• home

ASUHAN KEPERAWATAN

  • HOME
  • DOWNLOAD ASUHAN KEPERAWATAN
  • Cara Mendapatkan Password

Selasa, 06 Januari 2009

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DIABETES MELLITUS

di 22.00
Kumpulan Asuhan Keperawatan

Kumpulan Askep

Asuhan Keperawatan

Askep



Diabetes Mellitus






Pengertian


Diabetes Mellitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif (Arjatmo, 2002).



Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. (Brunner dan Suddarth, 2002).





Klasifikasi


Klasifikasi diabetes mellitus sebagai berikut :

  1. Tipe I : Diabetes mellitus tergantung insulin (IDDM)

  2. Tipe II : Diabetes mellitus tidak tergantung insulin (NIDDM)

  3. Diabetes mellitus yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom lainnya

  4. Diabetes mellitus gestasional (GDM)


Etiologi


  1. Diabetes tipe I :

    • Faktor genetik

      Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri; tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik ke arah terjadinya DM tipe I. Kecenderungan genetik ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA.

    • Faktor-faktor imunologi

      Adanya respons otoimun yang merupakan respons abnormal dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing. Yaitu otoantibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans dan insulin endogen.

    • Faktor lingkungan

      Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan destruksi selbeta.

  2. Diabetes Tipe II

    Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin pada diabetes tipe II masih belum diketahui. Faktor genetik memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin.

    Faktor-faktor resiko :

    • Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 th)

    • Obesitas

    • Riwayat keluarga


Tanda dan Gejala

Keluhan umum pasien DM seperti poliuria, polidipsia, polifagia pada DM umumnya tidak ada. Sebaliknya yang sering mengganggu pasien adalah keluhan akibat komplikasi degeneratif kronik pada pembuluh darah dan saraf. Pada DM lansia terdapat perubahan patofisiologi akibat proses menua, sehingga gambaran klinisnya bervariasi dari kasus tanpa gejala sampai kasus dengan komplikasi yang luas. Keluhan yang sering muncul adalah adanya gangguan penglihatan karena katarak, rasa kesemutan pada tungkai serta kelemahan otot (neuropati perifer) dan luka pada tungkai yang sukar sembuh dengan pengobatan lazim.

Menurut Supartondo, gejala-gejala akibat DM pada usia lanjut yang sering ditemukan adalah :

1. Katarak

2. Glaukoma

3. Retinopati

4. Gatal seluruh badan

5. Pruritus Vulvae

6. Infeksi bakteri kulit

7. Infeksi jamur di kulit

8. Dermatopati

9. Neuropati perifer

10.Neuropati viseral

11.Amiotropi

12.Ulkus Neurotropik

13.Penyakit ginjal

14.Penyakit pembuluh darah perifer

15.Penyakit koroner

16.Penyakit pembuluh darah otak

17.Hipertensi



Osmotik diuresis akibat glukosuria tertunda disebabkan ambang ginjal yang tinggi, dan dapat muncul keluhan nokturia disertai gangguan tidur, atau bahkan inkontinensia urin. Perasaan haus pada pasien DM lansia kurang dirasakan, akibatnya mereka tidak bereaksi adekuat terhadap dehidrasi. Karena itu tidak terjadi polidipsia atau baru terjadi pada stadium lanjut.

Penyakit yang mula-mula ringan dan sedang saja yang biasa terdapat pada pasien DM usia lanjut dapat berubah tiba-tiba, apabila pasien mengalami infeksi akut. Defisiensi insulin yang tadinya bersifat relatif sekarang menjadi absolut dan timbul keadaan ketoasidosis dengan gejala khas hiperventilasi dan dehidrasi, kesadaran menurun dengan hiperglikemia, dehidrasi dan ketonemia. Gejala yang biasa terjadi pada hipoglikemia seperti rasa lapar, menguap dan berkeringat banyak umumnya tidak ada pada DM usia lanjut. Biasanya tampak bermanifestasi sebagai sakit kepala dan kebingungan mendadak.

Pada usia lanjut reaksi vegetatif dapat menghilang. Sedangkan gejala kebingungan dan koma yang merupakan gangguan metabolisme serebral tampak lebih jelas.





Pemeriksaan Penunjang


  1. Glukosa darah sewaktu

  2. Kadar glukosa darah puasa

  3. Tes toleransi glukosa

    Kadar darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring diagnosis DM (mg/dl).
Kadar glukosa darah sewaktu

  • Plasma vena :

    • <100>
    • 100 - 200 = belum pasti DM

    • >200 = DM

  • Darah kapiler :

    • <80>
    • 80 - 100 = belum pasti DM

    • > 200 = DM
Kadar glukosa darah puasa

  • Plasma vena :

    • <110>
    • 110 - 120 = belum pasti DM

    • > 120 = DM

  • Darah kapiler :

    • <90>
    • 90 - 110 = belum pasti DM

    • > 110 = DM


Kriteria diagnostik WHO untuk diabetes mellitus pada sedikitnya 2 kali pemeriksaan :

  1. Glukosa plasma sewaktu >200 mg/dl (11,1 mmol/L)

  2. Glukosa plasma puasa >140 mg/dl (7,8 mmol/L)

  3. Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah mengkonsumsi 75 gr karbohidrat (2 jam post prandial (pp) > 200 mg/dl).


Penatalaksanaan

Tujuan utama terapi diabetes mellitus adalah mencoba menormalkan aktivitas insulin dan kadar glukosa darah dalam upaya untuk mengurangi komplikasi vaskuler serta neuropati. Tujuan terapeutik pada setiap tipe diabetes adalah mencapai kadar glukosa darah normal.

Ada 5 komponen dalam penatalaksanaan diabetes :

  1. Diet

  2. Latihan

  3. Pemantauan

  4. Terapi (jika diperlukan)

  5. Pendidikan
Sumber : http://kumpulan-asuhan-keperawatan.blogspot.com/2008/12/diabetes-mellitus.html

Download Askep Diabetes Mellitus di sini dan di sini







Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Diabetes Mellitus




Pengkajian

  1. Riwayat Kesehatan Keluarga

    Adakah keluarga yang menderita penyakit seperti klien ?

  2. Riwayat Kesehatan Pasien dan Pengobatan Sebelumnya

    Berapa lama klien menderita DM, bagaimana penanganannya, mendapat terapi insulin jenis apa, bagaimana cara minum obatnya apakah teratur atau tidak, apa saja yang dilakukan klien untuk menanggulangi penyakitnya.

  3. Aktivitas/ Istirahat :

    Letih, Lemah, Sulit Bergerak / berjalan, kram otot, tonus otot menurun.

  4. Sirkulasi

    Adakah riwayat hipertensi,AMI, klaudikasi, kebas, kesemutan pada ekstremitas, ulkus pada kaki yang penyembuhannya lama, takikardi, perubahan tekanan darah

  5. Integritas Ego

    Stress, ansietas

  6. Eliminasi

    Perubahan pola berkemih ( poliuria, nokturia, anuria ), diare

  7. Makanan / Cairan

    Anoreksia, mual muntah, tidak mengikuti diet, penurunan berat badan, haus, penggunaan diuretik.

  8. Neurosensori

    Pusing, sakit kepala, kesemutan, kebas kelemahan pada otot, parestesia,gangguan penglihatan.

  9. Nyeri / Kenyamanan

    Abdomen tegang, nyeri (sedang / berat)

  10. Pernapasan

    Batuk dengan/tanpa sputum purulen (tergangung adanya infeksi / tidak)

  11. Keamanan

    Kulit kering, gatal, ulkus kulit.


Masalah Keperawatan

  1. Resiko tinggi gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan

  2. Kekurangan volume cairan

  3. Gangguan integritas kulit

  4. Resiko terjadi injury


Intervensi

  1. Resiko tinggi gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan berhubungan dengan penurunan masukan oral, anoreksia, mual, peningkatan metabolisme protein, lemak.

    Tujuan : kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi

    Kriteria Hasil :

    Pasien dapat mencerna jumlah kalori atau nutrien yang tepat

    Berat badan stabil atau penambahan ke arah rentang biasanya

    Intervensi :


    • Timbang berat badan setiap hari atau sesuai dengan indikasi.

    • Tentukan program diet dan pola makan pasien dan bandingkan dengan makanan yang dapat dihabiskan pasien.

    • Auskultasi bising usus, catat adanya nyeri abdomen / perut kembung, mual, muntahan makanan yang belum sempat dicerna, pertahankan keadaan puasa sesuai dengan indikasi.

    • Berikan makanan cair yang mengandung zat makanan (nutrien) dan elektrolit dengan segera jika pasien sudah dapat mentoleransinya melalui oral.

    • Libatkan keluarga pasien pada pencernaan makan ini sesuai dengan indikasi.

    • Observasi tanda-tanda hipoglikemia seperti perubahan tingkat kesadaran, kulit lembab/dingin, denyut nadi cepat, lapar, peka rangsang, cemas, sakit kepala.

    • Kolaborasi melakukan pemeriksaan gula darah.

    • Kolaborasi pemberian pengobatan insulin.

    • Kolaborasi dengan ahli diet.


  2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik.

    Tujuan : kebutuhan cairan atau hidrasi pasien terpenuhi

    Kriteria Hasil :

    Pasien menunjukkan hidrasi yang adekuat dibuktikan oleh tanda vital stabil, nadi perifer dapat diraba, turgor kulit dan pengisian kapiler baik, haluaran urin tepat secara individu dan kadar elektrolit dalam batas normal.

    Intervensi :


    • Pantau tanda-tanda vital, catat adanya perubahan TD ortostatik

    • Pantau pola nafas seperti adanya pernafasan kusmaul

    • Kaji frekuensi dan kualitas pernafasan, penggunaan otot bantu nafas

    • Kaji nadi perifer, pengisian kapiler, turgor kulit dan membran mukosa

    • Pantau masukan dan pengeluaran

    • Pertahankan untuk memberikan cairan paling sedikit 2500 ml/hari dalam batas yang dapat ditoleransi jantung

    • Catat hal-hal seperti mual, muntah dan distensi lambung.

    • Observasi adanya kelelahan yang meningkat, edema, peningkatan BB, nadi tidak teratur

    • Kolaborasi : berikan terapi cairan normal salin dengan atau tanpa dextrosa, pantau pemeriksaan laboratorium (Ht, BUN, Na, K).


  3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan perubahan status metabolik (neuropati perifer).

    Tujuan : gangguan integritas kulit dapat berkurang atau menunjukkan penyembuhan.

    Kriteria Hasil :

    Kondisi luka menunjukkan adanya perbaikan jaringan dan tidak terinfeksi

    Intervensi :


    • Kaji luka, adanya epitelisasi, perubahan warna, edema, dan discharge, frekuensi ganti balut.

    • Kaji tanda vital

    • Kaji adanya nyeri

    • Lakukan perawatan luka

    • Kolaborasi pemberian insulin dan medikasi.

    • Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi.


  4. Resiko terjadi injury berhubungan dengan penurunan fungsi penglihatan

    Tujuan : pasien tidak mengalami injury

    Kriteria Hasil : pasien dapat memenuhi kebutuhannya tanpa mengalami injury

    Intervensi :


    • Hindarkan lantai yang licin.

    • Gunakan bed yang rendah.

    • Orientasikan klien dengan ruangan.

    • Bantu klien dalam melakukan aktivitas sehari-hari

    • Bantu pasien dalam ambulasi atau perubahan posisi.




DAFTAR PUSTAKA

Luecknote, Annette Geisler, Pengkajian Gerontologi alih bahasa Aniek Maryunani, Jakarta:EGC, 1997.



Doenges, Marilyn E, Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien edisi 3 alih bahasa I Made Kariasa, Ni Made Sumarwati, Jakarta : EGC, 1999.



Carpenito, Lynda Juall, Buku Saku Diagnosa Keperawatan edisi 6 alih bahasa YasminAsih, Jakarta : EGC, 1997.



Smeltzer, Suzanne C, Brenda G bare, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth Edisi 8 Vol 2 alih bahasa H. Y. Kuncara, Andry Hartono, Monica Ester, Yasmin asih, Jakarta : EGC, 2002.



Ikram, Ainal, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam : Diabetes Mellitus Pada Usia Lanjut jilid I Edisi ketiga, Jakarta : FKUI, 1996.



Arjatmo Tjokronegoro. Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu.Cet 2. Jakarta : Balai Penerbit FKUI, 2002



Kumpulan Asuhan Keperawatan

Kumpulan Askep

Asuhan Keperawatan

Askep


Lihat Juga :

http://www.komisiGRATIS.com

http://KlubPulsa.com

http://www.mlmku.com

http://www.galesus.com

http://5fcc.com/?ref=11130

http://www.reviews16.com

http://cbclickbank.com

Read More

ASKEP Stroke hemoragic

di 17.15 Label: Asuhan Keperawatan
A.DefinisiGangguan peredaran darah diotak (GPDO) atau dikenal dengan CVA ( Cerebro Vaskuar Accident) adalah gangguan fungsi syaraf yang disebabkan oleh gangguan aliran darah dalam otak yang dapat timbul secara mendadak ( dalam beberapa detik) atau secara cepat ( dalam beberapa jam ) dengan gejala atau tanda yang sesuai dengan daerah yang terganggu.(Harsono,1996, hal 67)Stroke atau cedera
Read More

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN HIPEREMESIS GRAVIDARUM

di 07.43
Kumpulan Asuhan Keperawatan

Kumpulan Askep

Asuhan Keperawatan

Askep




HIPEREMESIS GRAVIDARUM






A. Pengertian



Hiperemesis Gravidarum adalah mual dan muntah berlebihan pada wanita hamil sampai mengganggu pekerjaan sehari-hari karena pada umumnya menjadi buruk karena terjadi dehidrasi (Rustam Mochtar, 1998).



Hiperemesis Gravidarum (vomitus yang merusak dalam kehamilan) adalah nousea dan vomitus dalam kehamilan yang berkembang sedemikian luas sehingga menjadi efek sistemik, dehidrasi dan penurunan berat badan (Ben-Zion, MD, Hal:232).

Hiperemesis Gravidarum diartikan sebagai muntah yang terjadi secara berlebihan selama kehamilan (Hellen Farrer, 1999, hal:112).






B. Etiologi


Penyebab hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti. Frekuensi kejadian adalah 2 per 1000 kehamilan. Faktor-faktor predisposisi yang dikemukakan (Rustam Mochtar, 1998).

  • Umumnya terjadi pada primigravida, mola hidatidosa, diabetes dan kehamilan ganda akibat peningkatan kadar HCG

  • Faktor organik, yaitu karena masuknya viki khoriales dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabollik akibat kehamilan serta resitensi yang menurun dari pihak ibu terhadap perubahan–perubahan ini serta adanya alergi yaitu merupakan salah satu respon dari jaringan ibu terhadap janin.

  • Faktor ini memegang peranan penting pada penyakit ini. Rumah tangga yang retak, kehilangan pekerjaan, takut terhadap kehamilan dan persalinan, takut terhadap tanggungan sebagai ibu dapat menyebabkan konflik mental yang dapat memperberat mual dan muntah sebagai ekspresi tidak sadar terhadap keengganan menjadi hamil atau sebagai pelarian kesukaran hidup.

  • Faktor endokrin lainnya : hipertyroid, diabetes dan lain-lain.


C. Patofisiologi

Perasaan mual adalah akibat dari meningkatnya kadar estrogen yang biasa terjadi pada trimester I. bila perasaan terjadi terus-menerus dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat dan lemak habis terpakai untuk keperluan energi. Karena oksidasi lemak yang tak sempurna, terjadilah ketosis dengan tertimbunnya asam aseto-asetik, asam hidroksida butirik dan aseton darah. Muntah menyebabkan dehidrasi, sehingga caira ekstraseluler dan plasma berkurang. Natrium dan klorida darah turun. Selain itu dehidrasai menyebabkan hemokonsentrasi, sehingga aliran darah ke jaringan berkurang. Hal ini menyebabkan jumlah zat makanan dan oksigen ke jaringan berkuang pula tertimbunnya zat metabolik yang toksik. Disamping dehidrasi dan gangguan keseimbangan elektrolit. Disamping dehidraasi dan gangguan keseimbangan elektrolit, dapat terjadi robekan pada selaput lendir esofagus dan lambung (sindroma mollary-weiss), dengan akibat perdarahan gastrointestinal.




D. Tanda dan gejala

Batas mual dan muntah berapa banyak yang disebut hiperemesis gravidarum tidak ada kesepakatan. Ada yang mengatakan bila lebih dari sepuluh kali muntah. Akan tetapi apabila keadaan umum ibu terpengaruh dianggap sebagai hiperemesis gravidarum. Menurut berat ringannya gejala dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu :

  1. Tingkatan I (ringan)

    • Mual muntah terus-menerus yang mempengaruhi keadaan umum penderita

    • Ibu merasa lemah

    • Nafsu makan tidak ada

    • Berat badan menurun

    • Merasa nyeri pada epigastrium

    • Nadi meningkat sekitar 100 per menit

    • Tekanan darah menurun

    • Turgor kulit berkurang

    • Lidah mengering

    • Mata cekung

  2. Tingkatan II (sendang)

    • Penderita tampak lebih lemah dan apatis

    • Turgor kulit mulai jelek

    • Lidah mengering dan tampak kotor

    • Nadi kecil dan cepat

    • Suhu badan naik (dehidrasi)

    • Mata mulai ikterik

    • Berat badan turun dan mata cekung

    • Tensi turun, hemokonsentrasi, oliguri dan konstipasi

    • Aseton tercium dari hawa pernafasan dan terjadi asetonuria.

  3. Tingkatan III (berat)

    • Keadaan umum lebih parah (kesadaran menurun dari somnolen sampai koma)

    • Dehidrasi hebat

    • Nadi kecil, cepat dan halus

    • Suhu badan meningkat dan tensi turun

    • Terjadi komplikasi fatal pada susunan saraf yang dikenal dengan enselopati wernicke dengan gejala nistagmus, diplopia dan penurunan mental

    • Timbul ikterus yang menunjukkan adanya payah hati.


E. Penatalaksanaan

  1. Pencegahan

    Pencegahan terhadap hiperemesis gravidarum diperlukan dengan jalan memberikan penerapan tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang fisiologis. Hal itu dapat dilakukan dengan cara :

    • Memberikan keyakinan bahwa mual dan muntah merupakan gejala yang fisiologik pada kehamilan muda dan akan hilang setelah kehamilan berumur 4 bulan.

    • Ibu dianjurkan untuk mengubah pola makan sehari-hari dengan makanan dalam jumlah kecil tetapi sering.

    • Waktu bangun pagi jangan segera turun dari tempat tidur, tetapi dianjurkan untuk makan roti kering arau biskuit dengan teh hangat

    • Hindari makanan yang berminyak dan berbau lemak

    • Makan makanan dan minuman yang disajikan jangan terlalu panas atau terlalu dingin

    • Usahakan defekasi teratur.

  2. Terapi obat-obatan

    Apabila dengan cara diatas keluhan dan gejala tidak berkurang maka diperlukan pengobatan.

    • Tidak memberikan obat yang terotogen

    • Sedativa yang sering diberikan adalah phenobarbital

    • Vitamin yang sering dianjurkan adalah vitamin B1 dan B6

    • Antihistaminika seperti dramamine, avomine

    • Pada keadaan berat, anti emetik seperti diklomin hidrokhoride atau khlorpromazine.
Hiperemesis gravidarum tingkatan II dan III harus dirawat inap di rumah sakit. Adapun terapi dan perawatan yang diberikan adalah sebagai berikut :

  1. Isolasi

    Penderita disendirikan dalam kamar yang tenang, tetapi cerah dan peredaran udara baik. Jangan terlalu banyak tamu, kalau perlu hanya perawat dan dokter saja yang boleh masuk. Catat cairan yang keluar dan masuk. Kadang-kadang isolasi dapat mengurangi atau menghilangkan gejala ini tanpa pengobatan

  2. Terapi psikologik

    Berikan pengertian bahwa kehamilan adalah suatu hal yang wajar,normal dan fisiologik. Jadi tidak perlu takur dan khawatir. Yakinkan penderita bahwa penyakit dapat disembuhkan dan dihilangkan masalah atu konflik yang kiranya dapat menjadi latar belakang penyakit ini.

  3. Terapi mental

    Berikan cairan parenteral yang cukup elektrolit, karbohidrat dan protein dengan glukosa 5 %, dalam cairan gram fisiologis sebanya 2-3 liter sehari. Bila perlu dapat ditambah dengan kalium dan vitamin khususnya vitamin B kompleks dn vitamin C dan bila ada kekurangan protein, dapat diberikan pula asam amino esensial secara intravena. Buat dalam daftar kontrol cairan yang amsuk dan dikeluarkan. Berikan pula obat-obatan seperti yang telah disebutkan diatas.

  4. Terminasi kehamilan

    Pada beberapa kasus keadaan tidak menjadi baik, bahkan mundur. Usahakan mengadakan pemeriksaan medik dan psikiatrik bila keadaan memburuk. Delirium, kebutaan, takikardia, ikterik, anuria, dan perdarahan merupakan manifestasi komplikasi organik.

    Dalam keadaan demikian perlu dipertimbangkan untuk mengakhiri kehamilan. Keputusan untuk melakukan abortus terapeutik sering sulit diambil, oleh karena disatu pihak tidak boleh dilakukan terlalu capat dan dipihal lain tidak boleh menunggu sampai terjadi irreversible pada organ vital.


F. Diagnosa Keperawatan Yang Muncul

  1. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kehilangan nutrisi dan cairan yang berlebihan dan intake yang kurang.

  2. Gangguan rasa nyaman : nyeri ulu hati berhubungan dengan frekuensi muntah yang sering.



G.. Intervensi

  1. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kehilangan nutrisi dan cairan yang berlebihan dan intake yang kurang.

    Tujuan : Nutrisi terpenuhi

    Kriteria Hasil :

    1. Berat badan tidak turun.

    2. Pasien menghabiskan porsi makan yang di sediakan.

    3. Mengkonsumsi suplemen zat besi / vitamin sesuai resep.


    Intervensi :

    • Tunjukkan keadekuatan kebiasaan asupan nutrisi dulu / sekarang dengan menggunakan batasan 24 jam. Perhatikan kondisi rambut, kulit dan kuku.

    • Monitor tanda-tanda dehidrasi : turgor kulit, mukosa mulut dan diuresis.

    • Monitor intake dan output cairan.

    • Singkirkan sumber bau yang dapat membuat pasien mual, seperti : deodorant / parfum, pewangi ruangan, larutan pembersih mulut.

    • Timbang berat badan klien; pastikan berat badan pregravida biasanya. Berikan inforamasi tentang penambahan prenatal yang optimum.

    • Tingkatkan jumlah makanan padat dan minuman perlahan sesuai dengan kemampuan.

    • Anjurkan pasien untuk minum dalam jumlah sedikit tapi sering.


  2. Gangguan rasa nyaman : nyeri ulu hati berhubungan dengan frekuensi muntah yang sering.

    Tujuan : Nyaman terpenuhi

    Kriteria Hasil :

    1. Nyeri berkurang / hilang

    2. Ekspresi wajah tenang / rilek, tidak menunjukan rasa sakit.


    Intervensi :

    • Kaji nyeri (skala, lokasi, durasi dan intensitas)

    • Atur posisi tidur senyaman mungkin sesuai dengan kondisi pasien.

    • Anjurkan teknik relaksasi dan distraksi.

    • Jelaskan penyebab nyeri pada pasien dan keluarga pasien.

    • Beri kompres hangat pada daerah nyeri.

    • Kaji tanda-tanda vital.

    • Kolaborasi medis untuk pemberian obat-obatan analgetika dan antiemetik.


  3. Kurang pengetahuan tentang proses penyakit dan pengobatan berhubungan dengan informasi yang tidak adekuat.

    Tujuan : Pengetahuan pasien tentang penyakit dan pengobatan meningkat.

    Kriteria Hasil :

    1. Pasien dapat mengetahui penyakitnya.

    2. Dapat mendemonstrasikan perawatan diri dan mengungkapkan secara verbal, mengerti tentang instruksi yang diberikan.

    3. Pasien kooperatif dalam program pengobatan.


    Intervensi :

    • Kaji tingkat pengetahuan pasien tentang proses penyakitnya, gejala, dan tanda, serta yang perlu diperhatikan dalam perawatannya.

    • Beri penjelasan tentang proses penyakit, gejala, tanda dan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perawatan dan pengobatan.

    • Jelaskan tentang pentingnya perawatan dan pengobatan.

    • Jelaskan tentang pentingnya istirahat total.

    • Berikan informasi tertulis / verbal yang terpat tentang diet pra natal dan suplemen vitamin / zat besi setiap hari.

    • Evaluasi motivasi / sikap, dengan mendengar keterangan klien dan meminta umpan balik tentang informasi yang diberikan.

    • Tanyakan keyakinan berkenaan dengan diet sesuai dengan budaya dan hal- hal tabu selama kehamilan.


Download Askep Hiperemesis Gravidarum Gratis : di sini dan di sini





http://nandanursing-blog.blogspot.com

http://all-nurses.blogspot.com

http://nursing-diagnosis-nanda.blogspot.com

http://nursingdiagnosis-nursinginterventions.blogspot.com



Read More

Senin, 05 Januari 2009

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN INFEKSI SALURAN KEMIH (ISK)

di 07.57
Kumpulan Asuhan Keperawatan
Kumpulan Askep
Kumpulan Askep
Askep



INFEKSI SALURAN KEMIH (ISK)


A. Pengertian
Infeksi Saluran Kemih (ISK) atau Urinarius Tractus Infection (UTI) adalah suatu keadaan adanya infasi mikroorganisme pada saluran kemih. (Agus Tessy, 2001)
Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah suatu keadaan adanya infeksi bakteri pada saluran kemih. (Enggram, Barbara, 1998)


B. Klasifikasi

Klasifikasi infeksi saluran kemih sebagai berikut :
  1. Kandung kemih (sistitis)
  2. Uretra (uretritis)
  3. Prostat (prostatitis)
  4. Ginjal (pielonefritis)

Infeksi Saluran Kemih (ISK) pada usia lanjut, dibedakan menjadi:
  1. ISK uncomplicated (simple)
    ISK sederhana yang terjadi pada penderita dengan saluran kencing tak baik, anatomic maupun fungsional normal. ISK ini pada usi lanjut terutama mengenai penderita wanita dan infeksi hanya mengenai mukosa superficial kandung kemih.
  2. ISK complicated
    Sering menimbulkan banyak masalah karena sering kali kuman penyebab sulit diberantas, kuman penyebab sering resisten terhadap beberapa macam antibiotika, sering terjadi bakterimia, sepsis dan shock. ISK ini terjadi bila terdapat keadaan-keadaan sebagi berikut:
    • Kelainan abnormal saluran kencing, misalnya batu, reflex vesiko uretral obstruksi, atoni kandung kemih, paraplegia, kateter kandung kencing menetap dan prostatitis.
    • Kelainan faal ginjal: GGA maupun GGK.
    • Gangguan daya tahan tubuh
    • Infeksi yang disebabkan karena organisme virulen sperti prosteus spp yang memproduksi urease.

C. Etiologi
  1. Jenis-jenis mikroorganisme yang menyebabkan ISK, antara lain:
    • Pseudomonas, Proteus, Klebsiella : penyebab ISK complicated
    • Escherichia Coli: 90 % penyebab ISK uncomplicated (simple)
    • Enterobacter, staphylococcus epidemidis, enterococci, dan-lain-lain.
  2. Prevalensi penyebab ISK pada usia lanjut, antara lain:
    • Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat akibat pengosongan kandung kemih yang kurang efektif
    • Mobilitas menurun
    • Nutrisi yang sering kurang baik
    • Sistem imunitas menurun, baik seluler maupun humoral
    • Adanya hambatan pada aliran urin
    • Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat

D. Patofisiologi

Infeksi Saluran Kemih disebabkan oleh adanya mikroorganisme patogenik dalam traktus urinarius. Mikroorganisme ini masuk melalui : kontak langsung dari tempat infeksi terdekat, hematogen, limfogen.
Ada dua jalur utama terjadinya ISK yaitu asending dan hematogen.
  • Secara asending yaitu:
    • Masuknya mikroorganisme dalm kandung kemih, antara lain: factor anatomi dimana pada wanita memiliki uretra yang lebih pendek daripada laki-laki sehingga insiden terjadinya ISK lebih tinggi, factor tekanan urine saat miksi, kontaminasi fekal, pemasangan alat ke dalam traktus urinarius (pemeriksaan sistoskopik, pemakaian kateter), adanya dekubitus yang terinfeksi.
    • Naiknya bakteri dari kandung kemih ke ginjal.

  • Secara hematogen yaitu:
    Sering terjadi pada pasien yang system imunnya rendah sehingga mempermudah penyebaran infeksi secara hematogen Ada beberapa hal yang mempengaruhi struktur dan fungsi ginjal sehingga mempermudah penyebaran hematogen, yaitu: adanya bendungan total urine yang mengakibatkan distensi kandung kemih, bendungan intrarenal akibat jaringan parut, dan lain-lain.

Pada usia lanjut terjadinya ISK ini sering disebabkan karena adanya:
  • Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat akibat pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap atau kurang efektif.
  • Mobilitas menurun
  • Nutrisi yang sering kurang baik
  • System imunnitas yng menurun
  • Adanya hambatan pada saluran urin
  • Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat.
Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat tersebut mengakibatkan distensii yang berlebihan sehingga menimbulkan nyeri, keadaan ini mengakibatkan penurunan resistensi terhadap invasi bakteri dan residu kemih menjadi media pertumbuhan bakteri yang selanjutnya akan mengakibatkan gangguan fungsi ginjal sendiri, kemudian keadaan ini secara hematogen menyebar ke suluruh traktus urinarius. Selain itu, beberapa hal yang menjadi predisposisi ISK, antara lain: adanya obstruksi aliran kemih proksimal yang menakibtakan penimbunan cairan bertekanan dalam pelvis ginjal dan ureter yang disebut sebagai hidronefroses. Penyebab umum obstruksi adalah: jaringan parut ginjal, batu, neoplasma dan hipertrofi prostate yang sering ditemukan pada laki-laki diatas usia 60 tahun.


E. Tanda dan Gejala
  1. Tanda dan gejala ISK pada bagian bawah adalah :
    • Nyeri yang sering dan rasa panas ketika berkemih
    • Spasame pada area kandung kemih dan suprapubis
    • Hematuria
    • Nyeri punggung dapat terjadi
  2. Tanda dan gejala ISK bagian atas adalah :
    • Demam
    • Menggigil
    • Nyeri panggul dan pinggang
    • Nyeri ketika berkemih
    • Malaise
    • Pusing
    • Mual dan muntah

F. Pemeriksaan Penunjang
  1. Urinalisis
    • Leukosuria atau piuria: merupakan salah satu petunjuk penting adanya ISK. Leukosuria positif bila terdapat lebih dari 5 leukosit/lapang pandang besar (LPB) sediment air kemih
    • Hematuria: hematuria positif bila terdapat 5-10 eritrosit/LPB sediment air kemih. Hematuria disebabkan oleh berbagai keadaan patologis baik berupa kerusakan glomerulus ataupun urolitiasis.
  2. Bakteriologis
    • Mikroskopis
    • Biakan bakteri
  3. Kultur urine untuk mengidentifikasi adanya organisme spesifik
  4. Hitung koloni: hitung koloni sekitar 100.000 koloni per milliliter urin dari urin tampung aliran tengah atau dari specimen dalam kateter dianggap sebagai criteria utama adanya infeksi.
  5. Metode tes
    • Tes dipstick multistrip untuk WBC (tes esterase lekosit) dan nitrit (tes Griess untuk pengurangan nitrat). Tes esterase lekosit positif: maka psien mengalami piuria. Tes pengurangan nitrat, Griess positif jika terdapat bakteri yang mengurangi nitrat urin normal menjadi nitrit.
    • Tes Penyakit Menular Seksual (PMS) :
      Uretritia akut akibat organisme menular secara seksual (misal, klamidia trakomatis, neisseria gonorrhoeae, herpes simplek).
    • Tes- tes tambahan :
      Urogram intravena (IVU), Pielografi (IVP), msistografi, dan ultrasonografi juga dapat dilakukan untuk menentukan apakah infeksi akibat dari abnormalitas traktus urinarius, adanya batu, massa renal atau abses, hodronerosis atau hiperplasie prostate. Urogram IV atau evaluasi ultrasonic, sistoskopi dan prosedur urodinamik dapat dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab kambuhnya infeksi yang resisten.


G. Penatalaksanaan

Penanganan Infeksi Saluran Kemih (ISK) yang ideal adalah agens antibacterial yang secara efektif menghilangkan bakteri dari traktus urinarius dengan efek minimal terhaap flora fekal dan vagina.
Terapi Infeksi Saluran Kemih (ISK) pada usia lanjut dapat dibedakan atas:
  • Terapi antibiotika dosis tunggal
  • Terapi antibiotika konvensional: 5-14 hari
  • Terapi antibiotika jangka lama: 4-6 minggu
  • Terapi dosis rendah untuk supresi
Pemakaian antimicrobial jangka panjang menurunkan resiko kekambuhan infeksi. Jika kekambuhan disebabkan oleh bakteri persisten di awal infeksi, factor kausatif (mis: batu, abses), jika muncul salah satu, harus segera ditangani. Setelah penanganan dan sterilisasi urin, terapi preventif dosis rendah.
Penggunaan medikasi yang umum mencakup: sulfisoxazole (gastrisin), trimethoprim/sulfamethoxazole (TMP/SMZ, bactrim, septra), kadang ampicillin atau amoksisilin digunakan, tetapi E. Coli telah resisten terhadap bakteri ini. Pyridium, suatu analgesic urinarius jug adapt digunakan untuk mengurangi ketidaknyamanan akibat infeksi.
Pemakaian obat pada usia lanjut perlu dipikirkan kemungkina adanya:
  • Gangguan absorbsi dalam alat pencernaan
  • Interansi obat
  • Efek samping obat
  • Gangguan akumulasi obat terutama obat-obat yang ekskresinya melalui ginjal
Resiko pemberian obat pada usia lanjut dalam kaitannya dengan faal ginjal:
  • Efek nefrotosik obat
  • Efek toksisitas obat

Download Askep ISK di sini dan di sini

Sumber : http://kumpulan-asuhan-keperawatan.blogspot.com/2009/01/asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan.html


Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Infeksi Saluran Kemih (ISK)

A. Pengkajian
  1. Pemerikasaan fisik: dilakukan secara head to toe
  2. Riwayat atau adanya faktor-faktor resiko:
    • Adakah riwayat infeksi sebelumnya?
    • Adakah riwayat obstruksi pada saluran kemih?
  3. Adanya faktor predisposisi pasien terhadap infeksi nosokomial
    • Bagaimana dengan pemasangan folley kateter ?
    • Imobilisasi dalam waktu yang lama ?
    • Apakah terjadi inkontinensia urine?
  4. Pengkajian dari manifestasi klinik infeksi saluran kemih
    • Bagaimana pola berkemih pasien? untuk mendeteksi factor predisposisi terjadinya ISK pasien (dorongan, frekuensi, dan jumlah)
    • Adakah disuria?
    • Adakah urgensi?
    • Adakah hesitancy?
    • Adakah bau urine yang menyengat?
    • Bagaimana haluaran volume orine, warna (keabu-abuan) dan konsentrasi urine?
    • Adakah nyeri-biasanya suprapubik pada infeksi saluran kemih bagian bawah ?
    • Adakah nyesi pangggul atau pinggang-biasanya pada infeksi saluran kemih bagian atas ?
    • Peningkatan suhu tubuh biasanya pada infeksi saluran kemih bagian atas.
  5. Pengkajian psikologi pasien:
    • Bagaimana perasaan pasien terhadap hasil tindakan dan pengobatan yang telah dilakukan?
    • Adakakan perasaan malu atau takut kekambuhan terhadap penyakitnya.

B. Diagnosa Keperawatan Yang Muncul
  1. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan inflamasi dan infeksi uretra, kandung kemih dan sruktur traktus urinarius lain.
  2. Perubahan pola eliminasi berhubungan dengan obstruksi mekanik pada kandung kemih ataupun struktur traktus urinarius lain.
  3. Kurangnya pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya sumber informasi.

C. Intervensi
  1. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan inflamasi dan infeksi uretra, kandung kemih dan struktur traktus urinarius lain.
    Kriteria Hasil :
    • Nyeri berkurang / hilang saat dan sesudah berkemih
    Intervensi:

    • Pantau perubahan warna urin, pantau pola berkemih, masukan dan keluaran setiap 8 jam dan pantau hasil urinalisis ulang
      Rasional: untuk mengidentifikasi indikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan
    • Catat lokasi, lamanya intensitas skala (1-10) nyeri.
      Rasional: membantu mengevaluasi tempat obstruksi dan penyebab nyeri
    • Berikan tindakan nyaman, seperti pijatan.
      Rasional: meningkatkan relaksasi, menurunkan tegangan otot.
    • Berikan perawatan perineal
      Rasional: untuk mencegah kontaminasi uretra
    • Jika dipaang kateter, perawatan kateter 2 kali per hari.
      Rasional: Kateter memberikan jalan bakteri untuk memasuki kandung kemih dan naik ke saluran perkemihan.
    • Alihkan perhatian pada hal yang menyenangkan
      Rasional : relaksasi, menghindari terlalu merasakan nyeri.

  2. Perubahan pola eliminasi berhubungan dengan obstruksi mekanik pada kandung kemih ataupun struktur traktus urinarius lain.
    Kriteria Hasil :
    Pola eliminasi membaik, tidak terjadi tanda-tanda gangguan berkemih (urgensi, oliguri, disuria)
    Intervensi:

    • Awasi pemasukan dan pengeluaran karakteristi urin
      Rasional: memberikan informasi tentang fungsi ginjal dan adanya komplikasi
    • Dorong meningkatkan pemasukan cairan
      Rasional: peningkatan hidrasi membilas bakteri.
    • Kaji keluhan pada kandung kemih
      Rasional: retensi urin dapat terjadi menyebabkan distensi jaringan (kandung kemih/ginjal)
    • Observasi perubahan tingkat kesadaran
      Rasional: akumulasi sisa uremik dan ketidakseimbangan elektrolit dapat menjadi toksik pada susunan saraf pusat
    • Kolaborasi:
      • Awasi pemeriksaan laboratorium; elektrolit, BUN, kreatinin
        Rasional: pengawasan terhadap disfungsi ginjal
      • Lakukan tindakan untuk memelihara asam urin: tingkatkan masukan sari buah berri dan berikan obat-obat untuk meningkatkan aam urin.
        Rasional: aam urin menghalangi tumbuhnya kuman. Peningkatan masukan sari buah dapt berpengaruh dalm pengobatan infeksi saluran kemih.

  3. Kurangnya pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya sumber informasi.
    KriteriaHasil : menyatakan mengerti tentang kondisi, pemeriksaan diagnostik, rencana pengobatan, dan tindakan perawatan diri preventif.
    Intervensi:

    • Berikan waktu kepada pasien untuk menanyakan apa yang tidak di ketahui tentang penyakitnya.
      Rasional : Mengetahui sejauh mana ketidak tahuan pasien tentang penyakitnya.
    • Kaji ulang proses penyakit dan harapan yang akan datang
      Rasional: memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat pilihan beradasarkan informasi.
    • Berikan informasi tentang: sumber infeksi, tindakan untuk mencegah penyebaran, jelaskan pemberian antibiotik, pemeriksaan diagnostik: tujuan, gambaran singkat, persiapan ynag dibutuhkan sebelum pemeriksaan, perawatan sesudah pemeriksaan.
      Rasional: pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengurangi ansietas dan membantu mengembankan kepatuhan klien terhadap rencan terapetik.
    • Anjurkan pasien untuk menggunakan obat yang diberikan, minum sebanyak kurang lebih delapan gelas per hari.
      Rasional: Pasien sering menghentikan obat mereka, jika tanda-tanda penyakit mereda. Cairan menolong membilas ginjal.
    • Berikan kesempatan kepada pasien untuk mengekspresikan perasaan dan masalah tentang rencana pengobatan.
      Rasional: Untuk mendeteksi isyarat indikatif kemungkinan ketidakpatuhan dan membantu mengembangkan penerimaan rencana terapeutik.

DAFTAR PUSTAKA


Doenges, Marilyn E. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan: pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Alih Bahasa: I Made Kariasa, Ni made Sumarwati. Edisi: 3. Jakrta: EGC.

Enggram, Barbara. (1998). Rencana Asuhan Keperawatan
Nugroho, Wahyudi. (2000). Keperawatan Gerontik. Edisi: 2. Jakarta: EGC.

Parsudi, Imam A. (1999). Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut). Jakarta: FKUI

Price, Sylvia Andrson. (1995). Patofisiologi: konsep klinis proses-proses penyakit: pathophysiologi clinical concept of disease processes. Alih Bahasa: Peter Anugrah. Edisi: 4. Jakarta: EGC

Smeltzer, Suzanne C. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddart. Alih Bhasa: Agung Waluyo. Edisi: 8. Jakarta: EGC.

Tessy Agus, Ardaya, Suwanto. (2001). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam: Infeksi Saluran Kemih. Edisi: 3. Jakarta: FKUI.

Kumpulan Asuhan Keperawatan
Kumpulan Askep
Asuhan Keperawatan
Askep

Read More

Minggu, 04 Januari 2009

Remaja dan Stress: Tanda, Hal-hal Yang Membantu dan Tips Menghadapi Stress

di 11.56 Label: Kesehatan Remaja , Penyakit Masyarakat
Apa itu stress?. Stress adalah apa yang anda rasakan pada saat anda bereaksi terhadap tekanan, apakah dari dunia luar (seperti dunia sekolah, dunia kerja, setelah kegiatan/aktifitas sekolah, keluarga, atau teman) atau dari dalam diri anda sendiri ( kurang puas akan pekerjaan, kurang fit). Stress adalah suatu reaksi normal bagi setiap orang pada semua umur. Hal itu diakibatkan karena instink tubuh anda untuk melindungi diri sendiri dari tekanan emosional atau fisik dan juga dalam situasi dan kondisi yang ekstrem, dari bahaya.

Apakah Stress selalu Tidak Baik/Buruk Untuk Anda?

Tidak, pada kenyataannya sebuah tekanan stress dalam jumlah kecil bukan merupakan suatu masalah dan baik. Kebanyakan dari kita tidak dapat mendorong diri kita sendiri untuk melakukan dengan baik pada hal-hal olahraga, dansa, pekerjaan, sekolah tanpa merasakan tekanan mau untuk melakukannya dengan baik. Tanpa tekanan atau stress disebabkan karena suatu deadline, banyak dari kita juga tidak dapat menyelesaikan proyek pekerjaan atau sekolah tepat pada waktunya.

Jika stress adalah hal yang biasa, mengapa saya merasa tidak baik?

Dengan semua hal-hal yang terjadi pada usia anda yang masih remaja, sehingga mudah eimbul perasaan bingung (kewalahan). Hal-hal yang tidak dapat anda kendalikan paling sering menimbulkan frustasi dan menjengkelkan. Anda dapat merasa sedih pada saat anda menerima tekanan stress pada diri anda, seperti tekanan untuk mendapatkan peringkat baik atau untuk mendapatkan promosi jabatan pada kerja part time anda. Reaksi yang biasanya muncul karena adanya tekanan stress adalah mengkritik atau mencela diri anda sendiri. Bahkan anda mungkin merasa sangat sedih, gelisah bahwa hal-hal itu tidak menyenangkan dan terlihat suram dan menyeramkan. Pada saat hal ini terjadi, berpikirlah bahwa tidak ada yang dapat anda lakukan untuk merubah hal-hal yang terjadi. Tapi anda dapat melihat tip-tips dibawah ini.

Tnda-tanda pada saat anda tertekan karena stress:
  1. Merasa depresi, tidak tenang, merasa bersalah, lelah.
  2. Sakit kepala, sakit perut, gangguan tidur.'
  3. Menangis atau tertawa tanpa sebab yang jelas.
  4. Menyalahkan orang lain untuk hal-hal buruk yang terjadi pada anda.
  5. Hanya melihat sisi sialnya dari situasi/kondisi yang terjadi.
  6. Perasaan seperti hal-hal yang biasanya menyenangkan menjadi tidak lagi menyenangkan atau menjadi suatu beban.
  7. Marah kepada orang lain.
Hal-hal yang membantu melawan stress
  1. Makan makanan seimbang secara teratur.
  2. Kurangi minuman berkafein.
  3. Cukup istirahat.
  4. Aktifitas fisik atau olahraga secara teratur.
Bagaimana anda dapat menghadapi stress?

Meskipun anda tidak dapat selalu mengendalikan hal-hal yang membuat anda stress, tertekan, anda dapat mengendalikan bagaimana anda bereaksi terhadap hal-hal tersebut. Cara anda merasakan tentang sesuatu merupakan hasil dari cara anda berpikir tentang sesuatu. Jika andamerubah bagaimana anda berpikir, anda dapat merubah cara anda merasakan sesuatu. Cobalah beberapa tips berikut ini untuk menghadapi/menangani stress anda:

Buatlah suatu daftar tentang hal-hal yang menjadi penyebab stress. Pikirkanlah tentang teman-teman anda, keluarga, sekolah dan aktifitas atau kegiatan lainnya. Terimalah bahwa anda tidak dapat mengendalikan/mengontrol semua yang ada pada daftar list anda.

Kendalikan apa yang anda bisa. Sebagai contoh, jika jam kerja anda berlebihan dan anda tidak mempunyai waktu cukup untuk belajar, anda mungkin perlu mengurangi jam kerja anda.

Berikan waktu istirahat untuk diri anda. Ingat bahwa anda tidak dapat selamanya membuat senang semua orang dalam hidup anda. Dan tidak menjadi masalah jika anda membuat kesalahan sekarang ataupun dikemudian hari.

Jangan berkomitmen pada diri anda terhadap hal-hal yang yang tidak dapat anda lakukan atau tidak ingin anda lakukan. Jika anda sudah terlalu sibuk, jangan berjanji untuk mengerjakan sesuatu kepada orang lain. Jika anda sudah lelah dan tidak ingin bepergian, beritahukan kepada teman anda tidak bisa bepergian atau anda dapat bepergian lain waktu.

Cari seseorang sebagai teman curhat. Bicarakan kepada teman atau keluarga anda tentang masalah anda. Teman atau keluarga mungkin dapat membantu anda karena mereka dapat memberikan kepada anda suatu kesempatan untuk menyatakan perasaaan anda. Akan tetapi, masalah-masalah dalam kehidupan sosial atau keluarga anda dapat menjadi hal tersulit untuk anda bicarakan. Jika anda merasa tidak dapat menceritakannya kepada teman atau keluarga, bicarakanlah kepada orang luar tentang situasi yang anda alami. Orang luar tersebut dapat seorang ulama atau penasehat spiritual, seorang konsultan sekolah atau dokter.

Apa beberapa hal yagn tidak membantu anda dalam menghadapi stress?

Ada cara-cara aman dan tidak aman dalam menghadapi stress. Berbahaya bagi anda apabila anda mencoba membiarkan masalah atau gangguan yang anda alami dengan menggunakan obat dan alkohol (baca juga alkoholisme dan penanganannya). Kedua hal tersebut sangat menggiurkan, dan teman-teman anda mungkin menawarkan cara tersebut kepada anda untuk menghadapi stress. Alkohol dan obat terlarang mungkin seperti jawaban yang mudah, tapi sebetulnya bukan. Penggunaan alkohol dan obat terlarang untuk menghadapi stress hanya akan menambah masalah-masalah baru, seperti kecanduan, atau masalah keluarga dan kesehatan.

Anda telah mencoba menangani/menghadapi stress, tapi saya sudah menyerah.

Ini adalah suatu tanda bahaya. Stress jika dibiarkan dapat menjadi sulit untuk dihadapi. Stress dapat timbul perasaan menakutkan yang membuat anda berpikir untuk menyakiti atau bahkan tindakan bunuh diri. Pada saat anda merasa seperti menyerah, hal itu terlihat bahwa hal-hal yang anda alami tidak akan pernah membaik. Bicarakan hal tersebut dengan seseorang secepatnya. Mengutarakan isi perasaan anda adalah merupakan langkah awal dalam pembelajaran menangani stress dan mulai untuk merasa lebih baik.
Read More

Sabtu, 03 Januari 2009

Acne Treatment From Dr.Murad.

di 23.10 Label: review
Acne is a skin disease that most often attacks people throughout their lives. Acne is marked with noninflammatory follicular papules or inflammatory papules, pustules and nodules. Acne Complex affects many areas especially in the area that contain many sebaceous glands. Include in the region face, chest area and on the back. Therefore, there are many people who seek treatment for find the best cure for Acne.

Many products that are available to eradicate this Acne and advertised through the mass media, but many of them that have not been proven in clinical. Many kind of product like this available in the market i.e. Cleanser milk, soap, or liquid until mask. But there is one product that has been clinically proven to liberate you from Acne problem. This product is made by famous Dermatologist, namely Dr.Howard Murad called Murad Acne Complex.

By using this product so your skin will become softer, smoother and more visible healthy. If you order this product, then you will feel the difference that occurred on your skin in 30 days ahead. Murad Acne is made by Dr. Murad to provide real results in the treatment of Acne and your satisfaction over the results you will receive. Unlike with other products, this product will not cause irritation on your skin or safe for your skin.

Read More

Jumat, 02 Januari 2009

Tips Sehat Perjalanan/Travel Udara

di 21.30 Label: Keselamatan dan Pencegahan Cedera
Kebanyakan orang tidak bermasalah pada saat bepergian dengan pesawat terbang atau perjalanan udara, tapi alangkah lebih nyaman dan aman untuk membuat perjalanan udara anda mnjadi aman dan nyaman dan hal ini mungkin untuk anda lakukan. Berikut ini beberapa tips untuk membuat perjalanan udara atau travel dengan pesawat terbang menjadi lebih aman dan nyaman.
  1. Membawa cukup obat-obatan yang diperlukan di tas bagasi anda. Tanyakan kepada dokter apakah sebaiknya merubah dosis obat yang anda minum jika makan dan waktu tidur anda akan merubah tujuan anda. Perkirakan dan Bawalah cukup obat-obatan sampe perjalanan anda berakhir. Bawalah obat-obatan dalam jumlah ekstra apabila terjadi keterlambatan dalam perjalanan, misalnya pesawat delay dan lain sebagainya.
  2. Jika anda mempunyai diabetes (gula darah tinggi), bawalah tanda dan kartu identitas seperti diabetes alert card-contoh kartu identitas penderita diabebetes dari asosiasi diabetes amerika). Catatlah nama dan nomer telpon dokter anda jika suatu saat diperlukan dalam kondisi darurat. Ingatlah untuk membawa daftar nama-nama dan dosis semua obat-obat yang anda minum.
  3. Udara di dalam pesawat terbang dalam kondisi kering, maka dari itu minumlah minuman non alkohol atau tidak beralkohol, minum minuman yang tidak/tanpa kafein, dan air untuk mencegah terjadinya dehidrasi.
Jet lag/jetlag, Apa yang dapat anda perbuat?

Jet lag merupakan suatu kondisi atau situasi psikologis dimana terjadi, perasaan tidak nyaman yang dikarenakan perjalanan jarak jauh khususnya perjalanan udara atau terbang melintasi zona waktu. Pada jet lag dapat terjadi kelelahan, gangguan pencernaan, sakit kepala, dan gangguan tidur atau insomnia yang terjadi secara bersamaan.

Hal yang dapat anda lakukan adalah:
  1. Cukup banyak istirahat tidur sebelum anda bepergian.
  2. Jangan banyak minum alkohol.
  3. Makan makanan yang baik dan seimbang.
  4. Perbanyak aktifitas fisik atau olahraga semaksimal mungkin yang anda bisa pada perjalanan anda.
  5. Gunakan obat tidur hanya dalam beberapa hari saja.
  6. Membiasakan diri atau beradaptasi dengan zona waktu dimana anda berada dengan membiasakan makan dan waktu tidur sesuai dengan zona waktu setempat.
Melatonin mungkin dapat membantu anda, tapi tidak seorangpun tahu berapa lama melatonin dapat digunakan secara aman bagi tubuh. Konsultasikan dengan dokter jika anda berencana menggunakan melatonin dan obat herbal lainnya atau obat-obat alternatif lain.

Melatonin adalah salah satu suplement yang berguna dalam membantu tidur dan meningkatkan kualitasnya. Suplemen ini juga berfungsi dalam manaikkan daya tahan tubuh, sebagai pendukung jaringan hormon serta metabolisme tubuh anda, memperbaiki perasaan seseorang dan menurunkan stress.

Bagaimana dengan nyeri telinga yang mungkin dapat terjadi pada anda?

Jika telinga anda terasa nyeri pada saat anda terbang (perjalanan udara), cobalah gunakan obat dekongestan seperti pseudoephedrin sebelum anda naik pesawat. Hal lain yang dapat membantu anda seperti sering menelan dan mengunyah permen karet selama perjalanan udara. Pada bayi, dapat dilakukan dengan mengisap botol atau mengisap dot selama perjalanan udara.

Hal-hal lain yang sebaiknya anda lakukan.

Seseorang yang dalam kondisi sehatpun dapat mengalami penggumpalan darah di kaki seelah perjalanan udara jarak jauh. Cobalah selama perjalan udara anda sering atau sebentar-sebentar berjalan-jalan, kecuali krew atau karyawan pesawat tidak membolehkannya mungkin karena alasan keselamatan dan lain sebagainya. Hal ini juga dapat membantu anda yaitu minum air, meregangkan otot-otot betis pada saat anda duduk dan kenakanlah stokking penyangga.

Jika dokter menginginkan anda emnggunakan oksigen bantuan pada saat perjalanan anda, ingatlah untuk memberitahukan hal ini pada perusaah pesawat (airline yang bersangkutan) tentang hal ini adalah untuk kebaikan anda selama penerbangan. Pihak maskapai atau perusahaan pesawat terbang mungkin akan menyediakan oksigen untuk anda yang mungkin tidak cuma-cuma alias bayar.(Mungkin dikarenakan peraturan yang tidak memboilehkan anda membawa unit oksigen dalam pesawat. Sebelumnya anda juga dapat mempersiapkan makanan-makanan khusus atau kursi roda jika diperlukan.

Berbahaya apabila anda segera melakukan penerbangan setelah anda menyelam dengan alat scuba. Anda perlu menunggu antara 12 sampai 24 jam setelah diving sebelum melakukan perjalanan udara. Tanyakan kepada dokter atau pihak yang berwenang dalam bidang menyelam untuk petunjuk melakukan perjalanan udara dengan pesawat setelah scuba diving.
Read More
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Langganan: Postingan ( Atom )
 photo banner300x250-biru.gif

Blog Archive

  • 2016 (1)
    • 09/18 - 09/25 (1)
      • PENGETAHUAN IBU TENTANG BIANG KERINGAT PADA BAYI 0...
  • 2015 (10)
    • 10/11 - 10/18 (1)
    • 09/13 - 09/20 (1)
    • 09/06 - 09/13 (1)
    • 07/05 - 07/12 (1)
    • 05/17 - 05/24 (6)
  • 2014 (1)
    • 04/13 - 04/20 (1)
  • 2012 (770)
    • 02/19 - 02/26 (5)
    • 02/12 - 02/19 (10)
    • 02/05 - 02/12 (4)
    • 01/29 - 02/05 (27)
    • 01/22 - 01/29 (88)
    • 01/15 - 01/22 (101)
    • 01/08 - 01/15 (169)
    • 01/01 - 01/08 (366)
  • 2011 (4477)
    • 12/25 - 01/01 (336)
    • 12/18 - 12/25 (62)
    • 12/11 - 12/18 (70)
    • 12/04 - 12/11 (77)
    • 11/27 - 12/04 (40)
    • 11/20 - 11/27 (67)
    • 11/13 - 11/20 (198)
    • 11/06 - 11/13 (187)
    • 10/30 - 11/06 (340)
    • 10/23 - 10/30 (32)
    • 10/16 - 10/23 (109)
    • 10/09 - 10/16 (80)
    • 08/14 - 08/21 (75)
    • 08/07 - 08/14 (81)
    • 07/31 - 08/07 (82)
    • 07/24 - 07/31 (65)
    • 07/17 - 07/24 (91)
    • 07/10 - 07/17 (47)
    • 07/03 - 07/10 (44)
    • 06/26 - 07/03 (53)
    • 06/19 - 06/26 (59)
    • 06/12 - 06/19 (47)
    • 06/05 - 06/12 (65)
    • 05/29 - 06/05 (63)
    • 05/22 - 05/29 (77)
    • 05/15 - 05/22 (115)
    • 05/08 - 05/15 (65)
    • 05/01 - 05/08 (104)
    • 04/24 - 05/01 (45)
    • 04/17 - 04/24 (70)
    • 04/10 - 04/17 (134)
    • 04/03 - 04/10 (72)
    • 03/27 - 04/03 (18)
    • 03/20 - 03/27 (47)
    • 03/13 - 03/20 (68)
    • 03/06 - 03/13 (40)
    • 02/27 - 03/06 (56)
    • 02/20 - 02/27 (77)
    • 02/13 - 02/20 (76)
    • 02/06 - 02/13 (198)
    • 01/30 - 02/06 (194)
    • 01/23 - 01/30 (132)
    • 01/16 - 01/23 (196)
    • 01/09 - 01/16 (202)
    • 01/02 - 01/09 (121)
  • 2010 (2535)
    • 12/26 - 01/02 (156)
    • 12/19 - 12/26 (65)
    • 12/12 - 12/19 (73)
    • 12/05 - 12/12 (84)
    • 11/28 - 12/05 (80)
    • 11/21 - 11/28 (68)
    • 11/14 - 11/21 (63)
    • 11/07 - 11/14 (50)
    • 10/31 - 11/07 (50)
    • 10/24 - 10/31 (36)
    • 10/17 - 10/24 (58)
    • 10/10 - 10/17 (35)
    • 10/03 - 10/10 (31)
    • 09/26 - 10/03 (21)
    • 09/19 - 09/26 (26)
    • 09/12 - 09/19 (55)
    • 09/05 - 09/12 (65)
    • 08/29 - 09/05 (33)
    • 08/22 - 08/29 (70)
    • 08/15 - 08/22 (45)
    • 08/08 - 08/15 (35)
    • 08/01 - 08/08 (37)
    • 07/25 - 08/01 (27)
    • 07/18 - 07/25 (19)
    • 07/11 - 07/18 (30)
    • 07/04 - 07/11 (56)
    • 06/27 - 07/04 (28)
    • 06/20 - 06/27 (22)
    • 06/13 - 06/20 (30)
    • 06/06 - 06/13 (21)
    • 05/30 - 06/06 (5)
    • 05/16 - 05/23 (6)
    • 05/09 - 05/16 (29)
    • 05/02 - 05/09 (59)
    • 04/25 - 05/02 (28)
    • 04/18 - 04/25 (38)
    • 04/11 - 04/18 (70)
    • 04/04 - 04/11 (59)
    • 03/28 - 04/04 (65)
    • 03/21 - 03/28 (89)
    • 03/14 - 03/21 (218)
    • 03/07 - 03/14 (95)
    • 02/28 - 03/07 (135)
    • 02/21 - 02/28 (102)
    • 01/03 - 01/10 (68)
  • 2009 (1652)
    • 12/27 - 01/03 (36)
    • 12/20 - 12/27 (22)
    • 12/13 - 12/20 (100)
    • 12/06 - 12/13 (45)
    • 11/29 - 12/06 (24)
    • 11/22 - 11/29 (22)
    • 11/15 - 11/22 (19)
    • 11/08 - 11/15 (28)
    • 11/01 - 11/08 (11)
    • 10/25 - 11/01 (17)
    • 10/18 - 10/25 (38)
    • 10/11 - 10/18 (33)
    • 10/04 - 10/11 (15)
    • 09/27 - 10/04 (21)
    • 09/20 - 09/27 (7)
    • 09/13 - 09/20 (84)
    • 09/06 - 09/13 (35)
    • 08/30 - 09/06 (48)
    • 08/23 - 08/30 (118)
    • 08/16 - 08/23 (26)
    • 08/09 - 08/16 (34)
    • 08/02 - 08/09 (35)
    • 07/26 - 08/02 (31)
    • 07/19 - 07/26 (14)
    • 07/12 - 07/19 (16)
    • 07/05 - 07/12 (28)
    • 06/28 - 07/05 (26)
    • 06/21 - 06/28 (76)
    • 06/14 - 06/21 (26)
    • 06/07 - 06/14 (21)
    • 05/31 - 06/07 (43)
    • 05/24 - 05/31 (38)
    • 05/17 - 05/24 (26)
    • 05/10 - 05/17 (52)
    • 05/03 - 05/10 (15)
    • 04/26 - 05/03 (38)
    • 04/19 - 04/26 (32)
    • 04/12 - 04/19 (22)
    • 04/05 - 04/12 (20)
    • 03/29 - 04/05 (40)
    • 03/22 - 03/29 (43)
    • 03/15 - 03/22 (18)
    • 03/08 - 03/15 (14)
    • 03/01 - 03/08 (22)
    • 02/22 - 03/01 (12)
    • 02/15 - 02/22 (9)
    • 02/08 - 02/15 (11)
    • 02/01 - 02/08 (19)
    • 01/25 - 02/01 (37)
    • 01/18 - 01/25 (21)
    • 01/11 - 01/18 (33)
    • 01/04 - 01/11 (31)
  • 2008 (700)
    • 12/28 - 01/04 (13)
    • 12/21 - 12/28 (9)
    • 12/14 - 12/21 (57)
    • 12/07 - 12/14 (5)
    • 11/30 - 12/07 (18)
    • 11/23 - 11/30 (33)
    • 11/16 - 11/23 (31)
    • 11/09 - 11/16 (23)
    • 11/02 - 11/09 (18)
    • 10/26 - 11/02 (11)
    • 10/19 - 10/26 (15)
    • 10/12 - 10/19 (13)
    • 10/05 - 10/12 (25)
    • 09/28 - 10/05 (2)
    • 09/21 - 09/28 (14)
    • 09/14 - 09/21 (19)
    • 09/07 - 09/14 (43)
    • 08/31 - 09/07 (3)
    • 08/24 - 08/31 (33)
    • 08/17 - 08/24 (65)
    • 08/10 - 08/17 (4)
    • 08/03 - 08/10 (26)
    • 07/27 - 08/03 (6)
    • 07/20 - 07/27 (19)
    • 07/13 - 07/20 (18)
    • 07/06 - 07/13 (60)
    • 06/29 - 07/06 (53)
    • 06/22 - 06/29 (49)
    • 06/15 - 06/22 (11)
    • 06/08 - 06/15 (4)

Popular Posts

  • Olahraga dan Resiko Kanker Payu Dara: Belum Terlambat.
    Olahraga teratur sangat penting untuk kesehatan tubuh, mencegah dan mempertahankan tubuh dari berbagai penyakit mulai dari osteoporosis hin...
  • Transkultural dalam Keperawatan
    Konsep Teori Transkultural dalam Keperawatan APLIKASI TEORI TRANSCULTURAL NURSING DALAM PROSES KEPERAWATAN Rahayu Iskandar, Ners, M.Kep PEND...
  • Hubungan Usia Terhadap Perdarahan Post Partum Di RSUD
    KTI KEBIDANAN HUBUNGAN USIA TERHADAP PERDARAHAN POSTPARTUM DI RSUD BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan wanita merupakan hal yang s...
  • Bau Mulut
    Malu banget kan kalo nafas kita bau alias bau mulut apa lagi kalo kita ngomong dengan orang lain lalu tiba-tiba orang tersebut menjauh wah...
  • Diagnosa Keperawatan Aktual
    Konsep Dasar Diagnosa Keperawatan Aktual BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sebagai suatu aspek yang terpenting dalam proses kepera...
  • Tanda-tanda Sistem Imun Tubuh Buruk
    Tiap orang memiliki sistem imun atau kekebalan tubuh yang berbeda-beda. Semuanya tergantung dari genetik, pola hidup maupun lingkung...
  • Konsep Pertumbuhan dan Perkembangan
    Menurut Joyce Engel (1999), yang dikatakan anak usia pra sekolah adalah anak-anak yang berusia berkisar 3-6 tahun. Ada beberapa aspek yang...
  • Ketika Pasangan Anda Depresi
    Ketika, pasangan atau seseorang yang dekat dengan Anda mengalami depresi, ada langkah yang dapat Anda lakukan untuk menolongnya: # Memberi ...
  • PENGETAHUAN IBU TENTANG BIANG KERINGAT PADA BAYI 0-1 TAHUN DI BPS XXXX
    Prelevansi penyakit kulit di Indonesia cukup tinggi baik oleh bakteri, virus atau jamur. Selain itu bergantung pada lingkungan dan kondisi...
  • ANALISA SENAM HAMIL PADA IBU HAMIL DI KELAS IBU DI POSYANDU XXXXX
    Mengajarkan senam membantu fisik mendorong istirahat dan relaksasi rutinitis fisik kemudian di buat pada masa antenatal untuk meningkatkan...

Statistik

© ASUHAN KEPERAWATAN 2013 . Powered by Bootstrap , Blogger templates and RWD Testing Tool Published..Gooyaabi Templates