• home

ASUHAN KEPERAWATAN

  • HOME
  • DOWNLOAD ASUHAN KEPERAWATAN
  • Cara Mendapatkan Password
Tampilkan postingan dengan label Sistem Endokrin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sistem Endokrin. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Agustus 2011

Tonsilitis

di 20.56 Label: Konsep Dasar , Sistem Endokrin
PENGERTIAN

Tonsilitis adalah suatu penyakit yang dapat sembuh sendiri berlangsung sekitar lima hari dengan disertai disfagia dan demam (Megantara, Imam, 2006).

Tonsilitis akut adalah radang akut yang disebabkan oleh kuman streptococcus beta hemolyticus, streptococcus viridons dan streptococcus pygenes, dapat juga disebabkan oleh virus (Mansjoer, A. 2000).

Tonsilitis adalah radang yang disebabkan oleh infeksi bakteri kelompok A streptococcus beta hemolitik, namun dapat juga disebabkan oleh bakteri jenis lain atau oleh infeksi virus (Hembing, 2004).

Tonsilitis adalah suatu peradangan pada hasil tonsil (amandel), yang sangat sering ditemukan, terutama pada anak-anak (Firman sriyono, 2006, 2006).



ETIOLOGI


Menurut Adams George (1999), tonsilitis bakterialis supuralis akut paling sering disebabkan oleh streptokokus beta hemolitikus grup A.
  1. Pneumococcus
  2. Staphilococcus
  3. Haemalphilus influenza
  4. Kadang streptococcus non hemoliticus atau streptococcus viridens.
Menurut Iskandar N (1993). Bakteri merupakan penyebab pada 50 % kasus.
  1. Streptococcus B hemoliticus grup A
  2. Streptococcus viridens
  3. Streptococcus pyogenes
  4. Staphilococcus
  5. Pneumococcus
  6. Virus
  7. Adenovirus
  8. ECHO
  9. Virus influenza serta herpes.

PATOFISIOLOGI


Menurut Iskandar N (1993), patofisiologi tonsillitis yaitu :

Kuman menginfiltrasi lapisan epitel, bila epitel terkikis maka jaringan limfoid superficial mengadakan reaksi. Terdapat pembendungan radang dengan infiltrasi leukosit poli morfonuklear. Proses ini secara klinik tampak pada korpus tonsil yang berisi bercak kuning yang disebut detritus. Detritus merupakan kumpulan leukosit, bakteri dan epitel yang terlepas, suatu tonsillitis akut dengan detritus disebut tonsillitis lakunaris, bila bercak detritus berdekatan menjadi satu maka terjadi tonsillitis lakonaris.
Bila bercak melebar, lebih besar lagi sehingga terbentuk membran semu (Pseudomembran), sedangkan pada tonsillitis kronik terjadi karena proses radang berulang maka epitel mukosa dan jaringan limfoid terkikis. Sehingga pada proses penyembuhan, jaringan limfoid diganti jaringan parut. Jaringan ini akan mengkerut sehingga ruang antara kelompok melebar (kriptus) yang akan diisi oleh detritus, proses ini meluas sehingga menembus kapsul dan akhirnya timbul perlengkapan dengan jaringan sekitar fosa tonsilaris. Pada anak proses ini disertai dengan pembesaran kelenjar limfe submandibula.


MANIFESTASI KLINIS

Menurut Megantara, Imam 2006

Gejalanya berupa nyeri tenggorokan (yang semakin parah jika penderita menelan) nyeri seringkali dirasakan ditelinga (karena tenggorokan dan telinga memiliki persyarafan yang sama).

Gejala lain :
  1. Demam
  2. Tidak enak badan
  3. Sakit kepala
  4. Muntah
Menurut Smelizer, Suzanne (2000)
Gejala yang timbul sakit tenggorokan, demam, ngorok, dan kesulitan menelan.


Menurut Hembing, (2002) :
  1. Dimulai dengan sakit tenggorokan yang ringan hingga menjadi parah, sakit saat menelan, kadang-kadang muntah.
  2. Tonsil bengkak, panas, gatal, sakit pada otot dan sendi, nyeri pada seluruh badan, kedinginan, sakit kepala dan sakit pada telinga.
  3. Pada tonsilitis dapat mengakibatkan kekambuhan sakit tenggorokan dan keluar nanah pada lekukan tonsil.


KOMPLIKASI

Komplikasi tonsilitis akut dan kronik menurut Mansjoer, A (1999), yaitu :
  1. Abses pertonsil
    Terjadi diatas tonsil dalam jaringan pilar anterior dan palatum mole, abses ini terjadi beberapa hari setelah infeksi akut dan biasanya disebabkan oleh streptococcus group A.
  2. Otitis media akut
    Infeksi dapat menyebar ke telinga tengah melalui tuba auditorius (eustochi) dan dapat mengakibatkan otitis media yang dapat mengarah pada ruptur spontan gendang telinga.
  3. Mastoiditis akut
    Ruptur spontan gendang telinga lebih jauh menyebarkan infeksi ke dalam sel-sel mastoid.
  4. Laringitis
  5. Sinusitis
  6. Rhinitis


PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan tonsilitis secara umum, menurut Firman S, 2006 :
  1. Jika penyebabnya bakteri, diberikan antibiotik peroral (melalui mulut) selama 10 hari, jika mengalami kesulitan menelan, bisa diberikan dalam bentuk suntikan.
  2. Pengangkatan tonsil (tonsilektomi) dilakukan jika :
    • Tonsilitis terjadi sebanyak 7 kali atau lebih / tahun.
    • Tonsilitis terjadi sebanyak 5 kali atau lebih / tahun dalam kurun waktu 2 tahun.
    • Tonsilitis terjadi sebanyak 3 kali atau lebih / tahun dalam kurun waktu 3 tahun.
    • Tonsilitis tidak memberikan respon terhadap pemberian antibiotik.

Menurut Mansjoer, A (1999) penatalaksanan tonsillitis adalah :
  1. Penatalaksanaan tonsilitis akut
    • Antibiotik golongan penicilin atau sulfanamid selama 5 hari dan obat kumur atau obat isap dengan desinfektan, bila alergi dengan diberikan eritromisin atau klindomisin.
    • Antibiotik yang adekuat untuk mencegah infeksi sekunder, kortikosteroid untuk mengurangi edema pada laring dan obat simptomatik.
    • Pasien diisolasi karena menular, tirah baring, untuk menghindari komplikasi kantung selama 2-3 minggu atau sampai hasil usapan tenggorok 3x negatif.
    • Pemberian antipiretik.

  2. Penatalaksanaan tonsilitis kronik
    • Terapi lokal untuk hygiene mulut dengan obat kumur / hisap.
    • Terapi radikal dengan tonsilektomi bila terapi medikamentosa atau terapi konservatif tidak berhasil.
Read More

Tonsilitis

di 20.56 Label: Konsep Dasar , Sistem Endokrin
PENGERTIAN

Tonsilitis adalah suatu penyakit yang dapat sembuh sendiri berlangsung sekitar lima hari dengan disertai disfagia dan demam (Megantara, Imam, 2006).

Tonsilitis akut adalah radang akut yang disebabkan oleh kuman streptococcus beta hemolyticus, streptococcus viridons dan streptococcus pygenes, dapat juga disebabkan oleh virus (Mansjoer, A. 2000).

Tonsilitis adalah radang yang disebabkan oleh infeksi bakteri kelompok A streptococcus beta hemolitik, namun dapat juga disebabkan oleh bakteri jenis lain atau oleh infeksi virus (Hembing, 2004).

Tonsilitis adalah suatu peradangan pada hasil tonsil (amandel), yang sangat sering ditemukan, terutama pada anak-anak (Firman sriyono, 2006, 2006).



ETIOLOGI


Menurut Adams George (1999), tonsilitis bakterialis supuralis akut paling sering disebabkan oleh streptokokus beta hemolitikus grup A.
  1. Pneumococcus
  2. Staphilococcus
  3. Haemalphilus influenza
  4. Kadang streptococcus non hemoliticus atau streptococcus viridens.
Menurut Iskandar N (1993). Bakteri merupakan penyebab pada 50 % kasus.
  1. Streptococcus B hemoliticus grup A
  2. Streptococcus viridens
  3. Streptococcus pyogenes
  4. Staphilococcus
  5. Pneumococcus
  6. Virus
  7. Adenovirus
  8. ECHO
  9. Virus influenza serta herpes.

PATOFISIOLOGI


Menurut Iskandar N (1993), patofisiologi tonsillitis yaitu :

Kuman menginfiltrasi lapisan epitel, bila epitel terkikis maka jaringan limfoid superficial mengadakan reaksi. Terdapat pembendungan radang dengan infiltrasi leukosit poli morfonuklear. Proses ini secara klinik tampak pada korpus tonsil yang berisi bercak kuning yang disebut detritus. Detritus merupakan kumpulan leukosit, bakteri dan epitel yang terlepas, suatu tonsillitis akut dengan detritus disebut tonsillitis lakunaris, bila bercak detritus berdekatan menjadi satu maka terjadi tonsillitis lakonaris.
Bila bercak melebar, lebih besar lagi sehingga terbentuk membran semu (Pseudomembran), sedangkan pada tonsillitis kronik terjadi karena proses radang berulang maka epitel mukosa dan jaringan limfoid terkikis. Sehingga pada proses penyembuhan, jaringan limfoid diganti jaringan parut. Jaringan ini akan mengkerut sehingga ruang antara kelompok melebar (kriptus) yang akan diisi oleh detritus, proses ini meluas sehingga menembus kapsul dan akhirnya timbul perlengkapan dengan jaringan sekitar fosa tonsilaris. Pada anak proses ini disertai dengan pembesaran kelenjar limfe submandibula.


MANIFESTASI KLINIS

Menurut Megantara, Imam 2006

Gejalanya berupa nyeri tenggorokan (yang semakin parah jika penderita menelan) nyeri seringkali dirasakan ditelinga (karena tenggorokan dan telinga memiliki persyarafan yang sama).

Gejala lain :
  1. Demam
  2. Tidak enak badan
  3. Sakit kepala
  4. Muntah
Menurut Smelizer, Suzanne (2000)
Gejala yang timbul sakit tenggorokan, demam, ngorok, dan kesulitan menelan.


Menurut Hembing, (2002) :
  1. Dimulai dengan sakit tenggorokan yang ringan hingga menjadi parah, sakit saat menelan, kadang-kadang muntah.
  2. Tonsil bengkak, panas, gatal, sakit pada otot dan sendi, nyeri pada seluruh badan, kedinginan, sakit kepala dan sakit pada telinga.
  3. Pada tonsilitis dapat mengakibatkan kekambuhan sakit tenggorokan dan keluar nanah pada lekukan tonsil.


KOMPLIKASI

Komplikasi tonsilitis akut dan kronik menurut Mansjoer, A (1999), yaitu :
  1. Abses pertonsil
    Terjadi diatas tonsil dalam jaringan pilar anterior dan palatum mole, abses ini terjadi beberapa hari setelah infeksi akut dan biasanya disebabkan oleh streptococcus group A.
  2. Otitis media akut
    Infeksi dapat menyebar ke telinga tengah melalui tuba auditorius (eustochi) dan dapat mengakibatkan otitis media yang dapat mengarah pada ruptur spontan gendang telinga.
  3. Mastoiditis akut
    Ruptur spontan gendang telinga lebih jauh menyebarkan infeksi ke dalam sel-sel mastoid.
  4. Laringitis
  5. Sinusitis
  6. Rhinitis


PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan tonsilitis secara umum, menurut Firman S, 2006 :
  1. Jika penyebabnya bakteri, diberikan antibiotik peroral (melalui mulut) selama 10 hari, jika mengalami kesulitan menelan, bisa diberikan dalam bentuk suntikan.
  2. Pengangkatan tonsil (tonsilektomi) dilakukan jika :
    • Tonsilitis terjadi sebanyak 7 kali atau lebih / tahun.
    • Tonsilitis terjadi sebanyak 5 kali atau lebih / tahun dalam kurun waktu 2 tahun.
    • Tonsilitis terjadi sebanyak 3 kali atau lebih / tahun dalam kurun waktu 3 tahun.
    • Tonsilitis tidak memberikan respon terhadap pemberian antibiotik.

Menurut Mansjoer, A (1999) penatalaksanan tonsillitis adalah :
  1. Penatalaksanaan tonsilitis akut
    • Antibiotik golongan penicilin atau sulfanamid selama 5 hari dan obat kumur atau obat isap dengan desinfektan, bila alergi dengan diberikan eritromisin atau klindomisin.
    • Antibiotik yang adekuat untuk mencegah infeksi sekunder, kortikosteroid untuk mengurangi edema pada laring dan obat simptomatik.
    • Pasien diisolasi karena menular, tirah baring, untuk menghindari komplikasi kantung selama 2-3 minggu atau sampai hasil usapan tenggorok 3x negatif.
    • Pemberian antipiretik.

  2. Penatalaksanaan tonsilitis kronik
    • Terapi lokal untuk hygiene mulut dengan obat kumur / hisap.
    • Terapi radikal dengan tonsilektomi bila terapi medikamentosa atau terapi konservatif tidak berhasil.
Read More

Rabu, 17 Agustus 2011

Hypertiroid

di 21.01 Label: Konsep Dasar , Sistem Endokrin
Pengertian

Hipertiroid adalah respon jaringan-jaringan tubuh terhadap pengaruh metabolik hormon tiroid yang berlebihan.Bentuk yang umum dari masalah ini adalah penyakit graves,sedangkan bentuk yang lain adalah toksik adenoma , tumor kelenjar hipofisis yang menimbulkan sekresi TSH meningkat,tiroditis subkutan dan berbagai bentuk kenker tiroid.


Etiologi

Lebih dari 95% kasus hipertiroid disebabkan oleh penyakit graves,suatu penyakit tiroid autoimun yang antibodinya merangsang sel-sel untuk menghasilkan hormone yang berlebihan.

Penyebab hipertiroid lainnya yang jarang selain penyakit graves adalah :
  • Toksisitas pada strauma multinudular
  • Adenoma folikular fungsional ,atau karsinoma(jarang)
  • Adema hipofisis penyekresi-torotropin (hipertiroid hipofisis)
  • Tomor sel benih, misal karsinoma (yang kadang dapat menghasilkan bahan mirip-TSH) atau teratoma (yang mengandung jarian tiroid fungsional)
  • Tiroiditis (baik tipe subkutan maupun hashimato)yang keduanya dapat berhubungan dengan hipertiroid sementara pada fase awal

Manisfestasi klinis

Pada stadium yang ringan sering tanpa keluhan. Demikian pula pada orang usia lanjut, lebih dari 70 tahun, gejala yang khas juga sering tidak tampak. Tergantung pada beratnya hipertiroid, maka keluhan bisa ringan sampai berat. Keluhan yang sering timbul antara lain adalah :
  • Kecemasan,ansietas,insomnia,dan tremor halus
  • Penurunan berat badan walaupun nafsu makan baik
  • Intoleransi panas dan banyak keringat
  • Papitasi,takikardi,aritmia jantung,dan gagal jantung,yang dapat terjadi akibat efek tiroksin pada sel-sel miokardium
  • Amenorea dan infertilitas
  • Kelemahan otot,terutama pada lingkar anggota gerak ( miopati proksimal)
  • Osteoporosis disertai nyeri tulang.
Read More

Hypertiroid

di 21.01 Label: Konsep Dasar , Sistem Endokrin
Pengertian

Hipertiroid adalah respon jaringan-jaringan tubuh terhadap pengaruh metabolik hormon tiroid yang berlebihan.Bentuk yang umum dari masalah ini adalah penyakit graves,sedangkan bentuk yang lain adalah toksik adenoma , tumor kelenjar hipofisis yang menimbulkan sekresi TSH meningkat,tiroditis subkutan dan berbagai bentuk kenker tiroid.


Etiologi

Lebih dari 95% kasus hipertiroid disebabkan oleh penyakit graves,suatu penyakit tiroid autoimun yang antibodinya merangsang sel-sel untuk menghasilkan hormone yang berlebihan.

Penyebab hipertiroid lainnya yang jarang selain penyakit graves adalah :
  • Toksisitas pada strauma multinudular
  • Adenoma folikular fungsional ,atau karsinoma(jarang)
  • Adema hipofisis penyekresi-torotropin (hipertiroid hipofisis)
  • Tomor sel benih, misal karsinoma (yang kadang dapat menghasilkan bahan mirip-TSH) atau teratoma (yang mengandung jarian tiroid fungsional)
  • Tiroiditis (baik tipe subkutan maupun hashimato)yang keduanya dapat berhubungan dengan hipertiroid sementara pada fase awal

Manisfestasi klinis

Pada stadium yang ringan sering tanpa keluhan. Demikian pula pada orang usia lanjut, lebih dari 70 tahun, gejala yang khas juga sering tidak tampak. Tergantung pada beratnya hipertiroid, maka keluhan bisa ringan sampai berat. Keluhan yang sering timbul antara lain adalah :
  • Kecemasan,ansietas,insomnia,dan tremor halus
  • Penurunan berat badan walaupun nafsu makan baik
  • Intoleransi panas dan banyak keringat
  • Papitasi,takikardi,aritmia jantung,dan gagal jantung,yang dapat terjadi akibat efek tiroksin pada sel-sel miokardium
  • Amenorea dan infertilitas
  • Kelemahan otot,terutama pada lingkar anggota gerak ( miopati proksimal)
  • Osteoporosis disertai nyeri tulang.
Read More

Rabu, 03 Agustus 2011

Materi Kesehatan: Kanker Ovarium

di 12.59 Label: Konsep Dasar , Sistem Endokrin
KANKER OVARIUM





KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karuniaNYA sehingga penulis dapat menyelesaikan pembuatan makalah yang berjudul “ Kanker Indung Telur dan Pengobatannya “. Pembuatan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah mulok V.
Atas dorongan dan bimbingannya serta semua pihak yang ikut berperan dalam penyusunan makalah ini. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.
Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan yang lebih baik di kemudian hari.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca.
Lokasi Penulisan, Februari 2009
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Unsur terkecil dari jaringan tubuh ialah sel yang berfungsi membentuk tubuh dan memperbaiki jaringan tubuh yang rusak. Dalam perkembangannya, sel yang normal akan membelah diri secara teratur dan terkendali. Tetapi tidak demikian pada pembelahan sel kanker ia tidak bisa dikendalikan dan tumbuh berlipat ganda secara cepat dan terus menerus yang dapat menjadi suatu bentuk yang mendesak, serta merusak jaringan tubuh yang normal, sehingga mengganggu fungsi organ yang jaringannya dirusak oleh sel kanker tadi. Akibatnya tentu saja bisa merusak organ tubuh disekitarnya.
Kanker adalah penyakit yang dapat menyerang siapapun baik wanita maupun pria serta dapat menyerang pada semua golongan umur. Menurut catatan data di Indonesia, kaum wanita paling banyak menderita kanker yaitu kanker alat reproduksi meliputi rahim,leher rahim, dan ovarium ( indung telur ) yang umumnya selalu berakhir dengan kematian.Pada tahun 1983,menurut catatan The American Cancer Institute memperkirakan ada sekitar 18.000 kasus baru penyakit kanker, 12.000 diantaranya meninggal karena kanker ovarium.
Apabila sel kanker telah menyebar ke saluran telur serta rahim, maka pengobatannya akan jauh lebih sulit dan tidak efektif lagi. Sebanyak 70-80% penderita yang sudah stadium lanjut, paling lama dapat bertahan hidup sampai 5 tahun saja. Meskipun jenis kanker ini kurang dikenal, karena hanya menyerang 1 diantara 70 wanita penderita kanker, atau kira-kira hanya 1% dari penyakit kanker jenis lain yang menyerang wanita namun daya mautnya juga mengerikan.
Oleh karena itu, untuk mengetahui lebih banyak tentang kanker ovarium maka dalam kesempatan ini penulis akan membahasnya dalam makalah ini.
1.2 Maksud dan Tujuan
Adapun maksud dan tujuan dari pembuatan makalah ini adalah
  1. Memenuhi tugas mata kuliah Kesehatan Reproduksi.
  2. Mengetahui tentang kanker ovarium beserta gejalanya.
  3. Mengetahui siapa saja serta faktor yang berperan besar terkena kanker ovarium.
  4. Mengetahui pengobatan yang dapat dilakukan terhadap penyakit ini.
1.3 Perumusan Masalah
  1. Pengertian kanker ovarium dan gejalanya.
  2. Siapa saja serta faktor yang berperan besar memiliki kemungkinan terkena kanker ovarium.
  3. Pengobatan yang dapat dilakukan terhadap penyakit ini.
.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Mengenali Kanker Ovarium
Kanker ovarium atau indung telur mendapat julukan “ The Silent Lady Killer “ atau pembunuh wanita diam- diam, karena julukan ini menyiratkan sifat kanker ovarium yang sulit dideteksi pada stadium dini. Karena biasanya tanpa gejala sama sekali. Pertumbuhannya sangat lambat dan biasanya kalau keluhan timbul sudah terdapat benjolan.
Wanita yang beresiko terkena kanker indung telur atau ovarium biasanya berhubungan dengan kanker payudara. Ada hubungan keluarga sehingga disebut sindroma kanker payudara. Meski faktor keturunan berperan dalam terjadinya kanker ovarium, wanita yang tidak memiliki keluarga penderita kanker ovarium dapat pula terkena penyakit kanker ini. Selain faktor keturunan, penyebab pasti kanker ovarium belum diketahui sampai saat ini.
Siapa yang beresiko, beberapa literature menyebutkan kanker ovarium dapat menyerang wanita usia muda hingga tua. Kasus penderita kanker ovarium termuda yang ditemui berusia 8 tahun. Jadi, kanker ovarium ini tidak pandang usia. Wanita yang beresiko menderita kanker ovarium biasanya wanita yang mengalami kesulitan memiliki anak, wanita yang tidak memiliki anak dan wanita yang mendapat pemicu ovulasi ( terapi hormone ).
Jika ditemukan suatu kantung tidak biasa di ovarium bukan berarti langsumg divonis menderita kanker ovarium. Ada jenis kista di ovarium yang berkaitan dengan siklus haid yang dikenal dengan nama kista fungsional yang dapat menyusut dengan sendirinya dalam waktu 1-3 bulan karena hanya berisi cairan. Kista ganas yang mengarah ke kanker biasanya bersekat-sekat dan dinding sel tebal dan tidak teratur. Tidak seperti kista fungsional yang hanya terisi cairan, kista abnormal memperlihatkan campuran cairan dan jaringan solid dan dapat bersifat ganas.
Adanya kanker pada daerah indung telur akan menggangu kesuburan. Kanker yang sudah memasuki stadium lanjut, dapat menyerang organ- organ tubuh lainnya seperti usus ( yang paling sering ) dan paru- paru. Resiko kematian akan semakin besar. Keterlambatan mendiagnosis kanker ovarium sering terjadi karena letak ovarium berada di dalam rongga panggul sehingga tidak terlihat dari luar.
2.2 Gejala Kanker Ovarium
Adapun gejala- gejala yang dirasakan jika terkena kanker ovarium biasanya adalah :
1. Adanya pembesaran perut karena terdapat penggumpalan cairan di dalam perut.
2. Gangguan menstruasi terjadi ketika tumor menyerang hormone.
3. Rasa sakit di perut dan terjadi pendarahan cukup banyak ketika menstruasi.
4. Kadang perut terasa begah, kembung , dan tidak nyaman.
Bila stadium lanjut , maka gejalanya :
  1. Terasa ada benjolan di perut ketika diraba.
  2. Nyeri panggul.
  3. Gangguan buang air besar atau buang air kecil akibat penekanan pada saluran pencernaan dan saluran kencing.
  4. Penderita dapat mengalami penimbunan cairan di rongga perut sampai mengalir ke rongga dada.
  5. Perut tempat semakin membuncit dan bisa juga sampai terjadi sesak nafas.
2.3 Siapa Saja Yang Beresiko Terkena Kanker Ovarium
Faktor- faktor yang berperan besar dalam menentukannya apakah seseorang memiliki kemungkinan terkena kanker ovarium atau tidak :
a. Usia : Resiko anda naik seiring dengan bertambahnya usia.
b. Kehamilan : Jika anda tidak pernah hamil, maka anda beresiko lebih tinggi terkena kanker ovarium.
c. Kontrasepsi oral : Wanita yang menggunakan pil KB memilikin resiko lebih kecil. Dengan meminum pil KB lebih dari 5 tahun juga mengurangi resiko terkena kanker ovarium sampai 50%.
d. Riwayat Keluarga : Resiko terkena kanker ovarium akan bertambah besar apabila ibu atau saudara perempuan sedang atau pernah menderita penyakit ini.
e. Penyakit Lain : Setiap penyakit yang mempengaruhi lapisan-lapisan sel di permukaan usus, akan meningkatkan resiko terhadap serangan kanker ovarium. Suatu kerusakan genetic yang disebut sindroma Peutz-Jegher dimana banyak polip tumbuh dalam usus kecil, meningkatkan resiko terkena kanker indung telur sebanyak 5 sampai 10x lipat.
2.4 Fakta-fakta Yang Terjadi Berhubungan Dengan Kanker Ovarium
  1. Satu dari 70 wanita terkena kanker ovarium.
  2. Kanker ovarium paling sering muncul pada wanita berusia 50-60 tahun.
  3. Semakin banyak wanita yang mati karena kanker ovarium,dibandingkan penyebab ginekologis lain.
  4. Kanker ovarium merupakan penyebab kematian ke-4 pada wanita setelah kanker paru-paru,payudara, dan leher rahim.
  5. Hanya sekitar 25% kanker ovarium yang terdiagnosa sejak dini.
2.5 Faktor-faktor Yang Dapat Mengurangi Resiko Kanker
  • Gaya Hidup Sehat.
Istirahat yang cukup, rekreasi, olahraga yang teratur, jauhi perilaku seksual yang menyimpang dan tidak normal serta berganti pasangan seks karena kebiasaan ini bisa memicu virus kanker genitalia serta penyakit seksual menular lainnya.
  • Menjaga kebersihan lingkungan.
  • Hanya mengkonsumsi makanan sehat.
Jauhilah makanan berlemak dan banyaklah mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan segar. Hindari bahan makanan yang diasap, diasin, dan diawetkan.
  • Memperhatikan kesehatan pribadi.
  • Meminimalkan bahan kimia dan obat-obatan.
  • Hindari merokok.
2.6 Tindakan Pemeriksaan dan Pengobatan Yang Dapat Dilakukan
a. Pemeriksaan :
· Dengan tes darah
· Pemeriksaan rongga panggul,kemudian dilanjutkan dengan USG, CT Scan atau MRI ( magnetic resonance imaging ). Prosedur pemeriksaan ini akan menghasilkan gambar dalam perut untuk mengidentifikasi adanya jenis sel yang tidak normal.
· Laparatomi dan Laparaskopi
Pemeriksaan laparatomi, akan dibuat suatu torehan pada perut untuk mengambil sejumlah kecil jaringan untuk dianalisa yang disebut biopsy. Ini merupakan satu-satunya cara untuk menentukan apakah tumor itu ganas atau tidak.
Wanita yang berusia 30-35 tahun, lebih cocok untuk menjalani laparoskopi. Metode ini menggunakan insisi kecil ke dalam perut dan melakukan biopsy dengan menggunakan alat yang disebut laparoskop.
· Protein CA-125
Pemeriksaan secara periodic terhadap unsure mirip protein darah disebut CA-125. Pada kanker ovarium,indung telur akan melepaskan protein abnormalnya ke dalam darah dan CA-125 akan membantu mengidentifikasi tumor ini. Tes dengan CA-125 memang tidak cukup sensitive untuk memantau kanker ovarium, namun bagi yang sudah mengidap maka peningkatan CA-125 biasanya menandakan adanya kanker yang sudah lanjut.
  1. Pengobatan
    • Operasi
Apabila pasien memang tidak ingin punya anak lagi maka dokteer akan mengangkat kedua ovarium, tuba falopii, rahim, kelenjar getah bening disekitarnya dan omentum. Dokter juga akan mengambil contoh jaringan dan cairan dari perut guna diperiksa apakah mengandung sel-sel kanker. Tujuan bedah ini ialah mengangkat semaksimal mungkin sel-sel kanker yang ada.
    • Kemoterapi
Apabila kanker masih terbatas di indung telur saja, maka pembedahan dapat mengangkat seluruh sel-selnya namun jika kanker sudah pada stadium lanjut dan menyebar ke bagian lain dari tubuh, bagaimanapun pembedahan tidak mampu mengangkat seluruh sel kanker. Untuk kondisi yang demikian,dokter akan memberikan obat-obatan anti kanker (kemoterapi) guna menumpas sel-sel kanker yang masih tertinggal.
Untungnya , dibandingkan dengan kanker jenis lain maka kanker ovarium lebih cepat lenyap oleh kemoterapi dan kecuali itu obat-obatan anti kanker mampu memberikan ketahanan hidup sekitar 5 tahun kepda 20-30% pasien wanita pengidap kanker ovarium stadium lanjut.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kanker alat reproduksi merupakan kanker yang paling banyak diderita kaum wanita, salah satunya adalah kanker indung telur (ovarium). Kanker ini mendapat julukan”The Silent Lady Killer” yaitu pembunuh wanita diam-diam karena sifat kanker ini sulit dideteksi pada stadium dini karena biasanya tanpa gejala sama sekali. Keluhan timbul dan mulai dirasakan penderita biasanya kalau sudah memasuki stadium lanjut dan sudah terdapat benjolan. Faktor yang berperan besar dalam menentukan seseorang terkena kanker salah satunya adalah usia. Semakin bertambahnya usia maka resiko unttuk terkena juga semakin besar. Banyak faktor yang dapat mengurangi resiko kanker diantaranya adalah dengan menjalani gaya hidup sehat serta memperhatikan kesehatan pribadi.Tindakan pemeriksaan dan pengobatan yang dapat dilakukan diantaranya adalah tes darah, laparaskopi dan laparatomi. Dan tindakan pengobatannya adalah dengan cara operasi dan kemoterapi.
3.2 Saran
Pada kesempatan ini, kepada semua pihak diharapkan dapat menjadi pelopor untuk diri sendiri dalam berperilaku sehat dalam reproduksi, serta menjadi penggerak bagi pencegahan yang menyeluruh terhadap bahaya kanker alat reproduksi perempuan. Dan bagi yang sudah memiliki pengetahuan awal tentang kanker alat reproduksi perempuan khususnya Bidan dapat menjadi komunikator yang baik untuk memberikan informasi, pengalaman dan pemahaman yang seksama dalam mencegah lingkungan masyarakat sekitar dan diri sendiri dari perilaku reproduksi yang tidak sehat khususnya dari bahaya kanker indung telur (ovarium).
DAFTAR PUSTAKA
Mansjoer, Arif. 1999. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius
Prawirohardjo,Sarwono, 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Winkjosastro,Hanifa. 2005. Ilmu Kandungan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Mansjoer, Arif. 1999. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius
http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
Read More

Materi Kesehatan: Kanker Ovarium

di 12.59 Label: Konsep Dasar , Sistem Endokrin
KANKER OVARIUM





KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karuniaNYA sehingga penulis dapat menyelesaikan pembuatan makalah yang berjudul “ Kanker Indung Telur dan Pengobatannya “. Pembuatan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah mulok V.
Atas dorongan dan bimbingannya serta semua pihak yang ikut berperan dalam penyusunan makalah ini. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.
Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan yang lebih baik di kemudian hari.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca.
Lokasi Penulisan, Februari 2009
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Unsur terkecil dari jaringan tubuh ialah sel yang berfungsi membentuk tubuh dan memperbaiki jaringan tubuh yang rusak. Dalam perkembangannya, sel yang normal akan membelah diri secara teratur dan terkendali. Tetapi tidak demikian pada pembelahan sel kanker ia tidak bisa dikendalikan dan tumbuh berlipat ganda secara cepat dan terus menerus yang dapat menjadi suatu bentuk yang mendesak, serta merusak jaringan tubuh yang normal, sehingga mengganggu fungsi organ yang jaringannya dirusak oleh sel kanker tadi. Akibatnya tentu saja bisa merusak organ tubuh disekitarnya.
Kanker adalah penyakit yang dapat menyerang siapapun baik wanita maupun pria serta dapat menyerang pada semua golongan umur. Menurut catatan data di Indonesia, kaum wanita paling banyak menderita kanker yaitu kanker alat reproduksi meliputi rahim,leher rahim, dan ovarium ( indung telur ) yang umumnya selalu berakhir dengan kematian.Pada tahun 1983,menurut catatan The American Cancer Institute memperkirakan ada sekitar 18.000 kasus baru penyakit kanker, 12.000 diantaranya meninggal karena kanker ovarium.
Apabila sel kanker telah menyebar ke saluran telur serta rahim, maka pengobatannya akan jauh lebih sulit dan tidak efektif lagi. Sebanyak 70-80% penderita yang sudah stadium lanjut, paling lama dapat bertahan hidup sampai 5 tahun saja. Meskipun jenis kanker ini kurang dikenal, karena hanya menyerang 1 diantara 70 wanita penderita kanker, atau kira-kira hanya 1% dari penyakit kanker jenis lain yang menyerang wanita namun daya mautnya juga mengerikan.
Oleh karena itu, untuk mengetahui lebih banyak tentang kanker ovarium maka dalam kesempatan ini penulis akan membahasnya dalam makalah ini.
1.2 Maksud dan Tujuan
Adapun maksud dan tujuan dari pembuatan makalah ini adalah
  1. Memenuhi tugas mata kuliah Kesehatan Reproduksi.
  2. Mengetahui tentang kanker ovarium beserta gejalanya.
  3. Mengetahui siapa saja serta faktor yang berperan besar terkena kanker ovarium.
  4. Mengetahui pengobatan yang dapat dilakukan terhadap penyakit ini.
1.3 Perumusan Masalah
  1. Pengertian kanker ovarium dan gejalanya.
  2. Siapa saja serta faktor yang berperan besar memiliki kemungkinan terkena kanker ovarium.
  3. Pengobatan yang dapat dilakukan terhadap penyakit ini.
.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Mengenali Kanker Ovarium
Kanker ovarium atau indung telur mendapat julukan “ The Silent Lady Killer “ atau pembunuh wanita diam- diam, karena julukan ini menyiratkan sifat kanker ovarium yang sulit dideteksi pada stadium dini. Karena biasanya tanpa gejala sama sekali. Pertumbuhannya sangat lambat dan biasanya kalau keluhan timbul sudah terdapat benjolan.
Wanita yang beresiko terkena kanker indung telur atau ovarium biasanya berhubungan dengan kanker payudara. Ada hubungan keluarga sehingga disebut sindroma kanker payudara. Meski faktor keturunan berperan dalam terjadinya kanker ovarium, wanita yang tidak memiliki keluarga penderita kanker ovarium dapat pula terkena penyakit kanker ini. Selain faktor keturunan, penyebab pasti kanker ovarium belum diketahui sampai saat ini.
Siapa yang beresiko, beberapa literature menyebutkan kanker ovarium dapat menyerang wanita usia muda hingga tua. Kasus penderita kanker ovarium termuda yang ditemui berusia 8 tahun. Jadi, kanker ovarium ini tidak pandang usia. Wanita yang beresiko menderita kanker ovarium biasanya wanita yang mengalami kesulitan memiliki anak, wanita yang tidak memiliki anak dan wanita yang mendapat pemicu ovulasi ( terapi hormone ).
Jika ditemukan suatu kantung tidak biasa di ovarium bukan berarti langsumg divonis menderita kanker ovarium. Ada jenis kista di ovarium yang berkaitan dengan siklus haid yang dikenal dengan nama kista fungsional yang dapat menyusut dengan sendirinya dalam waktu 1-3 bulan karena hanya berisi cairan. Kista ganas yang mengarah ke kanker biasanya bersekat-sekat dan dinding sel tebal dan tidak teratur. Tidak seperti kista fungsional yang hanya terisi cairan, kista abnormal memperlihatkan campuran cairan dan jaringan solid dan dapat bersifat ganas.
Adanya kanker pada daerah indung telur akan menggangu kesuburan. Kanker yang sudah memasuki stadium lanjut, dapat menyerang organ- organ tubuh lainnya seperti usus ( yang paling sering ) dan paru- paru. Resiko kematian akan semakin besar. Keterlambatan mendiagnosis kanker ovarium sering terjadi karena letak ovarium berada di dalam rongga panggul sehingga tidak terlihat dari luar.
2.2 Gejala Kanker Ovarium
Adapun gejala- gejala yang dirasakan jika terkena kanker ovarium biasanya adalah :
1. Adanya pembesaran perut karena terdapat penggumpalan cairan di dalam perut.
2. Gangguan menstruasi terjadi ketika tumor menyerang hormone.
3. Rasa sakit di perut dan terjadi pendarahan cukup banyak ketika menstruasi.
4. Kadang perut terasa begah, kembung , dan tidak nyaman.
Bila stadium lanjut , maka gejalanya :
  1. Terasa ada benjolan di perut ketika diraba.
  2. Nyeri panggul.
  3. Gangguan buang air besar atau buang air kecil akibat penekanan pada saluran pencernaan dan saluran kencing.
  4. Penderita dapat mengalami penimbunan cairan di rongga perut sampai mengalir ke rongga dada.
  5. Perut tempat semakin membuncit dan bisa juga sampai terjadi sesak nafas.
2.3 Siapa Saja Yang Beresiko Terkena Kanker Ovarium
Faktor- faktor yang berperan besar dalam menentukannya apakah seseorang memiliki kemungkinan terkena kanker ovarium atau tidak :
a. Usia : Resiko anda naik seiring dengan bertambahnya usia.
b. Kehamilan : Jika anda tidak pernah hamil, maka anda beresiko lebih tinggi terkena kanker ovarium.
c. Kontrasepsi oral : Wanita yang menggunakan pil KB memilikin resiko lebih kecil. Dengan meminum pil KB lebih dari 5 tahun juga mengurangi resiko terkena kanker ovarium sampai 50%.
d. Riwayat Keluarga : Resiko terkena kanker ovarium akan bertambah besar apabila ibu atau saudara perempuan sedang atau pernah menderita penyakit ini.
e. Penyakit Lain : Setiap penyakit yang mempengaruhi lapisan-lapisan sel di permukaan usus, akan meningkatkan resiko terhadap serangan kanker ovarium. Suatu kerusakan genetic yang disebut sindroma Peutz-Jegher dimana banyak polip tumbuh dalam usus kecil, meningkatkan resiko terkena kanker indung telur sebanyak 5 sampai 10x lipat.
2.4 Fakta-fakta Yang Terjadi Berhubungan Dengan Kanker Ovarium
  1. Satu dari 70 wanita terkena kanker ovarium.
  2. Kanker ovarium paling sering muncul pada wanita berusia 50-60 tahun.
  3. Semakin banyak wanita yang mati karena kanker ovarium,dibandingkan penyebab ginekologis lain.
  4. Kanker ovarium merupakan penyebab kematian ke-4 pada wanita setelah kanker paru-paru,payudara, dan leher rahim.
  5. Hanya sekitar 25% kanker ovarium yang terdiagnosa sejak dini.
2.5 Faktor-faktor Yang Dapat Mengurangi Resiko Kanker
  • Gaya Hidup Sehat.
Istirahat yang cukup, rekreasi, olahraga yang teratur, jauhi perilaku seksual yang menyimpang dan tidak normal serta berganti pasangan seks karena kebiasaan ini bisa memicu virus kanker genitalia serta penyakit seksual menular lainnya.
  • Menjaga kebersihan lingkungan.
  • Hanya mengkonsumsi makanan sehat.
Jauhilah makanan berlemak dan banyaklah mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan segar. Hindari bahan makanan yang diasap, diasin, dan diawetkan.
  • Memperhatikan kesehatan pribadi.
  • Meminimalkan bahan kimia dan obat-obatan.
  • Hindari merokok.
2.6 Tindakan Pemeriksaan dan Pengobatan Yang Dapat Dilakukan
a. Pemeriksaan :
· Dengan tes darah
· Pemeriksaan rongga panggul,kemudian dilanjutkan dengan USG, CT Scan atau MRI ( magnetic resonance imaging ). Prosedur pemeriksaan ini akan menghasilkan gambar dalam perut untuk mengidentifikasi adanya jenis sel yang tidak normal.
· Laparatomi dan Laparaskopi
Pemeriksaan laparatomi, akan dibuat suatu torehan pada perut untuk mengambil sejumlah kecil jaringan untuk dianalisa yang disebut biopsy. Ini merupakan satu-satunya cara untuk menentukan apakah tumor itu ganas atau tidak.
Wanita yang berusia 30-35 tahun, lebih cocok untuk menjalani laparoskopi. Metode ini menggunakan insisi kecil ke dalam perut dan melakukan biopsy dengan menggunakan alat yang disebut laparoskop.
· Protein CA-125
Pemeriksaan secara periodic terhadap unsure mirip protein darah disebut CA-125. Pada kanker ovarium,indung telur akan melepaskan protein abnormalnya ke dalam darah dan CA-125 akan membantu mengidentifikasi tumor ini. Tes dengan CA-125 memang tidak cukup sensitive untuk memantau kanker ovarium, namun bagi yang sudah mengidap maka peningkatan CA-125 biasanya menandakan adanya kanker yang sudah lanjut.
  1. Pengobatan
    • Operasi
Apabila pasien memang tidak ingin punya anak lagi maka dokteer akan mengangkat kedua ovarium, tuba falopii, rahim, kelenjar getah bening disekitarnya dan omentum. Dokter juga akan mengambil contoh jaringan dan cairan dari perut guna diperiksa apakah mengandung sel-sel kanker. Tujuan bedah ini ialah mengangkat semaksimal mungkin sel-sel kanker yang ada.
    • Kemoterapi
Apabila kanker masih terbatas di indung telur saja, maka pembedahan dapat mengangkat seluruh sel-selnya namun jika kanker sudah pada stadium lanjut dan menyebar ke bagian lain dari tubuh, bagaimanapun pembedahan tidak mampu mengangkat seluruh sel kanker. Untuk kondisi yang demikian,dokter akan memberikan obat-obatan anti kanker (kemoterapi) guna menumpas sel-sel kanker yang masih tertinggal.
Untungnya , dibandingkan dengan kanker jenis lain maka kanker ovarium lebih cepat lenyap oleh kemoterapi dan kecuali itu obat-obatan anti kanker mampu memberikan ketahanan hidup sekitar 5 tahun kepda 20-30% pasien wanita pengidap kanker ovarium stadium lanjut.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kanker alat reproduksi merupakan kanker yang paling banyak diderita kaum wanita, salah satunya adalah kanker indung telur (ovarium). Kanker ini mendapat julukan”The Silent Lady Killer” yaitu pembunuh wanita diam-diam karena sifat kanker ini sulit dideteksi pada stadium dini karena biasanya tanpa gejala sama sekali. Keluhan timbul dan mulai dirasakan penderita biasanya kalau sudah memasuki stadium lanjut dan sudah terdapat benjolan. Faktor yang berperan besar dalam menentukan seseorang terkena kanker salah satunya adalah usia. Semakin bertambahnya usia maka resiko unttuk terkena juga semakin besar. Banyak faktor yang dapat mengurangi resiko kanker diantaranya adalah dengan menjalani gaya hidup sehat serta memperhatikan kesehatan pribadi.Tindakan pemeriksaan dan pengobatan yang dapat dilakukan diantaranya adalah tes darah, laparaskopi dan laparatomi. Dan tindakan pengobatannya adalah dengan cara operasi dan kemoterapi.
3.2 Saran
Pada kesempatan ini, kepada semua pihak diharapkan dapat menjadi pelopor untuk diri sendiri dalam berperilaku sehat dalam reproduksi, serta menjadi penggerak bagi pencegahan yang menyeluruh terhadap bahaya kanker alat reproduksi perempuan. Dan bagi yang sudah memiliki pengetahuan awal tentang kanker alat reproduksi perempuan khususnya Bidan dapat menjadi komunikator yang baik untuk memberikan informasi, pengalaman dan pemahaman yang seksama dalam mencegah lingkungan masyarakat sekitar dan diri sendiri dari perilaku reproduksi yang tidak sehat khususnya dari bahaya kanker indung telur (ovarium).
DAFTAR PUSTAKA
Mansjoer, Arif. 1999. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius
Prawirohardjo,Sarwono, 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Winkjosastro,Hanifa. 2005. Ilmu Kandungan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Mansjoer, Arif. 1999. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius
http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
Read More

Selasa, 02 Agustus 2011

Materi Kesehatan: Sistem Reproduksi Wanita

di 20.02 Label: Konsep Dasar , Sistem Endokrin
Sistem Reproduksi Pada Manusia - Wanita
female_reproductive_system_lateral
Sistem reproduksi wanita meliputi organ reproduksi, oogenesis, hormon pada wanita, fertilisasi, kehamilan, persalinan dan laktasi.
1.Organ Reproduksi
Organ reproduksi wanita terdiri dari organ reproduksi dalam dan organ reproduksi luar.
Organ reproduksi dalam
Organ reproduksi dalam wanita terdiri dari ovarium dan saluran reproduksi (saluran kelamin).
Ovarium
Ovarium (indung telur) berjumlah sepasang, berbentuk oval dengan panjang 3 - 4 cm. Ovarium berada di dalam rongga badan, di daerah pinggang. Umumnya setiap ovarium menghasilkan ovum setiap 28 hari. Ovum yang dihasilkan ovarium akan bergerak ke saluran reproduksi.
Fungsi ovarium yakni menghasilkan ovum (sel telur) serta hormon estrogen dan progesteron.
Saluran reproduksi
Saluran reproduksi (saluran kelamin) terdiri dari oviduk, uterus dan vagina.
Oviduk
Oviduk (tuba falopii) atau saluran telur berjumlah sepasang (di kanan dan kiri ovarium) dengan panjang sekitar 10 cm. Bagian pangkal oviduk berbentuk corong yang disebut infundibulum. Pada infundibulum terdapat jumbai-jumbai (fimbrae). Fimbrae berfungsi menangkap ovum yang dilepaskan oleh ovarium. Ovum yang ditangkap oleh infundibulum akan masuk ke oviduk. Oviduk berfungsi untuk menyalurkan ovum dari ovarium menuju uterus.
Uterus
Uterus (kantung peranakan) atau rahim merupakan rongga pertemuan oviduk kanan dan kiri yang berbentuk seperti buah pir dan bagian bawahnya mengecil yang disebut serviks (leher rahim). Uterus manusia berfungsi sebagai tempat perkembangan zigot apabila terjadi fertilisasi. Uterus terdiri dari dinding berupa lapisan jaringan yang tersusun dari beberapa lapis otot polos dan lapisan endometrium. Lapisan endometrium (dinding rahim) tersusun dari sel-sel epitel dan membatasi uterus. Lapisan endometrium menghasilkan banyak lendir dan pembuluh darah. Lapisan endometrium akan menebal pada saat ovulasi (pelepasan ovum dari ovarium) dan akan meluruh pada saat menstruasi.
Vagina
Vagina merupakan saluran akhir dari saluran reproduksi bagian dalam pada wanita. Vagina bermuara pada vulva. Vagina memiliki dinding yang berlipat-lipat dengan bagian terluar berupa selaput berlendir, bagian tengah berupa lapisan otot dan bagian terdalam berupa jaringan ikat berserat. Selaput berlendir (membran mukosa) menghasilkan lendir pada saat terjadi rangsangan seksual. Lendir tersebut dihasilkan oleh kelenjar Bartholin. Jaringan otot dan jaringan ikat berserat bersifat elastis yang berperan untuk melebarkan uterus saat janin akan dilahirkan dan akan kembali ke kondisi semula setelah janin dikeluarkan.
Organ reproduksi luar
Organ reproduksi luar pada wanita berupa vulva. Vulva merupakan celah paling luar dari organ kelamin wanita. Vulva terdiri dari mons pubis. Mons pubis (mons veneris) merupakan daerah atas dan terluar dari vulva yang banyak menandung jaringan lemak. Pada masa pubertas daerah ini mulai ditumbuhi oleh rambut. Di bawah mons pubis terdapat lipatan labium mayor (bibir besar) yang berjumlah sepasang. Di dalam labium mayor terdapat lipatan labium minor (bibir kecil) yang juga berjumlah sepasang. Labium mayor dan labium minor berfungsi untuk melindungi vagina. Gabungan labium mayor dan labium minor pada bagian atas labium membentuk tonjolan kecil yang disebut klitoris.
Klitoris merupakan organ erektil yang dapat disamakan dengan penis pada pria. Meskipun klitoris secara struktural tidak sama persis dengan penis, namun klitoris juga mengandung korpus kavernosa. Pada klitoris terdapat banyak pembuluh darah dan ujung-ujung saraf perasa.
Pada vulva bermuara dua saluran, yaitu saluran uretra (saluran kencing) dan saluran kelamin (vagina). Pada daerah dekat saluran ujung vagina terdapat himen atau selaput dara. Himen merupakan selaput mukosa yang banyak mengandung pembuluh darah.
2.Oogenesis
Oogenesis merupakan proses pembentukan ovum di dalam ovarium. Di dalam ovarium terdapat oogonium (oogonia = jamak) atau sel indung telur. Oogonium bersifat diploid dengan 46 kromosom atau 23 pasang kromosom. Oogonium akan memperbanyak diri dengan cara mitosis membentuk oosit primer.
Oogenesis telah dimulai saat bayi perempuan masih di dalam kandungan, yaitu pada saat bayi berusia sekitar 5 bulan dalam kandungan. Pada saat bayi perempuan berumur 6 bulan, oosit primer akan membelah secara meiosis. Namun, meiosis tahap pertama pada oosit primer ini tidak dilanjutkan sampai bayi perempuan tumbuh menjadi anak perempuan yang mengalami pubertas. Oosit primer tersebut berada dalam keadaan istirahat (dorman).
Pada saat bayi perempuan lahir, di dalam setiap ovariumnya mengandung sekitar 1 juta oosit primer. Ketika mencapai pubertas, anak perempuan hanya memiliki sekitar 200 ribu oosit primer saja. Sedangkan oosit lainnya mengalami degenerasi selama pertumbuhannya.
Saat memasuki masa pubertas, anak perempuan akan mengalami perubahan hormon yang menyebabkan oosit primer melanjutkan meiosis tahap pertamanya. Oosit yang mengalami meiosis I akan menghasilkan dua sel yang tidak sama ukurannya. Sel oosit pertama merupaakn oosit yang berukuran normal (besar) yang disebut oosit sekunder, sedangkan sel yang berukuran lebih kecil disebut badan polar pertama (polosit primer).
Selanjutnya , oosit sekunder meneruskan tahap meiosis II (meiosis kedua). Namun pada meiosis II, oosit sekunder tidak langsung diselesaikan sampai tahap akhir, melainkan berhenti sampai terjadi ovulasi. Jika tidak terjadi fertilisasi, oosit sekunder akan mengalami degenerasi. Namun jika ada sperma masuk ke oviduk, meiosis II pada oosit sekunder akan dilanjutkan kembali. Akhirnya, meiosis II pada oosit sekunder akan menghasilkan satu sel besar yang disebut ootid dan satu sel kecil yang disebut badan polar kedua (polosit sekunder). Badan polar pertama juga membelah menjadi dua badan polar kedua. Akhirnya, ada tiga badan polar dan satu ootid yang akan tumbuh menjadi ovum dari oogenesis setiap satu oogonium.
Oosit dalam oogonium berada di dalam suatu folikel telur. Folikel telur (folikel) merupakan sel pembungkus penuh cairan yang menglilingi ovum. Folikel berfungsi untuk menyediakan sumber makanan bagi oosit. Folikel juga mengalami perubahan seiring dengan perubahan oosit primer menjadi oosit sekunder hingga terjadi ovulasi. Folikel primer muncul pertama kali untuk menyelubungi oosit primer. Selama tahap meiosis I pada oosit primer, folikel primer berkembang menjadi folikel sekunder. Pada saat terbentuk oosit sekunder, folikel sekunder berkembang menjadi folikel tersier. Pada masa ovulasi, folikel tersier berkembang menjadi folikel de Graaf (folikel matang). Setelah oosit sekunder lepas dari folikel, folikel akan berubah menjadi korpus luteum. Jika tidak terjaid fertilisasi, korpus luteum akan mengkerut menjadi korpus albikan.
3.Hormon pada Wanita
Pada wanita, peran hormon dalam perkembangan oogenesis dan perkembangan reproduksi jauh lebih kompleks dibandingkan pada pria. Salah satu peran hormon pada wanita dalam proses reproduksi adalah dalam siklus menstruasi.
Siklus menstruasi
Menstruasi (haid) adalah pendarahan secara periodik dan siklik dari uterus yang disertai pelepasan endometrium. Menstruasi terjadi jika ovum tidak dibuahi oleh sperma. Siklus menstruasi sekitar 28 hari. Pelepasan ovum yang berupa oosit sekunder dari ovarium disebut ovulasi, yang berkaitan dengan adanya kerjasama antara hipotalamus dan ovarium. Hasil kerjasama tersebut akan memacu pengeluaran hormon-hormon yang mempengaruhi mekanisme siklus menstruasi.
Untuk mempermudah penjelasan mengenai siklus menstruasi, patokannya adalah adanya peristiwa yang sangat penting, yaitu ovulasi. Ovulasi terjadi pada pertengahan siklus (½ n) menstruasi. Untuk periode atau siklus hari pertama menstruasi, ovulasi terjadi pada hari ke-14 terhitung sejak hari pertama menstruasi. Siklus menstruasi dikelompokkan menjadi empat fase, yaitu fase menstruasi, fase pra-ovulasi, fase ovulasi, fase pasca-ovulasi.
Fase menstruasi
Fase menstruasi terjadi bila ovum tidak dibuahi oleh sperma, sehingga korpus luteum akan menghentikan produksi hormon estrogen dan progesteron. Turunnya kadar estrogen dan progesteron menyebabkan lepasnya ovum dari dinding uterus yang menebal (endometrium). Lepasnya ovum tersebut menyebabkan endometrium sobek atau meluruh, sehingga dindingnya menjadi tipis. Peluruhan pada endometrium yang mengandung pembuluh darah menyebabkan terjadinya pendarahan pada fase menstruasi. Pendarahan ini biasanya berlangsung selama lima hari. Volume darah yang dikeluarkan rata-rata sekitar 50mL.
Fase pra-ovulasi
Pada fase pra-ovulasi atau akhir siklus menstruasi, hipotalamus mengeluarkan hormon gonadotropin. Gonadotropin merangsang hipofisis untuk mengeluarkan FSH. Adanya FSH merangsang pembentukan folikel primer di dalam ovarium yang mengelilingi satu oosit primer. Folikel primer dan oosit primer akan tumbuh sampai hari ke-14 hingga folikel menjadi matang atau disebut folikel de Graaf dengan ovum di dalamnya. Selama pertumbuhannya, folikel juga melepaskan hormon estrogen. Adanya estrogen menyebabkan pembentukan kembali (proliferasi) sel-sel penyusun dinding dalam uterus dan endometrium. Peningkatan konsentrasi estrogen selama pertumbuhan folikel juga mempengaruhi serviks untuk mengeluarkan lendir yang bersifta basa. Lendir yang bersifat basa berguna untuk menetralkan sifat asam pada serviks agar lebih mendukung lingkungan hidup sperma.
Fase ovulasi
Pada saat mendekati fase ovulasi atau mendekati hari ke-14 terjadi perubahan produksi hormon. Peningkatan kadar estrogen selama fase pra-ovulasi menyebabkan reaksi umpan balik negatif atau penghambatan terhadap pelepasan FSH lebih lanjut dari hipofisis. Penurunan konsentrasi FSH menyebabkan hipofisis melepaskan LH. LH merangsang pelepasan oosit sekunder dari folikel de Graaf. Pada saat inilah disebut ovulasi, yaitu saat terjadi pelepasan oosit sekunder dari folikel de Graaf dan siap dibuahi oleh sperma. Umunya ovulasi terjadi pada hari ke-14.
Fase pasca-ovulasi
Pada fase pasca-ovulasi, folikel de Graaf yang ditinggalkan oleh oosit sekunder karena pengaruh LH dan FSH akan berkerut dan berubah menjadi korpus luteum. Korpus luteum tetap memproduksi estrogen (namun tidak sebanyak folikel de Graaf memproduksi estrogen) dan hormon lainnya, yaitu progesteron. Progesteron mendukung kerja estrogen dengan menebalkan dinding dalam uterus atau endometrium dan menumbuhkan pembuluh-pembuluh darah pada endometrium. Progesteron juga merangsang sekresi lendir pada vagina dan pertumbuhan kelenjar susu pada payudara. Keseluruhan fungsi progesteron (juga estrogen) tersebut berguna untuk menyiapkan penanaman (implantasi) zigot pada uterus bila terjadi pembuahan atau kehamilan.
Proses pasca-ovulasi ini berlangsung dari hari ke-15 sampai hari ke-28. Namun, bila sekitar hari ke-26 tidak terjadi pembuahan, korpus luteum akan berubah menjadi korpus albikan. Korpus albikan memiliki kemampuan produksi estrogen dan progesteron yang rendah, sehingga konsentrasi estrogen dan progesteron akan menurun. Pada kondisi ini, hipofisis menjadi aktif untuk melepaskan FSH dan selanjutnya LH, sehingga fase pasca-ovulasi akan tersambung kembali dengan fase menstruasi berikutnya.
4.Fertilisasi
Fertilisasi atau pembuahan terjadi saat oosit sekunder yang mengandung ovum dibuahi oleh sperma. Fertilisasi umumnya terjadi segera setelah oosit sekunder memasuki oviduk. Namun, sebelum sperma dapat memasuki oosit sekunder, pertama-tama sperma harus menembus berlapis-lapis sel granulosa yang melekat di sisi luar oosit sekunder yang disebut korona radiata. Kemudian, sperma juga harus menembus lapisan sesudah korona radiata, yaitu zona pelusida. Zona pelusida merupakan lapisan di sebelah dalam korona radiata, berupa glikoprotein yang membungkus oosit sekunder.
Sperma dapat menembus oosit sekunder karena baik sperma maupun oosit sekunder saling mengeluarkan enzim dan atau senyawa tertentu, sehingga terjadi aktivitas yang saling mendukung.
Pada sperma, bagian kromosom mengeluarkan:
hialuronidase
Enzim yang dapat melarutkan senyawa hialuronid pada korona radiata.
akrosin
Protease yang dapat menghancurkan glikoprotein pada zona pelusida.
antifertilizin
Antigen terhadap oosit sekunder sehingga sperma dapat melekat pada oosit sekunder.
Oosit sekunder juga mengeluarkan senyawa tertentu, yaitu fertilizin yang tersusun dari glikoprotein dengan fungsi :
Mengaktifkan sperma agar bergerak lebih cepat.
Menarik sperma secara kemotaksis positif.
Mengumpulkan sperma di sekeliling oosit sekunder.
Pada saat satu sperma menembus oosit sekunder, sel-sel granulosit di bagian korteks oosit sekunder mengeluarkan senyawa tertentu yang menyebabkan zona pelusida tidak dapat ditembus oleh sperma lainnya. Adanya penetrasi sperma juga merangsang penyelesaian meiosis II pada inti oosit sekunder , sehingga dari seluruh proses meiosis I sampai penyelesaian meiosis II dihasilkan tiga badan polar dan satu ovum yang disebut inti oosit sekunder.
Segera setelah sperma memasuki oosit sekunder, inti (nukleus) pada kepala sperma akan membesar. Sebaliknya, ekor sperma akan berdegenerasi. Kemudian, inti sperma yang mengandung 23 kromosom (haploid) dengan ovum yang mengandung 23 kromosom (haploid) akan bersatu menghasilkan zigot dengan 23 pasang kromosom (2n) atau 46 kromosom.
5.Gestasi (Kehamilan)
Zigot akan ditanam (diimplantasikan) pada endometrium uterus. Dalam perjalannya ke uterus, zigot membelah secara mitosis berkali-kali. Hasil pembelahan tersebut berupa sekelompok sel yang sama besarnya, dengan bentuk seperti buah arbei yang disebut tahap morula.
Morula akan terus membelah sampai terbentuk blastosit. Tahap ini disebut blastula, dengan rongga di dalamnya yang disebut blastocoel (blastosol). Blastosit terdiri dari sel-sel bagian luar dan sel-sel bagian dalam.
Sel-sel bagian luar blastosit
Sel-sel bagian luar blastosit merupakan sel-sel trofoblas yang akan membantu implantasi blastosit pada uterus. Sel-sel trofoblas membentuk tonjolan-tonjolan ke arah endometrium yang berfungsi sebagai kait. Sel-sel trofoblas juga mensekresikan enzim proteolitik yang berfungsi untuk mencerna serta mencairkan sel-sel endometrium. Cairan dan nutrien tersebut kemudian dilepaskan dan ditranspor secara aktif oleh sel-sel trofoblas agar zigot berkembang lebih lanjut. Kemudian, trofoblas beserta sel-sel lain di bawahnya akan membelah (berproliferasi) dengan cepat membentuk plasenta dan berbagai membran kehamilan.
Berbagai macam membran kehamilan berfungsi untuk membantu proses transportasi, respirasi, ekskresi dan fungsi-fungsi penting lainnya selama embrio hidup dalam uterus. Selain itu, adanya lapisan-lapisan membran melindungi embrio terhadap tekanan mekanis dari luar, termasuk kekeringan.
Sakus vitelinus
Sakus vitelinus (kantung telur) adalah membran berbentuk kantung yang pertama kali dibentuk dari perluasan lapisan endoderm (lapisan terdalam pada blastosit). Sakus vitelinus merupakan tempat pembentukan sel-sel darah dan pembuluh-pembuluh darah pertama embrio. Sakus vitelinus berinteraksi dengan trofoblas membentuk korion.
Korion
Korion merupakan membran terluar yang tumbuh melingkupi embrio. Korion membentuk vili korion (jonjot-jonjot) di dalam endometrium. Vili korion berisi pembuluh darah emrbrio yang berhubungan dengan pembuluh darah ibu yang banyak terdapat di dalam endometrium uterus. Korion dengan jaringan endometrium uterus membentuk plasenta, yang merupakan organ pemberi nutrisi bagi embrio.
Amnion
Amnion merupakan membran yang langsung melingkupi embrio dalam satu ruang yang berisi cairan amnion (ketuban). Cairan amnion dihasilkan oleh membran amnion. Cairan amnion berfungsi untuk menjaga embrio agar dapat bergerak dengan bebas, juga melindungi embrio dari perubahan suhu yang drastis serta guncangan dari luar.
Alantois
Alantois merupakan membran pembentuk tali pusar (ari-ari). Tali pusar menghubungkan embrio dengan plasenta pada endometrium uterus ibu. Di dalam alantois terdapat pembuluh darah yang menyalurkan zat-zat makanan dan oksigen dari ibu dan mengeluarkan sisa metabolisme, seperti karbon dioksida dan urea untuk dibuang oleh ibu.
Sel-sel bagian dalam blastosit
Sel-sel bagian dalam blastosit akan berkembang menjadi bakal embrio (embrioblas). Pada embrioblas terdapat lapisan jaringan dasar yang terdiri dari lapisan luar (ektoderm) dan lapisan dalam (endoderm). Permukaan ektoderm melekuk ke dalam sehingga membentuk lapisan tengah (mesoderm). Selanjutnya, ketiga lapisan tersebut akan berkembang menjadi berbagai organ (organogenesis) pada minggu ke-4 sampai minggu ke-8.
Ektoderm akan membentuk saraf, mata, kulit dan hidung. Mesoderm akan membentuk tulang, otot, jantung, pembuluh darah, ginjal, limpa dan kelenjar kelamin. Endoderm akan membentuk organ-organ yang berhubungan langsung dengan sistem pencernaan dan pernapasan.
Selanjutnya, mulai minggu ke-9 sampai beberapa saat sebelum kelahiran, terjadi penyempurnaan berbagai organ dan pertumbuhan tubuh yang pesat. Masa ini disebut masa janin atau masa fetus.
6.Persalinan
Persalinan merupakan proses kelahiran bayi. Pada persalinan, uterus secara perlahan menjadi lebih peka sampai akhirnya berkontraksi secara berkala hingga bayi dilahirkan. Penyebab peningkatan kepekaan dan aktifitas uterus sehingga terjadi kontraksi yang dipengaruhi faktor-faktor hormonal dan faktor-faktor mekanis.
Hormon-hormon yang berpengaruh terhadap kontraksi uterus, yaitu estrogen, oksitosin, prostaglandin dan relaksin.
Estrogen
Estrogen dihasilkan oleh plasenta yang konsentrasinya meningkat pada saat persalinan. Estrogen berfungsi untuk kontraksi uterus.
Oksitosin
Oksitosin dihasilkan oleh hipofisis ibu dan janin. Oksitosin berfungsi untuk kontraksi uterus.
Prostaglandin
Prostaglandin dihasilkan oleh membran pada janin. Prostaglandin berfungsi untuk meningkatkan intensitas kontraksi uterus.
Relaksin
Relaksin dihasilkan oleh korpus luteum pada ovarium dan plasenta. Relaksin berfungsi untuk relaksasi atau melunakkan serviks dan melonggarkan tulang panggul sehingga mempermudah persalinan.
7.Laktasi
Kelangsungan bayi yang baru lahir bergantung pada persediaan susu dari ibu. Produksi air susu (laktasi) berasal dari sepasang kelenjar susu (payudara) ibu. Sebelum kehamilan, payudara hanya terdiri dari jaringan adiposa (jaringan lemak) serta suatu sistem berupa kelenjar susu dan saluran-saluran kelenjar (duktus kelenjar) yang belum berkembang.
Pada masa kehamilan, pertumbuhan awal kelenjar susu dirancang oleh mammotropin. Mammotropin merupakan hormon yang dihasilkan dari hipofisis ibu dan plasenta janin. Selain mammotropin, ada juga sejumlah besar estrogen dan progesteron yang dikeluarkan oleh plasenta, sehingga sistem saluran-saluran kelenjar payudara tumbuh dan bercabang. Secara bersamaan kelenjar payudara dan jaringan lemak disekitarnya juga bertambah besar. Walaupun estrogen dan progesteron penting untuk perkembangan fisik kelenjar payudara selama kehamilan, pengaruh khusus dari kedua hormon ini adalah untuk mencegah sekresi dari air susu. Sebaliknya, hormon prolaktin memiliki efek yang berlawanan, yaitu meningkatkan sekresi air susu. Hormon ini disekresikan oleh kelenjar hipofisis ibu dan konsentrasinya dalam darah ibu meningkat dari minggu ke-5 kehamilan sampai kelahiran bayi. Selain itu, plasenta mensekresi sejumlah besar somatomamotropin korion manusia, yang juga memiliki sifat laktogenik ringan, sehingga menyokong prolaktin dari hipofisis ibu.
Gangguan pada Sistem Reproduksi Wanita
Gangguan menstruasi
Gangguan menstruasi pada wanita dibedakan menjadi dua jenis, yaitu amenore primer dan amenore sekunder. Amenore primer adalah tidak terjadinya menstruasi sampai usia 17 tahun dengan atau tanpa perkembangan seksual. Amenore sekunder adalah tidak terjadinya menstruasi selama 3 – 6 bulan atau lebih pada orang yang tengah mengalami siklus menstruasi.
Kanker genitalia
Kanker genitalia pada wanita dapat terjadi pada vagina, serviks dan ovarium.
Kanker vagina
Kanker vagina tidak diketahui penyebabnya tetapi kemungkinan terjadi karena iritasi yang diantaranya disebabkan oleh virus. Pengobatannya antara lain dengan kemoterapi dan bedah laser.
Kanker serviks
Kanker serviks adalah keadaan dimana sel-sel abnormal tumbuh di seluruh lapisan epitel serviks. Penanganannya dilakukan dengan mengangkat uterus, oviduk, ovarium, sepertiga bagian atas vagina dan kelenjar limfe panggul.
Kanker ovarium
Kanker ovarium memiliki gejala yang tidak jelas. Dapat berupa rasa berat pada panggul, perubahan fungsi saluran pencernaan atau mengalami pendarahan vagina abnormal. Penanganan dapat dilakukan dengan pembedahan dan kemoterapi.
Endometriosis
Endometriosis adalah keadaan dimana jaringan endometrium terdapat di luar uterus, yaitu dapat tumbuh di sekitar ovarium, oviduk atau jauh di luar uterus, misalnya di paru-paru.
Gejala endometriosis berupa nyeri perut, pinggang terasa sakit dan nyeri pada masa menstruasi. Jika tidak ditangani, endometriosis dapat menyebabkan sulit terjadi kehamilan. Penanganannya dapat dilakukan dengan pemberian obat-obatan, laparoskopi atau bedah laser.
Infeksi vagina
Gejala awal infeksi vagina berupa keputihan dan timbul gatal-gatal. Infeksi vagina menyerang wanita usia produktif. Penyebabnya antara lain akibat hubungan kelamin, terutama bila suami terkena infeksi, jamur atau bakteri.
Read More
Postingan Lama Beranda
Langganan: Postingan ( Atom )
 photo banner300x250-biru.gif

Blog Archive

  • 2016 (1)
    • 09/18 - 09/25 (1)
      • PENGETAHUAN IBU TENTANG BIANG KERINGAT PADA BAYI 0...
  • 2015 (10)
    • 10/11 - 10/18 (1)
    • 09/13 - 09/20 (1)
    • 09/06 - 09/13 (1)
    • 07/05 - 07/12 (1)
    • 05/17 - 05/24 (6)
  • 2014 (1)
    • 04/13 - 04/20 (1)
  • 2012 (770)
    • 02/19 - 02/26 (5)
    • 02/12 - 02/19 (10)
    • 02/05 - 02/12 (4)
    • 01/29 - 02/05 (27)
    • 01/22 - 01/29 (88)
    • 01/15 - 01/22 (101)
    • 01/08 - 01/15 (169)
    • 01/01 - 01/08 (366)
  • 2011 (4477)
    • 12/25 - 01/01 (336)
    • 12/18 - 12/25 (62)
    • 12/11 - 12/18 (70)
    • 12/04 - 12/11 (77)
    • 11/27 - 12/04 (40)
    • 11/20 - 11/27 (67)
    • 11/13 - 11/20 (198)
    • 11/06 - 11/13 (187)
    • 10/30 - 11/06 (340)
    • 10/23 - 10/30 (32)
    • 10/16 - 10/23 (109)
    • 10/09 - 10/16 (80)
    • 08/14 - 08/21 (75)
    • 08/07 - 08/14 (81)
    • 07/31 - 08/07 (82)
    • 07/24 - 07/31 (65)
    • 07/17 - 07/24 (91)
    • 07/10 - 07/17 (47)
    • 07/03 - 07/10 (44)
    • 06/26 - 07/03 (53)
    • 06/19 - 06/26 (59)
    • 06/12 - 06/19 (47)
    • 06/05 - 06/12 (65)
    • 05/29 - 06/05 (63)
    • 05/22 - 05/29 (77)
    • 05/15 - 05/22 (115)
    • 05/08 - 05/15 (65)
    • 05/01 - 05/08 (104)
    • 04/24 - 05/01 (45)
    • 04/17 - 04/24 (70)
    • 04/10 - 04/17 (134)
    • 04/03 - 04/10 (72)
    • 03/27 - 04/03 (18)
    • 03/20 - 03/27 (47)
    • 03/13 - 03/20 (68)
    • 03/06 - 03/13 (40)
    • 02/27 - 03/06 (56)
    • 02/20 - 02/27 (77)
    • 02/13 - 02/20 (76)
    • 02/06 - 02/13 (198)
    • 01/30 - 02/06 (194)
    • 01/23 - 01/30 (132)
    • 01/16 - 01/23 (196)
    • 01/09 - 01/16 (202)
    • 01/02 - 01/09 (121)
  • 2010 (2535)
    • 12/26 - 01/02 (156)
    • 12/19 - 12/26 (65)
    • 12/12 - 12/19 (73)
    • 12/05 - 12/12 (84)
    • 11/28 - 12/05 (80)
    • 11/21 - 11/28 (68)
    • 11/14 - 11/21 (63)
    • 11/07 - 11/14 (50)
    • 10/31 - 11/07 (50)
    • 10/24 - 10/31 (36)
    • 10/17 - 10/24 (58)
    • 10/10 - 10/17 (35)
    • 10/03 - 10/10 (31)
    • 09/26 - 10/03 (21)
    • 09/19 - 09/26 (26)
    • 09/12 - 09/19 (55)
    • 09/05 - 09/12 (65)
    • 08/29 - 09/05 (33)
    • 08/22 - 08/29 (70)
    • 08/15 - 08/22 (45)
    • 08/08 - 08/15 (35)
    • 08/01 - 08/08 (37)
    • 07/25 - 08/01 (27)
    • 07/18 - 07/25 (19)
    • 07/11 - 07/18 (30)
    • 07/04 - 07/11 (56)
    • 06/27 - 07/04 (28)
    • 06/20 - 06/27 (22)
    • 06/13 - 06/20 (30)
    • 06/06 - 06/13 (21)
    • 05/30 - 06/06 (5)
    • 05/16 - 05/23 (6)
    • 05/09 - 05/16 (29)
    • 05/02 - 05/09 (59)
    • 04/25 - 05/02 (28)
    • 04/18 - 04/25 (38)
    • 04/11 - 04/18 (70)
    • 04/04 - 04/11 (59)
    • 03/28 - 04/04 (65)
    • 03/21 - 03/28 (89)
    • 03/14 - 03/21 (218)
    • 03/07 - 03/14 (95)
    • 02/28 - 03/07 (135)
    • 02/21 - 02/28 (102)
    • 01/03 - 01/10 (68)
  • 2009 (1652)
    • 12/27 - 01/03 (36)
    • 12/20 - 12/27 (22)
    • 12/13 - 12/20 (100)
    • 12/06 - 12/13 (45)
    • 11/29 - 12/06 (24)
    • 11/22 - 11/29 (22)
    • 11/15 - 11/22 (19)
    • 11/08 - 11/15 (28)
    • 11/01 - 11/08 (11)
    • 10/25 - 11/01 (17)
    • 10/18 - 10/25 (38)
    • 10/11 - 10/18 (33)
    • 10/04 - 10/11 (15)
    • 09/27 - 10/04 (21)
    • 09/20 - 09/27 (7)
    • 09/13 - 09/20 (84)
    • 09/06 - 09/13 (35)
    • 08/30 - 09/06 (48)
    • 08/23 - 08/30 (118)
    • 08/16 - 08/23 (26)
    • 08/09 - 08/16 (34)
    • 08/02 - 08/09 (35)
    • 07/26 - 08/02 (31)
    • 07/19 - 07/26 (14)
    • 07/12 - 07/19 (16)
    • 07/05 - 07/12 (28)
    • 06/28 - 07/05 (26)
    • 06/21 - 06/28 (76)
    • 06/14 - 06/21 (26)
    • 06/07 - 06/14 (21)
    • 05/31 - 06/07 (43)
    • 05/24 - 05/31 (38)
    • 05/17 - 05/24 (26)
    • 05/10 - 05/17 (52)
    • 05/03 - 05/10 (15)
    • 04/26 - 05/03 (38)
    • 04/19 - 04/26 (32)
    • 04/12 - 04/19 (22)
    • 04/05 - 04/12 (20)
    • 03/29 - 04/05 (40)
    • 03/22 - 03/29 (43)
    • 03/15 - 03/22 (18)
    • 03/08 - 03/15 (14)
    • 03/01 - 03/08 (22)
    • 02/22 - 03/01 (12)
    • 02/15 - 02/22 (9)
    • 02/08 - 02/15 (11)
    • 02/01 - 02/08 (19)
    • 01/25 - 02/01 (37)
    • 01/18 - 01/25 (21)
    • 01/11 - 01/18 (33)
    • 01/04 - 01/11 (31)
  • 2008 (700)
    • 12/28 - 01/04 (13)
    • 12/21 - 12/28 (9)
    • 12/14 - 12/21 (57)
    • 12/07 - 12/14 (5)
    • 11/30 - 12/07 (18)
    • 11/23 - 11/30 (33)
    • 11/16 - 11/23 (31)
    • 11/09 - 11/16 (23)
    • 11/02 - 11/09 (18)
    • 10/26 - 11/02 (11)
    • 10/19 - 10/26 (15)
    • 10/12 - 10/19 (13)
    • 10/05 - 10/12 (25)
    • 09/28 - 10/05 (2)
    • 09/21 - 09/28 (14)
    • 09/14 - 09/21 (19)
    • 09/07 - 09/14 (43)
    • 08/31 - 09/07 (3)
    • 08/24 - 08/31 (33)
    • 08/17 - 08/24 (65)
    • 08/10 - 08/17 (4)
    • 08/03 - 08/10 (26)
    • 07/27 - 08/03 (6)
    • 07/20 - 07/27 (19)
    • 07/13 - 07/20 (18)
    • 07/06 - 07/13 (60)
    • 06/29 - 07/06 (53)
    • 06/22 - 06/29 (49)
    • 06/15 - 06/22 (11)
    • 06/08 - 06/15 (4)

Popular Posts

  • Transkultural dalam Keperawatan
    Konsep Teori Transkultural dalam Keperawatan APLIKASI TEORI TRANSCULTURAL NURSING DALAM PROSES KEPERAWATAN Rahayu Iskandar, Ners, M.Kep PEND...
  • Review Blog Keperawatan
    Setelah beberapa minggu ini cari materi buat postingan baru, mendadak dapat inspirasi setelah rekan Anton Wijaya menulis di buku tamu Keper...
  • Hubungan Usia Terhadap Perdarahan Post Partum Di RSUD
    KTI KEBIDANAN HUBUNGAN USIA TERHADAP PERDARAHAN POSTPARTUM DI RSUD BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan wanita merupakan hal yang s...
  • PATHWAY ASFIKSIA NEONATORUM
    PATHWAY ASFIKSIA NEONATORUM Klik pada gambar untuk melihat pathway Download Pathway Asfiksia Neonatorum Via Ziddu Download Askep Asfiksia N...
  • PROSES KEPERAWATAN KOMUNITAS
    PROSES KEPERAWATAN KOMUNITAS Pengertian - Proses keperawatan adalah serangkaian perbuatan atau tindakan untuk menetapkan, merencana...
  • Diagnosa Keperawatan Aktual
    Konsep Dasar Diagnosa Keperawatan Aktual BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sebagai suatu aspek yang terpenting dalam proses kepera...
  • PENGETAHUAN IBU TENTANG BIANG KERINGAT PADA BAYI 0-1 TAHUN DI BPS XXXX
    Prelevansi penyakit kulit di Indonesia cukup tinggi baik oleh bakteri, virus atau jamur. Selain itu bergantung pada lingkungan dan kondisi...
  • PATHWAY HEMATEMESIS MELENA
    Pathway Hematemesis Melena Klik pada gambar untuk melihat pathway Download Pathway Hematemesis Melena Via Ziddu
  • Ikterus
    DEFINISI Ikterus ialah suatu gejala yang perlu mendapat perhatian sungguh-sungguh pada neonatus. Ikterus ialah suatu diskolorasi kuning pa...
  • Gangguan Masalah Eliminasi ALVI
    Gangguan Masalah Eliminasi ALVI Konstipasi Konstipasi merupakan keadaan individu yang mengalami atau berisiko tinggi mengalami stasis usus b...

Statistik

© ASUHAN KEPERAWATAN 2013 . Powered by Bootstrap , Blogger templates and RWD Testing Tool Published..Gooyaabi Templates