, atau sebutan baru. Gelar atau sebutan tersebut memiliki konsekuensi terhadap peran dan tanggung jawab baru yang disandang. Peran di masyarakat tersebut akan menentukan karya apa yang kita hasilkan. Peran yang akan mewarnai perkembangan keperawatan di Indonesia.

Karya apapun yang kita buat tidak ada artinya jika tidak dikenal dan dimanfaatkan orang lain. Kita boleh saja merendah dengan jurus ikhlas bahwa kita mengabdi bukan untuk dikenal. Betul, kita mengabdi dengan ikhlas, tetapi bukan kita yang perlu dikenal tetapi karya kita yang perlu dikenal. Orang lain dapat mencontoh karya yang baik dan memperbaiki karya yang kurang baik. Tidak ada karya yang tidak baik, oleh karena itu tidak ada alasan untuk menolak untuk berkarya.

Mengenalkan karya dimulai dengan dokumentasi yang baik setiap aktivitas kita. Ilmu manajemen membantu kita dengan fungsi-fungsi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian. Karya yang terencana, terorganisasi, terarah, dan terkendali sudah pasti terdokumentasi. Karya yang terdokumentasi dengan baik akan mudah terpublikasi. Hal inilah yang akan membuat karya kita lebih bermanfaat.

Pendidikan,kursus, pelatihan, atau ujian sebenarnya hanya sebuah tonggak. Sebuat batu pertanda suatu momentum baru. Momentum yang menandai perubahan-perubahan pada diri kita. Kita perlu memperbanyak momentum perubahan agar hidup profesional kita menjadi dinamis. Hal ini bagaikan mewujudkan mekanisme kontraksi otot dimana kontraksi berikutnya dimulai sebelum kontraksi awal berakhir agar menghasilkan gerak yang optimal. Terlena dengan status baru sering menjadikan kita terlambat memulai hal baru dan berakibat berlu energi ekstra untuk memulai hal baru. Saya mengalaminya ketika harus mulai studi S2 ini setelah 10 tahun terlena oleh kenyamanan bekerja. Sungguh sangat berat mencocokkan konsep dan pola pikir saya sebelumnya dengan pola pikir yang telah berkembang. Sepuluh tahun terlalu lama untuk berdiam diri tanpa dinamika berada pada zona kenyamanan. Kita harus terus mengupdate hal hal baru, baik melalui pendidikan maupun ujian-ujian. Oleh karena itu saya sepakat dengan teman seminat di perawatan luka di CWCC Program yang harus mengikuti ujian ulang setiap 2 tahun.

Gelar baru peran baru dan perilaku baru, saya kira tepat untuk hal ini. Setiap peran menuntut perilaku. Tuntutan standar perilaku ini yang akan mendorong kita mengikuti dengan baik. Sepertinya kita perlu menyusun standar perilaku baru sesuai tuntutan peran kita. Perilaku tersebut adalah, belajar sepanjang hayat, melalui continuing education program apapun bentuknya. Selamat berkarya kembali, jangan lupa dokumentasi dan publikasi, sehingga peran kit memberi manfaat untuk sekitar kita. Kembali kita kembali ke misi awal dilahirkan, "MENJADI RAHMAT SEMESTA ALAM
Read More

Selasa, 04 Mei 2010

Belajar Profesional dari Perawat 3 B

di 20.50 Label: Professionalism , Sosialisasi Profesi
Oleh: Wastu Adi Mulyono, S.Kp.,CWCC

Pelatihan Certified Wound Care Clinician Program di Wocare Bogor memberi oksigen lagi pada sel Perawat Profesional saya yang sudah mulai iskemi. Saya jadi memahami mengapa kita harus berbuat hal kecil tapi bermanfaat sambil menunggu perubahan paling fundamental UNDANG UNDANG KEPERAWATAN. Sungguh saya salut dengan teman teman di bagian Research and Development Wocare yang menjadi penggagas sekaligus penyelenggara CWCC Program.

Pelatihan ini memang "mahal" untuk ukuran kita perawat yang mengaku profesional tapi belum mampu menggantungkan hidup dari keperawatan sepenuhnya. Saya pun memang nekat untuk mengikuti pelatihan ini, apalagi banyak informasi simpang siur berkaitan dengan program ini. Penasaran saya semakin kuat dan tidak ada jalan lain untuk mengetahui dari asal muasal sumbernya, --ya seperti kata penelitian etnografi itulah--, saya harus mengikuti program ini dan terlibat di dalamnya, apapun yang terjadi.

Dugaan saya benar, informasi yang yang banyak beredar banyak biasnya dan tidak memperhatikan filosofi mendalam yang dicita-citakan para founder. Tujuan teman-teman yang terlibat dalam program ini sungguh mulia. Membangun profesionalisme perawat, praktik keperawatan, hubungan profesional, dan pengembangan riset dan pendidikan berkelanjutan. Langkah yang dilakukan memang menentang arus utama kebijakan keperawatan di Indonesia yang lebih membantuk struktur sistem yang kokoh, langkah yang dilakukan mereka lebih sederhana, bagaiman perawat dapat menghargai pekerjaannya dan masyarakat dapat menerima pekerjaan tersebut serta membayarnya sesuai dengan nilai jasa yang diterimanya.

CWWCC sendiri merupakan program split/pecahan dari WOCN (Wound Ostomy and Continence Nursing Program) yang hanya membutuhkan waktu 2 minggu. WOCN Program sendiri butuh waktu 3 bulan. Teman teman menyebutnya sebagai perawat 3 B (Borok, Berak dan Beser), sebuah wilayah pekerjaan yang sudah lama dihindari perawat seperti saya. Program split ini dapat dilanjutkan pada program split lainnya yaitu stoma dan continence untuk dapat sertifikasi WOCN komplit.

Belajar dari para pendiri, saya memperoleh kesadaran bahwa kita harus banyak berbuat agar perawat dirasakan "eksistensinya" (ontologi), disadari hubunganannya dalam sistem kesehatan (epistemiologi), dan diraskan manfaatnya (aksiologi), memiliki metode metode yang ketat untuk profesinya dan memiliki kode etik. Jika semua sudah nyata maka kebenaran keperawatan pasti diketahui (tujuan filsafat). Maka keperawatan profesional jadi lebih mudah untuk didefinisikan dalam undang-undang.

Saya dapat merasakan bagaimana para peserta sangat merindukan praktik mandiri keperawatan, terutama teman-teman yang tidak bernasib baik mampu meneruskan pendidikan ke Ners maupun spesialis. Sungguh hal ini mimpi yang sulit terjangkau bagi mereka. Saya jadi menyadari betapa egoisnya saya memaksa teman-teman ini sekolah sedangkan untuk membalikkan modalnya gak tahu berapa tahun sertifikat rumah akan dapat di tebus dari Bank atau rentenir lainnya.

Saya yang telah mengikuti training-training entrepreneurship dengan investasi ber jut jut itu, sempat menyesal juga mengapa tidak dari dulu saya ambil course ini, mengapa setelah mahal saya baru dapat akses untuk mengikuti pelatihan ini. Terakhir saya menyadari bahwa itu memang sebuah proses. Jika saya tidak dapat membalikkan MIND SET, dapat dipastikan pasti saya akan berpikir seperti kebanyakan orang meskipun saya mengikuti pelatihan ini.

Kata kuncinya adalah kesadaran bahwa kita adalah perawat profesional. Perawat profesional tahu kompetensinya, tanggung gugatnya, dan tahu harga dari jasa pelayanan yang diberikannya. Menghargai profesionalismenya sendiri sangat penting. Barangkali ini yang sulit untuk saya. Nilai altruisme yang tertanam dalam diri saya sangat kokoh mencengkeram nilai saya ketika sudah mulai menuntut bayaran. Apalagi klien kita adalah orang sakit yang sudah berinvestasi teramat banyak untuk membayar kesehatannya. Sungguh luar biasa membuat lambung hipersekresi.

Program ini telah menolong saya membuka kesadaran ini. Meskipun topiknya sederhana hanya Moist Dressing untuk luka, tapi membangun sistem profesionalya itu lho yang membuat saya paham. Kita harus banyak belajar dan bersatu. Membangun asosiasi yang kuat. Berbeda itu boleh saja, dan tidak perlu takut terpecah-pecah. Selama kita masih memiliki tujuan yang sama, artinya kita tidak terpecah-pecah.

Saya belajar banyak dari perawat 3 B ini. Saya akan segera bangun klinik sendiri, praktik sendiri. Semua jadi lebih mudah kalau kita mau bersama-sama belajar. Profesional itu ternyata bukan berasal dari kita, tapi bagaimana konsumen menilai kita. Jadi belajar terus, bersatu terus dalam continuing education. Mari berjuang lagi, selagi dapat oksigen baru dan tidak jadi Nekrosis, tapi langsung Granulasi dan maturasi.
Read More

Kamis, 15 April 2010

Komitmen

di 10.32 Label: Professionalism
Oleh: Wastu Adi Mulyono

Menunggu hasil revisi proposal tesis sambil browsing cari-cari software analisis butir soal di bawah payung di kampus Depok. Eh banyak calon mahasiswa yang sedang wawancara ngobrol dan "ngrasani" departemen peminatan yang akan mereka pilih. Ada yang cemas, ada yang mencari alasan dan pembenaran pendapatnya. Saya langsung teringat hasil penelitian Sajidin bahwa rencana untuk berhenti seorang karyawan sudah ada sejak dia mulai bekerja.

Tidak jauh berbeda dengan dengan para karyawan, saya umpamakan calon mahasiswa baru yang sekarang wawancara adalah calon karyawan. Mereka sudah mengajukan aplikasi dan telah melakukan ujian tulis, tinggal wawancara. Ada yang sudah yakin dengan hasil ujian tulis, ada juga yang tidak yakin.

Hal inilah yang menyebabkan komentar mereka berbeda-beda terhadap situasi yang dihadapi sekarang, meskipun situasinya tetap sama yaitu "menunggu...giliran wawancara yang harus dia lakukan". Yang sudah yakin dengan hasil ujian tertulis dengan sombong berkata, "buat apa sih wawancara... toh yang menentukan ujian TPA". Yang tidak yakin juga berkata dengan cemas, "iya ya... buat apa sih wawancara...kalau sudah gak lulus kan sia-sia saja."

Mengamati hal ini saya tersenyum sendiri. Alangkah mahalnya komitmen. Penting sekali komitmen itu. Apapun yang kita hadapi sebenarnya jika kita sudah berkomitmen, tidak akan menjadi beban. Keluarga, biaya, waktu adalah komitmen-komitmen lain yang telah kita buat, dan kita dengan santai menjalaninya karena kita berkomitmen terhadapnya.
Lalu kalau sudah mau menjadi anggota organisasi ini (sekolah), mengapa kita juga meributkan hal kecil yang sudah menjadi bagian dan budaya organisasi tersebut? Mau mengubah? Apa yang telah kita ketahui? kok berani-beraninya ingin mengubah?

Membangun komitmen memang perlu usaha keras dam itu butuh kepercayaan (trust). Siapa percaya pada siapa, itu masalahnya. Ketika salah satu merasa lebih dari yang lain, maka kepercayaan adalah palsu, dan dengan bangga mungkin saya akan berkata bahwa komitmen keduanya adalah lemah.

Kepercayaan itu tidak dapat dipaksakan. Seorang istri yang tidak percaya dengan suaminya, akan selalu mengomel ketika suaminya terlambat pulang meskipun sebenarnya dia sedang dapat kerja lembur untuk menambah keuangan keluarga. Kepercayaan muncul dari dalam...sebuah kesadaran. Kesadaran terhadap posisi kita masing masing.

Kesadaran terhadap posisi ini yang saya yakini merupakan modal komitmen. Kesadaran ini pernah disampaikan oleh tokoh pahlawan nasional kita Ki Hajar Dewantoro. Kesadaran terhadap posisi yang sering disebut sebagai gaya kepemimpinan menurut beliau. Posisi yang dimaksud adalah: ing ngarso sung tuladha (di depan memberi contoh), ing madyo mangung karso (di tengah membangun semangat dan usaha), dan tut wuri handayani (di bawah/belakang mendukung dan memberikan dayanya).

Tiga nilai kesadaran terhadap posisi yang sangat briliant. Selama ini kita sibuk dengan gaya-gaya kepemimpinan versi x,y,z dst. yang kita adopsi dari literatur asing. Kita melupakan bahwa komitmen itu dibangun atas kepercayaan, kepercayaan terhadap bangsa sendiri. Literatur asing tidak mengenali bangsa kita sendiri. Hanya orang kampung sendiri yang tahu seluk-beluk kampungya (begitu pepatah umum yang sering kita dengarkan).

Kembali pada situasi yang sedang saya amati dan calon mahasiswa baru tersebut, saya memberikan sedikit sentilan saja. Berada di posisi manakah kita? Jika di posisi berkuasa (atas) ya mbok sadar, bahwa ruang tunggu wawancara itu tidak nyaman, jadi jangan lama-lama wawancaranya atau dibuat jadual yang tepat. Kalau di posisi lemah (bawah), ya mbok sadar, belum jadi anggota saja sudah banyak protes, terus mau memberikan apa pada organisasi nanti. Sadar lah, jangan ikut-ikutan, karena orang lain omong tidak perlu bukan berarti kita ikut pendapat dia. Berbeda pendapat juga boleh, percaya dirilah... masak mau jadi master kok tidak pe-de.

Jika kita percaya diri, teguh, kuat kita dapat menjadi panutan. Jadi ketika kita berada pada posisi atas, akan jadi panutan yang baik (sung tuladha). Jika sudah jadi contoh yang baik, sudah nilai dasar bangsa kita untuk mencontoh yang baik dan meninggalkan yang buruk. Bawahan kita pasti mencontoh dengan baik. Komitmen tidaklah sulit dibuat. Saya jamin lah.

Saya ingin menutup tulisan saya ini dengan kata-kata motivasional. Saya tidak ingin jadi penyebar jiwa pesimis. Hipnotis terlah terbukti dapat mengubah alam bawah sadar kita, tapi itu sama saja kita akan diperbudak dengan terapi-terapi tersebut. Kita mulai berubah dari hal yang paling dasar. Kesadaran terhadap posisi kita. Kesadaran terhadap "keberadaan" kita sekarang. Selamat berbahagia dengan komitmen-komitmen selanjutnya.
Read More

Minggu, 05 Juli 2009

Bingung Aku

di 10.29 Label: perawat bangkit , Professionalism
Perawat bergerak, akupun tergerak. Daya dan kekuatan yang menyatu merupakan energi yang tak tergantikan. Aksi damai, audiensi, demonstrasi merupakan suatu bentuk perjuangan. Termasuk mogok nasional.

Tiba-tiba hati saya berdesir. Mogok nasional, suatu pilihan yang sangat berat. Mungkin aku termasuk yang approach-avoidance dalam kecemasan.
Seruan mogok kerja nasional untuk perawat indonesia? Tiba-tiba aku teringat sumpah profesi dan sumpah pns. Sebagai perawat aku harus menjunjung nilai kemanusiaan diatas segalanya. Sebagai pns aku harus loyal pada pimpinan? Sebagai anggota profesi aku juga harus berjuang untuk masa depan profesi secara keseluruhan.

Barangkali ini juga dirasakan oleh teman-teman perawat yang lain. Ini memang letak kelemahan kita. Jiwa altruisme begitu kuat tertanan dalam bawah sadar kita, juga jiwa pengabdian PNS. Secara langsung semua itu telah menjadi mental blocking bagi saya untuk bergerak menyokong perjuangan profesi keperawatan.

Mental blocking ini terasa begitu mengganggu dan sampai saat ini nggak ada solusi. Aku hanya duduk termangu. Bingung aku!
Read More

Senin, 06 April 2009

Ada Apa dengan Kita

di 07.10 Label: konsep diri dan ners , Professionalism
Hasil voting tentang "Apakah PPNI akan dapat mempengaruhi kebijakan pemerintah dalam bidang kesehatan?" yang tayang 1 tahun di Blog saya hanya mampu menarik partisipan 66 orang. Partisipan yang memjawab Ya 42 % (28 orang), tidak setuju 48% (32 orang) dan tidak tahu 9% (6 orang).

Hasil ini mungkin tidak mewakili jutaan perawat di Indonesia yang dihasilkan kurang lebih seribuan (data belum valid) institusi pendidikan keperawatan. Yang dapat dipahami adalah persentase yang tidak percaya ternyata lebih banyak dari yang percaya, meskipun beda tipis.

Mengapa kita tidak dapat meyakini bahwa PPNI tidak dapat mempengaruhi pemerintah? Jika diumpamakan PPNI adalah tubuh perawat itu sendiri, artinya partisipan tadi adalah hati kecil PPNI. Hati kecil PPNI ternyata masih meragukan action yang dilakukan tubuhnya. Artinya masih ada pesimis dalam melangkah.

Mengapa bisa pesimis? Kalau menurut keperawatan jiwa, hal itu terjadi karena kita menilai diri terlalu rendah. Harga diri rendah, kalau mau ditegaskan. Mari kita coba instropeksi:
1. Seberapa tinggi harapan kita?
2. Seberapa rasional target kita?
3. Berapa sering kita berhasil mencapai tujuan kita?
4. Apakah kita mudah tersinggung jika ada yang mengkritik kita?
5. Apakah kita sering menghindar untuk menghadapi tantangan orang lain?

Kita harus mulai membalik persepsi diri jika semua pertanyaan berujung pada negatif. Bagaimana kita berhasil jika melangkah setengah-setengah. Habis energi hati kecil untuk berbantah-bantahan. Sebaiknya gunakan energi untuk tetap fokus pada tujuan. Menerima yang sudah dicapai, memoles lagi agar jadi pondasi yang kuat untuk melompat lebih tinggi. Jika perlu kita gunakan energi ikhlas (zona ikhlas) agar ada lompatan quantumnya yang menghasilkan energi nuklear hati.

Support system tidak ada maknanya jika di dasar hati kita belum menemukan jati dirinya. Mari kita percayai wakil kita di kepengurusan, kita dukung dengan iuran, kita sebarluaskan pencapainnya. Hidup PPNI. Andalkan diri kita sendiri, orang lain itu hanya suplemen multivitamin tambahan.

Ayo Perawat Indonesia kita sedang dalam ancang-ancang untuk melompat lebih tinggi. Jangan mudah menyerah hanya karena proses tugas akademik, konsultasi skripsi yang memusingkan, menyusun tesis yang susah, praktik profesi yang mengecewakan. Expresikan semua pada obyeknya, jangan berkeluh kesah sendiri, kita semua sehat jiwa karena kita bagian dari Indonesia sehat 2010. Jadi ekspresikan saja, jangan takut, asertif tidak menyakiti siapapun.

Read More

Selasa, 04 November 2008

Perawat Profesional

di 09.10 Label: Professionalism
Oleh Wastu Adi Mulyono

Pelayanan professional berhubungan dengan kepercayaan klien terhadap profesi yang bersangkutan. Sebagai contoh pelayanan bantuan hukum oleh lawyer melibatkan kontrak kepercayaan antara kliennya dengan lawyer. Lawyer mengetahui segala hal berkaitan dengan kliennya berdasarkan kepercayaan yang dibuat. Contoh yang lain di kesehatan adalah layanan pengobatan oleh medis. Dokter sebagai tenaga profesional akan mengelola pasien sejak masuk sampai dengan pulang atau meninggal dunia.

Bagaimana dengan pelayanan keperawatan? Perawat mengelola pasien berganti-ganti. Kapan pasien masuk atau pulang kadang-kadang tidak tahu sama sekali. Setiap menemukan masalah ditulis, didiangosis, dilakukan rencana tindakan, dilakukan tindakan, dilakukan evaluasi. Tetapi siapa yang bertanggungjawab terhadap semua itu. Bagaimana jika ada kesalahan mengidentifikasi data? Siapa yang mengoreksi?

Berbekal perbandingan uraian di atas, dapat kita simpulkan bahwa pelayanan keperawatan yang seperti sekarang bukanlah pelayanan yang professional. Jika pelayanan belum professional maka jelas sekali tidak akan dapat dinilai tingkat profesionalitasnya. Efek dari ini adalah ketidakjelasan remunirasi bagi pelayanan profesional keperawatan itu sendiri.

Ketidak profesionalan ini juga dapat diakibatkan oleh tidak adanya struktur yang menaunginya, atau yang mendukung bentuk pelayanan keperawatan profesional. Mulai dari struktur organisasi atau tugas pokok dan fungsi yang mendukung.

Setiap rumah sakit sebenarnya hanya membutuhkan 30-35 persen Ners dan Ners specialis akan dapat memberikan pelayanan keperawatan professional. Jumlah sisanya 65-70 % dapat diisi oleh perawat vokasional. Perawat yang profesional akan dapat mengelola asuhan keperawatan secara menyeluruh. Mulai asessment, diagnosis, rencana, tindakan, sampai evaluasi dilakukan oleh 1 orang perawat profesional. Tetapi dalam implementasinya perawat profesional dapat dibantu oleh perawat vokasional.


Profesionalisme keperawatan bukan suatu mimpi, jika kita dapat mengubah system pelayanan keperawatan. Model-model praktik keperawatan profesional sudah banyak diterapkan dan diteliti. Pelatihan pelatihan sudah sudah sering dilakukan. Bahkan penelitian berkaitan dengan penerapan model tersebut juga sudah sering dilakukan dengan hasil yang baik.


Perawat yang kompeten sudah tersedia, model juga sudah ada, mengapa masih belum juga terwujud praktik keperawatan profesional. Kemauan kita sebagai manajer untuk memfasilitasi penerapan di rumah sakit sangat dibutuhkan. Profesionalisme pelayanan keperawatan seharusnya menjadi prioritas perubahan keperawatan saat ini. Tanpa ada struktur dan system yang mewadahi, semua inovasi keperawatan akan sulit terdokumentasi dengan baik dan menjadi evidence base untuk perkembangan keperawatan.


Perjuangan struktur keperawatan dalam jajaran level strategis juga belum layak diperjuangkan dengan terlalu keras. Perjuangan jabatan struktural direktur keperawatan sebaiknya jangan terlalu dipaksakan jika sumber daya manusia yang akan mengisinya tidak tersedia. Hal ini akan menjadi blunder dalam perjuangan selanjutnya jika struktur ini tidak berfungsi dengan baik dan tidak memberikan kontribusi apapun bagi keperawatan. Hal terbaik menurut saya adalah meletakkan landasan yang kuat di level pelayanan langsung pasien. Pengaruh pada pasien harus jelas dirasakan agar pasien dapat membedakan pelayanan yang profesional dan yang tidak profesional sehingga akan tercapai kondisi "addicted".


Kondisi yang kita ciptakan akan menjadi kekuatan fundamental perkembangan keperawatan. Pondasi yang kokoh akan meningkatkan daya pantul untuk melakukan lompatan yang lebih tinggi. Lompatan kuantum yang kita harapkan akan segera terjadi. Profesionalisme keperawatan bukan menjadi pertanyaan lagi, tetapi sebuah jawaban terhadap tantangan kesehatan. Pasti.
Read More

Selasa, 19 Agustus 2008

Kemerdekaan

di 05.23 Label: Professionalism
Tiga bulan sudah pasca demonstrasi keperawatan 12 Mei 2008. Setiap bulan, saya selalu rajin-rajin membuka situs resmi ppni (inna)
Hari ini tulisan Hardy cukup mengganggu benak saya. Sudah tiga bulan, tidak juga saya dengar progress report dari gedung DPR. Perlukah kita siapkan aksi lagi yang lebih besar?.

Menjelang Pemilu 2009, biasanya para caleg dan capres sibuk untuk urusan masing-masing. Mungkin kita perlu sedikit move lagi. Semua menyadari, jika sedang terlibat kepentingan pribadi yang sangat mengancap eksistensi, pasti menimbulkan kewaspadaan. Hal ini menyebabkan mereka tidak konsentrasi lagi pada tujuan. Yang penting selamat. Kondisi cemas sedang.

Ini tantangan sekaligus peluang. Sebaiknya kita ambil posisi. Waktu enam bulan yang dijanjikan tinggal 3 bulan lagi. Jangan sampai pada saat jatuh tempo yang dijanjikan kita belum hangat, sehingga ketika melakukan aksi bisa langsung kram atau malah stroke. Nah, jangan sampai.

Ingat kembali misi aksi 12 Mei 2008. Saya yakin petinggi di inna pasti sudah merancang aksi. Oleh karena itu kita semua harus siap tempur untuk aksi berikutnya. Kita butuh warming up yang cukup. Kita butuh MERDEKAAAAAAAA!


Read More
Postingan Lama Beranda
Lihat versi seluler
Langganan: Postingan ( Atom )
 photo banner300x250-biru.gif

Blog Archive

  • 2016 (1)
    • 09/18 - 09/25 (1)
      • PENGETAHUAN IBU TENTANG BIANG KERINGAT PADA BAYI 0...
  • 2015 (10)
    • 10/11 - 10/18 (1)
    • 09/13 - 09/20 (1)
    • 09/06 - 09/13 (1)
    • 07/05 - 07/12 (1)
    • 05/17 - 05/24 (6)
  • 2014 (1)
    • 04/13 - 04/20 (1)
  • 2012 (770)
    • 02/19 - 02/26 (5)
    • 02/12 - 02/19 (10)
    • 02/05 - 02/12 (4)
    • 01/29 - 02/05 (27)
    • 01/22 - 01/29 (88)
    • 01/15 - 01/22 (101)
    • 01/08 - 01/15 (169)
    • 01/01 - 01/08 (366)
  • 2011 (4477)
    • 12/25 - 01/01 (336)
    • 12/18 - 12/25 (62)
    • 12/11 - 12/18 (70)
    • 12/04 - 12/11 (77)
    • 11/27 - 12/04 (40)
    • 11/20 - 11/27 (67)
    • 11/13 - 11/20 (198)
    • 11/06 - 11/13 (187)
    • 10/30 - 11/06 (340)
    • 10/23 - 10/30 (32)
    • 10/16 - 10/23 (109)
    • 10/09 - 10/16 (80)
    • 08/14 - 08/21 (75)
    • 08/07 - 08/14 (81)
    • 07/31 - 08/07 (82)
    • 07/24 - 07/31 (65)
    • 07/17 - 07/24 (91)
    • 07/10 - 07/17 (47)
    • 07/03 - 07/10 (44)
    • 06/26 - 07/03 (53)
    • 06/19 - 06/26 (59)
    • 06/12 - 06/19 (47)
    • 06/05 - 06/12 (65)
    • 05/29 - 06/05 (63)
    • 05/22 - 05/29 (77)
    • 05/15 - 05/22 (115)
    • 05/08 - 05/15 (65)
    • 05/01 - 05/08 (104)
    • 04/24 - 05/01 (45)
    • 04/17 - 04/24 (70)
    • 04/10 - 04/17 (134)
    • 04/03 - 04/10 (72)
    • 03/27 - 04/03 (18)
    • 03/20 - 03/27 (47)
    • 03/13 - 03/20 (68)
    • 03/06 - 03/13 (40)
    • 02/27 - 03/06 (56)
    • 02/20 - 02/27 (77)
    • 02/13 - 02/20 (76)
    • 02/06 - 02/13 (198)
    • 01/30 - 02/06 (194)
    • 01/23 - 01/30 (132)
    • 01/16 - 01/23 (196)
    • 01/09 - 01/16 (202)
    • 01/02 - 01/09 (121)
  • 2010 (2535)
    • 12/26 - 01/02 (156)
    • 12/19 - 12/26 (65)
    • 12/12 - 12/19 (73)
    • 12/05 - 12/12 (84)
    • 11/28 - 12/05 (80)
    • 11/21 - 11/28 (68)
    • 11/14 - 11/21 (63)
    • 11/07 - 11/14 (50)
    • 10/31 - 11/07 (50)
    • 10/24 - 10/31 (36)
    • 10/17 - 10/24 (58)
    • 10/10 - 10/17 (35)
    • 10/03 - 10/10 (31)
    • 09/26 - 10/03 (21)
    • 09/19 - 09/26 (26)
    • 09/12 - 09/19 (55)
    • 09/05 - 09/12 (65)
    • 08/29 - 09/05 (33)
    • 08/22 - 08/29 (70)
    • 08/15 - 08/22 (45)
    • 08/08 - 08/15 (35)
    • 08/01 - 08/08 (37)
    • 07/25 - 08/01 (27)
    • 07/18 - 07/25 (19)
    • 07/11 - 07/18 (30)
    • 07/04 - 07/11 (56)
    • 06/27 - 07/04 (28)
    • 06/20 - 06/27 (22)
    • 06/13 - 06/20 (30)
    • 06/06 - 06/13 (21)
    • 05/30 - 06/06 (5)
    • 05/16 - 05/23 (6)
    • 05/09 - 05/16 (29)
    • 05/02 - 05/09 (59)
    • 04/25 - 05/02 (28)
    • 04/18 - 04/25 (38)
    • 04/11 - 04/18 (70)
    • 04/04 - 04/11 (59)
    • 03/28 - 04/04 (65)
    • 03/21 - 03/28 (89)
    • 03/14 - 03/21 (218)
    • 03/07 - 03/14 (95)
    • 02/28 - 03/07 (135)
    • 02/21 - 02/28 (102)
    • 01/03 - 01/10 (68)
  • 2009 (1652)
    • 12/27 - 01/03 (36)
    • 12/20 - 12/27 (22)
    • 12/13 - 12/20 (100)
    • 12/06 - 12/13 (45)
    • 11/29 - 12/06 (24)
    • 11/22 - 11/29 (22)
    • 11/15 - 11/22 (19)
    • 11/08 - 11/15 (28)
    • 11/01 - 11/08 (11)
    • 10/25 - 11/01 (17)
    • 10/18 - 10/25 (38)
    • 10/11 - 10/18 (33)
    • 10/04 - 10/11 (15)
    • 09/27 - 10/04 (21)
    • 09/20 - 09/27 (7)
    • 09/13 - 09/20 (84)
    • 09/06 - 09/13 (35)
    • 08/30 - 09/06 (48)
    • 08/23 - 08/30 (118)
    • 08/16 - 08/23 (26)
    • 08/09 - 08/16 (34)
    • 08/02 - 08/09 (35)
    • 07/26 - 08/02 (31)
    • 07/19 - 07/26 (14)
    • 07/12 - 07/19 (16)
    • 07/05 - 07/12 (28)
    • 06/28 - 07/05 (26)
    • 06/21 - 06/28 (76)
    • 06/14 - 06/21 (26)
    • 06/07 - 06/14 (21)
    • 05/31 - 06/07 (43)
    • 05/24 - 05/31 (38)
    • 05/17 - 05/24 (26)
    • 05/10 - 05/17 (52)
    • 05/03 - 05/10 (15)
    • 04/26 - 05/03 (38)
    • 04/19 - 04/26 (32)
    • 04/12 - 04/19 (22)
    • 04/05 - 04/12 (20)
    • 03/29 - 04/05 (40)
    • 03/22 - 03/29 (43)
    • 03/15 - 03/22 (18)
    • 03/08 - 03/15 (14)
    • 03/01 - 03/08 (22)
    • 02/22 - 03/01 (12)
    • 02/15 - 02/22 (9)
    • 02/08 - 02/15 (11)
    • 02/01 - 02/08 (19)
    • 01/25 - 02/01 (37)
    • 01/18 - 01/25 (21)
    • 01/11 - 01/18 (33)
    • 01/04 - 01/11 (31)
  • 2008 (700)
    • 12/28 - 01/04 (13)
    • 12/21 - 12/28 (9)
    • 12/14 - 12/21 (57)
    • 12/07 - 12/14 (5)
    • 11/30 - 12/07 (18)
    • 11/23 - 11/30 (33)
    • 11/16 - 11/23 (31)
    • 11/09 - 11/16 (23)
    • 11/02 - 11/09 (18)
    • 10/26 - 11/02 (11)
    • 10/19 - 10/26 (15)
    • 10/12 - 10/19 (13)
    • 10/05 - 10/12 (25)
    • 09/28 - 10/05 (2)
    • 09/21 - 09/28 (14)
    • 09/14 - 09/21 (19)
    • 09/07 - 09/14 (43)
    • 08/31 - 09/07 (3)
    • 08/24 - 08/31 (33)
    • 08/17 - 08/24 (65)
    • 08/10 - 08/17 (4)
    • 08/03 - 08/10 (26)
    • 07/27 - 08/03 (6)
    • 07/20 - 07/27 (19)
    • 07/13 - 07/20 (18)
    • 07/06 - 07/13 (60)
    • 06/29 - 07/06 (53)
    • 06/22 - 06/29 (49)
    • 06/15 - 06/22 (11)
    • 06/08 - 06/15 (4)

Popular Posts

  • Transkultural dalam Keperawatan
    Konsep Teori Transkultural dalam Keperawatan APLIKASI TEORI TRANSCULTURAL NURSING DALAM PROSES KEPERAWATAN Rahayu Iskandar, Ners, M.Kep PEND...
  • Review Blog Keperawatan
    Setelah beberapa minggu ini cari materi buat postingan baru, mendadak dapat inspirasi setelah rekan Anton Wijaya menulis di buku tamu Keper...
  • Hubungan Usia Terhadap Perdarahan Post Partum Di RSUD
    KTI KEBIDANAN HUBUNGAN USIA TERHADAP PERDARAHAN POSTPARTUM DI RSUD BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan wanita merupakan hal yang s...
  • PATHWAY ASFIKSIA NEONATORUM
    PATHWAY ASFIKSIA NEONATORUM Klik pada gambar untuk melihat pathway Download Pathway Asfiksia Neonatorum Via Ziddu Download Askep Asfiksia N...
  • PROSES KEPERAWATAN KOMUNITAS
    PROSES KEPERAWATAN KOMUNITAS Pengertian - Proses keperawatan adalah serangkaian perbuatan atau tindakan untuk menetapkan, merencana...
  • Diagnosa Keperawatan Aktual
    Konsep Dasar Diagnosa Keperawatan Aktual BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sebagai suatu aspek yang terpenting dalam proses kepera...
  • PENGETAHUAN IBU TENTANG BIANG KERINGAT PADA BAYI 0-1 TAHUN DI BPS XXXX
    Prelevansi penyakit kulit di Indonesia cukup tinggi baik oleh bakteri, virus atau jamur. Selain itu bergantung pada lingkungan dan kondisi...
  • PATHWAY HEMATEMESIS MELENA
    Pathway Hematemesis Melena Klik pada gambar untuk melihat pathway Download Pathway Hematemesis Melena Via Ziddu
  • Ikterus
    DEFINISI Ikterus ialah suatu gejala yang perlu mendapat perhatian sungguh-sungguh pada neonatus. Ikterus ialah suatu diskolorasi kuning pa...
  • Gangguan Masalah Eliminasi ALVI
    Gangguan Masalah Eliminasi ALVI Konstipasi Konstipasi merupakan keadaan individu yang mengalami atau berisiko tinggi mengalami stasis usus b...

Statistik

© ASUHAN KEPERAWATAN 2013 . Powered by Bootstrap , Blogger templates and RWD Testing Tool Published..Gooyaabi Templates