• home

ASUHAN KEPERAWATAN

  • HOME
  • DOWNLOAD ASUHAN KEPERAWATAN
  • Cara Mendapatkan Password

Minggu, 30 Januari 2011

Gambaran proses penyembuhan luka ibu post seksio sesarea di RKB RSU

di 21.19 Label: Contoh KTI Kebidanan
BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Kemampuan pelayanan kesehatan suatu negara ditentukan dengan perbandingan rendahnya angka kematian ibu dan angka kematian perinatal. Dikemukakan bahwa kematian perinatal lebih mencerminkan kesanggupan suatu negara untuk memberikan pelayanan kesehatan. Indonesia di lingkungan ASEAN merupakan negara dengan angka kematian ibu dan perinatal tertinggi yang berarti kemampuan untuk memberikan pelayanan kesehatan masih memerlukan perbaikan yang bersifat menyeluruh yaitu 334 / 100.000 persalinan hidup (SDKI, 1998).
Diperkirakan persalinan di Indonesia setiap tahunnya sekitar 5.000.000 jiwa. Angka kematian ibu sebesar 19.500 – 20.000 setiap tahunnya atau setiap 26-27 menit 1 yang meninggal. Penyebab kematian ibu adalah pendarahan 30,5 %, infeksi 22,5 %, gestosis % dan anestesia 2,0 % (Manuaba, 1998).
Salah satu faktor penting dalam tingginya tingkat kematian maternal terutama di negara-negara berkembang adalah faktor-faktor pelayanan kesehatan, penanganan yang tepat atau kurang memadai oleh petugas kesehatan yang dilaporkan merupakan faktor yang ikut berperan dalam 11-47 % kejadian kematian maternal dinegara berkembang (Hakimi, 1996). Untuk itu diperlukan peningkatan pendidikan dan keterampilan seperti perawatan ibu selama hamil, bersalin, nifas, ataupun pelayanan bedah kebidanan. Pelayanan bedah kebidanan yang dilakukan untuk menyelesaikan persalinan yang dapat dilakukan melalui dua cara yaitu pervaginaan atau perabdominal. Pengetahuhan, keterampilan dan persiapan prabedah obstetri operatif pervaginaan tidak banyak berbeda dengan persalinan biasa, sedangkan untuk keterampilan dan persiapan obstetri operatif per abdominal memerlukan persiapan khusus, operatif per abdominal dalam lingkup kebidanan adalah Seksio Sesaria.
Seksio sesaria adalah suatu tindakan pembedahan guna melahirkan anak dengan insisi/sayatan pada dinding abdomen dan uterus. Sebelum keputusan untuk melakukan seksio sesaria diambil, pertimbangkan secara teliti indikasi dengan resiko yang mungkin terjadi (pendarahan, cedera saluran kemih/usus, dan infeksi). Pertimbangan tersebut harus berdasarkan penilaian pembedahan secara lengkap, mengacu pada syarat-syarat pembedahan dan pembiusan. Di negara-negara maju frekuensi seksio sesaria berkisar antara 1,5 % dan 7 % dari semua persalinan (Sarwono P. 1992).
Menurut statistik tentang 3.509 kasus yang disusun oleh Peel dan Chamberlain (1968) indikasi SC karena : (Sarwono P. 1992).
1. Disproponsi sefalo pelvik 21 %
2. Gawat janin 14 %
3. Placenta previa 11 %
4. Pernah seksio sesaria 11 %
5. Kelainan letak 10 %
6. Pre eklamsi 7 %

Persalinan yang terjadi di ruang Obstetri RSU Pringsewu dari bulan Januari sampai April tahun 2004 ± berjumlah 139 orang dengan berbagai jenis persalinan diantaranya secara spontan, ekstraksi vakum, letak sungsang, KPD, preeklamsi dan seksio sesaria. Perawatan luka post seksio sesaria, memerlukan perhatian khusus agar terhindar dari infeksi, karena infeksi merupakan salah satu penyebab utama kematian ibu, yaitu sekitar 20 % - 25 % (Manuaba, 1998).
Pada tahun 2002 pasien seksio sesaria di RKB RSU Pringsewu sebanyak 168 orang, yang terinfeksi ada 5 orang. Sedangkan untuk tahun 2004 ini dari bulan Januari sampai dengan bulan Mei kejadian infeksi ada 4 porang dari 78 orang jumlah pasien yang dilakukan tindakan seksio sesaria (MR. RSU Pringsewu, 2004). Menurut Sarwono (1992), idealnya luka akan sembuh dengan baik bila dilakukan perawatan dan pengobatan yang sesuai dengan program. Akan tetapi ada beberapa faktor mempengaruhi penyembuhan luka, faktor-faktor tersebut secara umum adalah usia, paritas, gizi, perawatan terhadap luka pembedahan, penyakit berat, tehnik bedah yang tidak halus dan baik, kondisi mental ibu, terkontaminasinya sayatan dan pelaksanaan operasi. (Perawatan Penyakit Dalam dan Bedah, Pusdiklat Depkes RI)
Jika dalam masa perawatan post operatif per abdominal tidak terdapat proses infeksi, dengan demikian dari perawatan bisa diperpendek atau sesuai dengan waktu, sehingga klien bisa melakukan aktifitas lebih cepat tanpa gangguan yang banyak dan biaya perawatan dapat ditekan sekecil mungkin, dan pembedahan yang direncanakan akan lebih berhasil dari pada tindakan yang terpaksa dilakukan dalam keadaan darurat (Sarwono, 2001).
Atas dasar berbagai uraian tersebut di atas, maka penulis mencoba untuk memaparkan suatu penelitian dengan harapan hasilnya dapat merupakan masukan untuk perbaikan agar penyembuhan luka dapat diperpendek, dan infeksi dari luka bedah sayat SC dapat ditekan sekecil mungkin

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas dalam latar belakang, maka dapat dirumuskan “Faktor-faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka pada Pasien SC di RKB RSU Pringsewu pada bulan Mei 2004?”

C. Ruang Lingkup Penelitian
Di dalam penelitian ini yang menjadi ruang lingkup dari penelitian faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka bedah sayat pada pasien SC adalah sebagai berikut :
1. Subyek Penelitian : Faktor-faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka
pada pasien SC.
2. Obyek Penelitian : Pasien Post SC di Ruang Kebidanan RSU Pringsewu
3. Tempat Penelitian : Ruang Kebidanan RSU Pringsewu
4. Waktu Penelitian : Setelah proposal KTI ini disetujui.

D. Tujuan Penelitan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka pada pasien SC di Ruang Kebidanan RSU Pringsewu.
2. Tujuan Khusus
a. Diperolehnya gambaram faktor usia yang mempengaruhi penyembuhan luka pada pasien SC.
b. Diperolehnya gambaran faktor paritas yang mempengaruhi penyembuhan luka pada pasien SC.
c. Diperolehnya gambaran faktor gizi yang mempengaruhi penyembuhan luka pada pasien SC.
d. Diperolehnya gambaran faktor perawatan luka yang mempengaruhi penyembuhan luka pada pasien SC.
e. Diperolehnya gambaran faktor penyakit yang diderita mempengaruhi penyembuhan luka pada pasien SC.
f. Diperolehnya gambaran faktor jenis jahitan yang mempengaruhi penyembuhan luka pada pasien SC.
g. Diperolehnya gambaran faktor indikasi SC yang mempengaruhi penyembuhan luka.

E. Manfaat Penelitian
1. Manfaat bagi tampat penelitan
Hasil penelitan dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi tenaga kesehatan yang bertugas diruang kebidanan RSU Pringsewu, sehingga dapat meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan tentang perawatan pasien Post SC.
2. Manfaat bagi institusi pendidikan kebidanan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan atau masukan untuk melakukan penelitian yang berkaitan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka pada pasien SC.
3. Manfaat bagi peneliti
Sebagai penerapan dari perkuliahan metode penelitian yang didapat di Politeknik Kesehatan Program Study Kebidanan Metro.

Read More

Gambaran pola makan ibu hamil di BPS

di 21.18 Label: Contoh KTI Kebidanan
BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Prioritas pembangunan kesehatan Indonesia pada tahun 2005-2009 salah satunya diutamakan pada upaya-upaya kesehatan ibu dan anak, dimana program perbaikan gizi menjadi salah satu program unggulannya (Komunitas AIDS Indonesia, 2008). Hal ini dikarenakan masih tingginya angka kematian bayi dan ibu merupakan akibat masalah gizi kronis (Kesrepro, 2008).
Masalah kurang gizi pada ibu hamil telah terjadi sejak lama di Indonesia. Kekurangan asupan gizi pada ibu hamil selama kehamilan berdampak pada tingginya angka kejadian anemia pada ibu hamil yang dapat mengakibatkan sering terjadi perdarahan saat persalinan, eklampsia (keracunan kehamilan) dan bayi yang dilahirkan berat badannya rendah (BBLR), selain dapat meningkatkan angka kematian ibu dan bayi (Yayu, 2008).
Angka kematian ibu (AKI) adalah gambaran status kesehatan dan status gizi di suatu negara. AKI di Indonesia pada tahun 2007 tercatat 248 per 100.000 kelahiran hidup (Komunitas AIDS Indonesia, 2008). Provinsi Lampung tercatat 117 kasus (Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, 2008). Jumlah AKI di kabupaten Lampung Tengah mencapai 15 orang per 18.783 angka kelahiran hidup (Din.Kes Lampung Tengah, 2008).
Salah satu penyebab tingginya kematian ibu karena masih tingginya prevalensi anemia gizi pada ibu hamil di Indonesia yaitu 70% atau 7 dari 10 wanita hamil menderita anemia gizi. Jumlah ibu hamil di Lampung yang didata saat ini sekitar 200.000 orang dan sebanyak 69,7% di antaranya menderita anemia gizi akibat kekurangan asupan zat bergizi ke dalam tubuh. Ibu hamil dalam kondisi seperti itu mengakibatkan di Indonesia rata-rata setiap tahunnya lahir 350.000 bayi dalam kondisi berat badan rendah (BBLR). BBLR merupakan salah satu penyebab tingginya angka kematian bayi di Indonesia (Kompas, 2005).
Kehamilan merupakan perubahan fisiologis yang menyebabkan peningkatan kebutuhan nutrisi untuk memenuhi kebutuhan ibu dan janin yang dikandung. Kebanyakan negara berkembang kehamilan dapat diperburuk oleh kekurangan nutrisi. Tingginya jumlah ibu di Indonesia yang mengalami kekurangan nutrisi dikarenakan pola makan belum seimbang yang meliputi jenis, jumlah dan frekuensi makan yang dikonsumsi. Ketidakseimbangan pola makan dipengaruhi oleh masalah pemilihan pangan di rumah tangga, daya beli dalam suatu rumah tangga serta distribusi pangan yang belum memadai (Suara Pembaruan Dialy, 2008). Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa status gizi ibu hamil mempunyai pengaruh yang bermakna terhadap pertumbuhan dan perkembangan janin yang dikandung. Penerapan pola makan yang seimbang bagi ibu hamil sangat penting agar dapat mencukupi kebutuhan ibu dan janin yang dikandung (Patimah, 2008).
Menurut data pra survey di BPS Dwi Sri Isnawati Kecamatan Punggur Kabupaten Lampung Tengah dari bulan Januari-Maret 2008 terdapat 36 ibu hamil, dari 10 ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya terdapat 3 orang yang mengalami kenaikan berat badan tidak sesuai dengan standar Body Mass Index (BMI). BMI menekankan pada perbandingan berat badan dalam kilogram dengan 2 kali tinggi badan dalam meter (Primana, 2008). Kenaikan berat badan ibu hamil dapat digunakan sebagai indeks untuk menentukan status gizi wanita hamil, karena terdapat kesamaan dalam jumlah kenaikan berat badan diwaktu hamil pada semua ibu hamil (Soetjiningsih, 1995).
Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian mengenai gambaran hubungan kenaikan berat badan ibu hamil dengan pola makan di BPS Dwi Sri Isnawati Kecamatan Punggur Kabupaten Lampung Tengah.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian masalah pada latar belakang di atas, maka penulis merumuskan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah gambaran pola makan ibu hamil di BPS Dwi Sri Isnawati Kecamatan Punggur Kabupaten Lampung Tengah ?”

C. Ruang Lingkup Penelitian
Dalam penelitian ini penulis membatasi ruang lingkup penelitian sebagai berikut :
1. Jenis penelitian : Deskriptif
2. Subjek penelitian : Seluruh ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya
di BPS Dwi Sri Isnawati Kecamatan Punggur
Kabupaten Lampung Tengah
3. Objek penelitian : Gambaran pola makan ibu hamil
4. Lokasi penelitian : BPS Dwi Sri Isnawati Kecamatan Punggur
Kabupaten Lampung Tengah
5. Waktu penelitian : Setelah proposal disetujui (Mei-Juni 2008)

D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk diketahui gambaran pola makan ibu hamil di BPS Dwi Sri Isnawati Kecamatan Punggur Kabupaten Lampung Tengah.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui gambaran pola makan ibu hamil berdasarkan jenis makanan di BPS Dwi Sri Isnawati Kecamatan Punggur Kabupaten Lampung Tengah
b. Mengetahui gambaran pola makan ibu hamil berdasarkan jumlah makanan di BPS Dwi Sri Isnawati Kecamatan Punggur Kabupaten Lampung Tengah
c. Mengetahui gambaran pola makan ibu hamil berdasarkan frekuensi makan di BPS Dwi Sri Isnawati Kecamatan Punggur Kabupaten Lampung Tengah

E. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi :
1. Peneliti
Penerapan ilmu yang telah didapat selama kuliah khususnya mata ajaran metodologi penelitian dan menambah wawasan tentang gambaran hubungan kenaikan berat badan ibu hamil dengan pola makan
2. BPS Dwi Sri Isnawati
Menjadi masukan bagi bidan untuk menggalakkan kegiatan deteksi dini ibu hamil dengan resiko tinggi dalam rangka peningkatan mutu pelayanan antenatal
3. Institusi Pendidikan Program Studi Kebidanan Metro
Untuk dapat digunakan sebagai bahan studi pustaka.

Read More

Gambaran pertolongan persalinan yang dilakukan oleh dukun tidak terlatih di wilayah puskesmas pembantu

di 21.17 Label: Contoh KTI Kebidanan
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Persalinan merupakan kejadian fisiologis yang prosesnya dapat berjalan dengan aman jika penolong persalinan dapat memantau persalinan untuk mendeteksi dini terjadinya komplikasi. Pertolongan persalinan oleh dukun di negara-negara berkembang masih tinggi yaitu sebanyak 80%. Hal ini tidak sedikit menimbulkan masalah karena mereka bekerja tidak berdasarkan ilmiah, pengetahuan mereka tentang fisiologi dan patologi pada persalinan juga masih sangat terbatas sehingga mereka tidak mengenal tindakan antiseptik yang dapat mengakibatkan tingginya angka kematian bayi (Prawirohardjo, 2005).
Kematian bayi khususnya neonatal berdasarkan penelitian WHO di seluruh dunia sebesar 10.000.000 jiwa per tahun. Hal ini menunjukkan bahwa angka kematian bayi baru lahir masih sangat tinggi. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia ( SDKI ) 2002/2003 menunjukkan bahwa angka kematian bayi baru lahir (neonatal) masih berada dalam kisaran 20 per 1000 kelahiran hidup. Sasaran yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia untuk tahun 2010 salah satunya adalah menurunkan angka kematian neonatal menjadi 15 per 1000 kelahiran hidup (Saifudin, 2002).
Jumlah angka kematian bayi baru lahir di Provinsi Lampung pada tahun 2005 dan 2006 relatif masih tinggi, tetapi mengalami penurunan yaitu dari 1.067 kasus menjadi 861 kasus. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung mengatakan bahwa angka kematian bayi baru lahir 45 dari 1000 kehamilan (Ekameini, 2007).
Kebijakan Departemen Kesehatan untuk mempercepat penurunan Angka Kematian Bayi (AKB) salah satunya adalah penempatan bidan di desa sejumlah 54.120 sejak tahun 1989-1997. Hal ini dilaksanakan karena kesadaran masyarakat untuk bersalin pada bidan masih sangat rendah sehingga dalam lingkungannya dukun merupakan tenaga terpercaya untuk menolong persalinan (Saifudin, 2002).
Pertolongan persalinan oleh dukun menurut WHO relatif masih tinggi yaitu sekitar 70% sampai 80% (Manuaba, 1998). Di Indonesia pertolongan persalinan yang ditolong oleh dukun bayi sebesar 40%(Djaja, 2003), sedangkan di Provinsi Lampung angka persalinan oleh dukun bayi sebesar 20,73% (SDKI, 2002-2003). Data Puskesmas Pembantu Mengandung Sari Lampung Timur tahun 2007 menunjukkan bahwa jumlah dukun bayi sebanyak 20 orang yang terdiri dari 5 orang dukun bayi terlatih dan 15 orang dukun bayi tidak terlatih. Persalinan oleh dukun sebanyak 48 persalinan (60%) dari 80 jumlah persalinan, antara lain ditolong oleh dukun terlatih sebanyak 20 (25%) dan dukun tidak terlatih sebanyak 28 (35%). Jumlah angka kematian bayi baru lahir sebesar 16 (20%), yaitu terdiri dari bayi lahir mati yang ditolong oleh tenaga kesehatan adalah 2 (2,5%), oleh dukun terlatih adalah 5 (6,25%), dan oleh dukun tidak terlatih adalah 9 (11,25%) (Puskesmas pembantu Mengandung Sari, 2007).
Pertolongan persalinan oleh dukun menimbulkan berbagai masalah dan penyebab tingginya angka kematian dan kesakitan bayi baru lahir. Dapat dipahami bahwa dukun tidak dapat mengetahui tanda-tanda bahaya perjalanan persalinan akibatnya terjadi pertolongan persalinan yang tidak adekuat. Hal ini merupakan salah satu penyebab tidak langsung kematian bayi baru lahir karena dapat menyebabkan bayi baru lahir meninggal karena asfiksia dan infeksi (Manarosana, 2007). Penyebab langsung kematian bayi di Indonesia diantaranya asfiksia (27%), Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) (29%), Tetanus Neonatorum (10%), masalah pemberian makanan (10%), Gangguan hematologik (6%), dan infeksi (5%) (Depkes,2007).
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung mengatakan bahwa penyebab kematian bayi terbesar juga karena asfiksia dan tetanus neonatorum berjumlah 29 kasus (37%), dan BBLR berjumlah 21 kasus (27%) (Ekameini, 2007). Asfiksia, infeksi, BBLR, dan trauma persalinan merupakan akibat dari pertolongan persalinan oleh dukun yang tidak adekuat. Infeksi pada bayi baru lahir sebagai penyebab kematian neonatal masih banyak dijumpai. Infeksi pada bayi baru lahir disebabkan oleh pertolongan persalinan oleh dukun bayi yang belum mengerti tentang konsep bersih dan aman dalam menolong persalinan (Depkes RI,1992).
Pertolongan persalinan oleh dukun yang menyebabkan kematian bayi baru lahir terjadi karena tidak diterapkannya prinsip 3 bersih pada persalinan dan kurangnya keterampilan dukun dalam melakukan pertolongan persalinan. Faktor yang mempengaruhi kematian ibu dan bayi menurut Menteri Kesehatan salah satunya adalah kemampuan dan keterampilan penolong persalinan, kenyataannya 24% pertolongan persalinan masih dilakukan oleh dukun bayi dengan cara tradisional sehingga dapat membahayakan ibu dan bayinya (Fadilah, 2007). Contoh kasus persalinan yang kerap terjadi diantaranya kepala bayi sudah keluar tetapi badan belum bisa keluar atau macet. Hal ini disebabkan karena cara memijat dukun bayi yang kurang profesional dan hanya berdasarkan pengalaman (Yanti, 2004).
Hasil penelitian tentang pengetahuan dukun terlatih tentang 3 bersih dalam pertolongan persalinan di Desa Bumi Nabung Utara Kecamatan Bumi Nabung Lampung Tengah pada tahun 2007 didapatkan bahwa pengetahuan dukun tentang prinsip 3 bersih dalam melakukan pertolongan persalinan 34,61% dikategorikan kurang baik (Rina, 2007). Pengetahuan dukun tentang prinsip 3 bersih yang kurang menyebabkan dukun tidak menerapkan prinsip 3 bersih tersebut pada persalinan sehingga mengakibatkan tingginya kejadian infeksi khususnya pada Bayi Baru Lahir yang merupakan salah satu penyebab kematian bayi baru lahir.
Berdasarkan uraian di atas peneliti tertarik ingin mengetahui gambaran pertolongan persalinan yang dilakukan oleh dukun tidak terlatih di wilayah Puskesmas Pembantu Mengandung Sari Lampung Timur Tahun 2008.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada penelitian ini berdasarkan uraian pada latar belakang di atas adalah “ Bagaimanakah gambaran pertolongan persalinan yang dilakukan oleh dukun tidak terlatih di wilayah Puskesmas Pembantu Mengandung Sari Lampung Timur?”.

C. Ruang Lingkup Penelitian
1. Jenis penelitian : Deskriptif
2. Objek penelitian : Gambaran pertolongan persalinan yang dilakukan oleh dukun tidak terlatih.
3. Subjek penelitian : Dukun bayi yang tidak terlatih
4. Tempat penelitian : Wilayah kerja puskesmas pembantu Mengandung Sari Lampung Timur
5. Waktu penelitian : 2-15 Juni 2008

D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran pertolongan persalinan yang dilakukan oleh dukun tidak terlatih di wilayah Puskesmas Pembantu Mengandung Sari Lampung Timur tahun 2008
2. Tujuan khusus
a. Untuk mengetahui gambaran pertolongan persalinan yang dilakukan oleh dukun bayi tidak terlatih di tinjau dari penerapan prinsip 3 bersih oleh dukun.
b. Untuk mengetahui gambaran pertolongan persalinan yang dilakukan oleh dukun bayi tidak terlatih di tinjau dari keterampilan dukun bayi dalam menolong persalinan yang aman.

E. Manfaat Penelitian
1. Bagi Tenaga Kesehatan di Puskesmas
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan dalam rangka meningkatkan cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dan membuat program pelatihan dukun dalam rangka menurunkan angka kematian bayi baru lahir di Desa Mengandung Sari Lampung Timur.
2. Bagi Dukun
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai tambahan pengetahuan dukun tentang pertolongan persalinan yang aman dan penyebab pertolongan persalinan yang tidak aman setelah mendapat pelatihan oleh tenaga kesehatan sehingga diharapkan dapat membantu menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB).
3. Bagi Institusi Prodi Kebidanan Metro
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan untuk memperluas wawasan mahasiswi jurusan kebidanan, khususnya Politeknik Kesehatan Tanjungkarang Program Studi Kebidanan Metro.

Read More

asuhan keperawatan hernia

di 17.01 Label: Askep
A. DEFINISI
• Hernia adalah suatu benjolan/penonjolan isi perut dari rongga normal melalui lubang kongenital atau didapat(1)
• Hernia adalah penonjolan usus melalui lubang abdomen atau lemahnya area dinding abdomen (3).
• Hernia Is the abnormal protrusion of an organ, tissue, of part of an organ through the structure that normally cotains it (1).
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa hernia adalah penonjolan dari isi perut dalam rongga normal melalui lubang yang kongenital ataupun didapat
Jenis hernia
 Diberikan nama menurut letaknya,misal diafragma, inguinal, femoralis, umbilikais, scrotalis
 Hernia terdiri dari cincin,kantog dan isi hernia
Berdasarkan sifatnya dibedakan:
 Hernia reponibel
Bila isi hernia dapat keluar masuk,usus keluar bila berdiri atau mengejan dan dapat masuk kembali.
 Hernia irreponibel
Bila isi hernia tidak dapat dikembalikan ke dalam rongga abdomen
Bila isi hernia terjepit oleh cincin hernia disebut HERNIA INCARSERATA.
Klasifikasi Hernia Berdasarkan Arah Herniasi
• Hernia Eksterna(Penonjolannya dapat dilihat dari luar):
a. Hernia Inguinalis Medialis dan Lateralis
b. Hernia Femoralis
c. Hernia Umbilicus
d. Hernia Epigastrica
e. Hernia Lumbalis
f. Hernia Obturatoria
g. Hernia Semilunaris
h. Hernia Perinealis
i. Hernia Ischiadica
• Hernia Interna
Bila isi hernia masuk ke dalam rongga lain, misalnya cavum thorax, cavum abdomen :
a. Hernia Epiploici Winslowi : Herniasi viscera abdomen melalui foramen omentale
b. Hernia Bursa Omentalis
c. Hernia Mesenterica
d. Hernia Retroperitonealis
e. Hernia Diafragmatic

B. ANATOMI FISIOLOGI

Fungsi usus halus adalah mencerna dan mengabsorpsi khime dari lambung.
Fungsi usus besar :usus besar tidak ikut serta dalam pencernaan atau absorpsi makanan.Bila isi usus halus mencapai sekum maka semua zat makanan telah diabsorpsi dan isinya cair.

C. ETIOLOGI
a) Kongenital
Prosesus vaginalis yang tetap terbuka pada HIL
b) Peningkatan tekanan intra abdomen
Batuk kronis,menangis,mengejan

Hernia dapat terjadi karena ada sebagian dinding rongga lemah. Lemahnya dinding ini mungkin merupakan cacat bawaan atau keadaan yang didapat sesudah lahir, contoh hernia bawaan adalah hermia omphalokel yang terjadi karena sewaktu bayi lahir tali pusatnya tidak segera berobliterasi (menutup) dan masih terbuka. Demikian pula hernia diafragmatika. Hernia dapat diawasi pada anggota keluarga misalnya bila ayah menderita hernia bawaan, sering terjadi pula pada anaknya.
Pada manusia umur lanjut jaringan penyangga makin melemah, manusia umur lanjut lebih cenderung menderita hernia inguinal direkta. Pekerjaan angkat berat yang dilakukan dalam jangka lama juga dapat melemahkan dinding perut

D. GEJALA KLINIS
1. Menangis terus
2. Muntah
3. Distensi abdomen
4. Feces berdarah
5. Nyeri bila sudah ditemukan komplikasi
6. Benjolan yang hilang timbul di paha yang muncul pada waktu berdiri, batuk, bersin, atau mengedan dan menghilang setelah berbaring
7. Gelisah, kadang-kadang perut kembung
8. Konstipasi
9. Tidak ada flatus
E. PATOFISIOLOGI
Pemijatan ke arah atas dapat menyebabkan isi benjolan tersebut pecah atau membengkak, sehingga menyebabkan keadaan berbahaya. Hernia dilipat paha pada umumnya memerlukan tindakan operasi. Biasanya luka operasi akan sembuh dalam beberapa hari saja.
Infeksi akibat hernia menjadikan penderita merasakan nyeri yang hebat dan infasi tersebut akhirnya menjalar dan meracuni seluruh tubuh. Jika sudah terjadi keadaan seperti itu, maka harus sangat ditangani dan dokter karena dapat mengancam nyawa penderita.
Hernia dapat berbahaya bila sudah terjadi jepitan isi hernia atau cincin hernia. Pembuluh darah di daerah tersebut lama kelamaan akan mati dan akan terjadi penimbunan racun. Jika dibiarkan terus, maka racun tersebut akan menyebar ke seluruh darah perut sehingga dapat menyebabkan terjadi infeksi di dalam tubuh.

G. PENATALAKSANAAN
Pencegahan
Kelainan kongenital yang menyebabkan hernia memang tidak dapat dicegah, namun langkah-langkah berikut ini dapat mengurangi tekanan pada otot-otot dan jaringan abdomen:
• Menjaga berat badan ideal. Jika anda merasa kelebihan berat badan, konsultasikan dengan dokter mengenai program latihan dan diet yang sesuai
• Konsumsi makanan berserat tinggi. Buah-buahan segar, sayur-sayuran dan gandum baik untuk kesehatan. Makanan-makanan tersebut kaya akan serat yang dapat mencegah konstipasi.
• Mengangkat benda berat dengan hati-hati atau menghindari dari mengangkat benda berat. Jika harus mengangkat benda berat, biasakan untuk selalu menekuk lutut dan jangan membungkuk dengan bertumpu pada pinggang.
• Berhenti merokok. Selain meningkatkan resiko terhadap penyakit-penyakit serius seperti kanker dan penyakit jantung, merokok seringkali menyebabkan batuk kronik yang dapat menyebabkan hernia inguinalis.
Pengobatan
1. Konservatif
Pengobatan konservatif terbatas pada tindakan melakukan reposisi dan pemakaian penyangga atau penunjang untuk mempertahankan isi hernia yang telah direposisi.
2. Operatif
Pengobatan operatif merupakan satu-satunya pengobatan hernia inguinalis yang rasional. Indikasi operasi sudah ada begitu diagnosis ditegakkan. Prinsip dasar operasi hernia adalah hernioraphy, yang terdiri dari herniotomi dan hernioplasti.

a. . Herniotomi
Pada herniotomi dilakukan pembebasan kantong hernia sampai ke lehernya. Kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan kalau ada perlekatan, kemudian direposisi, kantong hernia dijahit-ikat setinggi mungkin lalu dipotong.
b. Hernioplasti
Pada hernioplasti dilakukan tindakan memperkecil anulus inguinalis internus dan memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis. Hernioplasti lebih penting artinya dalam mencegah terjadinya residif dibandingkan dengan herniotomi. Dikenal berbagai metode hernioplasti seperti memperkecil anulus inguinalis internus dengan jahitan terputus, menutup dan memperkuat fasia transversa, dan menjahitkan pertemuan m. tranversus internus abdominis dan m. oblikus internus abdominis yang dikenal dengan nama conjoint tendon ke ligamentum inguinale poupart menurut metode Bassini, atau menjahitkan fasia tranversa m. transversus abdominis, m.oblikus internus abdominis ke ligamentum cooper pada metode Mc Vay. Bila defek cukup besar atau terjadi residif berulang diperlukan pemakaian bahan sintesis seperti mersilene, prolene mesh atau marleks untuk menutup defek


II. KONSEP DASAR ASKEP
A. PENGKAJIAN
• Aktivitas/istirahat
• Gejala :
-Riwayat pekerjaan yang perlu mengangkat berat, duduk, mengemudi dan waktu lama
- membutuhkan papan/matras yang keras saat tidur
- Penurunan rentang gerak dan ekstremitas pada salah satu bagian tubuh
- Tidak mampu melakukan aktivitas yang biasanya dilakukan.
• Tanda : Atrofi otot pada bagian tubuh yang terkena gangguan dalam berjalan
• Eliminasi
• Gejala : konstipasi dan adanya inkartinensia/retensi urine
Integritas Ego
• Gejala : ketakutan akan timbulnya paralisis, ansietas, masalah pekerjaan finansial keluarga
• Tanda : tampak cemas, depresi, menghindar dari keluarga
Neurosensori
• Gejala : kesemutan, kekakuan, kelemahan dari tangan/kaki
• Tanda : penurunan reflek tendon dalam, kelemahan otot, hipotonia.
• Nyeri tekan/spasme otot paravertebralis, penurunan persepsi nyeri
Kenyamanan
• Gejala : nyeri seperti tertusuk pisau, yang akan semakin memburuk dengan adanya batuk, bersin, defekasi, nyeri yang tidak ada hentinya, nyeri yang menjalar ke kaki, bokong, bahu/lengan, kaku pada leher.
• Post Operasi
Status Pernapasan
- Frekuensi, irama dan ke dalaman
- Bunyi napas
- Efektifitas upaya batuk
Status Nutrisi
- Status bising usus, mual, muntah
Status Eliminasi
- Distensi abdomen pola BAK/BAB
Kenyamanan
- Tempat pembedahan, jalur invasif, nyeri, flatus
Kondisi Luka
- Keadaan/kebersihan balutan
- Tanda-tanda peradangan
- drainage
Aktifitas
- Tingkat kemandirian dan respon terhadap aktivitas

2. Pemeriksaan penunjang
a. Sinar X abdomen menunjukkan abnormalnya kadar gas dalam usus/ obstruksi usus.
b. Hitung darah lengkap dan serum elektrolit dapat menunjukkan hemokonsentrasi (peningkatan hemotokrit), peningkatan sel darah putih
dan ketidak seimbangan elektrolit.

B. DIAKNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri (akut) berhubungan dengan insisi bedah
2. Risiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan hemoragi
3. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan primer
4. Risiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan mencerna/makan-makanan
5. Ketakutan/ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan
6. Pola pernapasan tak efektif berhubungan dengan ekspansi paru
7. Intelorensi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum

C. INTERVENSI KEPERAWATAN
Dx 1 Nyeri (akut) berhubungan dengan insisi bedah
Tujuan :Setelah diberikan askep selama…..x24 jm diharapkan nyeri dapat berkurang.
KH :
• Pasien mengatakan nyeri berkurang
• Pasien tampak rilex
• Skala nyeri 3
• Nadi:80-100 x/mnt
Intervensi dan Rasional
1. Selidiki keluhan nyeri, perhatikan lokasi, intensitas (skala 0 – 10) dan faktor pemberat/penghilang
R/ Nyeri insisi bermakna pada pasca operasi awal, diperberat oleh pergerakan, batuk, distensi abdomen, mual.
2. Anjurkan pasien untuk melaporkan nyeri segera saat mulai.
R/ Intervensi diri pada kontrol nyeri memudahkan pemulihan otot/jaringan dengan menurunkan tegangan otot dan memperbaiki sirkulasi
3. Pantau tanda-tanda vital
R/ Respon autonemik meliputi perubahan pada TD, nadi dan pernapasan yang berhubungan dengan keluhan/penghilang nyeri. Abnormalitas tanda vital terus menerus memerlukan evaluasi lanjut
4. Kaji insisi bedah, perhatikan edema ; perubahan konter luka (pembentukan hematoma) atau inflamasi mengeringnya tepi luka.
R/ Perdarahan pada jaringan, bengkak, inflamasi lokal atau terjadinya infeksi dapat menyebabkan peningkatan nyeri insisi
5. Berikan tindakan kenyamanan, misal gosokan punggung, pembebatan insisi selama perubahan posisi dan latihan batuk/bernapas, lingkungan tenang.
R/ Memberikan dukungan relaksasi, memfokuskan ulang perhatian, meningkatkan rasa kontrol dan kemampuan koping.
6. Berikan analgesik sesuai terapi
R/ Mengontrol/mengurangi nyeri untuk meningkatkan istirahat dan meningkatkan kerjasama dengan aturan terapeutik

Dx 2 Risiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan hemoragi
Tujuan :Setelah diberikan askep selama….x24 jam diharapkan volume cairan bisa terpenuhi

KH :
• Cairan terpenuhi
• Px membaik
• Ekspresi wajah rileks
• TTv normal
Intervensi dan Rasional
1. Pantau tanda-tanda vital dengan sering, perhatikan peningkatan nadi, perubahan TD postural, takipnea, dan ketakutan. Periksa balutan dan luka dengan sering selama 24 jam terhadap tanda-tanda darah merah terang atau bengkak insisi berlebihan
R/ Tanda-tanda awal hemorasi usus dan/ atau pembentukan hematoma yang dapat menyebabkan syok hipovotemik
2. Palpasi nadi perifer. Evaluasi pengisian kapiler, turgor kulit, dan status membran mukosa.
R/ Memberikan informasi tentang volume sirkulasi umum dan tingkat dehidrasi
3. . Perhatikan adanya edema
R/ . Edema dapat terjadi karena pemindahan cairan berkenaan dengan penurunan kadar albumen serum/protein
4. Pantau masukan dan haluaran (mencakup semua sumber : misal emesis, selang, diare), perhatikan haluaran urine
R/ Indikator langsung dari hidrasi/perjusi organ dan fungsi. Memberikan pedoman untuk penggantian cairan
5. Pantau suhu
R/ Demam rendah umum terjadi selama 24 – 48 jam pertama dan dapat menambah kehilangan cairan
6. Tinjau ulang penyebab pembedahan dan kemungkinan efek samping pada keseimbangan cairan.
R/ . Mengeksaserbasi cairan dan kehilangan elektrolit
7. Berikan cairan, darah, albumin, elektrolit sesuai indikasi.
R/ Mempertahankan volume sirkulasi dan keseimbangan elektrolit.

Dx 3 Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan primer
Tujuan :Setelah diberikan askep selama….x24 jamdiharapkan tidak adanya infeksi

KH :
• Tidak adanya infeksi
• TTV kembali normal
• Px membaik
• Ekspresi wajah rileks
Intervensi dan Rasional
1. Pantau tnda-tanda vital, perhatikan peningkatan suhu
R/ Suhu malam hari memuncak yang kembali ke normal pada pagi hari adalah karakteristik infeksi.
2. Observasi penyatuan luka, karakter drainase, adanya inflamasi
R/ Perkembangan infeksi dapat memperlambat pemulihan
3. Observasi terhadap tanda/gejala peritonitas, misal : demam, peningkatan nyeri, distensi abdomen
R/ Meskipun persiapan usus dilakukan sebelum pembedahan elektif, peritonitas dapat terjadi bila susu terganggu. Misal : ruptur pra operasi, kebocoran anastromosis (pasca operasi) atau bila pembedahan adalah darurat/akibat dari luka kecelakaan
4. Pertahankan perawatan luka aseptik, pertahankan balutan kering
R/ . Melindungi pasien dari kontaminasi silang selama penggantian balutan. Balutan basah sebagai sumbu retrogad, menyerap kontaminasi eksternal.
5. Berikan obat-obatan sesuai indikasi :
Antibiotik, misal : cefazdine (Ancel)
R/ Diberikan secara profilaktik dan untuk mengatasi infeksi

D. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
1. Melakukan pendekatan pada px dan keluarga
2. Mengkaji factor yang mempengaruhi kemampuan untuk mencerna makanan
3. Memberi penjelasan pada px dan keluarga tentang pentingnya kebutuhan nutrisi bagi tubuh
4. Berkolaborasi dengan tim medis

E. EVALUSI KEPERAWATAN
S = Keluhan px yang dirasakan saat itu
O = Keadaan umum yang ada saat itu
A=
• Masalah sudah teratasi jika KH sudah teratasi
• Masalah belum teratasi jika KH belum teratasi
• Masalah teratasi sebagian jika KH teratasi sebagian
P =
• Itervensi dilanjutkan jika masalah belum teratasi
• Intervensi dilajutkan jika masalah teratasi sebagian
• Intervensi dihentikan jika masalah teratasis

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Ada banyak macam dan jenis hernia,tetapi yang sebenarnya pemberian nama pada setiap hernia dibuat menurut letaknya.Hernia yang belum parah dan benjolannya masih bisa dimasukkan kembali,tetapi hernia yang sudah parah dan terjepit oleh cincin hernia maka benjolannya tidak bisa dimasukkan kembali dan disebut dengan hernia INCARSERATA.

SARAN
Berbagai macam penyakit yang sering kali muncul tanpa kita sadari,oleh karena itu segeralahperiksa ke dokter apabila ada benjolan,karena kemungkinan itu adalah hernia.

DAFTAR PUSTAKA

Fakultas Kedokteran UI.2000.Kapita Selekta Kedok edisi 2.Jakarta Media Aesculapius
Read More

Perpindahan Zat Zat Intravaskuler Melewati Dinding Kapiler Dengan Cara Difusi

Tidak ada komentar : di 12.31 Label: terapi cairan perioperatif
Perpindahan zat zat dari intravaskular melewati dinding kapiler debgan cara difusi, vesicular transport, dan bulk transport. cara difusi misalnya oksigen, karbon dioksida, glukosa, amonium, dan lain lain, kecuali proteindan molekul besar lainnya. vesicular transport (endositosis, eksositosis) misalnya molekul molekul besar, lipit terlarut misalnya antibody. "bulk transport" adalah filtrasi dan absorbsi, seperti yang terjadi pada sistem glomerolus dan tubulus ginjal. ruang interstitial dipisahkan dari ruang intraseluler oleh membran sel. zat zat dapat melewati membran sel dengan proses pasif dan proses aktif
Read More

Kapiler Jenis Endotel Kontinyu

Tidak ada komentar : di 12.09 Label: terapi cairan perioperatif
Kapiler jenis endotel kontinyu, berlubang, atau tidak kontinyu sangat selektif menahan protein plasma, permeabel terhadap protein plasma, permeabel terhadap air dan ion. jenis tidak kontinyu juga sangat permeabel terhadap protein plasma. kapiler dengan jenis endotel kontinyu, endotel tersusun rapat , terdapat pada jaringan otak, otot, subkutan, paru, jantung, ginjal. jenis berlubang terdapat pada kapiler glomerulus, gastrointestinal dan jenis tidak kontinyu terdapat pada hepar , limpa dan beberapa kelenjar.
Read More

Hubungan Antar Kompartemen

Tidak ada komentar : di 08.20 Label: terapi cairan perioperatif
Ruang intravaskular dipisahkan dari ruang interstitial oleh membran kapiler bersifat permeabel terhadap air, elektrolit dan molekul molekul kecil, yang dalam keadaan normal tidak permeable terhadap protein, albumin dan molekul besar. struktur dinding kapiler berbeda beda pada masing masing jaringan tertentu. struktur membran (endotel) kapiler tersusun kontinu (kontinous), berlubang (fenestrated) atau discontinous.
Read More
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Langganan: Postingan ( Atom )
 photo banner300x250-biru.gif

Blog Archive

  • 2016 (1)
    • 09/18 - 09/25 (1)
      • PENGETAHUAN IBU TENTANG BIANG KERINGAT PADA BAYI 0...
  • 2015 (10)
    • 10/11 - 10/18 (1)
    • 09/13 - 09/20 (1)
    • 09/06 - 09/13 (1)
    • 07/05 - 07/12 (1)
    • 05/17 - 05/24 (6)
  • 2014 (1)
    • 04/13 - 04/20 (1)
  • 2012 (770)
    • 02/19 - 02/26 (5)
    • 02/12 - 02/19 (10)
    • 02/05 - 02/12 (4)
    • 01/29 - 02/05 (27)
    • 01/22 - 01/29 (88)
    • 01/15 - 01/22 (101)
    • 01/08 - 01/15 (169)
    • 01/01 - 01/08 (366)
  • 2011 (4477)
    • 12/25 - 01/01 (336)
    • 12/18 - 12/25 (62)
    • 12/11 - 12/18 (70)
    • 12/04 - 12/11 (77)
    • 11/27 - 12/04 (40)
    • 11/20 - 11/27 (67)
    • 11/13 - 11/20 (198)
    • 11/06 - 11/13 (187)
    • 10/30 - 11/06 (340)
    • 10/23 - 10/30 (32)
    • 10/16 - 10/23 (109)
    • 10/09 - 10/16 (80)
    • 08/14 - 08/21 (75)
    • 08/07 - 08/14 (81)
    • 07/31 - 08/07 (82)
    • 07/24 - 07/31 (65)
    • 07/17 - 07/24 (91)
    • 07/10 - 07/17 (47)
    • 07/03 - 07/10 (44)
    • 06/26 - 07/03 (53)
    • 06/19 - 06/26 (59)
    • 06/12 - 06/19 (47)
    • 06/05 - 06/12 (65)
    • 05/29 - 06/05 (63)
    • 05/22 - 05/29 (77)
    • 05/15 - 05/22 (115)
    • 05/08 - 05/15 (65)
    • 05/01 - 05/08 (104)
    • 04/24 - 05/01 (45)
    • 04/17 - 04/24 (70)
    • 04/10 - 04/17 (134)
    • 04/03 - 04/10 (72)
    • 03/27 - 04/03 (18)
    • 03/20 - 03/27 (47)
    • 03/13 - 03/20 (68)
    • 03/06 - 03/13 (40)
    • 02/27 - 03/06 (56)
    • 02/20 - 02/27 (77)
    • 02/13 - 02/20 (76)
    • 02/06 - 02/13 (198)
    • 01/30 - 02/06 (194)
    • 01/23 - 01/30 (132)
    • 01/16 - 01/23 (196)
    • 01/09 - 01/16 (202)
    • 01/02 - 01/09 (121)
  • 2010 (2535)
    • 12/26 - 01/02 (156)
    • 12/19 - 12/26 (65)
    • 12/12 - 12/19 (73)
    • 12/05 - 12/12 (84)
    • 11/28 - 12/05 (80)
    • 11/21 - 11/28 (68)
    • 11/14 - 11/21 (63)
    • 11/07 - 11/14 (50)
    • 10/31 - 11/07 (50)
    • 10/24 - 10/31 (36)
    • 10/17 - 10/24 (58)
    • 10/10 - 10/17 (35)
    • 10/03 - 10/10 (31)
    • 09/26 - 10/03 (21)
    • 09/19 - 09/26 (26)
    • 09/12 - 09/19 (55)
    • 09/05 - 09/12 (65)
    • 08/29 - 09/05 (33)
    • 08/22 - 08/29 (70)
    • 08/15 - 08/22 (45)
    • 08/08 - 08/15 (35)
    • 08/01 - 08/08 (37)
    • 07/25 - 08/01 (27)
    • 07/18 - 07/25 (19)
    • 07/11 - 07/18 (30)
    • 07/04 - 07/11 (56)
    • 06/27 - 07/04 (28)
    • 06/20 - 06/27 (22)
    • 06/13 - 06/20 (30)
    • 06/06 - 06/13 (21)
    • 05/30 - 06/06 (5)
    • 05/16 - 05/23 (6)
    • 05/09 - 05/16 (29)
    • 05/02 - 05/09 (59)
    • 04/25 - 05/02 (28)
    • 04/18 - 04/25 (38)
    • 04/11 - 04/18 (70)
    • 04/04 - 04/11 (59)
    • 03/28 - 04/04 (65)
    • 03/21 - 03/28 (89)
    • 03/14 - 03/21 (218)
    • 03/07 - 03/14 (95)
    • 02/28 - 03/07 (135)
    • 02/21 - 02/28 (102)
    • 01/03 - 01/10 (68)
  • 2009 (1652)
    • 12/27 - 01/03 (36)
    • 12/20 - 12/27 (22)
    • 12/13 - 12/20 (100)
    • 12/06 - 12/13 (45)
    • 11/29 - 12/06 (24)
    • 11/22 - 11/29 (22)
    • 11/15 - 11/22 (19)
    • 11/08 - 11/15 (28)
    • 11/01 - 11/08 (11)
    • 10/25 - 11/01 (17)
    • 10/18 - 10/25 (38)
    • 10/11 - 10/18 (33)
    • 10/04 - 10/11 (15)
    • 09/27 - 10/04 (21)
    • 09/20 - 09/27 (7)
    • 09/13 - 09/20 (84)
    • 09/06 - 09/13 (35)
    • 08/30 - 09/06 (48)
    • 08/23 - 08/30 (118)
    • 08/16 - 08/23 (26)
    • 08/09 - 08/16 (34)
    • 08/02 - 08/09 (35)
    • 07/26 - 08/02 (31)
    • 07/19 - 07/26 (14)
    • 07/12 - 07/19 (16)
    • 07/05 - 07/12 (28)
    • 06/28 - 07/05 (26)
    • 06/21 - 06/28 (76)
    • 06/14 - 06/21 (26)
    • 06/07 - 06/14 (21)
    • 05/31 - 06/07 (43)
    • 05/24 - 05/31 (38)
    • 05/17 - 05/24 (26)
    • 05/10 - 05/17 (52)
    • 05/03 - 05/10 (15)
    • 04/26 - 05/03 (38)
    • 04/19 - 04/26 (32)
    • 04/12 - 04/19 (22)
    • 04/05 - 04/12 (20)
    • 03/29 - 04/05 (40)
    • 03/22 - 03/29 (43)
    • 03/15 - 03/22 (18)
    • 03/08 - 03/15 (14)
    • 03/01 - 03/08 (22)
    • 02/22 - 03/01 (12)
    • 02/15 - 02/22 (9)
    • 02/08 - 02/15 (11)
    • 02/01 - 02/08 (19)
    • 01/25 - 02/01 (37)
    • 01/18 - 01/25 (21)
    • 01/11 - 01/18 (33)
    • 01/04 - 01/11 (31)
  • 2008 (700)
    • 12/28 - 01/04 (13)
    • 12/21 - 12/28 (9)
    • 12/14 - 12/21 (57)
    • 12/07 - 12/14 (5)
    • 11/30 - 12/07 (18)
    • 11/23 - 11/30 (33)
    • 11/16 - 11/23 (31)
    • 11/09 - 11/16 (23)
    • 11/02 - 11/09 (18)
    • 10/26 - 11/02 (11)
    • 10/19 - 10/26 (15)
    • 10/12 - 10/19 (13)
    • 10/05 - 10/12 (25)
    • 09/28 - 10/05 (2)
    • 09/21 - 09/28 (14)
    • 09/14 - 09/21 (19)
    • 09/07 - 09/14 (43)
    • 08/31 - 09/07 (3)
    • 08/24 - 08/31 (33)
    • 08/17 - 08/24 (65)
    • 08/10 - 08/17 (4)
    • 08/03 - 08/10 (26)
    • 07/27 - 08/03 (6)
    • 07/20 - 07/27 (19)
    • 07/13 - 07/20 (18)
    • 07/06 - 07/13 (60)
    • 06/29 - 07/06 (53)
    • 06/22 - 06/29 (49)
    • 06/15 - 06/22 (11)
    • 06/08 - 06/15 (4)

Popular Posts

  • Olahraga dan Resiko Kanker Payu Dara: Belum Terlambat.
    Olahraga teratur sangat penting untuk kesehatan tubuh, mencegah dan mempertahankan tubuh dari berbagai penyakit mulai dari osteoporosis hin...
  • Transkultural dalam Keperawatan
    Konsep Teori Transkultural dalam Keperawatan APLIKASI TEORI TRANSCULTURAL NURSING DALAM PROSES KEPERAWATAN Rahayu Iskandar, Ners, M.Kep PEND...
  • Hubungan Usia Terhadap Perdarahan Post Partum Di RSUD
    KTI KEBIDANAN HUBUNGAN USIA TERHADAP PERDARAHAN POSTPARTUM DI RSUD BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan wanita merupakan hal yang s...
  • Bau Mulut
    Malu banget kan kalo nafas kita bau alias bau mulut apa lagi kalo kita ngomong dengan orang lain lalu tiba-tiba orang tersebut menjauh wah...
  • Diagnosa Keperawatan Aktual
    Konsep Dasar Diagnosa Keperawatan Aktual BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sebagai suatu aspek yang terpenting dalam proses kepera...
  • Tanda-tanda Sistem Imun Tubuh Buruk
    Tiap orang memiliki sistem imun atau kekebalan tubuh yang berbeda-beda. Semuanya tergantung dari genetik, pola hidup maupun lingkung...
  • Konsep Pertumbuhan dan Perkembangan
    Menurut Joyce Engel (1999), yang dikatakan anak usia pra sekolah adalah anak-anak yang berusia berkisar 3-6 tahun. Ada beberapa aspek yang...
  • Ketika Pasangan Anda Depresi
    Ketika, pasangan atau seseorang yang dekat dengan Anda mengalami depresi, ada langkah yang dapat Anda lakukan untuk menolongnya: # Memberi ...
  • PENGETAHUAN IBU TENTANG BIANG KERINGAT PADA BAYI 0-1 TAHUN DI BPS XXXX
    Prelevansi penyakit kulit di Indonesia cukup tinggi baik oleh bakteri, virus atau jamur. Selain itu bergantung pada lingkungan dan kondisi...
  • ANALISA SENAM HAMIL PADA IBU HAMIL DI KELAS IBU DI POSYANDU XXXXX
    Mengajarkan senam membantu fisik mendorong istirahat dan relaksasi rutinitis fisik kemudian di buat pada masa antenatal untuk meningkatkan...

Statistik

© ASUHAN KEPERAWATAN 2013 . Powered by Bootstrap , Blogger templates and RWD Testing Tool Published..Gooyaabi Templates