Selasa, 24 Maret 2009
Proses Penyembuhan Luka
Sjamsuhidajat (1997) mendefinisikan luka sebagai hilang atau rusaknya sebagian jaringan tubuh. Sedangkan Mansjoer (2002) mendefinisikan luka sebagai keadaan hilang/terputusnya kontinuitas jaringan. Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa luka adalah rusak/terputusnya kontinuitas jaringan. Yang akan dibicarakan dalam penelitian ini adalah luka laserasi jalan lahir terutama perinium baik luka yang spontan karena persalinan maupun karena tindakan episiotomi.Proses Penyembuhan Luka
Penyembuhan luka merupakan suatu proses penggantian jaringan yang mati/rusak dengan jaringan baru dan sehat oleh tubuh dengan jalan regenerasi. Luka dikatakan sembuh apabila permukaannya dapat bersatu kembali dan didapatkan kekuatan jaringan yang mencapai normal.
Penyembuhan luka meliputi 2 kategori yaitu, pemulihan jaringan ialah regenerasi jaringan pulih seperti semula baik struktur maupun fungsinya dan repair ialah pemulihan atau penggantian oleh jaringan ikat (Mawardi-Hasan,2002).
Penyembuhan luka dapat terjadi secara:
- Per Primam yaitu penyembuhan yang terjadi setelah segera diusahakan bertautnya tepi luka biasanya dengan jahitan.
- Per Sekundem yaitu luka yang tidak mengalami penyembuhan per primam. Proses penyembuhan terjadi lebih kompleks dan lebih lama. Luka jenis ini biasanya tetap terbuka. Biasanya dijumpai pada luka-luka dengan kehilangan jaringan, terkontaminasi/terinfeksi. Penyembuhan dimulai dari lapisan dalam dengan pembentukan jaringan granulasi.
- Per Tertiam atau Per Primam tertunda yaitu luka yang dibiarkan terbuka selama beberapa hari setelah tindakan debridemen setelah diyakini bersih, tetapi luka dipertautkan (4-7 hari).
- Fase Inflamasi; Berlangsung sampai hari ke-5. Akibat luka terjadi pendarahan, tubuh akan berusaha menghentikannya dengan vasokonstriksi, pengerutan ujung pembuluh yang terputus (retraksi) dan reaksi hemostasis. Hemostasis terjadi karena keluarnya trombosit, trombosit mengeluarkan prostaglandin, tromboksan, bahan kimia tertentu dan asam amino tertentu yang mempengaruhi pembekuan darah, mengatur tonus dinding pembuluh darah dan kemotaksis terhadap leukosit. Sel radang keluar dari pembuluh darah secara diapedesis dan menuju daerah luka secara kemotaksis. Sel Mast mengeluarkan serotinin dan histamin yang meningkatkan permiabilitas kapiler, terjadi eksudasi cairan oedema. Dengan demikian akan timbul tanda-tanda radang. Leukosit, limfosit dan monosit menghancurkan dan memakan kotoran dan kuman. Pertautan pada fase ini hanya oleh fibrin, belum ada kekuatan pertautan luka sehingga disebut fase tertinggal (lag phase). Berat ringannya reaksi radang ini dipengaruhi juga oleh adanya benda-benda asing dari luar tubuh, misalnya: benang jahit, infeksi kuman dll. Tidak adanya serum maupun pus/nanah menunjukkan reaksi radang yang terjadi bukan karena infeksi kuman tetapi karena proses penyembuhan luka.
- Fase Proliferasi atau Fibroplasi: Berlangsung dari akhir masa inflamasi sampai kira-kira minggu ke-3. Pada fase ini terjadi proliferasi dari fibroblast yang menghasilkan mukopolisakarida, asamaminoglisin dan prolin yang akan mempertautkan tepi luka. Pada fase ini terbentuk jaringan granulasi. Pembentukan jaringan granulasi berhenti setelah seluruh permukaan luka tertutup epitel dan mulailah proses pendewasaan penyembuhan luka, pengaturan kembali dan penyerapan yang berlebih.
- Fase Remodelling/Fase Resorbsi/Fase penyudahan: Pada fase ini terjadi proses pematangan yang terdiri dari penyerapan kembali jaringan yang berlebih, pengerutan sesuai dengan gaya gravitasi dan akhirnya perupaan kembali jaringan yang baru terbentuk. Fase ini berakhir bila tanda radang sudah hilang.
Faktor-faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka
- Koagulasi; Adanya kelainan pembekuan darah (koagulasi) akan menghambat penyembuhan luka sebab hemostasis merupakan tolak dan dasar fase inflamasi.
- Gangguan sistem Imun (infeksi,virus); Gangguan sistem imun akan menghambat dan mengubah reaksi tubuh terhadap luka, kematian jaringan dan kontaminasi. Bila sistem daya tahan tubuh, baik seluler maupun humoral terganggu, maka pembersihan kontaminasi dan jaringan mati serta penahanan infeksi tidak berjalan baik.
- Gizi (kelaparan, malabsorbsi), Gizi kurang juga: mempengaruhi sistem imun.
- Penyakit Kronis; Penyakit kronis seperti TBC, Diabetes, juga mempengaruhi sistem imun.
- Keganasan; Keganasan tahap lanjut dapat menyebabkan gangguan sistem imun yang akan mengganggu penyembuhan luka.
- Obat-obatan; Pemberian sitostatika, obat penekan reaksi imun, kortikosteroid dan sitotoksik mempengaruhi penyembuhan luka dengan menekan pembelahan fibroblast dan sintesis kolagen.
- Teknik Penjahitan; Tehnik penjahitan luka yang tidak dilakukan lapisan demi lapisan akan mengganggu penyembuhan luka.
- Kebersihan diri/Personal Hygiene; Kebersihan diri seseorang akan mempengaruhi proses penyembuhan luka, karena kuman setiap saat dapat masuk melalui luka bila kebersihan diri kurang.
- Vaskularisasi baik proses penyembuhan berlangsung; cepat, sementara daerah yang memiliki vaskularisasi kurang baik proses penyembuhan membutuhkan waktu lama.
- Pergerakan, daerah yang relatif sering bergerak; penyembuhan terjadi lebih lama.
- Ketegangan tepi luka, pada daerah yang tight (tegang) penyembuhan lebih lama dibandingkan dengan daerah yang loose.
Penjahitan luka
Jahitan digunakan untuk hemostasis atau untuk menghubungkan struktur anatomi yang terpotong (Sabiston,1995). Menurut Sodera dan Saleh (1991), jahitan merupakan hasil penggunaan bahan berupa benang untuk mengikat atau ligasi pembuluh darah dan menghubungkan antara dua tepi luka. Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa penjahitan merupakan tindakan menghubungkan jaringan yang terputus atau terpotong untuk mencegah pendarahan dengan menggunakan benang.Prinsip Umum Penjahitan luka
Menurut Brown (1995), prinsip–prinsip umum yang harus dilaksanakan dalam penjahitan luka laserasi adalah sebagai berikut :
- Penyembuhan akan terjadi lebih cepat bila tepi-tepi kulit dirapatkan satu sama lain dengan hati-hati.
- Tegangan dari tepi–tepi kulit harus seminimal mungkin atau kalau mungkin tidak ada sama sekali. Ini dapat dicapai dengan memotong atau merapikan kulit secara hati–hati sebelum dijahit.
- Tepi kulit harus ditarik dengan ringan, ini dilakukan dengn memakai traksi ringan pada tepi–tepi kulit dan lebih rentan lagi pada lapisan dermal daripada kulit yang dijahit.
- Setiap ruang mati harus ditutup, baik dengan jahitan subcutaneus yang dapat diserap atau dengan mengikutsertakan lapisan ini pada waktu mmenjahit kulit.
- Jahitan halus tetapi banyak yang dijahit pada jarak yang sama lebih disukai daripada jahitan yang lebih besar dan berjauhan.
- Setiap jahitan dibiarkan pada tempatnya hanya selama diperlukan. Oleh karena itu jahitan pada wajah harus dilepas secepat mungkin (48 jam–5 hari), sedangkan jahitan pada dinding abdomen dan kaki harus dibiarkan selama 10 hari atau lebih.
- Semua luka harus ditutup sebersih mungkin.
- Pemakaian forsep dan trauma jaringan diusahakan seminimal mungkin.
Menurut Sodera dan Saleh (1991), penjahitan merupakan suatu cara menjahit untuk mendekatkan atau menghubungkan dua tepi luka. Dapat dibedakan menjadi :
- Jahitan Primer (primary Suture Line) adalah jahitan yang digunakan untuk mempertahankan kedudukan tepi luka yang saling dihubungkan selama proses penyembuhan sehingga dapat sembuh secara primer.
- Jahitan Kontinyu yaitu jahitan dengan sejumlah penjahitan dari seluruh luka dengan menggunakan satu benang yang sama dan disimpulkan pada akhir jahitan serta dipotong setelah dibuat simpul. Digunakan untuk menjahit peritonium kulit, subcutis dan organ.
- Jahitan Simpul/Kerat/Knot, yaitu merupakan tehnik ikatan yang mengakhiri suatu jahitan. Digunakan untuk memperkuat dan mempertahankan jahitan luka sehingga jahitan tidak terlepas atau mengendor. Yang dimaksud dengan jerat adalah pengikatan satu kali, sedang simpul adalah pengikatan dengan dua jerat atau lebih.
Jenis–jenis benang yang digunakan dalam penjahitan
- Seide (Silk/Sutra): Bersifat tidak licin seperti sutera biasa karena sudah dikombinasi dengan perekat, tidak diserap oleh tubuh. Pada penggunaan disebelah luar, maka benang harus dibuka kembali. Berguna untuk menjahit kulit, mengikat pembuluh arteri besar. Ukuran yang sering digunakan adalah nomor 2 nol 3 nol, 1 nol dan nomor 1.
- Plain Catgut: Bersifat dapat diserap tubuh, penyerapan berlangsung dalam waktu 7–10 hari dan warnanya putih kekuningan. Berguna untuk mengikat sumber pendarahan kecil, menjahit subcutis dan dapat pula digunakan untuk bergerak dan luas lukanya kecil. Benang ini harus dilakukan penyimpulan 3 kali karena dalam tubuh akan mengembang. Bila penyimpulan dilakukan hanya 2 kali akan terbuka kembali.
- Chromic Catgut: Bersifat dapat diserap oleh tubuh, penyerapannya lebih lama yaitu sampai 20 hari. Chromic Catgut biasanya menyebabkan reaksi inflamasi yang lebih besar dibandingkan dengan plain catgut. Berguna untuk penjahitan luka yang dianggap belum merapat dalam waktu 10 hari dan bila mobilitas harus segera dilakukan.
Komplikasi menjahit luka
- Overlapping: Terjadi sebagai akibat tidak dilakukan adaptasi luka sehingga luka menjadi tumpang tindih dan luka mengalami penyembuhan yang lambat dan apabila sembuh maka hasilnya akan buruk.
- Nekrosis: Jahitan yang terlalu tegang dapat menyebabkan avaskularisasi sehingga menyebabkan kematian jaringan.
- Infeksi: Infeksi dapat terjadi karena tehnik penjahitan yang tidak steril, luka yang telah terkontaminasi, dan adanya benda asing yang masih tertinggal.
- Perdarahan: Terapi antikoagulan atau pada pasien dengan hipertensi.
- Hematoma: Terjadi pada pasien dengan pembuluh darah arteri terpotong dan tidak dilakukan ligasi/pengikatan sehingga perdarahan terus berlangsung dan menyebabkan bengkak.
- Dead space (ruang/rongga mati): Yaitu adanya rongga pada luka yang terjadi karena penjahitan yang tidak lapis demi lapis.
- Sinus: Bila luka infeksi sembuh dengan meninggalkan saluran sinus, biasanya ada jahitan multifilament yaitu benang pada dasar sinus yang bertindak sebagai benda asing.
- Dehisensi: Adalah luka yang membuka sebelum waktunya disebabkan karena jahitan yang terlalu kuat atau penggunaan bahan benang yang buruk.
- Abses: Infeksi hebat yang telah menghasilkan produk pus/nanah.
Motivasi Dalam Menurunkan Berat Badan
Anda adalah orang yang sangat mengagumkan, orang yang sangat luar biasa. Anda terlihat cantik pada setiap sisi dan bentuk tubuh, tetapi hal itu penting bahwa anda memahami kecantikan anda sendiri dan merasa nyaman. Jika anda merasa bahwa anda tidak cukup sehat, bugar, langsing, ingin memakai pakaian ukuran kecil seperti yang teman anda kenakan, atau anda merasa cepat lelah dan tidak sesehat seperti yang biasa anda rasakan, inilah waktunya untuk menurunkan berat badan anda.Apabila ini anda baca, anda mungkin sudah menguji berbagai macam diet untuk menurunkan berat badan. Anda hanya kehilangan sedikit berat badan hanya untuk melakukan diet tersebut berulang-ulang, lagi lagi dan lagi. Apa yang sebenarnya kurang adalah motivasi. Berikut ini adalah beberapa tips motivasi yang dapat membantu anda mengiris-iris atau mengurangi berat badan anda dan siap untuk berpakaian supermini kesukaan anda layaknya seorang model.
lakukanlah untuk diri anda sendiri!. Jangan menurunkan berat badan anda hanya karena seseorang berpikir anda terlalu berat. Jangan biarkan propaganda kurus membuat anda merasa jelek. Menurunakn berat badan agar merasa lebih baik, sehat, untuk menjadi lebih mengangumkan dari kondisi saat ini.
Carilah seorang teman, siapa saja yang ingin melakukannya bersama anda. Penelitian menunjukkkan bahwa anda akan lebih mungkin mencapai tujuan anda jika anda memperbincangkan tentang hal tersebut (menurunkan berat badan), mendiskusikannya dengan teman-teman anda. Maka dari itu, pergilah bersama-sama dengan teman anda ke tempat olahraga, lari keliling lapangan, atau paling tidak carilah teman-teman di dunia maya dengan online di internet dan temukan sebuah komunitas yang akan merasa senang dan ingin membicarakan dan mendiskusikan tentang rencana diet dan olahraga.
Rencanakan apa yang anda makan lebih dulu. Cobalah untuk makan di rumah, sehingga konsumsi atau pemasukan kalori anda akan minimaldan dapat anda tentukan jumlahnya sesuai kebutuhan kalori berdasarkan umur dan aktifitas dan olahraga yang anda lakukan. Kemas makanan anda pada hari sebelumnya, jumlah kalori dan jangan lupa sediakan juga snak sehat.
Singkirkan sumber kalori dari cairan/minuman. Anda tidak akan merasa bahwa anda telah makan banyak makanan, maka anda tetap merasa lapar, tapi pemasukan kelaori ke dalam tubuh anda bertambah banyak dengan cepat. Apapkah anda tahu bahwa segelas orange juz berisi penuh dengan gula dan sekitar 180 kalori?. Tentu saja anda tidak ingin kalori tersebut masuk ke dalam pinggul anda bukan?.
Sekali-kali berisitrahat. Jangan ambil pusing dengan tujuan panjang anda. Pikirkan hanya tentang hari ini, apa yang anda makan (diet sehat) dan perencanaan olahraga.
Jalankan rencana anda secara bertahap, santai serta pelan-pelan. Penurunan berat badan berkaitan dengan pola dan gaya hidup. Penurunan berat badan tidak dapat terjadi dengan instan hanya dalam semalam atau sehari, penurunan berat badan akan terjadi secara perlahan kilogram demi kilogram berat badan akan menurun seiring berjalannya waktu. Jadi jangan memaksa diri anda kelaparan. Pelajari tentang diet makanan sehat dan olahraga yang tepat. Ini akan membuat anda tidak hanya kurus/langsing tapi lebih energik, sehat dan bahagia.
Tidak masalah bila Terjadi Kemunduran. Jadi anda makan es krim coklat yang penuh dengan kalori dan anda merasa bersalah dengan rencana diet anda. Ok, tidak ada manusia yang sempurna!. Atau apakah anda sudah melakukan segalanya dengan benar dan tepat, namun anda tidak menglami penurunan berat badan satu kilogram pun dalam seminggu. Tidak masalah hal ini terjadi pada anda!. Ikuti saja rencana dan penurunan berat badan akan terjadi.
Senin, 23 Maret 2009
Apa Yang Terjadi Pada Tubuh Kita Pada Saat berolahraga?
Apakah anda tahu bahwa olahraga merupakan hal yang sangat penting dan ktitis apabila anda ingin menurunkan berat badan. Tapi apakah anda tahu, apa yang sebenarnya terjadi dalam tubuh anda ketika anda berolahraga?. Olahraga merupakan suatu proses yang komplek dan rumit, tapi sebisa mungkin kita akan mencoba membuatnya agar mudah untuk dimengerti tentang apa yang terjadi dalam tubuh kita waktu berolahraga.Pertama irama pernafasan anda akan meningkat untuk memastikan bahwa anda mempunyai cukup oksigen dalam paru-paru anda. Kemudian detak/denyut jantung anda akan meningkat, dimana jantung memompa lebih banyak darah, oksigen serta nutrient atau zat-zat gizi untuk di suplai ke otot-otot tubuh.
Setelah kurang lebih 12 minggu mulai terjadi adaptasi. Hal ini terlihat pada saat anda benar-benar dapat mengatakan tentang keuntungan-keuntungan atau manfaat berolahraga untuk jantung dan kesehatan tubuh anda, karena efek atau pengaruh psikologis biasanya akan terjadi dengan segera atgau pada saat berolahraga.
Ini adalah versi sederhana dari apa yang terjadi pada tubuh kita pada saat berolahraga.
ASUHAN KEPERAWATAN ANAK
1. Asuhan Keperawatan Anak Acute Limphosityc Leucemia
2. Asuhan Keperawatan Anak Acute Nonlymphoid (Myelogenosis) Leukemia
3. Asuhan Keperawatan Anak Akut Respiratori Distress Sindrom (ARDS)
4. Asuhan Keperawatan Anak Alergi
5. Asuhan Keperawatan Anak Anemia
6. Asuhan Keperawatan Anak Apendiksitis
7. Asuhan Keperawatan Anak Asfiksia Mekonium
8. Asuhan Keperawatan Anak Asma Bronkial
9. Asuhan Keperawatan Anak Asma Bronkial2
10. Asuhan Keperawatan Anak Asma Bronkial3
11. Asuhan Keperawatan Anak Atresia Esophagus
12. Asuhan Keperawatan Anak Balita Ikterus
13. Asuhan Keperawatan Anak Bayi Hiperbilirubinemia
14. Asuhan Keperawatan Anak Bayi Lahir Sakit
15. Asuhan Keperawatan Anak BBLR
16. Asuhan Keperawatan Anak BBLR2
17. Asuhan Keperawatan Anak Bronkhitis
18. Asuhan Keperawatan Anak Bronkhitis Alergika
19. Asuhan Keperawatan Anak Bronkopneumonia
20. Asuhan Keperawatan Anak Bronkopneumonia2
21. Asuhan Keperawatan Anak Cardiovaskuler Tetralogi Fallot
22. Asuhan Keperawatan Anak Chemotherapy (Kemoterapi)
23. Asuhan Keperawatan Anak CTEV (Congenital Talipes Equino Varus)
24. Asuhan Keperawatan Anak Demam Berdarah (DHF)
25. Asuhan Keperawatan Anak Dengan Ulkus Peptikum
26. Asuhan Keperawatan Anak Dengue Haemoraghic Fever (DHF 6-12 Th)
27. Asuhan Keperawatan Anak Dengue Haemoraghic Fever (DHF Pra Sekolah)
28. Asuhan Keperawatan Anak Dengue Haemoraghic Fever (DHF)
29. Asuhan Keperawatan Anak Dengue Haemoraghic Fever (DHF)
30. Asuhan Keperawatan Anak Dermatitis
31. Asuhan Keperawatan Anak Diabetes Mellitus
32. Asuhan Keperawatan Anak Diabetes Mellitus2
33. Asuhan Keperawatan Anak Diare
34. Asuhan Keperawatan Anak Diare1
35. Asuhan Keperawatan Anak Diare2
36. Asuhan Keperawatan Anak Diare3
37. Asuhan Keperawatan Anak Diare 1-3 tahun
38. Asuhan Keperawatan Anak Diare Akut Dehidrasi Sedang
39. Asuhan Keperawatan Anak Diare Akut Dehidrasi Sedang1
40. Asuhan Keperawatan Anak Diare Akut Dehidrasi Sedang2
41. Asuhan Keperawatan Anak Diphteri (Difteri)
42. Asuhan Keperawatan Anak Ensefalitis
43. Asuhan Keperawatan Anak Fraktur
44. Asuhan Keperawatan Anak Fraktur2
45. Asuhan Keperawatan Anak Gagal Ginjal Kronik
46. Asuhan Keperawatan Anak Gagal Ginjal Kronik2
47. Asuhan Keperawatan Anak Gagal Nafas
48. Asuhan Keperawatan Anak Gagal Nafas2
49. Asuhan Keperawatan Anak Gangguan Bicara
50. Asuhan Keperawatan Anak Gastritis dan Thypoid
51. Asuhan Keperawatan Anak Gastroenteritis
52. Asuhan Keperawatan Anak Glomerulonefritis Akut
53. Asuhan Keperawatan Anak Hemofilia
54. Asuhan Keperawatan Anak Hemostasis
55. Asuhan Keperawatan Anak Hernia Inguinalis
56. Asuhan Keperawatan Anak Hiperaktif
57. Asuhan Keperawatan Anak Hiperaktif (Syndroma Hiperaktifitas)
58. Asuhan Keperawatan Anak Hiperbilirubinemia
59. Asuhan Keperawatan Anak Hiperbilirubinemia (Ikterus)
60. Asuhan Keperawatan Anak Hipoglikemi Simptomatis
61. Asuhan Keperawatan Anak Hipoglikemi Neonatus
62. Asuhan Keperawatan Anak Hirschprung
63. Asuhan Keperawatan Anak Hospitalisasi Anak
64. Asuhan Keperawatan Anak Hydrocephalus1
65. Asuhan Keperawatan Anak Hydrocephalus2
66. Asuhan Keperawatan Anak Hydrocephalus3
67. Asuhan Keperawatan Anak Hypoglikemi Simptomatis
68. Asuhan Keperawatan Anak Ikterus
69. Asuhan Keperawatan Anak Ikterus Obstruksi
70. Asuhan Keperawatan Anak Infeksi Saluran Pernapasan (ISPA)
71. Keperawatan Anak Infeksi Saluran Pernapasan Akut(ISPA)
72. Asuhan Keperawatan Anak Intusepsi
73. Asuhan Keperawatan Anak Intususepsi
74. Asuhan Keperawatan Anak Kejang
75. Asuhan Keperawatan Anak Kejang Demam
76. Asuhan Keperawatan Anak Kejang Demam2
77. Asuhan Keperawatan Anak Kelainan Jantung Bawaan Atrial Septum Defek (ASD, VSD)
78. Asuhan Keperawatan Anak Kurang Energi Protein (KEP)
79. Asuhan Keperawatan Anak Kwashiorkor
80. Asuhan Keperawatan Anak Kwashiorkor2
81. Asuhan Keperawatan Anak Labio (Palatoskisis)
82. Asuhan Keperawatan Anak Leukimia
83. Asuhan Keperawatan Anak Leukimia1
84. Asuhan Keperawatan Anak Leukimia2
85. Asuhan Keperawatan Anak Leukimia Akut
86. Asuhan Keperawatan Anak Limfadenitis TB
87. Asuhan Keperawatan Anak Marasmus Kwasiorkor
88. Asuhan Keperawatan Anak Meconium Aspiration Syndrome Imanuddin
89. Asuhan Keperawatan Anak Meningitis
90. Asuhan Keperawatan Anak Meningitis2
91. Asuhan Keperawatan Anak Meningoencephalitis TBC
92. Asuhan Keperawatan Anak Meningoencephalitis TBC2
93. Asuhan Keperawatan Anak Model Konseptual Keperawatan Anak
94. Asuhan Keperawatan Anak Morbili
95. Asuhan Keperawatan Anak Morbili1
96. Asuhan Keperawatan Anak Morbili2
97. Asuhan Keperawatan Anak Morbili3
98. Asuhan Keperawatan Anak Morbili4
99. Asuhan Keperawatan Anak Nefrotik Syndrome2
100. Asuhan Keperawatan Anak Nefrotik Syndrome (NS)
101. Asuhan Keperawatan Anak Neonatus Infeksi
102. Asuhan Keperawatan Anak Penyakit Jantung Bawaan Patent Ductus Arteriosus (PDA)
103. Asuhan Keperawatan Anak Pneumonia
104. Asuhan Keperawatan Anak Pneumonia dan Diphteri
105. Asuhan Keperawatan Anak Pola Asuh Keluarga Anak Autisme
106. Asuhan Keperawatan Anak Prematur
107. Asuhan Keperawatan Anak Respiratori Distress Sindrom
108. Asuhan Keperawatan Anak Sianosis
109. Asuhan Keperawatan Anak Sianosis, Gagal Nafas
110. Asuhan Keperawatan Anak Spinabifida
111. Asuhan Keperawatan Anak Syndrom Nefrotik
112. Asuhan Keperawatan Anak TB Paru Anak
113. Asuhan Keperawatan Anak Tetanus
114. Asuhan Keperawatan Anak Tetanus2
115. Asuhan Keperawatan Anak Tetralogi Fallot Anak
116. Asuhan Keperawatan Anak Thalasemia
117. Asuhan Keperawatan Anak Thalasemia Serena
118. Asuhan Keperawatan Anak Thypoid
119. Asuhan Keperawatan Anak Thypus Abdominalis
120. Asuhan Keperawatan Anak Tonsilofaringitis Akut
121. Asuhan Keperawatan Anak Tonsilofaringitis Akut2
122. Asuhan Keperawatan Anak Tuberculosis (TB Paru)
123. Asuhan Keperawatan Anak Tuberculosis Paru
124. Asuhan Keperawatan Anak Tumbang Usia Todler
Read More
1. Asuhan Keperawatan Anak Acute Limphosityc Leucemia
2. Asuhan Keperawatan Anak Acute Nonlymphoid (Myelogenosis) Leukemia
3. Asuhan Keperawatan Anak Akut Respiratori Distress Sindrom (ARDS)
4. Asuhan Keperawatan Anak Alergi
5. Asuhan Keperawatan Anak Anemia
6. Asuhan Keperawatan Anak Apendiksitis
7. Asuhan Keperawatan Anak Asfiksia Mekonium
8. Asuhan Keperawatan Anak Asma Bronkial
9. Asuhan Keperawatan Anak Asma Bronkial2
10. Asuhan Keperawatan Anak Asma Bronkial3
11. Asuhan Keperawatan Anak Atresia Esophagus
12. Asuhan Keperawatan Anak Balita Ikterus
13. Asuhan Keperawatan Anak Bayi Hiperbilirubinemia
14. Asuhan Keperawatan Anak Bayi Lahir Sakit
15. Asuhan Keperawatan Anak BBLR
16. Asuhan Keperawatan Anak BBLR2
17. Asuhan Keperawatan Anak Bronkhitis
18. Asuhan Keperawatan Anak Bronkhitis Alergika
19. Asuhan Keperawatan Anak Bronkopneumonia
20. Asuhan Keperawatan Anak Bronkopneumonia2
21. Asuhan Keperawatan Anak Cardiovaskuler Tetralogi Fallot
22. Asuhan Keperawatan Anak Chemotherapy (Kemoterapi)
23. Asuhan Keperawatan Anak CTEV (Congenital Talipes Equino Varus)
24. Asuhan Keperawatan Anak Demam Berdarah (DHF)
25. Asuhan Keperawatan Anak Dengan Ulkus Peptikum
26. Asuhan Keperawatan Anak Dengue Haemoraghic Fever (DHF 6-12 Th)
27. Asuhan Keperawatan Anak Dengue Haemoraghic Fever (DHF Pra Sekolah)
28. Asuhan Keperawatan Anak Dengue Haemoraghic Fever (DHF)
29. Asuhan Keperawatan Anak Dengue Haemoraghic Fever (DHF)
30. Asuhan Keperawatan Anak Dermatitis
31. Asuhan Keperawatan Anak Diabetes Mellitus
32. Asuhan Keperawatan Anak Diabetes Mellitus2
33. Asuhan Keperawatan Anak Diare
34. Asuhan Keperawatan Anak Diare1
35. Asuhan Keperawatan Anak Diare2
36. Asuhan Keperawatan Anak Diare3
37. Asuhan Keperawatan Anak Diare 1-3 tahun
38. Asuhan Keperawatan Anak Diare Akut Dehidrasi Sedang
39. Asuhan Keperawatan Anak Diare Akut Dehidrasi Sedang1
40. Asuhan Keperawatan Anak Diare Akut Dehidrasi Sedang2
41. Asuhan Keperawatan Anak Diphteri (Difteri)
42. Asuhan Keperawatan Anak Ensefalitis
43. Asuhan Keperawatan Anak Fraktur
44. Asuhan Keperawatan Anak Fraktur2
45. Asuhan Keperawatan Anak Gagal Ginjal Kronik
46. Asuhan Keperawatan Anak Gagal Ginjal Kronik2
47. Asuhan Keperawatan Anak Gagal Nafas
48. Asuhan Keperawatan Anak Gagal Nafas2
49. Asuhan Keperawatan Anak Gangguan Bicara
50. Asuhan Keperawatan Anak Gastritis dan Thypoid
51. Asuhan Keperawatan Anak Gastroenteritis
52. Asuhan Keperawatan Anak Glomerulonefritis Akut
53. Asuhan Keperawatan Anak Hemofilia
54. Asuhan Keperawatan Anak Hemostasis
55. Asuhan Keperawatan Anak Hernia Inguinalis
56. Asuhan Keperawatan Anak Hiperaktif
57. Asuhan Keperawatan Anak Hiperaktif (Syndroma Hiperaktifitas)
58. Asuhan Keperawatan Anak Hiperbilirubinemia
59. Asuhan Keperawatan Anak Hiperbilirubinemia (Ikterus)
60. Asuhan Keperawatan Anak Hipoglikemi Simptomatis
61. Asuhan Keperawatan Anak Hipoglikemi Neonatus
62. Asuhan Keperawatan Anak Hirschprung
63. Asuhan Keperawatan Anak Hospitalisasi Anak
64. Asuhan Keperawatan Anak Hydrocephalus1
65. Asuhan Keperawatan Anak Hydrocephalus2
66. Asuhan Keperawatan Anak Hydrocephalus3
67. Asuhan Keperawatan Anak Hypoglikemi Simptomatis
68. Asuhan Keperawatan Anak Ikterus
69. Asuhan Keperawatan Anak Ikterus Obstruksi
70. Asuhan Keperawatan Anak Infeksi Saluran Pernapasan (ISPA)
71. Keperawatan Anak Infeksi Saluran Pernapasan Akut(ISPA)
72. Asuhan Keperawatan Anak Intusepsi
73. Asuhan Keperawatan Anak Intususepsi
74. Asuhan Keperawatan Anak Kejang
75. Asuhan Keperawatan Anak Kejang Demam
76. Asuhan Keperawatan Anak Kejang Demam2
77. Asuhan Keperawatan Anak Kelainan Jantung Bawaan Atrial Septum Defek (ASD, VSD)
78. Asuhan Keperawatan Anak Kurang Energi Protein (KEP)
79. Asuhan Keperawatan Anak Kwashiorkor
80. Asuhan Keperawatan Anak Kwashiorkor2
81. Asuhan Keperawatan Anak Labio (Palatoskisis)
82. Asuhan Keperawatan Anak Leukimia
83. Asuhan Keperawatan Anak Leukimia1
84. Asuhan Keperawatan Anak Leukimia2
85. Asuhan Keperawatan Anak Leukimia Akut
86. Asuhan Keperawatan Anak Limfadenitis TB
87. Asuhan Keperawatan Anak Marasmus Kwasiorkor
88. Asuhan Keperawatan Anak Meconium Aspiration Syndrome Imanuddin
89. Asuhan Keperawatan Anak Meningitis
90. Asuhan Keperawatan Anak Meningitis2
91. Asuhan Keperawatan Anak Meningoencephalitis TBC
92. Asuhan Keperawatan Anak Meningoencephalitis TBC2
93. Asuhan Keperawatan Anak Model Konseptual Keperawatan Anak
94. Asuhan Keperawatan Anak Morbili
95. Asuhan Keperawatan Anak Morbili1
96. Asuhan Keperawatan Anak Morbili2
97. Asuhan Keperawatan Anak Morbili3
98. Asuhan Keperawatan Anak Morbili4
99. Asuhan Keperawatan Anak Nefrotik Syndrome2
100. Asuhan Keperawatan Anak Nefrotik Syndrome (NS)
101. Asuhan Keperawatan Anak Neonatus Infeksi
102. Asuhan Keperawatan Anak Penyakit Jantung Bawaan Patent Ductus Arteriosus (PDA)
103. Asuhan Keperawatan Anak Pneumonia
104. Asuhan Keperawatan Anak Pneumonia dan Diphteri
105. Asuhan Keperawatan Anak Pola Asuh Keluarga Anak Autisme
106. Asuhan Keperawatan Anak Prematur
107. Asuhan Keperawatan Anak Respiratori Distress Sindrom
108. Asuhan Keperawatan Anak Sianosis
109. Asuhan Keperawatan Anak Sianosis, Gagal Nafas
110. Asuhan Keperawatan Anak Spinabifida
111. Asuhan Keperawatan Anak Syndrom Nefrotik
112. Asuhan Keperawatan Anak TB Paru Anak
113. Asuhan Keperawatan Anak Tetanus
114. Asuhan Keperawatan Anak Tetanus2
115. Asuhan Keperawatan Anak Tetralogi Fallot Anak
116. Asuhan Keperawatan Anak Thalasemia
117. Asuhan Keperawatan Anak Thalasemia Serena
118. Asuhan Keperawatan Anak Thypoid
119. Asuhan Keperawatan Anak Thypus Abdominalis
120. Asuhan Keperawatan Anak Tonsilofaringitis Akut
121. Asuhan Keperawatan Anak Tonsilofaringitis Akut2
122. Asuhan Keperawatan Anak Tuberculosis (TB Paru)
123. Asuhan Keperawatan Anak Tuberculosis Paru
124. Asuhan Keperawatan Anak Tumbang Usia Todler
Minggu, 22 Maret 2009
10 Makanan Utama Yang Baik Untuk Jantung
Anda tidak hanya perlu menurunkan berat badan sehingga anda bisa membuat dan merasa nyaman dengan tubuh ideal anda. Anda pelu melakukannya dengan cara-cara yang sehat, sehingga anda akan mendapatkan tubuh langsing, sehat, indah serta seksi pada waktu yang bersamaan dapat menyehatkan atau menjaga kesehatan jantung. Berikut ini adalah makanan-makanan yang sehat untuk jantung dan pembuluh darah anda dan anda akan tetap langsing.
Ikan
Ikan sudah merupakan hal umum dan tidak mengherankan dimana ikan menempati nomer satu dari makanan sehat. Ikan salmon, ikan tuna, ikan sarden adalah ikan-ikan yang kaya akan asam lemak Omega-3. Asam lemak tersebut merupakan asam lemak yang baik untuk jantung, asam lemak tersebut menurunkan kolesterol jahat (LDL) dan meningkatkan kadar kolesterol baik (HDL). Omega-3 juga membantu dalam menurunkan tekanan darah. Kebanyakan ikan adalah rendah kalori, khususnya pada saat di masak dengan cara di panggang atau dibakar.
Kacang polong/buncis-jenis apapun.
Kacang polonng/buncis mempunyai banyak serat yang dapat larut yang menurunkan kadar kolesterol jahat. Cobalah untuk memakan kacang buncis dengan porsi 10 gram setiap hari.
Gandum.
Gandum juga mengandung banyak serat pelarut dan dalam tubuh turut membantu dalam menurunkan kadar kolesterol jahat.
Susu skim dan yogurt.
Susu skim dan yogurt penuh dengan kandungan kalsium dan rendah kalori dibandingkan dengan jenis susu lainnya. Kalsium tidak hanya penting untuk kekuatan dan kesehatan tulang tapi juga membantu menjaga irama/detak jantung anda tetap teratur.
Buah berry.
Buah berry berisi kumpulan serat, antioksidan dan phytonutrient. Phytonutrient adalah nutrisi yang bersifat menyembuhkan dan sangat penting untuk kesehatan kita. Phytonutrient merupakan nutrisi yang berfungsi mengaktifkan proses pembakaran lemak dalam tubuh, memperlambat proses penuaan dini, serta mengandung antioxidan. "Jantung suka dan cinta sekali dengan buah berry.
Walnut (sejenis kenari).
Walnut penuh dengan kandungan omega-3 dengan citarasa yagn sangat hebat. Mau produk walnut kunjungi situs ini
Flaxseed
Flaxseed adalah makanan alami untuk kesehatan dan nutrisi prima tanpa bahan pengawet serta zat pewarna. Merupakan sumber omega-3 terbaik dan serat pelarut (soluble fiber). Lihat produk Flaxseed oil 100 mg
Kecambah brussel.
Kecambah brussel merupakan sayuran yang tidak banyak dikenal orang, tapi itu dikarenakan orang-orang tidak mengetahui bagaimana cara mempersiapkannya. Dalam kecambah dikemas serat yang dapat larut (serat pelarut), sehingga baik untuk jantung dan diet.
Minyak zaitun.
Minyak zaitun mempunyai banyak kalori, begitu sederhana, tapi pada minyak zaitun tinggi akan lemak tak jenuh (monosaturated fat).
DECOMPENSASI CORDIS (GAGAL JANTUNG)
Pengertian: Suatu kegagalan jantung dalam memompa darah untuk memenuhi kebutuhan tubuh (Purnawan Junadi, 1982). Kegagalan jantung kongestif adalah suatu kegagalan pemompaan (di mana cardiac output tidak mencukupi kebutuhan metabolik tubuh), hal ini mungkin terjadi sebagai akibat akhir dari gangguan jantung, pembuluh darah atau kapasitas oksigen yang terbawa dalam darah yang mengakibatkan jantung
Read More
Langganan:
Postingan
(
Atom
)
Blog Archive
-
2015
(10)
- 10/11 - 10/18 (1)
- 09/13 - 09/20 (1)
- 09/06 - 09/13 (1)
- 07/05 - 07/12 (1)
- 05/17 - 05/24 (6)
-
2014
(1)
- 04/13 - 04/20 (1)
-
2012
(770)
- 02/19 - 02/26 (5)
- 02/12 - 02/19 (10)
- 02/05 - 02/12 (4)
- 01/29 - 02/05 (27)
- 01/22 - 01/29 (88)
- 01/15 - 01/22 (101)
- 01/08 - 01/15 (169)
- 01/01 - 01/08 (366)
-
2011
(4477)
- 12/25 - 01/01 (336)
- 12/18 - 12/25 (62)
- 12/11 - 12/18 (70)
- 12/04 - 12/11 (77)
- 11/27 - 12/04 (40)
- 11/20 - 11/27 (67)
- 11/13 - 11/20 (198)
- 11/06 - 11/13 (187)
- 10/30 - 11/06 (340)
- 10/23 - 10/30 (32)
- 10/16 - 10/23 (109)
- 10/09 - 10/16 (80)
- 08/14 - 08/21 (75)
- 08/07 - 08/14 (81)
- 07/31 - 08/07 (82)
- 07/24 - 07/31 (65)
- 07/17 - 07/24 (91)
- 07/10 - 07/17 (47)
- 07/03 - 07/10 (44)
- 06/26 - 07/03 (53)
- 06/19 - 06/26 (59)
- 06/12 - 06/19 (47)
- 06/05 - 06/12 (65)
- 05/29 - 06/05 (63)
- 05/22 - 05/29 (77)
- 05/15 - 05/22 (115)
- 05/08 - 05/15 (65)
- 05/01 - 05/08 (104)
- 04/24 - 05/01 (45)
- 04/17 - 04/24 (70)
- 04/10 - 04/17 (134)
- 04/03 - 04/10 (72)
- 03/27 - 04/03 (18)
- 03/20 - 03/27 (47)
- 03/13 - 03/20 (68)
- 03/06 - 03/13 (40)
- 02/27 - 03/06 (56)
- 02/20 - 02/27 (77)
- 02/13 - 02/20 (76)
- 02/06 - 02/13 (198)
- 01/30 - 02/06 (194)
- 01/23 - 01/30 (132)
- 01/16 - 01/23 (196)
- 01/09 - 01/16 (202)
- 01/02 - 01/09 (121)
-
2010
(2535)
- 12/26 - 01/02 (156)
- 12/19 - 12/26 (65)
- 12/12 - 12/19 (73)
- 12/05 - 12/12 (84)
- 11/28 - 12/05 (80)
- 11/21 - 11/28 (68)
- 11/14 - 11/21 (63)
- 11/07 - 11/14 (50)
- 10/31 - 11/07 (50)
- 10/24 - 10/31 (36)
- 10/17 - 10/24 (58)
- 10/10 - 10/17 (35)
- 10/03 - 10/10 (31)
- 09/26 - 10/03 (21)
- 09/19 - 09/26 (26)
- 09/12 - 09/19 (55)
- 09/05 - 09/12 (65)
- 08/29 - 09/05 (33)
- 08/22 - 08/29 (70)
- 08/15 - 08/22 (45)
- 08/08 - 08/15 (35)
- 08/01 - 08/08 (37)
- 07/25 - 08/01 (27)
- 07/18 - 07/25 (19)
- 07/11 - 07/18 (30)
- 07/04 - 07/11 (56)
- 06/27 - 07/04 (28)
- 06/20 - 06/27 (22)
- 06/13 - 06/20 (30)
- 06/06 - 06/13 (21)
- 05/30 - 06/06 (5)
- 05/16 - 05/23 (6)
- 05/09 - 05/16 (29)
- 05/02 - 05/09 (59)
- 04/25 - 05/02 (28)
- 04/18 - 04/25 (38)
- 04/11 - 04/18 (70)
- 04/04 - 04/11 (59)
- 03/28 - 04/04 (65)
- 03/21 - 03/28 (89)
- 03/14 - 03/21 (218)
- 03/07 - 03/14 (95)
- 02/28 - 03/07 (135)
- 02/21 - 02/28 (102)
- 01/03 - 01/10 (68)
-
2009
(1652)
- 12/27 - 01/03 (36)
- 12/20 - 12/27 (22)
- 12/13 - 12/20 (100)
- 12/06 - 12/13 (45)
- 11/29 - 12/06 (24)
- 11/22 - 11/29 (22)
- 11/15 - 11/22 (19)
- 11/08 - 11/15 (28)
- 11/01 - 11/08 (11)
- 10/25 - 11/01 (17)
- 10/18 - 10/25 (38)
- 10/11 - 10/18 (33)
- 10/04 - 10/11 (15)
- 09/27 - 10/04 (21)
- 09/20 - 09/27 (7)
- 09/13 - 09/20 (84)
- 09/06 - 09/13 (35)
- 08/30 - 09/06 (48)
- 08/23 - 08/30 (118)
- 08/16 - 08/23 (26)
- 08/09 - 08/16 (34)
- 08/02 - 08/09 (35)
- 07/26 - 08/02 (31)
- 07/19 - 07/26 (14)
- 07/12 - 07/19 (16)
- 07/05 - 07/12 (28)
- 06/28 - 07/05 (26)
- 06/21 - 06/28 (76)
- 06/14 - 06/21 (26)
- 06/07 - 06/14 (21)
- 05/31 - 06/07 (43)
- 05/24 - 05/31 (38)
- 05/17 - 05/24 (26)
- 05/10 - 05/17 (52)
- 05/03 - 05/10 (15)
- 04/26 - 05/03 (38)
- 04/19 - 04/26 (32)
- 04/12 - 04/19 (22)
- 04/05 - 04/12 (20)
- 03/29 - 04/05 (40)
- 03/22 - 03/29 (43)
- 03/15 - 03/22 (18)
- 03/08 - 03/15 (14)
- 03/01 - 03/08 (22)
- 02/22 - 03/01 (12)
- 02/15 - 02/22 (9)
- 02/08 - 02/15 (11)
- 02/01 - 02/08 (19)
- 01/25 - 02/01 (37)
- 01/18 - 01/25 (21)
- 01/11 - 01/18 (33)
- 01/04 - 01/11 (31)
-
2008
(700)
- 12/28 - 01/04 (13)
- 12/21 - 12/28 (9)
- 12/14 - 12/21 (57)
- 12/07 - 12/14 (5)
- 11/30 - 12/07 (18)
- 11/23 - 11/30 (33)
- 11/16 - 11/23 (31)
- 11/09 - 11/16 (23)
- 11/02 - 11/09 (18)
- 10/26 - 11/02 (11)
- 10/19 - 10/26 (15)
- 10/12 - 10/19 (13)
- 10/05 - 10/12 (25)
- 09/28 - 10/05 (2)
- 09/21 - 09/28 (14)
- 09/14 - 09/21 (19)
- 09/07 - 09/14 (43)
- 08/31 - 09/07 (3)
- 08/24 - 08/31 (33)
- 08/17 - 08/24 (65)
- 08/10 - 08/17 (4)
- 08/03 - 08/10 (26)
- 07/27 - 08/03 (6)
- 07/20 - 07/27 (19)
- 07/13 - 07/20 (18)
- 07/06 - 07/13 (60)
- 06/29 - 07/06 (53)
- 06/22 - 06/29 (49)
- 06/15 - 06/22 (11)
- 06/08 - 06/15 (4)
Popular Posts
-
Konsep Teori Transkultural dalam Keperawatan APLIKASI TEORI TRANSCULTURAL NURSING DALAM PROSES KEPERAWATAN Rahayu Iskandar, Ners, M.Kep PEND...
-
KTI KEBIDANAN HUBUNGAN USIA TERHADAP PERDARAHAN POSTPARTUM DI RSUD BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan wanita merupakan hal yang s...
-
Setelah beberapa minggu ini cari materi buat postingan baru, mendadak dapat inspirasi setelah rekan Anton Wijaya menulis di buku tamu Keper...
-
Konsep Dasar Diagnosa Keperawatan Aktual BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sebagai suatu aspek yang terpenting dalam proses kepera...
-
PATHWAY ASFIKSIA NEONATORUM Klik pada gambar untuk melihat pathway Download Pathway Asfiksia Neonatorum Via Ziddu Download Askep Asfiksia N...
-
PROSES KEPERAWATAN KOMUNITAS Pengertian - Proses keperawatan adalah serangkaian perbuatan atau tindakan untuk menetapkan, merencana...
-
DEFINISI Ikterus ialah suatu gejala yang perlu mendapat perhatian sungguh-sungguh pada neonatus. Ikterus ialah suatu diskolorasi kuning pa...
-
Pathway Hematemesis Melena Klik pada gambar untuk melihat pathway Download Pathway Hematemesis Melena Via Ziddu
-
Prelevansi penyakit kulit di Indonesia cukup tinggi baik oleh bakteri, virus atau jamur. Selain itu bergantung pada lingkungan dan kondisi...
-
ASUHAN KEPERAWATAN IBU NIFAS DENGAN PERDARAHAN POST PARTUM A. PengertianPost partum / puerperium adalah masa dimana tubuh menyesuaikan, baik...
© ASUHAN KEPERAWATAN 2013 . Powered by Bootstrap , Blogger templates and RWD Testing Tool Published..Gooyaabi Templates
