• home

ASUHAN KEPERAWATAN

  • HOME
  • DOWNLOAD ASUHAN KEPERAWATAN
  • Cara Mendapatkan Password

Senin, 23 November 2009

Demam Berdarah Dengue

di 11.17 Label: Keperawatan
Demam Berdarah Dengue adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue (arbovirus) yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. (Suriadi et al, 2001: 58) Demam Berdarah Dengue adalah penyakit yang terdapat pada anak dan dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan sendi yang biasanya memburuk setelah dua hari pertama. Uji torniket akan positif dengan atau tanpa ruam disertai beberapa atau semua gejala perdarahan ptekie spontan yang timbul serentak, purpura, ekimosis, epistaksis, haematemesis, melena, trombositopenia, masa perdarahan dan masa protombin memanjang, Hematokrit meningkat dan gangguan maturasi megakariosit. Hendarwanto, 2001: 4417).

Demam Berdarah Dengue adalah penyakit demam akut dengan ciri – ciri demam manifestasi perdarahan dan bertendensi mengakibatkan renjatan yang dapat menyebabkan kematian. (SMF Ilmu kesehatan Anak FK. Universitas Padjajaran / RSUP DR. Hasan Sadikin Bandung, 2000 : 214). Demam berdarah Dengue adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh salah satu dari 4 serotipe virus dengue yang ditandai dengan manifestasi perdarahan dan bertendensi menimbulkan renjatan dan kematian. (Mansjoer et al, 2000 : 419)

Sesuai dengan pengertian di atas, DBD disebabkan oleh virus Dengue yang termasuk genus Flavivirus, famili Flaviviridae masuk dalam golongan virus RNA dan sangat patogen terhadap manusia. Secara antigenik virus dengue mempunyai empat macam strain yaitu DEN-1, 2, 3, 4. Setiap strain mempunyai daya virulensi yang berbeda sehingga tidak mudah membedakan antara strain hanya dengan melihat gejala klinisnya. Untuk dapat membedakan macam strain yang menginfeksi tubuh harus menggunakan pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR).

Soegijanto (2003 : 83) meyatakan bahwa protein E adalah protein envelop utama dari virion dan memegang peranan penting pada proses perangkaian virion, ikatan reseptor, penggabungan membran dan target utama antibodi netralisasi. Sedangkan protein Pr-M merupakan prekusor glikolisasi protein struktur M dan dapat menstimulasi antibodi inetralisasi dan protektif akibat pemecahan protein Pr-M yang tidak sempurna, namun protein yang terpenting dalam proses antibodi yang protektif adalah protein E karena protein ini lah yang berperan dalam penggabungan membran virus dengan molekul reseptor sel. Virus dengue memiliki inti tunggal yaitu Single Stranded RNA (ssRNA) yang diorganisasi di dalam single Open Reading Frame ORF) dengan gen yang mengkode beberapa protei yang menyelubunginya. (Soegijanto, 2003 : 85)

Anatomi Fisiologi Darah
Darah adalah suspensi dari partikel dalam larutan koloid cair yang mengandung elektrolit. Peranannya sebagai medium pertukaran antara sel – sel yang terfiksasi dalam tubuh dan lingkungan luar serta memiliki sifat – sifat protektif terhadap organisme sebagai suatu keseluruhan dan khususnya terhadap darah sendiri.

Trombosit dan Faktor Pembekuan
Trombosit atau platelet bukan merupakan sel, melainkan pecahan granular sel berbentuk piringan tidak berinti. Trombosit adalah bagian terkecil dari unsur selular sumsum tulang belakang dan sangat penting peranannya dalam homeostasis dan pembekuan darah. Trombosit berdiameter 1 – 4 mikron berumur kira – kira 10 hari. Kira – kira sepertiga berada dalam limpa sebagai cadangan dan selebihnya berada dalam peredaran darah berjumlah antara 150.000 – 400.000 / mm3. Faktor pembekuan, kecuali faktor III dan IV merupakan protein plasma. Faktor – faktor ini bersirkulasi dalam darah sebagai molekul – mulekul yang tidak aktif dan disintesis di hati.

Trombositopenia
Trombositopenia didefinisikan sebagai jumlah trombosit di bawah 100.000 / mm3. Ini bisa disebabkan oleh pembentukan trombosit yang berkurang atau penghancuran yang meningkat.

Hematokrit
Hematokrit yaitu suatu nilai kadar sel darah yang terdapat di dalam plasma darah. Semakin tinggi nilai hematokrit, semakin tinggi viskositas atau kekentalan darah. Nilai hematokrit normal untuk pria berkisar antara 45 – 52 %, sedangkan nilai hematokrit normal untuk wanita berkisar antara 36 – 48 %.

Patogenesis dan Patofisiologi
Virus Dengue masuk ke dalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus. Organ sasaran virus ini yaitu hepar, nodus limfatikus, sumsum tulang serta paru – paru. Virus DEN mampu bertahan hidup dan mengadakan multifikasi di dalam sel yang diserangnya. Infeksi virus dengue dimulai dengan menempelnya virus, selanjutnya genom virus masuk ke dalam sel dengan bantuan organel – organel sel. Genom virus membentuk komponen – komponen antara dan struktural. Setelah komponen virus dirakit, virus dikeluarkan dari dalam sel.

Setelah tubuh terinfeksi akan terjadi kompleks virus – antibodi dalam sirkulasi darah dan menyebabkan beberapa hal, diantaranya :
Aktivasi sistem komplemen yang berakibat dilepaskannya anafilaktosin C3a dan C5a yang menyebabkan meningginya permeabilitas pembuluih darah dan menghilangnya plasma melalui endotel dinding tersebut, suatu keadaan yang amat berperan dalam timbulnya renjatan.
Timbulnya agregasi trombosit yang melepaskan Adeno Diposphate (ADP)akan mengalami metamorfosis. Trombosit yang mengalami kerusakan metamorfosis akan dimusnahkan oleh sistem retikuloendotel sehingga terjadi penurunan faktor koagulasi (Prorombin, faktor V, VII, IX, X dan Fibrinogen) mengakibatkan trombositopenia hebat dan perdarahan. Pada keadaan agregasi, trombosit akan melepaskan amin vasoaktif (histamin dan serotinin) yang bersifat meninggikan permeabilitas kapiler dan melepaskan trombosit faktor 3 yang merangsang koagulasi intravaskuler.
Terjadinya aktivasi faktor Hageman (faktor XII) yang mengakibatkan terjadinya bekuan intravaskuler yang meluas. Disamping itu aktivasi ini juga merangsang sistem kinin yang berperan dalam peningkatan permeabilitas pembuluh darah.
Dari berbagai faktor di atas akan terjadi peningkatan permeabilitas kapiler dan kelainan hemostasis yang menyebabkan terjadinya perdarahan, hipotensi hingga terjadinya renjatan dan bila keadaan hipotensi tidak teratasi, maka akan terjadi anoksia jaringan, asidosis metabolik dan kematian.

Klasifikasi
WHO membagi DBD ke dalam 4 derajat, yaitu :
Derajat I : Demam dan uji torniket positif.
Derajat II : Demam dan perdarahan spontan, pada umumnya di kulit dan atau perdarahan lainnya.
Derajat III : Demam, perdarahan spontan, disertai atau tidak disertai hepatomegali dan ditemukan gejala – gejala kegagalan sirkulasi meliputi nadi yang cepat dan lemah, tekanan nadi menurun ( < 20 mmHg ) atau hipotensi disertai ekstremitas dingin dan anak gelisah. Derajat IV : Demam, perdarahan spontan, disertai atau tidak disertai hepatomegali dan ditemukan gejala renjatan hebat ( nadi tak teraba dan tekanan darah tak terukur. Gejala klinik utama pada DBD adalah demam dan manifestasi perdarahan baik yang timbul secara spontan maupun setelah uji torniquet. Untuk menegakkan diagnosis klinik DBD, WHO ( 1986 ) menentukan beberapa patokan gejala klinik dan laboratorium. Gejala Klinik Terdapat beberapa gejala klinik pada DBD, yaitu : Demam tinggi mendadak yang berlangsung selama 2 – 7 hari. Manifestasi perdarahan Hepatomegali Renjatan, nadi cepat dan lemah tekanan nadi menurun ( < 20 mmHg ) atau nadi tidak teraba, kulit dingin dan anak gelisah. Laboratorium Trombositopenia ( < 100.000 sel / ml ) Hemokonsentrasi ( kenaikan Ht 20 % dibandingkan fase konvalesen ) Pemeriksaan Penunjang Pada foto paru kadang terlihat adanya efusi pleura dan asites terlihat dengan pemeriksaan USG. Selain pemeriksaan USG dan pencitraan radiologis, juga dapat dilakukan pemeriksaan isolasi virus dari biakan darah penderita DBD sehingga dapat diketahui jenis virus yang menginfeksi. (Seogijanto, 2003 : 30) Dampak DBD pada berbagai sistem lain akan bergantung pada fase DBD yang terjadi, diantaranya : Sistem Kardiovaskuler Ditemukan peningkatan permeabilitas pembuluh darah akibat pengeluaran histamin, perdarahan akibat trombositopenia dan gangguan faktor pembekuan, dan bila terjadi renjatan akan ditemukan penurunan tekanan nadi (< 20 mmHg), nadi cepat dan lemah bahkan bisa tidak teraba, CRT > 2 detik, akral dingin, hipotensi sampai terjadi DIC.
Sistem Pernapasan
Effusi pleura dapat terjadi akibat kebocoran plasma, dan terjadi sianosis serta hipoksia sampai anoksia bila terjadi renjatan.
Sistem Pencernaan
Dapat ditemukan mual, muntah, nyeri abdomen dan ulu hati, perdarahan gusi, diare, konstipasi, hematemesis, melena, asites akibat kebocoran plasma, hepatomegali dan pembesaran limpa.
Sistem Integumen
Trombositopenia akan mengakbiatkan dampak pada sistem integumen berupa manifestasi perdarahan di bawah kulit seperti ptekie, ekimosis, hematoma, purpura, dan bila terjadi renjatan ditemukan gejala kulit dingin dan lembab.
Sistem Muskuloskeletal
Dilepaskannya histamin dan serotinin dapat menstimulasi saraf nyeri yang ditransmisikan ke pusat nyeri di cortex cerebri berupa nyeri otot dan tulang serta sendi.
Sistem Neurologis
Nyeri kepala terjadi dapat diakibatkan peningkatan suhu tubuh dan klien menjadi gelisah saat terjadi renjatan.
Sistem Perkemihan
Status homeostasis yang buruk akibat penurunan volume cairan tubuh oleh kebocoran plasma dan tidak tertanggulangi, maka dapat menyebabkan adanya gangguan pada fungsi ginjal.

Penatalaksanaan pada DBD dibagi kedalam 2 kategori yaitu kasus DBD yang diperkenankan rawat jalan dan kasus DBD yang dianjurkan rawat inap. ( Soegijanto, 2003 : 42 )

Kasus DBD yang diperkenankan rawat jalan
Bila klien hanya mengeluh panas, tetapi keinginan makan dan minum masih baik dapat diperkenankan berobat jalan. Untuk mengatasi panas tinggi mendadak dapat diberikan Paracetamol 10 – 15 mg / kg BB setiap 3 – 4 jamdan dapat diulang jika gejala panas masih nyata di atas 38,5O C. Obat penurun panas salisilat tidak dianjurkan karena mempunyai resiko penyulit perdarahan dan asidosis. Sebagian besar klien yang berobat jalan adalah kasus DBD yang menunjukkan manifestasi panas tinggi pada hari pertama dan hari kedua tanpa penyulit lainnya. Apabila klien DBD menunjukkan gejala penyulit lainnya, maka kasus ini dianjurkan untuk menjalani rawat inap agar mendapatkan pengawasan yang lebih baik.

Kasus DBD yang dianjurkan rawat inap
Penatalaksanaan kasus DBD yang dianjurkan rawat inap dibagi menurut derajat DBD yang dialami.
Penatalaksanaan DBD derajat I dan II
Klien DBD yang mengalami panas tinggi hari ke 3, 4 dan 5 serta menunjukkan gejala akral dingin, nyeri perut dan produksi urine kurang sebaiknya menjalani rawat inap. Penatalaksanaan pada DBD derajat I dan II meliputi pemantauan Ht dan trombosit, pemberian cairan yang terkontrol, pemberian antibiotik serta pemberian therapi penurun panas.

Jenis cairan yang dapat diberikan pada penatalaksanaan DBD derajat I – II adalah :
Kristaloid
Ringer Laktat ( RL )
5% Dekstrose dalam larutan RL
5% Dekstrose dalam larutan Ringer Asetat
5% Dekstrose dalam larutan setengah normal garam fisiologi ( faali )
5% Dekstrose dalam larutan normal garam fisiologi ( faali )
Koloidal
Plasma expander dengan berat molekul rendah ( Dekstrana 40 )

Penatalaksanaan DBD derajat III dan IV
Pada DBD derajat III dan IV dapat terjadi Dengue Shock Syndrome yang termasuk kasus kegawatan yang memerlukan pengawasan secara tepat dan memerlukan penggantian cairan secara cepat, sehingga status homeostasis cairan dan elektrolit tubuh terkontrol untuk menghindari komplikasi lebih parah serta kematian.. Berikut adalah alur tatalaksana pemberian cairan pada derajat ini.

Kriteria Memulangkan Pasien
Menurut Soegijanto ( 2003 : 48 ), pasien dapat dipulangkan apabila :
Tidak demam selama 24 jam tanpa antipiretik, nafsu makan membaik, tampak perbaikan secara klinis, hematokrit stabil, tiga hari setelah syok teratasi, jumlah trombosit > 50.000 / ml serta tidak dijumpai distress pernapasan.
Read More

Minggu, 22 November 2009

Tips Bekerja di Luar Negeri

di 17.03 Label: Keperawatan
Siapa perawat yang tidak ingin bekerja diluar negeri? Sebagian besar perawat Indonesia berharap bisa bekerja diluar negeri. Selain gajinya berlipat-lipat dibandingkan di Indonesia, diluar negeri juga memungkinkan pengembangan skill keperawatan yang lebih baik.

Barangkali 3 langkah pertama ini bisa menjadi panduan awal bagi anda yang ingin bekerja diluar negeri:

Pertama, tentukan di negara mana anda ingin bekerja. Hal ini penting, mengingat tiap negara tujuan berbeda karakteristiknya. Sesuaikan dengan keinginan dan cita-cita anda.

Kedua, tentukan anda ingin bekerja berfokus dimana. Apakah di bagian medikal bedah, anak, gerontik, komunitas, jiwa, atau yang mana. Hal ini tentu saja anda harus sesuaikan dengan kemampuan dasar dan minat anda.

Ketiga, temukan apa yang dibutuhkan untuk mendapatkan pekerjaan tersebut. Sertifikasi, pengalaman, bahasa, dan sebagainya, harus anda tahu. Sehingga anda memiliki gambaran apa yang harus anda kerjakan selanjutnya.

Sederhana, namun bisa dijadikan pedoman untuk melangkah bekerja diluar negeri. Siapapun bisa bekerja diluar negeri, termasuk anda, yakinlah…
Read More

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN OBSTRUKSI SALURAN PENCERNAAN

di 14.05 Label: Asuhan Kep. Peny. Dalam


Patofisiologi
• Ketika obstruksi saluran pencernaan terjadi, gelombang peristaltic proksimal meningkat pada daerah obstruksi dalam usaha untuk menggerakkan isi dari daerah obstruksi.
• Gelombang peristaltic ini menghasilkan suara perut dengan nada tinggi.
• Peristaltik berhenti, ketika cairan dan gas berkumpul di belakang daerah obtsruksi, seperti ditemukan pada Ilues Paralitic.
• Distensi abdomen yang berasal atau disebabkan pembengkakan usus, menekan paru-paru akan membuat tekanan diafragma melemah.

Penyebab Obstruksi Saluran Intestinal.
• Faktor Mekanik.
• Faktor Neurologik.
• Faktor Vaskular.

1. Faktor Mekanik.

• Perlengketan merupakan penyebab yang paling mungkin pada obstruksi usus.
• Perlengketan juga sering terjadi pada pasien post Operasi perut, tetapi apabila sebab-sebabnya tidak diketahui dapat menyebabkan suatu keadaan yang lebih serius.
• Iritasi yang timbul setelah prosedur pembedahan dapat juga mempercepat terjadinya perlengketan, juga jaringan ikat bekas luka akan menimbulkan penyempitan dari usus.
• Timbulnya perlengketan yang luar biasa, sangat mungkin untuk terjadinya obstruksi.

Hernia.
• Suatu hernia incarcerate kadang-kadang bisa menjadi penyebab obstruksi, tergantung kepada ukuran cincin hernia itu sendiri.
• Pada hernia strangulasi selalu terjadi obstruksi karena usus tidak berfungsi dimana suplay darah terhalang.

Volvulus.
• Volvulus adalah terbelitnya usus yang sering menimbulkan terhentinya isi rongga perut.
• Hal ini bisa terjadi pada usus halus atau usus besar, dan dapat kembali tanpa tindakan operasi, apabila penekanan pada usus dapat berhasil diperbaiki.
• Volvulus usus besar kadang-kadang dapat bebas apabila diberikan barium enema.

Intussusepsi.
• Intussusepsi adalah suatu penyarungan usus dari yang diatasnya, dan pada umumnya terjadi pada bayi, terjadi pada hubungan ileocaecal, usus kecil menyarung ke dalam usus besar.
• Pada orang tua biasanya bergabung dengan tumor dari usus besar, yang mana penyarungan ke bagian distal usus terjadi akibat gerakan peristaltic.
• Pada bayi, barium enema kadang-kadang menyebabkan lepasnya intussepsi.
• Tindakan pembedahan dilaksanakan pada intussepsi yang sudah terjadi cukup lama dan tidak bisa kembali sendiri, sehingga bisa terjadi kerusakkan pada dinding usus

Faktor Neurogenik.
1. Suatu obstruksi dinamik kadang-kadang disebut Paralitik Ileus, disebabkan oleh kuang aktivitas peristaltic.
2. Aktivitas tenaga dorong dari usus besar terhalang oleh rangsangan refleks yang dapat disebabkan oleh sejumlah patologis atau penyakit yang berbeda.
3. Umumnya timbul setelah operasi / bedah perut karena usus besar berhenti berfungsi selama beberapa waktu, berkisar dari beberapa jam hingga beberapa hari
4. Prosedur / tindakan yang ditangani pada usus besar secara ekstensif dan prosedur pada daerah retroperitoneal dapat menyebabkan masalah setelah operasi.
5. Pengobatan / cara mengatasinya adalah dengan alat penghilang gas hingga usus besar mulai berfungsi.
6. Infeksi pada abdomen / perut dan kadang-kadang kapasitas thorax seperti pneumonia lobaris, peritonitis atau pankreatitis, seringkali menyebabkanileus pada daerah asal infeksi.
7. Penyebab umum lainnya adalah ketidak-seimbangn elektrolit, khususnya hypokalemia.

Faktor Vaskular
• Gangguan suplay darah ke tiap bagian tubuh menyebabkan luka timbul dan fungsi berhenti.
• Darah disuplay / dialirkan ke usus besar melalui pembuluh arteri inferior mesenteric, superior dan celiac.
• Pembuluh darah ini mempunyai inter komunikasi anatomic pada ujung pancreas dan sepanjang garis lintang usus besar.
• Kemacetan /hambatan total (Mesenteric Infarction), setiap kemacetan suplay darah arteri ke usus besar, seperti pada mesenteric thrombosis, akan secara efektif menghentikan fungsi usus besar. Hal ini biasanya disebabkan oleh ukuran pembuluh darah yang tersumbat, perluasan / pembesaran usus besar tanpa suplay darah, dan kecepatan timbulnya kemacetan.
Suatu kemacetan yang akut dapat menyebabkan luka abdomen yang parah tanpa tanda-tanda kesulitan usus karena luka tersebut disebabkan oleh jaringan ischemic (bukan sekedar akibat dari kesulitan obstruksi.


PENGKAJIAN
1. Yang harus dimonitor pada pasien dengan obstruksi saluran pencernaan adalah :
Suara saluran cerna bagian bawah (bowel) : ada / tidak dan jenisnya.
• Nyaring / keras, frekuensi, suara nada tinggi dapat di dengar dengan adanya perkembangan obstruksi.
• Suara perut ini tidak terdengar jika peristaltic berhenti.

Suara perut melemah dan berganti dengan flatus, terjadi apabila peristaltic
kembali ada.
2. Muntah, kaji tipe dan frekuensi.
• Melimpah (profuse), tidak ada isinya, terjadi pada obstruksi usus halus bagian proksimal.
• Biasanya tipe muntah yang berisi (profuse)terdapat / terjadi pada pasien dengan obstruksi saluran pencernaan bagian bawah (bowel obstruction distal)

3. Rasa sakit pada perut, luka dan jenis :
• Sakit karena kram (cramping) terjadi akibat perkembangan obstruksi.
• Sakit umumnya tetap dan menyebar (diffuse) sesuai dengan distensinya.

4. Distensi abdomen : digunakan pita pengukur untuk menentukan
Perubahan ukuran. Tempat / daerah yang diukur selalu tetap, khususnya yang
Melewati umbilicus.

5. Urinary Output : jumlah
• Monitor total output (jumlah menurun,tanda dehidrasi)
• Monitor frekuensi pengosongan retensi urine.

6. Tanda-tanda vital
• Panas, takhikardi, dan hipotensi terlihat pada psien dengan dehidrasi.
• Panas, umumnya juga merupakan indikasi dari obstruksi atau peritonitis.




Bila Artikel ini berkenan bagi Anda
Silahkan DownLoad
Disini
Read More

Sabtu, 21 November 2009

Contoh Olahraga Teratur Selama Seminggu

di 09.52 Label: Hidup Sehat , Kebugaran Olahraga
Melanjutkan artikel terdahulu tentang Rahasia Tubuh Sehat, artikel berikut ini akan memberikan kepada anda contoh olahraga teratur Exercise Regimen) selama seminggu yang bisa anda kerjakan untuk menjaga dan mempertahankan kesehatan anda mulai hari senin sampai hari minggu. Lakukanlah olahraga teratur dan sebaiknya lakukanlah 4-6 kali dala seminggu dengan durasi 30-60 enit.

Senin
  1. Berlatih nafas dalam-dalam/deep breathing (pagi, siang dan malam)
  2. Jalan cepat selama 30 menit.
  3. 5-10 menit peregangan/stretching
  4. Satu pose keseimbangan
Selasa
  1. Latihan nafas dalam-dalam (pagi, siang dan malam)
  2. Yoga, 45-60 menit
Rabu
  1. Latihan nafas dalam-dalam (pagi, siang dan malam).
  2. 30 menit jalan-jalan dengan dengan selang-seling 3 menit mendadak langkah cepat dan 3 menit langkah sedang .
  3. 5-10 menit peregangan
  4. Satu pose keseimbangan.
Kamis
  1. Latihan nafas dalam-dalam (pagi, siang dan malam).
  2. 30-60 menit olahraga pilates
Jumat
  1. Latihan nafas dalam-dalam (pagi, siang dan malam).
  2. 30 menit jalan-jalan
  3. 5-10 menit strecthing
  4. Satu pose keseimbangan.
Sabtu
  1. Latihan nafas dalam-dalam (pagi, siang dan malam).
  2. Jalan kaki 30 menit
  3. 20 menit olahraga kekuatan/angkat beban
  4. 5-10 enit peregangan/strecthing
  5. Latiahn keseibangan.
Minggu
  1. Latihan nafas dalam-dalam (pagi, siang dan malam).
  2. 45-60 enit berlatih yoga
Apakah anda mempunyai tip dan trik menjaga dan memelihara kesehatan tubuh agar tetap prima? Apa saja program olahraga mingguan anda? Silahkan share di form komentar dibawah ini.
Read More

Kamis, 19 November 2009

PERAWATAN PADA PASIEN EVAKUASI DENGAN PESAWAT

di 21.53 Label: Perawatan Pada Evakuasi Medik Udara
Untuk dapat memberikan rasa nyaman kepada pasien selama evakuasi berlangsung, diperlukan pengetahuan mengenai beban-bebn dan bahaya-bahaya dalam penerbangan. Banyal usaha yang dapat dilakukan dengan memanfaatkan keadaan khusus dari pasien melalui peralatan yang ada dan merekayasanya untuk mencapai kebutuhan.

Cara dan Prosedur untuk memberi rasa nyaman.

• Mengurangi kelelahan (Fatique. Pasien yang memakai tandu (stretcher )memerlukan perencanaan dan perawatan yang banyak. Disamping pengaruh menurunnyatekanan atmosfir, tekanan O2, kelembaban dan kebisingan, mereka juga mengalami vibrasi yang terus-menerus. Macam-macam usaha perawatan dapat dilakukan untuk meringankan kondisi-kondisi tersebut adalah :
1. Bila kondisi pasien tidak boleh bangun dan tidak ada kontraindikasi, tersedia sandaran untuk meninggikan kepala. Sandaran pungung adalah cara yang terbaik dan mudah untuk melakukan elevasi kepala, dengan pasien tetap terpasang seatbelt pada tandu.
2. Apabila tidak tersedia peralatan khusus, elevasi kepala dengan bantal dapat mengurangi kelelahan sambil memberi ganjalan untuk tungkai bawah.

• Perubahan Posisi.
Disamping pergerakan elevasi kepala dan ganjalan tungkai bawah,juga diperlukan pergantian posisi. Pergantian posisi hendaknya dilakukan tiap 2 jam, untuk penerbangan kurang dari 2 jam, sesuai dengan kebutuhan pasien.

• Tidur.
Dalam penerbangan yang lama, pasien hendaknya diberikan bantal dan extra selimut untuk mengurangi rasa dingin berlebihan dan memberikan rasa nyaman sebanyak mungkin. Earflug yang disposable sebaiknya diberikan untuk menguangi kebisingan, mengecilkan lampu-lampu dalam penerbangan akan memberikan suasana untuk tidur dan relakasasi. Suatu posisi yang kurang nyaman akan menganggu tidur


• Fasilitas Toilet.
Meskipun lokasi toilet diberitahukan sebelum penerbangan, hal ini tidak ada gunanya untuk pasien yang berbaring, akan lebih baik bila pasien dianjurkan untuk miksi sebelum penerbangan, apabila pasien tidak terpasang kateter.

Tanda-tanda Vital
1. Memonitor tand-tanda Vital. Karena pengaruh-penaruh buruk dari penerbangan,tanda-tanda vital harus selalu diperhatikan. Tanda-tanda ini perlu dimonitor secara cermat, karena perubahan tersebut dapat merupakan indikasi yang membahayakan.
2. Suhu, Nadi, dan Respirasi. Suhu, nadi dan respirasi sebaiknya diukur dan dicatat apabila terjadi kenaikkan suhu badan, nadi yang abnormal. Selama penerbangan, suhu, nadi dan respirasi harus diukur pada pasien yang gawat, yang menderita luka di kepala, proses meradang, infeksi atau dehydrasi. Persyaratan-persyaratan laintergantung pada kondisi pasien dan kebijaksanaan perawatan.
3. Tekanan Darah. Tekanan darah tidak selalu dapat didengar karena bising pesawat terbang, sehingga mungkin perlu dilakukan palpitasi.

1. Pengukuran tekanan darah harus dilakukan sebelum pre flight. Apabila tidak tersedia monitor elektronik atau stethoscope akustik, maka usahakan pengukuran tekanan darah sebelum take off dengan stethoscope dan palpasi pada pasien yang memerluka monitor selama penerbangan. Keduacara pengukuran tersebut dapat berselisih 8 – 10 mm Hg. Denganmendapatkan dua angka tersebut sebelum terbang akan merupakan data sebagai pegangan.
2. Untuk mengadakan pengukuran tekanan darah secara palpasi, lingkaran mansetnya pada lengan atas, tentukan letak radialis dengan jari kedua dan ketigadaritangan yang sama dan pompa mansetnya dengan tangan yang lain. Lepaskan udara dari manset pelan-pelan dan bacalah manometer aneroidnya. Angka yang terlihat padawaktu nadi radialis teraba menunjukkansistolik. Tekanan ini dicatat sebagai Sistolik, dengancara ini dapat ditentukan diastoliknya.

• Pemeriksaan Neurologis. Tergantung keadaan pasien, perlu ditentukan pupil derajat kesadaran yang dicatat berdasarkan jadual khusus. Perludilakukan kekuatan remasanjari-jari, respons sensorik dan motorik. Keterangan tanda-tanda vital sebelum pre flight sangat diperlukan. Kebiasaan ini akan memberikan indeks dasar dalam penentuan perubahan-perubahan kondisi pasien selama penerbangan. Prosedur-prosedur rutin mengenai perawatan dan kenyamanan pasien berlaku untuk angkutan udara.

• Pemberian Obat-obatan.
Pemberian obat-obatan selama penerbangan sedapat mungkin diberikan sesuai dengan jadual pemberian pada fasilitas asal. Catatlah waktunya sesuai dengan watu dari zona daerah fasilitas yang dituju. Tujuan dari pemberian perawatan atau pengobatan adalah untuk mempertahankan kontinuitas dari perawatan pasien sejak dari RS pemberangkatn sampaipada RS tujuan tanpa kelambatan selama pasien berada dalam pesawat.

Read More

PERSPEKTIF PERAWATAN ANAK

di 21.37 Label: Asuhan Keperawatan Anak


Konsep :
1. Anak tidak dianggap sebagai miniature dari orang dewasa tetapi sebagai
individu yang unik.
2. Sebagai individu unik mempunyai kebutuhan khusus dan berbeda dengan anak lain
sesuai tahap perkembangan.
3. Orientasi bukan pada pengobatan anak sakit tetapi pada pencegahan penyakit dan
peningkatan kesehatan,
4. Perawat tidak hanya merawat anak sakit tapi bertanggung jawab secara komprehensif
membedakan Asuhan keperawatan yang memungkinkan pemenuhankebutuhan bagi anak dan
keluarganya
5. Asuhan Keperawatan dipandang sebagai suatu proses dan perawat dipandang sebagai
orang yang dapat bekerja secara efektif dengan bayi dan anak serta dapat
menciptakan suatu kondisi terhadap orang lain terutama orang tua agar dapat
berfungsi lebih efektif dalam merawat anaknya.

PERAN PERAWAT YANG BERTUGAS DI BAGIAN ANAK
Konsep :
Pada prinsipnya berpusat pada kesejahteraan anak dan keluarga
1. Family Advocacy (sebagai penghubung).
•Perawat bekerjasama dengan anggota keluarga mengidentifikasi kebutuhan anak dan
merencanakan intervensi perawatan yang sesuai.
•Perawat berusaha meyakinkan keluarga tentang tersedianya pelayanan kesehatan
yang sesuai.

2. Health Teaching
•Anticipatory Guidence. Memberitahukan kepada orangtua tahapan-tahapan
perkembangan). anak, sehingga orangtua sadar akan apa yang terjadi, sehingga
dapat diantisipasi
•Perawat memberikan pendidikan kesehatan yang tepat, missal : perawat mengajarkan
tentang kebersihan.

3. Support (Counseling
• Memperhatikan kebutuhan emosional, diperlukan support / conseling.
• Support adalah mendengarkan, memberikan sentuhan serta kehadiran fisik yang merupakan komunikasi non verbal.
• Counseling adalah bertukar pendapat untuk mengatasi masalah, tehnik untuk mengekspresiakn perasaan dan pikiran untuk membantu keluarga dalam mengatasi stress.

4. Therapeutik
• Perawat berperan dalam memenuhi kebutuhan fisik dan mental, makan, mandi, pakaian, ganti balutan, keamanan, sosialisasi dan rehabilitasi
• Tugas utama :
1. Health Promotion, Health Prevention, Restoration, Rehabilitation.
2. Perawatan secara Holistik hanya dapat diciptakan melalui pendekan interdisipliner, tetap memandang sebagai suatu kesatuan, karena itu perlu kordinasi dari berbagai tenaga kesehatan.
3. Health Care Planning, merencanakan dalam setiap tingkatan, perawar menjalankan berbagai dimensi pencegahan, merencanakan perawatan dengan melihat berbagai aspek tumbuh kembang anak meliputi : nutrisi, imunisasi, keamanan, perawatan , disiplin dan sosialisasi.






Read More

Rabu, 18 November 2009

STANDAR PRAKTEK KEPERAWATAN JIWA

di 11.39 Label: Keperawatan
STANDAR I: PENGKAJIAN

Perawat kesehatan jiwa mengumpulkan data kesehatan pasien

Rasional

Pengkajian dengan wawancara – membutuhkan keterampilan komunikasi yang efektif secara budaya dan linguistik, wawancara, observasi perilaku, pencatatan, dan pengkajian pasien yang komprehensif dan system yang relevan memampukan perawat kesehatan jiwa untuk dapat bersuara dalam penilaian keadaan klinis dan merencanakan intervensi untuk pasien.

Kondisi Keperawatan

Kesadaran diri

Observasi akurat

Komunikasi terapeutik

Dimensi asuhan yang responsive

Perilaku Keperawatan

Membuat kontrak keperawatan

Mengumpulkan informasi dari pasien dan keluarga

Validasi data kepada pasien

Mengorganisasi data

Elemen Kunci

Identifikasi alasan pasien mencari pertolongan

Kaji factor risiko berhubungan dengan keamanan pasien yang meliputi potensi terjadinya:

* Bunuh diri atau membahayakan diri
* Perilaku kekerasan
* Gejala putus zat
* Reaksi alergi atau reaksi efek samping obat
* Kejang
* Jatuh atau kecelaksaan
* Kabur dari rumah sakit
* Instabilitas fisiologis

Pengkajian yang menyeluruh kondisi biopsikososial terhadap kebutuhan pasien berhubungan dengan penanganan yang diberikan meliputi:

* Penilaian kondisi sehat sakit pasien dan keluarganya
* Perawatan jiwa sebelumnya pada diri pasien maupun keluarganya
* Pengobatan saat ini
* Respon koping fisiologis
* Status respons koping mental
* Sumber-sumber koping, meliputi motivasi terhadap perawatan dan hubungan yang
mendukung
* Mekanisme koping yang adaptif maupun yang maladaptive
* Masalah-masalah psikososial dan lingkungan
* Penilaian fungsi global
* Pengetahuan, kekuatan, dan defisit

STANDAR II: DIAGNOSIS

Perawat kesehatan jiwa menganalisa data hasil pengkajian untuk menentukan diagnosis.

Rasional

Dasar pemberian asuhan keperawatan jiwa adalah mengakui dan identifikasi pola respons penyakit jiwa dan masalah mental baik actual maupun potensial

Kondisi Keperawatan

Pembuatan keputusan yang logis

Pengetahuan tentang parameter normal

Berpikir induktif atau deduktif

Peka terhadap budaya

Perilaku Keperawatan

Identifikasi pola-pola dalam data

Membandingkan data dengan kondisi normal

Menganalisa dan sintesa data

Identifikasi masalah dan kekuatan

Validasi masalah dengan pasien

Memformulasikan diagnosis keperawatan

Membuat prioritas masalah

Elemen Kunci

Diagnosis harus mencerminkan respon koping adaptif dan maladaptive didasarkan pada kerangka kerja keperawatan semisal NANDA

Diagnosis harus berkaitan dengan masalah-masalah kesehatan atau keadaan penyakit seperti yang tertulis dalam DSM atau ICD (Indonesia: PPDGJ)

Diagnosis seharusnya berfokus pada fenomena dari perawat kesehatan jiwa

STANDAR III: IDENTIFIKASI HASIL

Perawat kesehatan jiwa mengidentifikasi hasil yang diharapkan secara individual terhadap pasien

Rasional

Dalam konteks memberikan asuhan keperawatan, tujuan akhirnya adalah mempengaruhi outcome kesehatan dan meningkatkan status kesehatannya.

Kondisi Keperawatan

Keterampilan berpikir kritis

Bekerja sama dengan pasien dan keluarga

Perilaku Keperawatan

Merumuskan hipotesis

Menspesifikasi hasil yang diharapkan

Memvalidasi tujuan dengan pasien

Elemen Kunci

Hasil (outcome) seharusnya diidentifikasi bersama-sama dengan pasien

Hasil seharusnya diidentifikasi sejelas dan seobyektif mungkin

Hasil yang dituliskan dengan jelas membantu para perawat untuk menentukan efektifitas dan efisiensi intervensi mereka.

Sebelum merumuskan hasil yang diharapkan perawat harus menyadari bahwa pasien mencari bantuan seringkali mempunyai tujuan mereka sendiri

Kualitas Kriteria Hasil

· Spesifik dari pada (general) umum

· Measurable (dapat diukur/obyektif) dari pada subyektif

· Attainable (dapat dicapai) dari pada unrealistic

· Current (sekarang) dari pada outdate

· Addequate jumlahnya dari pada terlalu banyak atau terlalu sedikit

· Muttual dari pada satu sisi

STANDAR IV: PERENCANAAN

Perawat kesehatan jiwa mengembangkan rencana asuhan dalam bentuk tindakan tertulis untuk mencapai hasil yang diharapkan

Rasional

Rencana asuhan digunakan untuk memandu intervensi terapeutik secara sistematis, dengan proses dokumen, dan mencapai hasil yang diharapkan oleh pasien.

Kondisi Keperawatan

Aplikasi teori

Identifikasi aktivitas keperawatan

Validasi rencana dengan pasien

Elemen Kunci

Rencana asuhan keperawatan harus bersifat individual (khas) untuk pasien

Intervensi yang direncanakan seharusnya didasarkan pada pengetahuan terbaru dalam area praktek keperawatan kesehatan jiwa

Perencanaan dilakukan dalam kolaborasi dengan pasien, keluarga, dan tim kesehatan.

Dokumentasi rencana asuhan adalah aktivitas keperawatan yang penting.

STANDAR V: IMPLEMENTASI

Perawat kesehatan jiwa menerapkan intervensi yang teridentifikasi dalam rencana asuhan

Rasional

Dalam mengimplementasikan rencana asuhan, perawat kesehatan jiwa menggunakan rentang intervensi yang lebar yang dirancang untuk mencegah sakit mental dan fisik, mempertahankan dan mengembalikan kesehatan fisik dan mental. Perawat kesehatan jiwa menyeleksi intervensi sesuai dengan level praktek mereka. Pada level dasar, perawat mungkin memilih konseling, terapi lingkungan, meningkatkan kemampuan perawatan diri, skrining intake dan evaluasi, intervensi psikobiologikal, pendidikan kesehatan, manajemen kasus, mempertahankan dan meningkatkan kesehatan, intervensi krisis, asuhan berbasis komunitas, perawatan kesehatan jiwa di rumah, telehealth, dan pendekatan-pendekatan yang lain untuk memenuhi kebutuhan pasien. Sebagai tambahan pilihan intervensi untuk perawat kesehatan jiwa tingkat dasar, pada tingkat lanjut perawat jiwa (APRN PMH) dapat memberikan konsultasi, melaksanakan psikoterapi, dan memberikan obat farmakologi di mana diizinkan oleh undang-undang.

Kondisi Keperawatan

Pengalaman klinis sebelumnya

Pengetahuan tentang penelitian

Dimensi responsive dan tindakan dari asuhan

Perilaku Keperawatan

Mempertimbangkan sumber yang tersedia

Mengimplementasikan aktivitas keperawatan

Menghasilkan alternatif-alternatif

Berkoordinasi dengan anggota tim lainnya

Elemen Kunci

Intervensi keerawatan seharusnya merefleksikan pendekatan holistic biopsikososial dalam merawat pasien

Intervensi keperawatan diimplementasikan dengan cara yang aman, efisien, dan penuh kasih saying (caring)

Tingkat fungsi perawat dan intervensi yang diimplementasikan tergantung pada undang-undang praktek perawat, kualifikasi perawat (meliputi pendidikan, pengalaman dan sertifikasi), tempat pembnerian asuhan, dan inisiatif perawat.

STANDAR VA: KONSELING

Perawat kesehatan jiwa menggunakan intervensi konseling untuk membantu pasien meningkatkan atau memulihkan kembali kemampuan koping sebelumnya, mengembangkan kesehatan jiwa, dan mencegah penyakit jiwa dan kecacatan.

STANDAR VB: TERAPI LINGKUNGAN

Perawat kesehatan jiwa memberikan, membentuk, dan mempertahankan lingkungan yang terapeutik bekerja sama dengan pasien dan pemberi pelayanan kesehatan yang lain.

STANDAR VC: AKTIVITAS PERAWATAN DIRI

Perawat kesehatan jiwa menyusun intervensi sekitar aktivitas keseharian pasien untuk mengembangkan kemampuan perawatan diri dan kesehatan fisik dan mental.

STANDAR VD: INTERVENSI PSIKOBIOLOGIKAL

Perawat kesehatan jiwa menggunakan pengetahuan tentang intervensi psikobiologikal dan mengaplikasikan keterampilan klinis untuk mengembalikan status kesehatan pasien dan mencegah terjadinya kecacatan di masa depan.

STANDAR VE: PENDIDIKAN KESEHATAN

Perawat kesehatan jiwa melalui pendidikan kesehatan membantu pasien mencapai pola hidup yang memuaskan, produktif dan sehat.

STANDAR VF: MANAJEMEN KASUS

Perawat kesehatan jiwa memberikan manajemen kasus untuk mengkoordinir pelayanan kesehatan yang komprehensif dan menjamin perawatan berkesinambungan

STANDAR VG: PROMOSI KESEHATAN DAN MEMPERTAHANKAN KESEHATAN

Perawat kesehatan jiwa menggunakan strategi dan intervensi untuk meningkatkan dan mempertahankan kesehatan dan mencegah penyakit jiwa

INTERVENSI PRAKTEK KEPERAWATAN JIWA LANJUT

Intervensi berikut ini(VH – VJ) dapat dilaksanakan hanya oleh Perawat Spesialis Keperawatan Jiwa

STANDAR VH: PSIKOTERAPI

Perawat Spesialis Keperawatan Jiwa (SKJ) menggunakan psikoterapi individu, kelompok, dan keluarga, dan penanganan terapeutik lainnya untuk membantu pasien mencegah penyakit jiwa dan disabilitas dan dalam meningkatkan status kesehatan mental dan kemampuan berfungsi.

STANDAR VI: MERESEPKAN OBAT FARMAKOLOGI

Perawat SKJ menggunakan otoritasnya untuk membuat resep, prosedur dan penanganan sesuai dengan peraturan perundangan (di Indonesia belum bias).

STANDAR VJ: KONSULTASI

Perawat SKJ memberikan konsultasi untuk meningkatkan kemampuan perawat lain dalam memberikan pelayanan kepada pasien dan berdampak perubahan pada system.

EVALUASI

STANDAR VI: EVALUASI

Perawat kesehatan jiwa mengevaluasi proses pasien dalam mencapai hasil yang diharapkan.

Rasional

Asuhan keperawatan adalah proses yang dinamis meliputi perubahan pada status kesehatan pasien sepanjang waktu, memberikan tambahan data, diagnosa berbeda, dan modifikasi dalam rencana asuhan. Karenanya evaluasi adalah proses berkesinambungan dalam menilai efek keperawatan dan regiment asuhan terhadap status kesehatan pasien dan hasil yang diharapkan.

Kondisi Keperawatan

Supervisi

Analisa diri

Peer review

Partisipasi pasien dan keluarga

Perilaku Keperawatan

Membandingkan respons pasien dan criteria hasil yang diharapkan

Review proses keperawatan

Memodifikasi proses keperawatan sesuai kebutuhan

Berpartisipasi dalam aktivitas peningkatan mutu

Elemen Kunci

Evaluasi adalah proses terus menerus (ongoing process)

Partisipasi pasien dan keluarga adalah penting

Pencapaian tujuan seharusnya didokumentasikan dan revisi rencana asuhan seharusnya diimplementasikan dengan sesuai
Read More
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Lihat versi seluler
Langganan: Postingan ( Atom )
 photo banner300x250-biru.gif

Blog Archive

  • 2016 (1)
    • 09/18 - 09/25 (1)
      • PENGETAHUAN IBU TENTANG BIANG KERINGAT PADA BAYI 0...
  • 2015 (10)
    • 10/11 - 10/18 (1)
    • 09/13 - 09/20 (1)
    • 09/06 - 09/13 (1)
    • 07/05 - 07/12 (1)
    • 05/17 - 05/24 (6)
  • 2014 (1)
    • 04/13 - 04/20 (1)
  • 2012 (770)
    • 02/19 - 02/26 (5)
    • 02/12 - 02/19 (10)
    • 02/05 - 02/12 (4)
    • 01/29 - 02/05 (27)
    • 01/22 - 01/29 (88)
    • 01/15 - 01/22 (101)
    • 01/08 - 01/15 (169)
    • 01/01 - 01/08 (366)
  • 2011 (4477)
    • 12/25 - 01/01 (336)
    • 12/18 - 12/25 (62)
    • 12/11 - 12/18 (70)
    • 12/04 - 12/11 (77)
    • 11/27 - 12/04 (40)
    • 11/20 - 11/27 (67)
    • 11/13 - 11/20 (198)
    • 11/06 - 11/13 (187)
    • 10/30 - 11/06 (340)
    • 10/23 - 10/30 (32)
    • 10/16 - 10/23 (109)
    • 10/09 - 10/16 (80)
    • 08/14 - 08/21 (75)
    • 08/07 - 08/14 (81)
    • 07/31 - 08/07 (82)
    • 07/24 - 07/31 (65)
    • 07/17 - 07/24 (91)
    • 07/10 - 07/17 (47)
    • 07/03 - 07/10 (44)
    • 06/26 - 07/03 (53)
    • 06/19 - 06/26 (59)
    • 06/12 - 06/19 (47)
    • 06/05 - 06/12 (65)
    • 05/29 - 06/05 (63)
    • 05/22 - 05/29 (77)
    • 05/15 - 05/22 (115)
    • 05/08 - 05/15 (65)
    • 05/01 - 05/08 (104)
    • 04/24 - 05/01 (45)
    • 04/17 - 04/24 (70)
    • 04/10 - 04/17 (134)
    • 04/03 - 04/10 (72)
    • 03/27 - 04/03 (18)
    • 03/20 - 03/27 (47)
    • 03/13 - 03/20 (68)
    • 03/06 - 03/13 (40)
    • 02/27 - 03/06 (56)
    • 02/20 - 02/27 (77)
    • 02/13 - 02/20 (76)
    • 02/06 - 02/13 (198)
    • 01/30 - 02/06 (194)
    • 01/23 - 01/30 (132)
    • 01/16 - 01/23 (196)
    • 01/09 - 01/16 (202)
    • 01/02 - 01/09 (121)
  • 2010 (2535)
    • 12/26 - 01/02 (156)
    • 12/19 - 12/26 (65)
    • 12/12 - 12/19 (73)
    • 12/05 - 12/12 (84)
    • 11/28 - 12/05 (80)
    • 11/21 - 11/28 (68)
    • 11/14 - 11/21 (63)
    • 11/07 - 11/14 (50)
    • 10/31 - 11/07 (50)
    • 10/24 - 10/31 (36)
    • 10/17 - 10/24 (58)
    • 10/10 - 10/17 (35)
    • 10/03 - 10/10 (31)
    • 09/26 - 10/03 (21)
    • 09/19 - 09/26 (26)
    • 09/12 - 09/19 (55)
    • 09/05 - 09/12 (65)
    • 08/29 - 09/05 (33)
    • 08/22 - 08/29 (70)
    • 08/15 - 08/22 (45)
    • 08/08 - 08/15 (35)
    • 08/01 - 08/08 (37)
    • 07/25 - 08/01 (27)
    • 07/18 - 07/25 (19)
    • 07/11 - 07/18 (30)
    • 07/04 - 07/11 (56)
    • 06/27 - 07/04 (28)
    • 06/20 - 06/27 (22)
    • 06/13 - 06/20 (30)
    • 06/06 - 06/13 (21)
    • 05/30 - 06/06 (5)
    • 05/16 - 05/23 (6)
    • 05/09 - 05/16 (29)
    • 05/02 - 05/09 (59)
    • 04/25 - 05/02 (28)
    • 04/18 - 04/25 (38)
    • 04/11 - 04/18 (70)
    • 04/04 - 04/11 (59)
    • 03/28 - 04/04 (65)
    • 03/21 - 03/28 (89)
    • 03/14 - 03/21 (218)
    • 03/07 - 03/14 (95)
    • 02/28 - 03/07 (135)
    • 02/21 - 02/28 (102)
    • 01/03 - 01/10 (68)
  • 2009 (1652)
    • 12/27 - 01/03 (36)
    • 12/20 - 12/27 (22)
    • 12/13 - 12/20 (100)
    • 12/06 - 12/13 (45)
    • 11/29 - 12/06 (24)
    • 11/22 - 11/29 (22)
    • 11/15 - 11/22 (19)
    • 11/08 - 11/15 (28)
    • 11/01 - 11/08 (11)
    • 10/25 - 11/01 (17)
    • 10/18 - 10/25 (38)
    • 10/11 - 10/18 (33)
    • 10/04 - 10/11 (15)
    • 09/27 - 10/04 (21)
    • 09/20 - 09/27 (7)
    • 09/13 - 09/20 (84)
    • 09/06 - 09/13 (35)
    • 08/30 - 09/06 (48)
    • 08/23 - 08/30 (118)
    • 08/16 - 08/23 (26)
    • 08/09 - 08/16 (34)
    • 08/02 - 08/09 (35)
    • 07/26 - 08/02 (31)
    • 07/19 - 07/26 (14)
    • 07/12 - 07/19 (16)
    • 07/05 - 07/12 (28)
    • 06/28 - 07/05 (26)
    • 06/21 - 06/28 (76)
    • 06/14 - 06/21 (26)
    • 06/07 - 06/14 (21)
    • 05/31 - 06/07 (43)
    • 05/24 - 05/31 (38)
    • 05/17 - 05/24 (26)
    • 05/10 - 05/17 (52)
    • 05/03 - 05/10 (15)
    • 04/26 - 05/03 (38)
    • 04/19 - 04/26 (32)
    • 04/12 - 04/19 (22)
    • 04/05 - 04/12 (20)
    • 03/29 - 04/05 (40)
    • 03/22 - 03/29 (43)
    • 03/15 - 03/22 (18)
    • 03/08 - 03/15 (14)
    • 03/01 - 03/08 (22)
    • 02/22 - 03/01 (12)
    • 02/15 - 02/22 (9)
    • 02/08 - 02/15 (11)
    • 02/01 - 02/08 (19)
    • 01/25 - 02/01 (37)
    • 01/18 - 01/25 (21)
    • 01/11 - 01/18 (33)
    • 01/04 - 01/11 (31)
  • 2008 (700)
    • 12/28 - 01/04 (13)
    • 12/21 - 12/28 (9)
    • 12/14 - 12/21 (57)
    • 12/07 - 12/14 (5)
    • 11/30 - 12/07 (18)
    • 11/23 - 11/30 (33)
    • 11/16 - 11/23 (31)
    • 11/09 - 11/16 (23)
    • 11/02 - 11/09 (18)
    • 10/26 - 11/02 (11)
    • 10/19 - 10/26 (15)
    • 10/12 - 10/19 (13)
    • 10/05 - 10/12 (25)
    • 09/28 - 10/05 (2)
    • 09/21 - 09/28 (14)
    • 09/14 - 09/21 (19)
    • 09/07 - 09/14 (43)
    • 08/31 - 09/07 (3)
    • 08/24 - 08/31 (33)
    • 08/17 - 08/24 (65)
    • 08/10 - 08/17 (4)
    • 08/03 - 08/10 (26)
    • 07/27 - 08/03 (6)
    • 07/20 - 07/27 (19)
    • 07/13 - 07/20 (18)
    • 07/06 - 07/13 (60)
    • 06/29 - 07/06 (53)
    • 06/22 - 06/29 (49)
    • 06/15 - 06/22 (11)
    • 06/08 - 06/15 (4)

Popular Posts

  • Transkultural dalam Keperawatan
    Konsep Teori Transkultural dalam Keperawatan APLIKASI TEORI TRANSCULTURAL NURSING DALAM PROSES KEPERAWATAN Rahayu Iskandar, Ners, M.Kep PEND...
  • Review Blog Keperawatan
    Setelah beberapa minggu ini cari materi buat postingan baru, mendadak dapat inspirasi setelah rekan Anton Wijaya menulis di buku tamu Keper...
  • Hubungan Usia Terhadap Perdarahan Post Partum Di RSUD
    KTI KEBIDANAN HUBUNGAN USIA TERHADAP PERDARAHAN POSTPARTUM DI RSUD BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan wanita merupakan hal yang s...
  • PATHWAY ASFIKSIA NEONATORUM
    PATHWAY ASFIKSIA NEONATORUM Klik pada gambar untuk melihat pathway Download Pathway Asfiksia Neonatorum Via Ziddu Download Askep Asfiksia N...
  • PROSES KEPERAWATAN KOMUNITAS
    PROSES KEPERAWATAN KOMUNITAS Pengertian - Proses keperawatan adalah serangkaian perbuatan atau tindakan untuk menetapkan, merencana...
  • Diagnosa Keperawatan Aktual
    Konsep Dasar Diagnosa Keperawatan Aktual BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sebagai suatu aspek yang terpenting dalam proses kepera...
  • PENGETAHUAN IBU TENTANG BIANG KERINGAT PADA BAYI 0-1 TAHUN DI BPS XXXX
    Prelevansi penyakit kulit di Indonesia cukup tinggi baik oleh bakteri, virus atau jamur. Selain itu bergantung pada lingkungan dan kondisi...
  • PATHWAY HEMATEMESIS MELENA
    Pathway Hematemesis Melena Klik pada gambar untuk melihat pathway Download Pathway Hematemesis Melena Via Ziddu
  • Ikterus
    DEFINISI Ikterus ialah suatu gejala yang perlu mendapat perhatian sungguh-sungguh pada neonatus. Ikterus ialah suatu diskolorasi kuning pa...
  • Gangguan Masalah Eliminasi ALVI
    Gangguan Masalah Eliminasi ALVI Konstipasi Konstipasi merupakan keadaan individu yang mengalami atau berisiko tinggi mengalami stasis usus b...

Statistik

© ASUHAN KEPERAWATAN 2013 . Powered by Bootstrap , Blogger templates and RWD Testing Tool Published..Gooyaabi Templates